Thursday, August 20th, 2009
oleh : admin
The winner of The Best CEO 2009 is Johnny Darmawan. Hasil survei The Best CEO 2009 yang digelar SWA bekerja sama dengan Dunamis dan Synovate menempatkan Presdir PT Toyota Astra Motor ini sebagai sang jawara dengan The Best CEO Index mencapai 99,04. Pencapaian yang nyaris sempurna.
Sementara dilihat dari empat peran kepemimpinan (Four Roles of Leadership) pemikiran Stephen Covey, nilai Johnny juga nyaris sempurna, di atas kandidat The Best CEO lainnya. Untuk fungsi Perintis, ia memperoleh nilai 99,13. Nilai 98,50 untuk fungsi Penyelaras, 99,13 untuk fungsi Pemberdaya, dan 98,94 untuk fungsi Panutan. Sementara untuk fungsi Kepemimpinan, Johnny memperoleh skor 98,92. Nilai Indeks Komitmen Karyawan pun paling tinggi dibanding kandidat lainnya, yakni 99,15.
“Bapak pantas mendapatkannya karena beliau very inspiring person,†ucap Widyawati, Kepala Divisi Marketing Planning & Customer Relations Toyota Astra Motor (TAM). Di matanya, Johnny adalah sosok pemimpin yang berpikiran luas dan terbuka. “Tidak suka menghakimi seseorang dan pastinya Bapak percaya pada anak buahnya,†ungkap Widyawati.
Ungkapan senada dituturkan Shinji Fujii, top eksekutif perwakilan Toyota Jepang di TAM. “Sudah sepatutnya Mr. Johnny mendapatkan penghargaan tersebut. Namun, saya yakin dia pasti akan menolak penghargaan itu karena dia orang yang sangat humble,†kata Shinji. Menurutnya, jika Johnny tidak memiliki sikap kepemimpinan yang baik, “Tidak mungkin dia bisa membawa Toyota Astra menjadi salah satu kontributor terbesar Toyota kawasan Asia Pasifik,†tambahnya.
Di bawah kepemimpinan Johnny, pangsa pasar TAM naik dari 28% menjadi 38%. Kenaikan pangsa pasar itu menjadikan Indonesia sebagai negara yang semakin digarap serius oleh Toyota Jepang. Bukan hanya untuk Asia Pasifik, tetapi juga tingkat dunia. Indonesia menjadi salah satu Top 5 negara kontributor terbesar untuk Toyota.
Ketika pada April 2002 Johnny dipercaya memimpin TAM, Toyota bertengger di posisi pertama dengan pangsa pasar 26%; posisi kedua Mitsubishi (22%) dan Suzuki menempel ketat di posisi ketiga (20%). Persaingan di industri ini pun makin sengit seiring program liberalisasi yang dikibarkan pemerintah dengan memperbolehkan impor segala model mobil.
Diungkapkan Johnny, ketika ia ditunjuk sebagai komandan TAM, ia mencoba membawa TAM lebih baik. Selain menggenjot penjualan, konsolidasi internal pun terus digeber dengan berpedoman pada 3W (winning concept, winning team, winning system). Dalam winning concept, ia merumuskan akan seperti apa TAM 5-10 tahun ke depan. Yang pasti, ia sendiri menargetkan TAM harus berada jauh di depan dibanding pemain lain. “Kami ingin mencapai pangsa pasar yang tinggi dan penjualan yang banyak. Untuk itu, kami harus lebih fokus dan tajam,†ujar pemilik nama lengkap Johnny Darmawan Danusasmita ini.
Untuk menjabarkan W kedua, yakni winning team, ia mencoba mencari tim baru yang berjiwa muda, agresif, brilian, dan optimal. “Anak-anak muda sekarang luar biasa. Pengetahuan mereka luas. Dibandingkan dengan kami yang tua ini, kami sudah jauh ketinggalan. Tentunya kami harus memberi mereka kesempatan yang luas juga,†ungkap Johnny yang pada 1 Agustus lalu genap berusia 57 tahun.
Beberapa perombakan pun kemudian dilakukan Johnny, bahkan mutasi dan rotasi sejumlah karyawan sesuai dengan kompetensi masing-masing. Diakuinya, saat itu ada sedikit pergolakan meski tak terlalu besar. “Setelah kami memberi banyak penjelasan, kami tak melihat banyak hambatan,†ujar lulusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, yang sempat menekuni profesi auditor di PricewaterhouseCoopers Jakarta sejak masih kuliah di tingkat tiga ini.
Ketiga, winning system. Dalam pandangannya, untuk meningkatkan pangsa pasar yang tinggi dibutuhkan sistem sehingga TAM bisa tahu sampai ke setiap sudut bagaimana kondisi dan situasi pasarnya. Untuk itu, TAM memperbaiki sejumlah sistem meliputi sistem laporan, sistem bagaimana mendapatkan data dari lapangan, dan pangsa pasar per daerah. Tujuannya agar perusahaan memperoleh intelligent report, data pasar, data pergerakan kompetitor, serta kemauan pelanggan yang akurat dan cepat. TAM mengalokasikan dana hingga belasan miliar rupiah untuk membangun dan memperbaiki sistem.
Upaya yang dilakukan Johnny membuahkan hasil. Kinerja TAM di bawah kendalinya terus meroket. Terlebih ketika TAM meluncurkan Avanza pada 2003. Sejak diluncurkan pertama kali, setiap bulannya pasar menyerap 4-5 ribu unit Avanza. Orang sampai mau antre hingga 8 bulan untuk bisa membawa pulang Avanza. “Lakunya kayak kacang goreng hingga sekarang,†kata Johnny seraya menerangkan bahwa untuk meluncurkan Avanza, TAM berinvestasi hingga puluhan miliar rupiah.
Sukses Avanza tak pelak membuat kinerja TAM makin moncer. Tahun 2004, pangsa pasar TAM mencapai 32%. Padahal pada 2003, pangsa pasar Toyota 28% dengan kontribusi Kijang 18%-23% dari total pangsa pasar. Tahun 2005, pangsa pasar Toyota melompat ke angka 34,2%. Sementara pemain kedua dan ketiga memegang pangsa pasar 14% dan 15%. Bahkan pada 2006, pangsa pasar Toyota mencapai 38%. Sukses Avanza kemudian disusul Innova yang diluncurkan pada Agustus 2004. “Kami menyesuaikan dengan permintaan pasar yang menginginkan Kijang bisa tampil lebih cantik. Jadi ini semacam beautiful revolution,†ungkap Johnny. Innova sendiri diposisikan lebih tinggi dari Avanza.
Keberhasilan kinerja di manufakturing dan penjualan memberi tantangan baru bagi Johnny. Saat ini tantangan TAM adalah meningkatkan sumber pendapatan di luar penjualan mobil. Ia memilih memperkuat divisi suku cadang dan servis di bengkel. Sekarang, 70%-80% sumber pendapatan TAM berasal dari penjualan mobil, sisanya 20%-30% dari penjualan suku cadang dan servis. Sebelumnya, sumber pendapatan dari suku cadang dan servis hanya 5%-10%. Ke depan, ia ingin terus menggenjot pamor divisi suku cadang dan servis di bengkel ini.
Amunisi pun disiapkan Johnny. Ia melipatgandakan penjualan suku cadang. Untuk mendongkrak penjualan, ia membangun gudang suku cadang di atas lahan seluas 10 ha di Cibitung. Dana sampai ratusan miliar digelontorkan untuk proyek pembangunan tersebut. Pasalnya, diakui Johnny, pasar yang dibidik tak hanya lokal tetapi juga pasar ekspor. Selain itu, TAM juga mencoba mengedukasi konsumen untuk tidak menggunakan suku cadang palsu. Di sisi lain, TAM menurunkan harga jual suku cadang. “Jadi, kami tak menjual barang impor, tapi membuat lokalisasi produk,†tambahnya.
Adapun di bengkel, TAM membenahi efisiensi dan kecepatan waktu kerja, serta penambahan servis. “Kami selalu melakukan perbaikan agar konsumen mendapatkan kepuasan,†tambahnya. TAM meluncurkan pula bengkel body & paint di kawasan Jabotabek yang ditargetkan dalam 2-3 tahun ke depan menyebar hingga 180 gerai di seluruh Tanah Air. Selain itu, perusahaan meluncurkan program one stop service. Dengan adanya program ini, untuk pelayanan Toyota finance dan insurance dilakukan dalam satu atap.
Terobosan yang dilakukan Johnny di TAM dinilai Shinji mempertegas sosok Johnny sebagai orang yang sangat tepat menakhodai TAM di tengah persaingann yang makin keras. Menurutnya, hanya individu tertentu yang mempunyai kompetensi tinggi dan terbaik yang mampu menjawab berbagai tantangan bisnis dari pihak prinsipal Jepang. Apalagi, jika individu itu mampu membuat prinsipal Jepang lebih bisa memercayai kompetensi orang lokal untuk mengisi lapisan top dan menengah manajerial di mana perusahaan milik prinsipal itu berada. “Johnny beserta timnya telah mampu membuktikan kompetensi orang Indonesia sebagai tim manajemen yang andal kepada pihak prinsipal,†katanya memuji.
Shinji menegaskan, Jepang mempunyai serangkaian persyaratan yang detail untuk menempatkan seseorang sebagai pemimpin berikut pengawasan performa kerja dan kinerja yang bersangkutan. Dalam pandangannya, selama ia mengenal Johnny sejak lebih sedasawarsa lalu, Johnny adalah sosok pekerja keras, gigih dan kreatif, yang selalu berorientasi pada peningkatan nilai tambah perusahaan. “Dia memiliki karakter pemimpin yang dimiliki dan diinginkan oleh organisasi semacam Toyota,†ujarnya.
Lebih jauh, Shinji menilai Johnny bisa dikatakan sebagai sosok pemimpin yang telah menerapkan prinsip keberhasilan Toyota seperti yang tercantum dalam The Toyota Way. “Jika Johnny tetap dipercaya untuk memimpin Toyota, artinya kami sebagai prinsipal menghargai achievement-nya berikut timnya yang bisa membuat Toyota Astra berprestasi,†tambah Wapresdir TAM ini.
Di mata Widyawati, sosok Johnny adalah pemimpin yang inspiratif. Jika merasa terbentur dalam pengambilan keputusan atau mandek ide, Johnny selalu menyemangati tim pemasaran, termasuk dirinya, untuk maju terus, pantang menyerah. “Bagi Bapak, tidak ada kata tidak bisa kalau belum dicoba. Bapak selalu bilang, jangan pernah terpatok pada satu jalan, kalau terbentur tembok jangan terpaku menatap tembok, cari jalan lain dan kreatiflah,†ujarnya. Johnny juga dinilai sebagai pemimpin yang mau memberi keleluasaan karyawannya untuk berani mengambil risiko dengan berani keluar dari aturan baku dalam berkreasi. “Membuat kami, karyawan, merasa dipercaya dan tidak berbuat sembarangan dalam berkreasi. Perhitungannya menjadi lebih cermat dalam setiap mengambil keputusan,†ungkapnya.
Keberhasilan Johnny membawa Toyota sebagai pemimpin pasar tak lepas dari gaya kepemimpinannya. Johnny tipikal pemimpin yang menghargai dan memberi kepercayaan pada anak buah. Bagi Johnny, segala sesuatu tak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus dengan tim. Prinsipnya, manajer yang baik bukanlah dia yang bisa mengerjakan apa pun seorang diri, melainkan justru yang bisa mempergunakan tangan orang lain untuk mengoordinasikan bawahannya dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan perusahaan secara optimal. “Manusia itu tak sempurna dan saya bukan Superman,†ungkap Johnny.
Johnny sangat menyakini bahwa do the best and God will do the best rest. “Lakukan pekerjaan dengan baik. Orang yang menilai dan hasilnya nanti. Lalu, berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan dukungan,†ia bertutur. Anak ke-7 dari 9 bersaudara pasangan (almarhum) Wiratma Danusasmita dan Purnamawati ini sangat meyakini campur tangan Tuhan dalam perjalanan hidup dan kariernya. “Saya sangat yakin bahwa kesuksesan yang saya raih itu 80%-nya ditentukan oleh faktor keberuntungan yang telah digariskan oleh Tuhan, sementara sisanya yang 20% barulah hasil usaha saya,†tutur Johnny yang memulai karier di Grup Astra sebagai Manajer Junior PT Multi Astra (1982). Sebelum didapuk menjadi Presdir TAM, selama 10 tahun ia dipercaya menempati pos direktur keuangan.
“Saya orang yang easy going,†tambah pria berkumis tebal dengan rambut lurus yang kerap memakai jins dan sandal saat santai di akhir pekan ini. Dalam bekerja, ia juga tak semata mengandalkan laporan dari anak buahnya. Hingga saat ini, ia kerap mengontrol langsung ke bawah untuk tahu kondisi lapangan. “Kadang bawahan tak berani cerita secara langsung karena gaya kepemimpinan yang keras. Tapi kalau kami terjun ke lapangan, kami akan mendengar secara langsung,†tutur pengguna Lexus ini.
Secara pribadi, Shinji menilai Johnny orang yang terbuka, mau berpikir out of the box, tidak kaku (fleksibel), punya empati yang tinggi, dan pendengar yang baik. Namun, kadang Johnny itu adalah sosok yang “terlalu baik†meladeni berbagai pembicaraan atau keluhan orang. “Bisa dikatakan, Johnny kawan ngobrol yang menyenangkan. Ngobrol bisa berjam-jam dengannya, kadang saya yang suka mengingatkan kembali kalau sudah melebihi jadwal yang ditetapkan,†ujarnya.
Sementara di mata Vini, karyawan di bagian pemasaran TAM, Johnny adalah sosok pemimpin yang membumi dan rendah hati. Menurutnya, Johnny selalu menyempatkan hadir jika ada event yang diadakan bagian pemasaran TAM. Di matanya, Johnny adalah sosok pemimpin yang memiliki wawasan luas tetapi tetap terbuka dan tak pernah malu untuk belajar dari anak muda. “Bapak itu bukan sekadar bos, tapi lebih kayak seorang bapak. Ada survei atau tidak ada survei, ada award atau tidak ada award, Bapak adalah pemimpin yang baik,†tutur Vini yang sudah 6 tahun bergabung di TAM.
Leadership is action, not position. Begitulah Johnny melakoni perannya sebagai orang nomor satu di TAM. Saat SWA berkunjung ke kantor TAM di bilangan Sunter, karyawan yang ditemui SWA menilai Johnny sebagai bos yang membumi dan dekat dengan karyawannya. “Halus tutur katanya, ramah, dan kalem. Biarpun big bos, tidak sombong. Senyum dan sapa saya selalu dibalas dibarengi dengan pertanyaan balik tentang kabar saya,†ujar seorang petugas sekuriti yang enggan disebut namanya.
Diakui Vini, sang big bos ini tidak segan menyapa anak buahnya meski belum tentu mengetahui nama staf yang disapanya itu. “Setidaknya, sebuah senyum ramah dan terasa tulus itu sangat berarti buat menambah semangat kami bekerja. Apalagi kalau disapa dan sampai Bapak tahu nama kami, wah rasanya bagaimana begitu…,†ujarnya. “Tahu sendiri kan Mbak, banyak pemimpin, umumnya, karena merasa menjadi orang nomor satu jadi terkesan menjauh dari karyawan,†tambahnya.
Apresiasi dan pujian yang dilontarkan anak buahnya ditanggapi Johnny dengan senyum. Ia bahkan mengelak dirinya sudah bisa disebut sebagai The Best CEO. “Masih banyak yang harus saya lakukan untuk menjadi pemimpin yang baik. Semua achievement saya di sini (TAM – Red.) juga berkat semua pihak yang ada di sini. Bukan prestasi saya sendiri,†ucapnya. Dia juga mengaku sungkan dengan Big Bos-nya di Astra International atas gelar The Best CEO itu. Baginya, jabatan hanya bersifat sementara sehingga tidak perlu menepuk dada dan mendongakkan kepala. “Kami sama-sama karyawan tapi beda nasib, itu candaan saya dengan karyawan,†ungkapnya.
Sebagai karyawan yang mendapat kepercayaan untuk duduk di tampuk kekuasaan, Johnny menjalin hubungan dengan berbagai kalangan. Tak hanya board of director, serikat karyawan, pemerintah, kalangan industri pun digandengnya. “Dia ada di mana-mana, hubungannya luas di masyarakat dan di kantor. Kenalannya banyak sekali kayak selebritas,†ungkap Jodjana Jody, GM Penjualan Lexus. Human relationship di mata Jody adalah salah satu kelebihan Johnny.
Suami Lina K. Hadi, ayah dari Michael (29 tahun), Mariskha (27 tahun) dan Monika (20 tahun) ini mengaku memang berusaha mencari jejaring seluas-luasnya. “Jangan lupa, dalam bergaul, cobalah memahami apa yang ada di lawan bicara dan klien,†kata Johnny. Di sela-sela kesibukannya memimpin TAM, penggemar makanan enak yang punya berat badan 80 kg dengan tinggi 168 cm ini juga masih menyempatkan diri menjual Lexus, salah satu produk andalan TAM saat ini. “Sekitar 50% penjualan Lexus, saya yang jual. Tapi saya dibantu tim. Artinya, saya yang approach dan entry point selanjutnya ditangani karyawan TAM,†tuturnya. Ia juga pernah terbang ke Sumatera untuk menjual truk ke perusahaan yang memiliki perkebunan di sana. “Akhirnya, saya berhasil menggolkan penjualan 100 unit truk,†imbuhnya.
Segudang aktivitas yang dilakoninya ini justru membuat anak buahnya mengkhawatirkan kesehatan Johnny. “Tolong jaga kesehatan. Bapak itu orangnya gak bisa diam. Aktif plus doyan ngemil. Saya takut kesehatan Bapak terganggu mengingat waktu istirahatnya sedikit sekali,†kata Widyawati. Nasihat senada dilontarkan Shinji. “Please, tolong bilangin dia untuk jaga kesehatan. Orangnya tidak bisa diam, selain aktif di berbagai organisasi atau event di luar TAM, ada saja yang dikerjakan sekalipun saatnya dia untuk berisitrahat,†tuturnya.
Reportase: Tutut Handayani
Riset: Ratu Nurul Hanifah
Artikel Terkait