Thursday, March 4th, 2010
oleh : Yuyun Manopol
“ Titel resmi saya adalah Dean of Hay Group Global Research Center for Strategy Execution,†ujar Andreas Raharso lewat surat elektronik. Ini jabatan bergengsi di pusat riset global milik Hay Group yang berbasis di Singapura. Menurutnya, posisi itu setara dengan CEO, tetapi di kalangan peneliti, penyebutan CEO atau managing director jarang digunakan. Posisi yang diraihnya satu tahun yang lalu itu menempatkannya sebagai orang Asia pertama yang berhasil mencapai jabatan itu. Maklum, sebelumnya The Hay Group Global sangat didominasi profesional dari Eropa atau Amerika.
Dengan posisi itu, ia bertanggung jawab atas riset yang dilakukan Hay Group di benua Asia, Eropa, Afrika, Australia dan Amerika (di 85 kota yang tersebar di 47 negara). Hay Group Global Research Center (HG-GRC) adalah pusat riset yang didanai Hay Group dan Pemerintah Singapura (50:50) dengan tujuan menjadikan Singapura sebagai pusat penelitian dunia. Kliennya tak tanggung-tanggung: kalangan perusahaan raksasa dunia seperti Microsoft dan Unilever, plus para pemimpin negara seperti Perdana Menteri Inggris dan Jepang, serta Presiden Prancis dan Rusia. Yang paling membanggakannya, saat ini HG-GRC dipercaya membantu para menteri Pemerintah Obama dan staf Gedung Putih untuk lebih mengefektifkan organisasi dan eksekusi strategi pemerintahan Amerika Serikat.
Melihat prestasinya saat ini, tak akan ada yang menyangka bahwa pria berusia 44 tahun ini pernah tidak naik di kelas III SMA. “Saya tidak pernah malu dengan ini. Ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa pun yang pernah gagal, bahwa kunci untuk bangun kembali terletak pada bagaimana Anda melihat kegagalan itu sendiri,†ujarnya. Terbukti, pencapaiannya di puncak perusahaan konsultan manajemen global yang didirikan pada 1943 ini terhitung singkat. Mantan dekan di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, ini bergabung dengan Hay Group pada Oktober 2008 sebagai konsultan senior. Dan, pada Maret 2009 posisi prestisius ini berhasil direngkuh penyandang gelar MBA di bidang corporate finance & management science dari University of Texas at San Antonio, AS, (1993) dan Ph.D pemasaran dari Universitas Indonesia (2007) ini.
Menurut Andreas, jabatan ini diberikan kepadanya karena keberhasilannya membangun pusat riset skala global berdasarkan konsep Open Research yang terdiri dari tiga pilar, yaitu radical collaboration, integrative thinking, serta multi-context and multi-cultural environment. “Konsep ini muncul dari penelitian saya bahwa banyak pusat riset di dunia yang gagal walaupun didukung dana yang besar. Mestinya, pusat riset dunia dibangun berdasarkan prinsip open mind dan open heart,†katanya. Ia mengklaim, saat ini 85% dari target yang ditetapkan sudah terwujud, bahkan terlampaui.
Singkat kata, prestasi Andreas adalah membangun dan mengendalikan state-of-the-art riset di berbagai belahan dunia lewat markasnya di Singapura. Sebagai gambaran, pusat risetnya melakukan penelitian pada lima bidang: bisnis keluarga (berpusat di Madrid, Spanyol), merger & akuisisi (Paris, Prancis), manajemen performa strategis (Frankfurt, Jerman); peran sentra korporat (London, Inggris) dan trasformasi budaya (Boston, AS). Di samping itu, ia memiliki collaborative researchers yang tersebar dari Mumbai (India) sampai Sao Paolo (Brasil). “Ini bukan hal yang mudah, bukan saja tantangan cultural yang sangat berbeda, tapi juga disiplin ilmu yang berbeda-beda, dan juga perbedaan waktu,†ujarnya. (*)
Artikel Terkait
riset hasil penelitian di bidang pertanian dan perkebunan apakah tidak termasuk dalam sasaran Riset Hay Group? karena banyak hasil penelitian yang bagus untuk mendukung ekonomi pertanian di Indonesia yang menjadi hiasan di perpustakaan riset atau Perguruan Tinggi dll.