Elia Massa Manik: Bos Baru Pertamina, Membenahi Perusahaan Bermasalah | SWA.co.id

Elia Massa Manik: Bos Baru Pertamina, Membenahi Perusahaan Bermasalah

Elia Massa Manik adalah sosok pemimpin perusahaan yang piawai membereskan aneka macam permasalahan di suatu perusahaan. Rekam jejak pria kelahiran kelahiran Kabanjahe (Karo), Sumatera Utara, ini patut diacungi jempol lantaran mampu mengubah kas negatif di PT Kiani Kertas, PT Elnusa Tbk atau PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), “Saya tidak tahu bagaimana Tuhan memperjalankan diri saya. Kebetulan karier saya memang mengurus perusahaan bermasalah, mengelola aset-aset yang distress, dan meningkatkan business development,” kata Elia saat dijumpai SWA di kantor PTPN III, Jakarta, pada akhir tahun lalu.

Jejak pria kelahiran Kabanjahe (Karo), Sumatera Utara, ini di perusahaan bermasalah bisa ditelusuri di awal tahun 2000-an. Simak saja keberhasilan Elia tatkala ditugaskan sebagai CEO di PT Kiani Kertas ketika perusahaan itu dibeli oleh pemilik baru dari BPPN di tahun 2002. Ia juga berhasil menghidupkan roda bisnis PT Kertas Basuki Rahmat Tbk. Contoh lainnya, ketika memimpin PT Elnusa Tbk (2011-2014), Elia berhasil melepaskan Elnusa dari lilitan utang, meningkatkan likuiditas serta mendongkrak kas perseroan sehingga memiliki dana sekitar Rp 1 triliun untuk diinvestasikan.

Elia diapresiasi berbagai kalangan sebagai CEO yang lihat membenahi aset yang bermasalah. Salah satu pengalaman yang dikenangnya adalah ketika dipinang oleh manajemen PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk untuk menangani kredit macet. “Saya juga nggak ngerti, saya bukan bankir tetapi ditugaskan untuk membereskan kredit-kredit bermasalah di bank. Syukurnya, hanya sembilan bulan di sana saya bisa menghidupkan Rp 16 triliun kredit bermasalah,” papar Massa. Dia mengemban kepercayaan di BNI selama Agustus 2015-April 2016.

Elia yang didaulat sebagai nakhoda BUMN holding perkebunan itu berhasil membenahi kinerja 14 anak perusahaan PTPN I hingga PTPN XIV yang mengalami keuangan negatif. PTPN III, selaku induk usaha, m menganggung utang konsolidasi sekitara Rp 33,24 triliun. Permasalahan lainnya dihadapi Elia, antara lain produktivitas kebun yang rendah, biaya operasional membengkak, kinerja SDM tak optimal , program pengembangan bisnis stagnan, atau rendahnya daya saing perusahaan dibandingkan perusahaan perkebunan swasta.

Kementerian BUMN menunjuk Elia sebagai CEO BUMN holding perkebunan itu lantaran melihat reputasi Elia yang kerapkali membenahi perusahaan bermasalah. Sejak ditugaskan di PTPN III, Elia bersama timnya berani mengambil keputusan penting untuk membenahi perusahaan, antara lain memangkas jumlah direksi di anak usaha sebanyak tiga orang dari sebelumnya lima direksi. Keberhasilan anak usaha, menurut Elia, adalah jeli memilih direksi atau pemimpin bisnis yang berani mengambil perubahan dan bergerak cepat mengatasi masalah. Pria yang gemar bermain golf ini menetapkan skala prioritas untuk mengubah sektor tertentu di perusahaan.

Di PTPN III, skala prioritas utama yang dilakukan Elia adalah mengubah bisnis di sektor perkebunan sawit. Bisnis perkebunan sawit berkontribusi sebesar 65% dari jumlah total pendapatan PTPN III. Sisanya disumbangkan oleh bisnis gula (15%) dan karet (7%). Areal kebun sawit perusahaan holding seluas 733.378 ha –57,5% dari total lahan kebun yang dimiliki. Dari angka tersebut, total lahan sawit inti sebesar 531.168 ha dan lahan plasma 202.210 ha. Persoalannya, produktivitas kebun terhitung rendah. Selama 2015, produktivitas rata-rata hanya 18,20 ton tandan buah segar (TBS) per hektare (TBS/ha)/tahun. Angka ini lebih rendah dibandingkan perusahaan perkebunan swasta yang bisa 24-25 ton TBS/ha. Demikian juga dari jumlah jumlah pokok (tanaman sawit) per ha, hanya 118 tanaman. Sementara perkebunan swasta bisa mencapai 135 pokok tanaman. Elia berimprovisasi guna meningkatkan produktivitas kebun. Tak hanya itu, dia senantiasa mengajak timnya melakukan benchmarking ke perusahaan BUMN Malaysia, Sime Darby dan FELDA, yang kinerja bisnisnya moncer.

Restrukturisasi Organisasi dan Bisnis

Guna mengejar ketertinggalan, PTPN III membutuhkan tambahan dana Rp 9,5 triliun untuk meremajakan (replanting) kebun. Elia turut serta menghimpun pendanaan dengan melakukan kungjungan (roadshow) ke beberapa bank. Rupanya, pihak bank mengucurkan pinjaman karena mempertimbangkan deputasi direksi PTPN III dibawah komando Elia dan prospek bisnis perusahaan.

Dia tak segan-segan melakukan restrukturisasi organisasi dan keuangan. Ia bersikap skeptis ketika menerima laporan rugi-laba dari anak usaha. “Saya tidak mau kalau sekadar dikatakan profit. Dari mana profitnya? Yang saya tanya, mana uang cash yang dimiliki? Mana operating cash flow-nya? Ini berbisnis di sektor riil, yang penting justru operating cash flow,” ia menekankan. Dari sisi SDM, setelah merestrukturisasi organisasi di level direksi, dia juga mulai mengembangkan talent pool satu lapis di bawah direksi sehingga jabatan yang ditempati sesuai dengan kompetensi. Holding melakukan job enlargement dan job enrichment serta menghapus jabatan yang redundant sehingga diperoleh organisasi bisnis yang lebih sederhana, tanpa mengurangi kontrol dan efektivitas organisasi. Pihaknya juga terus menjalin komunikasi dengan semua anak usaha.

Dari sisi pengembangan bisnis, perusahaan holding akan menjalankan beberapa program pengembangan usaha. Di antaranya, dengan melakukan hilirisasi. Saat ini perusahaan holding sudah memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei seluas 1.933 ha yang di dalamnya terdapat industri pengolahan kelapa sawit, pengolahan karet, logistik dan pariwisata.

Elia yang ditugaskan sebagai CEO PTPN III sejak April 2016 silam itu telah memberikan harapan lantaran program pembenahan BUMN holding perkebunan ini menunjukkan titik terang. Sebagai pemimpin perusahaan, Elia memegang prinisp untuk mengalahkan musuh terbesarnya, yakni ego. “Musuh seorang leader itu ego. Untuk mendapatkan kepercayaan orang yang kita pimpin, harus menghilangkan ego. Kita harus credible, reliable dan punya personal intimacy agar muncul trust dari yang kita pimpin,” ia menceritakan kiatnya.

Keberhasilan pemimpin, lanjut Elia, adalah berhasil mewujudkan program kerja tim. Selama ini, untuk mengasah leadership skill, Elia banyak mendengarkan pesan ayahnya agar terus belajar dari siapa pun dengan tiada henti. Selain itu, tidak mengejar pekerjaan atau jabatan karena uang, tetapi lebih karena tantangan dan passion. Salah satu pesan terpenting ayahnya yang selalu ia pegang ialah soal pentingnya menunaikan tanggung jawab. “Kita harus tunaikan tanggung jawab sekecil apa pun itu. Ingat, tanggung jawab yang besar itu datang dari penyelesaian hal-hal kecil dalam hidup,” ia menekankan. DNA menjadi pribadi yang bertanggung jawab serta tulus ikhlas dalam bekerja itu pula yang kini terus ia gelorakan ke karyawannya untuk menyukseskan pembenahan PTPN.

Kini, tugas berat dipikul Elia lantaran Kementerian BUMN pada Kamis, (16/3/2017) menunjuknya sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) untuk menggantikan Dwi Soetjipto yang sudah tak menjabat lagi sebagai pimpinan pucuk Pertamina pada beberapa waktu yang lalu. Sebagai bos baru di Pertamina, Elia diharapkan mampu mengkonsolidasikan komunikasi internal perusahaan serta melakukan transormasi bisnis perusahaan di sektor energi. Reputasi Elia diakui oleh berbagai pihak, diantaranya The Best CEO di ajang The Best BUMN Leaders 2016 yang diberikan Majalah SWA dan IPMI (Institut Pengembangan Manajemen Indonesia). (*)

Reportase : Rizki C. Septiana

Editor : Vicky Rachman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Sime Darby dan IOI Group Bergabung dengan FFA Cegah Kabut Asap

Fire Free Alliance (FFA), kelompok sukarela yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang terdiri dari perusahaan kehutanan dan agrikultur, LSM,...

Close