Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Kal-Tim, Provinsi dengan Sejuta Potensi

Thursday, May 28th, 2009
oleh : admin


Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Penggalan syair lagu dari Koes Plus itu tampaknya layak dijadikan gambaran Kalimantan Timur. Maklumlah, Kal-Tim dikenal sebagai provinsi terkaya di Indonesia. Di provinsi ini, sumber daya alamnya serba melimpah: hasil hutan, perkebunan, pertanian, pertambangan (emas, batu bara, minyak dan gas bumi) hingga kekayaan perairannya.

Selain itu, Kal-Tim juga dikenal sebagai provinsi terluas, dengan luas wilayah 198.441,17 km2, atau satu setengah kali luas Pulau Jawa-Madura. Sementara jumlah penduduknya hanya 3.094.700 jiwa. Dengan kekayaan yang berlimpah, dan jumlah penduduk hanya sekitar 3 juta jiwa, tak heran pendapatan per kapitanya mencapai Rp 26,69 juta.

Tak berlebihan Gubernur Kal-Tim Awang Faroek Ishak di hadapan peserta seminar nasional di Jakarta akhir April lalu sempat berseloroh, “Dompet republik ini ada di Kal-Tim.” Asal tahu saja, pada 2008 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini mencapai Rp 315,02 triliun (meliputi Rp 212,10 triliun dari migas dan Rp 93,81 triliun dari nonmigas), dengan pertumbuhan ekonomi 4,82%.

Menurut Awang, kontribusi terbesar PDRB tersebut berasal dari sektor pertambangan, yakni sebesar 44,16%. Berdasarkan data Pertamina Balikpapan, kontribusi terbesar berasal dari minyak bumi yang pada 2007 menghasilkan 52,81 juta barel, disusul gas alam dengan produksi mencapai 39,79 miliar m3, dan batu bara 97,3 juta ton.

Kal-Tim juga dikaruniai Tuhan areal perhutanan yang sangat luas, mencapai 21,14 juta ha, yang terdiri dari hutan lindung, suaka alam dan wisata, serta hutan produksi tetap dan terbatas. Potensi kehutanannya tersebar di Kabupaten Bulungan, Pasir, Kutai, dan Berau. Hutan produksi, yang luasnya sekitar 5,5 juta ha, menghasilkan berbagai jenis kayu yang bernilai ekonomi tinggi, seperti kayu kapur, meranti, keruing, bangkirai, nyatoh, anggi, mersawa, ulin, ngatis, bakau, dan perupuk. Hutan Kal-Tim juga menghasilkan rotan, kayu gaharu, dan tengkawang.

Selain itu, Kal-Tim memiliki pula lahan kering potensial seluas 5,3 juta ha yang terletak di Kawasan Budi daya Non-Kehutanan (KBNK). Dari luasan KBNK sebesar itu, ada lahan seluas 4,25 juta ha yang cocok ditanami tanaman perkebunan (termasuk kelapa sawit). Sampai 2008, lahan kering yang telah dimanfaatkan baru seluas 528.848 ha, yakni untuk pengembangan tanaman karet, kelapa sawit, kelapa, kopi, lada, kakao dan aneka tanaman lainnya. Jadi, masih ada 3,73 juta ha lahan potensial untuk perkebunan yang belum dikembangkan.

Kal-Tim juga punya lahan potensial yang luas untuk pertanian sawah, mencapai 205.100 ha – yang sudah ditanami padi dua kali dalam setahun mencapai 35,9 ribu ha, dan ditanami sekali dalam setahun seluas 53,7 ribu ha. Sementara itu, lahan yang tidak ditanami padi seluas 25,2 ribu ha, dan lahan yang tidak diusahakan masih seluas 104.265 ha. “Sesuai dengan visi Kal-Tim Bangkit 2013, agrobisnis akan menjadi lokomotif ekonomi baru Kal-Tim di masa depan,” kata Awang. “Karena itu, kami akan memoles sektor ini agar investor semakin berdatangan.”

Di sektor perikanan dan kelautan, Kal-Tim memiliki kekayaan sumber daya ikan yang cukup besar, diperkirakan mencapai 339.998 ton/tahun. Dari total potensi perikanan laut sebesar 139.200 ton, baru dimanfaatkan 40,94%. Di perairan umum, baru dimanfaatkan 20,40% dari total potensi ikan 69.248 ton. Lalu, dari sektor budi daya tambak, baru dimanfaatkan 36,02% dari potensi 122.450 ton. Begitu pula perairan air tawar yang potensinya mencapai 9 ribu ton, baru 2,64% yang dimanfaatkan.

Buat perekonomian Kal-Tim, industri pengolahan rupanya juga berperan sangat penting. Hal ini terlihat dari kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB Kal-Tim yang tahun 2008 mencapai 34,80%. Pencapaian itu terutama disumbangkan subsektor industri pengolahan migas dan subsektor industri pengolahan nonmigas (seperti pupuk dan amonia). Menurut M. Yadi Sabianoor, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kal-Tim, secara keseluruhan perkembangan unit industri di Kal-Tim pada 2008 mengalami kenaikan. Pada 2004 sebanyak 12.825 unit, berkembang menjadi 15.168 unit pada 2008. Tingkat pertumbuhannya rata-rata 4,28% per tahun. “Investasi juga mengalami pertumbuhan rata-rata 7,07% per tahun, dari nominal Rp 6,3 triliun menjadi Rp 8,5 triliun,” ujar Yadi.

Yang tak bisa diabaikan, tersedianya potensi alam bahari yang belum digarap secara optimal, yakni kawasan perairan eksotis di Pulau Derawan dan Pulau Meratua. Pemandangan bawah laut di sana sangat potensial dijadikan objek wisata bahari andalan.

Kal-Tim pun kaya dengan industri kecil kerajinan tangan (handicraft) yang memiliki prospek bagus, dengan produknya antara lain: sarung Samarinda, kain Ulap Doyo, lampik (tikar rotan), anjat (keranjang rotan), senjata mandau, batu permata dan mutiara, kerajinan tangan dari kayu, kerupuk ikan, dan sebagainya.

Menurut H.M. Fauzi A. Bahtar, Ketua Kadin Kal-Tim, provinsinya memiliki iklim usaha yang sangat dinamis. Ini ditunjukkan oleh jumlah pelaku bisnis, termasuk UMKM, yang sangat besar. Di Kadin sendiri, jumlah perusahaan yang terdaftar mencapai 1.400 perusahaan. Di luar Kadin, mencapai puluhan ribu perusahaan, terutama dari kalangan pelaku usaha konstruksi. Adapun jumlah koperasi dan UMKM pun terus meningkat. Bila pada 2007 jumlah UMKM mencapai 3.700 unit, pada 2008 meningkat menjadi 3.828 unit. “Pertumbuhan UMKM di Kal-Tim sangat besar. Dan, tujuan utama kami di Kadin memang untuk menumbuhkembangkan sektor ini,” ucap Fauzi.

Toh, diakui Awang, sejumlah potensi yang dimiliki Kal-Tim tersebut belum bisa digarap secara optimal. Salah satu kendala utamanya menyangkut soal keterbatasan infrastruktur. “Kemajuan di Kal-Tim tidak diimbangi oleh infrastruktur,” kata Awang. Sang gubernur berharap adanya kebersamaan dan dukungan dari semua pihak, termasuk dunia usaha, untuk mengembangkan Kal-Tim sesuai dengan konsep platform yang telah dirumuskan, yakni membentuk Kal-Tim Incorporation.

Untuk mendukung penggarapan potensi ekonomi tersebut, Awang memprioritaskan target jangka pendek pada pembangunan infrastruktur, terutama di bidang transportasi, antara lain dengan pembangunan rel kereta api, pelabuhan udara dan kawasan ekonomi khusus (KEK). Sejumlah rencana besar untuk mendukung pengembangan Kal-Tim telah dicanangkan Awang. Antara lain: pembangunan jalan yang menghubungkan seluruh Kal-Tim, termasuk membangun tiga jalan tol. Upaya lainnya, membuat jalur kereta api sepanjang 150 km, dengan jalur Muara Wahau-Lubuk Tutung-Maloy. Untuk pembangunan jalur kereta api ini Pemda Kal-Tim telah menandatangani MoU investasi dengan RAS Al Khaimah dari Uni Emirat Arab senilai US$ 900 juta.

Kal-Tim akan membangun pula KEK dan pelabuhan terpadu (integrated port) di Maloy, Kutai Timur. Pembangunan yang rencananya dibagi dalam tiga tahap itu membutuhkan dana lebih dari US$ 100 juta. Provinsi ini juga berencana mengembangkan Pelabuhan Udara Sepinggan, yakni dengan perpanjangan landas pacu dari 2.500 meter menjadi 3.250 meter, pembangunan terminal penumpang, dan perluasan apron. Dana yang dibutuhkan mencapai Rp 1 triliun.

Dalam hal kelistrikan, Kal-Tim siap membangun pembangkit listrik sendiri, yakni PLTU baru berkapasitas 2 x 100 MW. Maklumlah, saat ini Kal-Tim baru bisa menikmati kapasitas listrik sebesar 600 MW. Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan PLTU ini sebesar Rp 2,4 triliun. Masih ada lagi? “Kami juga akan mengembangkan maskapai penerbangan sendiri, yakni Kal-Tim Air,” ujar Awang bersemangat.

Reportase: Sigit A. Nugroho
Riset: Siti Sumariyati & Ratu Nurul Hanifah

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: