Home » Business Strategy » Book Review » Membangun Bisnis Sosial Ala Muhammad Yunus

Membangun Bisnis Sosial Ala Muhammad Yunus

Share

Judul : Building Social Business: The New Kind of

Capitalism that Serves Humanity’s Most Pressing Needs

Penulis : Muhammad Yunus

Penerbit: New York: Publics Affairs, 2010

Tebal : 226 + xxv

Muhammad Yunus adalah seorang praktisi bisnis visioner yang memelopori pengembangan kredit mikro dan bisnis sosial serta memenangi hadiah Nobel Perdamaian 2006, atas jasanya mengembangkan konsep baru mengatasi kegagalan pasar bebas, yaitu bisnis sosial. Didesain untuk mengatasi gap antara mengeruk keuntungan dengan memenuhi kebutuhan manusia, bisnis sosial menerapkan pemikiran entrepreneurial untuk mengatasi masalah seperti kemiskinan, kelaparan, polusi dan penyakit, mendirikan perusahaan mandiri untuk menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, serta membantu menciptakan dunia menjadi tempat tinggal yang lebih manusiawi.

Bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar, Yunus dan Grameen Bank telah meluncurkan beberapa bisnis sosial untuk menghadapi tantangan seperti kekurangan gizi dan air bersih, serta wabah penyakit. Melalui buku ini, Yunus menawarkan petunjuk praktis bagi mereka yang berminat mengembangkan bisnis sosial dan memperlihatkan kenapa bisnis sosial berpotensi mengatasi kegagalan pasar bebas.

Dalam buku ini, Yunus menjelaskan dengan gamblang konsep bisnis sosial dan menjawab banyak pertanyaan yang sering dia dapat seputar bisnis sosial. Bisnis sosial berbeda dari bisnis biasa, yang mana semua keuntungannya diberikan kembali kepada perusahaan untuk menciptakan semakin banyak keuntungan sosial, bukannya dibayarkan sebagai dividen kepada para investor atau pemilik perusahaan. Yunus membandingkan bisnis sosial dengan beberapa bentuk organisasi yang diarahkan untuk kegiatan sosial seperti lembaga swadaya masyarakat, lembaga amal, tanggung jawab sosial perusahaan dan berbagai bentuk organisasi sosial sejenis. Perbedaan utamanya adalah bisnis sosial berusaha mandiri dan tidak tergantung pada donasi swasta atau pemerintah untuk bertahan hidup. Bisnis sosial juga harus memenuhi kriteria yaitu bukan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan perorangan ataupun investor. Tidak seperti lembaga amal, bisnis sosial mandiri secara keuangan, sehingga tidak harus mengerahkan sumber daya manusianya untuk mendapatkan donasi. Maka, bisnis sosial bisa juga diartikan sebagai non-loss, non-dividend company, yang didedikasikan seluruhnya untuk mencapai misi sosial.

Bagi Yunus, terdapat dua jenis bisnis sosial. Pertama, perusahaan berorientasi keuntungan yang dimiliki oleh kaum papa untuk memenuhi misi sosialnya yaitu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Kedua, bisnis yang memenuhi kriteria berikut: tidak ada keuntungan yang dibagikan kepada investor dan pemilik perusahaan; mandiri secara keuangan; bertanggung jawab secara ekologi; bisnis tersebut harus didedikasikan untuk kepentingan sosial; bisnis tersebut memberikan gaji kepada karyawan lebih baik daripada gaji rata-rata; dan bisnis tersebut harus dijalankan dengan ikhlas.

Membuat business plan dengan kriteria tersebut sangatlah menantang. Setelah Yunus mempresentasikan contoh-contoh bisnis sosial yang sukses, kita mendapatkan gambaran yang akurat tentang bagaimana Yunus dapat memenuhi kriteria yang sangat ketat di atas:

= Join ventura yang pertama dibangun pada 2005 bekerja sama dengan perusahaan Prancis Danone dengan tujuan mengurangi kekurangan gizi anak-anak Bangladesh. Grameen-Danone mampu menghasilkan yogurt yang bergizi tinggi dengan harga terjangkau.

= Join ventura antara Grameen dengan Veolia telah dimulai untuk menyediakan air bersih yang bebas dari arsenik di Bangladesh. Grameen Veolia Water telah berhasil menjual air bersih kepada kaum papa dengan harga terjangkau.

= Grameen dan Pfizer membuat join ventura untuk menyediakan layanan kesehatan dengan harga terjangkau di klinik perdesaan melalui Grameen Healthcare. Bisnis sosial yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan ini didirikan bersamaan dengan pendirian sekolah perawat untuk melatih penduduk lokal yang kemudian bekerja di desa-desa ataupun di luar negeri.

= Saat ini Grameen BASF, Grameen Intel, Grameen Adidas, Grameen Otto, Grameen Telecom, Grameen Energy dan Grameen Well Being telah berdiri di Bangladesh untuk melayani kaum papa.

= Grameen Bank meminjamkan uang kepada para pengemis untuk menjual mainan, peralatan rumah tangga dan makanan dari rumah ke rumah. Terdapat 100 ribu pengemis yang mengikuti program ini. Sejak program itu diluncurkan, lebih dari 18 ribu pengemis berhenti mengemis.

= Grameen Bank menawarkan pinjaman kepada anak-anak dari nasabahnya untuk pergi ke sekolah. Sekitar 50 ribu mahasiswa mampu melanjutkan kuliah di bidang kedokteran dan teknik. Bahkan dalam beberapa kasus, anak-anak dari seorang ibu yang buta huruf mampu menjadi insinyur dan dokter atas jasa Grameen Bank.

Dengan menggunakan sumber daya manusia perusahaan untuk mengatasi permasalahan di area spesialisasinya, kerja sama bisnis sosial antara perusahaan dengan Grameen menyerupai proyek R&D yang dijiwai keinginan beramal.

Yunus juga memberikan beberapa ide bisnis di berbagai sektor bagi Anda yang ingin memulai bisnis sosial Anda, dilengkapi dengan sejumlah kiat praktis. Salah satu pola menarik yang muncul di berbagai bisnis sosial adalah model bisnis subsidi silang. Harga ditekan di perdesaan di mana masyarakat tidak mampu membelinya, dan harga pasar diterapkan di perkotaan di mana masyarakat lebih mampu secara keuangan. Model bisnis ini telah berhasil diterapkan pada layanan kesehatan, yogurt dan air minum.

Buku Building Social Business dilengkapi dengan studi kasus, anekdot dan saran praktis dari Prof. Yunus. Konsep bisnis sosial sangat menarik bagi mereka yang ingin mendukung kegiatan sosial, karena uang yang mereka investasikan dalam bisnis sosial akan kembali dan dapat diinvestasikan ulang untuk kegiatan sosial yang lain. Buku ini harus dibaca oleh siapa saja yang ingin memanfaatkan kreativitasnya untuk mendirikan bisnis sosial dan memberikan kontribusi positif bagi tetangga, masyarakat dan bangsa.

Buku ini sebaiknya juga dibaca oleh para pengusaha dan eksekutif perusahaan yang ingin mendapatkan ide segar dan ingin memaksimalkan program Corporate Social Responsibility perusahaan mereka.

WAWAN DHEWANTO

Peresensi adalah kandidat doktor

Fakultas Bisnis dan Ekonomi

Monash University, Australia.

SHARE SOCIAL MEDIA

RELATED POSTS

Sorry, no related post.

LEAVE A REPLY


8 − = two