Home » Headline » Tahun 2015 Solo Menjadi Kota dalam Kebun

Tahun 2015 Solo Menjadi Kota dalam Kebun

Program lingkungan hidup yang dijalankan di Kota Solo berupaya menciptakan ruang terbuka hijau sebanyak-banyaknya, sehingga kelak diharapkan Kota Solo menjadi “Kota dalam Kebun”. Apa saja program lingkungan hidup Kota Solo, : FX Hadi Rudyatmo, Walikota Solo, menuturkannya kepada Gustyanita Pratiwi dari SWA.

Hadi Rudyatmo, Walikota, Solo, hijau, kebijakan, hutan kota, IGRA, SWA

Hadi Rudyatmo

Bagaimana program lingkungan hidup di Kota Solo dilakukan dalam pengelolaan sampah, pengelolaan hutan dan perkebunan, pemanfaatan lahan dan pengelolaan tata ruang pertanian, Daerah Tangkapan Air (DTA) dan Daerah Aliran Sungai, ketersediaan air bersih, kualitas udara, energi, green energy, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan sebagainya?

Surakarta merupakan bagian dari Jawa Tengah yang cukup berkembang. Luas wilayahnya 44,04 km2. Jumlah penduduk kalau malam hari 542 ribu jiwa. Kalau siang hari bisa 1,5-2,5 juta, karena kami sudah ada hinterland dari 6 kabupaten ditambah Ngawi, Madiun, Ponorogo, Pacitan yang sering datang ke Solo. Jumlah kecamatan 5 dengan kelurahan 51. Dan Solo juga ada 2 peninggalan leluhur yaitu Keraton Kasunanan dan Puro Mangkunegaran, sehingga konsep yang ingin kami wujudkan mengenai Solo Hijau ini tidak meninggalkan Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran.

Kota Surakarta mempunyai beberapa Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik yang bisa dimanfaatkan keberadaannya, seperti Taman Balekambang, Taman Banjarsari, Taman Air Tirtonadi, Taman Sekartaji, Taman Satwa Taru Jurug, dan rencana beberapa pembangunan taman di tahun 2012 seperti Taman Urban Forest III di wilayah Pucangsawit, Kecamatan Jebres seluas 3.700 m2. Penyediaan RTH merupakan amanat dari UU No.26/2007 tentang penataan ruang di mana disyaratkan luas RTH minimal 30% dari luas wilayah perkotaan.

Rencana RTH Kota Surakarta yang akan dibangun dalam bentuk taman seluas 357 hektare (ha), RTH dalam bentuk Taman Pemakaman Umum (TPU) seluas 50 ha, RTH dalam bentuk sempadan rel kereta api seluas 73 ha dengan sebaran di beberapa kecamatan. Juga terdapat Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) di Kota Surakarta seluas 7 ha yang tersebar di seluruh kawasan kecamatan.

Pembangunan RTH ini melibatkan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Badan Lingkungan Hidup (BLH). Peran dinas-dinas ini diantaranya menyediakan tanaman produktif. Meskipun demikian, perawatan RTH yang ditugaskan ke beberapa dinas belum terlaksana dengan baik dan minimnya kerjasama atau koordinasi antar dinas dalam merawat RTH di seluruh wilayah Surakarta.

Minimnya keterlibatan warga dalam memelihara taman kota di lingkup RT/RW/Kelurahan menjadi kendala dalam melestarikan beberapa taman kota yang sudah dibangun. Kurangnya pengkajian analisis sosial kebutuhan masyarakat berdampak pada tidak pedulinya masyarakat untuk menjaga taman kota. Misalnya, di daerah sempadan sungai, banyak lahan atau hunian liar yang belum dikelola oleh pemerintah kota. Ada beberapa taman kota yang dibangun oleh pemerintah di daerah sempadan sungai, namun partisipasi masyarakat masih rendah.

Kemudian kendala tentang pengelolaan sampah, secara faktual peningkatan jumlah sampah di Kota Surakarta meningkat secara signifikan. Tahun 2003 dengan jumlah 72 ribu ton, 2011 meningkat hingga 88 ribu ton. Sampah ini masih menjadi masalah yang belum dapat diselesaikan dengan tuntas di Surakarta. Sampai saat ini jumlah sampah yang diterima TPA Putri Cempo setiap harinya mencapai 85,66%. Sampah ini dibuang langsung oleh seluruh masyarakat Surakarta. Pengurangan timbunan sampah di tingkat RT/RW maupun di TPS belum terlaksana secara maksimal. Ditambah, kondisi TPA Putri Cempo yang saat ini bisa dikatakan overloaded dan sudah mencemari sumur masyarakat sekitar.

Hasil pemantauan kualitas udara ambient di Kota Surakarta tahun 2006-2009, menunjukkan bahwa tingkat kualitas ambient umumnya baik, karena masih di bawah baku mutu yaitu NO2 , 316 ug/nm2 dan SO2, 632 ug/nm3, O2 < 200 ug/nm3. Tersedianya angkutan publik dan sedikitnya kendaraan bermotor di jalan raya menyebabkan kualitas udara Kota Surakarta dapat dikatakan baik. Lokasi industri juga berada di perbatasan kota atau kabupaten, sehingga dapat dipastikan ke depan kualitas udara Surakarta masih dalam kondisi baik.

Pengelolaan sumber daya air, dari hasil pengujian kualitas air, kualitas II, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk sarana rekreasi air, pengelolaan ikan air tawar, peternakan dan pertanian dari 2005-2008, menunjukkan semua sungai mempunyai kualitas air kurang baik. Umumnya mempunyai tingkat COD (>25 Mg/l) dan BOD (>3 mg/l) tinggi di atas baku mutu.

Sungai-sungai di Surakarta umumnya tercemar karena masih banyak rumah tangga, industri kecil, menengah, yang membuang limbah ke badan sungai, serta karena aliran sungai yang berasal dari hulu/daerah lain sudah tercemar mengalir ke sungai di Surakarta. IPAL baru diterapkan di lingkungan rumah sakit, beberapa industri batik dan industri tahu. Tempat-tempat seperti sekolah, kampus, beberapa industri lain belum menerapkan IPAL. Sistem penjernihan air merupakan solusi tepat jangka pendek dalam menanggulangi pencemaran air di seluruh sungai di Kota Surakarta.

Strategi terobosan yang akan kami lakukan tentunya ada beberapa macam, yaitu:

Pengelolaan sampah : Pelatihan dan percontohan 3R, pengadaan investor pengelolaan TPA Puri Cempo, pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah kota dan TPA, serta membuat Kelompok 3R

Penghijauan/Penataan Taman dan Kawasan : Desain dan pengerjaan fisik: Menyusun Perda Lokasi dan Luas Hutan Kota, desain dan pengembangan Hutan Kota dan RTH, kawasan bantaran Sungai Kalianyar, kawasan bantaran Sungai Bengawan Solo, Kawasan Bantaran Kali Pepe, penataan koridor Jln. Veteran, koridor Jln. Bhayangkara, koridor Jln. S.Parman, Kawasan Monjari, Kawasan perempatan Patung Wisnu, kawasan Stadion Manahan, Kawasan Pertigaan Komplang, kawasan Pasar Gede, dan citywalk Brengosan.

Pengerjaan fisik: penghijauan dan penataan kawasan Hutan Kota, pemeliharaan Taman Sekartaji, pemeliharaan taman urban forest, pemeliharaan koridor Ngarsopuro, pemeliharaan kawasan Galabo, penataan Jln. Gatot Subroto dan Jln. Sudirman.

Pagarisasi Hijau. Jadi, kalau kita bicara penghijauan di Solo, hasil nyatanya yang dulu pagar tembok, sekarang dijadikan pagar hijau, seperti di SMK 6. Yang namanya pagar tembok ini justru tidak menjadikan sekolah ini aman. Manusia ternyata lebih mudah dipengaruhi oleh alam, daripada oleh satpam. Sekarang sudah tidak pernah kecurian, helm pun tidak pernah ada yang hilang. SMK 6 ini hasil nyata yang kami lakukan. Balai kota tahun depan temboknya juga akan kami robohkan. Sebelah selatan akan kami teruskan kawasan kota barat, baru proses, mungkin 2013 mungkin sudah berubah banyak. 2015 Solo mempunyai target, Solo sudah menjadi Kota dalam Kebun. Kecamatan Banjarsari sekarang pagarnya hijau semua, kantornya juga baru, pelayanan juga ditingkatkan.

Pembuatan Resapan Air. Penyusunan Perda tentang Pengelolaan Air Tanah. Pembuatan 500 unit sumur resapan, biopori, penyusunan kajian potensi air tanah, desain pengembangan dan pengelolaan air tanah.

Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Fisik, yakni berupa pemeliharaan sarana dan prasarana taman-taman kota, jalan, saluran, penerangan umum, lalu lintas, persampahan, meterisasi PJU, dan penggantian PJU dengan PJU hemat energi.

Revitalisasi Bangunan Warisan Cagar Budaya: Renovasi Masjid Agung Surakarta, dan pemeliharaan bangunan cagar budaya. Penanaman aset, di Tirtonadi yang dulu penuh hunian sekarang sudah makin terawat walau bertahap. Yang penting aset itu terselamatkan terlebih dahulu. Di Polres Bengawan Solo, Sekar Taji, yang dulu ada 200 sekian rumah, sekarang yang pertama mereka terselamatkan dari banjir. Kedua, warga masyarakatnya mendapatkan sertifikat ukuran 50-60 km persegi, tanah diberikan. Penanaman aset lagi, Monumen kami selesaikan 4 bulan dulunya penuh PKL. Sekarang kembali lagi, anak-anak bermain dengan santai dan tidak menghirup udara yang tidak sedap. Semua sudah bagus. Untuk di citywalk, kawasan sungai bengawan solo, sekarang sudah bagus. Kalau banjir bagaimana? Ya kebanjiran, namun paling tidak dulunya yang 12 kelurahan, karena tampungan airnya sudah direlokasi, akhirnya sekarang tinggal 1 RW, yang kebanjiran. Itu daerah rumah saya sendiri (bercanda)

Pemberlakuan kebijakan Clean Air, Kerjasama dengan GIZ mengenai program SUTIP, CASC, PAKLIM, Pelaksanaan Car Free Day. Car Free Day kami dari Purwosari sampai Ngladag, sepanjang 3-4 km, terpanjang di seluruh Indonesia. Pada malam tahun baru nanti, di Solo diharapkan sudah tidak ada konvoi sepeda motor yang meraung-raung. Nampaknya target dari Pemkot Surakarta, 2015 sudah mewujudkan Solo Kota dalam Kebun. Untuk hal yang lain adalah meningkatkan kesejahteraan, yang dampaknya adalah bisa menciptakan RTH yang baru. Aset-aset lain, pemerintah kota yang dulu dijarah masyarakat sekarang sudah kembali, dan tercatat sebagai aset pemerintah. Tercatat dalam neraca dan sudah disertifikatkan. Jadi, artinya lahan itu tidak akan bisa hilang.

Lalu hingga saat ini, sejauh mana atau apa saja manfaat yang mereka rasakan dengan adanya program lingkungan hidup ini?

Tata ruang kota sudah mulai nampak, dengan adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH). RTH ini sudah hampir memenuhi seperti undang-undang, yaitu 30%. 20% ruang terbuka hijau dari publik, 10% dari privat. Yang Pemkot sudah lakukan baru 11,9%. Ini pun membutuhkan waktu yang cukup lama, kira-kira hampir 8 bulan untuk menyelesaikan realokasi dan hal-hal lainnya. Salah satu pengamanan aset yang ada di bantaran sungai, Balaitambang, sebagian Sekar Taji. Inilah yang tadinya dari 371 rumah, sekarang menjadi RTH yang kami pasang juga tempat olah raga, tenis meja dari beton, lapangan voli, sebelahnya lagi RTH untuk kepentingan anak-anak, main futsal, outbond. Sudah dibebaskan untuk direalokasi.

Kedua tentang pengelolaan sampah di Solo, kemarin baru saya selesaikan juga dengan Bapenas, mudah-mudahan selesai. Pada tahun 2003, sampah yang ada 72 juta ton lebih. Sampai 2008-2011, 80 juta ton. Jadi, kalau kita melihat seperti ini dengan luas wilayah 44 km2, tidak mungkin kami akan menumpuk sampah terus-menerus. Maka dari itu, terobosan harus diupayakan. Yang pertama, bagaimana upaya untuk mengelola sampah itu sendiri. Sedangkan untuk kualitas udara dan pengelolaan sumber daya air, Kota Surakarta ini mudah-mudahan akan lebih baik karena tersedia cukup banyak sehingga polusi udaranya akan terkendali, masih di bawah ambang batas. Jauh mungkin. Program-program lain, untuk limbah dari industri rumah tangga/industri kecil menengah juga sudah kami buang bukan ke badan sungai, tapi kami sudah punya pengelolaan limbah di dua titik, Semanggi dan Juluk.

Pengelolaan sampah pun kami upayakan terus-menerus, plus pengelolaan RTH. Kemarin, kemarau panjang juga cukup melelahkan dan menghabiskan energi cukup banyak. Ini semua untuk pengelolaan kualitas udara yang ada di Solo dengan penghijauan, termasuk bagaimana kami mewujudkan transportasi massal yang nantinya bisa berpengaruh baik untuk ekonomi maupun kesehatan bagi masyarakat. Kami akan menambah transportasi massal, yang representatif, aman, nyaman, bisa dinikmati masyarakat dan bisa mengurangi emisi sesuai peraturan perundang-undangan. Armada bis tahun depan ditambah 10 unit. Kami akan membuka koridor baru. Trayeknya dalam kota. Karena untuk anak-anak sekolah, koridornya ditambah. Tujuanya, menurunkan emisi dan mengurangi kemacetan. Jangan sampai nanti terjadi kemacetan terus-menerus. Minimal pengelolaan udara kami sudah bisa terkendali.

Bagaimana dengan kualitas udara Kota Solo?

Pada tahun 2011, melalui program “Kota Langit Biru”, Solo memiliki skor tertinggi untuk kategori Kota Terbersih, menyisihkan 12 kota besar di Indonesia. Penilaian ini dilakukan dengan mengukur tingkat emisi gas buang dan sumber yang bergerak (kendaraan bermotor) di 12 titik di jalan utama di Solo, serta menyediakan RTH untuk menciptakan iklim mikro yang bersih.

Adapun program yang dijalankan, antara lain, program Solo Car Free Day, Move People Nos Cars, dan Unmotorized and Pedestrian Oriented informatika (Dishubkominfo). Solo Car Free Day dilaksanakan setiap Minggu di Jln. Slamet Riyadi dan Ir. Juanda dimulai pukul 05.00 sampai 09.00 WIB. Solo Car Free Day dibagi menjadi empat area, yaitu area olahraga (Purwosari-Sriwedari), area edukasi (Maladi Stadium-Pasar Pon), area seni dan budaya (Pasar Pon-Ngarsopuro-Nonongan), dan area hiburan (Nonongan-Gladak).

Pengembangan angkutan umum massal, yaitu Batik Solo Trans (BST) yang akan dikembangkan menjadi beberapa koridor. BST akan terintegrasi dengan stasiun kereta api maupun bandara Adi Sumarmo. Selain peremajaan angkutan umum melalui BST, Dishubkominfo juga menambah armada, yaitu bus tingkat wisata Jalan Dara dan railbus Batara Kresna. Pemkot Surakarta juga memiliki citywalk di sepanjang Jln. Slamet Riyadi di mana pejalan kaki dapat beristirahat dan jogging.

Pencanangan Kota Surakarta sebagai Kota Bunga dan Kota Pohon merupakan bagian tak terpisahkan dari visi Solo Eco Cultural City. Saat ini Surakarta mempunyai 26 hutan kota yang tersebar di seluruh wilayah Surakarta. Pengembangan RTH dan kawasan bantaran sungai yang menjadi fokus Pemkot bertujuan untuk mempertahankan kualitas lingkungan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Surakarta membantu Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surakarta dalam melakukan pengelolaan sampah terpadu, khususnya sampah berbasis masyarakat tingkat RT/RW. BLH mengadakan sosialisasi dan workshop di beberapa lokasi, diantaranya : 9 perumahan, semua perkantoran, 1 pasar, 1 terminal, 8 sekolah, 1 hotel, semua rumah sakit dan Puskesmas, serta warga masyarakat di 14 titik lokasi.

Kegiatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hampir di seluruh kecamatan mempunyai kampung hijau percontohan yang dapat mengelola sampah secara terpadu. Namun, ada pula beberapa kelompok masyarakat yang tidak dapat melanjutkan aktivitas pengelolaan sampah karena tidak mampu menjual produk daur ulang sampah ke masyarakat sekitarnya.

Dinas Pertanian Kota Surakarta juga melakukan pengelolaan sampah yaitu dengan melakukan pengelolaan kotoran ternak di tiga kecamatan yaitu :

Kecamatan Laweyan, dengan hasil produksi kompos sebanyak 0,09 ton.

Kecamatan Banjarsari, dengan hasil produksi kompos sebanyak 1 ton.

Kecamatan Jebres, dengan hasil produksi kompos sebanyak 15 ton.

Bagaimana dengan konservasi sumber daya air?

Pada 2011, BLH membangun sumur resapan sebanyak 53 unit, sedangkan 2012 42 unit di seluruh wilayah Surakarta. Pemkot bekerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan pengelolaan bantaran Bengawan Solo sepanjang kurang lebih 5 km dari Kelurahan Semanggi sampai Kelurahan Jebres.

Pemkot Surakarta mempunyai percontohan IPAL di kawasan pemukiman, yaitu di Kampung Batik Laweyan dan Kampung Biogas Tahu Mojosongo. Di kampung tersebut sudah mampu mengelola produk limbah yang menghasilkan air bersih. Nampaknya 2015, Solo sudah menjadi Kota dalam Kebun.

SHARE SOCIAL MEDIA

LEAVE A REPLY


9 − = two