Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Profesional-profesional Hot Indonesia di Medan Global

Thursday, March 4th, 2010
oleh : Team Redaksi


Mereka mampu menempati posisi-posisi strategis yang diincar profesional dari negara lain. Selain dengan mengandalkan ilmu dan penguasaan bahasa asing, jurus apa saja yang mereka mainkan untuk membangun karier cemerlang di luar negeri?

Andreas Raharso:

Orang Asia Pertama Pimpin Pusat Riset Hay Group

“ Titel resmi saya adalah Dean of Hay Group Global Research Center for Strategy Execution,” ujar Andreas Raharso lewat surat elektronik. Ini jabatan bergengsi di pusat riset global milik Hay Group yang berbasis di Singapura. Menurutnya, posisi itu setara dengan CEO, tetapi di kalangan peneliti, penyebutan CEO atau managing director jarang digunakan. Posisi yang diraihnya satu tahun yang lalu itu menempatkannya sebagai orang Asia pertama yang berhasil mencapai jabatan itu. Maklum, sebelumnya The Hay Group Global sangat didominasi profesional dari Eropa atau Amerika.

Dengan posisi itu, ia bertanggung jawab atas riset yang dilakukan Hay Group di benua Asia, Eropa, Afrika, Australia dan Amerika (di 85 kota yang tersebar di 47 negara). Hay Group Global Research Center (HG-GRC) adalah pusat riset yang didanai Hay Group dan Pemerintah Singapura (50:50) dengan tujuan menjadikan Singapura sebagai pusat penelitian dunia. Kliennya tak tanggung-tanggung: kalangan perusahaan raksasa dunia seperti Microsoft dan Unilever, plus para pemimpin negara seperti Perdana Menteri Inggris dan Jepang, serta Presiden Prancis dan Rusia. Yang paling membanggakannya, saat ini HG-GRC dipercaya membantu para menteri Pemerintah Obama dan staf Gedung Putih untuk lebih mengefektifkan organisasi dan eksekusi strategi pemerintahan Amerika Serikat.

Melihat prestasinya saat ini, tak akan ada yang menyangka bahwa pria berusia 44 tahun ini pernah tidak naik di kelas III SMA. “Saya tidak pernah malu dengan ini. Ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa pun yang pernah gagal, bahwa kunci untuk bangun kembali terletak pada bagaimana Anda melihat kegagalan itu sendiri,” ujarnya. Terbukti, pencapaiannya di puncak perusahaan konsultan manajemen global yang didirikan pada 1943 ini terhitung singkat. Mantan dekan di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, ini bergabung dengan Hay Group pada Oktober 2008 sebagai konsultan senior. Dan, pada Maret 2009 posisi prestisius ini berhasil direngkuh penyandang gelar MBA di bidang corporate finance & management science dari University of Texas at San Antonio, AS, (1993) dan Ph.D pemasaran dari Universitas Indonesia (2007) ini.

Menurut Andreas, jabatan ini diberikan kepadanya karena keberhasilannya membangun pusat riset skala global berdasarkan konsep Open Research yang terdiri dari tiga pilar, yaitu radical collaboration, integrative thinking, serta multi-context and multi-cultural environment. “Konsep ini muncul dari penelitian saya bahwa banyak pusat riset di dunia yang gagal walaupun didukung dana yang besar. Mestinya, pusat riset dunia dibangun berdasarkan prinsip open mind dan open heart,” katanya. Ia mengklaim, saat ini 85% dari target yang ditetapkan sudah terwujud, bahkan terlampaui.

Singkat kata, prestasi Andreas adalah membangun dan mengendalikan state-of-the-art riset di berbagai belahan dunia lewat markasnya di Singapura. Sebagai gambaran, pusat risetnya melakukan penelitian pada lima bidang: bisnis keluarga (berpusat di Madrid, Spanyol), merger & akuisisi (Paris, Prancis), manajemen performa strategis (Frankfurt, Jerman); peran sentra korporat (London, Inggris) dan trasformasi budaya (Boston, AS). Di samping itu, ia memiliki collaborative researchers yang tersebar dari Mumbai (India) sampai Sao Paolo (Brasil). “Ini bukan hal yang mudah, bukan saja tantangan cultural yang sangat berbeda, tapi juga disiplin ilmu yang berbeda-beda, dan juga perbedaan waktu,” ujarnya. (*)

Yuyun Manopol & Tutut Handayani

Ari Purmono:

Menjelajah Perbankan Timur Tengah

Setelah sempat merasakan dunia perbankan di Indonesia, pada 2005 Ari Purnomo mulai menjejakkan kakinya di industri perbankan Timur Tengah. Tepatnya, ia menjadi Direktur Pemasaran Retail Banking Group Mashreq Bank di Qatar. Setahun kemudian, kelahiran Jakarta, 12 Oktober 1973, ini hijrah ke Standard Chartered Bank regional office di Bahrain sebagai Head of Portfolio Management untuk produk-produk pinjaman (lending products) yang membawahkan empat negara, yaitu Bahrain, Qatar, Yordania dan Lebanon.

Dan, pada Mei 2008 Ari pindah ke bank terbesar ketiga di Timur Tengah, yaitu Samba Financial Group di Arab Saudi sebagai Asisten GM, membawahkan produk premium dan inisiatif strategis di departemen bisnis kartu kredit. Portofolio bisnis kartu kredit bank ini tak sedikit, yakni mencapai US$ 500 juta. Prestasi lulusan Fakultas Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang ini tak diragukan lagi. Di Grup Samba, dalam kurun 1,5 tahun, ia telah meluncurkan produk segmented, yaitu kartu kredit khusus untuk para pebisnis atau entrepreneur segmen papan atas. “Grup Samba adalah salah satu bank pertama di Arab Saudi yang meluncurkan produk seperti itu,” ujar peraih gelar Master of Business Administration in General Management dari Universitas Swinburne, Australia, ini.

Bicara tentang karier, Ari berpandangan bahwa orang Indonesia umumnya selalu melihat jabatan (job title), bukan seberapa besar bisnis yang digeluti. Atau, kalau dalam istilah perbankan, seberapa besar revenue dan portofolio yang dikelola. Mashreq Bank, misalnya, adalah bank yang cukup besar di Timur Tengah. Namun, bank ini hanya membangun bisnisnya di Qatar. Waktu itu Mashreq Bank hanya memiliki lima cabang dengan pendapatan per tahun tidak lebih dari US$ 50 juta.

Sementara Grup Samba Financial, pendapatan per tahunnya mencapai US$ 1,3 miliar atau 26 kali lebih besar dari Mashreq Bank. Tentunya, dengan pendapatan dan portofolio yang jauh lebih besar, tantangan dan kompleksitas kerjanya juga akan jauh lebih tinggi. Lalu, profil karyawannya pun sama sekali berbeda karena harus punya pengalaman yang lebih. Contoh di Indonesia, apakah asisten vice president di Citibank Indonesia lebih rendah daripada vice president di Bank Kesawan? Tentu tidak. “Maaf, ini hanya contoh tanpa merendahkan Bank Kesawan tentunya,” kata lelaki yang pernah berkarier di Citibank dan Stanchart Jakarta ini.

Ari juga membandingkan soal etos kerja di wilayah tersebut yang berbeda dibandingkan dengan di Indonesia karena pengaruh budayanya. Hal itu terutama mengenai ritme kerja yang agak lamban, sehingga merupakan tantangan tersendiri apabila ingin mencapai suatu target dalam pekerjaannya. Situasi kerja di Indonesia, terutama di Jakarta, menuntut orang bekerja ektrakeras agar bisa survive. Tantangan tidak hanya dimulai di tempat kerja, tetapi saat ke luar pagar rumah, yaitu macet di jalan sudah menghadang. Belum lagi long working hour di kantor. Di tempat Ari bekerja, selain tidak ada macet, jam kerja bisa dibilang normal. Artinya, bekerja tidak sampai terlalu larut malam seperti di Jakarta. Selain itu, penghasilannya jauh lebih tinggi, sekitar 2-3 kali dari Indonesia. “Jadi as overall, ada balance life di sini dibanding di Jakarta. At least dalam case saya pribadi,” ia menegaskan.

Kendati demikian, Ari juga berkeinginan, suatu saat pulang ke Tanah Air. Apalagi dengan basis pengetahuan perbankan syariah yang ia miliki sekarang, dirinya ingin membangun perekonomian syariah di Indonesia, terutama di daerah, agar tingkat perekonomiannya bisa tumbuh lebih pesat. Hanya saja, semua itu tergantung pada perkembangan dan kesempatan yang ada. “Jadi, saya juga tetap tidak menutup kemungkinan untuk kembali berkarier di Indonesia, terutama di industri perbankan,” ujar peraih gelar Master of Engineering in Engineering Management dari Royal Melbourne of Technology Australia ini.

Dede Suryadi dan Darandono

Bonie Erwanto:

Senang Tak Ada Diskriminasi

Bekerja di Malaysia bukan perkara gampang. Maklum, citra orang Indonesia di negeri jiran tersebut tidak begitu positif. Namun, Bonie Erwanto mampu mengatasi hal itu. Bahkan, hanya dalam tempo kurang-lebih tiga tahun ia bisa mencapai posisi bergengsi di Axiata Group Bhd., BUMN Malaysia, tepatnya sebagai Vice President Operational Excellence. ”Saya bersyukur sekali kemampuan saya dapat disamakan dengan eksekutif lainnya dari Malaysia, US, maupun UK sehingga sangat membantu saya secara individu dalam proses berpikir yang positif untuk memajukan perusahaan,” ujar penyandang dua gelar master yaitu MBA dan Master of Accountancy and Financial Information Systems dari Cleveland State University, Amerika Serikat (1998 dan 1999) ini.

Mantan konsultan di Accenture ini memang memiliki kemampuan belajar yang cepat. Dari Accenture, ia kemudian berkarier di XL Axiata selama hampir lima tahun sejak 2002. Saat itu terjadi pergantian kepemilikan XL ke tangan Telekom Malaysia (TM), dan ia pun bergabung dengan TM International. Posisi yang didudukinya setelah pergantian ini adalah General Manager – Programme Management (sejak Oktober 2006). ”Saya masuk ke XL di business process team. Di sini saya belajar otodidak dan mengeruk pengalaman di industri mobile telco selama empat tahun sebelum akhirnya mengepalai departemen tersebut, dan diminta bekerja ke holding XL di Malaysia sampai sekarang,” ujarnya. Posisi sekarang ia raih pada Mei 2008, dengan tugas utama memonitor kinerja, memperbaiki operasional dan melakukan manajemen program.

Kepercayaan yang diberikan kepada Bonie tak meleset. Sarjana Teknik Sipil lulusan Universitas Trisakti (1997) ini mampu menunjukkan prestasinya. Menurut Bonnie, selama memegang posisi tersebut, ia telah mencapai sejumlah keberhasilan. Sebutlah, pertama, pembuatan kerangka permanen pengendalian/monitoring kinerja anak perusahaan Telekom Malaysia (sekarang Axiata Group Bhd.) yang dimulai dari proses pelaporan sampai escalation/issue management ke level Board of Directors.

Kedua, pengembangan manajemen operasional di level produk, jejaring, layanan pelanggan, manajemen channel dan sistem informasi di anak perusahaan, terutama pascaakuisisi. Ini mencakup tangible results (seperti revenue generation di Bangladesh dan Indonesia) plus intangible results (seperti proses manajemen dan sinergi sistem informasi di Kamboja dan Sri Langka). Ketiga, pemingkatan kerangka permanen manajemen biaya di seluruh anak perusahaan dengan cara mengarahkan program cost saving/optimisasi, transparansi biaya, benchmarking, kolaborasi di antara anak perusahaan dan integrasi sistem informasi.

Namun, hal ini bukan berarti ia tak pernah menemui kendala selama bekerja di Malaysia. “Malaysia dan Indonesia mirip budayanya. Komunikasi bisa jadi bencana kalau tidak di-handle dengan baik,” katanya. “Waktu Axiata masih bergabung dengan TM, banyak sekali program yang top-down. Kami harus menelan bulat-bulat, tetapi dengan steering di level yang tepat, bisa juga kami mengelaknya,” ia menambahkan. Itulah Bonie, tak pernah kehilangan fokus dalam bekerja. ”So far strategi saya simpel saja, right positioning in meetings/discussion and view matters objectively, dan speak your aim in a big picture,” ujarnya.

Yang pasti, bagi Bonie keberadaannya sebagai eksekutif di perusahaan pelat merah Malaysia memberinya sejumlah pelajaran menarik. Antara lain, regional exposure, di mana ia memiliki kesempatan mempelajari industri mobile telco di Asia Tenggara. Ia juga bisa memonitor dan memajukan kinerja perusahaan. Berikutnya, equality in decision making process, di mana ia disamakan dengan eksekutif dari negara lain, dan learning English as strategic communication. “Saya belajar banyak sekali dari Malaysia,” katanya. (*)

Yuyun Manopol & Darandono

Gabriel Montadaro:

Mengangkat Philips Lighting

di Thailand

Ketika banyak rekan kerjanya menolak berkarier di luar negeri dengan alasan yang melankolis: berat hati meninggalkan keluarga dan sanak saudara, bagi Gabriel Montadaro, justru tantangan. Dan tantangan itu berhasil mengantarkannya pada posisi bergengsi sebagai Direktur Penjualan Consumer Channel Philips Lighting Thailand sejak Januari 2009.

Gabriel jatuh hati bekerja di luar negeri lantaran banyak benefit yang ditawarkan. Mulai dari pengembangan karier hingga kaya pengalaman. “It’s opportunity of lifetime. Kesempatan belajar budaya dan tradisi bangsa lain, model kerja dan gaya manajemen di luar negeri. Bahkan, kesempatan bekerja sama dan berinteraksi dengan kolega dari berbagai bangsa,” pria kelahiran 24 September 1973 ini memaparkan.

Thailand bukanlah negara asing pertama yang dipijak Gabriel untuk berkarier. Sebelumnya, dia pernah menjadi Manajer Consumer Channel Philips ASEAN & Filipina tahun 2007-2008. Prestasi yang dicetaknya kemudian mengatrol jabatan lulusan Sarjana Ilmu Administrasi Bisnis Jurusan Pemasaran dari Philippines School of Business Administration itu.

Dengan posisinya saat ini, tugas dan tanggung jawab Gabriel antara lain: pencapaian target top line/bottom line untuk consumer channel lighting di Thailand; mengeksplorasi kanal distribusi baru agar lebih dekat pelanggan; memastikan seluruh produk Philips dapat terdistribusi dengan baik dan merata ke seluruh penjuru Thailand; terus mengembangkan kualitas SDM; memberi masukan ke kantor pusat atau pengembangan produk dalam hal bisnis baru/oportunitas produk.

Kerja keras Gabriel menorehkan prestasi. Sebagai eksekutif global, dia bisa mempertahankan pangsa pasar Philips Lighting sebagai nomor satu dalam pemasaran produk lampu beserta pendukungnya di Thailand. Lalu, meningkatkan pertumbuhan bisnis secara berkesinambungan melalui pengembangan kualitas organisasi. “Kami terus-menerus mengomunikasikan Philips sebagai perusahaan terdepan dalam pengembangan produk inovasi berteknologi tinggi (terutama dengan hadirnya produk LED) dan mendukung kampanye ‘hemat energi dengan Philips Energy saving lamps’ kepada konsumen,” Gabriel menuturkan.

Dia mengaku, tidak ada tip khusus supaya sukses bekerja di negeri orang. “Yang penting adalah ‘think globally, act locally’. Artinya, menghormati kultur di negara setempat, baik kultur sosial budaya maupun gaya manajemen,” imbuhnya. Untuk itu, mesti berpikir dan bertindak positif di mana segala upaya yang dilakukan untuk kepentingan perusahaan. Selain itu, harus bekerja sama dengan semua pihak, baik internal maupun eksternal stakeholder agar tercapai tujuan bersama: meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan atas produk Philips. Tak lupa, ada nilai-nilai budaya Philips sebanyak empat kredo: Delight Customers, Delivery on Commitment, Develop People, and Depend on each other. Keempat nilai tersebut harus menjadi pegangan dan jiwa setiap karyawan Philips di mana pun mereka ditempatkan.

Gabriel merasa beruntung karena hingga sekarang tidak terlalu mengalami benturan budaya dari sisi kehidupan karier dan keseharian. Menurutnya, Bangkok nyaris tidak ada bedanya dari Jakarta dan kota-kota besar di Asia lainnya. Kendala umumnya lebih pada bahasa, di mana bahasa nasional setempat adalah Thai, sehingga bagi pendatang seperti dirinya mesti belajar bahasa setempat, minimal buat komunikasi sehari-hari dengan kolega ataupun pelanggan.

Apa mimpi yang ingin dicapai Gabriel? “Bekerja sebaik mungkin untuk mempertahankan kepemimpinan pasar Philips Lighting di Thailand,” tutur profesional yang meniti karier sejak masih kuliah di tingkat dua dan berumur 20-an tahun itu. Kala itu, dia merasa beruntung lantaran bisa langsung bekerja di Grup Sinarmas dengan posisi yang cukup mentereng dan sangat menantang buat anak muda seusianya, yaitu sebagai supervisor ekspor.

Eva Martha Rahayu/Darandono

Eko Kurniawan:

Mengejar Mimpi sebagai Eksekutif Puncak Perusahaan Telko Dunia

Anda jangan coba-coba membujuk Eko Kurniawan untuk pulang ke Indonesia dalam waktu dekat. Ajakan itu pasti ditolaknya secara halus. Maklum, ia sudah membulatkan tekadnya akan balik ke Tanah Air 10-15 tahun lagi. Alasannya, ia ingin mengejar mimpi sebagai eksekutif puncak (dewan direksi) di perusahaan telekomunikasi 5 besar dunia. Dan ia memperkirakan cita-cita itu bakal tercapai tahun 2020-25.

Jika melihat posisinya kini sebagai Manajer Test Progamme T-Mobile Inggris, tampaknya memang perjalanan jauh mesti ditempuh Eko untuk menuju level board of director. Meski demikian, ia tidak berkecil hati. Ambisi itu cita-citanya sejak dulu yang diupayakannya untuk terwujud.

Dengan jabatannya sekarang, tanggung jawab Eko adalah memimpin program integrasi dan pengujian perangkat sistem telekomunikasi di operator seluler internasional. Hebatnya, profesional yang bergabung dengan T-Mobile sejak Desember 2007 itu terbilang sukses melakukan integrasi dan uji coba sentra SMS di beberapa cabang T-Mobile di Eropa. Tidak puas dengan prestasi itu, ia berharap, ”Target jangka pendek: bisa menyelesaikan program yang saya pimpin dengan sukses.”

Ia konsisten meniti karier di ranah telekomunikasi. “Bidang ini saya minati dan berpotensi besar untuk pindah ke luar negeri,” ucapnya. Pucuk dicita ulam pun tiba. Kesempatan itu datang di tahun 2007 ketika T-Mobile mencari kandidat yang memiliki keahlian di bidang SMS dan integrasi sistem.

Sebelum melalangbuana, Eko sempat berkarier di dalam negeri. Mula-mula ia bekerja sebagai system administrator salah satu perusahaan Internet service provider di Bandung. “Waktu itu saya masih kuliah dan kira-kira satu tahun sebelum lulus bekerja di perusahaan tersebut,” Eko menuturkan perjalanan kariernya. Setelah itu, ia pindah ke PT FirstWAP Mobile Internet Services, Jakarta, 2001-03. Selanjutnya, Juni 2003-05, ia menjadi System Integration Engineer – Mobile Communication SchlumbergerSema (kini dikenal sebagai Gemalto) di Jakarta.

Eko mengaku keinginannya bekerja di mancanegara tebersit sejak bekerja di Schlumberger. Kebetulan, kala itu ia dikirim ke luar negeri untuk mengerjakan beberapa proyek. “Saya sangat menikmatinya dan sejak itu merancang strategi untuk bisa bekerja di luar negeri dengan cara melakukan riset skill-skill yang sedang dicari, kemudian berusaha mendapatkan skill di Indonesia,” ujar sarjana teknik telekomunikasi dari STT Telkom, Bandung ini.

Menurut Eko, umumnya perusahaan di Eropa menerapkan budaya meritokrasi. Nah, untuk menyiasatinya, kiat utama yang dibutuhkan adalah terus berprestasi dalam bekerja dan membuktikan integritas, sehingga bisa mendapat kepercayaan dan respek dari rekan kerja dan atasan. Baginya, ritme dan budaya kerja di Eropa relatif tidak sekeras di Indonesia, sehingga nilai plus ini dapat dimanfaatkan untuk keunggulan kompetitif pekerja dari Indonesia, yaitu terbiasa bekerja long hours dan under pressure.

Banyak suka-duka yang dialami Eko selama berada di negeri orang. Pengalaman menariknya, dapat bekerja di lingkungan multikultural. “Di tim saya, kewarganegaraannya sangat beragam,” ia menambahkan. Ada yang dari Afrika Selatan, Selandia Baru, Inggris, Kanada, India, bahkan ada yang dari Afganistan. Ia pun benar-benar merasakan asyiknya bekerja di proyek internasional yang kompleks, karena harus menangani lima cabang T-Mobile di Eropa dan aktivitas sehari-harinya lebih banyak dijalani melalui telephone conference.

Sementara pengalaman dukanya adalah soal komunikasi dan budaya. Pasalnya, orang Inggris memiliki tradisi mengatakan sesuatu secara halus atau tersirat. Mulanya ia butuh waktu untuk memahami apa maksud sebenarnya dari komunikasi rekan-rekannya. Selain itu, karena T-Mobile berpusat di Jerman, ia juga harus pintar-pintar beradaptasi dengan budaya Inggris yang bertolak belakang, karena kultur Jerman lebih to the point dalam berkomunikasi.

Kelak, jika Eko kembali ke Indonesia, banyak hal yang hendak dijalankannya, antara lain mengajar di almamaternya dan menjadi konsultan perusahaan-perusahaan lokal. “Juga, mendirikan perusahaan agar membuka lapangan kerja,” kata peraih master bidang ilmu komputer dari Universitas Indonesia ini.

Eva Martha Rahayu dan Darandono

Febby Intan:

Bertanggung Jawab Kembangkan Merek Holcim di Malaysia

Pertengahan 2008, Febby Intan ditawari sebuah posisi di Holcim Malaysia Sdn. Bhd. Johor Bahru. Di Malaysia, kelahiran Padang, 5 Feb 1969, ini bertanggung jawab mengembangkan merek Holcim. Tugas Febby tidaklah ringan. Pasalnya, semen merupakan barang komoditas di negeri jiran itu. Orang di sana tidak tahu dan tidak peduli merek semen. Pembeli semen di sana hanya menerima semen yang dikasih tuan toko. Pembeli tinggal membayar harganya yang nyaris tidak berbeda karena memang benar-benar barang komoditas. “Masih Indonesia. Kita bisa memilih Semen Gresik atau Semen Tiga Roda,” kata VP Pemasaran dan Inovasi Holcim Malaysia ini.

Selain itu, di negara tersebut bisnis semen juga lebih banyak secara B2B. Orang di sana tidak membangun rumah. Mereka hanya membeli rumah dari pengembang. lalu direnovasi. “Kalau di Indonesia, kita masih bisa beli tanah dan membangun sendiri. Di sana tidak bisa,” ungkap Febby membandingkan.

Sebenarnya, Holcim berada di Malaysia lebih dulu dibandingkan dengan di Indonesia. Perusahaan asal Swiss ini ada di Malaysia sejak awal 2000-an setelah membeli Tenggara Cement Malaysia. “Tapi, nature of the marketsangat komoditas. Holcim belum benar-benar build the brand,” ujar Febby. Dan berbeda dari kondisinya di Indonesia, Holcim Malaysia tidak memiliki pabrik yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. “Di Malaysia hanya grinding station. Kami ambil clinker-nya dari Indonesia atau Thailand. Kemudian di-grinding, dikemas,” kata lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Ia menilai mengembangkan merek Holcim di Malaysia tidaklah semudah di Indonesia. Di Tanah Air, perusahaan tinggal main di media massa dengan story linedan pesan yang kuat serta produk yang bagus. Semua orang akan tahu. Nah, di Malaysia harus one on onedan per segmen. “Cara kami ber-marketingbeda, B2B. Kami harus melihat segmen per segmen lalu mendatangi satu per satu. Kami juga mendatangi project authority. Kami harus kenal dengan authority memberi proyek itu,” kata Febby mengungkap strateginya.

Hingga kini, menurutnya, strategi bisnis Holcim Malaysia sangat dasar. “Tidak ada rocket science.Yang penting, product qualitykami kembangkan dan konsisten. Selain itu, tidak ada people development. Sekarang kami dalam tahap itu setelah setahun lalu mengembangkan produk. Kalau produk ada, tapi orang yang di belakangnya tidak ada juga. Setelah ini, baru kami lakukan promosi,” paparnya.

Jadi, dalam setahun pertama bertugas di Malaysia, Febby turut mengembangkan produk. Hal itu karena ia mulai mengambil costumer insight apa yang mereka mau. Maka, dibuatlah produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan di sana. “Selama ini, kami hanya bikin produk dan terserah mereka mau beli apa tidak. Kualitas bagus atau tidak. Itu mindset-nya. Kami harus mengubah mindset ,” ujar wanita yang pernah berkarier di PT Unilever Indonesia ini.

Selain mengubah pola pikir, Febby juga mengaku sangat sulit menemukan SDM yang terampil di Johor Bahru. Biasanya kalau sudah lulus, orang-orang di sana mencari kerja di Kuala Lumpur atau Singapura. “Setahun saya mencari marketing manager. Susah banget. Sekalinya dapat, setelah tiga bulan langsung keluar,” katanya. Menurutnya, idealnya tim pemasaran terdiri dari market intelligent, marketing managerdan branding manager.Sementara dirinya saat ini hanya memiliki seorang staf perempuan. “Semua kami lakukan berdua. Tiger ladies! tahun macan,” ujarnya sembari melempar tawa.

Targetnya ke depan? “Saya tidak punya target yang muluk-muluk. Market-nya juga bukan national market. Saya hanya ingin Holcim jadi standar. Jadi kalau orang mau bangun rumah pakai semen merek lain, customerakan bertanya: semennya sebagus Holcim apa tidak? Atau kalau ada support team, orang-orangnya seperti Holcim apa tidak? Itu saja. Saya ingin Holcim menjadi category standard. Jadi, Holcim yang menjadi standar,” katanya berharap.

Dede Suryadi dan Ahmad Yasir Saputra

Hendra Lembong:

Bankir Buruan Bank-bank Besar

Bekerja di berbagai negara bukanlah hal yang asing bagi pria kelahiran Jakarta 38 tahun lalu ini. Pada usia 26 tahun, Hendra Lembong menjejakkan kaki di Singapura — inilah awal petualangan kariernya di sejumlah negara. Pada 1998 itu ia ditunjuk sebagai Manajer Produk Regional Citibank Asia Pasifik yang berkantor di Negeri Singa. Pada 2001, Hendra naik pangkat jadi Regional Head of Channel/Trade Finance and SME Citibank Asia Pasifik di Hong Kong. Selanjutnya, pada 2007 ia dipercaya menjadi Direktur Jejaring dan Aliansi EMEA – Cash Management CitiBank dan berkantor di London, Inggris. Di sana ia menangani pasar Eropa, Timur Tengah dan Afrika. Langkah besar dilakukannya pada Juli 2009: memutuskan pindah ke Deutsche Bank London, dan menempati posisi sebagai Head of Business Development & COO Trade Finance & Corporate Cash Management.

Bekerja di mancanegara, diakui Hendra, memang merupakan impiannya. ”Kesempatan bekerja atau belajar di luar negeri terlalu berharga untuk dilewatkan, karena pengalamannya yang tidak ternilai. Dan jika ternyata kita tidak cocok di sana, kita akan selalu bisa pulang ke sini,” ujar pria yang memulai kariernya di Citibank sebagai management trainee pada 1994 ini tegas.

Jika dicermati, perpindahan Hendra dari Citibank ke Deutsche Bank cukup dramatis. Maklum, kelahiran 23 Januari 1972 ini sudah 15 tahun bekerja di Citibank (1994-2009). Menurut dia, biasanya setelah menangani pasar regional, jenjang karier selanjutnya di Citibank adalah di kantor pusatnya di Amerika Serikat. Namun, setelah beberapa kali pindah negara, ia dan keluarganya merasa tidak ingin pindah lagi ke negara lainnya. Sebab, dengan tiga anak yang masih usia sekolah, pindah negara berarti pindah sekolah dan harus mengurus berbagai administrasinya. “Keluarga juga sudah malas pindah-pindah terus. Dan kebetulan saat itu ada tawaran dari Deutsche Bank.”

Bungsu dari tiga bersaudara ini tergolong unik. Simak latar belakang pendidikannya yang kental berbau teknik: gelar B.Sc. diperolehnya dari Jurusan Chemical Engineering University of Washington, AS, dan gelar M.Sc. di bidang management science & engineering dari Stanford University, AS. Sayang, ketika akan bekerja ia merasa kurang menikmati pekerjaan di bidang teknik. Hal inilah yang mendorong lulusan SMA Kanisius Jakarta ini masuk ke sektor perbankan.

Yang pasti, keberhasilan Hendra saat ini tak lepas dari kerja keras dan perjuangannya untuk mendapat hasil yang terbaik. Jangan heran, ia pun menjadi orang Indonesia satu-satunya yang dipromosikan ke luar negeri pada saat itu di Citibank. (*)

Yuyun Manopol & Kristiana Anissa

Iis P. Tussyadiah:

Ingin Menjadi Pakar Teknologi Pariwisata

Menjadi dosen dan peneliti di luar negeri adalah impian banyak orang. Namun, hanya segelintir orang yang mampu menggapainya. Dan, Iis P. Tussyadiah adalah salah seorang yang beruntung itu. Ia mendedikasikan diri ke dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan di Jepang dan Amerika Serikat sejak 2006.

“Saya ingin menjadi pakar di bidang teknologi pariwisata dan terus melakukan penelitian,” ucap Associate Director National Laboratory for Tourism & eCommerce, School of Tourism & Hospitality Management, Temple University, AS ini. Dengan jabatannya itu, Iis memiliki tugas mengajar program master dan doktor, adviser tingkat doktor, serta meneliti bidang pariwisata dan teknologi.

Sebelum hijrah ke negera yang kini dipimpin Barack Obama itu, Iis pernah menjadi asisten dosen dan peneliti di Universitas Tohoku, Jepang. Pekerjaannya itu dilakoni lantaran ia juga tercatat sebagai mahasiswa S-3 di universitas tersebut. “Lalu, di tahun terakhir studi, saya mengirim resume ke Temple University untuk mengisi posisi postdoctoral/lecturer. Setelah satu kali wawancara, saya diterima dan harus mulai bekerja beberapa hari setelah ujian disertasi tahun 2006,” ia menerangkan. Iis menjadi dosen selama dua tahun, kemudian mendapatkan promosi sebagai assistant professor dan associate director di lab tempatnya bekerja.

Peraih gelar Master of Engineering, Industrial Engineering and Management dari Institut Teknologi Bandung itu mengaku telah mendapat banyak publikasi di jurnal internasional, juga best paper award dari beberapa konferensi internasional sebagai bentuk prestasi kerjanya selama ini.

Bagi Iis, untuk mencapai prestasi dan karier seperti sekarang, perlu perjuangan ekstra. “Kemampuan intelijensi saja tidak cukup. Namun, kita harus menunjukkan kepercayaan diri, asertif dan persuasif,” ia memaparkan kiat sukses meniti karier di Negeri Adidaya.

Iis mengaku dalam perjalanan kariernya di negeri orang, ia pun menghadapi banyak rintangan. “Awalnya, kendala bahasa dan budaya,” tuturnya melalui surat elektronik. Maklum, ia dibesarkan di lingkungan dan keluarga yang dituntun untuk bersikap tidak menonjolkan diri (humble), sementara salah satu kunci sukses di AS adalah perlunya menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi dan “menjual” kemampuan lewat presentasi riset. Solusinya, ia mengubah sikap menjadi lebih adaptif dan terbuka dengan tuntutan pekerjaan.

Menurutnya, bekerja di AS tidak hanya membuat ia lebih paham tentang bidang penelitian yang diminati, tetapi juga memberikan pengalaman bekerja dengan banyak pendidik dan peneliti dari berbagai negara dan latar belakang. Selain lebih terpacu untuk belajar lebih banyak, ia juga terdorong lebih mengembangkan kemampuan profesional dan sosial yang berkaitan dengan keberagaman, mutual respect dan etika.

Sampai kapan bekerja di luar negeri? “Belum tahu,” ujar Iis yang juga belum berencana pulang kampung. Yang jelas, ia tergiur mengadu nasib ke mancanegara lantaran bidang penelitian yang

cocok untuk peluang karier itu.

Eva Martha Rahayu/Darandono

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo:

Pemegang Banyak Paten Teknologi Penginderaan

Prestasinya sangat mengagumkan. Associate Professor Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang ini tercatat sebagai penemu radar satelit untuk pengamatan permukaan bumi. Teknologi temuannya berbasis microwave remote sensing dan mobile satellite communications. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, begitulah nama lengkapnya, telah melahirkan sejumlah antena tipis mikrostrip untuk keperluan mobile satellite communications masa depan yang telah diuji dengan menggunakan Jepang Engineering Test Satellite (ETS-VIII).

Pria yang akrab dipanggil Josh ini dikenal getol berkarya. Karya terbarunya adalah circularly polarized synthetic aperture radar (CP-SAR) sensor yang bisa dipasang pada pesawat tanpa awak bernama Josaphat Experimental Aircraft JX-1 dan microsatellite untuk monitoring permukaan bumi di masa depan. Rencananya produk ini akan diluncurkan lima tahun mendatang. Sensor CP-SAR ini mengatasi kelemahan-kelemahan sensor observasi bumi atau penginderaan jarak jauh pendahulunya. Selain itu, sensor ini mampu menembus awan, kabut, asap, bahkan kelebatan hutan, serta tidak terganggu oleh pengaruh Faraday rotation di lapisan ionosfer dan perubahan posisi platform satellite.

Penelitian terbaru lainnya berupa teknologi untuk membuat antena dengan ukuran dua mikron untuk keperluan alat komunikasi dan medis masa depan, seperti radar yang sangat kecil, robot mikro, serta array antenna untuk pemindaian partikel darah dan pergerakan otot. Bahkan, pria kelahiran Bandung, 25 Juni 1970, ini sedang mengembangkan GPS SAR atau sistem radar imaging dengan menggunakan sinyal GPS untuk keperluan pemetaan permukaan bumi hingga pelacakan pesawat dan kapal siluman (stealth). Yang mencengangkan, karya-karyanya selama ini sudah terekam dalam bentuk paten di 118 negara, misalnya antena untuk pesawat, bullet train, roket dan smart car masa depan.

Penghargaan yang tinggi dan jaringan yang luas merupakan alasan peraih Ph.D dari Center for Environmental Remote Sensing, Graduate School of Science and Technology, Chiba University, Jepang (1999-2002) ini untuk berkiprah di luar negeri. Menurutnya, di negeri orang ia mendapat kesempatan dan kebebasan mengekspresikan karya ilmiah dan teknologi radar yang ia ciptakan selama 1997-1999 yang saat itu belum bisa diterima di Indonesia.”Bagi saya pribadi, umur juga merupakan sumber daya tersendiri, di mana ada kesempatan mengontribusikan karya original ke seluruh dunia sedini mungkin,” ujar penyandang B.Eng (S-1) dan M.Eng (S-2) dalam bidang rekayasa komputer dan kelistrikan dari Universitas Kanazawa, Jepang (1995 dan 1997) ini.

Josh mengakui momentum go global ia dapatkan ketika secara resmi diangkat menjadi pegawai negeri Pemerintah Jepang dengan posisi Associate Professor (permanent) di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang pada 2005. Usianya kala itu 34 tahun. Saat itu ia diberi kepercayaan mendirikan Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory untuk pengembangan sensor-sensor penginderaan jarak jauh bagi dunia, khususnya Jepang. Tak tanggung-tanggung, ia mendapatkan dukungan dana sekitar US$ 2 Juta dari pemerintah dan sejumlah perusahaan Jepang.

Uniknya, meskipun belasan tahun menetap di Negeri Sakura, Josh tetap bertahan menjadi warga negara Indonesia. Alasannya, ”Saya dan keluarga mempunyai hak untuk membesarkan nama Tanah Air di dunia international lewat karya-karya only one keluarga kami,” ujarnya. Untuk itu, ia dan keluarga mengembangkan SDM di bidang hi-tech dengan mendidik langsung para mahasiswa program S-1 hingga S-3 yang berasal dari banyak negara, antara lain Prancis, Korea, Cina, Iran, Mongol, Kenya, Bangladesh, Yordan, Mesir dan Indonesia sendiri. Bahkan, ia menjadi visiting professor, adjunct professor dan head division di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Hasanuddin dan Universitas Gadjah Mada. ”Perlu diketahui, saat mengajar di Indonesia saya menggunakan pendanaan dari uang pribadi,” katanya bangga. (*)

Yuyun Manopol & Sigit A. Nugroho

Taufik Manan:

Terinspirasi Teman Seprofesi

Perjalanan karier Taufik Manan di luar negeri dimulai dari Malaysia. Sejak 18 Mei 2009, dia dipercaya menjadi Señior Reservoir Geophysicist (SRG) di Petronas Carigali Sdn. Bhd. Tugasnya: mengevaluasi dan merekomendasikan pengembangan lapangan migas di offshore (laut) Peninsula dan Sabah.

Untuk posisi SRG di Departemen Petroleum Engineering Geosciences, ada sekitar 20 staf ahli dari Indonesia yang tersebar di setiap proyek tim Petronas Carigali. Di luar itu, ada bagian eksplorasi dan drilling yang banyak mempekerjakan karyawan kontrak asal Indonesia.

Meski belum genap setahun di Petronas, Taufik mengklaim telah mengantongi prestasi. Salah satunya: berhasil mengusulkan pengeboran sumur appraisal (penguji) lapangan gas laut Peninsula dan mengevaluasi konsep lapangan migas kecil untuk dikembangkan di Sabah. Pengembangan lapangan gas ini diharapkan mengalirkan gas ke Peninsula sekitar tahun 2018.

Taufik mengakui keberhasilan karier yang dicapainya terinspirasi dari para seniornya. Bermula dari dorongan kesuksesan yang diraih rekan-rekan seprofesi dan mendapatkan pelajaran bagaimana berkembang di negara lain itulah dia tergiur mengikuti jejak mereka.

Bagaimana strateginya bersaing dengan ekspat lain buat menempati posisi tersebut? Kiat yang diterapkan cukup simpel. “Loyal pada profesi, jujur pada semua tindakan, tetap menjaga silaturahmi dengan teman yang seprofesi, dan senantiasa mengambil pelajaran dari apa yang kami dapat untuk kemajuan di masa depan. Tentunya dengan dukungan keluarga dan bertawakal kepada Allah Swt.,” lelaki kelahiran Jakarta 15 April 1967 itu menguraikan.

Menurutnya, di era persaingan global ini, kandidat dituntut mempunyai keahlian dan pengalaman yang sesuai dengan standar internasional. Intinya: selalu mengerti dan mampu menjalankan prosedur standar operasional yang berkembang sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

Bukan berarti, Taufik tidak menjumpai tantangan berat. “Kami dituntut menyelesaikan semua pekerjaan tepat waktu dan hasil yang maksimal. Setiap tenaga ekspat juga dievaluasi ketat secara berkala setiap 6 bulan dan harus menunjukkan performa kerja yang positif dan maju,” peraih gelar Master Geofisika Reservoar dari Universitas Indonesia itu menjelaskan.

Guna mengatasi permasalahan yang dihadapi, Taufik berusaha meningkatkan performa kerja. Dia mesti terbuka terhadap seluruh anggota tim dan bosnya, bersikap proaktif untuk menguasai pekerjaan dan tetap menjaga hubungan dengan rekan-rekannya, sesama tenaga ekspat, khususnya dari Indonesia.

Ya, sebagaimana berkarier di negeri sendiri, di luar negeri juga ada suka-dukanya. Dia bercerita, ketika terlibat dalam eksplorasi seismik pertama di Kamboja merupakan pengalaman mengesankan. Maklum, sebelumnya daerah ini dikenal sebagai “Killing Fields” era 1970-an. Sampai saat ini masih banyak daerah yang rawan ranjau darat sehinggga harus hati-hati dalam survei seismik. “Untunglah, atas dukungan banyak pihak, kegiatan ini termasuk sukses sesuai rencana,” tutur mantan karyawan Medco ini.

Target Taufik yang hendak dicapai adalah mendapatkan evaluasi secara komprehensif atas eksplorasi dan pengembangan lapangan migas di mana pun, termasuk Indonesia. Ingin pulang kampung? “Tunggu saja tanggal mainnya. Saya ingin menerapkan pengalaman saya untuk kemajuan di Indonesia, tapi perlu dukungan pemerintah dan lembaga terkait,” kata Taufik yang motivasinya bekerja di mancanegara karena lima pertimbangan: tantangan profesi, apresiasi, pengembangan ilmu, paket gaji dan tunjangan lebih menarik.

Eva Martha Rahayu/Darandono

Ketty Munaf Rosenfeld:

Raih Posisi Penting di Northeastern University

Kecintaan pada dunia pendidikan mengantarkan Ketty Munaf Rosenfeld menjadi orang penting di Northeastern University (NU), Boston, Amerika Serikat. Sejak 2006 Ketty menjabat sebagai Direktur Cooperative Education di universitas tersebut.

Posisi yang dipegang Ketty sejatinya posisi baru, yang menangani program untuk membantu mahasiswa NU agar dapat memiliki pengalaman kerja selama 6 bulan di berbagai perusahaan di sejumlah negara di dunia. “Waktu itu Presiden NU ingin agar para lulusannya bisa survive, tidak hanya di Boston, tapi juga di negara-negara lain di dunia,” ujarnya. Ketty sendiri berpendapat, perusahaan akan memperoleh hasil yang yang lebih baik jika memiliki tenaga kerja yang lebih bervariasi.

Ia mengaku menghadapi tantangan yang cukup banyak dalam pekerjaannya saat ini. Karena misi program ini adalah memberikan pengalaman internasional kepada mahasiswa, salah satu tantangannya adalah dalam hal pendanaan. Namun, ia bersyukur karena berhasil memperoleh beasiswa senilai US$ 500 ribu bagi program ini.

Pehobi menari ini juga sangat menikmati pekerjaannya sekarang. “Bagaimana tidak cinta dengan pekerjaan. Saya bisa dibiayai keliling dunia,” ujarnya bercanda. Dalam menangani program ini, Ketty memang dituntut bepergian ke beberapa negara. Dalam setahun, ia dapat melakukan perjalanan ke luar negeri 3-4 kali.

Selulus SMU Tarakanita, Ketty masuk ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Namun, ia hanya menjalani perkuliahan selama Juli 1979-Juli 1980. Alasannya, hukum bukanlah bidang yang benar-benar ingin ditekuninya. Hanya saja, bersamaan dengan kuliah hukumnya, ia juga kuliah di Jurusan Sastra Inggris IKIP Jakarta. “Kampus UI dan IKIP saat itu bersebelahan, jadi saya kuliah dobel. Wah sudah seperti orang gila deh, lari-lari kuliah di UI dan IKIP,” katanya mengenang sambil tertawa.

Namun, saat kuliah di IKIP, Ketty semakin menyadari bahwa di Indonesia belum ada jurusan yang dapat menjadikannya mampu mewujudkan mimpi: mendirikan sekolah internasional di Jakarta. Ia ingin membuat sekolah dengan sistem pendidikan Amerika Serikat. Maka, dengan semangat dan kecintaannya terhadap dunia pendidikan, Ketty pun berangkat ke AS dan melanjutkan kuliah di bidang pendidikan yang ia inginkan.

Ia memulai kuliah Elementary & Early Childhood Education di American University, Washington DC, pada Mei 1983. “Saya sangat beruntung, keluarga saya dapat membantu saya kuliah di Amerika,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1959 ini. Setelah memperoleh gelar bachelor of arts dari American University, ia pun melanjutkan kuliahnya ke jenjang master di Boston University, dengan studi Education in Bilingual Education.

Ibu tiga anak ini mengawali kariernya di AS sebagai guru SD, sambil menjalani kuliah master. Ia menjadi guru SD selama 1985-87. Setelah itu, karena anak-anaknya masih kecil, Ketty tidak bekerja, tetapi menjadi voluntir di Parents Teacher Association di sekolah anak-anaknya dan ia menjadi presiden asosiasi tersebut. Saat itulah ia belajar bahwa sekolah itu banyak didukung komunitas dan pemerintah setempat serta mendapat dana untuk kegiatannya.

Tahun 1994, setelah anaknya yang bungsu telah cukup besar, Ketty bergabung dengan NU sebagai asisten direktur. Saat itu ia membantu program home country placement yang didanai USAID. Program itu bertujuan agar mahasiswa Indonesia di AS yang telah lulus kembali ke Tanah Air. Ia membantu pelaksanaan program tersebut selama 1994-97.

Tahun 1997 ia masuk ke Departemen Carrier Service NU, membantu mahasiswa internasional di universitas tersebut agar bisa lebih kompetitif dalam bekerja di AS. Saat itu posisinya adalah sebagai carrier coach dan associate director. Dan, tahun 2006, Presiden NU menawari Ketty posisi sebagai Direktur Cooperative Education, jabatan yang diembannya sampai sekarang.

Dede Suryadi dan Kristiana Anissa

Yanuar Nugroho:

Berupaya 2-3 Langkah di Depan

Berkarier di negeri orang bukanlah impian Yanuar Nugroho. Semua mengalir begitu saja seperti air. Maklum, pria kelahiran Solo, 15 Januari 1972, ini datang ke Inggris untuk mengambil gelar Ph.D di Manchester Business School (MBS), yang menurut Financial Times merupakan sekolah bisnis nomor satu di dunia pada 2008 dan 2009.

“Saya beruntung bisa menyelesaikan Ph.D saya dalam waktu kurang dari tiga tahun walau saya kerjakan paruh waktu karena disambi bekerja,” ujar lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung, 1994 ini. Barangkali karena prestasi itulah, Yanuar ditawari mengambil program post-doctoral tanpa seleksi. Program pascadoktor yang resminya 18 bulan itu akhirnya ia selesaikan hanya dalam 9 bulan. Lalu, pada Agustus 2008 ia diminta menjadi staf akademik dan riset tetap — disebut research associate — di Institut Kajian Inovasi MBS. Di institusi ini ia merupakan salah satu dari dua orang peneliti Asia, sisanya berasal dari 16 negara di Eropa dan Amerika Serikat.

Bekerja di luar negeri memiliki tantangan tersendiri bagi Yanuar. Tantangan terbesarnya adalah komunikasi. “Tak ada jalan pintas menghadapi tantangan ini kecuali dengan terus melatih diri. Saya pun belum maksimal saat ini dan masih harus terus belajar,” ungkap pendiri dan pemimpin Business Watch Indonesia, sebuah LSM, pada 2002 ini. Hal lain yang menantangnya adalah bekerja dengan rekan peneliti sejawat dan membimbing atau mengajar para mahasiswa yang berbeda latar belakang kebangsaan dan budaya. Menurutnya, mahasiswa dan rekan sejawatnya sangat kritis. Mereka tanpa ragu dan sungkan bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam.

Lalu, apa kunci keberhasilannya? ”Saya mengikuti aturan main. Justru di situlah, saya kira strateginya. Yakni, memahami aturan main sedetail mungkin dan mencoba berada dua atau tiga langkah di depan,” ujar peraih gelar master di bidang information systems engineering dari University of Manchester Institute of Science & Technology, Inggris, 2001 ini. Misalnya, saat masih mahasiswa Ph.D, ia tahu bahwa posisi pascadoktor butuh persiapan data dan

metodologi. Karena itu, meski masih mahasiswa, ia menyiapkan data dan mengasah kemampuan metodologinya. Maka ketika ada peluang studi pascadoktor, mantan Direktur Akademis Universitas Sahid Surakarta ini merupakan satu-satunya calon yang siap saat itu dan ia mendapatkannya tanpa seleksi.

Ia punya pengalaman unik selama bekerja di sana. Suatu hari, salah satu perguruan tinggi di Tanah Air pernah menghubungi MBS dan meminta sebuah kuliah tamu untuk program pascasarjana. MBS menugasi Yanuar mengambil peran ini, karena bidang kajian inovasi dan pembangunan yang diminta tersebut merupakan keahliannya. MBS berpikir akan lebih efektif jika ia yang menyampaikan kuliah karena ia orang Indonesia. Apa yang terjadi? Perguruan tinggi di Tanah Air tersebut menolak dirinya. Alasannya, mereka butuh orang yang lebih pakar. Alhasil, yang berangkat ke Indonesia dan memberi kuliah adalah juniornya, yang untuk menyiapkan presentasinya masih butuh bantuan dirinya. “Entahlah, saya tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat mentalitas kita yang seperti itu,” katanya.

Bisa jadi karena kondisi ini pula, ia tak ingin tergesa-gesa pulang ke Indonesia. “Barangkali 3-5 tahun ke depan,” ujarnya. “Jika saya pulang, atau dipanggil pulang oleh pemerintah, saya ingin mengabdi dalam penyusunan kebijakan iptek dan inovasi bagi pembangunan. Mudah-mudahan ada jalan.”(*)

Yuyun Manopol & Siti Ruslina

Judhi Prasetyo:

Ingin Bebas dari Korupsi

Ihwal ketertarikan Judhi Prasetyo bekerja di luar negeri sederhana saja: bebas dari korupsi. Dia ingin menjalin hubungan dengan mitra bisnis dan pelanggan lebih tulus dan tidak ada aksi suap. Cita-cita itu tercapai manakala bekerja di Singapura sebagai engineer tahun 1999.

Tidak kurang dari lima perusahaan di Singapura tempat Judhi menimba ilmu dan pengalaman sebelum direkrut Fortinet Incorporation sebagai Country Manager Singapura dan Emerging Market. Setelah tinggal di negeri jiran itu, dia merasa betah lantaran cocok untuk membina keluarga dan pendidikan anaknya. Saking enjoy-nya di sana, tidak terasa dia dan keluarganya telah menghabiskan waktu 9 tahun.

Tahun 2008, dia pindah ke Dubai, dipromosikan sebagai Manajer Channel Regional Timur Tengah Fortinet. Fortinet adalah perusahaan multinasional di bidang keamanan TI yang berpusat di Silicon Valley, Amerika Serikat. Judhi bertanggung jawab mengembangkan bisnis perusahaan melalui pembinaan kemitraan baik dengan end user maupun reseller negara-negara Timur Tengah.


“Sekarang keluarga kami juga merasa betah tinggal di Dubai dan mendapat banyak pengalaman berharga bisa berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Hebatnya makanan halal lebih mudah didapatkan di Singapura dan Dubai daripada di Indonesia,” ungkap profesional yang menapaki tangga karier sejak kuliah di Institut Teknologi Nasional, Bandung itu.

Tidak salah, manajemen Fortinet memutasi Judhi dari Singapura ke Dubai. Pasalnya, di Dubai dia berhasil mengukir prestasi gemilang. Dia mengklaim, pertumbuhan bisnis meningkat 80% dari tahun 2007 ke 2008. Di ujung tahun 2009 bisnisnya masih tumbuh di angka 52% dibanding tahun sebelumnya. Tak pelak, pertumbuhan pesat ini ikut memberi andil atas suksesnya initial public offering Fortinet di Nasdaq pada November 2009.

Pria yang pernah bekerja di berbagai perusahaan di Jakarta periode 1995-1999 dengan menempati berbagai posisi sebagai engineer dan manajer itu, mengaku, ketika bertugas di Singapura kinerja Fortinet juga memuaskan. Dia mencontohkan, tahun 2006-2008 pertumbuhan bisnisnya di Singapura naik 40%, sedangkan di emerging market mencapai 50%-70%.

Menurut Judhi, untuk memenangi persaingan dengan tenaga ahli dari negara-negara lain, tidaklah terlalu sulit. “Sebenarnya secara profesional, negara asal seseorang itu tidak terlalu dipentingkan. Justru yang utama adalah bagaimana kualitasnya dalam menyelesaikan suatu masalah dan menjalin relasi. Tapi, hal yang membuat sulit adalah karena saya pemegang paspor hijau/Indonesia, sehingga mobilitas lebih terbatas,” dia memaparkan. Akibatnya, dia beberapa kali gagal ikut meeting di Eropa karena tidak mendapat visa tepat waktu. Maklum, buat mengantongi visa Eropa, setidaknya butuh waktu dua minggu dan selama itu dia tidak memegang paspor. Padahal, dalam kurun waktu tersebut dia harus melakukan perjalanan bisnis ke sejumlah negara.

Selain soal visa, kendala yang dihadapi Judhi adalah budaya dan bahasa. “Tapi, masalah hampir selalu bisa dijembatani dengan membuktikan niat baik dan kejujuran,” tukas eksekutif yang berprinsip kerja keras, menjalin hubungan baik, amanah, jujur, plus tegas dalam bekerja di mana saja ini.

Judhi melontarkan beberapa pengalaman unik selama merantau di negeri orang. Misalnya beberapa pelanggannya tidak fasih bahasa Inggris, dia bisa minta tolong kolega buat membantu menjelaskan. Adapun benturan budaya misalnya, ada orang-orang dengan latar belakang budaya tertentu yang menggelengkan kepala artinya malah setuju atau mengerti, bukan sebaliknya.


Cita-cita Judhi ke depan: menjalankan usaha yang memberi manfaat sebesar-besarnya untuk umat manusia. Baginya, dengan memahami bahwa lain ladang lain belalang, dia belajar tidak selalu berprasangka buruk pada orang lain. Namun, pada saat yang sama, dia pun lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Eva Martha Rahayu/Darandono

Oki Gunawan:

Jagoan Fisika

di Pusat Riset IBM

Jika Anda membaca sejarah awal kehadiran Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) pada 1993, pastilah Anda menemukan nama Oki Gunawan. Maklum, dia salah satu dari lima siswa kita yang ikut Olimpiade Fisika Internasional ke-24. Dalam kompetisi tersebut, lulusan SMAN 78 Jakarta (1990-1993) ini meraih medali perunggu. Sejak itu, prestasi dan pencapaian terbaik di kancah internasional tampaknya selalu menjadi bagian hidup Oki.

Sejak 2007, peraih AT&T Leadership Award, Amerika Serikat (2000) dan IBM Patent Challenge Award dengan predikat Honorable Mention (2010) ini tercatat sebagai anggota staf IBM T. J. Watson Research Center yang berkantor di New York. “Tanggung jawab saya adalah meneliti dan menciptakan inovasi baru di bidang teknologi semikonduktor, salah satunya mengenai photovoltaic,” ungkap Oki. “Di sini, saya bekerja sama dengan sekelompok peneliti dengan latar belakang beragam,” lanjut peraih gelar Ph.D dari Princeton University ini.

Diungkapkan Oki, selain meneliti teknologi baru, ia harus banyak menghasilkan paten dan publikasi ilmiah. Saat ini ia sedang mengembangkan berbagai perangkat teknologi di bidang photovoltaic (sel tenaga surya). Menurutnya, setelah revolusi TI, bidang penting untuk kelangsungan dunia modern adalah energi terbarukan (renewable and sustainable energy) yang dalam hal ini bisa dijawab dengan teknologi sel surya yang baru.

Ia mengaku tidak mudah bisa bergabung dengan IBM Research. Ia menjelaskan, di AS hanya ada dua pusat sains dan teknologi terkemuka, yaitu: Bell Laboratory di New Jersey dan IBM Research di New York. “Saya masuk ke sini mulai dari posisi post doctoral staff,” ungkap penyandang gelar MEng. dari Nanyang Technological University, Singapura ini. Post doctoral staff adalah posisi staf junior yang baru lulus S-3 (syarat minimum) yang menjalani masa penjajakan, dan setelah lulus kualifikasinya dilanjutkan untuk menjadi staf peneliti permanen alias research staff member.

Bagi Oki, berkarier di kancah internasional memiliki banyak nilai plus. Pertama, perusahaan semacam ini memiliki staf internasional yang terseleksi dan terbaik di bidangnya. Interaksi dalam komunitas ini membawa ide-ide baru di bidang sains dan teknologi, yang secara otomatis membuka wawasan lebih luas. Kedua, dengan menimba pengalaman di sini membuka pilihan ke depan. Contohnya, jika yang bersangkutan ingin pindah atau ganti karier.

Menurut Oki, puncak karier bukan tujuan akhir, melainkan lebih sebagai by-product jika seseorang berkomitmen terhadap sesuatu. Yang pasti, dalam hal persaingan di bidang sains dan teknologi hanya ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni harus bisa menjadi the first and the best. “Mantra ini memang kelihatannya sangat tinggi tuntutannya, tapi memang kenyataannya begitu,” kata Oki.

Yuyun Manopol & Tutut Handayani

Yayan Irianto:

16 Tahun Berkarier di AS

Kemampuan di bidang teknologi informasi mengantarkan Yayan Irianto menjadi tenaga profesional selama 16 tahun di Amerika Serikat. Sekarang, ia berkarier sebagai konsultan senior Enterprise Resource Planning (ERP) di Accenture Technology Solution di Houston, Texas. Tugasnya adalah membantu klien mengimplementasikan software ERP untuk kebutuhan proses bisnis di perusahaan. Seperti saat ini, ia tengah membantu klien yang berlokasi di Los Angeles, California.

Bisa mencari nafkah di Negeri Abang Sam merupakan perjalanan panjang bagi lulusan Teknik Elektro Universitas Tirtayasa, Banten ini. Tahun 1998 ia melamar pekerjaan melalui Internet dan diterima di dua perusahaan: SAP Sydney Australia dan KPMG LLP di New York. Dengan berbagai pertimbangan, ia memilih perusahaan di New York. “Alhamdulillah, saat itu keluarga bisa dibawa sekaligus, saya berangkat dengan istri dan anak satu umur 3,5 tahun. Semua biaya ditanggung perusahaan,” katanya mengenang.

Jabatan pertama Yayan adalah konsultan yang membantu implementasi SAP di sebuah perusahaan di Houston. Kemudian, ia ditempatkan di perusahaan klien yang berlokasi di Miami, Florida, dan masih banyak lagi. “Pada dasarnya pekerjaan yang saya lakukan membutuhkan perjalanan ke lokasi klien,” katanya, “sehingga saya hampir selalu di luar rumah mulai Senin sampai Jumat.”

Setelah dua tahun, ia dipromosikan menjadi konsultan senior. KPMG tempat Yayan menggantungkan hidup kemudian berubah nama menjadi Bearingpoint, yang kemudian jatuh pada 2007 akibat krisis ekonomi di AS. Yayan pun kemudian hijrah ke Accenture Technology Solution hingga saat ini.

Menurutnya, untuk meniti karier di AS dibutuhkan keberanian yang cukup dan, tentu saja, kepercayaan diri. Pasalnya, ia melihat banyak orang Indonesia yang belum apa-apa sudah kalah sebelum bertanding kalau disandingkan dengan orang asing. “Percayalah, dengan bekal pengetahuan yang memadai dan kepercayaan diri, kita bisa jadi profesional di AS. Apalagi, karier di negara ini lebih jelas, penghasilan tidak dibeda-bedakan, latar belakang pendidikan tidak terlalu jadi pertimbangan utama. Yang utama adalah skill, skilll dan skill,” ujarnya memberi semangat.

Bagaimana perjalanan kariernya sebelum di AS? Setamat kuliah tahun 1994, Yayan bekerja di anak perusahaan PT Krakatau Steel, Krakatau Information Technology, sebagai programmer/developer. Setelah itu, ia pindah ke perusahaan Australia yang sedang mengerjakan proyek SAP ERP di Krakatau Steel. Rupanya, itulah karier yang kemudian membawanya terbang jauh hingga ke Negeri Adidaya. Di perusahaan tersebut dirinya banyak mendapatkan pengetahuan baru, khususnya mengenai ERP.

Setelah dua tahun, proyeknya di perusahaan Australia itu selesai. Lalu, ia diterima di perusahaan kimia patungan Jepang-AS yang baru saja dibangun di kawasan Merak, Banten. Di perusahaan inilah, Yayan mendapatkan pelatihan resmi ERP, dan sempat dikirim ke Hong Kong dan Singapura. “Saya makin percaya diri dengan pengetahuan SAP ERP dan saran seorang konsultan, saya dianjurkan mencoba melamar ke luar negeri. Dialah yang mengajari saya bagaimana memanfaatkan Internet untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri,” ia menuturkan.

Saat itu (1996), Google belum lahir, ia memanfaatkan search engine seperti Altavista untuk mencari lowongan pekerjaan di luar negeri. Ia mengirimkan resume dirinya kepada lebih dari 50 perusahaan, baik langsung maupun ke head-hunter. “Berselang satu hari, banyak sekali orang yang menelepon saya, sungguh surprising,” ungkapnya. Dari situlah dirinya mendapatkan pengalaman, bahwa melamar kerja di negeri orang ternyata tidak serepot seperti di negeri sendiri. Wawancara dilakukan lewat telepon, bahkan kadang-kadang ia harus ke wartel untuk wawancara. “Itu pengalaman menggelikan,” ujarnya.

Sekarang, kendati bekerja di negeri orang, Yayan tak melupakan Tanah Air. Ia bersama teman-teman Indonesia yang bekerja di AS sudah membuat mailing list Komputer-Teknologi yang bisa dilihat website-nya di www.komputer-teknologi.net dan www.erpweaver.com yang bertujuan mencoba membantu meningkatkan SDM TI Indonesia, khususnya di bidang ERP. “Saya tergerak untuk mendidik putra-putra Indonesia untuk masuk dan bersaing, paling tidak bisa menghasilkan ahli ERP ini untuk pasar dalam negeri,” katanya. Dirinya pun mengadakan pelatihan secara online melalui Internet, dengan menggratiskan atau menawarkan biaya murah untuk memperdalam ERP ini. “Alhamdulillah, beberapa alumni pelatihan kami sudah ada yang diserap pasar kerja di Indonesia, bahkan di luar negeri,” ungkapnya bangga.

Dede Suryadi dan Darandono

Dion Sumedi:

Senang Bisa Belajar dengan Profesional Mancanegara

Bekerja di luar negeri memang impiannya. Karena itu, ketika bosnya menawari posisi di Filipina pada 2006, lelaki bernama lengkap Ali Permadiono Sumedi ini tak melewatkannya. “Dia menawari saya untuk join dengannya di Filipina untuk menangani persiapan mengambil alih kendali Coca-Cola bottler di Filipina, dari San Miguel Corporation menjadi bottler milik The Coca-Cola Company sendiri,” ujar penyandang B.Sc. di bidang finance dari University Syracuse, AS, ini.

Tak terasa, empat tahun sudah pria kelahiran Jakarta, 10 April 1971, yang akrab disapa Dion ini bekerja di Filipina, persisnya di The Coca-Cola Export Corporation Divisi Filipina. Perannya, di masa awal sebagai Manajer Proyek Transition Management Office merangkap Kepala Tim Key Accounts Transition workstream dan Supporting Transition Plan untuk Route to Market workstream. Dion menjelaskan, dalam posisi ini ia bekerja sama dengan perusahaan konsultan McKinsey mengelola proses kerja tim yang melakukan due diligence dan transition plan pada waktu ambil alih di Fipilina tahun 2007. Adapun sebagai kepala tim, anggotanya adalah orang-orang Coca-Cola dari berbagai negara di dunia seperti AS, Brasil, India, Australia dan Filipina. Kemudian, ia menjadi Direktur Regional Mindanao yang volume pasarnya hampir sama dengan Coke Indonesia. Dan, terakhir – yang diembannya kini — ia menjabat Direktur Inovasi Komersial yang bertugas mengelola proses inovasi di Coca-Cola System, Filipina.

Menurut penyandang gelar MBA dari Georgia State University Atlanta, AS (1995) ini, Filipina memiliki pasar yang bagus. Maklum, negara yang dipimpin Gloria Macapagal ini merupakan salah satu unit bisnis terbesar di dunia untuk Coca-Cola worldwide.

Dion mengaku senang dan sangat tertantang dalam menjalankan pekerjaannya sekarang. Alasannya, ia mendapat pengalaman bekerja sama dan belajar bersama profesional dari berbagai negara seperti AS, Australia, Meksiko, Cile, Kolombia, Brasil, India, Islandia dan Cina.

Mantan konsultan di Prasetio Utomo dan Arthur Andersen ini mengaku puas dengan kompensasi yang didapatkannya di Filipina. ”Kira-kira sama seperti ekspat-ekspat lain yang ditempatkan di luar negara asalnya,” ujar pria yang bergabung dengan Coca-Cola Indonesia sejak tahun 2000 dan memegang posisi awal sebagai Manajer Eksploitasi Informasi ini. Hingga detik ini ia mengaku belum tahu kapan akan kembali bekerja di Indonesia. ”Tapi, pasti satu saat memang kami akan kembali ke Jakarta,” katanya. (*)

Yuyun Manopol & Siti Ruslina

Ines Irene Atmosukarto:

Ikut Kembangkan Lipotek Australia

dari Nol

Setelah menyelesaikan pendidikan S-3 di University of Adelaide, Australia, Ines Irene Atmosukarto pulang ke Indonesia dan bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Di lembaga ini ia terlibat dalam pembentukan usaha join ventura yang berupaya mengeksplorasi sumber daya alam Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan jenis mikroba endofitik. Eksplorasi ini diharapkan dapat menemukan bahan alami yang berguna bagi industri medis atau pertanian.

Dari situ, ia membangun jejaring dengan beberapa perusahaan bioteknologi di luar negeri hingga akhirnya ia mendapat kesempatan berkarya di Canberra Australia sebagai Chief Scientific Officer (CSO) Lipotek Pty. Ltd. yang dijabatnya sampai sekarang. “Saya sangat beruntung karena saya didukung oleh LIPI untuk memanfaatkan kesempatan ini,” ia mengungkapkan. Apalagi, Lipotek perusahaan yang baru berdiri, maka ia mendapat pengalaman yang sangat banyak karena terlibat dalam berbagai aspek hingga perusahaan itu berdiri, mulai dari riset dan pengembangan (R&D), properti intelektual, pendanaan hingga masalah regulasi.

Bidang kerja yang digelutinya sekarang adalah penelitian biomedis, khususnya pengembangan vaksin dan terapi imun untuk kanker dan penyakit infeksi. Sebagai CSO Lipotek, Ines bertanggung jawab atas semua kegiatan R&D, yang merupakan kegiatan inti lembaga ini sekaligus bertanggung jawab langsung kepada dewan direksi. “Karena Lipotek adalah perusahaan start up, maka saya harus fleksibel dengan tugas saya, Dan kenyataannya, saya juga harus mencari dana grant dari pemerintah ataupun lembaga donor, seperti Gates Foundation. Lalu menangani masalah paten, kerja sama dan pengembangan bisnis,” ujar Ines yang S-1-nya juga dari University of Adelaide, Australia.

Menurutnya, bidang bioteknologi/biomedis yang ia geluti sekarang skala kerjanya bersifat internasional, sehingga persaingannya pun bertaraf internasional. Dan, kiat Ines dalam menghadapi persaingan itu adalah dengan melihatnya sebagai sebuah kesempatan yang harus dilalui dengan sungguh-sungguh. “Tanpa keberanian, kadang kesempatan itu bisa lewat begitu saja. Kesempatan itu datang pada saat yang kadang tidak kita sangka-sangka dan waktu untuk mengambil keputusannya tidak panjang,” tutur Ines, yang pernah berkesempatan mengeyam post doctoral fellowship di Amerika Serikat dengan dana dari UNESCO-L’Oreal tahun 2004.

Di samping kesempatan, tentunya ada pula tantangannya berkarier di luar negeri. “Tantangan terbesar tentunya jauh dari sanak keluarga. Kebetulan anak saya masih menyelesaikan SD di Jakarta. Jadi tantangan yang terbesar adalah berpisah dari keluarga,” katanya blak-blakan. Untungnya, teknologi Internet membantu dirinya dalam mengatasi tantangan ini. Juga, karena Ines membangun kerja sama dengan beberapa pihak di Indonesia, maka ia selalu ada kesempatan pulang secara rutin ke Tanah Air.

Ines bertekad memastikan Lipotek bisa tumbuh dan menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Umpamanya, ia hendak memastikan bahwa uji klinis vaksin/imunoterpi kanker melanoma yang sedang ia garap bisa terselenggara dengan baik. Ia juga berharap dirinya dapat terus membangun jembatan yang kuat antara Lipotek dengan berbagai instansi di Indonesia, sehingga dapat menghasilkan pengobatan yang berguna bagi masyarakat Indonesia khususnya.

“Soal apakah saya akan tetap di luar negeri adalah pertanyaan yang tidak mudah bagi saya. Sejauh ini, saya sudah hidup di empat benua yang berbeda. Jadi siapa yang bisa memprediksi hidup ini akan membawa kita ke mana,” ungkap Ines mengenai prinsip hidupnya.

Dede Suryadi dan Herning Banirestu

Henricus Kusbiantoro:

Desainer Logo Kelas Dunia

Sebagai desainer merek, Henricus Kusbiantoro telah melahirkan banyak desain logo dan meraih sejumlah penghargaan internasional. Desain karyanya, antara lain, logo supremasi sepak bola Amerika Super Bowl 2011, The Emmy Awards, Samsung Beijing Olympics 2008, FIFA World Cup, Japan Airlines, Guggenheim Foundation dan Acura Automobile.

Penghargaan dari The Art Director’s Club New York, 365 AIGA, The New York Times dan Majalah Fortune merupakan pengakuan penting terhadap desain karya pria asal Bandung yang pernah berkenalan dengan mantan Presiden Peru Alejandro Toledo, sutradara film Steven Spielberg dan aktor Tom Hanks ini.

Henricus tak pernah menyangka dirinya bakal menjadi perancang grafis Indonesia pertama yang meraih penghargaan internasional paling berpengaruh: D&AD London Merit Award 2007. Penghargaan itu diraih berkat karyanya: logo kampanye internasional RED bagi penderita AIDS di Afrika yang dipelopori Bono dari grup musik U2 dan diresmikan di World Economic Forum, Davos, Swiss, pada 2006.

Kini Henricus bekerja sebagai senior art directordi Landor Associates yang berpusat di San Francisco, Amerika Serikat. Landor Associates yang didirikan tahun 1941 diakui sebagai pionir dan konsultan desain merek legendaris dan terkemuka di dunia. Karya-karyanya yang berupa desain logo telah banyak dipakai dan tersebar secara global, termasuk di Indonesia. Di tengah kesibukannya melahirkan karya-karya desain merek unggulan, Henricus juga tidak lupa membagikan dan bertukar informasi sebagai pengajar desain grafis di Program Master Desain Grafis Academy of Art University, San Francisco, dan pengajar tamu di berbagai institusi desain di AS, Kanada dan negara-negara Asia (termasuk Indonesia).

Dilahirkan di Bandung tahun 1973 dari keluarga sederhana, Henricus sempat mengenyam pendidikan dasar desain di Universitas Trisakti Jakarta (1992), sebelum akhirnya memutuskan menekuni bidang desain grafis di Seni Rupa Institut Teknologi Bandung di bawah bimbingan Prof. A.D. Pirous dan perancang grafis kawakan sekaligus kartunis Indonesia, Priyanto Sunarto.

Lulus dari ITB tahun 1997 dan diganjar Ganesha Award karena meraih predikat mahasiswa terbaik Seni Rupa ITB, ia memilih belajar sekaligus memulai karier pertama desain grafisnya pada mentor sekaligus desainer eksentrik Hermawan Tanzil, pemilik studio desain grafis terkemuka LeBoYe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Di saat pecah kerusuhan Mei 1998, Henricus yang berangan-angan menjadi pengajar desain grafis di Jakarta memperoleh beasiswa paruh dari ASIA Help (IIE Foundation) untuk meneruskan pendidikan desain grafis di Pratt Institute Brooklyn, New York. Di kota ini, ia bertemu dengan Hwang Hyun Taik — kini guru besar Desain Grafis Universitas Hanyang, Korea Selatan. Pertemuan itu banyak mengubah arah jalan hidupnya. Henricus menerima usulan Hyun Taik untuk kembali belajar pada desainer legendaris AS Seymour Chwast dan Milton Glaser — pendiri Pushpin Studio dan perancang logo “I Love New York”.

Semenjak meraih gelar master dengan predikat highest achievementdari Pratt Institute, Brooklyn, di tahun 2000, Henricus langsung melamar untuk magang di biro desain grafis internasional, Chermayeff & Geismar, yang telah menghasilkan ribuan logo, antara lain NBC, Mobil, PBS, Pan Am, Xerox dan National Geographic.

Setelah magang selama tiga bulan, Henricus ditawari menjadi karyawan penuh sebagai desainer grafis junior di Chermayeff & Geismar hingga 2002. Selepas dari Chermayeff & Geismar New York, ia bekerja pada konsultan merek inovatif sekaligus kontroversial asal Inggris, Wolff Olins, di New York dan tergabung dalam tim kreatif inti yang membidani revitalisasi menyeluruh merek General Electric (GE) tahun 2004.

Kecintaan pada desain logo memberikan arah hidup yang lebih pasti dan berarti bagi Henricus. Ia jatuh cinta dan memilih fokus pada logo. Inilah yang mengantarkan dirinya menjadi desainer logo kelas dunia.

Dede Suryadi dan Herning Banirestu

M. Arri Faisal:

Kerja Keras dan Sabar

Filosofi yang dipegang D.M. Arrie Faisal dalam meniti karier profesionalnya sederhana saja: kerja keras dan sabar. Dengan berpegang pada prinsip kerja itulah, Arri menempati posisinya sekarang, Manajer Teknis Nokia Siemens Network Arab Saudi.

Padahal, jika merunut latar belakangnya, sungguh tidak meyakinkan. Betapa tidak, Arri membutuhkan waktu lima tahun guna merampungkan kuliahnya di Jurusan Elektro Universitas Brawijaya. Itu pun ia hanya mengantongi IPK 2,45 — jauh dari ukuran cukup untuk melamar pekerjaan. “Di dalam hati, saya bertanya, (dengan nilai IPK yang kecil) apakah sanggup melanjutkan hidup ini ke jenjang berikutnya. Sementara itu, orang tua dan ketiga adik saya sangat berharap bantuan finansial dari saya. Sungguh suatu tantangan yang memusingkan,” katanya mengenang.

Seperti diperkirakan, sejumlah lamaran kerja yang diajukan ke berbagai perusahaan tidak mendapat respons. Bahkan, ibunya menyarankan jangan pilih-pilih perusahaan. “Saya termotivasi dan berjanji tidak akan pilih-pilih. Berapa pun gaji yang ditawarkan perusahaan akan saya terima,” ucap Arri.

Akhirnya, pada 1996 Arri diterima kerja di Nesic Bukaka, sebagai Telecommunications Support Engineer. Di perusahaan Jepang itu ia mendapat gaji Rp 750 ribu. “Tawaran langsung saya terima, dengan asumsi bahwa saya masih baru dan belum punya keahlian,” ujarnya tandas.

Rupanya, kerja keras yang ditunjukkan Arri, dengan rata-rata kerja 18 jam sehari, mendapat respons positif. Ia pun mulai diberi kesempatan mengikuti pelatihan ke Jepang. Setelah merasa sudah menguasai keahlian teknik, Arri pun mulai percaya diri untuk melamar ke perusahaan lain. Pada 1997, Arri pindah ke Nokia Indonesia sebagai Radio Access Engineer. “Di Nokia saya bekerja keras, sehingga dalam waktu tiga bulan sudah bisa menguasai dengan baik keahlian teknik yang mereka butuhkan. Karenanya, saya dapat kesempatan untuk travel ke luar negeri sebagai technical support. Di perusahaan ini pula saya dapat membantu orang tua dan adik-adik dengan baik,” paparnya.

Bahkan, karena dinilai sudah expert, pada 1998 Arri ditarik ke Timur Tengah sebagai expert team lead untuk suatu proyek bergengsi di Kuwait. Setahun berikutnya ia dipercaya sebagai expert team lead di Mesir. Dan, pada 2000-05, Arri dipercaya menjadi Country BSS/RAN Manager Nokia di Arab Saudi, yang menangani implementasi dan servis untuk seluruh Arab Saudi. Tahun 2006, ketika Nokia dan Siemens merger, Arri dipercaya memegang posisi Manajer Care Operation. Di posisinya ini, ia membawahkan empat stream manager dan 75 engineer untuk menangani seluruh care operation di Arab Saudi. Kemudian sampai 2009 ia juga merangkap sebagai Zain Iraq Care Manager.

Dijelaskan Arri, tugas dan tanggung jawabnya sekarang sebagai Manajer Teknis Nokia Siemens Network (NSN) Arab Saudi adalah untuk menjamin seluruh proses teknik di dalam produk jasa O&M terhadap pelanggan — tiga operator besar di Arab Saudi. Jadi, jika ada pilot project atau trial, Arri yang bertanggung jawab supaya sukses secara teknis untuk seluruh account di Arab Saudi. Atau dalam proses O&M, pelanggan ingin mengetahui multivendor dan introperabiliti antarvendor untuk peralatan yang dimiliki, maka Arri harus memberikan informasi mengenai jasa dan servis yang dimiliki NSN kepada mereka serta mengimplementasikannya demi kepuasan pelanggan.

Keberhasilan yang pernah dicapai Arri selama di NSN, antara lain mendapat penghargaan dari pelanggan karena sukses dalam pelaksanaan ibadah haji dan Ramadan, memberikan solusi ketika terjadi masalah besar di dalam pelaksanaan ibadah haji 1426H, dan mampu memberikan nilai lebih kepada pelanggan, sehingga kerja sama semakin baik demi suksesnya event-event besar. “Untuk meniti karier di Saudi, Anda harus memiliki seseorang yang percaya kepada anda. Kepercayaan adalah kuncinya. Dan untuk mendapatkan kepercayaan itu, Anda harus sabar dan kerja keras,” ungkap Arri menandaskan lagi keberhasilannya berkarier selama 12 tahun di Timur Tengah. “Saya belum tahu kapan pulang ke Indonesia. Kalau pulang, saya ingin bekerja di operator besar, seperti Telkom atau Indosat,” tambahnya.

A. Mohammad B.S. & Darandono

Christanto Suryadarma:

Bermimpi Mendidik Generasi Muda Berkiprah di Tingkat Dunia

“Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana. Tapi saya punya mimpi untuk bisa terbang ke banyak tempat,” ujar Christanto Suryadarma membuka wawancara. Rupanya, keterbatasan ekonomi dan keinginan mewujudkan mimpi telah memacunya belajar lebih giat dan tetap bersemangat. Dan, mimpinya bisa naik pesawat terlaksana pertama kali pada 1986, ketika ia terpilih mewakili almamaternya, Universitas Satya Wacana, untuk program pertukaran mahasiswa dengan universitas di Jepang. Setelah itu, Christanto biasa terbang ke luar negeri. Bahkan, sejak 1998 ia sudah ngendon di beberapa negara tempatnya berkarier.

Setelah menyelesaikan kuliah bidang elektro, pria kelahiran Mojokerto, 8 April 1964, ini bergabung dengan PT Astra Graphia (AG), sebagai spesialis software. Kariernya pun terus merangkak. Dua tahun kemudian ia diangkat menjadi Manajer Solution Centre, kemudian menjadi Manajer Country Sales Support dan merangkap sebagai Manajer Penjualan.

Setelah 6 tahun di AG, Christanto lalu bergabung dengan Keris Group sebagai wakil presdir dan Direktur Pengembangan Bisnis. Namun, di situ ia hanya bertahan dua tahun. Ketika Intel Corp. akan membuka kantor perwakilan di Indonesia, Christanto diminta menjadi Manajer Country Architecture. Dan, pada 1998 suami Seto Lily Kartika Sari ini ditugaskan Intel mengelola Intel Australia Selandia Baru. Sebagai Manajer Country Architecture Intel ANZ, Christanto ikut mengembangkan konsep dan ide untuk pembentukan Intel Solutions Group. Dua tahun kemudian, ia diangkat sebagai Manajer Grup Solutions Group, memimpin tim Intel untuk menjalin kerja sama dan bisnis dengan para pelanggan dan mitra utama di seluruh ANZ. Setelah empat tahun di ANZ, Intel menunjuk Christanto sebagai Manajer Bisnis Regional untuk OEM di kantor pusat Intel Asia Pasifik di Singapura. Setahun kemudian, Intel memberikan tugas yang lebih besar lagi: sebagai Manajer Regional OEM Asia Pasifik.

Setelah 6 tahun dengan Intel, ayah Yachinta Maria Suryadarma dan Nancy Elisabeth Suryadarma ini memutuskan bergabung dengan Microsoft Asia Pasifik sebagai Manajer Bisnis Senior OEM. Setahun kemudian, ia dipromosikan sebagai Direktur Regional Asia Pasifik Bisnis OEM, dengan cakupan wilayah Asia Pasifik, Jepang dan India. Tugas dan tangung jawabnya, memimpin Tim Penjualan & Pemasaran OEM dalam pengembangan kerja sama dengan salah satu dari Top 4 OEM di wilayah Asia Pasifik, termasuk ANZ, India dan Jepang (APJ).

Sebagai profesional andal, segudang prestasi telah diukir penikmat musik klasik dan jazz ini. Antara lain, Top Performance Astra Graphia, Intel Best Architecture Manager Presenter Award, Intel Solution Award untuk Asia Pasifik (empat kali), dan Intel 2000 in 2000 Award. Adapun di Microsoft, prestasinya adalah mendapatkan Microsoft Asia OEM Ryder Cup Award, Microsoft OEM CSI Award FY2008 dan Microsoft OEM Most Valuable Player Asia Pacific 2008.

Apa kunci suksesnya dalam meniti karier? “Bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pekerjaan atau bersikap profesional, bekerja keras, selalu berpikir terbuka, dan mau terus belajar,” kata Christanto menegaskan. “Mimpi saya ingin bisa melatih dan mengembangkan next generation business leaders with strong values, integrity and inclusivity. Dan kalau masih ada kesempatan, ingin menangani bisnis yang lebih besar. Khususnya pada level yang lebih tinggi dan lebih luas, worldwide,” tambahnya.

Karena itulah, Christanto belum berpikiran pulang kampung dalam waktu dekat. Ia memperkirakan akan balik ke Indonesia 10 tahun lagi. Dan, jika suatu saat bisa kembali ke kampung halamannya, ia ingin menjadi konsultan. “Menjadi business coach dan trainer menjadi salah satu cita-cita saya kalau pulang ke Indonesia. Saya akan sangat bahagia kalau banyak anak muda Indonesia yang mampu menjadi pemimpin di tingkat regional dan dunia,” katanya tandas.

A. Mohammad BS & Moh. Husni Mubark

Gatot Susilo:

Mengasah Ilmu

di Bidang Network

Tidak terasa 13 tahun sudah Gatot bekerja di Alcatel Lucent Canada Inc. Kesejahteraan yang cukup dan tantangan pekerjaan yang menarik membuat dia beserta keluarga masih betah bertahan di sana. Bahkan, belum lama ini ia mendapat posisi baru sebagai Business Development Professional dengan level Manajer Senior Divisi Internet Protocol.

Di posisi barunya ini ia bertugas sebagai konsultan, desainer jaringan, dan menyiapkan proof of concept guna memberikan solusi terbaik bagi para klien utama, plus wireless customer di kawasan Amerika Utara dan Amerika Latin untuk migrasi jaringan ke IP/MPLS packet network. “Ini merupakan kegiatan prapenjualan, di mana kami harus meyakinkan pelanggan akan solusi kami dan bagaimana kami berbeda dari kompetitor,” ujar penyandang B.Eng bidang Computer Engineering dari University of New Brunswick (1996) ini. Yang membanggakannya, hampir 90% pelanggan yang ia tangani akhirnya membeli solusi yang ia tawarkan, dan sampai sekarang pelanggannya selalu puas dengan penjelasan solusi yang ia berikan.

Diungkapkan Gatot, ia meniti karier mulai dari desainer software R&D produk ATM di Newbridge Networks Inc. (November 1997). Pada 2000, Newbridge diakuisisi oleh Alcatel yang disusul merger antara Alcatel dan Lucent, dan menghasilkan Alcatel-Lucent. “Saya kemudian menempati beberapa posisi sebagai desainer software senior selama 10 tahun di R&D di produk unit ATM, DSL, dan Service Router,” ujarnya. Tak heran, ia telah mendesain dan mengimplementasi beberapa protocol standard untuk produk ATM dan DSL. Bahkan, selama di R&D ia juga telah berhasil menyiapkan 7 paten atas nama Alcatel Lucent Canada Inc. dan memberi andil besar dalam pengembangan protocol standard ATM-MPLS Network Interworking dalam standard body ATM Forum.

Ia merencanakan dalam jangka pendek akan mendalami bidang long-term evolution (LTE) – generasi mutakhir di bidang wireless network. Adapun untuk jangka panjang, ia ingin membangun jaringan yang luas dan menimba pengalaman dari operator di Amerika Utara dan Amerika Latin yang mempunyai kultur hampir sama dengan Indonesia. ”Siapa tahu bisa bermanfaat buat saya bila kelak ingin pulang dan meniti karier di Indonesia. Tentunya setelah anak-anak saya kuliah,” ujar peraih gelar M.Eng dari Carleton University, Kanada (1997) ini.

Menurutnya, pelajaran yang sangat berkesan selama bekerja di Kanada adalah bisa menghargai orang, tidak peduli dari jenis pekerjaan dan levelnya. ”Di sini tidak ada kasta, di mana orang diperlakukan sewajarnya sebagai manusia dan fungsinya. Orang Jawa bilang diwongke. Bos tidak harus dilayani, tetapi sebaliknya bos harus akomodatif dengan bawahannya, sehingga pekerjaan terlaksana dengan baik,” ujar lulusan diploma bidang Computer Science dari Universitas Brawijaya, Malang (1991) ini.

Yuyun Manopol & Darandono

Iswandaru Widyatmoko:

Ahli Transportasi Jalan Raya di Negeri Pangeran Charles

Perjalanan hidup dan karier Iswandaru Widyatmoko tampaknya banyak dipengaruhi faktor kebetulan. Awalnya, setelah mengantongi titel sarjana teknik sipil dari Institut Teknologi Bandung (1992), dengan spesialisi rekayasa transportasi, Iswandaru langsung melanjutkan studi S-2 di bidang international highway engineering di University of Birmingham, Inggris. Pada 1998, ia menyelesaikan kuliah doktor di Sheffield Hallam University. “Selama melaksanakan program S-3, selain menjadi dosen tamu, saya juga bekerja sampingan (kerja paruh waktu) mengerjakan proyek untuk industri di Scott Wilson,” kata Iswandaru tentang Scott Wilson yang termasuk dalam 10 besar konsultan transportasi jalan raya di Inggris, baik dari segi jumlah karyawan maupun turn-over.

Kebetulan, perusahaan konsultan transportasi jalan raya yang mempunyai lebih dari 80 cabang di seluruh dunia, dengan total staf sekitar 6.000 orang, itu sedang membutuhkan orang yang ahli di bidang material. Dan kebetulan pula, suami Bety Navitasari ini memiliki kualifikasi tersebut. Jadilah Iswandaru memulai kariernya di sana. Bahkan, tahun 1999 ia sengaja pindah ke Nottingham dan memulai karier di Scott Wilson sebagai Materials Engineer.

Karena prestasi bapak dua anak ini dianggap sangat baik, hanya dalam kurun setahun sudah dipromosikan menjadi Senior Materials Engineer. Setelah itu, kariernya terus menanjak ke Principal Engineer, dan pada 2006 ditunjuk sebagai Associate Director di bidang Material dan Inovasi. “Kantor kami yang di Nottingham berkembang cukup pesat. Ketika saya masuk hanya ada sekitar 25 orang staf. Saat ini stafnya sekitar 200 orang,” ucap Iswandaru.

Dengan posisinya sekarang, kelahiran 8 Desember 1968 ini bertanggung jawab menganalisis bahan konstruksi, memantau agar keselamatan kerja, kualitas dan dampak lingkungan dari kegiatan laboratorium tetap terkendali serta terakreditasi baik secara nasional maupun internasional. Termasuk, mengelola agar target business plan bisa tercapai dan profitabilitasnya terjaga. “Selama menjabat Associate Director, saya berhasil mencapai, bahkan melampaui, target business plan untuk setiap tahun anggaran. Beberapa kali saya dikirim perusahaan ataupun klien untuk menyampaikan presentasi teknik, seperti ke Kanada, Kopenhagen, Paris dan Amsterdam, tentang keberhasilan penelitian material baru ataupun unggulan, baik di forum profesional teknik sipil maupun di saat rapat proyek dengan stakeholders,” papar Iswandaru.

Proyek yang berhasil diselesaikannya, antara lain, spesifikasi teknik untuk meningkatkan kualitas lapisan aus di landas pacu Hong Kong International Airport (2007), review desain manual dan spesifikasi nasional untuk perkerasan jalan raya di Inggris, dan beberapa spesifikasi lapisan perkerasan untuk proyek jembatan gantung di Ingria dan Cina. Ia juga memberikan jasa konsultasi untuk berbagai proyek perkuatan landas pacu dan sirkuit balapan di Afrika Selatan, Rusia dan Timur Tengah.

Atas beberapa keberhasilan yang dicapainya itu, Iswandaru pun beroleh sejumlah penghargaan. Antara lain, Howard Medal dari The Institution of Civil Engineers (2009), institusi insinyur teknik sipil yang bermarkas di London untuk karya ilmiah berdasarkan hasil penelitian tim peneliti gabungan antara Scott Wilson, Transport Research Laboratory, Shell Bitumen dan Lafarge Aggregate. Pada 2007, Iswandaru mendapat penghargaan sebagai Fellow dari Institute of Asphalt Technology—institusi profesional di bidang teknologi aspal, yang merupakan pengakuan tertinggi atas kompetensi profesional di bidang teknologi aspal. Dan, tiga tahun terakhir, ia menjadi anggota komisi pengolahan British Standard untuk subject area bituminous materials (aspal), sebagai perwakilan Chartered Institution of Highways and Transportation—institusi profesional di bidang teknik transportasi dan jalan raya.

Boleh dibilang, Iswandaru sukses meniti karier di Inggris. Karena itu, ia menyarankan profesional dari Indonesia yang berminat berkarier di Inggris agar mengenal karakternya. Menurutnya, di Inggris orang dinilai bukan dari penampilan, koneksi maupun gelar akademis. Melainkan dari komitmen, kemampuan dan prestasinya. Juga, menjunjung tinggi profesionalitas dan budaya orang Inggris yang tidak sungkan memberikan apresiasi. “Mereka menghargai ide-ide baru yang diberikan, memberikan beban pekerjaan yang proporsional, dan memberikan penghargaan yang sesuai,” ujar Iswandaru.

Kendati telah sukses berkarier di negeri orang, tidak berarti Iswandaru lupa kampung halaman. Ia merencanakan dalam waktu 2-3 tahun ke depan akan kembali ke Indonesia. “Saya akan fokus ke sekitar bidang konsultasi, penelitian atau akademis, sesuai dengan pengalaman kerja selama di Inggris,” ujarnya. “Dream saya cukup sederhana, ingin bisa berkontribusi positif melalui bidang keahlian untuk masyarakat dan lingkungan di mana pun saya berada, sambil menikmati hari tua yang penuh kedamaian,” tambahnya.

A. Mohammad B.S. & Darandono

Barry Aryanasvara:

Berani Bertindak

di Luar Pakem

Meski cita-cita Barry Aryanasvara menjadi dokter kandas, bukan berarti masa depannya suram. Suratan takdir berkata lain. Siapa sangka Barry yang dulunya kesulitan biaya untuk kuliah di fakultas kedokteran, kini justru menjadi eksekutif top di perusahaan global. Tepatnya, awal tahun 2010 ia menduduki jabatan baru sebagai Direktur Industrial Solution GE Energy Asia Tenggara yang bermarkas di Singapura.

Dilihat dari latar belakang kariernya, perjalanan Barry bak pelari sprint. Saking cepatnya, teman-teman seangkatannya pun kesalip jabatan dan prestasinya. Lihat saja, setamat kuliah dari jurusan Teknik Elektro Universitas Atma Jaya, Jakarta, ia bekerja di Asea Brown Boveri sebagai sales engineer. Selama tiga tahun di perusahaan itu, ia bersama timnya mampu mencapai pertumbuhan bisnis 20% per tahun. Lalu, pada 1998 ia pindah ke GE Industrial Systems sebagai Country Manager Indonesia, hingga 2004. Hebatnya, dalam kurun waktu bersamaan (1998-2002) ia juga menjabat sebagai Manajer Regional Asia Pasifik GE Industrial Systems. Prestasinya saat itu: mampu menumbuhkan bisnis dengan rata-rata 15% per tahun, terutama di Australia, Cina, Korea dan Jepang. Barry juga ikut memimpin proses integrasi join ventura dengan Toshiba Corp. Barulah tahun 2004 ia ditempatkan di Singapura sebagai Country Manager GE Advanced Materials untuk Singapura dan Malaysia, hingga tahun 2006.

Setelah hampir 8 tahun mengabdi di GE, rupanya Barry ingin menjajal kesempatan lain. Pria kelahiran 12 September 1972 ini melabuhkan hati pada Invensys, perusahaan otomasi proses, terutama untuk industri pertambangan migas dan kimia. Di perusahaan ini ia dipercaya sebagai Direktur Layanan Regional Asia Pasifik. Tugasnya mereorganisasi dan membentuk bisnis baru, yaitu: solusi layanan untuk Asia Pasifik. Lagi-lagi ia sukses dan mampu membukukan pertumbuhan bisnis sebesar 46% di tahun pertama.

Tahun 2008, Barry memutuskan pindah ke Danaher untuk memimpin bisnis global di salah satu anak perusahaan Grup Danaher (konglomerat di Amerika Serikat). Jabatannya sebagai Direktur Pengelola Danaher Singapura. Keberhasilannya terletak pada perbaikan profitabilitas dan sistem tata manajemen perusahaan. “Posisi saya di Danaher memerlukan effort lebih banyak, karena tanggung jawab saya bukan hanya dari sisi komersial atau penjualan, tapi juga dari sisi operasional manufaktur,” ujar suami Yeanne ini.

Rupanya, kecintaan Barry pada GE tidak luntur. Buktinya, setelah sempat hengkang dua tahun, ia pun kembali ke GE, tepatnya tahun 2010. Maka, awal tahun ini ia didapuk menjadi Direktur Industrial Solution GE Energy Asia Tenggara. Selama bekerja di GE, ia mengaku belajar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan dan sistem meritokrasi, di mana kenaikan karier tergantung pada kinerja masing-masing orang.

Menurut Barry, posisinya sekarang bisa dicapai oleh siapa saja. “Jangan cepat putus asa, selalu dicoba dulu. Saya paling merasa kasihan pada orang yang belum mencoba, tapi sudah bilang tidak bisa,” kata profesional yang siap pulang ke Indonesia kapan saja jika dibutuhkan oleh perusahaan di sini. Toh, ia meyakini bahwa kesuksesan tidak semata-mata bermodalkan intelektualitas. Melainkan gabungan kapabilitas, usaha keras dan keberuntungan.

Sebagai profesional, Barry memegang dua prinsip penting dalam bekerja. Pertama, walk the talk dan konsisten terhadap tindakan. Pasalnya, lanjut Barry, sangat sulit dan membingungkan jika kita harus mengikuti seorang pemimpin yang kerap berganti haluan. Itulah sebabnya ia berusaha menerapkannya sejak awal bergabung dengan GE.

Prinsip kedua, berusaha untuk berani berpikir dan bertindak keluar dari pakem yang sudah ada. Artinya, tidak malu mencoba hal-hal baru. “Akan lebih mudah berkarier di bidang yang semua orang tahu mengenai potensinya. Tapi the real test adalah kita bisa mengatasi tantangan yang sangat sulit dan tidak populer bagi orang lain,” ia mengungkapkan.

Di mata David Utama, CEO GE Indonesia, sosok Barry adalah orang yang stabil dan tidak meledak-ledak. “Barry itu orangnya cukup detail dan cara eksekusinya bagus. Kebetulan, karakter tersebut cocok untuk memegang GE Advanced Material di Singapura,” kata kolega Barry ini.

Eva Martha Rahayu/Rias Andriati

Andi Chandra:

Mantan Guru SMA Jadi Ekspatriat Top

Awalnya, Andi Chandra hanya ingin menjadi guru SMA. Ia pun benar-benar pernah menjadi guru matematika di SMA Regina Pacis, Jakarta. Namun, Tuhan punya rencana lain. Suatu hari ia mendapat beasiswa untuk studi MBA di Amerika Serikat. Sekembali dari Negeri Abang Sam, ia bukannya melanjutkan profesi gurunya, tetapi memilih bekerja sebagai eksekutif di perusahaan swasta.

Belakangan, sebagai top executive, ia tak hanya dipercaya menjabat posisi bergengsi di Tanah Air, tetapi juga pernah berkarier di negara lain seperti Belanda, Cina dan Thailand. Sekadar diketahui, ia sempat menjabat sebagai Presdir Sara Lee Household & Body Care di Cina dan Asia Pasifik, serta sebagai Direktur Commercial Support Sara Lee di Belanda. “Penempatan kerja di luar negeri ini lebih banyak penugasan Sara Lee, dan saya percaya tuntunan tangan Tuhan yang akan menentukan ke mana selanjutnya, termasuk kapan harus kembali ke Indonesia,” ujar Andi Chandra, yang sejak Januari 2009 menjadi General Manager Sara Lee Thailand.

Jabatan terakhir di Thailand ini sama sekali tidak ringan. Di sini, ia bertanggung jawab sepenuhnya untuk pengembangan produk baru, termasuk penjualan dan pemasaran Moccona, di pasar kopi instan Thailand. Moccona merupakan produk andalan Sara Lee di sana. Di luar itu, perusahaan ini juga menjual beberapa produk lain seperti pewangi mobil dan ruangan Ambi Pur, pembersih rumah Kiwi Kleen dan semir sepatu Kiwi. Pencapaian tahun 2009 yang paling berkesan bagi perusahaan ialah Moccona menjadi merek nomor 3 terbesar di pasar kopi instan di Thailand. Dengan prestasi ini, berarti peringkat Moccona naik satu level dari sebelumnya selama bertahun-tahun di nomor 4. ”Tentu saja, aspirasi berikutnya ialah membuat Moccona menjadi brand No. 2 selama penugasan saya di Thailand ini,” ujar mantan Presdir Sara Lee Indonesia ini.

Menurut Andi, membangun karier di negeri orang tidaklah mudah. Diungkapkannya, kiat yang paling penting adalah selalu terbuka untuk menerima hal-hal baru, dan senantiasa berpikir positif. ”Saya sungguh diberkati mendapatkan dan berhasil membentuk tim lokal yang baik dalam waktu singkat, karena keberhasilan saya bergantung pada kemampuan kerja tim, bukan kemampuan personal,” kata penyandang MBA dari Washington State University, Pullman, AS (1993) ini. Menurutnya, penting sekali memfokuskan diri menggarap sisi people dalam bekerja di negara lain. Alasannya, orang lokal lebih mengerti budaya, cara kerja dan kebiasaan di negara tersebut. ”Saya cuma satu-satunya ekspatriat di Sara Lee Thailand, dan semua karyawan lainnya (200 orang) adalah orang lokal,” ujar sarjana pertanian dari Institut Pertanian Bogor ini (1990).

Bagi Andi, bekerja di berbagai di mancanegara memberikan banyak pengalaman dan pelajaran yang menarik. ”Yang jelas, ada kesempatan melihat dan mengalami kebudayaan lain dalam jangka yang panjang, termasuk mempelajari bahasa lain,” ungkap pria yang mengaku sedang belajar bahasa Thai ini.(*)

Yuyun Manopol & Wini Angraeni

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

9 Responses to “Profesional-profesional Hot Indonesia di Medan Global”

  1. Purbo says:

    Luar Biasa, membaca artikel ini seperti mendapatkan inspirasi untuk berbuat lebih karena bangsa indonesia sesungguhnya memiliki SDM yang berkualitas tinggi, semoga kami kaum muda bisa mengikuti jejak mereka, yang akan menjadikan Indonesia lebih maju dan sejahtera di masa mendatang.

    Bravo Professional Indonesia

  2. Sniper Elite says:

    Oranganya pintar iya, sukses iya, tapi nggak cerdas karena tidak ada satupun yang mempunyai usaha sendiri, masih bekerja untuk memperkaya orang lain….Coba kalo semua orang ntu berani berwirausaha sendiri dan mengaplikasikan ilmunya buat usahanya sendiri, pasti akan sangat mengurangi pengangguran di Indonesia

  3. TKI_Jeddah says:

    GREAT ARTICLE !!!
    Tolong juga bikin tulisan bahwa “TKI at Middle East are not just driver and maid”
    1. Satria Agung Purwanto, Vice President Al Ahli Bank, Jeddah
    2. Muktisjah Ramli, takaful licensed, Al Jazirah Takaful, Jeddah
    3. Prof Bambang Brojonegoro & Kunrat Wirasubrata, Islamic Development Bank, Jeddah.
    4. Wahyudi Palwono, SAP FICO Business Analyst, Jeddah
    5. Angkoso, General Manager Abdul Latif Jameel Hotel Group, Mekah
    6. Ihsam Sudarjat & Alex Hanief Isyna, Drilling Specialist, Qatar Petroleum
    7. Henry Marthalean, internal auditor licensed, Qatar Gas
    8. Hanief, construction consultant, Dubai
    dll

  4. Bravo buat profesional-profesional kita dinegri
    seberang, terutama dinegara adi daya.
    Salut buat swa, mungkin masih banyak warga negara
    Indonesia yang maju justru dinegara orang. Buat lagi laporan khusus dari negara Eropa, Afrika,Timur tengah etc…
    Salam buat Adiku Yayan Irianto.

  5. sofandre says:

    Semoga para profesional tetap berada di jalan yang “benar” dan mampu mencerdaskan dan memajukan anak bangsa. Terima kasih.

    Ijin dishare ya.

  6. TKI Jeddah says:

    Jangan lupa juga dengan Indofood yang berkibar di Middle East.Ada Noor Wahyono di Jeddah, Raharyono di Syria,Agus susanto di Kenya,dan banyak lagi yang lainnya

  7. TKI Qatar says:

    He…he…dollar memang nikmat euy…Salam buat alumni ITB around the world

  8. yadi says:

    bangga, itulah yang ada di benak saya…. alhamdulillah ternyata orang indonesia banyak yang wah..wah..wah… saya angkat jempol….

  9. I had a dream to make my company, but I did not earn enough amount of money to do this. Thank God my close colleague suggested to utilize the mortgage loans. Therefore I took the student loan and made real my old dream.

Leave a Reply

Security Code: