Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Geliat DBS di Tangan Hendra

Thursday, August 20th, 2009
oleh : admin


Meski pengaruh teamwork bank tersebut sangat terasa, keberhasilannya tidak bisa dilepaskan dari sosok Hendra Gunawan, Presdir Bank DBS sejak 30 Juni 2009. Meski baru menduduki pucuk pimpinan, peran pria kelahiran Jakarta 11 November 1970 itu sudah lama dirasakan. Maklum, ayah dua anak ini bergabung sejak Juli 2003 dengan jabatan Wapresdir Corporate Banking dan Investment Banking. Dia juga sebagai Pejabat Pelaksana CEO setelah Scott Armstrong mengundurkan diri dari posisi CEO DBS, Desember 2008. Hendra adalah CEO keempat Bank DBS Indonesia. Dia orang lokal kedua yang memimpin DBS setelah Karunia Tjuradi yang menjabat CEO sebelum Scott.

Hendra bukanlah anak bawang yang terjun di dunia keuangan. Jauh sebelumnya, peraih Chartered Financial Analyst itu telah malang melintang di sejumlah bank dan perusahaan investasi. Kurun 1994-1999 dia pernah menjabat Wapres Global Investment Banking Deutsche Bank A.G. di Singapura. Juga, pernah menjadi Kepala Riset PT Schroder Investment Management Indonesia.

Lantas, apa yang dilakukan untuk membuat DBS berlari cepat? Sejumlah langkah dan strategi diayunkan Hendra dan timnya dalam mendongkrak performa DBS. Pertama, menambah target pasar. Kalau dulu hanya fokus nasabah korporat, sejak 2005 juga melirik segmen ritel. Kedua, aktif meluncurkan produk consumer banking untuk nasabah individual. Contohnya kredit tanpa agunan bernama Rumah DBS, dan kredit multiguna Dana Bantuan Sahabat dengan tingkat suku bunga kredit kurang-lebih 1,7% tiap bulan.

Ketiga, mulai 2006 agresif menggarap divisi enterprise banking dengan menggalakkan pendanaan bagi kegiatan small medium enterprise. Keempat, dalam pembukaan cabang baru diperhitungkan secara cermat. Mulai dari studi kelayakan atas pemilihan lokasi yang strategis, penyewaan gedung yang tepat, rekrutmen karyawan yang andal hingga kalkulasi prospeknya kelak. Alhasil, untuk set up kantor cabang yang anyar dibutuhkan waktu 6-8 bulan agar bisa beroperasi dengan baik.

Kelima, pelayanan yang memperhatikan aspek lokal. Dalam slogan Bank DBS disebutkan bahwa DBS living and breathing Asia. Maksudnya, bank ini menyatakan diri bukan sebagai bank global, melainkan bank Asia. “Kami besar di Asia dan maunya tumbuh di Asia. Kami tidak ada rencana tumbuh ke New York atau London. Jadi values kami itu dari Asia, artinya kami mengedepankan long-term relationship even at the expense of short-term gain. Jadi kalau dalam jangka pendek kami rugi, tapi dalam jangka panjang kami untung, maka kami akan lakukan itu,” Hendra menuturkan. Itulah yang menyebabkan pertumbuhan Bank DBS di awal tahun berjalan pelan. Sebab, dalam memulai suatu bisnis, pertumbuhan itu memang pelan sampai ditemukan titik skala ekonomi atau critical mass.

Tahun 2003-2008 dapat dikatakan pertumbuhan laba DBS selalu positif, sedangkan bank lain mungkin naik-turun. Menurut Hendra itu merupakan refleksi dari cara bank ini berbisnis. “Asian bank with Asian values, dan kami lihat nasabah kami sebagai mitra dalam memberikan solusi finansial, pendanaan dan lainnya,” ujarnya menambahkan.

Jaideep Singh, Director Head of Technology & Operations Bank DBS, memberi acungan jempol buat Hendra. “Dia memiliki sense of business yang kuat. Selain itu, dia sangat terstruktur dalam pengambilan keputusan. Bahkan, pengetahuannya tentang emerging market tidak hanya kuat di Indonesia, tapi juga luar negeri,” kata Jaideep memuji rekan kerjanya sejak tahun 2005 itu.

Senada dengan Jaideep, Deffy Lisa Hardjono pun menunjukkan kekagumannya pada sang bos. “Beliau tidak terus-menerus membicarakan target atau hasil akhir. Bagi beliau yang penting adalah prosesnya sudah dilakukan dengan sepenuhnya atau belum. Kalau prosesnya sudah benar, tentunya hasil akhir pasti akan mengikuti,” ujar VP Group Strategic Marketing & Communication Bank DBS yang mengenal Hendra sejak tiga tahun lalu.

Lantas apa rencana Hendra ke depan? Lima tahun ke depan, dia menargetkan jumlah cabang di seluruh Indonesia menjadi 100. Nah, untuk menjadi Top 10 Bank di Indonesia, kriteria besarnya adalah total aset Rp 50 triliun. Agar target itu tercapai, bank ini wajib tumbuh 20% per tahun. “Kami harus tumbuh, tapi pertumbuhan itu harus sustainable. Karena tidak ada gunanya kami tumbuh cepat, tapi begitu terjadi kenaikan non-performing loan, kami menarik fasilitas kredit dan sebagainya buat nasabah,” ungkapnya. Kalau ini bisa diraih, DBS betul-betul fast growing company.

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: