Home » Business Strategy » Book Review » Sebuah Cermin untuk Memacu Diri

Sebuah Cermin untuk Memacu Diri

Judul : Bridging the Gap of Performance

Penulis : Hendrik Lim, MBA

Penerbit : PT Elexmedia Komputindo

Tahun : 2009

Tebal : 201 halaman

Membaca buku tulisan Hendrik Lim yang berjudul Bridging the Gap of Performance ini seperti sedang berdiri di depan cermin yang sangat lebar dan jernih. Apalagi, jika kita membaca sambil membayangkan situasi yang sedang kita hadapi atau secara umum dihadapi orang saat mengalami stagnasi karier, bisnis ataupun pribadi bagai membentur tembok. Uniknya, bukan hanya masalah bisnis dan karier, buku ini juga cocok untuk persoalan utama nilai-nilai kehidupan, termasuk pengembangan pribadi.

Kadang tidak sengaja saya tersenyum, kadang membenarkan atau menertawakan ilustrasi lewat gambar lucu yang dipaparkan penulis. Gaya tulisan yang populer dan campur aduk dengan istilah bahasa Inggris menambah kerenyahan buku ini untuk dibaca dan terus tertarik membaca sampai selesai.

Kenapa seperti bercermin? Menghadapi masalah yang sama terus- menerus dan hampir tidak tahu jalan keluarnya – yang diistilahkan oleh penulis membentur tembok – adalah pengalaman banyak orang. Jika kita menghadapi masalah ini dan tidak ada jalan keluar, selanjutnya gampang sekali kita menarik kesimpulan sendiri berdasarkan fakta bahwa kita memang ditentukan untuk gagal. Mulailah kita menyalahkan diri sendiri dan semakin kehilangan percaya diri. Inilah yang secara cerdik ditawarkan penulis untuk menjawab kebutuhan pembacanya. Rahasia sukses tokoh-tokoh yang diceritakan dalam buku ini adalah mereka yang tidak fokus pada diri sendiri melainkan menjawab kebutuhan orang.

Penulis buku ini mampu secara jeli menawarkan solusi tanpa menggurui, sehingga pembaca tidak diberi suatu jalan keluar tetapi pilihan sekaligus akibat yang ditimbulkan oleh pilihan itu. Sebuah solusi yang baik adalah dengan mengubah sudut pandang atau point of view keluar, berhenti sesaat dan secara jernih dalam melihat masalah. Sebenarnya, kalau kita tenang dalam menanggapi sesuatu, tidak ada istilah good news atau bad news, yang ada hanyalah news, karena semua tergantung pada sudut pandang kita. Sesuatu yang buruk bisa menjadi baik atau sebaliknya tergantung pada sudut pandang kita.

Nah, buku ini menantang pembacanya untuk berani berubah. Penulis mampu mengungkapkan sebuah keadaan yang acap kali membuat kita membuang waktu berlama-lama atau jalan di tempat. Misalnya, kita merasa punya pengalaman puluhan tahun, tetapi sesungguhnya bisa jadi hanya pengalaman satu tahun yang diulang-ulang sepuluh kali. Akibatnya, bukan hanya memboroskan waktu tetapi kita hanya melakukan hal yang sama bertahun-tahun dan berharap hasil yang lebih baik. Menurut penulis, jika kita melakukan hal yang sama tetapi berharap hasil yang lebih baik, namanya orang gila definisi baru. Intinya, pembaca ditantang untuk berani melakukan hal baru yang bisa menghasilkan terobosan baru.

Secara lugas, buku ini juga menawarkan tantangan kepada pembaca untuk mengalami terobosan dengan cara kreatif dan membuat kita dibukakan dengan sebuah pengertian yang baru. Namun, tidak tergesa-gesa, apalagi dengan cara instan. Sebaiknya justru dengan mengambil waktu untuk melakukan perenungan dan kontemplasi. Sesuatu yang baik tidak pernah datang dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan, dicari, diketuk, diminta. Karena mereka yang mencari akan mendapatkan, yang mengetuk pintu akan dibukakan, dan yang meminta akan diberi. Inilah yang menarik dari buku Hendrik Lim, karena semua ide dan terobosan yang ditawarkan bisa diimplementasi.

Bagi perorangan atau pribadi, buku ini memiliki dampak yang sangat kuat bagi pembacanya, apalagi jika membacanya hingga tuntas. Hampir semua hal yang ditawarkan sangat menantang untuk dilakukan dan dievaluasi hingga mengalami apa yang disebut terobosan. Demikian pula dengan contoh-contoh kasus yang dipilih sangat membumi dan riil seperti yang dihadapi oleh kebanyakan orang yang sedang membentur tembok dalam karier ataupun bisnisnya.

Meski sangat kuat menggiring pembaca untuk menikmati setiap halaman dari ide dan cerita yang ditawarkan, buku ini lebih banyak menyentuh area pribadi. Penulis kurang banyak mengupas keuntungan dari korporasi yang para eksekutif dan manajernya mengalami terobosan. Padahal, jika hal itu digali, buku ini bisa menjadi buku pegangan yang sangat baik bukan hanya bagi pribadi yang mau terus berkembang, tetapi juga buat sebuah korporasi.

Kendati demikian, buku ini memberikan manfaat yang besar bagi korporasi jika semua individu mengalami terobosan dalam area yang selama ini terus berkutat dan tidak bergerak maju. Artinya, buku ini bernilai bagi korporasi yang sedang mengalami jalan buntu atau sedang bergerak pelan. Mereka yang mengalami jalan buntu mendapat inspirasi untuk berani melangkah dan mengalami terobosan baru. Sementara bagi mereka yang sedang maju secara pelan, diinspirasi untuk bergerak lebih cepat dan terus kreatif menemukan hal-hal baru, sehingga mampu melaju sebagai pemimpin pasar.

Buku ini bisa menjadi sahabat bagi mereka yang tidak puas terhadap keadaannya sekarang atau sedang dirundung masalah yang tidak tahu jalan keluarnya seperti membentur tembok. Sebab, buku ini membimbing pembacanya untuk menemukan rahasia yang selama ini tersembunyi, yang sebenarnya sudah ada tetapi belum dilihat dan diekplorasi oleh kita.

Selamat bercermin, selamat mengalami terobosan.



* Wakil Dekan Fakultas Komunikasi

President University

SHARE SOCIAL MEDIA


RELATED POSTS

Sorry, no related post.

LEAVE A REPLY


4 + = nine