Thursday, September 27th, 2007
oleh : admin
“If you think you are too small to have an impact, try going to bed with a mosquito.†Ditulis besar-besar di bagian samping armada truk The Body Shop di Inggris, kutipan ini adalah salah satu favorit Anita Roddick. Lebih dari itu, Roddick sang pendiri The Body Shop juga meyakininya. Dan dia membuktikan bahwa apa yang dipercaya khalayak  one person cannot make a difference  tak selamanya benar.
Sejak belia, kelahiran Littlehampton, Sussex, 1942 ini memang telah menunjukkan diri sebagai pribadi yang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri. Orang tuanya yang imigran Yahudi-Italia adalah orang pertama dan satu-satunya pemilik café gaya Amerika di kota kecil Inggris itu. Sang ibu yang punya kebiasaan mendaur-ulang barang, Gilda Perella, mewajibkan semua anaknya  termasuk Anita, anak ke-3 dari empat bersaudara  untuk membantu di café setiap pulang sekolah dan pada akhir pekan.
Ketika Anita berusia 8 tahun, Gilda dan Donny Perella bercerai. Tak lama kemudian Gilda menikah lagi dengan Henry, sepupu Donny. Akan tetapi, dua tahun kemudian Henry meninggal karena TBC. Anita sangat terpukul. Maklum, dia sangat dekat dengan Henry. Kedekatan yang sangat ini membuat Anita kecil merasa bersalah terhadap Donny. Baru, ketika 8 tahun kemudian Gilda bercerita bahwa Henry, yang lama jadi kekasih gelap sang ibu, adalah ayah Anita yang sebenarnya, dia merasa lega.
Pengakuan sang ibu itu juga membuat Anita remaja jadi punya keyakinan besar terhadap kepekaan nalurinya. “Naluri tersebut sangat membantu ketika saya membuka toko yang pertama,†tuturnya bertahun-tahun kemudian.
Pada 1960-an, Gilda mengarahkan Anita menjadi guru walau diterima di Guild School of Music and Drama. Inilah yang membuat Anita muda menanggalkan cita-citanya menjadi aktris dan masuk ke Newton Park College of Education di Bath. Tiga tahun kemudian dia kembali ke SMA-nya, Maude Allen Secondary Modern, untuk mengajar bahasa Inggris dan sejarah.
Anita yang mencintai seni dan drama betah dengan kehidupan tenang seorang guru?
Ternyata tidak. Daya tarik kehidupan bebas Generasi Bunga yang merebak pada 1960-an itu terlalu kuat buat seorang Anita yang berjiwa bebas. Tak lama kemudian dia memutuskan pergi melihat dunia. Selama 18 bulan Anita muda bekerja di Paris dan Geneva. Ketika bekerja di kantor PBB di Swiss itulah dia sempat mengunjungi banyak negara, termasuk hidup di antara masyarakat tradisional di kawasan terpencil.
Pulang melanglangbuana, Anita bertemu Gordon Roddick, putra seorang pialang sereal asal Skotlandia, di klub malam yang dikelola ibunya. “I had a body that wanted children, so I seduced him,†ungkapnya.
Pada 1970, Anita dan Gordon melakukan “ziarah akbar†ke San Francisco Bay Area, Kalifornia. Di “tempat suci†kaum hippies dunia ini mereka menemukan toko mungil yang menjajakan beragam sampo, lotion, dan body cream. Didirikan dua wirausaha lokal, toko yang memublikasikan advokasi lingkungan dan menawarkan diskon buat pelanggan yang membawa botol sendiri untuk produk yang dibeli tersebut mengusung nama yang sungguh menggelitik: The Body Shop.
Dalam perjalanan itu mereka menikah di Reno, Nevada. Ketika itu Anita tengah hamil anak kedua. Dalam perjalanan pulang ke Littlehampton, mereka menapak tilas hippie trail  Tahiti, New Hebrides, New Caledonia, Reunion, Madagascar, Mauritius, Australia, and Johannesburg  yang pernah ditelusuri Anita pada 1960-an. Di kampung halaman, pasangan muda tersebut membuka bisnis penginapan kecil yang menyediakan sarapan, lalu sebuah resto bernama Paddington’s.
Tak dinyana, setelah kelahiran anak kedua, jiwa petualang Gordon  lelaki ini seorang penyair dan traveller  bangkit kembali. Bosan mengurusi pekerjaan back office yang monoton, dia ingin memenuhi impian masa kecil: berkuda dari Buenos Aires ke New York yang diperkirakan bakal makan waktu dua tahun. Hebatnya lagi, Anita mengizinkan. Dan, entah mengapa, sebelum pergi Gordon membantu Anita mendapatkan pinjaman bank sebesar £ 4.000 dengan penginapan sebagai jaminan.
Harus menghidupi dua anak, Anita memeras otak untuk memutar uangnya yang tak seberapa selama kepergian Gordon. Dia lalu coba membuat produk kosmetik. Tak memiliki modal cukup, dia menggunakan bahan-bahan yang lazim dan mudah didapat lalu hasilnya dikemas dalam wadah plastik kecil daur ulang  botol bekas sampel urin!
Tak ada yang menonjol dalam produksi. Yang istimewa adalah upaya yang dilakukan Anita mengubah kelemahan produk jadi kekuatan pemasaran. Karena bahan-bahannya bukan sesuatu yang baru, produk kosmetik sederhana itu tak memerlukan uji apa pun. Anita menutupi “keterbelakangan†produknya dengan kampanye Anti-animal testing. Lalu, ketidakmampuannya membeli kemasan yang wah dipulas dengan kampanye cinta lingkungan.
Anita sendiri mengakui. “The original Body Shop was a series of brilliant accidents,†tuturnya seperti dikutip Majalah Third Way pada 1993. “It had a great smell, it had a funky name.â€Â
Yang dimaksud Anita sebagai The Body Shop yang orisinal tentu saja The Body Shop yang pertama dia dirikan, bukan yang dia temukan di San Francisco Bay Area. Tak mampu menyewa lokasi yang eksklusif, The Body Shop yang satu itu mengambil lokasi di antara dua funeral parlor. Dinding toko dicat warna hijau buat menyembunyikan noda karena rembesan air.
Tulisnya dalam autobiografi bertahun-tahun kemudian: “I made no claim to prescience, to any intuition about the rise of the green movement. At the forefront of my mind at that time there was really only one thought-survival.â€Â
Pendek kata, dalam pengembangan The Body Shop, Anita boleh dibilang “tersesat ke jalan yang benar.†Kalau ada sesuatu yang bisa dijadikan acuan, itu hanyalah ingatan samar-samar tentang sebuah toko kecil di Kalifornia sana, yang namanya dia adopsi. Selanjutnya adalah improvisasi seorang ibu yang harus menghidupi dua anaknya yang masih kecil.
Tak mampu bikin spanduk dan sebangsanya, Anita memercikkan parfum sepanjang ruas jalan ke arah pintu masuk tokonya. Di dekat pintu toko, dia menggantungkan potpourri yang semerbak. Untuk logo dan label produk, dia juga cuma minta tolong seorang mahasiswa seni rupa bernama Jeff Harris yang dibayar £ 20.
Ada banyak cerita tentang The Body Shop yang dibuka pertama kali pada 27 Maret 1976 di 22 Kensington Gardens, Brighton, itu. Bandar judi lokal buka taruhan sampai kapan toko tersebut mampu bertahan. Direktur funeral parlor di dekatnya komplain ke local council tentang nama toko yang tidak biasa itu. Anita meresponsnya dengan menulis surat ke council bahwa dia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang berusaha cari nafkah buat anak-anaknya. Lalu, ketika mendengar keluhan pemilik funeral parlor tentang tokonya yang dikhawatirkan akan mengganggu bisnis mereka, secara anonim dia membocorkan berita itu ke pers.
Berita yang dimuat media massa lokal membuat banyak orang tertarik datang ke The Body Shop. Lalu, mereka yang merasa puas merekomendasikannya ke kerabat dan teman-teman. Getok tular ini membuat bisnis The Body Shop berkembang cepat sehingga Anita merasa perlu membuka toko kedua.
Buat membiayai toko kedua ini Anita menghubungi bank. Ketika permintaan kredit US$ 8.000 ditolak, dia mengirim surat ke Gordon, minta pertimbangan menjual 50% saham ke Ian McGlinn, seorang pemilik pompa bensin. Apa daya, komunikasi tak berjalan mulus sehingga Anita bersedia setuju menerima pembayaran tunai dari McGlinn sebelum surat balasan datang. Ketika sang suami pulang, hanya 10 bulan sejak kepergiannya, nama The Body Shop telah berkibar  banyak pelanggan yang ingin membuka cabang toko tersebut.
Sampai titik ini, pengelolaan cabang The Body Shop hanya diberikan kepada para kerabat dan teman dekat keluarga Roddick. Karena belum pernah dengar sistem waralaba, Gordon “menciptakan†sistem yang di Amerika Serikat sudah lazim tersebut. Awalnya tak ada fee, Anita dan Gordon cuma meminta pemegang lisensi membiayai operasional toko sebagai syarat penggunaan nama The Body Shop. Terhadap pemohon lisensi, Anita juga hanya melakukan wawancara dengan pertanyaan semacam, “What is your favorite flower?†atau “How would you like to die?â€Â
Anita memang mengembangkan perusahaan kosmetik yang sama sekali beda. “Aku benci bisnis kecantikan,†tulisnya dalam autobiografinya, Body and Soul: Profits with Principles  The Amazing Success Story of Anita Roddick & the Body Shop. “Itu industri monster, menjual mimpi yang tak mungkin tergapai.â€Â
Pola pikir seperti ini mendorong Anita dan Gordon mengembangkan falsafah bisnis yang unik: Menciptakan profit dengan memegang teguh prinsip. Mereka bukan sekadar mau meraup untung, melainkan ingin menciptakan perubahan sosial dan lingkungan.
Pada era awal pertumbuhannya ini, pasangan Roddick itu antara lain mendukung kampanye Greenpeace. Jendela dan dinding toko The Body Shop dipenuhi poster LSM lingkungan yang menentang pembuangan bahan berbahaya ke Laut Utara. Mereka juga memanfaatkan truk dan tas The Body Shop untuk menyampaikan berbagai pesan lingkungan.
Kalaupun membuat kampanye iklan, The Body Shop melakukan sesuatu yang tak kalah kontroversial. Mereka, misalnya, membuat versi gembrot boneka Barbie dengan slogan citra: “There are 3 billion women in the world and only 8 that look like supermodels.†Promosi yang satu ini baru dihentikan setelah Mattel Inc. mengajukan tuntutan hukum atas dasar pelanggaran hak cipta.
Marketing kits produk The Body Shop tak kalah unik. Brosur untuk produk perawatan rambut yang mengandung henna, misalnya, menyatakan secara jujur bahwa herbal asal India itu “baunya seperti kotoran sapi, tetapi khasiatnya terhadap rambut luar biasa.â€Â
Cara promosi yang nyeleneh dan ceplas-ceplos tersebut, terutama kampanye untuk perubahan sosial dan lingkungan, membuat The Body Shop beroleh publisitas gratis bernilai jutaan dolar. Maka, makin banyak kampanye sosial dan lingkungan yang mereka dukung  sebut saja kampanye penyelamatan paus, Amnesty International, penyelamatan hutan hujan, Friends of the Earth  dan kreatif iklan unik yang mereka luncurkan.
Anita juga gencar mendukung promosi untuk membangun kesadaran terhadap AIDS, mendorong daur ulang, menghentikan praktik uji dengan binatang. Terkait dengan yang disebut terakhir ini, The Body Shop menghindari bahan-bahan hewani. Saat ini, satu-satunya bahan hewani yang masih mereka gunakan hanyalah lilin lebah.
Anita banyak pula mencurahkan perhatian untuk pemberdayaan komunitas di negara-negara Dunia Ketiga. Dan dia tak cuma cuap-cuap. The Body Shop memberi contoh dengan tak mengeksploitasi para buruh negara Dunia Ketiga dan memberikan gaji yang sebanding dengan buruh di Inggris. Mereka juga membeli bahan baku produk dari para petani negara miskin dengan harga pantas.
Kendati demikian, The Body Shop juga mengambil sesuatu dari komunitas tradisional yang mereka dukung. Pengembaraan Anita ke Afrika, Asia, dan Polinesia dulu telah menyadarkannya betapa komunitas tradisional di berbagai belahan dunia memiliki kearifan yang di Barat telah hilang ditelan modernisasi.
Guna mendapatkan rahasia minyak marula, kosmetik tradisional komunitas Eudafano, misalnya, Anita tak segan tinggal bersama masyarakat tersebut di Namibia buat membujuk mereka. Sebelumnya, dia telah menggali rahasia perawatan tradisional, termasuk memoles kulit dengan lemak cokelat dan, seperti yang telah dikemukakan di bagian depan, merawat rambut dengan henna.
Sentuhan Midas yang dilakukan semakin sadar oleh Anita membuat bisnis The Body Shop tumbuh rata-rata 50%/tahun selama satu dasawarsa pertamanya. Tak mengherankan, ketika sahamnya diluncurkan pada April 1984, nilainya langsung meroket sehingga tak sampai dua tahun kemudian, Januari 1986, sudah terdaftar penuh di Bursa Efek London dan diperdagangkan pada 820 pence, atau 8,6 kali lebih harga perdana yang 95 pence. Pada 1991, nilai pasar The Body Shop menggelembung jadi £ 350 juta (US$ 591 juta), melambungkan Anita Roddick ke jajaran perempuan terkaya di Britania Raya.
Sukses The Body Shop ini mendorong lahirnya barisan peniru di seluruh dunia, termasuk Bath & Body Works yang didukung otot pemasaran kelompok The Limited yang kuat. Pasang naik persaingan ini jelas memberikan tekanan tersendiri terhadap bisnis The Body Shop. Pada tahun fiskal yang berakhir Februari 1995, 1.366 toko mereka yang merambah 46 negara  sebagian besar dalam bentuk waralaba  memang masih memberikan laba US$ 53 juta, tumbuh 13% dibanding pada tahun sebelumnya, dari penjualan US$ 349 juta. Akan tetapi, pertumbuhan yang jauh lebih rendah ketimbang pertumbuhan rata-rata tahun-tahun sebelumnya ini membuat saham The Body Shop anjlok 65% dari nilai tertinggi US$ 6,55 yang dicapai pada 1992.
Sayangnya, dalam keadaan demikian, Anita  juga Gordon yang merupakan otak di balik strategi keuangan The Body Shop  lebih getol meluncurkan proyek-proyek lingkungan ketimbang meremajakan produk mereka yang telah mulai menua. Meraih sukses lebih karena, mengambil istilah Anita sendiri, “a series of brilliant accidentsâ€Â, mereka mengabaikan pengembangan strategic plan dan struktur manajerial yang jelas.
“Mereka tak punya clue tentang apa yang mereka mau,†ujar Janet Swaysland yang tak sampai setahun betah sebagai VP Komunikasi The Body Shop.
Ketika pasangan Roddick itu menyadari gawatnya kondisi perusahaan, segalanya telah terlambat. Pengangkatan Stuart Rose, anggota dewan direksi, sebagai direktur pengelola yang segera melakukan restrukturisasi besar tak memberikan hasil yang diharapkan. Maka, setelah mencoba bertahan terhadap hantaman badai semakin kuat  pertumbuhan bisnis di luar harapan, citra yang tercoreng oleh kampanye negatif tentang praktik bisnis The Body Shop yang digambarkan tak sesuai dengan yang digembargemborkan Anita, nilai saham yang anjlok  keluarga Roddick akhirnya mengibarkan bendera putih. Pada Maret 2006, The Body Shop direlakan untuk dicaplok L’Oréal, raksasa industri kosmetik asal Prancis.
Dari penjualan senilai £ 652 juta ini, Anita dan Gordon mengantongi tak kurang dari £ 130 juta  sebagian, £ 30 juta, langsung dimasukkan ke dalam rekening yayasan yang didirikan Anita. Yang paling beruntung adalah McGlinn. Investasi US$ 8.000 yang dia tanam pada 1976 berbiak jadi US$ 145 juta!
Kepada khalayak yang menuduhnya menggadaikan idealisme ke perusahaan yang dikenal melakukan uji binatang dan pernah dia lukiskan sebagai “monster yang menjual mimpi yang tak mungkin tergapai, tukang bohong, tukang tipu, dan pengeksploitasi perempuanâ€Â, Anita hanya membela diri bahwa The Body Shop akan seperti “Kuda Troya.†Ujarnya, “Orang tak bisa melihat lagi hal-hal hebat yang bisa kami lakukan. Kami brilian dalam kampanye promosi. Kami mengubah struktur ekonomi purchasing. Kalau L’Oréal nantinya mengadopsi itu semua, fantastis…â€Â
Ketika melepaskan The Body Shop, fisik Anita telah mulai melemah digerogoti virus hepatitis C yang menyelinap ke tubuhnya ketika melakukan transfusi darah dalam persalinan anak keduanya, pada 1971. Dia mengungkapkan penyakitnya ini pada 14 Februari 2007, tak sampai 7 bulan sebelum kematiannya pada 30 Agustus lalu.
Di penghujung hidupnya, Anita yang mendapat gelar kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II memang telah kehilangan perusahaan yang dilahirkan dan dibesarkannya. Namun, dia telah meninggalkan warisan yang berharga kepada dunia.
Kejeniusan Anita, demikian pengakuan para pakar, pertama terletak pada kepeloporannya menjajakan produk perawatan kulit dan rambut berbasis alami, baik itu Fuzzy Peach Bath and Shower Gel atau Brazil Nut Conditioner, di saat yang tepat. Kedua, dalam mengembangkan pasar yang sama sekali baru yang memanfaatkan keprihatinan yang kian besar terhadap uji binatang dan penggunaan bahan kimia (sintetis) dalam kosmetik. Ketiga, dalam mentransformasi cara produk-produk tersebut dijajakan di seluruh dunia.
Selain itu, warisan yang paling berharga adalah falsafah bisnis yang penuh tanggung jawab sosial. Inilah warisan yang abadi  lebih dari sekadar falsafah nonmoral yang diwariskan para pebisnis, yang terbesar sekalipun seperti Sam Walton.
Kita lihat saja. Lahir dari pasangan miskin Thomas Gibson dan Nancy Lee Walton pada 29 Maret 1918 di Kingfisher, Oklahoma, Samuel Moore Walton bergabung dengan JC Penney sebagai management trainee di Des Moines, Iowa, selulus kuliah ekonomi di University of Missouri–Columbia. Akan tetapi, Sam keluar pada 1942 untuk bergabung dengan Korps Inteligen Militer sampai Perang Dunia II usai, 1945.
Lalu, bermodalkan pinjaman US$ 20.000 dari mertua yang bankir kaya plus tabungan US$ 5.000, Sam membeli lisensi Ben Franklin di Newport, Arkansas. Ketika mengelola toko milik pewaralaba Butler Brothers ini, Sam menemukan konsep yang kemudian terbukti membawanya ke puncak sukses.
Sam selalu memastikan rak-rak tokonya penuh dengan beragam barang yang dibanderol dengan harga rendah. Caranya, dengan membeli dalam jumlah besar dari pemasok yang menawarkan harga terendah. Lalu, dia memberikan selisih harga itu ke pelanggan, sehingga penjualannya kian terdongkrak. Volume yang lebih tinggi, pada gilirannya, akan membuat Sam mendapat diskon yang lebih besar lagi pada kulakan berikutnya yang lalu diberikan lagi kepada pelanggan. Begitu seterusnya, sehingga toko Sam membukukan penjualan dan laba tertinggi di antara rantai pertokoan Butler Brothers di 6 negara bagian. Apalagi, dia juga membuka tokonya sampai lebih larut ketimbang toko-toko lain, terutama di hari-hari dekat Natal.
Namun, sukses besar itu membuat P.K. Holmes, pemilik bangunan, menolak perpanjangan kontrak yang habis pada Januarai 1951 dan memberikannya kepada anaknya sendiri. Sam agak lega karena inventori dan perlengkapan tokonya dibeli Holmes senilai US$ 50.000. “Harga yang fair,†katanya mengenang.
Dengan modal ini dan kerja keras, dalam tempo 11 tahun dia berhasil membiakkan toko Ben Franklin miliknya sampai 15 buah yang tersebar di Arkansas, Missouri, dan Kansas  plus satu toko independen di Fayetteville, 20 mil sebelah selatan Bentonville. Semua ini berkat konsep yang dia kembangkan sendiri dan sekarang telah jadi praktik bisnis yang lazim: Profit sharing, self service, dan sebagainya.
Pengalaman ini mendorong Sam mendirikan Wal-Mart pada 1962, di Bentonville, Arkansas. Di sini, dia menanamkan nilai-nilai yang menghormati identitas lokal tempat toko Wal-Wart berdiri. Setiap toko juga diwajibkan terlibat dalam beragam kegiatan sosial sehingga bisa menjadi bagian integral dari komunitasnya.
Akan tetapi, warisan Sam yang paling berharga adalah prinsip “Everyday Low Price.†Di Wal-Mart, pelanggan tak perlu menunggu sampai waktu sale buat menghemat pengeluaran. “Kami semua bekerja sama; itulah rahasianya,†ujar Sam ketika menerima Medal of Freedom dari Presiden George Bush pada Maret 1992. “Dan kami akan menekan biaya hidup buat semua orang, kami akan memberi kepada dunia kesempatan buat menikmati rasanya menghemat dan hidup yang lebih baik. Kami bangga dengan apa yang telah kami capai.â€Â
Falsafah bisnis menekan harga serendah mungkin buat para pelanggan ini telah membuat AS, dan banyak negara lain di dunia, mampu mengendalikan inflasi. Sebagai strategi bisnis, itu juga telah mengibarkan Wal-Mart ke posisi puncak perusahaan terakbar dunia.
Kendati demikian, di sisi lain, alih daya ke dan impor besar-besaran dari Cina telah membuat banyak orang di AS kehilangan pekerjaan dan tak sedikit toko dan warung konvensional bangkrut. Secara tak lak langsung, impor besar-besaran dari Cina itu juga meningkatkan efek rumah kaca. Lalu, posisi tawar Wal-Mart yang kelewat besar telah membuat para pekerja mendapat gaji dan benefit minimal dan pemasok berguguran.
Sam mengajarkan etos kerja untuk “tak pernah berkata tidak bisa.†Namun, para pakar mulai meragukan apakah warisan utama Empu Bisnis Ritel tersebut  terus menekan biaya, itu tadi  bisa diterapkan seterusnya tanpa gejolak sosial. Saat ini saja, gerakan Anti-Wal-Mart telah mendapat banyak pendukung.
Kenyataan baru abad ke-21 juga telah menafikan solusi bisnis yang oleh penggagasnya diklaim akan ampuh selamanya kalau diterapkan secara benar. Ambil contoh doktrin Jack Welch hanya mempertahankan bisnis yang No.1 atau No.2 di pasar. Di era perubahan teknologi yang cepat ini, doktrin yang lebih didasarkan skala ekonomi ini tak kelewat relevan lagi. Maklum, tantangan terbesar sekarang bukan lagi “membuat gajah menari†seperti yang dilakukan Lou Gertsner di IBM dulu, melainkan bagaimana menciptakan produk semacam iPod dan mentransformasi industri.
Bukti lain menunjukkan, Microsoft mampu menyalip kapitalisasi pasar IBM pada 1993 walau penjualan yang dikantongi Bill Gates & Co. tak sampai 5% penjualan sang Raksasa Biru. Fenomena ini terjadi juga di industri farmasi, di mana kampiun bioteknologi yang lebih kecil seperti Genentech dihargai lebih tinggi oleh investor Wall Street ketimbang Big Pharma sekaliber Eli Lilly.
Masih kurang? Coca-Cola yang berhasil mempertahankan posisi No.1 kedodoran melawan PepsiCo yang lebih gesit mengisi ceruk pasar. Lalu, General Motors yang raksasa itu juga terbukti tak kalis dari gonjang-ganjing.
Banyak warisan pemikiran Welch bahkan tak digunakan lagi oleh penerusnya di General Electric (GE), Jeff Immelt. Dulu Welch memfokuskan perhatian pada bagaimana menyenangkan investor, sekarang Immelt lebih mengutamakan kepuasan pelanggan. Immelt bahkan mewajibkan seluruh unit bisnis GE dinilai menggunakan Net Promoter Score yang dikembangkan Bain & Co.
Di era innovative economy ini, popularitas Six Sigma, konsep yang dijagokan Welch dan dicomotnya dari Motorola itu, juga mulai surut pamor. “Six Sigma,†ujar Charles Holland dari perusahaan konsultan Qualpro, “didesain untuk memperbaiki proses yang sedang digunakan, hanya memberikan sedikit ruang untuk ide baru atau pendekatan yang sama sekali beda. Seluruh talenta yang ada diarahkan buat menurunkan cacat ke, katakanlah, angka 3,4 per sejuta, dan bukan menghasilkan produk atau teknologi baru.â€Â
Padahal, “Inovasi adalah ‘entitas yang meta-sbabil’,†ujar Vishva Dixit, VP Riset Genentech. “Nothing will kill it faster than trying to manage it, predict it, and put it on timeline.â€Â
Memeringkat barisan SDM menjadi pemain kelas A, B, dan C  seraya mengancam PHK 10% manajer terjelek  juga tak banyak menolong. Alasannya sederhana. “Orang kerja bukan untuk jadi No.1 atau No.2 atau membukukan 20% ROA,†Christopher Bartlett dari Harvard Business School meyakinkan. “Mereka butuh sense of purpose. Mereka kerja buat mencari arti hidup.â€Â
Lagi-lagi, falsafah CEO semacam Jobs yang memfokuskan pada orang-orang yang punya gairah besar, passionate, terhadap pekerjaannya sekarang lebih mendapat tempat. Di tengah bukti bahwa para CEO yang rendah hati memberikan hasil lebih hebat ketimbang para CEO yang karismatis seperti hasil riset Jim Collins yang dibukukan dalam Good to Great, warisan pemikiran Welch yang kelewat matematis dan dingin itu mulai ditinggalkan.
Bagaimanapun, para manajer juga manusia. Demikian pula stakeholder lainnya. Mereka semua memerlukan pendekatan yang lebih memperhatikan aspek sosial seperti yang dicontohkan Anita Lucia Perella Roddick  asal tak melupakan kenyataan bahwa entitas bisnis harus menangguk cukup laba buat kelangsungan dirinya sendiri.
Riset: Sarah Ratna
Artikel Terkait