<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SWA.co.id &#187; Corporate Action</title>
	<atom:link href="http://swa.co.id/category/corporate-action/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://swa.co.id</link>
	<description>SWA Online</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 14:21:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Saatnya Melindungi Sepenuh Hati</title>
		<link>http://swa.co.id/corporate-action/saatnya-melindungi-sepenuh-hati</link>
		<comments>http://swa.co.id/corporate-action/saatnya-melindungi-sepenuh-hati#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 20:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[AAJI]]></category>
		<category><![CDATA[ACLI]]></category>
		<category><![CDATA[AIA]]></category>
		<category><![CDATA[American Council of Life Insurance]]></category>
		<category><![CDATA[Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Asuransi]]></category>
		<category><![CDATA[Financial]]></category>
		<category><![CDATA[GDP]]></category>
		<category><![CDATA[Gross Domestic Product]]></category>
		<category><![CDATA[Insurance]]></category>
		<category><![CDATA[MarkPlus]]></category>
		<category><![CDATA[Protect]]></category>
		<category><![CDATA[Protection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=29311</guid>
		<description><![CDATA[AIA Financial Kesenjangan proteksi (protection gap) asuransi jiwa masih banyak terjadi di kalangan masyarakat. Bagaimana menata ulang proteksi keluarga Anda  <a href="http://swa.co.id/corporate-action/saatnya-melindungi-sepenuh-hati">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_29314" class="wp-caption alignleft" style="width: 317px;">
<dt><img title="AIA Financial Protection Calculator" src="http://swa.co.id/wp-content/uploads/2012/02/AIA2Payung.jpeg" alt="AIA Financial Protection Calculator" width="307" height="512" />AIA Financial</dt>
</dl>
</div>
<p align="JUSTIFY">Kesenjangan proteksi<em> (protection gap) </em>asuransi jiwa masih banyak terjadi di kalangan masyarakat. Bagaimana menata ulang proteksi keluarga Anda untuk perlindungan sepenuh hati?</p>
<p align="JUSTIFY">Sejauh ini kehidupan keluarga muda pasangan Irwan &#8211; Yanti baik-baik saja. Mereka berbahagia dengan dua buah hati yang masih kecil, meski gaya hidupnya sederhana. Namun, mala petaka itu membuat semuanya berubah. Secara mendadak, Irwan (35 tahun) tewas akibat kecelakaan maut atas motor yang dikendarainya. Yanti (30 tahun) pun <em>shock </em>karena dia hanya ibu rumah tangga dan tulang punggung keluarga telah tiada.</p>
<p align="JUSTIFY">“Ketika suami saya meninggal dunia dalam keadaan <em>jobless,</em>” ucap Yanti. Tak pelak, dia makin stres. Jangankan memikirkan untuk biaya hidup jangka panjang, saat suami wafat pun tiada uluran tangan finansial yang dapat diharapkan. Dia hanya pasrah, nasib ada di tangan Tuhan, begitu pikirnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Beberapa hari setelah pemakaman almarhum Irwan, kegalauan Yanti sedikit terobati. Pasalnya, dia didatangi seorang teman, namanya Wulan, yang memberikan secercah harapan. Kebetulan Wulan agak paham soal asuransi. “Apakah Irwan memiliki polis asuransi,” tanya Wulan kepada Yanti. Pertanyaan itu membangkitkan semangat Yanti karena dia ingat bahwa sang suami pernah membeli produk asuransi jiwa dengan premi Rp 90 ribu per bulan. Saat itu juga mereka mengurusnya ke perusahaan asuransi yang bersangkutan. Beberapa hari kemudian, klaim asuransi itu cair.</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Alhamdulilah </em>kami mendapat klaim asuransi jiwa atas kematian sebesar Rp 200 juta. Apalagi ada tambahan santunan Rp 20 juta untuk biaya pendidikan anak-anak,” ujarnya dengan nada penuh syukur sembari beruraian air mata. Hari ini dia membuktikan secara nyata manfaat asuransi yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup keluarganya.</p>
<p align="JUSTIFY">Setelah kejadian ini, Yanti menggunakan duit Rp 200 juta untuk membeli beberapa rumah petak untuk dikontrakkan. Tujuannya, untuk mendapatkan <em>passive income</em> sebagai dana penyambung hidup saban bulan. Juga, berdagang kecil-kecilan buat uang jajan kedua anaknya. Tak lupa, dari sebagian dari hasil pemasukaannya itu dibelikan lagi polis asuransi jiwa yang sudah teruji keuntungannya bagi ahli waris pemegang polis.</p>
<p align="JUSTIFY">Lain lagi kisah Fitri (37 tahun). Betul, wanita <em>single</em><em> </em>yang bekerja di sebuah media nasional itu memang telah mengantongi polis asuransi kesehatan dari kantor tempatnya bekerja. Tapi, masalahnya apakah nilai pertanggungan asuransinya atau proteksi sudah mencukupi? Fitri hanya menggelengkan kepala saat ditanya hal itu.</p>
<p align="JUSTIFY">Fitri punya pengalaman pahit soal proteksi asuransi yang tidak memadai. Diceritakannya, beberapa waktu lalu dia harus menjalani operasi tumor payudara, bahkan dirujuk ke rumah sakit di Singapura. Bisa ditebak, biayanya pun membengkak. “Pengobatan saya di luar negeri menghabiskan dana puluhan juta, sementara nilai proteksi asuransi dari kantor cuma makimal Rp 10 juta,” kenangnya pilu.</p>
<p align="JUSTIFY">Nah, pelajaran dari musibah itu, lanjut Fitri, dirinya harus memproteksi diri dengan nilai pertanggungan yang memadai. Itulah sebabnya, sejak saat itu dia membeli lagi polis asuransi kesehatan yang dibayar secara pribadi. “Asyiknya produk asuransi saya itu juga bermuatan investasi. Namanya unit link, b<em>enefit</em>-nya ganda: proteksi sekaligus investasi, Bayar preminya sekitar Rp 300 ribu per bulan,” dia menuturkan. Sekarang, Fitri sudah berkeluarga dan menetap di Swedia mengikuti suaminya yang bekerja di sana. Rencananya, dia dan suami akan menambah polis asuransi jiwa dan kesehatan bila sudah memiliki momongan.</p>
<p align="JUSTIFY">Berbeda dengan Yanti dan Fitri, pengalaman yang dialami oleh Tiara lebih dramatis lagi. Sungguh ironis memang, Tiara (40 tahun) yang dikenal sebagai agen penjual asuransi jiwa perusahaan multinasional, justru tidak memiliki polis asuransi satu pun. Celakanya, tahun 2011 Tiara meninggal dunia setelah melawan penyakit kanker serviks yang dideritanya setahun terakhir. Dia terlambat berobat. Sebab, ketika memeriksakan kesehatan ke dokter, dia langsung divonis kanker stadium empat. Bisa dibayangkan betapa sedih dan banyaknya biaya yang terkuras selama masa pengobatan.</p>
<p align="JUSTIFY">“Saya harus menjual rumah yang kami beli secara susah payah selama bertahun-tahun bekerja untuk biaya pengobatan kanker isteri saya,” kata Donny, suami tercinta Tiara. Tragis memang, sudah rumahnya harus dilego, isteri pun tidak tertolong jiwanya. Nah, dengan pengalaman buruk ini, Donny tidak mau terulang lagi. Itulah sebabnya, kini dia membentengi diri dengan membeli produk asuransi jiwa dan kesehatan, terutama yang ada perlindungan penyakit kritis.</p>
<p align="JUSTIFY">Problem yang dialami Yanti, Fitri dan Tiara sering kita jumpai di kalangan masyarakat Indonesia. Ini masalah klasik. Banyak masyarakat yang tidak memiliki asuransi. Kalau pun sudah punya asuransi, faktanya proteksinya tidak mencukupi. Niatnya melindungi sepenuh hati, tapi kok jadinya setengah hati?</p>
<p align="JUSTIFY">Celakanya, ketika musibah itu datang, aktivitas penderita atau pencari nafkah utama terancam terganggu karena harus menjalani pengobatan yang membutuhkan biaya tak terduga. Akibatnya, orang-orang tercinta kena dampaknya. Di sisi lain, biaya pengobatan terus membengkak. Bahkan, di Indonesia dalam dua tahun terakhir terjadi peningkatan 10-14% (<em>Global Medical Trends Survey Report </em>tahun 2011 dari Towers Watson).</p>
<p align="JUSTIFY">Tidak bisa dimungkiri penetrasi asuransi jiwa kita masih rendah, karena mayoritas masyarakat belum paham manfaatnya. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim mengatakan, kecilnya penetrasi asuransi jiwa itu karena masyarakat masih belum yakin bahwa masa depannya akan terjamin dengan masuknya mereka ke asuransi. Menurutnya, Indonesia berpenduduk ke-4 terbesar di dunia (238 juta jiwa), tapi penetrasi asuransinya masih di bawah 5%.</p>
<p align="JUSTIFY">Pendapat Tatang Widjaja menguatkan indikasi tersebut. “Penetrasi asuransi jiwa di Indonesia masih rendah, sekitar 1-2% dari total populasi yang <em>insurable,</em> yaitu sekitar 29-30 juta orang. Sedangkan pertumbuhan industri asuransi secara keseluruhan tahun 2012 sekitar 19-25%,” jelas Presiden Direktur PT Asuransi Jiwa Sequislife itu menganalisa.</p>
<p align="JUSTIFY">Pepatah bilang ada sebab, ada musabab. Begitu halnya minimnya peserta asuransi. Mengapa masyarakat enggan berasuransi? Banyak sebab, pakar asuransi pun angkat bicara. Menurut Profesor Hasbullah Thabrany, Guru Besar Universitas Indonesia, rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia disebabkan rendahnya tingkat pendidikan dan sistem jaminan sosial yang tidak diwajibkan. Persepsi masyarakat Indonesia masih menganggap risiko itu di tangan Tuhan. Mayoritas masih berpikiran jangka pendek dan belum peduli resiko.</p>
<p align="JUSTIFY">Sebab lain? Ada beberapa mitos yang memengaruhi. Pertama, mitos “saya masih muda dan sehat, sehingga tidak perlu asuransi”. Faktanya, musibah atau kematian bisa datang kapan saja tanpa mengenal usia dan kondisi.</p>
<p align="JUSTIFY">Mitos kedua, “asuransi itu preminya mahal”. Faktanya, beli asuransi dengan premi Rp 250 ribu per bulan juga ada. Jumlah ini relatif tidak mahal jika kita bandingkan dengan kebutuhan untuk beli jajanan yang mencapai sekitar Rp 8.000 per hari. Bandingkan bila Anda harus ngopi di kafe yang mencapai Rp 30 ribu per gelas atau beli rokok Rp 10 ribu per bungkus. Padahal, dengan premi Rp 250 ribu per bulan untuk beli unit link misalnya, akan menghasilkan dana Rp 1 miliar selama 55 tahun masa kepesertaan asuransi. Jadi, dengan menyisihkan dana yang tidak besar selama puluhan tahun, tidak disangka Anda akan mendapat manfaat dana hingga Rp 1 miliar.</p>
<p align="JUSTIFY">Lalu, mitos ketiga: “klaimnya tidak dibayar”. Faktanya, banyak orang yang tidak paham dengan produk asuransi yang dibelinya itu meng-cover apa saja. Ini kesalahan nasabah dan agen yang tidak kritis terhadap polis yang dibeli. Selain itu, nasabah tidak menginformasikan soal polis asuransi kepada ahli warisnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Juga, mitos bahwa “takut uangnya akan hangus”. Faktanya, premi yang dibayar akan dikembalikan dalam bentuk uang pertanggungan/uang santunan. Dan itu nilainya jauh lebih besar dari nilai premi yang dibayar jika terjadi kematian. Bila tidak terjadi kematian akan ada nilai tunai yang besarnya ditentukan oleh seberapa lama dia menjadi nasabah.</p>
<p align="JUSTIFY"><strong>Studi </strong><em><strong>Protection Gap </strong></em><strong>AIA-Markplus Insight</strong></p>
<p align="JUSTIFY">Hasil survei AIA Financial dan Markplus Insight yang bertajuk “<em>Understanding Protection Gap of Life Insurance in Indonesia”</em> menemukan indikasi minimnya penetrasi asuransi jiwa di Tanah Air. Survei itu dilakukan sejak Juli – September 2011 dan melibatkan 1.208 responden di 10 kota, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan lainnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Bagaimana hasil surveinya? Fakta yang ditemukan adalah terjadi selisih antara kepemilikan dana dan rata-rata total dana yang dibutuhkan sebesar 77%. Artinya, keluarga yang siap hanya 23%. Sementara itu, nilai kesenjangannya sebesar Rp 105,7 juta per keluarga. Padahal, idealnya tiap keluarga memiliki dana proteksi Rp 137,5 juta per tahun. Itu artinya, hingga sekarang rata-rata keluarga di Indonesia hanya menyediakan dana proteksi Rp 21,8 juta saja.</p>
<p align="JUSTIFY">Ade Bungsu, <em>Chief Marketing Officer</em> AIA Financial, mengungkapkan temuan lain. Faktanya, sebanyak 60% penduduk tidak memiliki asuransi atau dana cadangan untuk memproteksi diri dan keluarga dalam mengantisipasi risiko kesehatan. Padahal, penting sekali proteksi yang optimal, komprehensif, dan holistik dalam setiap tahap kehidupan. “Penetrasi asuransi jiwa di Indonesia baru mencapai 17,5% dari sekitar 60 juta keluarga di Indonesia,” tukas eksekutif berkacamata ini. Secara nasional, kesenjangan perlindungan untuk seluruh keluarga Indonesia diperkirakan mencapai Rp 6.128 triliun.</p>
<p align="JUSTIFY">Itulah sebabnya, AIA bermaksud untuk membangun pemahaman masyarakat terhadap kesenjangan proteksi. Kita perlu mengantisipasi setiap risiko yang terjadi, termasuk penyediaan asuransi kesehatan. Misalnya rawat inap, kecelakaan yang mengakibatkan cacat tubuh, perawatan penyakit kritis, serta kematian. “Kami mengajak keluarga di Indonesia untuk kembali ke asuransi yang konsep dasarnya adalah proteksi. Makanya AIA melakukan kampanye yang disebut dengan WE PROTECT,” tegas Ade.</p>
<p align="JUSTIFY"><strong>Lantas, solusinya bagaimana?</strong></p>
<p align="JUSTIFY">Ketua Bidang Channel Distribusi AAJI, Oemin Handayanto, mengatakan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat berasuransi harus melibatkan semua pihak, tidak terkecuali pemerintah dan perusahaan asuransi itu sendiri. Pemerintah bisa membantu penguatan edukasi di lapangan, sedangkan perusahaan asuransi juga jangan pernah menyerah untuk terus agresif menyosialisasikan pentingnya asuransi dengan nilai proteksi yang memadai.</p>
<p align="JUSTIFY">Dijelaskan Ade, masyarakat tidak perlu merencanakan persiapan bagi tanggungan mereka. Cara termudah untuk melakukannya adalah cukup dengan bertanggung jawab melindungi diri sendiri, sehingga orang yang dicintai dapat melanjutkan sisa hidupnya tanpa kesulitan keuangan karena ketidakhadiran pencari nafkah atau saat pencari nafkah mengalami cacat permanen.</p>
<p align="JUSTIFY">“AIA Financial sebagai perusahaan asuaransi global, dapat berbagi keahlian dan pengetahuan menghadapi masalah kesenjangan itu dan komit untuk memenuhi kebutuhan proteksi dan tabungan masyarakat. Namun, AIA juga membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat untuk bertanggung jawab mengatasi kesenjangan perlindungan dengan menjembatani keadaan tersebut sedini mungkin,” Ade menguraikan lebih detail.</p>
<p align="JUSTIFY">Seluruh segmen masyarakat menjadi target pasar AIA. Semua pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Ada produk tradisional (asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri), unit link, syariah, program kesejahteraan karyawan, program pesangon dan dana pensiun. Jalur distribusinya juga bisa dipilih, seperti <em>agency, bancassurance, telemarketing </em>dan <em>corporate solutions.</em></p>
<p align="JUSTIFY">Tidak kalah pentingnya adalah meningkat kualitas agen asuransi sebagai ujung tombak perusahaan. Namun, hingga akhir 2010, dari total 242.984 agen, baru 93.998 agen asuransi jiwa yang tersertifikasi (38,6%). Akibatnya, kita belum bisa sepenuhnya berharap agen-agen asuransi jiwa menjadi konsultan keuangan sebagaimana diinginkan AAJI.</p>
<p align="JUSTIFY">Malahan berdasarkan survei kepuasan pelanggan asuransi jiwa yang pernah dilakukan <em>Riset SWA,</em> beberapa hal yang dibutuhkan nasabah di antaranya: tingkat pengembalian investasi yang menrik (unit link); kualitas layanan <em>call center</em>; mutu agen asuransi; kemampuan staf<em> customer service</em>; informasi tepat waktu; keragaman fasilitas pembayaran premi <em>(autodebet</em>, ATM, kartu kredit, dsb); w<em>ebsite</em> yang informatif; kunjungan agen secara rutin; polis mudah dipahami; cepat dan akurat merespons keluhan nasabah; kecepatan membayar manfaat polis/klaim.</p>
<p align="LEFT"><strong>Cara Mendapatkan Proteksi Maksimal</strong></p>
<p align="JUSTIFY">Bila sudah tertarik membeli asuransi, bagaimana caranya agar mendapatkan proteksi yang optimal? Menurut AIA ada kiat khusus. Pertama, ketahui cakupan proteksi Anda. Artinya, Anda perlu tahu jumlah proteksi yang disediakan perusahaan di mana Anda bekerja. Perhitungkan apakah jumlahnya sudah mencukupi seluruh kebutuhan setelah terjadinya risiko.</p>
<p align="JUSTIFY">Tips kedua, ketahui prioritas Anda. Maksudnya, dengan memiliki asuransi, Anda akan terproteksi dan dapat diandalkan dalam menghadapi risiko tak terduga. Alokasikan dana untuk tabungan dan asuransi yang besarnya seimbang, hingga dapat saling mendukung.</p>
<p align="JUSTIFY">Ketiga, pahami risiko Anda. Lingkungan, profesi dan penyakit bawaan dapat meningkatkan risiko. Bangkitkan kesadaran akan risiko diri, dan usahakan memiliki asuransi yang mampu memberikan proteksi optimal terhadap risiko-risiko tersebut.</p>
<p align="JUSTIFY">Cara keempat, belajar mengelola keuangan. Mengajarkan sejak dini kepada anak-anak tentang pengelolaan keuangan, akan menjadikan mereka mandiri dan cerdas, hingga kelak mereka akan mampu mengelola keuangan.</p>
<p align="JUSTIFY">Terakhir, banyak diskusi. Konsultasikan kondisi keuangan Anda dengan ahli perencana keuangan, atau keluarga/teman yang paham soal ini. Buang rasa malu untuk diskusi. Perencanaan matang, membuat Anda lebih siap menghadapi keadaan terburuk.</p>
<p align="JUSTIFY">Berapa <em>sih</em> idealnya alokasi dana untuk asuransi (jiwa/kesehatan)? Menurut pakar investasi Roy Sembel dalam bukunya berjudul “<em>Smart Investment &amp; Insurance Protection for Ordinary Family</em>”, bila Anda membutuhkan asuransi jiwa untuk tujuan khusus, seperti biaya pendidikan anak, perhitungan uang pertanggungan yang dibutuhkan lebih mudah. Caranya, hitung pendapatan kotor Anda dikalikan minimal 6 atau 10 kali dari pendapatan bersih.</p>
<p align="JUSTIFY">Opini Roy dikuatkan oleh pendapat Aidil Akbar Madjid. <em>Financial planner</em> itu menyodorkan dua alternatif cara. Pertama, pendekatan pengalihan pendapatan. “T<em>he American Council of Life Insurance</em> (ACLI) menyarankan bahwa proteksi asuransi jiwa harus 5 – 7 kali pendapatan kotor tahunan,” jelas Akbar. Jumlah yang dibutuhkan bervariasi, tergantung ukuran keluarga, tujuan, pendapatan bersih, biaya dan pendapatan di masa yang akan datang, serta kebutuhan gaya hidup.</p>
<p align="JUSTIFY">Cara kedua adalah pendekatan kebutuhan. Metode ini memperhitungkan seberapa banyak keluarga yang menjadi tanggungan bila pencari nafkah utama meninggal dunia. Bila Anda menggunakan pendekatan ini, pertimbangkan empat jenis kebutuhan berikut ini. Yaitu dana darurat, dana khusus untuk kebutuhan spesifik (utang KPR, KPM, biaya pendidikan anak,dsb), dana pensiun untuk suami/isteri dan anggota keluarga, serta dana pendapatan keluarga untuk mendukung kehidupan keluarga sampai mandiri.</p>
<p align="JUSTIFY">Terlepas dari masih adanya kesenjangan proteksi asuransi jiwa di tengah masyarakat, yang jelas prospek bisnis asuransi kelak diyakini semua pihak masih seksi dan menggiurkan. Tidak percaya? Simak penuturan. Peter J. Crewe yang menilai potensi industri asuransi jiwa di Indonesia masih sangat besar seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita penduduk Indonesia. &#8220;Kami melihat potensi yang sangat besar di Indonesia, apalagi sekarang <em>G</em><em>ross Domestic Product </em>(GDP) per kapita sekitar $3.500. Industri asuransi akan tumbuh sangat cepat jika GDP per kapita mencapai US$10.000. Di jakarta hal ini sudah tercapai,&#8221; ucap Presiden Direktur AIA Financial, itu. Dan AIA akan memosisikan untuk mengambil pasar asuransi proteksi.</p>
<p align="JUSTIFY">Bahkan, menurut Hendrisman, industri asuransi Indonesia tahun 2012 diprediksi akan mengalami pertumbuhan 25 &#8211; 30%, dipacu oleh meningkatnya pangsa pasar di segmen kelas menengah hingga bawah. Industri ini juga mempunyai visi jangka menengah dengan target aset industri bisa mencapai Rp 500 miliar pada 2014. Untuk mencapai hal itu harus dilakukan efisiensi infrastruktur keuangan dengan meningkatkan kompetisi dan membawa seluruh perusahaan menjadi pemain dalam industri. (***)</p>
<p align="CENTER"><strong>Tabel Top 5 Asuransi Jiwa Berdasarkan Aset (tahun 2009 &#8211; 2010)</strong></p>
<p><strong>Tahun 2009 Tahun 2010</strong></p>
<table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="4">
<colgroup>
<col width="17*" />
<col width="70*" />
<col width="42*" />
<col width="41*" />
<col width="44*" />
<col width="43*" /></colgroup>
<tbody>
<tr valign="TOP">
<td width="6%">No.</td>
<td width="27%">Perusahaan</td>
<td width="16%">Aset (Rp Juta)</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">Pangsa Pasar (%)</p>
</td>
<td width="17%">Aset (Rp Juta)</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">Pangsa Pasar (%)</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%">1</td>
<td width="27%">Prudential Life Assurance</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">17. 329. 441</p>
</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">9,53</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">25.144.633</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">10,88</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%">2</td>
<td width="27%">AIA Financial Indonesia</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">15. 831. 365</p>
</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">8,71</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">20.118.013</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">8,71</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%">3</td>
<td width="27%">AJB Bumiputera 1912</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">13.680.569</p>
</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">7,52</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">20.083.067</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">8,69</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%">4</td>
<td width="27%">AJ Manulife Indonesia</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">12.156.683</p>
</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">6,69</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">17.683.679</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">7,65</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%">5</td>
<td width="27%">Allianz Life Indonesia</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">8.493.401</p>
</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">4,67</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">11.711.661</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">5,07</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"></td>
<td width="27%">Jumlah</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">181.808.000</p>
</td>
<td width="16%">
<p align="CENTER">100</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">231.020.000</p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER">100</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="LEFT">Sumber: Berbagai sumber diolah Riset SWA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/corporate-action/saatnya-melindungi-sepenuh-hati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RS Jatinegara Raih Akreditasi JCI</title>
		<link>http://swa.co.id/corporate-action/rs-jatinegara-raih-akreditasi-jci</link>
		<comments>http://swa.co.id/corporate-action/rs-jatinegara-raih-akreditasi-jci#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 12:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Akreditasi JCI]]></category>
		<category><![CDATA[Raih]]></category>
		<category><![CDATA[RS Jatinegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=29299</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 2011 diperkirakan devisa yang keluar lebih dari Rp 110 triliun hanya untuk pengobatan ke luar negeri. Tren pengobatan  <a href="http://swa.co.id/corporate-action/rs-jatinegara-raih-akreditasi-jci">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY">Pada tahun 2011 diperkirakan devisa yang keluar lebih dari Rp 110 triliun hanya untuk pengobatan ke luar negeri. Tren pengobatan ke luar negeri ini terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena minimnya Rumah Sakit (RS) di Indonesia yang mempunyai kualitas pelayanan kesehatan standar internasional yang ditandai dengan kepemilikan akreditasi yang diakui secara internasional.</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="" class="wp-caption alignleft" style="width: 214px;">
<dt><img title="RS Jatinegara" src="http://swa.co.id/wp-content/uploads/2012/02/RS-Jatinegara1.jpeg" alt="RS Jatinegara" width="204" height="127" /></dt>
</dl>
</div>
<p align="JUSTIFY">Salah satu akreditasi berstandar internasional yang merupakan wujud nyata tingkat profesionalisme Rumah Sakit adalah Akreditasi JCI <em>(Joint Commision International)</em><em>. </em>JCIadalah badan sertifikasi yang berfokus pada pelayanan kesehatan dan berpusat di Amerika Serikat, di mana menilai standar pelayanan kesehatan yang berkualitas dan fokus pada keselamatan pasien.</p>
<p align="JUSTIFY">RS Premier Jatinegara berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang berkualitas secara konsisten. Dibuktikan dengan adanya Sertifikasi Akreditasi Lengkap 16 Bidang dari Kementrian Kesehatan, Sertifikasi ISO9001: 2008 dan Sertifkasi Pengendalian Infeksi HICMR Australia.RS Premier Jatinegara inimenjadi rumah sakit pertama di Jakarta yang terakreditasi JCI</p>
<p>Terkait komitmen RS Premier Jatinegara di masa mendatang, Direktur RS Premier Jatinegara, dr. Handojo Rahardjo menjelaskan, JCI merupakan akreditasi yang sangat sulit diperoleh institusi kesehatan seperti RS. Pengakuan ini menunjukkan komitmen RS yang tidak main-main dalam memberikan pelayanan yang terbaik demi keselamatan pasien.</p>
<p align="JUSTIFY">Pencapaian akreditasi JCI ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Ini merupakan peningkatan dari tahapan perjalanan bagi RS Premier Jatinegara dalam hal kualitas pelayanan. Kedepannya RSPJ akan meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan bagi pasien, memastikan<em>patient safety</em>sertamenyediakan struktur menajemen yang dibutuhkan untuk mempertahankan keunggulan dalam standar pelayanan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/corporate-action/rs-jatinegara-raih-akreditasi-jci/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TBIG Gandeng Ascot Implementasikan Green Generator</title>
		<link>http://swa.co.id/corporate-action/tbig-gandeng-ascot-implementasikan-green-generator</link>
		<comments>http://swa.co.id/corporate-action/tbig-gandeng-ascot-implementasikan-green-generator#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 12:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Gandeng Ascot]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasikan Green Generator]]></category>
		<category><![CDATA[TBIG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=28858</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menyediakan infrastruktur telekomunikasi untuk penempatan BTS para operator telekomunikasi Indonesia, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), menyediakan solusi infrastruktur  <a href="http://swa.co.id/corporate-action/tbig-gandeng-ascot-implementasikan-green-generator">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><span>Setelah menyediakan infrastruktur telekomunikasi untuk penempatan BTS para operator telekomunikasi Indonesia, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), menyediakan solusi infrastruktur telekomunikasi lainnya termasuk penyediaan catu daya BTS selular di wilayah yang memerlukan pasokan energi alternatif. Sejak 2010 TBIG telah menyediakan layanan catu daya BTS seluler, dan kini TBIG menggandeng Ascot International, sebuah perusahaan penyedia sistem Generator Ramah Lingkungan dari Italia. </span></p>
<div id="attachment_28876" class="wp-caption alignleft" style="width: 272px"><img class="size-full wp-image-28876" title="tbig184" src="http://swa.co.id/wp-content/uploads/2012/02/tbig184.png" alt="TBIG" width="262" height="160" /><p class="wp-caption-text">TBIG</p></div>
<p align="JUSTIFY"><span>Herman Setya Budi, Presiden Direktur TBIG menjelaskan bahwa solusi infrastruktur tersebut adalah Generator Hybrid atau biasa disebut juga CDC (Charge Discharge) &#8211; generator penyedia energi untuk BTS seluler ramah lingkungan. “Generator Hybrid atau CDC dari ASCOT ini hanya mengoperasikan generator tidak lebih dari 6 jam sehari dan selebihnya listrik disuplai oleh bateri hingga satu hari penuh. Oleh karenanya sistem ini ramah lingkungan dan efisien karena secara signifikan mengurangi pengoperasian genset dari 24 jam ke 6 jam per hari” jelasnya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span>Lebih lanjut Herman menjelaskan, pada kawasan-kawasan tertentu di Indonesia pembangunan jaringan komunikasi seluler terkendala oleh ketidaktersediaan jaringan listrik yang memadai sehingga pengembangan layanan komunikasi selulerpun terganggu.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span>Menurut Gusandi Sjamsudin, Chief Product Development &amp; Innovation TBIG, Generator Hybrid yang dibutuhkan harus ramah lingkungan sekaligus dapat memberikan efisiensi operasional. “Karena implementasi Generator Hybrid akan selalu pada wilayah-wilayah remote, maka selain persyaratan irit bahan bakar dan rendah emisi gas buang CO2 kami juga mempersyaratkan keandalan sistem dan kemudahan operasional. ASCOT sudah menunjukan track record kinerjanya di beberapa negara lain dan kini diimplementasikan di Indonesia pada infrastruktur kami .” kata Gusandi menambahkan. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span>TBIG merupakan perusahaan infrastruktur telekomunikasi pertama di Indonesia yang menggunakan generator ramah lingkungan ini hingga ke tahap operasional. Sekarang, generator ramah lingkungan ini sudah digunakan di empat kawasan, yaitu Unurumguay-Jayapura, Talaud-Manado, Kairatu-Ambon dan Palu. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span>Herman menekankan, penggunaan generator ramah lingkungan ini juga merupakan bentuk kepedulian TBIG pada lingkungan. “TBIG memiliki komitmen untuk turut menjaga dan melestarikan lingkungan,” ungkapnya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span>Sementara itu, Michele Greca CEO Ascot International mengatakan Generator Hybrid dari Ascot memang dirancang untuk kawasan remote namun tetap memberikan kemudahan dan efisiensi dalam pengoperasiannya. “Karena kemudahan pengoperasiannya, penggunaan generator ini sangat cocok untuk geografi Indonesia dimana penyebaran pengguna telekomunikasinya menjangkau hingga ke wilayah remote dan kepulauan,” ujarnya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/corporate-action/tbig-gandeng-ascot-implementasikan-green-generator/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trans Corp Jadi Pemegang Saham Tunggal Terbesar Carrefour Indonesia</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/trans-corp-jadi-pemegang-saham-tunggal-terbesar-carrefour-indonesia</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/trans-corp-jadi-pemegang-saham-tunggal-terbesar-carrefour-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 00:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Army Meidinasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Carrefour]]></category>
		<category><![CDATA[Para Group]]></category>
		<category><![CDATA[Trans Corp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=12716</guid>
		<description><![CDATA[Trans Corp akuisisi Carrefour melalui anak perusahaannya, PT Trans Retail, melakukan pembelian 40% saham perusahaan asal Perancis tersebut. Dengan demikian,  <a href="http://swa.co.id/updates/trans-corp-jadi-pemegang-saham-tunggal-terbesar-carrefour-indonesia">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Trans Corp akuisisi Carrefour melalui anak perusahaannya, PT Trans Retail, melakukan pembelian 40% saham perusahaan asal Perancis tersebut. Dengan demikian, Trans Corp menjadi pemegang saham tunggal terbesar. Sedangkan saham lainnya dipegang oleh Carrefour S.A 39%, Carrefour Nederland B.V 9,5%, dan Onesia B.V 11,5%.</p>
<p>Adapun Chairul Tanjung, pendiri Para Group, Â akan menjabat Presiden Komisaris dari PT Carrefour Indonesia, sedangkan Jenderal (Purnawirawan) A.M Hendropriyono dan mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia S. Bimantoro ditetapkan sebagai Komisaris. &#8220;Ini sejalan dengan idealisme, Carrefour sebagai perusahaan internasional diisi oleh tokoh-tokoh hebat nasional,&#8221; ujar Chairul.</p>
<p>Hal ini merupakan titik balik bagi sejarah bisnis di Indonesia, di mana sebuah perusahaan swasta nasional mengambil alih sebagian kepemilikan dari perusahaan Multinasional. &#8220;Saya berharap dengan akuisisi ini dapat membangkitkan semangat perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia untuk terus tumbuh menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dan menjadi kebanggan bangsa,&#8221; Chairul memaparkan.</p>
<p>Nilai akuisisi berkisar antara 300-400 juta eEuro dengan dana yang berasal dari modal dan pinjaman. &#8220;Proses Carrefour ini kurang dari tiga bulan mulai dari bicara sampai transaksi. Sudah ditandatangani, namun jumlahnya belum pasti,&#8221; tutur Chairul. Trans Corp mendapat pinjaman sebesar US$ 350 juta berasal dari Citibank, JP Morgan, Credit Suisse,dan ING.</p>
<p>Dikemukakan pula oleh Chairul, nantinya Carrefour akan memperhatikan kepentingan nasional dalam menjalankan bisnis retailnya bersama Carrefour. Salah satunya adalah membuka Pojok Rakyat di setiap Carrefour dan menyediakan sembako dengan harga terbaik.</p>
<p>Trans Corp pun akan menerbitkan <em>global bond</em> pada Juni tahun ini melalui Trans Media, dengan underwriter (penjamin emisi) empat bank yang memberikan pinjaman dana untuk akuisisi Carrefour. &#8220;Nilai global bond menunggu negosiasi dengan underwriter,&#8221; ungkap Chairul. Ia menambahkan, penerbitan global bond dilakukan untuk membayar hutang serta ekspansi perusahaan. Terkait dengan penerbitan tersebut, Trans Corp juga akan melakukan roadshow ke beberapa negara di Asia, Eropa dan Amerika seperti Singapura, Hongkong, Paris, New York dan San Francisco. Trans Corp juga akan membangun Trans Studio di 20 kota besar di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/trans-corp-jadi-pemegang-saham-tunggal-terbesar-carrefour-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bank UOB Buana &amp; UOB Indonesia Dimerger</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/bank-uob-buana-uob-indonesia-dimerger</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/bank-uob-buana-uob-indonesia-dimerger#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 01:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[merger]]></category>
		<category><![CDATA[UOB Buana]]></category>
		<category><![CDATA[UOB Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=12679</guid>
		<description><![CDATA[Â Â  Untuk memenuhi ketentuan Bank Indonesia tentang Single Presence Policy, akhirnyaÂ  pemegang saham menyetujui PT Bank UOB Buana Tbk.Â  (UOB  <a href="http://swa.co.id/updates/bank-uob-buana-uob-indonesia-dimerger">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Â Â </p>
<p>Untuk memenuhi ketentuan Bank Indonesia tentang <em>Single Presence Policy, </em>akhirnya<em>Â  </em>pemegang saham menyetujui PT Bank UOB Buana Tbk.Â  (UOB Buana) merger dengan PT UOB Indonesia yang dijadwalkan akan dilakukan pada 30 Juni 2010. Kedua bank itu saham mayoritasnya dikuasai oleh UOB International Investment Private Limited, Singapura. Demikian hasil RUPS Tahunan dan Luar Biasa yang digelar pada Kamis (15/4).</p>
<p>Â </p>
<p>Bank hasil merger kedua bank itu disetujui menggunakan nama Banj UOB Buana. UOB Buana menjadi bank penerima penggabungan (<em>surviving bank)</em> dengan alasan, infrastruktur UOB Buana dianggap lebih baik dan lebih siap. &#8220;Cabang, sistem dan aplikasi UOB Buana lebih baik. Berdasarkan pengalaman kami merger, pemilihan ini wajar saja apalagi dalam penetrasi pasar ke depan,&#8221; ujar Direktur UtamaÂ  UOB Buana,Â  Armand B. Arief.</p>
<p>Â </p>
<p>Penggabungan kedua bank itu akan menyatukan dua segmen pasar berbeda, sehingga bank hasil merger menjadi lebih kuat. Sebelumnya UOB Buana dikenal kuat di segmen ritel, sedangkan UOB Indonesia fokus menggarapa pasar korporat. â€œUOB Buana yang sebelumnya terkonsentarsi pada bisnis consumer dan ritel, sedangkan UOB Indonesia lebih ke <em>corporate banking</em>. Dengan demikian akan terjadi sinergi yang baik, karena masing-masing akan mengisi lini bisnis yang menjadi unggulan. Setelah merger UOB Buana porsi bisnisnya 30% corporate dan 70% ritel,&#8221;Â  ia menegaskan.</p>
<p>Â </p>
<p>Grup UOB juga telah menunjuk PT PricewaterhouseCoopers FAS sebagai penilai independen harga wajar UOB Indonesia dan UOB Buana. Harga saham UOB Buana ditetapkan sebesar Rp 637,47 per saham dan harga saham UOB Indonesia sebesar Rp 3,55 juta per saham. &#8220;Nilai harga wajar tidak berubah, tetap Rp 637,47, karena mengacu tahun buku 2009,&#8221;Â  ia menambahkan.</p>
<p>Â </p>
<p>Sebelum merger, pemegang saham UOB Buana terdiri atas UOB International Investment Private Limited, SingapuraÂ  (UOBII) sebesar 98,997%, Sukanta Tanudjaja sebanyak 1% dan PSM 0,003%. Sedangkan pemegang saham UOB Indonesia adalah UOBII sebesarÂ  99% dan Sukanta Tanudjaja sebanyak 1%.</p>
<p>Â </p>
<p>Setelah merger, daftar pemegang saham UOB Buana akan menjadi UOBII sebanyak 68,942%, UOB 30,056%, Sukanta Tanudjaja 1% dan PSM 0,002%. â€œTotal biaya merger diperkirakan sebesar Rp 6,928 miliar,â€ kata Armand.</p>
<p>Â </p>
<p>Hasil RUPSTÂ  UOB Buana juga memutuskan,Â  sepakat tidak membagikan dividen atas laba perseroan yang mencapai Rp 443,92 miliar pada tahun buku 2009. &#8220;Laba bersih yang dihasilkan telah disepakati sebagai laba ditahan dan akan digunakan sebagai tambahan struktur permodalan UOB Buana,&#8221; Armand mengungkapkan alasannya.</p>
<p>Â </p>
<p>Menurut Armnad,Â  UOB Buana mencatatkan kenaikan tipis atasÂ  nilai kredit yang disalurkanÂ Â  dari Rp 15,8 triliun menjadi Rp 15,9 triliun sepanjang triwulan I-2010. Kredit konsumer dan ritel tetap menjadi andalan perseroan pada fase ini, dan sepanjang tahun 2010.</p>
<p>Â </p>
<p>Sepanjang tiga bulan operasi tahun ini, perseroan pun mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp 186 miliar. Pada tahun 2009 sendiri UOB Buana berhasil mencatat laba Rp 443,92 miliar.</p>
<p>Â </p>
<p>Pada saat UOB Buana menggabungkan usahanya dengan UOB Indonesia di 30 Juni 2010, total aset perseroan diperkirakan mencapai Rp 38 triliun, dan terus merangkak naik hingga Rp 40-41 triliun hingga akhir tahun ini.</p>
<p>Â </p>
<p>&#8220;Dana pihak ketiga (DPK) sampai tanggal efektif merget sekitar Rp 31 triliun, dan akan menjadi Rp 33 triliun sepanjang tahun 2010,&#8221; jelasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/bank-uob-buana-uob-indonesia-dimerger/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titan Terbitkan Obligasi Rp 500 Miliar</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/titan-terbitkan-obligasi-rp-500-miliar</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/titan-terbitkan-obligasi-rp-500-miliar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 00:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Obligasi]]></category>
		<category><![CDATA[Titan Petrokimia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=12660</guid>
		<description><![CDATA[Â  Â PT Titan Petrokimia Nusantara (TPN) melakukan penawaran umum obligasi Titan Petrokimia Nusantara I Tahun 2010. Obligasi iniÂ  dengan tingkat  <a href="http://swa.co.id/updates/titan-terbitkan-obligasi-rp-500-miliar">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Â </p>
<p>Â PT Titan Petrokimia Nusantara (TPN) melakukan penawaran umum obligasi Titan Petrokimia Nusantara I Tahun 2010. Obligasi iniÂ  dengan tingkat bunga tetap dan jumlah pokok sebanyak-banyaknya Rp 300 miliar. Selain obligasi, TPN juga menawarkan sukuk ijarah Titan Petrokimia Nusantara I Tahun 2010 dengan jumlah sisa imbalan ijarah sebanyak-banyaknya Rp 200 miliar.</p>
<p>Â </p>
<p>Untuk kupon obligasi konvensional yang diterbitkan TPN mengacu pada surat utang negara dengan tenor 5 tahun, yaitu FR27+(325-425 basis poin), sehingga indikasi bunganya 11,35 -12,35 persen.</p>
<p>Â </p>
<p>â€œObligasi ini meraihÂ  peringkat A+idn (Single A plus, stable outlook) utang jangka panjangÂ  dari PT Fitch Rating Indonesia,â€ kata Agus Wicaksono, Direktur Utama Standard Chartered Securities.</p>
<p>Â </p>
<p>Dijelaskan Agus, dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum obligasi dan sukuk Ijarah, setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan untuk modal kerja perseroan berupa pembayaran hutang usaha yang berkaitan dengan pembelian bahan baku.</p>
<p>Â </p>
<p>Obligasi konvensional ditawarkan dengan nilai 100 persen dari jumlah pokokÂ  obligasi. Sedangkan sukuk ijarah ditawarkan dengan nilai 100 persen dari jumlah sisa imbalan ijarah. Obligasi dan sukuk Ijarah keduanya memiliki jangka waktu 5Â  tahun terhitung sejak tanggal emisi dan akan jatuh tempo pada tanggal perkiraan 18 Mei 2015.</p>
<p>Â </p>
<p>Bunga obligasi dibayarkan setiap tiga bulan sesuai dengan tanggal pembayaran bunga obligasi yang bersangkutan. Pembayaran pertama bunga obligasi akan dilakukan pada 18 Agustus 2010.Â  Sedangkan pembayaran terakhir bunga obligasi akan dibayar pada 18 Mei 2015. Pembayaran obligasi dilakukan secara penuh (bullet payment) pada saat jatuh tempo.</p>
<p>Â </p>
<p>Sementara, sukuk ijarah yang ditawarkan berjangka waktu 5 tahun terhitung sejak tanggal emisi dengan tingkat cicilan imbalan ijarah yang ditawarkan dengan 100 persen dari sisa jumlah imbalan hasil. Perkiraan tanggal efektif penerbitan obligasi pada 6 Mei 2010.</p>
<p>Â </p>
<p>Masa penawaran awal obligasi tersebut pada 10-12 Mei 2010. Perkiraan penjatahan 14 Mei 2010. Pencatatan di Bursa Efek IndonesiaÂ  pada 19 Mei 2010. Sementara book building akan dilangsungkan pada 14-28 April. Serta jaminan asset adalah 110 dari nilai obligasinya tersebut. Yakni berupa fix asset berupa tanah, bangunan dan mesin.</p>
<p>Â </p>
<p>Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi dan sukuk ijarah ini adalah PT Standard Chartered Securities Indonesia dan PT Indo Premier Securities, sedangkan bertindak sebagai wali amanat dan agen jaminan adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk.</p>
<p>Â </p>
<p>TPN bergerak dalam bidang industri polyethylene dan perdagangan besar (distributor utama dan impor). Produk yang dihasilkan oleh TPN adalah High <em>Density Polyethylene </em>(HDPE) dan L<em>inear Low Density Polyethylene</em> (LLDPE) yang merupakan bahan baku plastik utama yang banyak digunakan di seluruh dunia.</p>
<p>Â </p>
<p>Bahan baku utama yang dibutuhkan TPN adalah ethylene yang berasal dari naphta. Untuk memenuhi kebutuhannya TPN mendapat pasokan <em>ethylene</em> utamanya dari Titan Petchem (M) Sdn.Bhd. yang merupakan induk perusahaan TPN di Malaysia.</p>
<p>Â </p>
<p>Dalam menjalankan operasinya, TPN menggunakan fasilitas produksi yang lengkap dan modern. Saat ini TPN memiliki 3 (tiga) train produksi untuk memproduksi bijih plastik dengan jumlah kapasitas terpasang sebesar 450.000 MT (m<em>etric ton</em>) per tahun. Mesin tersebut beroperasi selama 24 jam per hari, 7 hari per minggu yang terdiri dari 3 giliran (shift). Fasilitas produksi tersebut dilengkapi dengan gudang berkapasitas 30.000 MT yang terletak di dalam lingkungan pabrik beserta listrik yang tersambung ke PLN dengan kapasitas 40.000 KVA dengan voltage 150 KV, mesin uap (<em>steam generation/boiler)</em> sebanyak 3 buah dan juga mesin packing (b<em>agging machine) </em>sebanyak 4 buah.</p>
<p>Â </p>
<p>TPN juga memiliki fasilitas pelabuhan (jetty) untuk kargo <em>ethylene</em> dengan kapasitas maksimum sebesar 6.600 MT yang digunakan secara eksklusif untuk menerima dan membongkar bahan baku ethylene dan butene. Pelabuhan ini juga tersambungkan dengan pipa ke tangki penyimpanan di area pabrik.</p>
<p>Â </p>
<p>Â Hasil produksi TPN dipasarkan untuk keperluan kemasan produk yang meliputi kebutuhan sehari-hari, antara lain kantong plastik belanja, tutup botol air mineral, dan lain sebagainya. Pada dasarnya produk TPN merupakan barang yang melekat pada barang-barang konsumen sehingga produk TPN dipasarkan ke para industri pengguna (industrial user)</p>
<p>Â </p>
<p>Saham TPN dimiliki secara tidak langsung oleh Titan Chemicals Corp. Sdn. Bhd. sebesar 90,4%. Alhasil, TPN memperoleh dukungan kuat dari pemegang sahamnya yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang petrokimia. Titan Chemicals Corp. Sdn. Bhd. merupakan produsen olefin and polyolefin terintegrasi terbesar di Malaysia, dengan kapasitas produksi polyolefin terintegrasi terbesar di Asia Tenggara, dan telah tercatat di Bursa Malaysia sejak tahun 2005.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/titan-terbitkan-obligasi-rp-500-miliar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tri &#8212; Indosat Tandatangani Kesepakatan Menara Bersama</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/tri-indosat-tandatangani-kesepakatan-menara-bersama</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/tri-indosat-tandatangani-kesepakatan-menara-bersama#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 12:31:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Hutchitson]]></category>
		<category><![CDATA[Indosat]]></category>
		<category><![CDATA[Menara]]></category>
		<category><![CDATA[Tri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=12577</guid>
		<description><![CDATA[PT Hutchison CP Telecommunication pemilik operator jaringan GSM 3 (Tri) dan PT Indosat Tbk (Indosat) menandatangani kesepakatan kerja sama untuk  <a href="http://swa.co.id/updates/tri-indosat-tandatangani-kesepakatan-menara-bersama">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">PT Hutchison CP Telecommunication pemilik operator jaringan GSM 3 (Tri) dan PT Indosat Tbk (Indosat) menandatangani kesepakatan kerja sama untuk penggunaan menara telekomunikasi Indosat bagi BTS Tri. Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen Tri untuk memperluas cakupan dan meningkatkan kualitas jaringan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Kesepakatan itu ditandatangani oleh Sidarta Sidik, <em>Director Intercarier, Regulatory dan Government Relations </em>Tri dan  Fadzri Sentosa,<em> Director &amp; Chief Wholesale and Infrastructure Officer</em> Indosat. Kesepakatan kedua belah pihak meliputi perjanjian sewa menara komunikasi Indosat yang berlangsung selama 12 tahun.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">â€œ<span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Tri akan melanjutkan inisiatif menara bersama guna lebih memfokuskan  pada pertumbuhan pelanggan yang didukung oleh inovasi marketing dan peningkatan kualitan layanan, â€ujar Manjot Mann, Presiden Direktur Tri. Ia mengaku, kerja sama ini sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak untuk meningkatkan layanan pelanggan, khususnya dalam mengembangkan cakupan layanan ke seluruh pelosok Indonesia dan meningkatkan kualitas jaringan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Fadzri menjelaskan, kerjasama dalam penggunaan infrastruktur telekomunikasi ini merupakan bagian dari upaya Indosat dalam mendukung kebijakan penggunaan menara bersama sesuai dengan himbauan pemerintah, sehingga tercipta efisiensi dalam industri telekomunikasi maupun di masing-masing operator. Lebih dari itu kerjasama ini tentu saja dapat saling memberikan manfaat dalam mengoptimalkan penggunaan infrastruktur secara bersama di antara para operator.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Manjot Mann menambahkan, selain peningkatan jaringan dan perbaikan cakupan layanan, kerja sama  ini bisa mengefisiensikan investasi infrastruktur di daerah yang sudah matang sarana telekomunikasinya, dan mengalihkannya ke daerah lain yang masih terbatas bahkan belum dijangkau oleh sarana telekomunikasi. Efisiensi investasi tersebut juga bisa dialokasikan untuk peningkatan layanan kepada pelanggan dengan memberikan promosi-promosi yang lebih efektif.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Selama tiga tahun beroperasi, Tri telah melayani wilayah-wilayah penting di Kepulauan Riau, Nanggroe Aceh Darussalam, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jambi, DKI Jakarta, Banten, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Banjarmasin, Banjar, Barito Kuala, Banjar Baru Samarinda, Kutai Kertanegara, Balikpapan, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Jaringan Tri akan menjangkau Palangkaraya dalam waktu dekat.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Sementara itu, Indosat sendiri sampai dengan akhir tahun 2009 telah beroperasi di  33 propinsi mencakup hampir 100% wilayah kabupaten dan lebih dari 70% kecamatan di seluruh Indonesia. Sejalan dengan program pemerintah, perluasan cakupan juga dilakukan hingga ke berbagai wilayah terpencil di Indonesia seperti Muara Teweh &#8211; pedalaman Kalimatan, dan Ereke- pedalaman Sulawesi Tenggara. Hal ini bertujuan untuk memperluas layanan Indosat kepada masyarakat yang pada akhirnya dapat  mendorong laju pertumbuhan roda perekonomian di wilayah-wilayah terpencil tersebut</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/tri-indosat-tandatangani-kesepakatan-menara-bersama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trada Akuisisi Perusahaan Pelayaran Nasional</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/trada-akuisisi-perusahaan-pelayaran-nasional</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/trada-akuisisi-perusahaan-pelayaran-nasional#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 12:13:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Danny me Mita]]></category>
		<category><![CDATA[Trada]]></category>
		<category><![CDATA[Trada Maritim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=12431</guid>
		<description><![CDATA[PT Trada Maritime Tbk. (TM) telah mengakuisisi mayoritas saham sebuah perusahaan pelayaran dalam negeri. Hal itu dikemukakan oleh manajemen TM  <a href="http://swa.co.id/updates/trada-akuisisi-perusahaan-pelayaran-nasional">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">PT Trada Maritime Tbk. (TM) telah mengakuisisi mayoritas saham sebuah perusahaan pelayaran dalam negeri. Hal itu dikemukakan oleh manajemen TM terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai aspek keterbukaan informasi. Dalam laporan itu dijelaskan, melalui akuisisi ini TM sekaligus memperoleh sebuah kapal tanker dan kontrak <em>time charter</em> senilai Rp 400 miliar untuk jangka waktu 7 tahun. Kapal tanker LR <em>(large range)</em> berukuran 96.833 DWT dengan panjang badan kapal mencapai 230 meter dan lebar 42 meter ini menambah total jajaran armada TM sampai dengan kuartal pertama 2010 menjadi 36 unit kapal.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Dirut TM, Danny de Mita, mengatakan, akuisisi ini merupakan salah satu realisasi strategi perusahannya untuk melanjutkan ekspansi tahun 2010, sekaligus sebagai bentuk konkrit partisipasi TM dalam mendukung penerapan asas cabotage di Indonesia. Selain itu, di tahun 2010 ini TM juga akan mulai memasuki pasar internasional melalui segmen jasa angkutan curah kering </span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><em>(dry-bulk)</em></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">TM adalah perusahaan jasa pelayaran nasional yang fokus di sektor energi dan sumber daya mineral. Jasa yang disediakan meliputi jasa FSO dan <em>logistic offshore</em>, jasa angkutan <em>liquid cargo</em> serta angkutan <em>dry bulk</em>. Saat ini TM menangani kontrak-kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan minyak dan batubara baik lokal maupun asing. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Hingga kini TM telah memiliki 36 unit kapal, yang terdiri dari 5 unit FSO, 6 oil tanker, 13 kapal tunda dan 12 tongkang.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Pada September 2008 TM melakukan <em>initial public offering</em> (IPO) dan berhasil menghimpun dana sebesar  Rp 500 miliar. Saat ini, dana IPO tersebut ditempatkan di Bank Permata sekitar Rp 427,16 miliar. Perseroan baru memanfaatkan dana IPO itu sekitar Rp 53 miliar. Rinciannya, untuk ekspansi sekitar Rp 27,59 miliar dan modal kerja Rp 25,75 miliar. Saat IPO, selain saham, perseroan juga menerbitkan waran seri I sebanyak satu miliar.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Dana yang diperoleh dari hasil IPO sebesar 93 persen untuk pembelian kapal-kapal baru, terutama armada muat kering <em>(dry bulk)</em>. Sisanya untuk modal kerja perseroan. Rencana menggunakan dana untuk ekspansi pembelian kapal, menurut Danny, belum terlaksana, namun realisasinya akan dipertimbangkan sesuai dengan kondisi yang ada.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Adapun kepemilikan saham TM setelah IPO adalah PT Trada Resources Indonesia 36,08 persen, PT Trada International 18,11 persen, dan publik 45,81 persen. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/trada-akuisisi-perusahaan-pelayaran-nasional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RIM Gandeng Brightpoint untuk Perluas Distribusi</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/rim-gandeng-brightpoint-untuk-perluas-distribusi</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/rim-gandeng-brightpoint-untuk-perluas-distribusi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 12:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Army Meidinasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Blackberry]]></category>
		<category><![CDATA[Brightpoint]]></category>
		<category><![CDATA[Research in Motion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=12337</guid>
		<description><![CDATA[Research In Motion (RIM) akan memperluas distribusi smartphone BlackBerry secara ritel di Indonesia, dengan merangkul Brightpoint sebagai mitra kerjasama. Brightpoint  <a href="http://swa.co.id/updates/rim-gandeng-brightpoint-untuk-perluas-distribusi">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin-left: 0.79in; margin-right: 1.2in; margin-top: 0.79in; margin-bottom: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Research In Motion (RIM) akan memperluas distribusi <em>smartphone </em>BlackBerry secara ritel di Indonesia, dengan merangkul Brightpoint sebagai mitra kerjasama. Brightpoint akan membantu RIM untuk mendistribusikan Blackberry seri Bold 9700, Bold 9000, Curve 8900 dan Curve 8520 secara nasional melalui distribusi lokal. â€œ<em>Distribution partnership</em> ini memperhatikan dua hal, yakni keahlian di bidang logistik dan supply chain serta memperluas distribusi BlackBerry secara nasional,â€ tutur Direktur Distribusi Research in Motion Asia Pasifik, Hastings Singh.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Singh mengemukakan,  Indonesia adalah negara pertama di Asia dalam perluasan distribusi ini. â€œKami melihat bahwa  pertumbuhan smartphone Blackberry di Indonesia cukup positif,â€ ujarnya. Menurutnya,  pengguna <em>smartphone</em> di Indonesia pada tahun lalu hanya sekitar 9% dari total pengguna ponsel, sehingga potensi pasarnya masih sangat besar. Kerjasama dengan Brightpoint  dilakukan untuk memperkuat posisi dan kehadiran BlackBerry di pasar Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Brightpoint sendiri adalah pemimpin di bidang distribusi perangkat nirkabel dan penyediaan layanan logistik terkemuka di dunia. Tahun lalu Brightpoint menangani sekitar 84 juta perangkat nirkabel di seluruh dunia, dan membukukan <em>revenue</em> sekitar USD 3,2 triliun. Brightpoint pun menunjuk TeleTama sebagai distributor produk-produk BlackBerry di Indonesia, yang akan menyediakan 80 lokasi yang tersebar di tujuh kota besar di Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Selain pendistribusian dengan menggandeng mitra bisnis, RIM pun memasarkan produk BlackBerry melalui kerjasama dengan enam operator seluler di Indonesia yaitu Axis, Indosat, Smart, Telkomsel, XL, dan 3. Tujuan dari perluasan distribusi salah satunya adalah memberi kemudahan bagi konsumen untuk membeli produk asli BlackBerry di berbagai <em>outlet</em>. â€œKami juga berharap  dapat mengurangi produk BlackBeery ilegal, ujar Singh.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/rim-gandeng-brightpoint-untuk-perluas-distribusi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Axis Gunakan Oracle untuk Mempermudah Proses Bisnis</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/axis-gunakan-oracle-untuk-mempermudah-proses-bisnis</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/axis-gunakan-oracle-untuk-mempermudah-proses-bisnis#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 00:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Army Meidinasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Action]]></category>
		<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Axis]]></category>
		<category><![CDATA[Oracle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=12320</guid>
		<description><![CDATA[Â  Operator 3G dan GSM, Axis, berhasil mengimplementasikan Oracle Enterprise Content Management Suite di lingkungan kerjanya. Dengan platform tersebut AXIS  <a href="http://swa.co.id/updates/axis-gunakan-oracle-untuk-mempermudah-proses-bisnis">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Â </p>
<p>Operator 3G dan GSM, Axis, berhasil mengimplementasikan Oracle Enterprise Content Management Suite di lingkungan kerjanya. Dengan platform tersebut AXIS dapat membangun suatu infrastruktur terpadu yang bertujuan untuk mendukung peningkatan produktivitas karyawan, mengurangi pengulangan proses dan meningkatkan konsistensi komunikasi.</p>
<p>Â </p>
<p>â€œOracle Enterprise Content Management Suite memungkinkan kami untuk merampingkan proses bisnis di seluruh bagian organisasi,â€ ungkap Muslim Khan, <em>Chief Technology</em> <em>Officer Axis </em>ketika berlangsung temu media di Menara Axis, Jakarta, Selasa (30/3). Ia pun menambahkan, dengan solusi tersebut mereka dapat menciptakan lingkungan kerja ramah lingkungan.</p>
<p>Â </p>
<p>Platform ini dapat membantu menekan biaya, mengotomatisasi proses, mengatasi kekurangan sumber daya, penggunaan bersama konten secara efisien, serta mengelola resiko dengan lebih baik. â€œDi Axis, sejumlah besar dokumen, berkas, konten web, serta aset digital dibuat setiap harinya oleh berbagai departemen untuk kebutuhan yang berbeda. Oracle memberikan solusi untuk penggunaan kertas,â€ papar Stuart Fenwick, <em>Senior Director </em>Oracle Fusion Middleware for Oracle Asia Pacific.</p>
<p>Â </p>
<p>Proyek ini sendiri dilaksanakan oleh iForce Consulting Indonesia &#8211;perusahaan konsultasi teknologi bisnis untuk Oracle. â€œTeknologi Oracle di bidang manajemen konten melengkapi kami dengan alat yang tepat untuk memastikan bahwa Axis dapat menjalankan proses bisnis yang efisien dan cepat,â€ ujar Elyna Sutanto, DirekturÂ  iForce Consulting Indonesia.Menurutnya, berdasarkan pengalaman klien mereka selama ini, biaya untuk bisnis proses yang dapat dihemat dalam setahunnya rata-rata 15%. â€œTahun-tahun berikutnya tergantung bagaimana perusahaan mengembangkan usahanya, dan kami perkirakan jika usaha semakin besar maka penghematan yang terjadi di tahun kedua dan ketiga masing-masing masing-masing sebesar 30%,â€ ia menambahkan.</p>
<p>Â </p>
<p>Sampai saat ini, menurut kata Elyna, sudah banyak perusahaan-perusahaan yang hendak memakai teknologi Oracle. â€œTelkom sudah memakainya selama setahun. Begitu juga dengan pajak yang mulai menggunakan teknologi ini,â€ tandasnya. Diakui pula, ke depannya sudah banyak perusahaan yang ingin menerapkan teknologi ini. â€œDi antaranya sektor telko, banking, dan BUMN juga ada,â€ kata Elyna. Ia mengatakan bahwa salah satu kemudahan yang didapat dengan memakai teknologi ini adalah efisiensi dalam segala bidang. â€œIni bentuknya seperti <em>search engine</em> sehingga karyawan tinggal mencari apa yang mereka butuhkan dan tentunya akan sangat membantu,â€ tuturnya lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/axis-gunakan-oracle-untuk-mempermudah-proses-bisnis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

