Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Instrumen Investasi Paling Hot 2007

Thursday, January 4th, 2007
oleh : admin


Potret ekonomi Indonesia tahun 2007 diyakini ekonom tidak akan sesuram 2006. Indikasinya telah tercermin pada semester II/2006 yang mengalami rebound. Lihat saja, BI Rate mencapai 9,75% dan 2007 diperkirakan 7%-9%. Lalu, indeks harga saham gabungan tembus ke level 1.800 dan tahun 2007 diramalkan di atas 2.000. Sementara kurs rupiah terhadap US$ cenderung stabil di kisaran Rp 9.300, inflasi mampu ditekan 7% dan pertumbuhan ekonomi 2007 diperkirakan 6%.

“Artinya, pada akhir 2006 ekonomi sudah mulai membaik dan terkendali. Malah saya prediksi pada 2007 suku bunga akan di bawah 8%, inflasi di bawah 6% dan ekonomi dunia juga membaik kecuali ada insiden yang di luar perkiraan kita,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Economist Danareksa Research Institute.

Membaiknya kondisi perekonomian merupakan sinyal positif bagi investor individual yang menginvestasikan dananya di pasar uang, pasar modal ataupun produk properti. Nah, instrumen investasi apa saja yang prospektif dan menarik di Tahun Babi ini?

Saham

Kondisi pasar saham yang bullish tahun 2006 diramalkan Lily Widjaja, Presdir PT Merrill Lynch Indonesia, dan Fajar R. Hidayat, VP Head of Fund Management PT Trimegah Securities, bakal berlanjut hingga 2007, khususnya sampai semester I. Pada 6 bulan terakhir saja terjadi funds inflow sebesar US$ 200 juta/bulan. Bursa saham Indonesia termasuk bursa yang terus mengalami positive net inflow ketimbang beberapa negara di kawasan regional. Itu artinya, lantai bursa Indonesia masih sangat atraktif bagi investor asing dan lokal. Apalagi, pertumbuhan earning per share (EPS) Indonesia tahun 2007 masih berkisar 25%. Sementara, negara lain banyak yang EPS-nya di bawah 25%.

Fajar membenarkan investor bursa kita didominasi asing sekitar 70%. Kondisi ini diramalkan masih berlangsung di 2007. “Tidak ada perbedaan investor asing dan lokal dalam memilih saham yang diminati. Mereka sepakat pilih saham-saaham blue chips,” katanya. Untuk 2007, sektor saham yang dijagokan dari bidang otomotif, perbankan, semen, produk konsumer, pertambangan, minyak dan gas, properti, serta telekomunikasi .

Saham-saham yang akan go public pada 2007 juga layak dimasukkan portofolio. Di antaranya, Jasa Marga dan Indonesia Power yang akan menawarkan saham perdana (initial public offering). “Overall pasar saham 2007 akan terlihat dari kenaikan IHSG, yang hingga kuartal IV/2007 akan tembus di level 2.000,” Fajar menambahkan.

Emiten yang sahamnya paling aktif ditransaksikan 2007, diperkirakan Lily, tidak jauh berbeda dari kondisi 2006. “Contohnya, saham Telkom, Astra International, Bank Mandiri, BRI, Indosat, Berlian Laju Tanker, BCA, Tambang Batubara dan PGN,” katanya. Kapitalisasi pasar 2007 pun akan lebih baik daripada yang dibukukan tahun 2006 sebesar Rp 1,19 triliun.

Reksa Dana

Michael Tjoajadi optimistis industri reksa dana tahun 2007 secara moderat bakal mengalami lonjakan dana kelolaan lebih dari 25%, dari Rp 49 triliun pada 2006 menjadi sekitar Rp 70 triliun tahun 2007. Pertumbuhan ini diperkirakan berasal dari jenis reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham dan reksa dana US$. “Tentu, reksa dana terproteksi dengan underlying asset obligasi dan pasar uang juga masih tumbuh karena return-nya 1%-2% di atas deposito,” kata Direktur Schroder Investment itu.

Setidaknya ada tiga alasan yang mendorong investor memilih reksa dana pada 2007. Pertama, suku bunga diprediksi trennya masih turun meski tidak sedrastis 2006. Kedua, US$ diperkirakan tidak perkasa lagi karena ekonomi Amerika Serikat masih akan lemah dan The Fed belum ada rencana menaikkan suku bunga. Nah, jika investasi di valas US$ dan deposito kurang menarik, pilihan investor boleh jadi akan jatuh ke reksa dana.

Kalau diperingkat, Michael berpendapat, return reksa dana paling bagus adalah reksa dana saham, yang mencapai 40%-80%. Disusul reksa dana campuran (20%-70%). Lalu, reksa dana pendapatan tetap (20%). Dan terakhir, reksa dana pasar uang. “Return reksa dana pasar uang paling rendah karena hampir sama dengan deposito.”

Bagaimana strategi meminimalkan risiko investasi reksa dana? “Diversifikasi,” cetusnya. Mengapa? Menurut Michael, meski suku bunga trennya bakal turun, US$ melemah, tapi yang namanya investasi tetap saja ada risiko. Ia mencontohkan risiko kemungkinan adanya perubahan kebijakan bank sentral Thailand sehingga ekonomi regional bergejolak. Atau, bisa juga tiba-tiba harga minyak dunia meroket lagi. Ini akan berdampak pada kenaikan laju inflasi kita.

Obligasi

Tren rendahnya suku bunga di 2007 diprediksi Denny R. Thaher akan berdampak pada maraknya pasar obligasi. Obligasi pemerintah saja ditargetkan terbit Rp 40 triliun lagi (jadi, total Rp 70 triliun). Sementara emisi obligasi swasta yang baru diperkirakan Denny mencapai Rp 10-15 triliun. “Dengan turunnya suku bunga, selain memberi peluang yield obligasi lebih bagus, juga mendorong perusahaan-perusahaan mengeluarkan obligasi,” ujar Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi itu.

Rencana penerbitan obligasi baru 2007, antara lain Bank Niaga senilai Rp 1,5 triliun, Bank Mega Rp 1 triliun, BTN Rp 1 triliun, Jasa Marga Rp 1 triliun, Bank Jabar Rp 750 miliar, Pupuk Kaltim Rp 600 miliar, Polytama Propindo Rp 500 miliar, PNM Madani Rp 300 miliar dan Sarana Kaltim Ventura Rp 200 miliar.

“Return obligasi pada 2007, saya kira tidak akan sefantastis tahun 2006,” kata Denny. Alasannya, penurunan suku bunga 2007 tidak akan setajam 2006 yang mencapai 300 poin atau 3%. Legowo Kusumonegoro, Presdir First State Investments, menambahkan bahwa return obligasi tahun 2007 dipengaruhi durasi obligasi, capital gain dan yield. Menrut Legowo, “Yield-nya berkisar 14% per tahun.”

Menurut Denny, pasar obligasi di Indonesia diramaikan pula oleh investor asing. Pasalnya, dengan suku bunga di AS yang sedang naik, banyak investornya yang mengalihkan modalnya ke luar, seperti Indonesia. “Kita lihat dana asing yang ada di obligasi pemerintah itu naiknya sangat signifikan, hingga Rp 55 triliun.”

Jenis obligasi favorit 2007, diperkirakan Denny dan Legowo, masih bakal dikuasai obligasi pemerintah, sebagaimana tren 2006. Maklumlah, risiko obligasi ini rendah, sementara return yang ditawarkan masih dua digit.

Bursa Berjangka

Menyongsong tahun 2007 PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) mengagendakan rencana bisnis yang nyaris sama dengan program kerja 2006: fokus pada produk-produk nonkeuangan (komiditas) agar lebih berkembang. Maka, tahun 2007 BBJ hendak menambah kontrak investasi baru sebagai alternatif, yakni kakao dan batu bara. “Kami berharap pada 2007 BBJ akan tumbuh 100% dengan rata-rata transaksi 17 ribu lot/hari,” ujar Hasan Zein Mahmud, Presdir BBJ, mantap.

Kinerja BBJ 2006 diakui Hasan meningkat luar biasa dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2005 transaksi di BBJ sebesar 2 juta lot, sedangkan pada Januari-Oktober 2006 mencapai 3,2 juta lot. “Ini melampui target 2006 sebesar 2,8 juta lot,” ujarnya. Transaksi harian pun naik 11 ribu lot/hari tahun 2005 menjadi 14,5 ribu lot/hari pada 2006. Dengan melihat trennya seperti itu, Hasan meramalkan pada akhir 2006 total transaksi BBJ bisa mencapai 4 juta lot.

Hasan berpendapat, seiring dengan potensi Indonesia ke depan menjadi pasar finansial dalam berinvestasi, maka dibutuhkan produk investasi yang beragam sebagai penyeimbang. Contohnya, saat terjadi tragedi WTC di AS, ada korelasi negatif yang sangat tajam antara harga saham dan emas. Kala itu harga saham berguguran, tapi nilai emas justru menjulang ke langit. Akan tetapi, begitu suasana tenang, harga saham rebound dan harga emas terkoreksi. “Nah, hal-hal seperti ini bisa dijadikan peluang investasi karena keduanya saling melengkapi.”

Meski secara angka pertumbuhan BBJ meningkat, dengan jujur Hasan mengaku belum sepenuhnya gembira. Pasalnya, penyumbang terbesar kenaikan transaksi di BBJ tahun 2006 bukan berasal dari komoditas yang menjadi “anak kandung” BBJ. Maksudnya, komoditas hasil primer Indonesia seperti olein, emas dan kopi. Sebaliknya, kontribusi terbesar itu datang dari produk-produk keuangan yang bukan “anak kandung” BBJ. Adapun produk keungan yang ada di BBJ adalah valuta dan indeks. Mata uang yang paling ramai dijual-belikan adalah valuta asing: US$ vs. yen, poundsterling vs. US$, euro vs. US$. Sementara indeks yang likuid ditransaksikan mengacu ke bursa di Hong Kong, Jepang, Korea Selatan dan AS.

Properti

Vice President Coldwell Banker Indonesia Budhi S. Gozali memproyeksikan pasar properti 2007, baik primer maupun sekunder, masih akan dibayang-bayangi kelesuan pasar 2006. Nilai penjualan tertekan akibat kenaikan harga BBM, inflasi dan tingginya suku bunga sehingga daya beli masyarakat loyo.

Budhi mengatakan, kendati indikator makro ekonomi menjelang tutup tahun 2006 sampai kuartal I/2007 sinyalnya positif, belum tentu menggairahkan angka penjualan properti. Mengapa? “Karena, pihak perbankan belum menurunkan tingkat suku bunga kredit perbankan, misalnya KPR/KPA,” kata pria berkacamata ini.

Berdasarkan data dan prediksi lembaga Indonesia Property Watch, nilai transaksi properti 2007 diperkirakan Rp 12,13 triliun atau tumbuh 7,6% dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar Rp 11,27 triliun. Kontribusi penjualan 2006 terbesar berasal dari sektor perkantoran (26%), disusul perumahan atas (21%), apartemen menengah (17%), perumahan menengah (16%), ritel/komersial (11%) dan apartemen atas (10%).

Jika dilihat per sektor, menurut Budhi, tahun 2007 pasar perumahan (residensial) masih diminati investor, spekulator dan end-user. Terutama, rumah kelas menengah-menengah dan menengah-bawah dengan harga di bawah Rp 150 juta. Alasannya, rumah adalah salah satu sektor properti yang pasarnya cenderung stabil karena kebutuhannya besar.

Untuk sektor pasar apartemen, tahun 2007 pasar primer akan bersaing dengan pasar sekunder. Pengembang harus makin jeli dalam memilih lokasi, konsep, fasilitas dan harga. Adapun pasar perkantoran diperkirakan Budhi masih bisa berkembang di pusat kawasan bisnis (CBD/Sudirman-Thamrin-Kuningan) karena pasokannya terbatas. Namun, tahun 2007 bakal diramaikan sejumlah gedung perkantoran baru, seperti Menara Karya, The East dan Menara Satrio. Dan kawasan CBD tetap menjadi pilihan pebisnis, khususnya yang bergerak di jasa keuangan dan konsultasi.

Pasar shopping centre dan trade centre cenderung bergerak lamban karena kelebihan pasokan, sedangkan pembelinya tidak bertambah. Sementara pasar pusat belanja sewa yang berada di kawasan penduduk yang daya belinya tinggi dan kuat tetap berpotensi dibangun. Contohnya, Senayan City dan Mal Pondok Indah 2.

“Intinya, pasar properti di 2007 masih wait & see, menunggu kebijakan pemerintah yang dapat menggerakan sektor riil,” Budhi menegaskan. Jika sektor riil jalan, daya beli masyarakat menguat karena ada pekerjaan dan akhirnya mampu membeli properti biarpun mencicil. Itu pun harus didukung perbankan yang mau mengucurkan kreditnya dengan tingkat bunga rendah.

Panangian Simanungkalit pun mengamini pendapat tentang kurang cerahnya pasar properti 2007. “Kalau dilihat per perusahaan, bisa saja penjualan 2007 meningkat dibandingkan 2006. Tapi secara makro terjadi penurunan pasar properti 2007,” ujar Chairman Panangian Group itu.

Reportase: Dede Suryadi, Darandono, Farida Nawang Nurini, S. Ruslina, Tutut Handayani, Wini Angraeni/Riset: Asep Rohimat

Trik Memutar Uang

Dana Rp 500 juta-1 Miliar

Budi, sebut saja begitu, investor yang mengelola dana senilai Rp 500 juta-1 miliar, lebih percaya membiakkan uangnya di Singapura. Pertimbangannya: lebih aman, lebih pasti dan peluang return-nya lebih baik. Di negeri jiran itu, ia memilih instrumen Trust berjangka pendek (3-6 bulan) dan medium (1-3 tahun), serta saham yang listing di Singapore Stock Exchange. Denominasinya berupa US$ dan Sing$. “Komposisi portofolionya: 50% Trust, saham 20% dan sisanya cash plus asuransi,” kata eksekutif dari perusahaan joint venture yang ogah disebutkan identitasnya itu.

Menurut Budi, kunci utama strategi memaksimalkan keuntungan adalah informasi. Maka, ia selalu memantau perkembangan kondisi Singapura, bahkan juga regional, karena selalu ada keterkaitannya. “Bagi saya, informasi adalah kunci utama untuk memaksimalkan return yang ingin diperoleh sekaligus juga meminimalkan risiko,” tuturnya. Alhasil, dengan strategi itu, Budi belum pernah mengalami kerugian yang signifikan. “Rata-rata return Trust per tahun bisa mencapai 10%-20%, sedangkan saham lebih tinggi lagi, 20%-30% per tahun.”

Sementara itu, Teddy Fardiansyah menyarankan, dengan asumsi modal Rp 1 miliar yang ditujukan untuk investor konservatif, sebaiknya investasi ditempatkan ke dana cash 30% (tabungan dan deposito), fixed income (obligasi swasta, ORI, reksa dana pendapatan tetap) 60%, serta 10%-nya di saham atau reksa dana saham.

Untuk investor moderat dengan jumlah dana Rp 1 miliar, ia menyarankan komposisi investasinya: 10% cash/deposito, 60% pada fixed income dan 30% di saham. Sementara yang agresif: 10% di cash, 40% di fixed income dan 50% di saham. “Komposisi itu sifatnya tidak statis, tapi secara berkala harus dilakukan rebalancing sesuai dengan kondisi yang terjadi,” ujar pakar investasi dari MM Universitas Bina Nusantara itu menyarankan.

Dana Rp 1-2,5 Miliar

Dedi (bukan nama sebenarnya), CEO perusahaan lokal, mengaku lebih suka membenamkan duitnya sebesar Rp 1-2,5 miliar di investasi sektor riil waralaba dan properti. Komposisinya: 30% waralaba dan 70% properti. Ia mengelola 30 gerai jaringan waralaba layanan bisnis. “Selain pemasukan dari penjualan kertas franchise, juga dari penjualan produk dan jasa. Return usaha ini mencapai 50% per tahun,” ujarnya. Dedi merambah pula waralaba games center dengan jaringan 15 gerai .

“Investasi bisnis ini tidak 100% milik saya. Sebab, ada profit tahunan yang diinvestasikan kembali untuk penambahan gerai. Sedangkan dividennya dari laba usaha sebesar 70%-80% saya alosikan untuk bisnis properti,” kata Dedi. Ia mengaku terpincut properti secara tidak sengaja karena berhubungan dengan pengembangan jaringan kantor sentra bisnisnya. Pilihannya jatuh pada properti komersial dengan membangun beberapa ruko. Dalam tempo 2-3 tahun, capital gain propertinya mencapai 30%-50%.

Bagaimana strategi investasinya? Untuk properti, ia mengaku mesti jeli membaca potensi sebuah daerah baru dan bagaimana perkembangan bisnis di wilayah itu. Sejauh ini aset properti digenggamnya selama 2-3 tahun, karena setelah itu sudah laku. Sementara strategi bermain di waralaba sentra bisnis, sebaiknya menghindari perkongsian karena berisiko timbulnya percekcokan di kemudian hari.

Pengamat investasi Safir Senduk berpendapat, dana Rp 1-2,5 miliar sebaiknya diinvestasikan di instrumen jangka pendek. Fokus instrumennya ke deposito 40%, reksa dana pendapatan tetap kira-kira 30%, sisanya cash. “Kalau dana tersebut tidak akan dipakai sewaktu-waktu, mungkin properti cukup oke,” ujarnya. Pendeknya, Safir mengimbau, jangan bermain saham kalau periode investasinya cuma tiga bulan.

Dana Rp 2,5-5 Miliar

Pungky Himawanto, direktur perusahaan investasi terkemuka di Jakarta, mengatakan bahwa dana investasinya Rp 2,5-5 miliar dipilah-pilah ke beberapa instrumen. Ada yang di deposito dengan porsi 30%, obligasi 60%-70% (syariah, ORI dan konvensional), sisanya saham senilai Rp 200-500 juta. “Saya kira saham masih menjanjikan untung long term sekitar setahun,” katanya. Jenis saham yang dipilihnya adalah sektor telekomunikasi, seperti Telkom dan Indosat.

Besarnya return investasi Pungky bervariasi. Untuk deposito standarnya 9%-10%, ORI dari awal pembelian hingga kini yield-nya tumbuh 12,05%, obligasi BSD 15%, dan capital gain saham rata-rata kurang-lebih 14%-15%.

Menurut Haryajid Ramelan, Fund Manager PT Recapital Asset Management, jika memiliki dana Rp 2,5-5 miliar, investor berpeluang memilih banyak instrumen investasi. Contohnya, emas, apartemen, rumah, saham, obligasi, reksa dana dan produk asuransi seperti unitlink.

Jika dana itu difokuskan untuk dapat dipertahankan lebih dari satu tahun, alokasi investasi yang ideal versi Haryajid adalah: reksa dana (campuran dan saham) masing-masing Rp 500 juta. Lalu, obligasi ritel Rp 500 juta, saham (blue chips yang berbasis indeks) Rp 1,5 miliar. Tidak ketinggalan investasi di apartemen atau rumah di Jakarta yang cenderung naik harganya dan memberikan return sekitar 15% dengan alokasi Rp 1 miliar. Untuk unitlink disarankan alokasinya Rp 750 juta. “Unitlink-nya bisa dipilah 2-3 produk yang berbasis saham, campuran ataupun pendapatan tetap,” ujarnya menjelaskan. Berikutnya, investasi ke tabungan dan deposito sekitar Rp 250 juta untuk cash jaga-jaga.

Shofwan:
Antideposito

Berbeda dari orang awam yang lebih suka deposito sebagai wahana investasi, Shofwan justru menilai deposan sebagai orang yang lumpuh karena tidak mau berpikir dan bekerja keras untuk membiakkan investasinya. “Makanya, sudah lama saya ini orang yang antideposito,” ujar Direktur Keuangan & Umum PT Patra Jasa itu. Berikut ini adalah isi keranjang investasinya:

Valas. Mulai berinvestasi tahun 1985 saat masih menjadi staf di Pertamina. Sebagai investor pemula, ia justru melirik valas. “Saya lebih yakin yen ketimbang US$,” katanya. Alasannya, harga yen lebih murah dibandingkan dengan US$. Potensi untung yang pernah diraihnya hingga 80%, sebaliknya risiko ruginya maksimal 10%.

Properti. Pria kelahiran Mojokerto 54 tahun silam ini memulai ivestasi di properti tahun 1990 dengan membeli 1 hektare sawah di Pondok Gede seharga Rp 6 ribu/m2, dan sekarang harga pasarnya Rp 100 ribu/m2. Itu artinya, dalam tempo 16 tahun harga sawah itu melonjak 1.566,7%, atau rata-rata setahun hampir 100%.

Tahun 2003 ia membeli rumah di Perumahan Taman Kencana, Bogor, seharga Rp 700 juta, sekarang harganya Rp 1,5 miliar (naik 114,3% dalam kurun tiga tahun). Tahun 2004 ia membeli tanah di Jalan Pandu Raya, Bogor, dengan harga Rp 775 ribu/m2, dan kini harganya Rp 1,5 juta/m2 (naik 93,5%).

Apartemen juga menjadi ajang perburuannya berinvestasi di properti. Tahun 2004 Shofwan membeli satu unit apartemen di Sudirman Park, Jakarta, seharga Rp 550 juta, dan 18 bulan kemudian terjual Rp 650 juta.

Saat bertugas di Medan, ia membeli rumah di kawasan real estat Setiabudi, tahun 1999 seharga Rp 475 juta. Sekarang harganya Rp 2 miliar (naik 321% dalam waktu 7 tahun).

Lulusan MM Universitas Indonesia ini mengakui, semua investasi propertinya dibiayai dari pinjaman bank. “Karena, saya percaya bahwa yang bisa mengalahkan beban bunga kredit itu hanyalah properti, asalkan kita bisa memilih lokasi yang tepat,” katanya tegas.

Saham. Shofwan membeli semua jenis saham, mulai dari yang blue chips hingga saham gorengan. Ia masuk saham tatkala harga saham rata-rata sangat murah di bawah Rp 100, yaitu waktu krismon 1998. Jangka investasinya tergolong short term karena trading saban hari. “Kalau tidak mau rugi, jangan main saham,” katanya berpesan. Untuk menyiasati agar tidak terlalu besar ruginya, ia tidak melupakan jurus cut loss. Berdasarkan pengalamannya, ia pernah untung 5%-10% per transaksi. Sebaliknya, juga pernah rugi hingga 100% saat membeli saham multifinance.

Menurut Shofwan, keberhasilan transaksi saham tergantung pada besarnya modal yang kita miliki. “Jika hanya investasi di bawah Rp 10 miliar, lebih baik jangan main saham karena tidak mungkin bisa menguasai pasar. Kita hanya bisa jadi follower. Kalau jadi follower, harus pinter-pinter baca situasi agar tidak terjebak dengan kerugian. Sebab, bandarnya saham itu main dengan uang triliunan, sehingga mampu menggerakkan pasar modal.”

Uang Kuno. Ia mengalokasikan dana ratusan juta rupiah di investasi uang kuno berbentuk kertas. Imbal hasil investasi jangka pendek (hitungan bulan) ditaksirnya sebesar 5%-20%, sedangkan jangka panjang (di atas setahun) lebih dari 100%. Mengacu pada pengalamannya menyimpan uang kuno jenis Republik tahun 1959 yang bergambar seri bunga dan burung, ia membelinya seharga Rp 200 juta (100 ribu lembar) 1,5 tahun lalu, sekarang ditawar orang seharga Rp 1 miliar. “Tapi, tidak saya lepas, karena mau saya jual secara bertahap saja agar kenaikannya lebih gede lagi,” ucapnya.

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: