Home » Business Strategy » Marketing » Shappire Berani Keluar dari Pakem Sarung Kotak-Kotak

Shappire Berani Keluar dari Pakem Sarung Kotak-Kotak

Kalau biasanya sarung hanya bercorak kotak-kotak, kini ada diversifikasi baru yang muncul dari sarung gebrakan PT Duta Ananda Utama Textile. Motifnya yang unik, yaitu songket serta dikerjakan dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sarung-sarung lain. Dari itulah  Imam Ismanto Bakti, Pimpinan Perusahaan PT Duta Ananda Textile, berani mengklaim produknya sebagai sarung berkualitas, khusus untuk kelas premium.

Berangkat dari IKM (Industri Kecil Menengah) yang berlokasi di daerah Pekajangan, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, perusahaannya terus tumbuh hingga kini mampu mengekspor ke kawasan mancanegara. Berikut petikan wawancara Gustyanita Pratiwi dari SWA Online dengan Imam Ismanto Bakti.

sumber foto : facebook PT Duta Ananda Utama Textile (PT Dutatex)

Apa saja produk-produk unik yang diekspor saat ini?

Saat ini kami konsentrasi ke merek Sapphire kain sarung (songket tenun).

Kapan mulai melakukan ekspor?

Ekspor langsung sejak tahun 2004.

Apa keunikannya?

Pertama, warna, kedua handling (istilahnya kalau baju itu dilihat dari halus atau tidaknya), ketiga desain.

Desain dari kalangan sendiri?

Iya, kami punya tim untuk itu. Ide untuk mendesain ulang motif itu muncul saat bisnis sarung stagnan antara 2002-2004. Pada waktu itu Bapak Amin Salim Basymeleh (pendiri PT Duta Ananda Textile) mulai sadar bahwa konsumen menyukai sarung ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang memiliki kelebihan di motif timbul, nonlurik atau kotak dan bunga. Lalu, Pak Amin dan saya  membuat sarung dari corak palekat biasa ke corak songket. Corak songket kami pilih karena kemungkinan untuk memvariasikan motifnya lebih luas. Kami lalu memodifikasi mesin tenun bak 4 menjadi mesin tenun bak 8, meskipun hal ini sempat berlangsung lambat karena karyawan juga perlu waktu untuk mengerti sistem kinerja mesin. Antara modifikasi mesin, penambahan dobby dan jacquard, akhirnya kami menghasilkan sarung Sapphire bermotif tikar dobby, kembang-kembang, serta lurik dengan gradasi warna, yang berbeda dari sarung lain. Dutatex sekarang bisa menghasilkan empat jenis sarung yang bermotif konvensional, dobby, jacquard, dan tikar dobby. Untuk produk sarung ekspor ditambah kain sorban polos, dobby, dan jacquard.

Kalau bicara kualitas, bahan bakunya dari mana ?

Lokal

Pewarnaannya juga?

Pewarnaannya kebanyakan impor dari Jerman, India, Cina. Kalau bahan baku, banyak pabrik benang di sini. Kami coba yang kelas 1 misalkan pewarnaan Bandung, Apac Inti Corpora, Grup Argo Pantes, Indorama, Indo Barat Rayon, jadi kami coba beli bahan baku dari perusahaan yang memang berkelas. Untuk pewarnaan juga sama. Begitu juga beli dari distributor yang berkelas. 

Berapa harga produknya?

Satu kodi dipatok sekitar US$ 110. Kalau pasar lokal dijual Rp 900 ribu/kodi. Kalau di mll, 150 ribu per pieces, ritel Rp 100 ribuan. Kalau harga pabrik Rp 50 ribu.

 Kompetitornya apa saja?

Sarung Gajah Duduk, Atlas, Wadimor.

 Berarti skala bisnisnya menengah?

UKM dulu ya, sehingga waktu itu kami ikutnya karena kategori Upakarti dimasukkan ke skala Usaha Kecil Menengah.

sumber foto : sarungsapphire.com

Kami masih menengah, kalau besar, belum. Tapi justru dengan posisi ini ada bagusnya. Pada saat kami masuk ke posisi UKM, kami mendapat bantuan waktu beli mesin, dari Kementrian Perindustrian. Mungkin kalau besar, malah kami tidak dapat. Ada bantuan yang skim credit, 25 %. Kalau kami masuknya di skala besar, dapatnya maksimal 10%, itupun masih kalah cepat dengan mereka yang lebih besar. Mau tidak mau tahun 2013 ini skala kami masih UKM lagi.

 Diekspor kemana saja?

Wilayah ASEAN (Malaysia, Thailand, Singapura), Timur Tengah (Arab Saudi, Yaman), Afrika (Kotono, Nigeria, Somalia, Kenya, Tanzania).

 Berapa nilai total ekspor pertahun?

Total ekspor per tahun antara US$ 6-8 juta.

 Komposisi pasar ekspor dan lokal?

Perbandingan ekspor dan  lokal 50 : 50. Untuk pasar lokal biasanya buat baki, walikota, bupati, kyai, dan lainnya.

 Bagaimana langkah-langkah membangun ekspor?

Yang jelas kami datangi negara yang sudah kami masuki secara teratur, kami lihat potensi pasarnya, kompetitornya, serta ancamannya. Kemudian pasar baru yang potensial yang akan kami datangi atau kami bangun.

 Bagaimana jatuh bangun selama proses ekspor?

Masa paling sulit itu pada tahun 2001-2003. Ketika kami ekspor, negara tujuan ekspornya yaitu Etiophia dan Somalia, sedang perang saudara. Kemudian pasar lokalnya, waktu itu kebetulan, pasar sarungnya sedang drop, direbut sama kain sarung printing, sedangkan punya kami yang tenun.

Cara mengatasinya, kami kurangi produksi dulu, kemudian kami atur strategi lagi dan reposisi. Kemudian style produknya kami ubah.

 Kalau antarnegara, kompetitor negara mana yang paling berat?

Negara lain belum ada. Tapi justru kompetitor malah datang dari negara kita sendiri. Kalau bertemu dengan India, Cina, jelas ada. Tapi kembali lagi, kalau kami bersaing terutama dengan Cina, kalau kami produk massal, misalnya buat kain ihrom. 

 Untuk mengangkat pasarnya, Bapak perlu mengangkat agen, atau buka kantor representatif sendiri?

Kami tunjuk agen di negara tujuan. Kurang lebih area regionalnya kami bangun.

Bagaimana strategi untuk membangun mitra baru?

Kami jual beli dulu, yang paling aman itu barangnya dikirim, sudah dibayar. Itu kan jual beli yang paling aman. Dari situ kami berjalan, kemudian cari informasi seakurat mungkin kekuatan-kekuatan customer kami seperti apa, baik itu kekuatan financialnya, kekuatan penyebaran barangnya, serta kekuatan pasarnya.

Bagaimana kinerja perusahaan saat ini? 

Musti terus ekspansi dalam 5 tahun terakhir. Pertumbuhannya dari tahun lalu ke tahun ini meningkat 62%.

Adanya krisis di Amerika dan Eropa itu mengganggu juga tidak?

Kami beda segmen, Eropa tidak ada kaitan. (EVA)

SHARE SOCIAL MEDIA

LEAVE A REPLY


+ 3 = ten