Home » Business Strategy » Management » Inflasi Tahun 2013 Diprediksi 5-6 Persen

Inflasi Tahun 2013 Diprediksi 5-6 Persen

Secara keseluruhan, PermataBank memandang ekonomi Indonesia akan tetap baik di tahun 2013. Hanya, ada sejumlah catatan terhadap beberapa indikator ekonomi. Salah satunya adalah tingkat inflasi yang diprediksi akan naik.

A Tony Prasetiantono Komisaris Independen PermataBank (kanan), di acara paparan publik PermataBank, di Jakarta, Rabu (19/12/2012).

“Tahun depan, saya sebetulnya tidak akan seoptimis pemerintah yang (menargetkan pertumbuhan ekonomi) 6,8 persen. Saya kira terlalu tinggi. Tapi memang tugas pemerintah untuk meniupkan optimisme. Saya juga mengerti. Tapi kalau angkanya kebablasan jadi tidak kredibel.  Jadi, pemerintah harus lebih hati-hati memprediksi itu. Prediksi saya tahun depan antara 6,1-6,5 persen,” sebut A Tony Prasetiantono, Komisaris Independen PermataBank, di acara paparan publik PermataBank, di Jakarta.

Dengan prediksi pertumbuhan ekonomi masih di atas 6 persen pada 2013, maka kondisi ekonomi Indonesia dipandang masih sebaik tahun ini. Namun, inflasi tahun depan diprediksi akan lebih tinggi daripada tahun ini. Jika tahun ini inflasi ditaksir berada di angka 4,5 persen, maka tahun depan, inflasi diperkirakan ada di rentang 5-6 persen.

Inflasi yang tinggi itu karena, kata Tony, adanya kemungkinan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik. Dampak lanjutan dari inflasi yang bisa mencapai 6 persen adalah tingkat suku bunga acuan (BI rate) mungkin akan naik. “BI rate dari posisi 5,75 persen tahun ini, tahun depan mungkin bisa 6 persen,” lanjut dia.

Menurut dia, sekalipun BI rate naik, hal itu tidak akan mengganggu sektor perbankan. Karena, nasabah Indonesia dipandang sudah biasa menghadapi suku bunga yang tinggi. Dia mengatakan, “Sehingga kalau bunga benchmark rate 6 persen, atau bahkan 6,25 persen, itu belum akan elastis mengganggu ekspansi kredit. Sehingga ekspansi kredit saya perkirakan akan tetap di level 23 persen untuk tahun depan.”

Mengenai nilai tukar rupiah terhadap US$, Tony berpendapat, mata uang Indonesia ini akan sedikit menguat. Salah satu pendorongnya adalah kemungkinan Amerika Serikat meneruskan kebijakan quantitative easing, atau sederhananya kebijakan mencetak uang atau menambah peredaran dollar AS untuk tujuan tertentu. Akan tetapi, penguatan rupiah tidak akan sampai level Rp 9.000 karena memperhitungkan daya saing produk-produk nasional di luar negeri. Sehingga nilai tukar ditaksir akan ada di kisaran Rp 9.400-Rp 9.500/US$ 1 pada tahun 2013 nanti.

“Saya masih yakin ekonomi Indonesia tahun depan masih akan survive, akan tumbuh dengan baik, kepala 6 (persen). Masih lebih baik daripada krisis tahun 2009, di mana pertumbuhan kita waktu itu 4,5 persen,” sebut dia menegaskan.

Terhadap industri perbankan sebagai salah satu bagian dari perekonomian nasional, Tony pun berpandangan, “Dengan gambaran (ekonomi) seperti itu menurut saya kita sangat berharap industri perbankan akan terus melanjutkan kinerja yang terbaik pada 2013. Sehingga salah satu pintu masuk krisis itu bisa ditutup, tidak terbuka seperti tahun 1998. Jadi, kita sangat berharap industri perbankan ini jadi pilar yang akan menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis,” dia menyimpulkan. (EVA)

SHARE SOCIAL MEDIA

RELATED POSTS

Sorry, no related post.

LEAVE A REPLY


× nine = 9