Polling

Menurut Anda, bagaimanakah kondisi bisnis di Indonesia jika ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) diberlakukan?


View Results

Loading ... Loading ...

Menembus Jajaran Raksasa Global

Thursday, January 21st, 2010
oleh : Harmanto Edi Djatmiko


Sudah saatnya sejumlah BUMN dan konglomerat swasta negeri ini dipacu agar masuk dalam jajaran raksasa global. Hanya dengan itu, perekonomian Indonesia diperhitungkan di kancah internasional.


Lagi-lagi kita bicara soal potensi Indonesia. Semogalah Anda tidak bosan, Sebab, hanya dengan cara itu, kita selalu diingatkan betapa negeri ini memiliki segalanya untuk tumbuh menjadi negara yang disegani – minimal diperhitungkan – di percaturan bisnis global. Kita memiliki sejumlah perusahaan raksasa milik negara seperti Pertamina, PLN dan Telkom. Hanya dengan mengandalkan pasar dalam negeri yang sedemikian besar ini, setelah puluhan tahun beroperasi, mestinya mereka sudah bisa tampil sebagai perusahaan kelas dunia. Nyatanya jeblok.

Perbandingan paling mudah tentu saja Petronas, yang pada pertengahan 1970-an masih menjadi murid Pertamina. Volume produksi Petronas hanya sepertiganya Pertamina. Namun kini, BUMN Malaysia itu memliki salah satu gedung tertinggi di dunia (Twin Tower), industri otomotif (Proton), tim Formula 1 (Sauber Petronas), dan – ini yang terhebat – sejak 1999 berhasil menembus jajaran 500 perusahaan terbesar dunia versi Fortune Global 500. Sementara itu, Pertamina malah kian dibelit banyak masalah, mulai dari sulitnya memberantas korupsi dan inefisiensi di tubuh Pertamina sendiri, hingga masih berlarut-larutnya silat lidah para pejabat dan wakil rakyat perihal undang-undang perminyakan.

Masih di level Asia Tenggara, Thailand dan Singapura juga sudah berhasil melambungkan perusahaan mereka masuk Fortune Global 500 melalui PTT Thailand (perminyakan) dan Flextronics Singapore (semikonduktor). Cina, berkat pertumbuhan ekonomi dua digit selama lebih dari 10 tahun terakhir, sukses mengantarkan 24 perusahaannya (22 di antaranya BUMN) masuk Fortune Global 500 – mereka bergerak di bidang perbankan, perminyakan, listrik, telekomunikasi dan konstruksi. India menyumbang 6 perusahaan dalam daftar raksasa dunia tersebut (perminyakan, perbankan dan industri berat), sementara Brasil lima perusahaan (perminyakan, tambang umum dan perbankan), serta Meksiko lima perusahaan (perminyakan, telekomunikasi dan semen).

Para raksasa baru itu didominasi industri perminyakan, energi dan telekomunikasi. Juga perbankan. Tak berlebihan kalau kita berharap, Pertamina, PLN dan Telkom – didukung sejarahnya yang panjang dan pasar supergemuk yang tak usah dicari-cari lagi – seharusnya sudah bisa sesukses teman-teman mereka yang sama-sama berangkat dari negara-negara yang dikategorikan sedang berkembang. Demikian pula raksasa perbankan nasional kita yang didominasi BUMN seperti Bank Mandiri, BNI dan BRI.

Selain ditopang BUMN besar, sejak sekitar 20-an tahun lalu, perekonomian Indonesia juga didukung konglomerasi bisnis swasta yang terus menggeliat. Akhir 1980-an hingga awal 1990-an, untuk mendorong mereka agar tak cuma jago kandang, majalah yang tengah Anda baca ini sering menyuguhkan cover story yang mengupas tuntas profil kelompok usaha raksasa yang tengah berjaya waktu itu seperti Grup Salim, Sinar Mas, Gadjah Tunggal, Raja Garuda Mas, Bimantara Citra, Humpuss, dan kelompok usaha lain yang sekelas. Tak heran, waktu itu SWA sering dijuluki (dengan nada sinis) sebagai corongnya para konglomerat. Padahal, siapa pun tahu, bukan pekerjaan mudah menembus dan mengorek informasi dari para raksasa bisnis yang kala itu sangat tertutup dan kental aroma kolusinya.

Kini, setelah 20 tahun berlalu, wajah konglomerasi di negeri ini memang telah memasuki babak baru. Ini tak lepas dari tempaan krisis keuangan Asia 1998, yang berbuntut krisis multidimensi, dan akhirnya merobohkan rezim Orde Baru sekaligus membuka praktik-praktik tak terpuji di bidang perekonomian dan bisnis. Beberapa dari konglomerat lama memang masih bercokol – umumnya mereka yang cerdik mencuri start dengan limpahan proteksi dan fasilitas saat awal membangun kerajaan bisnis, seperti Grup Sinar Mas dan Indofood. Wajah lama lain yang masih bercokol tentu saja mereka yang terbukti hebat sejak awalnya seperti Grup Gudang Garam, Djarum dan Sampoerna. Kemudian selepas gelombang reformasi, bermunculanlah raksasa baru yang sangat layak diperhitungkan seperti Grup Medco, Wings, Para dan Rekso.

Merekalah yang sejauh ini telah membuktikan diri mampu terus tumbuh dan berkembang hingga menjadi raksasa di level nasional. Melihat tren besar saat ini yang kian berpihak pada keterbukaan dan globalisasi ekonomi, sudah saatnya mereka semakin didorong untuk secepatnya masuk dalam jajaran raksasa global. Ini penting. Sudah menjadi hukum universal: kekuatan ekonomi suatu negara ditentukan oleh seberapa banyak perusahaan besar yang dimilikinya.

Riset: Ratu Nurul Hanifah

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: