Home » Business Research » Kuartal II, Okupansi Gedung Perkantoran Jakarta Di Atas 90%

Kuartal II, Okupansi Gedung Perkantoran Jakarta Di Atas 90%

Share :

    Walaupun ada sedikit penurunan pada kinerja ekonomi di kuartal ke II 2012, namun investasi ruang kerja atau gedung perkantoran di Jakarta terus tumbuh positif. Dua lembaga konsultan properti, Cushman and Wakefield Indonesia dan Coldwell Banker Indonesia, memaparkan, permintaan ruang perkantoran terus meningkat sehingga tingkat huniannya mencapai di atas 90%.

    Menurut paparan Cushman and Wakefield, permintaan ruang perkantoran masih terus aktif selama kuartal kedua 2012 yang kebanyakan datang dari para penyewa yang ingin memperluas ruang kantornya antara 200m2 hingga 400m2. Perbankan dan asuransi adalah bidang usaha yang paling aktif mencari untuk perluasan ruangan.

    Dari risetnya, sebuah perusahaan perbankan dilaporkan telah merampungkan transaksi sewa sebesar 3000 m2 ruang perkantoran di Landmark Tower selama kuartal ini. Selama kuartal kedua 2012, penyerapan sejumlah 85.800 m2 tercatat sehingga membawa tingkat hunian kembali naik 0.71% menjadi 91.96%, yang merupakan rekor baru tingkat hunian tertinggi semenjak tahun 1997.

    “Saat ini cukup sulit menemukan transaksi-transaksi sewa berukuran besar akibat semakin terbatasnya ruang perkantoran yang masih belum tersewa baik dari gedung perkantoran eksisting maupun yang masih dalam proses pembangunan karena sebagian besar gedung/proyek tersebut telah memiliki tingkat hunian dan sewa pre-commitment yang amat tinggi,” terang Arief Rahardjo, Senior Associate Director Research & AdvisoryCushman & Wakefield Indonesia.

    Dengan selesainya AXA Tower di Jalan Satrio maka stok ruang perkantoran CBD Jakarta mengalami penambahan sebesar 60 ribu m2 dan menjadi 4,4 juta m2 pada akhir kuartal kedua 2012. Sementara itu, WTC 2, The H Tower, 88 Cassablanca dan TCC Tower-1 hampir dipastikan akan masuk ke pasar pada kuartal ketiga dan keempat 2012 dan diproyeksikan akan menambah sekitar 180.800 m2 ruang perkantoran baru di pasar perkantoran CBD.

    Seiring dengan kenaikan tingkat hunian dan terbatasnya ruang Perkantoran Grade-A, harga sewa Gross (base rental ditambah service charge) dalam Rupiah mengalami kenaikan 8,8% selama kuartal kedua dan mencapai Rp 240.100 per m2 per bulan (atau US$25.33 per m2 per bulan).

    Temuan serupa juga dikemukakan oleh Coldwall Banker. Menurut mereka, eprekonomian yang stabil meningkatkan aktivitas investasi dan menstimulasi kenaikan permintaan terhadap ruang perkantoran, baik sewa maupun jual.

    Pada kuartal ini penyerapan ruang perkantoran sewa  mengalami peningkatan dari kuartal sebelumnya dengan total penyerapan pada kuartal ini  sebesar 210.349 m2 atau naik sekitar 21,9% dari kuartal sebelumnya dikarenakan  penyerapan dari proyek-proyek perkantoran yang baru masuk baik di wilayah CBD maupun  non-CBD yang penyerapannya tinggi.

    Sementara, untuk tingkat hunian perkantoran sewa juga mengalami kenaikan di kuartal II tahun 2012 ini yaitu sebesar 1,35% yaitu sebesar  96,89% dimana wilayah CBD memiliki tingkat hunian sebesar 97,71% dengan kenaikan  sebesar 1,05% dan untuk wilayah non CBD tingkat huniannya mencapai 96,07% dengan  kenaikan 1,73% dari kuartal sebelumnya.

    “Hal ini masih menunjukkan peningkatan positif dan cukup signifikan dari pasar perkantoran di wilayah Non CBD seperti di wilayah TB Simatupang dan di wilayah Jakarta Barat dimana terdapat beberapa pasokan perkantoran pada 2 tahun yang akan datang,” papar Meyriana Kesuma, Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Indonesia. (EVA)

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      LEAVE A REPLY


      2 + = four