Kunci Sukses Meraih Posisi Kunci

Kunci Sukses Meraih Posisi Kunci

Judul : Power Penulis : Jeffrey Pfeffer Pnerbit : HarperCollins, 2010 Tebal : 273 halaman

Apakah Anda merasa diri Anda supersmart, tetapi dilewati dalam promosi? Apakah Anda merasa hanya harus bekerja keras untuk mencapai posisi puncak tanpa harus membangun kuasa secara proaktif?

Anda mungkin merujuk buku Good to Great karya Jim Collins yang mengatakan bahwa pemimpin level lima adalah pemimpin yang tidak mengagungkan dirinya, pendiam bahkan pemalu, dan mendahulukan kepentingan perusahaan. Memang tidak salah, tetapi harus diingat bahwa faktor itu terjadi di saat pemimpin berada di puncak pimpinan. Faktor yang dibutuhkan untuk mencapai posisi puncak berbeda dari faktor sukses ketika berada di puncak.

Selamat datang di dunia nyata – dunia nyata dengan zero-sum game untuk posisi puncak. Semua negara pasti memiliki seorang presiden saja. Semua organisasi pasti hanya mempunyai seorang CEO. Semua sekolah pasti hanya memiliki seorang kepala sekolah. Jangan ingkari faktor persaingan ini baik dalam bisnis maupun karier Anda. Sebaliknya, bersainglah dan capailah posisi puncak dalam organisasi Anda dengan mengaplikasikan faktor-faktor yang akan membantu Anda mencapai tujuan. Inilah tujuan utama buku ini sebagaimana yang dijabarkan dalam bab pengenalan.

Pertanyaan dasar yang harus dijawab: Apakah kita benar-benar harus mencapai posisi yang berkuasa daripada sekadar menerima nasib? Jawabannya jelas: Ya. Survei Michael Marmot menemukan bahwa risiko kematian berbanding terbalik dengan posisi kehidupan. Dalam dunia korporasi, penjelasannya sederhana: memiliki kuasa dan status berarti mengontrol lingkungan sehingga tidak akan merasa tidak memiliki harapan, merasa stres ataupun di luar kontrol. Selain itu, power berbanding lurus dengan kekayaan. Mantan presiden bisa mendapatkan honor miliaran rupiah untuk memberikan seminar, menulis buku ataupun menjadi konsultan. Power juga memudahkan seseorang menyelesaikan sesuatu.

Langkah pertama dalam mengaplikasikan apa yang diajarkan dalam buku ini adalah membuang tiga hambatan utama dalam proses meraih kekuasaan, yakni: jangan berpikir kalau dunia itu adil, jangan terlalu percaya dengan teori kepemimpinan, dan jangan membatasi diri Anda sendiri.

Prinsip utama dalam membangun kuasa adalah managing up. Orang yang dapat mengendalikan sukses Anda adalah orang di atas Anda, yang menentukan apakah Anda akan naik ke atas atau pindah ke posisi yang tidak strategis. Yang dibutuhkan dalam mengelola ke atas adalah kinerja yang baik plus memastikan orang yang sedang berkuasa mengetahui kerja kita, mengingat kita dan berpikiran positif mengenai kita. Kinerja semata tidak cukup untuk mendaki tangga korporasi, tetapi juga harus dilengkapi dengan political savvy. Selain itu, mendaki tangga korporasi pun membutuhkan sejumlah atribut kualitas personal: ambisi, energi, fokus, pengetahuan diri, keyakinan diri, empati, kemampuan menoleransi konflik, dan intelegensi. Buku ini menyatakan semua atribut tersebut dapat dipelajari, bukan bawaan lahir semata. Kita juga harus mendiagnosis atribut mana yang merupakan kelebihan dan kekuatan kita, sehingga kita mampu mengembangkan rencana untuk memperkuat semua atribut tersebut.

Bab ketiga buku ini mengemukakan hasil riset bahwa departemen di mana kita memulai karier, sangat menentukan kemampuan kita menaiki tangga karier. Hampir semua perusahaan memiliki departemen “favorit” untuk calon pemimpinnya dan departemen ini dapat berubah seiring perubahan prioritas perusahaan. Dengan demikian, pastikan Anda menginjakkan kaki di anak tangga pertama dari tangga yang akan membawa Anda menuju posisi puncak.

Sesudah menancapkan kuku di anak tangga yang benar, langkah selanjutnya adalah mencari sumber kekuasaan dan bagaimana mengembangkannya. Sumber kekuasaan ini dapat saja berupa sumber daya, jaringan sosial dan posisi kita dalam jaringan tersebut, kemampuan untuk berbicara dan bertindak dalam cara yang menghasilkan dan menyampaikan kesan berkuasa, serta reputasi. Buku ini mendedikasikan satu bab untuk membahas semua kekuasaan tersebut secara mendalam.

Di bagian terakhir, buku ini membahas mengenai konsekuensi memiliki kekuasaan, yakni: menghadapi oposisi dan kejatuhan, berada di bawah sorotan publik, terlalu percaya diri karena sedang berada di puncak, dan kehilangan kekuasaan. Bab terakhir memberikan contoh pribadi yang sukses mengimplementasi prinsip dalam buku ini. Tujuan bab ini adalah membuktikan bahwa kita akan mampu mencapai kekuasaan – bukan dengan menjadi pribadi yang baru – tetapi dengan melakukan hal yang berbeda dan strategis.

Singkat kata, ini adalah buku mengenai mengapa dan bagaimana mencapai kekuasaan di dunia korporasi. Buku ini sendiri merupakan kompilasi dari mata kuliah pilihan The Path to Power yang diajarkan Prof. Jeffrey Pfeffer di Stanford Graduate School of Business. Pfeffer juga telah menuliskan 7 studi kasus mengenai pribadi-pribadi yang sukses menaiki tangga korporasi serta mengundang mereka untuk berbicara secara langsung di sekolah bisnis tersebut. Dengan demikian, nama Stanford dan pengalaman mengajar beliau telah menjadi jaminan atas kualitas buku Power karyanya ini. Tidak kurang dari Jim Collins (penulis buku terkemuka Good to Great), Robert Cialdini (penulis buku Influence) dan Rosabeth Moss Kanter (Profesor Harvard penulis buku Confidence).

Buku ini menggunakan pendekatan bahasa populer yang sangat enak dibaca, didukung hasil riset ilmiah dan puluhan studi kasus asli. Wajib dibaca oleh kalangan profesional yang memimpikan menaiki tangga dunia korporasi.

Mari kita hayati dan lakukan nasihat yang ditulis di akhir buku Power ini: So seek power as if your life depends on it. Because it does!

Peresensi bekerja di perusahaan minyak asing Development Planning, dan pengamat manajemen.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag