Polling

Optimiskah Anda terhadap perekonomian Indonesia ke depan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Agus Martowardojo.


View Results

Loading ... Loading ...

Internet Strategy

Melyana Tjahyadikarta Taslim: Serius di Bisnis, Bersemangat di Seni

Thursday, April 15th, 2010
oleh : Yuyun Manopol


Serius, senang bekerja keras, dan smart merupakan ciri khas wanita bernama lengkap Melyana Tjahyadikarta Taslim ini. Tampaknya, karakter seperti itu pula yang membuat keluarga besarnya menunjuk dirinya sebagai pengelola bisnis keluarga di bidang perbankan dan menempati posisi sebagai Direktur Operasional Bank UIB (Utama International Bank) — bank yang diakuisisi BCA pada Oktober 2008. Saat itu bungsu dari 7 bersaudara ini sempat tak percaya diri duduk di posisi tersebut. Maklum, waktu itu ia masih kuliah di University of San Francisco, AS, dan terpaksa mengambil cuti untuk memenuhi panggilan keluarganya itu.

Wanita kelahiran 22 Maret 1961 ini tumbuh dari keluarga pebisnis Tjahyadikarta. Dan, sejak di bangku sekolah, tepatnya ketika berusia 14 tahun, ia sudah belajar berdagang hasil bumi. Awalnya, hanya sekadar membantu bisnis keluarga. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, jiwa entrepreneurship-nya pun berkembang. “Pada dasarnya saya suka bersosialisasi, dan dengan menjalankan sebuah bisnis saya memiliki kesempatan mengenal banyak orang dari berbagai kalangan,” kata Melyana. “Saya sangat meyakini bahwa kita dapat memetik pelajaran kehidupan dari setiap orang yang kita temui,” ujar istri Marcus Taslim ini.

Karena bakat bisnisnya yang kuat itu pula, kakaknya, Melsiana Tjahyadikarta, pemilik Goldmart, memintanya mengelola Goldmart pada 2007. Ia pun kemudian menjabat sebagai Direktur PT Goldmartindo, pengelola merek Primagold dan Goldmart. Alhasil, selain sibuk mengurusi bank, ia juga terjun mengelola bisnis perhiasan yang didirikan kakaknya bersama rekan-rekan bisnisnya pada 1991 itu. Namun, menurut Melyana, keterlibatannya di bisnis emas bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya, pada 2002-05, ia sempat bergabung dan terjun langsung ke divisi penjualan di ritel modern perhiasan emas itu.

Kini, dialah komandan Goldmart. Sejak 2007 ia mencoba mempertajam citra Goldmart tak hanya sebagai penyedia cincin kawin, tetapi juga produk perhiasan emas 18 karat dengan desain lebih variatif dan trendi. Melyana ingin pula membuat diferensiasi yang jelas antara Goldmart dan toko-toko perhiasan lain yang menyasar kelas menengah-atas. Untuk itu, Golmartindo melakukan pembenahan internal dan upaya perubahan citra, mulai dari meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, memberikan pelatihan, hingga merombak 37 gerai Goldmart yang tersebar di 18 kota di Indonesia. ”Hasilnya menakjubkan,” kata Melyana bangga. Banyak perubahan yang terjadi dalam tubuh organisasi ritel modern perhiasan emas pertama di Indonesia ini. Saat ini, ”Goldmart lebih diposisikan untuk fashion,” ujarnya sambil menjelaskan, merek Primagold dipakai untuk produk emas 24 karat yang desainnya lebih konservatif.

Dengan prestasi dan kepercayaan itulah, hingga kini ia tak merasakan isu-isu gender yang merendahkan kapasitas dan eksistensi wanita di perusahaan.

Pemilik lisensi merek laundry & dry clean dari London, Jeeves of Belgravia (di bawah bendera PT Jeevesindo), dan spa khusus wanita Etoile ini pun tak hanya sukses mengelola Goldmart. Pada 2004 bersama Ayu Dyah Pasha, Musa Widyatmodjo (perancang mode senior), dan beberapa temannya, ia membentuk organisasi usaha yang bercita-cita memajukan seni budaya Indonesia. Di dalamnya terdapat tiga divisi, yaitu Events (menjalankan fungsi sebagai event organizer), Entertainment (memproduksi seni pertunjukan panggung, film dan program acara televisi), dan Education (menyelenggarakan pendidikan nonformal di bidang pengembangan kualitas diri melalui metode seni peran). Ia mengaku ingin mengembangkan seni budaya Indonesia yang memiliki daya saing global dan berkualitas prima, mulai dari kualitas SDM-nya hingga pengelolaannya. Melyana memang unik, meski seabrek kesibukannya di dunia bisnis, ia masih sempat bermain teater.

Kegiatannya yang begitu banyak membuat anak dan suaminya sempat mengeluh. “Sampai-sampai Medi (Madeleine) dan Michelle bercita-cita, kalau besar nanti ketika mereka menikah, mereka ingin menjadi part-timer agar bisa menyisihkan waktu buat keluarga. Itu karena mereka lihat pengalaman yang mereka hadapi,” tutur ibu dari Michelle (21 tahun) dan Madeleine (14 tahun) ini jujur.

Diakuinya, tak mudah menyisihkan waktu untuk keluarga. Ia pernah mengalami masa-masa sulit dalam usahanya menyeimbangkan perusahaan dan keluarga. Namun, ia merasa beruntung memiliki teman-teman dan lingkungan yang senantiasa mendorongnya ke arah pengembangan kualitas hidup. “Hal semacam ini kan tidak ada sekolahnya,” kata Melyana yang mulai memprioritaskan waktu untuk keluarga ketika usianya menginjak 40 tahun.

Menurutnya, pengalaman dan keinginan mencapai keseimbangan hidup adalah sekolah terbaik untuk dapat menjalankan peran ganda sebagai pemimpin perusahaan sekaligus sebagai istri dan ibu di rumah. Untuk itu, ia dibantu seorang psikolog, Hanny Supangat. Tujuannya, memahami fungsi dan keberadaan masing-masing individu dalam keluarga. Menurutnya, ia dan keluarganya perlu waktu beberapa tahun sampai akhirnya menemukan pola yang tepat.

Kini, ia mulai menyisihkan waktu untuk jalan bersama anak-anaknya, berdiskusi, menemani Madeleine ke sekolah, mengantar ibunya ke rumah sakit, menengok Michelle yang kuliah di University of Tasmania (Bachelor of Music Studies, Major of Contemporary Singing), Australia. Bahkan menjelang perayaan ulang tahunnya Maret lalu, berkolaborasi dengan Michelle dan Madeleine, ia menyanyi dan berpuisi yang direkam dalam CD. Tentang bakatnya menyanyi dan akting, “Saya baru menyadari ini ketika usia sudah 40 tahun,” kata wanita yang memproduseri pertunjukan God so Loved The World yang dipentaskan oleh Jakarta Broadway Singers dan Dara Fashion Performing Arts yang digagas Musa Widyatmodjo ini.

Menurut Melyana, saat ini ia terus belajar mengembangkan komunikasi internal dalam keluarga. Dengan bekal keselarasan komunikasi, keterbukaan, kejujuran dan kedisiplinan, ia menyadari bahwa setiap individu unik. “Kami menerima satu sama lain apa adanya, niscaya suami dan anak-anak sekarang mendukung gerak langkah saya di perusahaan yang saya kelola. Dan yang terpenting bagi mereka adalah spirit saya untuk terus melangkah maju dan mengembangkan hidup,” ujar Melyana yang kini banyak berkolaborasi dengan suaminya dalam mengelola unit-unit bisnisnya. “Suami saya orangnya detail, sementara saya tidak detail dan cenderung lebih tegas dan cepat ketika harus ambil keputusan. Beliau akan mempertimbangkan masak-masak ketika mengambil keputusan. Saya tak pandai menghitung,” ungkap Melyana.

Menjawab pertanyaan tentang rencana pengembangan bisnisnya, dengan tegas ia berkata, “Manusia memiliki sifat dasar untuk selalu bergerak maju dalam siklus hidupnya. Saya pun tidak mau tinggal diam dan berpikir seolah-olah saya telah mencapai tujuan hidup saya.” Menurutnya, pencarian serta kemauan berkembang dan tak pernah berhenti belajar ia tanamkan pada diri sendiri, keluarga dan stafnya. Baginya, hal ini penting dijalani, sebab dengan demikian kualitas hidup seseorang akan berkembang ke arah positif. Pengembangan yang ia rencanakan justru lebih pada peningkatan kualitas SDM di perusahaan. “Salah satu indikasi perusahaan dengan kinerja sehat adalah kualitas dan kesejahteraan karyawannya. Saya ingin mereka mendapatkan positive value pada diri mereka dengan bekerja bersama saya,” ujarnya tandas. (*)

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

One Response to “Melyana Tjahyadikarta Taslim: Serius di Bisnis, Bersemangat di Seni”

  1. rozak says:

    wow….. saya ingin banyak belajar pada anda…?tapi apa mungkin saya dapat bertemu dengan anda?

Leave a Reply

Security Code: