Thursday, February 4th, 2010
oleh : Harmanto Edi Djatmiko
Kewirausahaan sosial kian terbukti mampu menyembuhkan beragam penyakit sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan kesehatan masyarakat. Juga, melahirkan banyak wirausaha baru. Anda siap bergabung?
Roh gerakan kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) sebetulnya telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Dipelopori antara lain oleh Florence Nightingale ketika mendirikan sekolah perawat pertama dan Robert Owen saat membangun koperasi. Namun, social entrepreneurship sebagai suatu pengertian tersendiri atau – katakanlah – disiplin ilmu, berkembang sejak 1980-an, dicetuskan oleh tokoh seperti Rosabeth Moss Kanter, Bill Drayton, Charles Leadbeater dan Daniel Bell. Tanpa mengurangi rasa hormat yang mendalam kepada para pemikir besar ini, kewirausahaan sosial pada masa itu kurang begitu dipahami masyarakat luas dan cenderung menjadi bahan diskusi yang eksotis di lingkungan kaum cerdik cendekia.
Barulah dunia terhenyak ketika Muhammad Yunus meraih Nobel Perdamaian 2006 atas keberhasilannya menerapkan konsep kewirausahaan sosial dalam skala yang masif. Soal keberhasilannya lewat Grameen Bank di Bangladesh yang berhasil menyalurkan kredit mikro kepada sekitar 8 juta nasabah rakyat miskin di hampir 80 ribu desa, tentulah Anda sudah kerap membaca atau mendengarnya. Akan tetapi, dari penghargaan yang dia terima – Nobel Perdamaian, bukan Nobel Ekonomi – cukuplah semakin menyadarkan kita bahwa banyak masalah atau penyakit sosial yang bersumber dari problem ekonomi.
Lewat Grameen Bank, Yunus telah berhasil merobohkan tembok angker lembaga keuangan formal seperti perbankan yang selama ratusan tahun membentengi diri dari jangkauan rakyat miskin. Sistem sekarang, menurut Yunus, berdasarkan ketidakpercayaan. Manusia sekarang dilatih untuk tidak percaya pada orang lain. Kalau orang mau pinjam ke bank, selalu dilihat dulu berapa kekayaannya, setelah itu dibuat perjanjian hukumnya. Jadi, sebelum pinjam uang, mereka sudah diasumsikan tidak mengembalikan pinjamannya. Sementara filosofi Grameen Bank, justru berdasarkan kepercayaan. “Kami yang datang kepada mereka, bukan sebaliknya. Sebab, setiap kantor, betapapun sederhananya, adalah ancaman bagi orang miskin dan buta huruf. Orang yang datang minta bantuan selalu pada posisi yang lebih lemah,” kata Yunus.
Memang, orang awam pun tahu, tak perlulah kita menghabiskan energi untuk mengurusi orang kaya karena mereka pasti telah mampu mengurus diri sendiri. Seperti diungkapkan Erie Sudewo, pemenang Social Entrepreneur of the Year 2009 dari Ernst & Young, mengatasi 1.000 keluarga miskin berarti telah menumbuhkan 1.000 kekuatan baru – itulah kekuatan sesungguhnya dari suatu bangsa.
Secara sederhana, kewirausahaan sosial adalah semangat menyala-nyala dalam misi sosial dipadukan dengan sifat inovatif, disiplin dan tahan banting seperti yang berlaku di dunia bisnis. Suatu hal yang tampaknya mustahil ini ternyata mampu diniscayakan. Ini tak lepas dari perjalanan sejarah panjang manusia yang meski selalu diwarnai egoisme dan kertamakan, selalu pula memunculkan tokoh-tokoh besar dengan visi kemanusiaan yang besar pula.
Buktinya, bagai bola salju, gerakan kewirausahaan sosial kian lama kian mengglobal. Model-model kewirausahaan sosial yang sukses di suatu negara mulai dijadikan acuan oleh negara lain untuk mengentaskan beragam penyakit sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, dan problem kesehatan masyarakat. Terlebih, kewirausahaan sosial terbukti mampu melahirkan banyak wirausaha baru yang mandiri dan siap menularkan virus kewirausahaannya kepada orang-orang lain di sekitarnya.
Hebatnya lagi, kewirausahaan sosial ternyata bisa tumbuh menjadi organisasi sosial bisnis berkelas dunia. Contohnya Fonterra, yang cikal bakalnya adalah tradisi koperasi persusuan di Selandia Baru yang sudah berkembang sejak abad ke-19. Pada 2001, koperasi-koperasi itu sepakat bergabung dan membentuk organisasi yang kini menjadi salah satu korporasi susu terbesar di dunia yang berbentuk koperasi.
Diam-diam, di Indonesia mulai bermunculan pula kewirausahaan sosial yang dikelola dengan manajemen modern. Di Subang, misalnya, ada Sabanda yang mengembangkan peternakan domba. Di Surabaya, ada Arisan Tanggung Renteng yang berhasil menghimpun lebih dari 4.000 ibu rumah tangga dengan putaran uang lebih dari Rp 10 miliar per bulan, serta mampu berekspansi ke bisnis hotel dan travel yang dikelola secara profesional. Lalu, di Kendari, Sulawesi Tenggara, ada organisasi Telapak yang dibangun Silverius Oscar Unggul untuk menghimpun masyarakat membentuk community logging. Ciri menonjol kewirausahaan sosial ini – seperti halnya di negara-negara lain – adalah kentalnya aroma kearifan lokal yang dipadu dengan ilmu bisnis dan manajemen modern.
Sejak sekarang, Anda pun bisa terlibat dalam kewirausahaan sosial. Soal polanya, tentu disesuaikan dengan modal yang Anda miliki. Namun, modal terbesar yang mesti Anda miliki, seperti diuraikan di atas, adalah kemampuan Anda memercayai sesama. Kepekaan seperti inilah yang perlu terus-menerus diasah, agar Anda tak mudah ditipu. Namanya juga kita masih hidup di dunia, selalu saja ada orang yang demen mencelakai orang lain. Moralitas, karena itu, adalah segala-galanya dalam kewirausahaan sosial.
Riset: Rachmanto Aris D.
Artikel Terkait