Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Indofood Sukses Makmur:

Thursday, June 25th, 2009
oleh : admin


Menurut pria berambut gondrong yang akrab disapa Franky itu, ada dua hal yang memungkinkan kinerja Indofood tahun 2008 sangat kinclong. Pertama, adanya kenaikan harga komoditas yang sangat tinggi. Indofood sebagai perusahaan yang memosisikan diri sebagai penyedia total food solutions memiliki empat divisi/kelompok usaha: produk konsumer bermerek (consumer branded product/CBP), perkebunan dan minyak kelapa sawit, produk tepung (Bogasari), serta distribusi dan jasa. Adanya kenaikan harga komoditas itu, menurut Franky, diikuti penyesuaian harga. Pada triwulan I/2008, ada kenaikan harga dari CBP Indofood. Selain itu, harga tepung terigu produksi Bogasari juga dinaikkan seiring dengan adanya kenaikan harga gandum. “Jadi, kenaikan penjualan tersebut tentu karena adanya kenaikan harga dan volume,” Franky menjelaskan.

Hal kedua, kebetulan pada 2007 Indofood telah mengakuisisi PT London Sumatra Tbk. (Lonsum). Dengan demikian, penjualan dari Lonsum akan terkonsolidasi tahun 2008. “Jadi kami melakukan ekspansi pada waktu yang tepat, sehingga terjadi kenaikan revenue,” Franky menambahkan.

Di luar itu, menurut Franky, performa Indofood yang ciamik tahun lalu juga ditopang kebijakan internal. Antara lain, Indofood melaksanakan program efisiensi di seluruh unit usahanya. Efisiensi tersebut terutama ditujukan pada kelompok usaha CBP. Ia mengklaim, efisiensi yang dilakukan bukan sekadar cut cost, tetapi menyeluruh. “Biaya yang kami keluarkan adalah biaya yang controlable, sehingga Indofood melakukan efisiensi biaya maupun sinergi. Itu yang pertama kami lakukan,” ia menandaskan.

Indofood juga membenahi struktur organisasi. Terutama dalam hal pengurangan jalur birokrasi. Tujuannya, arahan dari para pemimpin perusahaan bisa lebih cepat sampai ke level bawah. Di sisi lain, manajemen pun menginginkan karyawannya memiliki rasa tanggung jawab.

Bagaimana dengan persaingan? Menurut Franky, dalam berbisnis Indofood tidak melulu memikirkan persaingan. “Sebab, sebenarnya pasar yang ada itu besar,” katanya meyakinkan. Maka, Indofood hanya berusaha mengembangkan pasar melalui penambahan deponya. Selama kepemimpinan Anthony, pertumbuhan gerai ritelnya mencapai 100%.

Kendati begitu, Indofood tetap melakukan inovasi. Misalnya, dalam hal rasa produk mi instan, ada mi goreng dengan rasa gobang (goreng bawang), goso (goreng soto), gokar (goreng kari), dsb. Inovasi semacam itu juga dilakukan pada produk tepung terigu. “Kami tidak product oriented, tetapi customer oriented. Itu konsep dasarnya. Kami berinovasi sesuai dengan yang diinginkan customer,” kata Franky menegaskan.

Selain berbagai upaya yang telah dilakukan guna meningkatkan kinerja, pihaknya juga berupaya terus melakukan value creation. Tujuannya, saham Indofood terus dinilai tinggi oleh para investor. Nah, bagian dari value creation itu adalah perbaikan kinerja, yang tecermin dari laporan keuangan. Franky mengakui, value creation ini akan dinilai pasar dari kesinambungannya (sustainability). “Tentunya, para investor itu tidak hanya melihat pada hasil penjualan. Mereka juga melihat bagaimana bisnis ke depan, seberapa sustainable bisnisnya dan berapa kontribusi yang diberikan.”

Diklaim Franky, sekarang struktur bisnis Indofood lebih mudah dipahami para investor, terutama dengan adanya pembagian ke dalam empat kelompok usaha.

Menurutnya, peningkatan kinerja finansial itu ada kaitannya dengan corporate action yang dilakukan Indofood. “Ini berarti dinamika dalam Indofood itu tumbuh dan hidup,” ujarnya bangga.

Aksi korporat terbaru adalah akuisisi PT Indolakto, produsen produk-produk berbasis susu yang memiliki merek-merek terkenal seperti Indomilk, Cap Enaak, Tiga Sapi, Orchid Butter dan Indoeskrim. Seperti diberitakan di beberapa media, Agustus tahun lalu Indofood mengakuisisi 100% saham Drayton Pte. Ltd. yang memiliki 68,57% kepemilikan di Indolakto.

Kendati mencapai hasil gemilang pada 2008, Franky tidak berani menjamin tahun 2009 ini pendapatan Indofood akan naik. Pasalnya, harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) kembali turun. “Komoditas itu berbeda dari CBP yang dinilai dari brand-nya. Saya melihat CBP memang jauh lebih stabil,” ungkapnya. Karena itu, ia memperkirakan CBP masih akan memberikan tambahan kontribusi terhadap pendapatan Indofood dalam beberapa tahun ke depan.

Franky pun mengaku tidak bisa menjamin pangsa pasar Indofood bakal meningkat — walaupun hingga kini produk-produknya masih dominan di pasar. Ia berpendapat, peningkatan pangsa pasar itu tidak menjamin keberlanjutan usaha. “Oleh karena itu, secara korporasi, Indofood tidak merisaukan apakah market share turun atau naik. Jadi, Indofood lebih mementingkan kinerja dan kontribusi,” katanya menegaskan.

Keberhasilan Indofood membukukan rekor penjualan tahun lalu itu dibenarkan pengamat pasar modal Edwin Sebayang. Menurut Kepala Riset PT Finan Corpindo Nusa ini, kenaikan angka penjualan Indofood yang cukup signifikan itu disebabkan kontribusi yang diberikan Lonsum yang diakuisisi Indofood pada 2007. “Saat itu penjualan Lonsum sedang sangat bagus, mengingat kenaikan harga CPO yang cukup signifikan pada 2008,” kata Edwin.

Namun, secara kritis, Edwin melihat, bersamaan dengan itu cost of goods sales (COGS) Indofood naik 40,45%. Maka, ia melihat sebenarnya laba bersih Indofood pada 2008 hanya naik 5,51% year on year dibandingkan tahun 2007. Selain itu, ia pun menemukan biaya bunga (interest expense) Indofood juga naik cukup tinggi, yaitu 62,9% dibandingkan tahun sebelumnya, karena perusahaan ini menerbitkan banyak obligasi.

Bagaimana dengan pencapaiannya pada 2009? Menurut analisis Edwin, pada triwulan I/2009, laba bersih Indofood turun cukup besar dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, yaitu sekitar 70,4%. Debt to equity ratio Indofood juga naik dari 2,72 kali pada triwulan I/2007 menjadi 3,18 kali pada triwulan I/2009. “Dan kalau saya tidak salah, Indolakto yang baru saja diakuisisi Indofood, struktur keuangannya juga masih merugi,” ungkapnya.

Edwin memperkirakan pula, adanya penurunan harga CPO sekitar 25% saat ini bakal memengaruhi pendapatan Indofood di triwulan I/2009. “Oleh karena itu, mungkin Indofood hanya bisa mendongkrak revenue dari penjualan consumer goods-nya seperti mi instan. Sebab, selain harga mi instan telah dinaikkan, harga tepung terigu juga telah turun sedikit.”

Namun Edwin menilai, saat ini produk mi instan Indofood telah memasuki tahap mature, atau dapat dikatakan cukup sulit ditingkatkan lagi. Namun, mengingat Indofood memiliki unit bisnis dari hulu hingga hilir, ke depan Indofood akan banyak memperoleh kontribusi pendapatan dari Lonsum. Pasalnya, CPO masih menjadi salah satu komoditas yang sangat dibutuhkan saat ini. Apalagi, harganya diperkirakan bakal naik lagi pada triwulan III/2009.

Edwin juga membenarkan di masa mendatang Indolakto akan turut memberikan kontribusi bagi sektor produk konsumer, meskipun tidak dalam jangka waktu dekat. “Namun, sektor consumer goods diperkirakan hanya akan mengalami kenaikan yang tidak terlalu besar. Mungkin sekitar 10% saja. Kontribusi terbesar justru dari perkebunan,” demikian prediksi Edwin.***

A. Mohammad B.S. & Kristiana Anissa/Riset: Dumaria Manurung

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: