Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Begini Cara Masuk ke Fortune Global 500

Thursday, January 14th, 2010
oleh : Eddy Dwinanto Iskandar


Puluhan tahun berbilang, tapi tidak sekalipun perusahaan asal Indonesia yang masuk peringkat Fortune Global 500, daftar 500 perusahaan berpendapatan terbesar versi majalah Fortune. Bandingkan dengan Malaysia yang mampu menempatkan Petronas, perusahaan minyak dan gas miliknya ke dalam daftar FG 500, dan kerap membaik setiap tahunnnya. Di tahun 2007 menduduki peringkat 121 lantas naik ke posisi 95 di tahun 2008 dan akhirnya di tahun 2009 meloncat ke peringkat 80, melampaui Nokia (85) dan bahkan Sony (81).

Meski demikian, Philip Purnama, Direktur Spinnaker, sebuah perusahaan konsultan manajemen dan perusahaan investasi, memapark Indonesia sudah memiliki banyak bibit yang masuk untuk masuk ke klub FG 500.

Dan, peluangnya semakin besar dengan bergesernya pola bisnis perusahaan-perusahaan Indonesia. Sepuluh tahun lalu, perusahaan di Indonesia banyak bergantung pada lisensi-lisensi dan sumber daya alam (SDA). “Kini bergeser, big company lebih bergantung pada proses yang efisien dan intangible asset (branding, system, people),” ujar Philip. Ketiga intangible asset tersebut, menurut Philip, sering dilupakan perusahaan besar juga.

Philip memberikan saran, perusahaan Indonesia harus lebih memerhatikan aspek produktifitas dalam proses kerja jika ingin masuk daftar bergengsi itu. “Input-outputnya harus lebih tinggi dibanding kompetitor, competitiveness about productivity, jika ini dimiliki bisa menjadi perusahaan yang scalable, berkembang menjadi skala ekonomis yang tinggi,” ia menjelaskan.

Namun, semua itu harus ditunjang dengan satu faktor, konglomerasi atau perusahaan tersebut harus bergerak dalam industri yang punya skala ekonomis, yaitu produknya banyak dicari orang, dan bisa mengekspor dalam kuantitas yang besar.

Menurut Philip, pasar domestik yang besar di Indonesia membuat banyak perusahan Indonesia cepat berpuas diri dengan pasar lokal. Sehingga tidak punya keinginan untuk ekspansi ke luar. “Hanya sedikit perusahaan di Indonesia yang berani dan sanggup untuk kompetisi di skala internasional,” tuturnya.

Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan yang berbasis sumber daya alam (SDA) memang sangat memungkinkan masuk ke FG 500, meskipun rawan. “Saya pikir kalau hanya berdasarkan kekuatan sumber daya alam, untuk masuk Fortune Global 500 riskan sekali. Sekarang sih, bisa, tapi belum tentu 10-20 tahun lagi,” Philip menguraikan.

Philip lantas menyebutkan beberapa contoh dari sekian banyak perusahaan Indonesia yang layak masuk FG 500. Pertama yang paling berpeluang masuk adalah Astra Grup. “Saya melihat Astra dijalankan oleh sistem bukan oleh orang, siapa pun pemimpinnya, silih berganti akan menjalankan perusahaan dengan baik dengan kepentingan murni memajukan nilai perusahaan, bukan kepentingan pribadi atau investor,” Philip menerangkan. Dengan demikian Astra bisa memiliki likuiditas yang bagus untuk mendapatkan pendanaan baik dari bank maupun pasar modal.

Sektor lain yang memungkinkan masuk ke klub 500 perusahaan beromset terbesar sejagad itu adalah perbankan. Philip menyebut BRI, Mandiri dan BCA sebagai kandidat potensial. “Karena mereka kuat di consumer banking. Disamping itu penetrasi produk-produk perbankan di Indonesia masih rendah sekali. Contohnya, produk kredit perumahan masih rendah, kurang dari 10% orang Indonesia yang bisa kredit rumah,” ujar Philip lagi.

Selain itu Philip menyebut perusahaan komoditas yang berpotensi masuk FG 500 yaitu Indofood dan Sinar Mas. Sebab keduanya bergerak di komoditas yang terbaharui (CPO dan turunannya). “Sinar Mas contohnya, dia memiliki keunggulan dari cara mereka dalam monitoring dan efisiensi cost,” kata Philip.

Dengan kecanggihan sistem teknologi informasi yang dipadukan dengan imaji satelit, Sinar Mas bisa memantau kebunnya setiap saat, setiap detik, berapa produksinya, pabrik mana yang sedang jalan dan sebagainya. Semua bisa dipantau dalam satu ruangan war room di kantor pusat, lengkap dengan peta besar yang dipantau melalui satelit. “Tidak ada perusahaan yang bisa menjalankan secanggih Sinar Mas,” ujarnya.

Selain itu, Bakrie Grup dinilainya bisa menjadi Top 3 perusahaan tambang di dunia. “ Bakrie berani dan sanggup meminjam uang besar-besaran untuk ekspansi pada saat ini,” Philip beralasan.

Selain itu, Telkom juga dianggapnya potensial masuk ke FG 500. Alasannya, hampir semua perusahaan telekomunikasi di negara maju masuk dalam daftar tersebut. Pasalnya, perusahaan telekomunikasi yang top di negara masing-masing memiliki skala ekonomis yang besar. Maka itu, Philip memandang quantum leap Telkom di tahun 2010 haruslah memasuki consumer business yang antara lain berbasis community marketing, mobile atau internet based marketing. “Telkom juga harus bermain dalam teknologi-teknologi baru,” pungkasnya.

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: