Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Tancap Gas di Setengah Baya

Monday, July 7th, 2008
oleh : admin


Uang ada, jejaring luas, pengalaman segudang. Aset sekomplet ini biasanya dimiliki oleh orang-orang – terutama para profesional hebat – yang telah memasuki usia setengah baya. Dengan amunisi yang nyaris sempurna ini, secara teoretis kans sukses mereka pun lebih besar bila memutuskan terjun sebagai pengusaha. Tentu saja, selain ketiga aset penting itu, dibutuhkan satu lagi yang bahkan bisa dibilang modal terpenting, yakni: hasrat (passion) dan semangat. Mengapa?

Sejenak kita simak temuan E. H. Erikson. Menurut psikolog terkemuka ini, ketika memasuki usia setengah baya, manusia mengalami krisis perkembangan seperti tatkala anak memasuki usia remaja, yakni krisis identitas. Menjelang dan memasuki usia pensiun, kaum setengah baya umumnya mulai dihinggapi rasa cemas dan stres menghadapi masa depan yang baru, terutama yang terkait dengan identitas diri dan peran sosialnya.

Menanggapi ketidakpastian baru tersebut, ada sebagian dari kaum setengah baya secara tak sadar memilih reaksi stagnasi atau diam di tempat. Kalau sudah demikian, untuk mendapatkan rasa aman yang baru, mereka cenderung mengembangkan sikap narsistis. Pengalaman dan masa lalunya dianggap paling hebat dan menggetarkan. Malas mendengarkan pendapat orang lain. Juga, berkembang sifat egosentris dan hanya mau berhubungan dengan orang lain sejauh yang orang itu mau melayaninya.

Tentu saja, tidak semua manusia setengah baya bereaksi negatif seperti itu. Mereka yang berhasil menaklukkan krisis perkembangan pada usia setengah baya umumnya mengembangkan sikap hidup yang oleh Erikson disebut generativity. Sikap ini tercermin melalui ketertarikan, kepedulian dan keterlibatan mereka untuk membangun dan mengarahkan generasi penerusnya. Mereka – dengan penuh hasrat dan semangat – bersedia menyumbangkan keahlian, sumber daya, dan kreativitas yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas hidup kaum muda atau generasi penerusnya.

Kontribusi kaum setengah baya bisa sangat monumental seperti yang diperlihatkan Martin Luther King Jr. dan Mahatma Gandhi terhadap keadilan dan hak asasi manusia di seluruh dunia. Meskipun tidak semonumental tokoh-tokoh hebat itu, banyak orang setengah baya yang melakukan hal-hal mulia dan besar dalam lingkup yang lebih kecil dengan menjadi relawan di berbagai organisasi pelayanan masyarakat. Misalnya, menjadi donatur dan penasihat di yayasan pendidikan, panti asuhan, menjadi pengurus masjid, gereja, dan sebagainya. Melalui kegiatan positif seperti ini, mereka mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain dan lingkungannya.

Apalagi, kaum setengah baya yang selalu mengembangkan sikap optimistis umumnya juga telah mengakumulasi sejumlah kematangan psikologis yang berperan besar menentukan keberhasilan mereka memasuki masa setengah baya. Kematangan itu terlihat dalam interaksi dengan orang lain yang lebih menekankan pada hubungan yang bersifat sosial ketimbang semata-mata mementingkan diri sendiri. Emosi lebih matang dan terkendali. Dalam mengambil keputusan, mereka biasanya lebih mementingkan kebijaksanaan ketimbang kekuatan fisik.

Yang lebih penting lagi, sejalan bertambahnya usia, kaum setengah baya yang optimistis cenderung memiliki pemikiran yang lebih fleksibel. Tidak kaku atau tak mau terpaku pada pengalaman dan pengetahuan yang lama. Mereka meneruskan tradisi berburu pengalaman baru dan merasa tertantang oleh berbagai kesempatan belajar yang terbentang di depan mata. Mereka mampu memadukan antara pengalaman-pengalaman sebelumnya dan pengetahuan baru yang dipelajarinya, untuk menjawab berbagai persoalan baru yang muncul dan harus diselesaikan. Orang-orang seperti ini cenderung memandang hidup sebagai hal yang penuh makna, menyenangkan dan menantang.

Apa relevansi temuan itu? Tentu saja, dengan hasrat dan semangat generativity seperti itulah sebaiknya Anda terjun ke dunia bisnis. Sebab, seperti diteladankan para pebisnis hebat di mana pun dan kapan pun, modal utama mereka ketika membangun bisnis umumnya berangkat dari hasrat dan semangat yang kuat untuk melayani, mempermudah hidup dan memberi yang terbaik kepada orang lain.

Kini, di usia Anda yang memasuki setengah baya, Anda termasuk orang yang beruntung karena diberi kesempatan untuk lebih dulu menumpuk modal, membangun jejaring dan menikmati jam terbang yang tinggi di dunia bisnis. Didukung sederet kelebihan ini, bila Anda memutuskan terjun sebagai pengusaha, tentulah peluang keberhasilannya lebih besar dibanding mereka yang mengawali dari nol.

Kini pula saatnya Anda membagi keberuntungan dan kemewahan itu bagi masyarakat luas dengan cara membangun bisnis sendiri. Hanya melalui jalan ini, Anda ikut berkontribusi memperkuat barisan pengusaha yang telah ada. Sebab, seperti dituturkan pengusaha Ciputra, saat ini Indonesia masih membutuhkan banyak sekali entrepreneur baru. Untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan yang semakin meningkat di Indonesia, ditandaskan Ciputra, saat ini dibutuhkan sekitar 4,4 juta wirausaha, sementara jumlah wirausaha kita baru sekitar 400 ribu.

Sementara itu, menurut David McClelland – psikolog kondang dari Universitas Harvard – suatu negara akan maju jika terdapat entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk. Laporan yang dikeluarkan Global Entrepreneurship Monitor menyebutkan, pada 2005, entrepreneur yang dimiliki Singapura mencapai 7,2% dari jumlah penduduk; sedangkan entrepreneur di Indonesia masih di angka 0,18% dari jumlah penduduk. Wajarlah, pendapatan per kapita Singapura melesat jauh sekali meninggalkan Indonesia.

Karena itu, berbahagialah Anda, kaum setengah baya seperti Aswin Wirjadi, Barry Lesmana, Djoni Hashim, Willy Sidharta, dan kawan-kawan yang telah memilih jalan yang tepat dengan terjun sebagai pengusaha. Siapa menyusul?

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: