Thursday, January 21st, 2010
oleh : Eva Martha Rahayu
Dua kali dijerat krisis (1997 dan 2008), Bakrie & Brothers dengan sangat cepat berhasil melakukan restrukturisasi. Kini, konglomerasi ini tidak saja eksis, tetapi melaju pesat.
Ada yang masih ingat bagaimana kondisi bisnis Bakrie tahun 1999, di tengah puing-puing krisis moneter 1997? Sepuluh tahun berlalu, Bakrie kini bangkit menjadi salah satu perusahaan papan atas. Apa strateginya?
Saat ini usia Bakrie & Brothers Tbk. (B&B) mencapai 68 tahun. Usia yang sangat matang dan kaya pengalaman dalam menapaki dunia bisnis. Dan B&B memang membuktikan kematangan itu. Ia kaya akan manuver. Terakhir, perubahan besar dilakukannya. “B&B bukan lagi perusahaan operational holding, melainkan jadi perusahaan investasi yang memegang saham perusahaan-perusahaan yang menjadi portofolionya,” kata Bobby Gafur Umar, Direktur Pengelola/CEO PT B&B.
Bobby menunjuk Berkshire Hathaway milik Warren Buffet sebagai persamaan B&B. Perusahaan konglomerasi yang bermarkas di Nebraska, Amerika Serikat, itu sukses mengendalikan investasi di banyak perusahaan. Awalnya, Buffett fokus pada investasi jangka panjang di perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar di bursa efek. Akan tetapi, berikutnya Berkshire beralih menjadi pembeli sejumlah perusahaan. Misalnya, perusahaan ritel permen, peralatan rumah tangga, penerbit koran, penjualan ensiklopedia, pabrik dan distribusi seragam, atau perhiasan.
Tak mau kalah dari Berkshire, belakangan B&B juga melakukan aksi serupa: aktif berinvestasi melalui akuisisi, investasi surat berharga, pasar modal, dan sebagainya. “Nantinya juga ada divisi fund management, yang akan mengundang bank-bank asing atau lokal untuk berinvestasi. Dengan fund management itu, B&B dapat meng-create dana untuk perkebunan, infrastruktur, dan sebagainya yang kelak bisa diinvestasikan ke perusahaan-perusahaan milik Grup Bakrie atau yang lain,” ujar Bobby menguraikan.
Setelah tertatih-tatih melakukan restrukturisasi di awal 2000, B&B memang terus mencari bentuk. Transformasi menjadi perusahaan investasi dilakukan sejak 2008. Sebelumnya, B&B cuma punya tiga anak usaha: infrastructure support, telekomunikasi (Bakrie Telecom) dan agribisnis (Bakrie Sumatra Plantation). Waktu itu, B&B masih merupakan operation holding yang menangani pabrik-pabrik. Lalu, pada 2008 B&B mengakuisisi PT Bumi Resources Tbk., PT Energi Mega Persada Tbk. dan PT Bakrieland Development Tbk., dan jadilah ia perusahaan investasi. Di ketiga perusahaan itu, B&B menjadi pemegang saham dan tidak terlibat dalam daily operation-nya, tetapi hanya controlling share holder di anak-anak perusahaan Grup Bakrie. Di luar itu, B&B bisa saja berinvestasi di perusahaan lain, seperti Antam danTelkom. “Karena kami ini perusahaan investasi. Kalau lihat ada kesempatan yang dapat memberi return atau gain bagus, kami akan investasi,” ujar Bobby tandas. B&B bisa menempatkan komisaris di perusahaan-perusahaan yang menjadi portofolionya. Artinya, secara tidak langsung ikut mengawasi perusahaan meski tidak terlibat operasional day to day.
Kini yang menjadi perhatian B&B dengan transformasinya adalah value yang di-create dari investasi di berbagai portofolionya. Contoh, ketika membeli saham Bakrie Sumatra Plantation dulu hargnya Rp 150 atau ada right issue seharga Rp 525, tetapi kini sudah naik menjadi Rp 660. Dia berharap, publik tidak lagi melihat B&B menangani proyek, karena hal itu dilakukan perusahaan-perusahaan dalam portofolionya.
Menurut Bobby, transformasi menjadi perusahaan investasi bersamaan dengan terjadinya krisis global. B&B tidak menyangka bahwa AS sedemikian rapuhnya dihajar krisis global. Dampak krisis itu, investasi asing di Indonesia banyak yang ditarik. Sebagai perusahaan yang mengandalkan investasi di pasar saham, secara otomatis harga saham-saham Grup Bakrie pun mengalami penurunan tajam lantaran banyak investor asing yang melepaskan sahamnya.
Di sisi lain, kala itu B&B memiliki short term funding yang dibiayai dengan penjaminan saham. Dan dengan nilai penjaminan yang turun, secara otomatis B&B terkena dampaknya, seperti harus
top up dan semacamnya. “Terjadilah krisis itu dibarengi dengan situasi yang sangat menjepit bagi kami,” ujar Bobby mengenang. Selanjutnya, karena berbagai kejadian itu berlangsung sangat cepat, waktu itu diputuskan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Utang yang dulu lebih dari US$ 1,4 miliar kini sudah direstrukturisasi dan terjadi pembayaran, sehingga tinggal sekitar US$ 650 juta.
Bagaimana gambaran keuntungan investasi pascatransformasi? Dijelaskan Bobby, B&B kini telah memiliki divisi manajemen investasi yang dikepalai Michael E. Lucente. B&B juga berinvestasi dengan membeli paper-paper di pasar uang dan modal dengan return di atas 25%-30%. Dalam berinvestasi, strateginya adalah memilih instrumen yang imbal hasilnya tertinggi. Dan sekarang, alokasi terbanyak masuk ke pembelian saham Bumi Resources.
Untuk cetak biru lima tahun ke depan, dikatakan Bobby, hal itu terkait dengan kilas balik lima tahun ke belakang. Dengan penerapan cetak biru tersebut, harga saham B&B naik signifikan dari Rp 30 menjadi di atas Rp 300. Pasalnya, yang pertama tertuang dalam cetak biru adalah konsep sebagai perusahaan investasi. Dan dalam konsep ini tentu ada yang disebut “how” untuk menjalankan konsep itu. Setelah diketahui how-nya, maka ada langkah-langkah yang harus ditempuh untuk melaksanakan. Selanjutnya, ada target dan valuasi yang akan mencerminkan value perusahaan. Intinya, B&B nanti lebih banyak ke unorganic growth seperti melalui transaksi-transaksi finansial atau merger dan akuisisi. Sebab, pertumbuhan anorganik jauh lebih tinggi, bisa sampai 2-3 kali lipat, dari pertumbuhan organik.
Bobby mengklaim, hal positif dari Grup Bakrie adalah dapat merestruksturisasi perusahaan dengan sangat cepat. Itu adalah kunci dari beralihnya struktur keuangan B&B dari negatif pada 2008 menjadi positif pada 2009. Selain itu, B&B telah aktif berinvestasi dan membuahkan hasil. “Jadi, tahun 2010 kami siap take off. Bayangkan saja, tahun 2008 kerugian kami Rp 15,8 triliun. Tahun 2009 sudah mencetak laba bersih US$ 15-20 juta. Ke depannya, investasi kami sudah ada yield-nya. Sebagai gambaran, saat saham Bumi Resources diakuisisi harganya Rp 1.700, tapi kini terdongkrak ke angka Rp 2.950,” ungkap eksekutif muda itu. Dengan demikian, B&B tidak lagi tergantung pada profit anak-anak usahanya, melainkan pada value dari investasinya di saham perusahaan-perusahaan yang menjadi portofolionya.
Theodore S. Pribadi berpendapat, sama halnya dengan Djarum, kini Grup Bakrie juga memiliki cash flow bagus. Untuk itu, sah-sah saja apabila B&B menggunakan pendekatan akuisisi. Hal positif lainnya yang melengkapi keberuntungannya adalah iklim politik yang juga tengah berpihak kepadanya. “Namun, mereka (B&B) perlu mencermati ketika melakukan diversifikasi bisnis, karena tentu ada risiko yang harus di-manage. Jika tidak, hal itu justru dapat menimbulkan kerugian bisnis atau kasus yang merugikan citra perusahaan,” ujar Direktur Andrew Tani & Co. Pte. Ltd itu mengingatkan.
Riset: Dumaria Manurung
Artikel Terkait