Polling

Menurut Anda, bagaimanakah kondisi bisnis di Indonesia jika ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) diberlakukan?


View Results

Loading ... Loading ...

Pertamina: A Global Giant in Waiting

Thursday, January 21st, 2010
oleh : Joko Sugiarsono


Mencanangkan target menjadi perusahaan kelas dunia pada 2023, manajemen Pertamina menggulirkan proses transformasi menyeluruh sejak 2006. Sejauh ini, pelaksanaannya dinilai on the right track. Namun, ada ancaman klasik yang masih mungkin membuyarkan target tersebut.

Mestinya, PT Pertamina (Persero) bisa jadi andalan utama Indonesia masuk dalam jajaran Fortune 500, BCG 100 Global Challengers, ataupun daftar perusahaan besar terkemuka di dunia lainnya. Maklumlah, perusahaan yang cikal bakalnya (dengan nama PT Permina) berdiri pada 1957 dan menggunakan nama Pertamina secara resmi pada 1971 (berdasarkan UU No. 8/1971) inilah yang mengelola aset terbesar kekayaan bahan bakar fosil di Tanah Air.

Tengok saja daftar 100 Global Challengers yang dikeluarkan firma konsultan besar BCG. Perusahaan-perusahaan berbasis fossil fuels dari negara-negara RDE (rapid developing economies) yang punya kekayaan tambang minyak dan gas umumnya berhasil masuk daftar ini mewakili negara masing-masing. Dari Brasil ada Petrobras. Dari Cina ada PetroChina, CNOOC dan Sinopec. Dari Rusia ada Gazprom dan Lukoil. Dari Polandia ada PKN Orlen. Dari Hungaria ada MOL Group. Dan, dari negeri jiran Malaysia, ada nama yang bahkan sudah cukup kondang di dunia internasional, Petronas. Padahal, seperti pernah disebut pengamat perminyakan Dr. Kurtubi, para pendiri dan tenaga ahli Petronas dulu banyak belajar dari Pertamina; bahkan, aturan kontrak bisnis minyak pun mengadopsi dari Indonesia.

Lantas, mengapa Pertamina yang notabene lebih kawakan dan memiliki banyak tenaga ahli belum berhasil masuk dalam daftar elite seperti itu? Seperti kita ketahui, mismanajemen, inefisiensi, korupsi, aturan main yang tidak kondusif, dan banyaknya kepentingan dari berbagai pihak (termasuk partai politik), yang selama ini meronai hidup BUMN “basah” ini membuatnya tak jua bisa jadi perusahaan migas global yang disegani.

“Pertamina (kini) sudah banyak melakukan perubahan signifikan,” kata Rhenald Kasali Ph.D. yang beberapa waktu lalu pernah menulis buku kajian manajemen mengenai profil Pertamina. “Perubahannya antara lain dari yang dulunya bertipikal pegawai (badan usaha pemerintah) menjadi berorientasi servis,” tambah guru besar ilmu manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonsia itu. Dasar-dasar perubahannya, menurutnya, mulai diletakkan saat Pertamina dipimpin Ari H. Soemarno (dirut kala itu).

Menurut Rhenald, ketika menjadi dirutnya, Ari ingin menjadikan Pertamina sebagai perusahaan yang berorientasi value-creation. “Ia tidak saja ingin menjadikannya sebagai oil & gas company, tapi sebagai perusahaan energi,” katanya menilai. Perubahan substansial yang dilakukan di era Ari, menurutnya, kini berimbas pada aspek pemasaran dan niaga Pertamina. Misalnya, kini banyak SPBU yang dimiliki dan dioperasikan Pertamina tampil lebih profesional, terutama dengan adanya program Pasti Pas. Sertifikat untuk quality & assurance-nya dari lembaga audit independen. Hingga akhir 2008 saja, sudah ada 1.377 unit SPBU Pertamina berkelas dunia, alias berlabel Pasti Pas. “Jadi, servisnya sudah bagus,” ujar Rhenald mengakui.

Memang, bila kita perhatikan saat ini, SPBU Pertamina — baik yang dimiliki dan dioperasikan Pertamina maupun mitra distributornya — secara umum lebih ramai dan hidup dibandingkan SPBU pesaingnya, Shell ataupun Petronas. Padahal, sebelumnya cukup banyak pihak yang meragukan kemampuan bersaing Pertamina setelah keran persaingan di bisnis hilir migas dibuka — termasuk untuk pemain asing — dengan diberlakukannya UU No. 22/2001.

Pembenahan yang dilakukan Pertamina juga mencakup peluncuran program perubahan kultural bernama Pertamina Way, yang antara lain menuntut adanya pelayanan secara cepat, ramah dan nyaman. Bahkan, dari sisi SDM, Pertamina mengembangkan budaya korporat agar karyawan memiliki 6 nilai-nilai pokok, yang dirumuskan dalam 6C: Clean, Competitive, Confident, Customer-focus, Commercial dan Capable.

Imbas lainnya dari langkah perubahan ini, menurut Rhenald, adalah terciptanya efisiensi di semua lini. Dalam kaitan ini, Pertamina punya Witness Program, yang menghindari adanya penyimpangan di lapangan. Pakta Integritas pun ditanamkan. Dengan langkah seperti ini, BUMN minyak ini mampu mengurangi angka kebocoran/kerugian (losses). “Jadi, dengan itu Pertamina bisa memetik dua manfaat: keuntungan dari kenaikan harga minyak dan keberhasilan mengurangi angka kebocoran,” kata penulis buku produktif itu.

Dalam pengamatan Rhenald, apa yang sudah dijalankan Ari itu tampaknya juga dilanjutkan Karen Agustiawan, Dirut Pertamina saat ini. Di tangan Karen, ia melihat perubahan kultural makin mantap dan terjadi peningkatan produksi.

Di bawah kendali Karen, yang menggantikan Ari sejak 5 Februari 2009, Pertamina makin aktif menggarap pasar ritel termasuk ke mancanegara. Pada Oktober 2009, perseroan ini meresmikan gerai pelumas Olimart Pertamina di Sydney, bekerja sama dengan Amoco International Pty. Ltd. — sebelumnya gerai seperti ini sudah dibuka Pertamina di Pakistan dan Dubai (Uni Emirat Arab). Gerai ini menjual pelumas produk Pertamina, tetap dengan mereknya sendiri: Fastron, Prima XP dan Meditran SP. Pertamina menargetkan dalam 4-5 tahun bisa menguasai 10% pangsa pasar pelumas Australia yang volume konsumsinya 560 ribu kiloliter per tahun.

Pertamina cukup gencar mempromosikan langkahnya itu di media televisi lokal (Indonesia). Langkah promosi dan branding ini tampaknya perlu dilakukan untuk membangun citra Pertamina yang ingin menjadi pemain global serius. Apalagi, Pertamina juga sudah menyatakan minatnya untuk suatu ketika membuka SPBU di Negeri Kanguru.

Sektor hilir, khususnya bidang pemasaran dan niaga, memang bidang yang pertama kali digarap dalam Proses Transformasi Pertamina yang dimulai pada 2006 itu. Nah, untuk menunjukkan sekaligus merayakan hasil dan pencapaian dari proses transformasi tersebut, pada 12-15 Januari 2010 BUMN ini mengadakan acara Pameran Pencapaian Direktorat Pemasaran dan Niaga Tahun 2009 di kantor pusatnya. Di pameran itu ditampilkan ide-ide inovatif yang berhasil dijalankan sehingga menghasilkan produk-produk dan sistem baru, serta infrastruktur dan moda transportasi penunjang kegiatan pemasaran dan distribusi Pertamina.

Bukan berarti sektor hulu tak mendapat perhatian. Belakangan, bahkan Pertamina tergolong aktif berekspansi. Pada 2009, Pertamina mengakuisisi tiga blok. Di akhir 2009 itu, BUMN energi ini melakukan finalisasi akuisisi 30% hak partisipasi di Blok Hanoi Trough di Vietnam, yang sebelumnya dikuasai 100% oleh perusahaan asal Kanada, Quad Energy S.A. Ini menggenapi dua aksi akuisisi yang dilakukan sebelumnya di tahun 2009 juga, yakni 46% hak partisipasi di Blok Offshore North West Java milik BP Indonesia dan 10% hak partisipasi di Blok Basker Manta Gummy (di Australia) yang dimiliki ROC Oil Ltd. — total keduanya menghabiskan dana US$ 312,5 juta. Dengan tiga akuisisi ini, Pertamina diproyeksikan bisa mendapatkan tambahan cadangan sekitar 60 juta barel setara minyak — dengan dua blok di antaranya merupakan blok produksi.

Mengenai pendanaan untuk ekspansinya belakangan ini, pada Agustus 2009 Pertamina memutuskan mengambil pinjaman sekitar US$ 700 juta (terdiri dari valas US$ 400 juta dan rupiah sebesar Rp 3 triliun) dari total penawaran US$ 1,1 miliar dari sindikasi 18 bank lokal dan internasional.

Ke depan, Pertamina sudah menyatakan minatnya menguasai salah satu blok milik Total S.A. di Vietnam. Selain di luar negeri, Pertamina mempersiapkan diri pula untuk mengakuisisi beberapa blok migas di dalam negeri yang kini masih dalam proses perpanjangan kontrak.

Dari sisi produksi, anak perusahaan Pertamina yang bertugas di bidang ini, PT Pertamina EP, telah menargetkan produksi minyak pada 2010 bisa mencapai 128 ribu barel per hari (bph) atau naik 2 ribu bph dibandingkan pada 2009 yang mencapai 126 ribu bph. Pada 2008, produksinya sekitar 116 ribu bph. Salis Aprilian, Dirut Pertamina EP, sudah menyatakan tekadnya untuk mempertahankan kenaikan produksi minyak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dari sisi kinerja keuangan, dari tahun ke tahun sebenarnya trennya bagus. Dari 2006 hingga 2008, laba bersih Pertamina terus naik. Pada 2006, laba bersihnya Rp 19 triliun, lalu meningkat menjadi Rp 24,46 triliun pada 2007, dan naik drastis (antara lain berkat kenaikan harga minyak) menjadi Rp 30,2 triliun pada 2008. Tak mengherankan, Pertamina bisa tampil sebagai nomor satu dari 10 BUMN penyumbang laba terbesar. Nah, sayangnya laba bersih perseroan ini pada 2009 diperkirakan anjlok sekitar 50% akibat penurunan drastis harga minyak.

Hingga saat ini, laporan kinerja keuangan Pertamina 2009 memang belum keluar. Akan tetapi, prognosisnya menyebutkan laba bersih 2009 hanya sekitar Rp 15,3 triliun. Pendapatan usaha diperkirakan juga turun dari Rp 554,28 triliun tahun 2008 menjadi sekitar Rp 340 triliun tahun ini. Selain penurunan harga minyak, penurunan kinerja Pertamina 2009 ini juga disumbang oleh penurunan margin bahan bakar minyak public service obligation (PSO) atau alpha.

Namun, secara umum, apa yang dilakukan Pertamina lewat program transformasinya sudah on the right track. “Transformasi Pertamina akan memerlukan waktu yangpanjang, tetapi apabila kita meneruskan langkah-langkah awal yangsudah benar dan konsisten, saya yakin cita-cita menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak nasional berkelas dunia akan dapat kita
capai,” kata Sutanto, Komisaris Utama Pertamina, ketika memimpin RUPS 15 Juni 2009. Sebagai entitas bisnis, petinggi Pertamina sendiri memang telah mencanangkan target menjadikannya sebagai perusahaan kelas dunia tahun 2023.

Meski demikian, Rhenald menilai jalan Pertamina menjadi global powerhouse bukan soal mudah. Alasan teknisnya memang macam-macam. Antara lain, umur kilang-kilangnya yang sudah tua. “Yang belum saya lihat adalah Pertamina membuat kilang-kilang baru,” katanya. Namun, tantangan yang lebih besar, masih klasik, yakni banyak pihak yang ingin campur tangan karena punya kepentingan. Ketika tulisan ini dibuat, pemerintah yang relatif baru bekerja ini (dalam hal ini Menteri Negara BUMN) tengah mempersiapkan pergantian direksi BUMN energi ini. Alasan pemerintah tentu standar, yakni untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas manajerial. Akan tetapi, jangan salahkan juga bila tak sedikit orang yang melihat dari sisi adanya kepentingan tertentu. “BUMN energi memang paling rawan, karena banyak campur tangan politik. Pertarungan kepentingannya besar sekali,” kata Rhenald terus terang.

Reportase: Sigit A. Nugroho

Riset: Ratu Nurul Hanifah

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: