Home » Business Strategy » Book Review » Kunci Sukses Meraih Kinerja Puncak

Kunci Sukses Meraih Kinerja Puncak

Judul : Performance Intelligence at Work
Penulis : Julie Bell, Ph.D
Penerbit: McGraw Hill, 2009
Tebal : xxiv + 174 halaman


Performance intelligence is the ability to perform your best when it matters most.

Pernahkan Anda merasakan hal ini? Di saat latihan, Anda dapat tampil sempurna. Semua tembakan masuk ke ring basket dengan tepat. Ayunan golf Anda sempurna. Latihan presentasi Anda berjalan mulus. Namun, pada saat permainan sebenarnya dimulai, semua tembakan meleset. Ayunan golf menjadi gaya mencangkul tanah. Presentasi disampaikan dengan grogi di depan dewan direksi dan isinya sama sekali tidak terstruktur. Apa yang terjadi? Mengapa demikian? Inilah yang akan dijawab oleh buku Performance Intelligence at Work. The mind of a champion – itulah inti buku ini.

Performance intelligence adalah memberikan yang terbaik pada saat yang menentukan. Yang dimaksud performa di sini tidak terbatas pada pekerjaan, melainkan area apa saja yang ingin ditingkatkan dalam kehidupan kita.

Penulis buku ini, Julie Bell, awalnya adalah psikolog olah raga (sport psychology) bergelar doktor dari University of Virginia. Psikologi olah raga sendiri berasal dari konsep bahwa kita semua memiliki kemampuan mengenali pemikiran kita dan mengubah pemikiran itu untuk menghasilkan pikiran yang akan membuat kita sukses. Suatu waktu, seorang temannya, CEO Zebco dan President Brunswick Outdoor, memintanya untuk mengajarkan prinsip psikologi olah raga kepada tim kepemimpinannya. Dari sinilah lahir konsep performance intelligence yang pada dasarnya mengaplikasikan sport coaching menjadi business coaching.

Mari kita lihat pemikiran dan aplikasi psikologi olah raga dalam bisnis.
Terdapat tiga prinsip dasar pada otak kita, yakni: pemikiran kita sangat powerful, kita dapat mengontrol pemikiran kita, dan kita memiliki pilihan cara berpikir dalam setiap situasi. Change your thinking and you can change your actions.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya mengenali pemikiran kita yang mengarah ke hasil? Buku ini memberikan konsep 3R – Recognize, Refocus, dan Routine.

Recognize merupakan evaluasi diri untuk mengidentifikasi pemikiran kita. Apabila kita mem-print out pemikiran kita, apakah semuanya positif? Seolah-olah menyindir kita, penulis buku ini mengatakan jangan-jangan kita mengatakan hal yang lebih positif kepada binatang piaraan kita daripada apa yang kita katakan kepada diri kita sendiri.

Refocus adalah mengubah fokus pikiran kita. Kita mengubah pemikiran “konsumen itu datang untuk marah-marah” menjadi “konsumen itu datang untuk meminta bantuan saya”. Kalau kita mengenal pemikiran kita dan mengubah fokusnya, kita akan siap secara mental menangani sesuatu. Pemikiran kita sebelum melakukan sesuatu akan memengaruhi kesuksesan atau kegagalan kita kemudian. Pemikiran kita sesudah melakukan sesuatu akan memengaruhi kesuksesan atau kegagalan kita di masa depan. Yang terakhir adalah Routine – kita harus membangun rutinitas dalam menjaga pemikiran kita agar memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Terdapat empat kondisi pemikiran kita: Monkey, Intimidated, Natural, dan Determined (MIND). Monkey adalah beban pemikiran kita. Monkey di pemikiran kita dapat mudah berubah menjadi gorila 400 kg, tetapi itu akan terjadi karena pemikiran kita saja. Ada kalanya kita juga terintimidasi oleh pemikiran kita, sehingga mengabaikan kekuatan dan sumber daya yang kita miliki. Natural adalah pemikiran yang terjadi secara alami. Determined adalah pemikiran yang terjadi saat kita membuat pilihan sadar akan solusi dan perbaikan daripada memikirkan masalah dan kesalahan.

Sebagai aplikasinya di bidang bisnis, penulis menyarankan untuk membuat jurnal pemikiran kita. Apakah pemikiran kita lebih banyak berada dalam keadaan M, I, N atau D? Pemikiran seorang pemimpin seharusnya berada di zona N dan D. Sebagai pemimpin, kita juga harus meng-coach anak buah agar senantiasa berada dalam situasi D.

Sekarang mengenai cara mengaplikasikannya. Untuk mencapai performance intelligence, kita membutuhkan lima esensi: fokus, percaya diri, winning game plan, disiplin diri, dan kompetitif.

Manakah yang lebih efektif untuk menjinakkan singa: cambuk atau kursi? Kursi! Mengapa? Karena keempat kaki kursi menyulitkan singa berkonsentrasi. Agar dapat tampil prima di saat kritis, kita harus fokus pada satu tujuan tunggal. Masalahnya, kita sering fokus pada hal yang salah, kita fokus pada hal yang tidak kita inginkan terjadi bukan pada hal yang kita ingin capai. Fokus yang benar adalah fokus pada hal yang penting pada saat yang tepat. Focus is paying attention to the right things at the right time. Siapa pun pasti akan membuat kesalahan. Seorang pemenang tidak akan fokus pada kesalahannya, melainkan perbaikannya. Seorang pemenang fokus pada memenangi permainan, bukan sekadar tidak kalah.

Percaya diri akan memengaruhi apa pun yang kita lakukan. Kenyataannya, manusia sering kali percaya diri akan hasil. Percaya diri yang benar adalah percaya diri akan proses, bukan hasil. Kita tidak boleh percaya diri akan hasil, karena ada sejumlah variabel yang tidak dapat kita kontrol dalam memberikan hasil itu. Misalnya, kita menghadapi wawancara pekerjaan. Kita seharusnya percaya diri dalam prosesnya, tetapi kita tidak dapat menjamin bahwa kita pasti berhasil.

Pikiran kita sangat memengaruhi rasa percaya diri kita. Untuk membangun rasa percaya diri, kita harus menghargai kesuksesan kita setiap hari. Dalam aplikasi bisnis, setiap kita akan mengeksekusi proyek besar, pecahkan menjadi komponen kecil. Identifikasi keahlian yang dibutuhkan dan pakai sejarah kesuksesan kita akan keahlian itu di masa lalu. Dengan demikian, kita akan membangun percaya diri kita satu langkah satu waktu.

Esensi yang ketiga adalah winning game plan dan ini dimulai dari definisi kita sendiri mengenai kesuksesan. Selanjutnya, kita melihat apa yang sudah berjalan dengan sukses. Aspek yang menjadikan kita sukses inilah yang merupakan dasar winning game plan kita.

Kita juga harus mengenali hasil yang tidak diinginkan. Kita harus me-reverse engineering-nya dengan mengenali pemikiran di balik aksi yang akan mengarah pada hasil yang tidak diinginkan. Setelah memiliki winning game plan, kita harus mengeksekusinya. Jauh lebih baik memberi penghargaan pada diri sendiri sewaktu eksekusi, ketimbang menunggu hasil akhirnya keluar lebih dulu.

Disiplin diri membentuk pemikiran dan perbuatan kita. Ini dimulai dengan pernyataan bahwa kita menginginkan perbaikan atau perubahan. Selanjutnya, kita membutuhkan pertanggungjawaban sukarela (voluntary accountability). Konsep ini memaksa kita untuk mengakui kesalahan kita dan membenarkannya, bukan menunggu sampai ketahuan ataupun “ditangkap”. Seberapa banyak dari kita yang berani membuat kesalahan dan menghadap supervisor untuk mengakui dan meminta bantuan coaching? Semakin rendah disiplin diri kita, semakin kita membutuhkan pertanggungjawaban sukarela.

Yang terakhir, daya kompetisi kita. Agar dapat tampil prima di saat kritis, kita harus memiliki keinginan untuk menang. Menang dalam konteks performance intelligence bukanlah berarti win-lose (satu pihak harus kalah agar lainnya menang). Yang kita inginkan situasi win-win. Kita berkompetisi dengan diri kita sendiri. Daya saing kita adalah membawa permainan ke level yang lebih tinggi, bukan sekadar mengalahkan kompetitor. Kita tidak seharusnya fokus pada kompetisi, tetapi fokus meningkatkan keahlian dan personal best kita. Dengan demikian, permainan kita akan meningkat dan kemenangan akan mengikuti.

50%-90% permainan kita tergantung pada kualitas mental kita. Bila kita sering melatih fisik kita, apakah kita pernah melatih mental kita? Jarang!

Bagaimanakah caranya kita melatih mental? Visualisasi. Bayangkan Anda berada dalam situasi tertentu. Bayangkan apa yang akan Anda perbuat dalam gerakan lambat. Hal ini akan membantu kita agar dapat tampil lebih baik. Aplikasinya dalam bisnis, sebelum kita mengambil suatu keputusan penting, bayangkan dalam pikiran kita bahwa kita sudah mengambilnya dan jalani selama satu minggu. Apabila keputusan itu membuat kita merasa termotivasi ataupun merasa damai, artinya keputusan itu sudah benar.

Hal kedua yang berpengaruh adalah pengalaman dan harapan. Untuk memaksimalkan pengalaman dan harapan positif kita, kita harus membuat jurnal setiap malam. Kesalahan biasa dalam membuat jurnal adalah membesarkan masalah dan meminimalkan cerita sukses kita. Bila kita menjumpai masalah, yang harus kita jurnalkan bukan hanya kesalahan dan kelemahan kita, tetapi juga perbaikan di masa depan.

Dalam bukunya, Julie Bell menjelaskannya dengan contoh yang baik. Bila kita tersandung kabel pada saat kita hendak melakukan presentasi, jurnalkan bagaimana kita melihat kabel dan melangkahinya dengan lancar pada saat kita hendak berpresentasi di masa depan.

Buku ini hampir senada dengan ajaran Neuro Linguistic Programming yang populer belakangan ini. Walau demikian, sudut yang dibidik buku ini adalah aplikasinya dalam kehidupan pekerjaan dan profesional.

Selain menggunakan bahasa yang sangat sederhana, buku ini juga penuh dengan analogi dan contoh sehingga membantu pemahaman kita. Latar belakang penulis yang berasal dari praktisi dengan pengalaman nyata menjadikan konsep yang dibawakan terasa membumi dan gampang diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sebuah buku bermutu yang terlalu sayang bila dilewatkan.

Peresensi bekerja di perusahaan

minyak asing, Development Planning.

Be Sociable, Share!

RELATED POSTS

Sorry, no related post.

LEAVE A REPLY


two * = 12