Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Taburan Bintang Indonesia di Mancanegara

Thursday, March 4th, 2010
oleh : Henni T. Soelaeman


Sejumlah anak negeri mampu menorehkan prestasi gemilang di jagat global. Mereka sukses merentas karier di berbagai ranah, bahkan menjadi leader di berbagai institusi besar dunia. Bagaimana mereka menggapainya?

Dibanding jumlah penduduk yang menurut data Badan Pusat Statistik mencapai 231 juta orang, anak bangsa yang sukses bersaing di pentas global memang ibarat sebuah noktah. Toh, kiprah mereka di kancah internasional menunjukkan bahwa sejatinya kemampuan sumber daya manusia kita tidak kalah dari bangsa lain. Pasalnya, mereka bukan sekadar bekerja. Mereka memegang posisi strategis, tokoh kunci, dan decision maker di perusahaan papan atas, perguruan tinggi ataupun lembaga riset prestisius. Mereka telah menjadi bagian dari pusaran eksekutif global yang berkarier melintasi batas-batas negara.

Andreas Raharso, misalnya. Lulusan program doktor bidang Manajemen dari Universitas Indonesia ini tercatat sebagai orang Asia pertama yang menduduki posisi CEO The Hay Group Global Bidang Riset dan Pengembangan yang berkantor di Singapura. Tak kalah bersinar, Antonius Barry Aryanasvara, yang saat ini petinggi di GE Energy Asia Tenggara sebagai Direktur Industrial Solution. Sementara itu, Ilham Arief Bachtiar menduduki posisi Manajer Test/Defect di Nokia Siemens Networks Malaysia.

Di ranah yang berbeda, prestasi Yanuar Nugroho membuat kita terkagum-kagum. Kelahiran Januari 1972 ini meraih penghargaan sebagai Staf Akademisi Terbaik 2009 di Universitas Manchester, Inggris, almamaternya saat ia merampungkan program Ph.D. Saat ini Yanuar tercatat sebagai Research Associate Manchester Institute of Innovation Research (MIOIR), Manchester Business School (MBS), University of Menchester. MBS adalah sekolah bisnis terbesar di Inggris. Program Ph.D di MBS nomor satu di dunia tahun 2008 dan 2009 berdasarkan penilaian Financial Times. Sementara MIOIR adalah institut kajian inovasi terbesar di Inggris.

Yang juga mengesankan kiprah Ismail Fahmi. Team Leader/Senior Application Developer Digital Library Department University Library of Groningen, Belanda ini bertugas mendesain aplikasi Web dan mengimplementasikannya. ”Saya ingin berkontribusi dengan membangun sistem reporting yang menjadi salah satu pilar perusahaan,” ungkap Ismail.

Sebenarnya, tak sedikit profesional asal Indonesia yang selama puluhan tahun sudah berkiprah di luar negeri. Tenaga dan pemikirannya banyak dipakai institusi dunia. Dalam catatan Direktur PT Amrop Indonesia, Pri Notowidigdo, tren yang semakin mengglobal saat ini sangat memungkinkan para profesional muda di negara ini untuk berkiprah di luar negeri. “Tak sekadar mencari pengalaman, mereka memang melihat potensi yang lebih besar untuk belajar, mencoba hal-hal baru, dan memacu diri untuk bisa berkembang secara pribadi,” ungkapnya.

Generasi muda yang disebut Pri sebagai generasi Y ini memiliki passion yang sangat kuat, senang menerima tantangan untuk pengembangan dirinya, dan berani maju. “Dan, satu hal, belum tentu juga mereka menguasai bahasa asing,” ujarnya. Berkaitan dengan skill ini, Menteri Luar Negeri RI Marti M. Natalegawa dalam suatu kesempatan mengungkapkan pada media bahwa saat ini makin banyak perusahaan luar yang melirik pekerja ahli dari Indonesia. Karena itu, ia berharap para profesional di dalam negeri meningkatkan keterampilannya agar bisa bersaing dalam kompetisi global.

Menurut Pri, para profesioanal muda saat ini merasa bahwa bekerja di luar negeri lebih menantang. “Anak zaman sekarang out of the box. Mereka tidak bisa lagi bekerja dengan template,” katanya menerangkan. Pri mencontohkan kiprah putri tunggalnya, Nikita Notowidigdo. Usai mengambil dua diploma di Australia, dia memilih mencari pengalaman bekerja di luar negeri. “Dia merasa bekerja di luar negeri lebih menantang,” katanya.

Berkarier di luar negeri, terutama di negara maju, sering kali juga menambah nilai positif dalam perjalanan karier selanjutnya. Banyak di antara eksekutif yang mempunyai pengalaman kerja di luar negeri, setelah pulang kandang, memperoleh kedudukan yang mapan dan kariernya melejit dengan pesat. Karena itu, bekerja di luar negeri merupakan salah satu strategi karier yang layak dipertimbangkan.

Peluang menjadi eksekutif global juga terbuka bila meniti karier di perusahaan multinasional papan atas, sebut saja Citibank, General Electric, Microsoft, Unilever, dan perusahaan papan atas lainnya. Jenjang karier yang ditawarkan tak sebatas menjadi petinggi di Indonesia, tetapi juga regional dan global. Sebut saja, Andreas Ruddy Diantoro yang didapuk menjadi Direktur Pengelola Regional Dell Asia Pasifik dan Jepang setelah lama berkarier di Hewlett-Packard (beberapa nama lain, bisa dilihat pada Tabel).

Tak hanya profesional, peneliti dan akademisi kita juga banyak yang bersinar di luar negeri. Iwan Jaya Azis boleh jadi sedikit dari orang Indonesia yang mampu menunjukkan kehebatannya dengan menjadi Guru Besar Cornell University. Begitu juga dengan Dr. Etin Anwar yang berkibar sebagai Associate Professor dan mengajar di Hobart & William Smith Colleges Geneva, New York. Ibu dari tiga anak yang menyelesaikan S-1 di IAIN Bandung ini dikenal memiliki kompetensi besar di bidang Islam dan keterkaitannya dengan permasalahan gender.

Banyak jalan menuju Roma. Bila ditelisik, ada tiga pola jalur yang dilakukan para profesional kita agar bisa bersinar di mancanegara. Jalur pertama, bergabung dengan perusahaan multinasional. Cakupan global akan memberi kesempatan dan peluang berkarier yang luas, tentunya bila memiliki kapasitas dan kemampuan berkarier di tingkat global. Roy Soeradji, misalnya. Karier globalnya dimulai ketika ia bergabung dengan PT Coca-Cola Indonesia. Kelahiran 21 Agustus 1966 ini mengawali karier di perusahaan multinasional itu sebagai Manajer Operasional Indonesia, khususnya Sumatera. Kariernya terus menanjak. Sampai akhirnya ia dipercaya mengisi posisi Direktur Operasioanl Coca-Cola Global di Shanghai, Cina. Inilah yang menjadi landasan bagi MBA jurusan Pemasaran dari Universitas Portland, Amerika Serikat ini masuk ke pusaran eksekutif global. Dalam pandangannya, berkarier di perusahaan multinasional memberi kesempatan lebih membina jaringan internasional. Bagi Roy, kesempatan untuk lebih berkembang, salah satunya masuk dalam jajaran manajamen. Karena itu, ia kemudian menerima pinangan Lotte sebagai Wapresdir PT Lotte Trade and Distribution Indonesia. “Di sini saya mendapat kesempatan masuk area general management dengan exposure yang lebih luas. Visi Lotte besar dan saya mau menjadi bagian dari itu,” ungkapnya.

Demikian juga Barry Aryanasvara. Bermula di GE Indonesia, karier kelahiran 12 September 1972 ini terus menanjak. Ia sempat duduk di posisi Country Manager Indonesia GE Industrial Systems, Manajer Regional Asia Pasifik GE Industrial Systems, Country Manager GE Advanced Materials untuk Singapura dan Malaysia. Tahun 2006 Barry pindah ke Invensys, perusahaan otomasi proses, terutama untuk industri pertambangan migas dan kimia. Di perusahaan ini ia dipercaya sebagai Direktur Layanan Regional Asia Pasifik. Tugasnya mereorganisasi dan membentuk bisnis baru, yaitu: solusi layanan untuk Asia Pasifik. Dan, Barry mampu menumbuhkan bisnis sebesar 46% dalam tahun pertama. Tahun 2008, ia memutuskan pindah ke Danaher – konglomerat yang berpusat di AS, di bidang perdagangan dan manufakturing – untuk memimpin bisnis global di salah satu anak perusahaannya. Danaher mempunyai beberapa pabrik di Asia, antara lain di Malaysia, Cina dan India. Awal 2010, Barry kembali lagi ke GE dengan posisi Direktur Industrial Solution GE Energy Asia Tenggara.

Contoh lainnya lagi, Indrajati Nugroho. Sebelum bergabung dengan Microsoft Indonesia, ia sempat berkarier di PT Zurich Insurance Indonesia, PT Federal Motor Indonesia, dan Honda Astra Engine Manufacturing. Sejak Juli 2008, ia didaulat menempati pos Manajer Layanan SDM Senior Microsoft Asia Pasifik. Tanggung jawabnya, memastikan bahwa layanan HR Strategy dan People Strategy dilaksanakan secara konsisten dan menyeluruh oleh setiap services organization di Asia Pasifik. “Ketertarikan saya bekerja di luar negeri diawali dari keinginan untuk membuktikan bahwa sebagai orang Indonesia, saya juga mampu bersaing di dunia kerja internasional. Kebetulan Microsoft memberi kesempatan untuk pembuktian ini, sesuai dengan filosofi perusahaan, Microsoft is equal employer,” ungkapnya. Contoh lainnya dapat dilihat pada Tabel.

Jalur kedua, sejak awal memang meniti karier di luar negeri. Umumnya, setelah menyelesaikan pendidikan S-1 atau S-2 di luar negeri, mereka bergabung dengan perusahaan papan atas di berbagai belahan dunia. Seperti yang dilakukan Ronald Sutardja. Ia memutuskan bekerja sebagai engineer di AS setamat S-1 Teknik Mesin di University of California, Berkley, lalu M.Sc di bidang yang sama di MIT, serta Master of Manufacturing Management dari Northwestern University, Kellogg Graduate School of Management. Balik ke Indonesia, ia sempat membantu bisnis orang tua sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan Booz Allen Singapura. Ia kemudian bekerja di Sun Microsystem, Singapura, sebelum akhirnya berlabuh di Pengembangan Riset & Bisnis Michelin. Terakhir, Ronald berkarier sebagai Manajer Bisnis Global Marine Infineum Singapore Pte. Ltd., yang menurutnya eksposurnya lebih luas karena ia memegang pasar dunia. Ia lebih banyak berkeliling pasar dunia, bukan hanya Asia. Namun di sini ia tidak lama (2007-2009). “Saat ini saya ingin mengambil kesempatan lebih luas dengan bekerja di perusahaan yang impaknya lebih luas lagi,” katanya.

Jalur ketiga, memiliki segudang prestasi sehingga diincar oleh head-hunter atau mendapat pinangan langsung dari perusahaan yang kemudian ditempatkan di tingkat global. Hartono Sutirman, contohnya. Malang melintang sebagai profesional membuat Philip Morris International (PMI) kepincut. Ia kemudian didapuk menjadi Manajer HR Wave PMI Service Center Europe. Tanggung jawab yang diemban kelahiran 24 Mei 1976 yang alumni Universitas Bina Nusantara ini adalah melakukan pembenahan Departemen SDM PMI di 160 negara.

Apa pun jalur yang ditempuh, berkarier di mancanegara, selain pembuktian bagi kemampuan diri dan pengembangan karier individu, juga bagi kemajuan bangsa di masa mendatang. Iwan jaya Azis berharap, ke depan lebih banyak lagi profesional Indonesia yang berkiprah di luar negeri. Pengalaman dan keahlian yang dikembangkan di negara maju tentu saja dapat ditularkan kepada SDM di Tanah Air. Dalam sebuah kesempatan, Mantan Menristek Kusmayanto mengatakan, betapa pentingnya membuat anak negeri memiliki kemampuan yang mumpuni. Hijrah ke mancanegara adalah upaya efektif untuk meningkatkan kemampuan anak negeri. Indonesia hanya akan maju teknologi dan ekonominya jika terdapat cukup jumlah anak negeri yang berkarier dan berkarya di mancanegara dan berkompetisi dalam brain circulation.

Pri bahkan mengatakan, rata-rata para profesional yang lama merentas karier di mancanegara ketika pensiun kembali ke Tanah Air, memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaganya untuk negeri ini. Bahkan, ada yang ketika kembali ke Indonesia mendapat kepercayaan dari pemerintah atau perusahaan lainnya dengan posisi yang lebih tinggi, karena dipandang memiliki jam terbang dan pengalaman menempati posisi strategis di luar negeri.

Berkarya di negeri sendiri yang pasti sangat didambakan Etin Anwar. “Insya Allah saya pulang. Saya ingin mengabdi di lembaga perguruan tinggi Islam,” kata Etin yang sudah 11 tahun menetap di AS. Keinginan senada dilontarkan Ilham Arief Bachtiar. “Ingin balik ke Indonesia dan buka perusahaan TI sendiri,” katanya berangan-angan. Setiawan Widjojo yang kini tengah merentas karier sebagai Teknolog Produksi Senior Petroleum Development Oman, juga berencana pulang ke Indonesia. “Ingin pulang ke Indonesia tahun 2011 dan bekerja di perusahaan lokal,” ungkap lulusan Teknik Perminyakan Trisakti dan MM bidang Manajemen Internasional dari Prasetiya Mulya ini.

Sementara Hartono bermimpi bisa menjadi head of company sebuah perusahaan besar di Indonesia. Lewat perusahaan itu, dia berambisi memajukan talenta-talenta Indonesia khususnya di bidang TI. “Orang Indonesia itu bagus-bagus. Saya ingin mendorong orang Indonesia supaya mau bertarung tidak hanya di luar negeri tapi juga di dalam negeri,” tuturnya.

Reportase: Herning Banirestu, Siti Ruslina, Darandono, Wini Angraeni, Rias Andriati, Sigit A. Nugroho, Yasir Ahmad Saputra, dan Anugrah Ramadhan

Riset: Dian Solihati

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

Security Code: