Polling

Menurut Anda, bagaimanakah kondisi bisnis di Indonesia jika ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) diberlakukan?


View Results

Loading ... Loading ...

Portofolio Seimbang, Bisa Tidur Nyenyak

Thursday, October 9th, 2008
oleh : admin


Nama Betti Setiastuti Alisjahbana memang identik dengan dunia teknologi informasi (TI) dan IBM. Maklumlah, lebih dari 20 tahun ia menggeluti bidang TI dan 8 tahun menjadi Presdir IBM Indonesia (2000-Januari 2008). Namun, sejak April lalu ia tercatat sebagai founder & CEO PT Quantum Business International. QBI bergerak dalam industri kreatif dengan tiga lini bisnis: QB Headlines, QB Architects dan QB Creative IT. Melalui situs QB Headlines, Betti tidak hanya fasih berbicara soal TI, karier dan industri kreatif, tapi juga pengalaman investasinya.

“Di sini (QBI) termasuk salah satu investasi saya,” ujar Betti saat ditemui di kantor barunya, di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan. Di gedung empat lantai itulah, ia berusaha membiakkan duitnya melalui bisnis industri kreatif yang dibesutnya. Penyertaan saham wanita lulusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung ini di QBI sebesar 100%.

Menurut istri pengusaha Mario Alisjahbana ini, QBI bukanlah investasi satu-satunya. Ia menyebar investasinya ke beberapa instrumen. Betti teguh memegang prinsip investasi bahwa mengelola portofolio harus seimbang dan sesuai dengan karakter risikonya. Untuk itu, ia menaruh dananya 36% di keranjang properti, 26% di obligasi, 20% di reksa dana dan 18% untuk penyertaan saham langsung di perusahaan.

Betti bercerita, pertama kali ia melakukan investasi pada 1998. Saat itu ia mendapat tugas dinas ke Singapura. Ada dua hal yang mendorongnya aktif berinvestasi. Pertama, saat tinggal di Singapura, ia punya dua sumber penghasilan: dari Indonesia dan Singapura. “Saya bisa hidup dari satu sumber penghasilan itu, sehingga satunya lagi saya investasikan,” ibu dari Aslan (20 tahun) dan Nadia (15 tahun) itu berujar. Kedua, lingkungan di Singapura lebih mendukung untuk aktif berinvestasi. Sejak itulah, ia ketagihan berinvestasi. Paling tidak, 30% dari pendapatannya dialokasikan untuk investasi secara rutin.

Properti menjadi prioritas dan mayoritas (36%) investasi Betti. Mula-mula ia membeli apartemen di Australia. Ia tertarik, padahal mulanya belum ada rencana investasi di sana. Mengapa? “Karena cicilan selama 10 tahun bisa dibayar lewat kartu kredit dan langsung ada penyewa apartemennya. Sehingga, saya tidak usah capek cari duit untuk membayar angsuran,” ia menjelaskan sembari mengatakan, uang muka apartemen itu 30% dari harga yang dibanderol. Capital gains apartemen itu diakui Betti juga ciamik, yaitu dari apresiasi mata uang Aus$ terhadap rupiah dan passive income dari sewa.

Setelah apartemen di Australia, Betti getol berburu properti di Indonesia. Ia membeli beberapa apartemen di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, seperti The Groove, Epicentrum dan Apartemen Rasuna. Juga, membeli rumah di Kalibata dan tanah di Bintaro. Sejumlah apartemen dan rumah tersebut ia sewakan lagi. Kalau dipukul rata, yield investasinya mencapai 28%. Rinciannya, 18% dari capital gains dan 10% dari sewa. “Tanah di Bintaro rencananya akan saya bikin cluster 10 rumah untuk dijual lagi,” Betti mengungkapkan peruntukan lahan yang dibelinya tahun 1993 dengan harga puluhan ribu per m2 itu.

Lebih rinci, Betti menguraikan pengalamannya berinvestasi di apartemen. Tahun 2004, ia membeli satu unit apartemen di Kuningan seharga Rp 415 juta. Lalu, apartemen itu direnovasi dengan biaya Rp 39 juta. Untuk AC dan furnitur lengkap ia menghabiskan duit Rp 77 juta. Jadi, total investasinya sampai apartemen itu siap disewakan Rp 531 juta. Selanjutnya, ia menunjuk seorang agen untuk mencari penyewa sekaligus mengurusi segala detailnya, misalnya perbaikan-perbaikan. Harga sewa apartemen itu Rp 5,75 juta/bulan yang mesti dibayar tiap 6 bulan di depan. Setelah dipotong biaya pemeliharaan, fee untuk agen dan pajak penghasilan atas sewa, ia mengantongi penghasilan bersih Rp 54,5 juta/tahun atau yield-nya 10,2% dari nilai investasi yang ditanamnya.

Asyiknya, ia juga mendapatkan capital gains. Berdasarkan dokumen Pajak Bumi dan Bangunan tahun 2007, nilai jual objek pajak apartemen itu menjadi Rp 633,6 juta. Itu artinya dalam kurun tiga tahun capital gains yang dicetak 52,7% atau 17,6 % per tahun. Jika capital gains itu ditambah yield, dalam setahun keuntungan yang digenggam Betti menjadi 27,7%. “Imbal hasil ini sangat menarik. Apalagi, saya tidak perlu membayar semua investasi awal dengan dana sendiri. Sebab, bisa menggunakan pendanaan bank 75% dari harga apartemen,” ungkap pehobi golf, main piano, bernyanyi, berkebun dan mendesain interior itu.

Untuk obligasi dengan porsi 26% dari total portofolionya, Betti lebih suka membeli obligasi korporat di pasar perdana. Pertimbangannya dalam memilih jenis obligasi mengacu pada beberapa hal. Umpamanya, ia harus tahu rekam jejak organisasi perusahaan itu dan kondisi keuangannya, serta rating minimal A. “Tapi kalau saya tahu persis kondisi perusahaan itu, rating-nya bisa di bawah A,” ujarnya. Return obligasi yang diraihnya sekitar 18% tiap tahun.

Reksa dana tak luput dari bidikan Betti sejak 10 tahun lalu. Ia mengalokasikan duitnya 20% untuk bermain reksa dana. Pertimbangannya melirik reksa dana adalah di satu sisi ia melihat pasar saham menarik, tapi di sisi lain ia tidak punya banyak waktu untuk memelototi pergerakan harga saham. Maka, sebagian besar duitnya untuk investasi di reksa dana diguyurkan di reksa dana saham. Sisanya, dimasukkan ke reksa dana pendapatan tetap dan campuran. Apalagi, reksa dana dikelola manajer investasi, sehingga ia tidak perlu pusing memikirkan pengelolaannya. Return reksa dana saham Betti tahun 2007 mencapai 70%, tapi tahun ini minus 20%. “Kalau dihitung per Agustus 2007-Agustus 2008 minusnya 12%, sedangkan jika dihitung dari Januari-Agustus 2008, minusnya 20%,” Betti menjelaskan pengalaman untung dan rugi investasi reksa dananya.

Strategi Betti guna mengoptimalkan investasi reksa dana sahamnya, antara lain, menentukan tujuan investasi dan jangka waktu investasi yang dikehendaki. Juga, memperhatikan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Biasanya IHSG memberikan gambaran umum arah pergerakan nilai aktiva bersih (NAB). “Belilah reksa dana saham saat IHSG mulai menunjukan tanda-tanda grafik naik, karena NAB biasanya akan mengikuti,” ujar Betti menyarankan.

Penyertaan saham dengan porsi 10% juga masuk keranjang investasi Betti. Menurutnya, untuk transaksi saham secara langsung di Bursa Efek Indonesia, porsinya sangat kecil. Sebaliknya, untuk penyertaan saham secara langsung di perusahaan, banyak menyedot dananya. Investasi ini dibedakan menjadi dua. Pertama, investasi di perusahaan yang ia bangun sendiri, misalnya QBI. Kedua, investasi di perusahaan yang dirintis oleh sejumlah anak muda di industri kreatif.

Meski bermain saham langsung jarang dilakukan Betti, tapi ia punya tip jitu. Ia menjelaskan, dalam memilih saham blue chips perlu memperhatikan: cari saham yang price-earning ratio (P/E ratio)-nya lebih rendah dari perusahaan sejenis. Kemudian, simak tingkat pertumbuhannya. Jangan lupa, perhatikan besaran dividen yang dibagikan. Tak ketinggalan, lakukan diversifikasi jenis saham supaya lebih aman untuk menyebar risiko. “Selain menganalisis beberapa hal itu, saya juga memperhatikan rekomendasi dari beberapa perusahaan sekuritas,” ia menambahkan.

BOKS:

10 Tip Investasi Betti

Menurut Betti, dalam berinvestasi, Anda tidak akan pernah 100% benar. Namun, investor dapat meningkatkan potensi hasil dan menekan risiko dengan 10 kiat:

1. Tentukan tujuan Anda

Pertanyaan yang sangat mendasar di sini adalah apa yang Anda inginkan dari uang Anda. Hasil investasinya untuk siapa? Apakah Anda siap rugi? Bila Anda memang senang ambil risiko dan mampu menanggungnya, akui saja, tapi beri batas pada investasi-investasi yang sifatnya spekulatif.

2. Lindungi milik Anda

Anda akan lebih menyesal kehilangan apa yang Anda miliki ketimbang kehilangan kesempatan dalam suatu investasi. Asuransi jiwa biasanya tidak mahal. Membeli proteksi terhadap kehilangan pekerjaan lebih mahal, tapi bisa berguna jika Anda adalah satu-satunya pencari uang dalam keluarga.

3. Lunasi pinjaman rumah

Melunasi pinjaman rumah secepat mungkin adalah penggunaan uang lebih yang paling tidak berisiko, karena Anda akan menghemat biaya bunga. Namun, camkan, jangan mengambil pinjaman yang lebih besar untuk membiayai suatu investasi.

4. Tegar menerima kerugian

Tidak semua investasi akan berhasil. Beberapa akan gagal memberikan hasil sebesar yang Anda yang harapkan dan beberapa akan rugi.

5. Sabar

Waktu dan kesabaran akan menyelamatkan masa-masa sulit investasi Anda. Tidak ada gunanya panik, tapi Anda bisa mengambil keuntungan bila orang lain terburu-buru menjual.

6. Kerjakan persiapan yang dibutuhkan

Siapkah Anda melakukan pekerjaan yang dibutuhkan untuk suatu investasi? Misalnya, memilih, memonitor dan membayar pajak. Bila tidak punya banyak waktu, serahkan ke fund manager atau beli reksa dana.

7. Pastikan potensi keuntungan yang akan Anda raih sepadan dengan risikonya

Tidak ada salahnya bila Anda ingin mengambil risiko lebih besar dan berspekulasi, asal Anda sadar risikonya dan Anda berani menerima kerugian. Jangan lupa risiko besar itu sama artinya dengan kecilnya kemungkinan menang. Pelajari seberapa besar kemungkinan Anda untuk menang dan seberapa besar risiko yang Anda ambil.

8. Tahu kapan harus menjual

Mengetahui kapan harus menjual adalah hal yang sulit. Jadi, buatlah suatu aturan, misalnya menjual bila investasi Anda sudah untung atau rugi dalam jumlah persentase tertentu.

9. Baca tulisan-tulisan kecil pada lembar prospektus

Bacalah semua materi prospektus, lalu tanyakan apa skenario terburuk yang bisa terjadi. Ini untuk meyakinkan bahwa perusahaan tidak menyembunyikan sesuatu.

10. Bangun tanpa berdebar-debar

Strategi investasi dan portofolio Anda harus membuat Anda bisa tidur nyenyak tanpa kesulitan dan bangun pagi tanpa rasa berdebar-debar.

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: