Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Menjembatani Nilai Estetika dengan Kebutuhan Klien

Thursday, April 29th, 2004
oleh : admin


Semasa kuliah ia sempat bekerja sebagai karyawan plant operation Ford Australia selama 6 bulan. Bahkan, alumni Chemical Engineering & Management RMIT, Melbourne Australia ini sempat mendapat tawaran kerja di Daimler, Jerman. Namun urung lantaran terbentur masalah visa akibat imbas peristiwa 11 September 2001.

Sekembali dari Australia, bersama rekannya Edi Siswoyo dan Steven, Liaz mulai merintis usaha kecil-kecilan di bidang TI (khususnya jasa jaringan), dengan bendera E-scape. Modalnya sekitar Rp 200 juta, mengambil lokasi di Semarang. Sayang, E-scape hanya mampu bertahan hidup selama satu tahun, mengingat banyak pemain baru yang bermunculan dan berdampak terhadap penurunan margin. “E-scape sebenarnya masih untung, tapi hasilnya tidak imbang,” katanya.

Selain E-scape, secara bersamaan Liaz juga bermitra dengan Robby dan Teguh, mendirikan factory outlet (FO) di Semarang. Produk yang dijual adalah sepatu branded sisa ekspor seperti Adidas dan Nike. Namun, karena kurang kompak, FO pun hanya bertahan 6 bulan.

Dari situlah lajang kelahiran Semarang 12 April 1977 itu mulai berpikir mencari usaha lain yang lebih menguntungkan. Bermitra dengan Jony Hendrawan ia mengibarkan bendera Harmony Link dengan modal Rp 100 juta di penghujung tahun 2001, yang menyediakan jasa interior, furnishing dan kontraktor. Joni dipilih sebagai mitra lantaran lelaki ini juga Direktur PT Karsa Saka Manunggal — perusahaan konsultan interior di Semarang yang menangani beberapa showroom Ford di Cilandak, Planet Bali, serta beberapa hotel dan rumah tinggal. Kerja sama itu dibina sejak tahun 1998, untuk mengisi kebutuhan barang-barang interior di Mal Taman Anggrek, Jakarta. Selain itu juga bekerja sama mendesain beberapa rumah di kawasan Candi (Semarang) dan di Jl. Darmawangsa, Jak-Sel. “Pak Joni itu mentor saya dalam manajemen, desain interior hingga bagaimana cara meng-handle klien,” katanya. Dunia interior dan kontraktor sebenarnya bukan hal yang baru bagi bungsu dari dua bersaudara ini, karena ayahnya juga seorang pebisnis kontraktor.

Liaz membidik rumah hunian sebagai pasarnya. Untuk menjual jasanya, ia pun memadukan dengan jasa furnishing meskipun harus bekerja sama dengan beberapa toko/workshop furnitur. Nilai ordernya sangat bervariasi. Untuk kelas menengah misalnya nilainya Rp 60-100 juta, sedangkan kelas yang lebih tinggi nilai ordernya bisa mencapai Rp 200 juta. “Tahun lalu kami mendapat 15 order,” kata Liaz tanpa bersedia menyebut nilainya.

Sementara tahun ini, jumlah order yang ditargetkan lebih besar lagi yaitu 150-200 order. Sangat wajar, target tahun ini lebih karena HL ditunjuk sebagai kontraktor di Apartemen Laguna yang berlokasi di Pluit, Jakarta. Apalagi, apartemen yang sedang dalam tarap penyelesaian ini meliputi 2 ribu kamar. “Target kami hanya memenuhi sekitar 10%-nya,” kata Liaz, yang juga telah membuat show unit di apartemen itu untuk memancing klien baru.

Menurut Liaz, nilai transaksi jasa desain interior di Laguna relatif kecil, hanya Rp 20-25 juta/unit. Sebagai pemain baru ia hanya berharap mendapat referensi dari klien di apartemen ini dalam jangka panjang. “Kontribusi dari apartemen terhadap omset sekitar 20%,” katanya.

Menurut Liaz, dalam memberikan servis ke kliennya, ia punya kiat khusus: menjembatani nilai estetika dengan kebutuhan klien. Ia mengaku, selama ini order justru datang dari rekomendasi klien-kliennya. “Promosi dari mulut ke mulut merupakan cara yang paling efketif,” ujar Liaz. Namun, sebagai pendatang baru ia sadar betul tidak ingin membidik segmen atas. Sebab, umumnya untuk pasar di segmen ini pun akan mencari konsultan interior yang sudah punya nama. “Kami akan membidik segmen menengah yang lebih mempertimbangkan faktor ekonomis dan fungsional. Ini pasar yang paling gemuk,” lanjutnya.

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: