Friday, July 30th, 2010
oleh : Kristiana Anissa
Kamis, 29 Juli 2010 bertempat di Restoran Harum Manis Jakarta, HSBC mengumumkan hasil survei HSBC Affluent Asian Tracker, yaitu survei terhadap segmen pasar premium di kawasan Asia. Survei HSBC Affluent Asian Tracker ini merupakan yang ketiga kalinya, sebagai kelanjutan dari survei serupa yang dilakukan pada kuartal IV tahun lalu. Survei tersebut dilakukan terhadap 2.072 individu segmen premium dengan usia 18-65 tahun di 7 negara, yaitu Hong Kong, India, Indonesia, Cina, Malaysia, Singapura, dan taiwan.
Berdasarkan survei yang diadakan pada bulan Februari – April 2010 itu, diketahui bahwa setidaknya 80 persen segmen premium di Indonesia memiliki kekayaan yang sama atau meningkat. Secara khusus, 51 persen mengalami peningkatan kekayaan dalam 6 bulan terakhir dan 29 persen tetap. Rata-rata usia individual segmen premium di Indonesia adalah yang termuda di antara negara-negara yang disurvei tersebut, yaitu 39 tahun, dengan profil 7 dari 10 menikah dan memiliki anak.
Dapat dikatakan, segmen premium Indonesia memiliki tingkat diversifikasi portofolio investasi yang terendah jika dibanding dengan segmen premium di negara lainnya di Asia, karena 95 persen aset likuid mereka dialokasikan ke uang tunai dan deposito, dan 5 persennya barulah dialokasikan ke instrumen investasi yang lain. Sementara itu, di negara lain seperti Malaysia, Hong Kong, Singapura dan Taiwan, segmen premium tersebut telah memiliki tingkat diversifikasi portofolio investasi yang lebih tinggi, misalnya dengan hanya mengalokasikan sekitar 56-64 persen aset likuid mereka ke uang tunai dan deposito. Dan sisanya dialokasikan ke instrumen investasi dengan tingkat risiko yang lebih tinggi seperti reksadana, obligasi, saham, valas dan sebagainya.
Namun diketahui pula bahwa segmen premium di Indonesia adalah yang paling optimis terhadap iklim investasi. Terbukti, jumlah 63 persen segmen premium di Indonesia berencana meningkatkan investasi mereka,. Angka ini meningkat dari survei 6 bulan sebelumnya yang hanya mencatat angka 51 persen untuk jumlah segmen premium yang berencana meningkatkan investasinya. Demikian pula jumlah segmen premium yang banyak membaca tentang strategi investasi, berkonsultasi dengan penasehat keuangan secara teratur dan mendiversifikasikan produk investasinya, masing-masing tercatat sebesar 38 persen, 19 persen, dan 10 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 6 bulan lalu yang hanya 9 persen, 4 persen dan 6 persen.
Fakta-fakta tersebut turut menjadi alasan bagi HSBC untuk semakin mendiversifikasikan pelayanan dan produk investasinya. Jika sebelumnya HSBC telah memiliki produk wealth management berupa HSBC Premier, maka pada awal tahun 2010, HSBC telah meluncurkan HSBC Advance, yaitu sebuah paket pelayanan wealth management yang lebih murah bagi para nasabahnya. “Jika selama ini orang berpikir wealth management itu hanya untuk orang-orang kaya, maka kami berusaha memberikan pelayanan wealth management yang lebih murah, lebih affordable. Minimal masuk pertama kali dari Rp 5 juta. Setelah itu kalau nasabah tidak maintain balance tidak apa-apa, tapi ada certain fee jika ia tidak maintain balance,” Ivy Widjaja, Head of Customer Proposition Personal Financial Services HSBC menjelaskan. Produk investasi yang ditawarkan juga lebih terjangkau, misalnya hanya dengan Rp 1 juta per bulan, nasabah telah dapat berinvestasi.
Kristiana Anissa
Artikel Terkait