<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SWA.co.id &#187; My Article</title>
	<atom:link href="http://swa.co.id/category/my-article/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://swa.co.id</link>
	<description>SWA Online</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 14:21:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Perhiasan Terindah</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/perhiasan-terindah-2</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/perhiasan-terindah-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 09:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gede Prama</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>
		<category><![CDATA[my artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=17831</guid>
		<description><![CDATA[Meminjam cerita Anthony de Mello, suatu waktu ada gadis desa yang hamil tanpa suami. Tentu saja orang tuanya mengamuk, kemudian  <a href="http://swa.co.id/my-article/perhiasan-terindah-2">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meminjam cerita Anthony de Mello, suatu waktu ada gadis desa yang hamil tanpa suami. Tentu saja orang tuanya mengamuk, kemudian memaksa agar putrinya menunjuk lelaki yang menghamilinya. Di tengah kekalutan, remaja ini kemudian menunjuk orang tua bijaksana di pinggir hutan. Dan marahlah warga desa, kemudian semuanya memaki. Di tengah amukan dan cacian warga desa, orang tua bijaksana ini hanya berucap tenang, “Baiklah!”</p>
<p>Berbulan-bulan perempuan hamil ini dirawat dengan baik. Tanpa keluhan, tanpa keributan. Merasa dirinya diperlakukan sangat baik, ibu muda ini dihinggapi rasa bersalah mendalam kepada orang tua bijaksana tadi. Kemudian ia mengaku ke orang desa bahwa bukan orang tua bijaksana itu yang menghamilinya, melainkan sejumlah lelaki tidak bertanggung jawab. Maka kembalilah warga desa ke pinggir hutan sambil minta maaf. Lagi-lagi orang tua bijaksana ini berucap pelan, “Baiklah.” Di mata kepintaran, orang tua ini masuk ke dalam kotak kebodohan, tetapi di mata makhluk tercerahkan orang tua ini sungguh mengagumkan.</p>
<p>Bila boleh jujur, keseharian manusia di mana-mana penuh kemarahan. Di Amerikat Serikat daftar kemarahan dengan bahasa sarkastis semakin panjang. Di negeri ini, banyak sekali hal yang bisa membakar api kemarahan. Terlebih menjelang pemilihan presiden, tuduh-menuduh dengan judul bohong berseliweran.</p>
<p>Sesungguhya tidak ada yang berniat marah. Bila digali lebih dalam, manusia mewarisi bibit kemarahan dari orang tua, sekolah, lingkungan. Bibit ini kemudian disirami dengan menonton televisi yang berisi perkelahian, radio yang memberitakan kebencian, media cetak yang laris justru dengan berita kriminalitas, pemimpin yang miskin keteladanan. Sehingga tanpa perbaikan serius, manusia akan terus dibakar kemarahan.</p>
<p>Berbeda dari logika sebagian ilmu kedokteran Barat yang membuang organ tubuh bermasalah, meditasi mengajarkan untuk mengawasi kemarahan. Tatkala sakit kepala, tidak mungkin seseorang membuang kepalanya, melainkan merawat kepalanya. Hal serupa terjadi dengan kemarahan, membuang kemarahan serupa dengan membuang malam dan hanya mau siang.</p>
<p>Ada beberapa pendekatan yang tersedia dalam hal ini. Memandang secara mendalam adalah sebuah pendekatan. Sejujurnya kemarahan terjadi bukan karena godaan orang, melainkan lebih banyak karena manusia kebanyakan serupa jerami yang sedang terbakar (baca: iri, dengki, sakit hati dan lain-lain). Godaan yang datang dari luar mirip angin yang bertiup.</p>
<p>Karena itulah, lebih disarankan untuk mengawasi bibit kemarahan yang ada di dalam. Tolehlah ke dalam ketika kemarahan datang, cermati jerami terbakar yang datang dari pikiran negatif seperti iri dan tidak sabar, tarik napas pelan-pelan, rasakan segarnya udara yang masuk melalui hidung. Sebenarnya ada rahasia kesegaran, ketenangan, kebeningan di balik ketekunan menyatu dengan napas. Sebagaimana kita tahu, masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang, satu-satunya uang tunai kehidupan adalah saat ini. Maka, dalam bahasa Inggris masa kini disebut the present (hadiah). Indah, sejuk, lembut, itulah hadiah buat mereka yang rajin terhubung dengan kekinian melalui memperhatikan napas.</p>
<p>Di samping memperhatikan napas, bibit kemarahan juga bisa diawasi dengan meditasi jalan. Terutama dengan melihat hakikat semua fenomena (termasuk kemarahan) yang muncul lenyap sebagaimana langkah kaki. Membadankan dalam-dalam bahwa semuanya muncul lenyap bisa menjadi awal terbukanya pintu kesabaran. Sebagai tambahan, mengerti dengan penuh belas kasih bahwa orang yang menyakiti sesungguhnya sedang menderita, adalah pendekatan lain. Ia yang bisa memandang seperti ini, mengalami transformasi di dalam. Dari mau melawan menjadi mau menolong.</p>
<p>Dengan demikian, menyejukkan kemarahan dapat dilakukan dengan kesabaran,terutama karena kemarahan membuat bumi penuh api. Setelah tersejukan terlihat terang, kita semua sama yakni mau bahagia. Lebih mudah menjadikan bumi ini tanah suci dengan melihat kesamaan-kesamaan dibanding bertempur tentang perbedaan.</p>
<p>Dan akhirnya, ketika seorang ayah ditanya putranya apakah perhiasan yang paling indah, dengan lembut ia menjawab: “Kesabaran adalah perhiasan yang terindah.” Terutama karena kesabaran menjadikan bumi ini tanah suci. Dalam bahasa seorang guru, senapan hanya bisa melenyapkan sejumlah musuh. Namun kesabaran bisa melenyapkan semua musuh. Inilah ciri manusia yang sudah mengenakan perhiasan terindah kehidupan. Tidak saja musuhnya lenyap, tetapi semua tempat menjadi tanah suci.</p>
<p>Penulis buku Pencerahan Dalam Perjalanan dan Simfoni di Dalam Diri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/perhiasan-terindah-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Home Sweet Home</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/home-sweet-home-3</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/home-sweet-home-3#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 09:19:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus Bambang W.S</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=17828</guid>
		<description><![CDATA[Mudik, coming home, hui jia shiang alias pulang kampung atau pulang ke rumah orang tua sudah menjadi budaya banyak orang.  <a href="http://swa.co.id/my-article/home-sweet-home-3">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Mudik, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>coming home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>hui jia shiang</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> alias pulang kampung atau pulang ke rumah orang tua sudah menjadi budaya banyak orang. Setidaknya setahun sekali, ada waktu untuk berkumpul bersama kerabat semua. Orang Amerika melakukannya pada hari </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Thanksgiving</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Orang Tionghoa berkumpul pada hari raya tahun baru Imlek. Kita, tak ketinggalan, rela berdesak-desakan atau terjebak kemacetan agar bisa berkumpul bersama pada Idul Fitri atau Natal. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Di acara mudik inilah kita melakukan tiga aktivitas (saya menyebutnya sebagai 3B) yang hampir mirip di segala bangsa di berbagai benua, yakni Berkumpul untuk silaturahmi, Berpesta dengan makanan yang khas</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">,</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> serta Berbagi dengan menyisihkan sebagian uang untuk keponakan atau saudara yang membutuhkan. Ketika waktu liburan usai dan masing masing harus kembali ke kotanya, ada rasa haru dan kerinduan untuk bertemu kembali tahun selanjutnya. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Home sweet home.</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Aktivitas yang boleh dikatakan sebagai ritual ini masih terus dipelihara sampai kini. Tradisi ini bersumber pada budaya bahwa rumah (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">) adalah sumber energi untuk </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>refreshing, rebuilding,</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>reshaping, rejoicing</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> dan berbagai </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>re</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> lainnya. Pertanyaannya, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>why home?</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> adalah suatu tempat yang memiliki kekuatan cinta (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>power of love</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">). Tempat untuk bertemu dengan orang yang sangat kita cintai serta melakukan pekerjaan yang sangat kita senangi dan menghasilkan karya yang sangat kita sukai. Kepenatan yang terjadi seakan-akan hilang ketika sudah tiba pada suatu bangunan yang kita sebut sebagai </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>home </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">dengan si kecil yang berlari menyambut kedatangan kita dengan sebutan “papa” atau “kakek” atau “sayang”. Panggilan itu seakan-akan menimbulkan energi kebahagiaan yang baru. Semua persoalan yang sedang dihadapi seperti sirna karena ada kekuatan cinta dari orang yang kita temui di </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>our home.</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> juga memiliki kekuatan kepercayaan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>(power of trust</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">) yang membuat anggota bisa bercerita apa saja dan yakin anggota keluarga lain akan memikirkan penyelesaiannya dengan sepenuh hati. Kepercayaan adalah sumber penyelesaian semua masalah. Dipercaya dan mampu memercayai membuat hubungan menjadi sangat intim dan bersahabat. Ketidakpercayaan menciptakan hubungan yang penuh saling curiga, ada hal yang tidak terbuka yang membuat hidup menjadi arena </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>politicking</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Suasana yang sangat tidak mengenakan.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> juga menyimpan kekuatan sinergi (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>power of synergy</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">) yang membuat perbedaan menjadi anugerah, bukan perpecahan. Saling melengkapi dan saling membuat kekuatan sebagai kelompok menjadi kesatuan prima.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;">Kedamaian dan kerukunan di rumah selama empat atau lima jam bersama ternyata mampu memulihkan energi yang terkuras di tempat kerja. Keesokan harinya energi baru sudah muncul yang berarti siap melaksanakan pekerjaan dan menerima tantangan baru. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Itu sebabnya, pepatah Tionghoa mengatakan, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Jia he wan she sing</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Artinya, ketika ada kedamaian di rumah, semua persoalan akan mudah diselesaikan. Inilah tema yang selalu diangkat ketika merayakan Imlek. Kesuksesan di luar dimulai dari kerukunan di dalam rumah. Kebahagiaan di luar diawali dengan kebahagaian di rumah. Kekuatan di luar harus bersumber pada kekuatan di dalam rumah. Rumah menjadi titik sentral pemulihan segala macam perkara. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Keyakinan ini memunculkan akar budaya rumah sebagai kelompok terkecil dari masyarakat yang harus kuat, kompak dan komplemen. Ketika rumah tangga atau keluarga dalam satu rumah sangat kokoh, maka kokohlah bangsa. Sebaliknya bangsa akan rusak ketika kekuatan keluarga sebagai komunitas terkecil hancur luluh. Karena pengalaman inilah, King David menulis kata bijak dengan indahnya: “</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>How good and how pleasant it is for brethren to dwell together in unity! For there the Lord commanded the blessing, Even life for evermore”.</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Bayangkan kalau kerukunan ini juga ada di rumah kedua (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>second home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">) yang bernama kantor. Ketika karyawan pulang gontai akibat kemarahan pelanggan atau kalah tender atau proyek gagal, atasan menyambutnya dengan hangat. Bukan menyalahkan</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">,</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> tetapi memotivasi untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Rekan kerja pun tidak mencerca, tetapi mendukung. Ketika kekompakan di unit kerja terkecil mampu dibina, kekuatan akan menjalar ke seluruh perusahaan. Ketika ini bisa terjadi, kantor menjadi pusat penyegaran energi baru. Kekeluargaan yang kuat membuat karyawan betah dan semakin produktif. Kantor yang memiliki </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>power of love, power of trust</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> and </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>power of synergy</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> akan membuat </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>power to dominate</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>the market</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> semakin kuat. Pelanggan bukan hanya merasakan kekuatan produk, tetapi juga kekuatan pelayanan yang luar biasa. Karyawan hanya bisa melayani pelanggan dengan baik kalau ia dilayani dengan baik oleh atasan dan kolega di kantornya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Sebaliknya ketika kantor atau rumah menjadi tempat jagal dan jegal, hubungan antarkaryawan menjadi amat kering. Sekadar rekan untuk menghasilkan kinerja keuangan. Sekadar penghasil materi yang penuh intrik untuk meraih posisi. Kantor yang demikian ini akan mudah runtuh karena yang berkarakter baik akan lari ke tempat lain untuk menemukan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>second home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">-nya. Setiap manusia butuh </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>home </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">untuk menghasilkan karya yang paling maksimal.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Karenanya, sudah menjadi hal wajar kalau setiap pribadi berkontribusi dalam menciptakan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>home sweet home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> di rumah pertama (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>first home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">) yang disebut keluarga dan rumah kedua (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>second home) yang</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> disebut kantor. Ini tantangan bagi semua. Ketika kita sudah memiliki dua rumah yang harmonis, prestasi hanya tinggal menunggu waktu. Sangat senang ketika akan berkerja dan bertemu dengan rekan sekantor karena ada kesejahteraan dalam karya, suka cita ketika mau pulang ke rumah karena kebahagiaan juga menyambut di sana. Masalahnya, ini tidak hanya bergantung pada lingkungan sekitar, kuncinya justru pada diri sendiri. Apakah kita mau dan mampu menciptakan rumah pertama dan kedua yang </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>home sweet home</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">?(*)</span></span></span></p>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="left"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em>*)Penulis buku laris </em></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;">Built to Bless </span></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em>dan </em></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;">Lead to Bless Leader</span></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em>.</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><br />
</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/home-sweet-home-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fanatik terhadap KPI, Bahaya!</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/fanatik-terhadap-kpi-bahaya</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/fanatik-terhadap-kpi-bahaya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 01:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kusnan Djawahir</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=17016</guid>
		<description><![CDATA[Fanatik terhadap KPI, Bahaya! Melani K. Harriman, Ak, MBA, CFA Pengajar Corporate Finance di beberapa perguruan tinggi. Krisis ekonomi menimbulkan  <a href="http://swa.co.id/my-article/fanatik-terhadap-kpi-bahaya">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Fanatik terhadap KPI,</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bahaya!</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Melani K. Harriman, Ak, MBA, CFA</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pengajar Corporate Finance</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">di beberapa perguruan tinggi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Krisis ekonomi menimbulkan pertanyaan serius pada pelaku bisnis, khususnya chief executive officer (CEO) yang berada di garis depan pasukan bisnis, mengenai tujuan bisnis mereka yang seharusnya. Di tengah tudingan beberapa pengamat bahwa berbagai temuan bidang keuangan adalah penyebab krisis, sebut saja bagaimana mortgage backed securities yang dipecah menjadi berbagai trance yang kemudian dikemas sedemikian, sehingga risiko yang sebenarnya tidak transparan lagi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Istilah “meningkatkan nilai bagi pemegang saham” sering kali disamakan dengan harga saham dan berbagai indikator populer, misalnya laba per saham (P/E), earning per share (EPS) atau yang lebih operasional kenaikan laba bersih.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bila investor ataupun CEO perusahaan sama-sama setuju bahwa perusahaan mengejar penciptaan nilai bagi pemegang saham alias peningkatan nilai investasi, dapat kita sepakati bahwa semua keputusan tertuju pada penciptaan nilai pemegang saham. Adanya tujuan utama ini – jungkir balik pokoknya menciptakan nilai pemegang saham –  berbeda dari fokus mentah-mentah mengejar pencapaian sejumlah indikator tanpa fokus pada penciptaan nilai sebagai tujuan utama.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Apa itu Menciptakan Nilai?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Untuk menciptakan nilai sebuah perusahaan perlu berinvestasi di proyek-proyek yang menghasilkan kas masuk lebih besar dari kas keluar.  Kas masuk dan kas keluar dihitung dengan nilai sekarang atau istilah keuangannya net present value (NPV). Proyek yang menciptakan nilai menghasilkan NPV positif.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bila harga saham dapat diamati setiap saat, nilai intrinsik perusahaan tak dapat dilihat oleh seorang manusia pun. Bila harga saham merupakan hasil ramalan sejumlah analis, nilai intrinsik yang merupakan nilai yang dapat diharapkan dari kas masuk dan keluar dari suatu perusahaan bukan ramalan itu.  Namun, investor yang teliti akan mengetahui adanya penyimpangan besar dalam ramalan kolektif yang menjadi harga pasar dan nilai intrinsik. Bila harga pasar dianggap terlalu rendah, investor jagoan itu akan membeli. Sebaliknya, bila harga dianggap terlalu tinggi, investor itu bahkan dapat melakukan short sell. Dengan proses seperti ini, harga akan berfluktuasi di dekat nilai intrinsik dan harga saham menjadi indikator nilai intrinsik.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Jadi, bedakan antara kumpulan harapan para analis dan pembeli dengan penjual saham dan nilai. Harga adalah hasil negosiasi dari pembeli dan penjual yang terbentuk dari harapan masing-masing pembeli dan penjual. Manajemen perusahaan punya kekuasaan untuk meningkatkan nilai intrinsik itu. Manajemen punya kuasa dalam menentukan nilai perusahaan dengan pengaruhnya terhadap apa yang dapat manajemen lihat dan hitung. Karenanya, perusahaan menentukan key performance indicator (KPI) untuk mengukur seberapa jauh manajernya meningkatkan nilai intrinsik.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Apakah menargetkan KPI dapat otomatis menciptakan nilai? Bila perusahaan membeli usaha lain untuk meningkatkan EPS, akankah otomatis nilai intrinsiknya naik? Bukankah investor yang cerdik dapat menentukan dari perkiraan NPV-nya?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dari pemaparan di atas kita dapat melihat bahwa sikap kaku mematok seperangkat indikator dapat berbahaya. Ingat, risiko utama bagi seorang CEO adalah risiko penurunan nilai perusahaan. CEO, silakan melakukan “audit nilai” terhadap perangkat KPI Anda! Apakah tim Anda mengejar sejumlah KPI demi bonus tahunan dan bukan pada peningkatan nilai perusahaan?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Manajemen Menentukan Nilai Perusahaan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Apakah implikasinya bagi manajemen? Bila Anda seorang CEO yang menginginkan bursa memberi nilai tertentu pada perusahaan Anda, Anda tinggal menghitung efek berbagai pilihan strategi terhadap nilai perusahaan. Dengan kata lain tentukan apakah berbagai strategi itu NPV-nya positif?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Indonesia memiliki ekonomi yang berprospek tumbuh dibanding ekonomi berkembang di Eropa yang dibebani oleh usia populasi yang menua dan keterbatasan anggaran pemerintah, misalnya Rusia. Indonesia memiliki struktur kependudukan yang didominasi penduduk usia muda, golongan menengah yang bertumbuh. Dalam persaingan menjual kepada konsumen secara berkelanjutan nampak usaha penyedia barang konsumen untuk akrab, memiliki hubungan emosi dengan konsumen usia muda, serta terus bertahan menjadi sahabat konsumen mudanya yang kemudian tumbuh menjadi golongan menengah dan atas.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Unilever merambah ke pembuatan film animasi Paddle Pop Elemagika, tidak hanya menjual es krim halus dan bermutu yang harganya terjangkau. Film tersebut menganjurkan hidup selaras dengan alam yang terlestarikan.  Aqua merangkul konsumen usia muda sampai orang tua yang mengambil keputusan dengan penyediaan air sehat yang semakin langka. Frisian Flag meluncurkan identitas merek dengan tema bagi generasi tunas Raih Esokmu. Kelanjutan keakraban merek dengan pelanggan muda – hubungan emosi – terpelihara, arus kas dari penjualan konsumen pun terjaga. Proyek-proyek pelestarian merek ini menjadi contoh dari usaha menumbuhkan aset tak berwujud dalam bentuk hubungan emosi dengan konsumen, sambil tak lupa berinovasi dalam meningkatkan manfaat produk serta mengendalikan biaya dalam memperoleh uang masuk. Meningkatkan manfaat produk ini misalnya dengan menambah senyawa imunoglobulin yang diyakini dapat membantu kekebalan tubuh konsumen.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Contoh-contoh di atas menunjukkan adanya KPI yang tidak konvensional dalam meningkatkan nilai. CEO, dalam meningkatkan nilai perusahaan, jangkauannya tidak hanya dalam kuartal dan tahun, tetapi perhatikan pertumbuhan dalam jangka panjang. Nilai perusahaan Anda ada dalam genggaman Anda, pusatkan usaha ke nilai, nilai dan nilai dan komunikasikan dengan pasar agar negosiasi harga berjalan secara fair. Harga saham Anda tak akan melenceng terlalu jauh dari nilai intrinsik perusahaan.</div>
<p>Oleh : Melani K. Harriman, Ak, MBA, CFA</p>
<div></div>
<p>Krisis ekonomi menimbulkan pertanyaan serius pada pelaku bisnis, khususnya<em> chief executive officer</em> (CEO) yang berada di garis depan pasukan bisnis, mengenai tujuan bisnis mereka yang seharusnya. Di tengah tudingan beberapa pengamat bahwa berbagai temuan bidang keuangan adalah penyebab krisis, sebut saja bagaimana mortgage backed securities yang dipecah menjadi berbagai trance yang kemudian dikemas sedemikian, sehingga risiko yang sebenarnya tidak transparan lagi.</p>
<p>Istilah “meningkatkan nilai bagi pemegang saham” sering kali disamakan dengan harga saham dan berbagai indikator populer, misalnya laba per saham (P/E), earning per share (EPS) atau yang lebih operasional kenaikan laba bersih.</p>
<p>Bila investor ataupun CEO perusahaan sama-sama setuju bahwa perusahaan mengejar penciptaan nilai bagi pemegang saham alias peningkatan nilai investasi, dapat kita sepakati bahwa semua keputusan tertuju pada penciptaan nilai pemegang saham. Adanya tujuan utama ini – jungkir balik pokoknya menciptakan nilai pemegang saham –  berbeda dari fokus mentah-mentah mengejar pencapaian sejumlah indikator tanpa fokus pada penciptaan nilai sebagai tujuan utama.</p>
<p>Apa itu Menciptakan Nilai?</p>
<p>Untuk menciptakan nilai sebuah perusahaan perlu berinvestasi di proyek-proyek yang menghasilkan kas masuk lebih besar dari kas keluar.  Kas masuk dan kas keluar dihitung dengan nilai sekarang atau istilah keuangannya net present value (NPV). Proyek yang menciptakan nilai menghasilkan NPV positif.</p>
<p>Bila harga saham dapat diamati setiap saat, nilai intrinsik perusahaan tak dapat dilihat oleh seorang manusia pun. Bila harga saham merupakan hasil ramalan sejumlah analis, nilai intrinsik yang merupakan nilai yang dapat diharapkan dari kas masuk dan keluar dari suatu perusahaan bukan ramalan itu.  Namun, investor yang teliti akan mengetahui adanya penyimpangan besar dalam ramalan kolektif yang menjadi harga pasar dan nilai intrinsik. Bila harga pasar dianggap terlalu rendah, investor jagoan itu akan membeli. Sebaliknya, bila harga dianggap terlalu tinggi, investor itu bahkan dapat melakukan short sell. Dengan proses seperti ini, harga akan berfluktuasi di dekat nilai intrinsik dan harga saham menjadi indikator nilai intrinsik.</p>
<p>Jadi, bedakan antara kumpulan harapan para analis dan pembeli dengan penjual saham dan nilai. Harga adalah hasil negosiasi dari pembeli dan penjual yang terbentuk dari harapan masing-masing pembeli dan penjual. Manajemen perusahaan punya kekuasaan untuk meningkatkan nilai intrinsik itu. Manajemen punya kuasa dalam menentukan nilai perusahaan dengan pengaruhnya terhadap apa yang dapat manajemen lihat dan hitung. Karenanya, perusahaan menentukan key performance indicator (KPI) untuk mengukur seberapa jauh manajernya meningkatkan nilai intrinsik.</p>
<p>Apakah menargetkan KPI dapat otomatis menciptakan nilai? Bila perusahaan membeli usaha lain untuk meningkatkan EPS, akankah otomatis nilai intrinsiknya naik? Bukankah investor yang cerdik dapat menentukan dari perkiraan NPV-nya?</p>
<p>Dari pemaparan di atas kita dapat melihat bahwa sikap kaku mematok seperangkat indikator dapat berbahaya. Ingat, risiko utama bagi seorang CEO adalah risiko penurunan nilai perusahaan. CEO, silakan melakukan “audit nilai” terhadap perangkat KPI Anda! Apakah tim Anda mengejar sejumlah KPI demi bonus tahunan dan bukan pada peningkatan nilai perusahaan?</p>
<p>Manajemen Menentukan Nilai Perusahaan</p>
<p>Apakah implikasinya bagi manajemen? Bila Anda seorang CEO yang menginginkan bursa memberi nilai tertentu pada perusahaan Anda, Anda tinggal menghitung efek berbagai pilihan strategi terhadap nilai perusahaan. Dengan kata lain tentukan apakah berbagai strategi itu NPV-nya positif?</p>
<p>Indonesia memiliki ekonomi yang berprospek tumbuh dibanding ekonomi berkembang di Eropa yang dibebani oleh usia populasi yang menua dan keterbatasan anggaran pemerintah, misalnya Rusia. Indonesia memiliki struktur kependudukan yang didominasi penduduk usia muda, golongan menengah yang bertumbuh. Dalam persaingan menjual kepada konsumen secara berkelanjutan nampak usaha penyedia barang konsumen untuk akrab, memiliki hubungan emosi dengan konsumen usia muda, serta terus bertahan menjadi sahabat konsumen mudanya yang kemudian tumbuh menjadi golongan menengah dan atas.</p>
<p>Unilever merambah ke pembuatan film animasi Paddle Pop Elemagika, tidak hanya menjual es krim halus dan bermutu yang harganya terjangkau. Film tersebut menganjurkan hidup selaras dengan alam yang terlestarikan.  Aqua merangkul konsumen usia muda sampai orang tua yang mengambil keputusan dengan penyediaan air sehat yang semakin langka. Frisian Flag meluncurkan identitas merek dengan tema bagi generasi tunas Raih Esokmu. Kelanjutan keakraban merek dengan pelanggan muda – hubungan emosi – terpelihara, arus kas dari penjualan konsumen pun terjaga. Proyek-proyek pelestarian merek ini menjadi contoh dari usaha menumbuhkan aset tak berwujud dalam bentuk hubungan emosi dengan konsumen, sambil tak lupa berinovasi dalam meningkatkan manfaat produk serta mengendalikan biaya dalam memperoleh uang masuk. Meningkatkan manfaat produk ini misalnya dengan menambah senyawa imunoglobulin yang diyakini dapat membantu kekebalan tubuh konsumen.</p>
<p>Contoh-contoh di atas menunjukkan adanya KPI yang tidak konvensional dalam meningkatkan nilai. CEO, dalam meningkatkan nilai perusahaan, jangkauannya tidak hanya dalam kuartal dan tahun, tetapi perhatikan pertumbuhan dalam jangka panjang. Nilai perusahaan Anda ada dalam genggaman Anda, pusatkan usaha ke nilai, nilai dan nilai dan komunikasikan dengan pasar agar negosiasi harga berjalan secara fair. Harga saham Anda tak akan melenceng terlalu jauh dari nilai intrinsik perusahaan.</p>
<p><em>Penulis adalah pengajar Corporate Finance di beberapa perguruan tinggi. </em></p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/fanatik-terhadap-kpi-bahaya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai Diri Sendiri, Salahkah?</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/mencintai-diri-sendiri-salahkah</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/mencintai-diri-sendiri-salahkah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 2010 08:34:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arvan Pradiansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>
		<category><![CDATA[Arvan Pradiansyah]]></category>
		<category><![CDATA[myarticle]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=16607</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya Mbah Maridjan meninggal dunia. Ia tak kuasa menahan hantaman panas asap Merapi. Ketika ditemukan, ia berada dalam posisi bersujud.  <a href="http://swa.co.id/my-article/mencintai-diri-sendiri-salahkah">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Akhirnya Mbah Maridjan meninggal dunia. Ia tak kuasa menahan hantaman panas asap Merapi. Ketika ditemukan, ia berada dalam posisi bersujud. Apakah ini sebuah lambang kesetiaan atau semata-mata kebodohan?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Kepada banyak orang yang menanyakan hal ini kepada saya – baik dalam berbagai seminar dan pelatihan maupun dalam percakapan ringan sehari-hari – saya selalu mengatakan bahwa saya tidak memihak kedua “teori” tersebut. Bagi saya, pilihan yang diambil Mbah Maridjan bukanlah karena kebodohannya, tetapi karena keyakinan yang mendalam mengenai arti cinta dan kesetiaan. Baginya, kesetiaan harus ditunjukkan dengan keberanian menanggung risiko apa pun, termasuk kematian. Bukankah ia telah mendapatkan mandat dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjaga Merapi dalam kondisi apa pun?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Jadi, itulah makna cinta dan kesetiaan yang dipahami Mbah Maridjan. Persoalannya, apakah ini makna cinta yang benar? Apakah cinta harus ditunjukkan dengan mengorbankan diri sendiri ketika pilihan untuk menyelamatkan diri terbuka demikian lebar? Lantas, apakah mengorbankan diri sendiri ini membawa manfaat bagi orang banyak? Ataukah jangan-jangan, tindakan ini justru menginspirasi orang lain untuk mempertahankan diri dan mati bersama-sama di sana?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Saya membayangkan seandainya Sri Sultan Hamengkubuwono IX masih hidup, dialah yang akan “memaksa” Mbah Maridjan untuk segera mengungsi. Dialah yang justru akan mengingatkan Mbah Maridjan bahwa tindakan bertahan bukanlah sebuah perwujudan rasa kasih. Kasih bukanlah sesuatu yang buta. Kasih bukanlah kesetiaan tanpa berpikir. Kasih bukanlah melawan hukum fisika dan memilih bertahan hidup di tengah kondisi sepanas apa pun. Kasih bukanlah berarti mengorbankan diri sendiri dengan percuma.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Kasih sesungguhnya adalah sebuah tindakan yang selalu dimulai dengan mengasihi diri sendiri. Bahkan, mengasihi diri sendiri sesungguhnya adalah dasar untuk mengasihi orang lain. Ketika Mbah Maridjan berpikir bahwa ia mengasihi orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri, sesungguhnya tindakan tersebut justru menyulitkannya untuk berlaku kasih. Bagaimana mungkin ia bisa mengasihi orang lain kalau ia telah kehilangan nyawanya sendiri? Bukankah hidupnya akan lebih bermanfaat bila ia menyelamatkan dirinya sendiri untuk kemudian menyelamatkan orang lain?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Kesalahan terbesar dalam memahami kasih adalah asumsi bahwa mencintai diri sendiri itu tidak penting. Bahwa mencintai diri sendiri adalah sebuah bentuk keegoisan. Dan bahwa kita harus mencintai orang lain di atas diri kita sendiri. Konsep ini sering dianggap sebagai konsep yang indah dan mulia. Namun, saya ingin mengatakan bahwa konsep ini keliru dan bahkan akan menyulitkan tindakan kasih itu sendiri. Bukan hanya itu, konsep ini justru bertentangan dengan hukum alam mengenai kasih.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Mencintai diri sendiri sama sekali tidak bertentangan dengan kasih bila kita mencintai dan mementingkan diri kita agar kita dapat lebih mementingkan orang lain. Seorang pilot perlu mengasihi dirinya sendiri dengan cara menjaga kesehatannya, tidur yang cukup, dan makan makanan yang bergizi. Ini penting agar si pilot dapat melayani semua orang dalam penerbangannya dengan lebih baik. Mengurangi istirahat karena kesibukan kerja yang begitu tinggi malah akan membahayakan keselamatan seluruh penumpang. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Seorang ibu yang kurang beristirahat justru akan mengurangi kemampuannya untuk merawat anaknya dengan penuh kasih sayang. Bukankah di dalam pesawat juga selalu dikatakan bahwa orang tua yang ingin menolong anaknya memakai masker haruslah memakai masker terlebih dulu? Coba bayangkan kalau si orang tua belum memakai masker tetapi sudah menolong anaknya. Bisa jadi, ia malah gagal menyelamatkan anak dan dirinya sendiri. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Sebagai fasilitator dan pembicara publik, saya juga sangat menjaga kesehatan saya jasmani dan rohani. Di tengah berbagai kesibukan saya selalu mementingkan makan yang baik, istirahat yang cukup dan waktu untuk berolah raga. Apakah tindakan mementingkan diri sendiri seperti ini bertentangan dengan kasih? Sama sekali tidak. Justru dengan mementingkan diri sendiri ini, saya selalu berada dalam kondisi segar dan bugar sehingga dapat melayani para klien saya dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa dan raga. Bukankah akan sulit bagi saya untuk melayani orang lain kalau saya sendiri tidak merasa segar dan bugar?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Jadi, dalam cinta berlaku rumus: mencintai diri sendiri mendahului mencintai orang lain. Karena itu, orang yang mencintai orang lain sebelum mencintai dirinya akan sulit melaksanakan cintanya. Karena, bagaimana mungkin kita bisa memberikan tenaga kepada orang lain kalau kita sendiri tak bertenaga?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Tentu saja, ada di dunia ini orang-orang yang kita sebut egois dan mementingkan diri sendiri. Mereka adalah orang-orang yang mencintai dirinya semata-mata untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Ketika Anda tidak mau beranjak dari televisi, padahal anak Anda sedang butuh ditemani, maka Anda disebut orang yang egois. Ketika Anda tidak mau beranjak dari tempat tidur padahal ada tetangga yang berada dalam kondisi darurat dan membutuhkan bantuan, Anda disebut egois. Ketika wakil rakyat kita memilih untuk berjalan-jalan ke luar negeri, menghambur-hamburkan uang rakyat, padahal kita sedang dilanda duka cita yang mendalam karena bencana Merapi dan Mentawai, itulah tindakan yang egois dan sangat bertentangan dengan cinta.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Namun, kalau kita mementingkan diri sendiri agar bisa melayani orang lain dengan lebih baik, itu adalah tindakan yang mulia, sebuah perwujudan rasa cinta dan kesetiaan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Saya membayangkan Mbah Maridjan akan mengambil langkah yang berbeda seandainya ia pernah mendengar penyanyi favorit saya George Benson melantunkan syair </span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em>The Greatest Love of All</em></span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">: “</span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em>Learning to love yourself… is the greatest love of all</em></span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">.” </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Seandainya saja. * * *</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">*</span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em><strong>) Penulis </strong></em></span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong>bestseller The 7 Laws of Happiness </strong></span></span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em><strong>&amp; narasumber </strong></em></span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong>talkshow Smart Happiness </strong></span></span></span><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em><strong>di SmartFM Network.</strong></em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left">(naskah ini juga dimuat di Rubrik &#8220;Pernik&#8221; Majalah SWA)</p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.19in;" align="left"><span style="font-family: TImes New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em><strong><br />
</strong></em></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/mencintai-diri-sendiri-salahkah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Administrasi Vs. Manajemen</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/administrasi-vs-manajemen</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/administrasi-vs-manajemen#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 2010 08:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi W Soetjipto</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>
		<category><![CDATA[Budi W Soetjipto]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[myarticle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=16603</guid>
		<description><![CDATA[Kita sudah sering mendengar kata administrasi dan manajemen. Administrasi umumnya dikaitkan dengan surat-menyurat dan dokumen, sedangkan manajemen, seperti kita tahu,  <a href="http://swa.co.id/my-article/administrasi-vs-manajemen">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;">Kita sudah sering mendengar kata administrasi dan manajemen. Administrasi umumnya dikaitkan dengan surat-menyurat dan dokumen, sedangkan manajemen, seperti kita tahu, adalah serangkaian aktivitas mulai dari perencanaan hingga pengendalian. Yang kadang kala tidak kita sadari adalah kita sering mencampuradukkan keduanya di dalam kegiatan organisasi: administrasi disamakan dengan manajemen, dan manajemen adalah administrasi. Akibatnya, tujuan organisasi pun tidak jelas. Apa yang terjadi?</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Saya ambil contoh kasus penyelenggaraan ibadah haji. Beruntung sekali saya dan istri tahun ini diizinkan Allah Swt. menunaikan rukun Islam yang kelima. Perjalanan udara dari Jakarta ke Jeddah</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"> alhamdulillah cukup lancar. Saya menyaksikan pencampuradukan administrasi dan manajemen justru ketika tiba di Jeddah. Kami butuh waktu berjam-jam lamanya sejak mendarat hingga masuk bus menuju ke kota suci Mekkah. Ternyata, atas nama manajemen yang </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><em>prudent</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">, otoritas Kerajaan Arab Saudi perlu melakukan berbagai pengecekan dan pemeriksaan, khususnya paspor, yang katanya adalah salah satu bentuk aktivitas pengendalian. Namun kalau kita tanya apa tujuan penyelenggaraan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">i</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">badah haji, hampir pasti jawabannya tidak akan bergeser dari</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">(berfokus pada) jemaah haji: apakah itu kepuasaan, kenyamanan, keselamatan, keamanan dan sejenisnya. Jika memang demikian, lalu mengapa justru jemaah yang jadi “korban”? Mereka harus menunggu tanpa kepastian waktu. Di sinilah, menurut saya, terjadi salah kaprah.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Kita harus ingat bahwa manajemen adalah aktivitas untuk mencapai tujuan (</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><em>goal</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><em>objective</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">). Dengan kata lain, tujuan menentukan bentuk aktivitasnya. Dalam manajemen, aktivitas yang melingkupi korporat (seluruh organisasi) dikenal sebagai strategi korporat. Beda dari administrasi yang justru menekankan pada sisi aktivitas. Maksudnya, bentuk aktivitas amat menentukan aktualisasi tujuan. Jika administrasi dicampuradukkan dengan manajemen, yang terjadi: organisasi sulit mencapai tujuan yang telah ditetapkan karena bentuk aktivitas tidak boleh atau tidak bisa disesuaikan. Saya tidak mengatakan bahwa manajemen identik dengan tujuan menghalalkan segala cara. Dalam manajemen tidak ada itu “segala cara” sebab cara atau strategi harus dirumuskan dengan cermat agar mencapai tujuan. Jadi tidak bisa “segala cara” alias asal-asalan.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Pencampuradukan administrasi dan manajemen sering kita jumpai di Tanah Air. Kita mungkin acap kali mengalami bagaimana berbelit-belitnya mengurus berbagai perizinan. Saking berbelitnya, sampai memakan waktu bertahun-tahun! Bagaimana tidak bila kita harus mengurus izin dari tingkat desa atau kelurahan hingga tingkat kementerian (nasional). Akibatnya, bisnis tidak jalan, sektor riil pun tidak bergerak. Kalau kita kompl</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">ai</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">n, jawabannya hampir selalu klise: “aturannya memang begitu” atau “kami harus mengikuti peraturan”. Peraturan itulah administrasi. Kondisi demikian telah terjadi puluhan tahun lamanya. Orde Reformasi yang katanya lebih baik dari Orde Baru nyatanya belum mampu mengatasi permasalahan tersebut. Bahkan di sejumlah hal terkesan dan terasa lebih buruk, mungkin karena adanya otonomi daerah yang kebablasan: otonomi daerah yang melahirkan raja-raja kecil di kabupaten/kota dan provinsi. Akhirnya tercipta persepsi seperti benang kusut, tidak tahu lagi apa dan di mana ujung pangkalnya. Apa benar begitu kusutnya sampai tidak bisa diurai lagi?</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;">Menurut saya, kita masih bisa mengurainya. Kunci awalnya adalah memisahkan manajemen dari administrasi. Mengapa manajemen yang perlu dipisahkan? Karena manajemen inilah yang akan menjadi paradigma di lingkungan pemerintahan. Lalu di manakah posisi administrasi? Kita tempatkan sebagai penunjang atau pendukung manajemen. Saya kira, pemosisian seperti ini amat relevan dan sejalan dengan keinginan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Inilah tujuan utama pemerintah. Segala bentuk aktivitas pemerintahan harus diselaraskan dengan tujuan tersebut, termasuk aktivitas administrasinya. Dengan kata lain, berbagai bentuk aktivitas administrasi yang diperkirakan atau berpotensi menghambat pencapaian tujuan harus disingkirkan. Sulitkah melakukannya? Fakta menunjukkan tidak sulit.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;">Saya beri contoh yang saya alami sendiri, yaitu pengurusan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) A di lingkungan Kepolisian Daerah (Polda) Metropolitan Jakarta Raya (Metro Jaya). Dulu, untuk memperpanjang SIM A, saya terpaksa harus melalui calo karena telah diciptakan kesan proses yang berbelit-belit. Belum lagi besarnya biaya yang amat bervariasi, tergantung pada kecepatan penyelesaian yang kita inginkan. Kini, saya bisa melakukan perpanjangan SIM A sendiri tanpa kesulitan berarti dan bahkan hanya memakan waktu kurang-lebih satu jam. Benar-benar efisien: mudah dan cepat. Dengan efisiensi seperti itu, tanpa harus kita ukur, kita akan tahu dan merasakan bahwa kualitas pelayanan publik pasti meningkat tajam. Saya yakin Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya telah menyingkirkan begitu banyak bentuk aktivitas administrasi guna mencapai proses pelayanan perpanjangan SIM A yang mudah dan cepat, tanpa harus melanggar peraturan perundangan yang berlaku. Di sini Ditlantas Polda Metro Jaya telah mengadopsi paradigma manajemen. Manfaatnya, selain meningkatnya kualitas pelayanan, juga kepastian besaran biaya. Dengan mobil SIM keliling, tidak ada lagi biaya-biaya siluman yang harus kita keluarkan dari meja ke meja sehingga biaya aktual yang dikeluarkan bisa jauh di atas tarif resminya. Sekarang, total biaya jelas dan dibayar di muka.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;">Sesungguhnya, kunci sukses pengadopsian paradigma manajemen di lingkungan pemerintahan terletak di tangan aparaturnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa proses yang berbelit-belit terkesan sengaja diciptakan untuk menjadi sumber pendapatan tambahan, khususnya bagi oknum-oknum tertentu. Apakah mereka mau dan rela kehilangan pendapatan tambahan sementara pendapatan resminya relatif kecil? Kondisi ini mungkin lebih parah di daerah-daerah di mana banyak oknum yang membutuhkan pendapatan tambahan untuk mengembalikan dana yang sudah mereka keluarkan untuk memenangi pemilihan kepala daerah. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Maka, pengadopsian paradigma manajemen perlu diikuti dengan perubahan pola pikir (</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><em>mind set</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">) para aparatur pemerintah dan pembenahan sistem kepegawaian. Kalau kita mau objektif, ketiga hal tersebut tak hanya meningkatkan kualitas pelayanan publik tetapi juga meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) karena semakin banyaknya masyarakat yang terlayani dan membayar untuk pelayanan tersebut. Hasil PNBP tadi dapat didistribusikan kembali ke para aparatur pemerintah, tentu berdasarkan kinerja mereka masing-masing. Dengan demikian, pengadopsian paradigma manajemen, perubahan pola pikir dan pembenahan sistem kepegawaian sekaligus dapat menciptakan aparatur pemerintah yang berkinerja. Jadi, tak salah bila Presiden SBY perlu menitikberatkan pada ketiganya di masa pemerintahan beliau yang kedua. Semoga ini dapat terwujud sebelum Pemilu 2014.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify"><em><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;">Penulis adalah<strong> </strong>Direktur Eksekutif IPMI dan Lektor Kepala Departemen Manajemen FEUI. </span></span></span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/administrasi-vs-manajemen/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Mbah Maridjan</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/belajar-dari-mbah-maridjan</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/belajar-dari-mbah-maridjan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 09:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus Bambang W.S</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>
		<category><![CDATA[Mbah Maridjan]]></category>
		<category><![CDATA[Paulus Bambang]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=16351</guid>
		<description><![CDATA[Nama aslinya adalah Mas Penewu Soeraksohargo. Tak banyak yang tahu memang. Sangat asing dan tidak merakyat. Namanya yang dikenal luas  <a href="http://swa.co.id/my-article/belajar-dari-mbah-maridjan">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Nama aslinya adalah Mas Penewu Soeraksohargo. Tak banyak yang tahu memang. Sangat asing dan tidak merakyat. Namanya yang dikenal luas adalah Mbah Maridjan. Sederhana, mudah diingat</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> dan sangat dekat dengan wong cilik. Mbah Maridjan adalah sosok manusia yang ROSA (kuat), seperti iklan yang dibintanginya. Tak heran, semasa hidupnya  ia dinobatkan menjadi orang yang kuat sehingga disandingkan sebagai duo perkasa dengan juara tinju Chris John. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;">Bukan hanya secara mental, tetapi juga fisik. Dengan usia 83 tahun masih mampu berkarya maksimal, tidak tinggal duduk santai menikmati masa tuanya. Ia memang kuat dan perkasa, walaupun tidak menikmati asupan gizi dan penjagaan kesehatan layaknya eksekutif di Ibu Kota. Ditambah dengan kekuatan mentalnya, ia adalah sosok sederhana yang kuat luar dan dalam.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Ke-</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>rosa</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">-annya semakin nyata, ketika ia memilih tetap bertahan di rumahnya walaupun datang gelegar magma panas dan hujan abu vulkanik.  Mbah Maridjan dan Merapi sudah menjadi serangkai, dwi tunggal yang lekat. Saking dekatnya, sehingga sampai akhir hayatnya, ia menyatu dengan debu Merapi. Tak ada ketakutan terhadap panas 600 derajat Celcius dengan kecepatan 200 km per jam. Wedus gembel, awan panas yang ditakuti banyak orang buat Mbah Maridjan adalah sahabat. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;">Bahwa akhirnya ia harus menyerah pada alam, bagi Mbah Maridjan adalah jalan hidup yang dipilihnya. Ia sangat sadar akan pilihannya.  Ia lakukan untuk Merapi yang ia cintai. Karenanya, walaupun jasadnya sudah membumi di Dusun Srunen, Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, kenangan pada tokoh yang sederhana ini akan selalu timbul kembali ketika orang menyebut Merapi.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Ketokohan Mbah Maridjan bukan hanya soal kebenaran prediksinya tak terjadi letusan Gunung Merapi di tahun 2006, bagi saya Mbah Maridjan adalah sosok yang pantas dijadikan panutan sebagai manusia biasa yang memiliki keteguhan hati luar biasa. Ia memiliki kekuatan yang tak terlihat</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> tetapi seperti magma Merapi yang sangat dahsyat dan kuat. Ia adalah manusia yang </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>rosa</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, yang patut diteladani. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Mbah Maridjan telah mewariskan empat karakteristik dari akronim ROSA, yang sangat relevan dipraktikkan oleh seorang yang ingin menjadi pribadi yang memberi pengaruh. Tidak selalu harus menjadi orang yang di atas, punya kuasa dan posisi, untuk mampu memberi pengaruh bagi sekitar. Yang dibutuhkan adalah pribadi yang </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>passionate</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> terhadap pekerjaannya. Mbah Maridjan telah memberi contoh sebuah hidup yang berarti. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>A meaningful life not just a longer life</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Keempat karakteristik dasar tersebut, yang p</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">ertama: reliabilitas. Dapat diandalkan, tangguh dan tuntas. Memiliki kompetensi dan komitmen tinggi untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan padanya. Dapat dipercaya bahwa tugas yang dibebankan akan dilaksanakan dengan tuntas. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Done. Sense of closure</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. Tidak perlu diawasi secara ketat. Ia akan mencuci sendiri, mencari jalan sendiri, sampai tugasnya selesai dengan hasil yang cemerlang. Atasan tidak perlu pusing, karena ia akan menyelesaikannya dengan cermat. Mbah Maridjan tidak pernah merepotkan Sinuhun Kanjeng Sultan, ia akan melaksanakan tugasnya sampai titik darah penghabisan.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Kedua, obediensi.</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Ia mewariskan definisi baru soal kepatuhan, ketaatan dan kesetiaan. Menjadi juru kunci artinya ia akan terkunci sampai akhir hayatnya di daerah sunyi, sepi dan tak ada glamor penghargaan. Taat, patuh dan setia pada tugas tanpa melihat berapa besar imbalan yang ia terima sebagai pemegang tanggung jawab ini. Ia setia, karena ia memiliki cinta yang tak terhingga pada Merapi dan Sinuhun Kanjeng Sultan. Kesetiaan itu baru terlihat ketika ada krisis dan kondisi yang sulit. Mbah Maridjan menunjukkannya dengan berpegang pada prinsip: “</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Sedumuk bathuk senyari bumi ditohi pati</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> atau sejengkal tanah akan dibela sampai mati,” kata penulis Anwar Hudijono. Ia tidak </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>colong playu</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> atau tinggal gelanggang.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Ketiga, servis. Mbah Maridjan memberi teladan bagaimana melayani dengan sepenuh hati secara total. Ia adalah sosok pelayan yang memiliki sifat dan sikap sebagai hamba. Ketika dipercaya menjadi juru kunci Merapi, ia melakukannya bukan seperti orang yang memil</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">i</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">ki daya </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>linuwih</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, melainkan melakukannya dengan cara sebagai hamba. Hamba bagi Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono dan sang </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>mbaurekso</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Merapi. Sikap yang tidak </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>bossy</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> dan tidak mentang-mentang ditunjukkan dalam kehidupan sehari hari. Ia melayani banyak orang yang ingin akrab dengan Merapi. Rumahnya dijadikan rumah singgah berbagai macam manusia. Mulai dari manusia yang sangat sederhana sampai ahli dari mancanegara yang kagum dengan Merapi. Siapa pun yang mencintai Merapi, akan dicintai Mbah Maridjan. Ia adalah simbol hamba yang baik.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Keempat, akuntabilitas. Ia melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan tanggung gugat. Sampai-sampai melebihi panggilan tugas yang tertera dalam </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>job</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> deskripsinya bila ada. Ia sudah masuk ke daerah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>calling</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;">,</span></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em> </em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">tidak semata pemegang jabatan biasa. Sebuah komitmen pengabdian yang membentenginya dari sekadar cari ketenaran dan kekayaan. Padahal kalau ia mau, ia bisa jadi selebritas konsultan masa depan yang bakal mengalirkan uang ke dompetnya. Apalagi banyak artis, pejabat dan petinggi yang sangat menyukai konsultasi penerawangan, yang bahkan dilakukan oleh orang yang tak mampu menerawang tetapi sekadar memasarkan konsep penerawangan.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Kalau ROSA ini ada di setiap jajaran di perusahaan kita, niscaya perusahaan akan jadi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>prakosa</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. Tak takut terhadap gempuran pesaing, karena kekuatan yang terbesar bukanlah pada produk, proses, melainkan perilaku pribadi karyawan. Apalagi kalau karakter ini ada di pemimpin negara kita, maka </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>gemah ripah loh jinawi</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> tidak semata angan-angan. Negara adil dan makmur bukanlah sekadar mimpi. Dan saya yakin, kita bisa.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;">Selamat jalan Mbah Maridjan.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify"><em><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><strong>Paulus Bambang W.S.</strong></span></span></span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><em><span style="font-family: Nimbus Roman No9 L,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Penulis buku laris </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><span style="font-weight: normal;">Built to Bless </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">dan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><span style="font-weight: normal;">Lead to Bless Leader</span></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">.</span></span></span></span></span></span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify"><em> </em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="en-US" align="justify">
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/belajar-dari-mbah-maridjan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebaikan atau Kepentingan?</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/kebaikan-atau-kepentingan</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/kebaikan-atau-kepentingan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 12:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arvan Pradiansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>
		<category><![CDATA[Arvan Pradiansyah]]></category>
		<category><![CDATA[myarticle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=16199</guid>
		<description><![CDATA[Wanita tua itu sedang menikmati makanannya ketika saya berdiri tak jauh darinya. Ia menoleh dan menyadari bahwa saya sedang mencari  <a href="http://swa.co.id/my-article/kebaikan-atau-kepentingan">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Wanita tua itu sedang menikmati makanannya ketika saya berdiri tak jauh darinya. Ia menoleh dan menyadari bahwa saya sedang mencari tempat di restoran tersebut untuk menikmati makanan bersama keluarga. Wanita itu tahu bahwa saya kesulitan menemukan tempat untuk kami berlima. Ia pun tersenyum kepada saya dan berkata dalam bahasa yang tidak saya mengerti – saat itu kami sekeluarga sedang berada di Hong Kong – mempersilakan saya duduk, kemudian membawa nampannya sendiri dan pindah ke tempat duduk yang lain, yang hanya mempunyai dua kursi tak jauh dari situ. Saya tersenyum, menganggukkan kepala seraya mengucapkan terima kasih kepadanya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Pembaca yang budiman, kejadian tersebut memang sangat sederhana, tetapi ada pelajaran penting yang dapat kita ambil di dalamnya: kebaikan. Wanita tua tadi sedang mempraktikkan kebaikan yang tulus dan tanpa syarat kepada orang yang tak dikenalnya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Sesungguhnya, pengalaman serupa sering saya alami di berbagai tempat makan di Jakarta. Ketika akhir pekan, mal dan pusat perbelanjaan dipadati pengunjung dan salah satu kesulitan yang sering saya alami adalah ketika akan menikmati makanan di restoran maupun </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>food court</em></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Sering saya mendapati seluruh tempat terisi penuh, tetapi saya belum pernah menemukan ada orang yang bersedia pindah ke tempat duduk dengan kursi yang lebih sedikit untuk memberikan kesempatan pada rombongan yang lebih besar duduk di sana. Yang lebih sering saya alami justru adalah orang-orang yang benar-benar sadar bahwa ada keluarga lain yang menunggu giliran dan berdiri di dekat mereka, tetapi malah berlama-lama mengobrol padahal mereka sudah selesai menikmati makanan. Bahkan, beberapa di antara mereka sempat melirik kami yang berdiri tak jauh dari mereka sambil meneruskan percakapan mereka seolah-olah sama sekali tidak melihat kami berdiri. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Pembaca yang budiman, kebaikan memang sesuatu yang tak mudah. Kebanyakan dari kita melakukan kebaikan ketika mempunyai kepentingan. Kita melakukan kebaikan ketika membutuhkan bantuan orang lain. Kita berbuat baik ketika mengharapkan sesuatu yang lebih besar. Kita tidak berbuat baik kepada orang-orang ketika kita tidak memiliki kepentingan terhadap mereka. Kalau demikian, apakah perbuatan baik tersebut sungguh-sungguh perbuatan baik?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Di sinilah sesungguhnya perbedaan antara kebaikan dan kepentingan. Orang yang baik senantiasa berbuat baik kepada siapa pun terlepas dari konteks dan kepentingan apa pun. Namun ketika kebaikan tidak dilakukan secara konsisten, itulah yang disebut dengan kepentingan. Kita berbuat baik pada orang tertentu tetapi tidak melakukan kebaikan pada orang yang lain. Ini adalah kepentingan. Jadi, definisi kepentingan adalah kebaikan yang tidak konsisten.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Kepentingan kini telah menjadi kata kunci dalam bisnis dan politik. Hampir tidak ada bisnis yang dijalankan tanpa kepentingan. Dalam politik, apalagi. Bukankah jargon yang terkenal dalam politik adalah “Tidak ada musuh yang abadi, tidak ada teman yang sejati. Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi”? </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Kepentingan dengan demikian telah menjadi Tuhan, sesuatu yang dikejar orang selama ini. Dan ketika hidup semata-mata dalam kepentingan, kita sesungguhnya tidak berbeda dari hewan. Dalam kepentingan tidak ada kebaikan, tidak ada spiritualitas. Segala sesuatu bersumber dan berfokus pada diri sendiri. Hal ini tentu saja mereduksi hakikat kemanusiaan kita dari makhluk spiritual menjadi makhluk fisik. Maka, tak aneh kalau sebutan kita adalah sebagai hewan </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">ekonomi, hewan politik, dan sebagainya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Ada beberapa perbedaan antara kebaikan dan kepentingan. Pertama, kebaikan sesungguhnya adalah pemberian yang berdasarkan cinta, sementara kepentingan adalah pemberian yang didasarkan pada keinginan untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi. Ketika kita memberi berdasarkan cinta, kita akan melakukan hal yang sama untuk semua orang. Namun kalau kita memberi atas dasar kepentingan, kita akan membeda-bedakan perlakuan kita kepada satu orang dengan orang yang lain. Kepada orang-orang yang berpotensi memberikan keuntungan yang banyak, kita akan memberikan yang terbaik untuk mereka, tetapi tidak demikianlah perlakuan kita kepada orang-orang yang tak berpotensi menguntungkan kita di masa depan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Dengan demikian, fokus kepentingan sesungguhnya hanyalah diri kita sendiri, sementara fokus kebaikan adalah kepentingan orang lain. Dan di sinilah terletak keindahannya, ketika kita melayani orang lain dengan tulus, sesungguhnya kita sendiri sedang mendapatkan pelayanan terindah yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata yang paling canggih sekalipun.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Kedua, bagi orang-orang yang baik berlaku rumus “kebaikan mengalahkan kepentingan”, sementara bagi orang-orang yang berparadigma transaksional berlaku rumus “kepentingan mengalahkan kebaikan”. Orang yang baik akan melakukan kebaikan kepada siapa pun, termasuk kepada orang-orang yang tidak berpotensi memberikan keuntungan atau menimbulkan bahaya baginya. Ketika berbuat baik, ia tidak memilah dan memilih orang lain dengan menggunakan kacamata kepentingan, karena baginya berbuat baik adalah perwujudan rasa cinta kepada sesama. Karena itu, ia juga berbuat baik kepada orang-orang yang memiliki posisi lebih lemah dari dirinya, kepada orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Ketiga, ciri-ciri orang yang baik adalah berbuat kebaikan secara spontan tanpa berpikir terlalu jauh. Spontan yang saya maksud di sini bukanlah dalam konteks perilaku yang reaktif, tetapi perilaku yang selalu mengedepankan kebaikan dalam bentuk tindakan yang spontan dan tanpa pamrih. Ini berbeda dari orang yang berpikir kepentingan. Dalam melakukan kebaikan mereka tidak bisa spontan, tetapi harus berpikir dulu masak-masak, serta mengkalkulasi manfaat dan biayanya, untung dan ruginya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Ngomong-ngomong</em></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, apakah Anda orang yang spontan ketika melakukan kebaikan?</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0.14in;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><strong>*) </strong></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em><strong>Penulis</strong></em></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><strong> bestseller The 7 Laws of Happines &amp; </strong></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em><strong>narasumber</strong></em></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><strong> talkshow Smart Happiness </strong></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em><strong>di SmartFM Network</strong></em></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><strong>. </strong></span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/kebaikan-atau-kepentingan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Live Without Applause</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/live-without-applause</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/live-without-applause#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 09:52:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus Bambang W.S</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>
		<category><![CDATA[Paulus Bambang]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=15933</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Not everyone can live without applause but everyone can live to give applause&#8221; Tanpa tepuk tangan bagi sebagian orang, apalagi  <a href="http://swa.co.id/my-article/live-without-applause">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><em><strong>&#8220;Not everyone can live without applause but everyone can live to give applause&#8221;</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tanpa tepuk tangan bagi sebagian orang, apalagi petinggi, adalah penderitaan. Sebab, tepuk tangan sering dikonotasikan sebagai penghargaan. Tepuk tangan adalah pengakuan atas prestasi kinerja yang luar biasa. Tepuk tangan adalah simbol kesuksesan. Kegempitaan dalam tepuk tangan adalah simbol penghargaan dari sekitar atas pencapaian yang dirasakan para pemberi tepuk tangan. Karenanya, hidup dalam kesunyian &#8212; tanpa tepuk tangan dari orang sekitar &#8212; adalah sebuah kengerian yang tak ingin dialami oleh banyak orang.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Begitu kuatnya pengaruh tepuk tangan ini sehingga banyak orang yang mencari tepuk tangan sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan dan aktivitasnya. Tepuk tangan adalah <em>key performance indicator </em>yang secara kasat mata dianggap sebagai ukuran yang sebenarnya. Ketika orientasi tepuk tangan ini sudah menjadi fokus, maka orang, apalagi petinggi, akan menghalalkan segala cara untuk mendapat tepuk tangan berapa pun harganya dan apa pun caranya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Orientasi yang sedemikian kuat akan terpancar dalam perilaku yang sangat kentara, sehingga hasil akan mengalahkan proses. Kebenaran dan kebaikan bagi masyarakat luas dikalahkan oleh kepopuleran pribadi dan organisasinya. Ketenaran mengalahkan misi. Kalau sudah begini, hidup menjadi bias. Lampu sorot dan panggung menjadi idaman. Tanpa sinar terang dan tepuk tangan hidup menjadi hambar.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Kita menikmati pertunjukan orang yang haus tepuk tangan di mana mana. Di media elektronik, kita melihat tayangan <em>reality show</em> yang tak kalah dari kontes <em>Indonesian Idol </em>atau <em>Indonesia Mencari Bakat</em> justru terjadi di kalangan elite yang seharusnya membela kalangan bawah.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Para wakil rakyat di Senayan sangat gemar menjadi populer untuk hal yang sepele, tetapi tak berani bertindak kontroversial untuk hal yang sangat penting. Banyak kasus yang diungkap dengan hebat, dengan debat yang sudah melebihi kepantasan, tetapi akhirnya berujung pada kompromi yang tak jelas. “<em>Silent is golden” </em> katanya untuk hal esensial seperti soal pelecehan hak beragama dengan penutupan tempat beribadah, tetapi “<em>noisy is diamond”</em> untuk hal sepele yang bisa mendatangkan ketenaran.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Para pemimpin bangsa mulai dari tingkat pusat sampai tingkat lokal sibuk mencari proyek guna kepentingan pilkada selanjutnya tanpa memikirkan pengorbanan yang seharusnya dilakukan hari ini untuk menyongsong masa depan. Tidak berani menerobos kebuntuan pembebasan lahan dengan kebijakan yang tegas agar lima tahun mendatang infrastruktur sudah terbangun. Tidak berani berperan sebagai penabur benih dan koki di dapur. Semua ingin jadi pemetik hasil dan pembawa nampan. Terjadi perebutan siapa yang akan menggunting pita dan membubuhkan tanda tangan prasasti. Akibatnya, roda pembangunan sangat berorientasi pada hasil jangka pendek. Jangankan rencana pembangunan 25 tahun, sepuluh tahun saja sudah dianggap hanya wacana omong kosong.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Para petinggi perusahaan dengan bangga memasang iklan seremonia dan advertorial di media elektronik yang biayanya kadang sepadan dengan program yang dikemas sebagai <em>corporate social responsibility</em>. Berupaya mendapat <em>applause</em> di tingkat dunia sebagai <em>green corporation</em> padahal praktik pertambangan dan pertaniannya membuat alam merana. Memberi bantuan sosial kepada para korban bencara alam dengan jumlah yang spektakuler sehingga layak mendapat rekor MURI padahal karyawan yang sehari-hari bekerja keras mengumpulkan sen demi sen pendapatan tidak mendapat upah dan tunjangan yang layak. Tenar di luar, tetapi tega di dalam. Tepuk tangan di luar, tetapi tepuk dada di dalam. Sungguh ironis.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Pertanyaannya, apakah dunia yang sangat materialistis dan mengagungkan ketenaran dengan segala macam kontes <em>idol</em> ini masih mampu menyisakan spesies langka manusia yang hidup dengan orientasi tanpa tepuk tangan ?</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Ternyata, masih banyak orang yang mampu hidup tanpa tepuk tangan atau tidak mencari tepuk tangan sebagai fokus utamanya. Gandhi, misalnya, tokoh yang berkarya tanpa memikirkan <em>applause </em>buat dirinya asal India bisa menjadi negara maju. Ketika India sekarang mampu menjadi penopang BRIC, maka tepuk tangan masyarakat internasional khususnya akan tertuju pada Gandhi yang membawa fondasi kemandirian India.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Gus Dur diakui sebagai bapak bangsa bukan karena keinginannya menjadi bapak bangsa, melainkan karena karya besarnya yang dihormati kawan dan lawan. Bahwa ia sering disebut kontroversial karena ia tak mau sejalan dengan <em>mainstream </em>yang tak memberi maslahat bagi semangat persatuan, pluralisme dan kebangsaan. Ia melawan siapa saja yang mau membelenggu pluralisme. Ia membela orang kecil, ini yang berbeda dari banyak pemimpin yang hanya suka membeli orang besar. Ia berani melawan arus untuk sekadar mengingatkan bahwa bangsa ini perlu pemikiran baru.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">William Soeryadjaya membuat kejutan dengan merelakan Astra lepas hanya untuk menyelamatkan nasabah Bank Summa. Langkah ini membuat tepuk dada orang di sekelilingnya yang tidak ingin ia melego perusahaan yang didirikannya dari nol. Tepuk tangan bergempita dari seluruh nasabah Bank Summa ketika yakin bahwa uang mereka akan kembali. Om William telah menorehkan sejarah baru bahwa tanggung jawab adalah hal esensi yang tidak boleh dikalahkan oleh kepemilikan materi.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Menjadi manusia yang tidak haus tepuk tangan membuat hidup lebih mudah. Lebih nyaman dan mengalir. Beraktivitas berdasarkan misi dan prinsip. Keheningan membuat manusia bisa tersenyum bahagia ketika melihat karyanya membahagiakan orang lain. Aktivitasnya mencerahkan pikiran orang lain. Sapaannya membuat yang lain lebih berarti bukan sekadar dirinya. Kalau sudah begini, hanya soal waktu tepuk tangan akan diterima. Kalau tidak di dunia, di akhirat sudahlah pasti. Mau cari yang mana?</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><em><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><span style="font-weight: normal;">*) Penulis </span></span></span></span><strong>best seller Built to Bless dan Lead to Bless Leader.</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><strong>Diambil dari Rubri “Pernik” di Majalah SWA</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/live-without-applause/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Triple Bottom Line: Lebih dari Sekadar Profit</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/triple-bottom-line-lebih-dari-sekadar-profit</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/triple-bottom-line-lebih-dari-sekadar-profit#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 09:40:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Neviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>
		<category><![CDATA[myarticle]]></category>
		<category><![CDATA[Neviana]]></category>
		<category><![CDATA[Triple Bottom Line]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=15930</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini, Burger King, Unilever, Nestle dan Kraft Foods memutuskan menghentikan pembelian minyak kelapa sawit yang diproduksi oleh Grup Sinar  <a href="http://swa.co.id/my-article/triple-bottom-line-lebih-dari-sekadar-profit">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		STRONG.western { font-size: 12pt; so-language: en-US } 		STRONG.cjk { font-family: "DejaVu Sans", sans-serif; font-size: 12pt; so-language: zxx } 		STRONG.ctl { font-family: "Times New Roman", serif; font-size: 12pt } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US">Baru-baru ini, Burger King, Unilever, Nestle dan Kraft Foods memutuskan menghentikan pembelian minyak kelapa sawit yang diproduksi oleh Grup Sinar Mas. Alasan mereka adalah dugaan adanya perusakan hutan tropis yang membahayakan kehidupan satwa, mengurangi kemampuan penyerapan karbon dioksida yang merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim global yang lebih dikenal dengan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US"><em>global warming</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US">. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US">Di luar negeri, Timberland, salah satu produsen pakaian dan sepatu </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US"><em>outdoor </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US">juga didera hal yang sama (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US"><em>Harvard Business Review</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US">, September 2010). Pagi hari 1 Juni 2009, Jeff Swartz, menerima </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US"><em>e-mail</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US"> dari 65 ribu aktivis dan pelanggan yang marah. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">Mereka menuduh Timberland membeli materialnya dari hutan yang ditebang secara ilegal di Amazon. Parahnya, awalnya Timberland tidak mengetahui apakah material yang mereka beli benar berasal dari Amazon atau tidak, yang mengimplikasikan mungkin saja tuduhan tersebut benar. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" lang="it-IT" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="it-IT" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Bukan itu saja, di bulan Mei 2010, seluruh dunia gempar dengan kasus bunuh diri di pabrik FoxConn, Cina. Delapan pegawainya mati karena bunuh diri dalam waktu lima bulan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">Fenomena nasional dan internasional ini mengimplikasikan dengan jelas bahwa perusahaan masa kini tidak bisa sekadar memperhatikan profit lagi. John Elkington tahun 1988 memperkenalkan konsep </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>Triple Bottom Line</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"> (TBL atau 3BL). Atau juga 3P – </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>People, Planet and Profit</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">. Singkat kata, ketiganya merupakan pilar yang mengukur nilai kesuksesan suatu perusahaan dengan tiga kriteria: ekonomi, lingkungan, dan sosial. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" lang="it-IT" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">Sebenarnya, pendekatan ini telah banyak digunakan sejak awal tahun 2007 seiring perkembangan pendekatan akuntansi biaya penuh (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>full cost accounting</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">) yang banyak digunakan oleh perusahaan sektor publik. Pada perusahaan sektor swasta, penerapan tanggung jawab sosial (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>Corporate Social Responsibility/</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">CSR) pun merupakan salah satu bentuk implementasi TBL. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" lang="it-IT" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">Konsep TBL mengimplikasikan bahwa perusahaan harus lebih mengutamakan kepentingan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>stakeholder </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">(semua pihak yang terlibat dan terkena dampak dari kegiatan yang dilakukan perusahaan) daripada kepentingan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>shareholder</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"> (pemegang saham). </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" lang="it-IT" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">Mari kita lihat secara detail bagaimana perusahaan di Indonesia bisa mengaplikasi konsep 3P ini secara riil. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>People</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"> menekankan pentingnya praktik bisnis suatu perusahaan yang mendukung kepentingan tenaga kerja. Lebih spesifik konsep ini melindungi kepentingan tenaga kerja dengan menentang adanya eksplorasi yang mempekerjakan anak di bawah umur, pembayaran upah yang wajar, lingkungan kerja yang aman dan jam kerja yang dapat ditoleransi. Bukan hanya itu,  konsep ini juga meminta perusahaan memperhatikan kesehatan dan pendidikan bagi tenaga kerja.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em>Planet</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><em> </em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT">berarti mengelola dengan baik penggunaan energi terutama atas sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Mengurangi hasil limbah produksi dan mengolah kembali menjadi limbah yang aman bagi lingkungan, mengurangi emisi CO2 ataupun pemakaian energi, merupakan praktik yang banyak dilakukan oleh perusahaan yang telah menerapkan konsep ini. </span></span></span></span><strong><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><span style="font-weight: normal;">The Body Shop</span></span></span></span></span></strong><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT">, dalam </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><em>Values Report 2005</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT">, mencantumkan salah satu target inisiatif </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><em>Protect Our Planet </em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT">untuk tahun 2006 dengan mengurangi hingga 5% emisi CO2 dari listrik yang digunakan di</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><em> </em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT">gerainya. Starbucks memiliki program </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><em>Coffee and Farmer Equity </em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT">(CAFE) untuk memperoleh dan mengolah kopi dengan memperhatikan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan. Starbucks mendefinisikan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><em>sustainability</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"> sebagai model yang layak secara ekonomis untuk menjawab kebutuhan sosial dan lingkungan dari semua partisipan dalam rantai pasokan dari petani sampai konsumen.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-top: 0.19in; margin-bottom: 0.19in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US"><em>Profit</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"> di sini lebih dari sekadar keuntungan. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>Profit</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"> di sini berarti menciptakan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>fair trade</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"> dan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>ethical trade</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"> dalam berbisnis. Starbucks dan The Body Shop selalu mengaplikasikan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><em>fair trade</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"> – bukan mencari harga termurah – dalam mencari bahan bakunya.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT">Tidak dapat diingkari, masih banyak perusahaan yang melihat program ini sebagai suatu program yang menghabiskan banyak biaya dan merugikan. Bahkan, beberapa perusahaan menerapkan program ini karena  “terpaksa” untuk mengantisipasi penolakan dari masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan. Selain sisi internal perusahaan, hambatan lainnya dari sisi eksternal karena belum adanya dukungan regulator dan profesi akuntansi tentang penyajian pelaporan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="it-IT"><span style="font-style: normal;">nonfinansial. </span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; line-height: 0.14in;" lang="it-IT" align="justify">
<p style="margin-left: 0.02in; margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Ahli manajemen dari Harvard Business School, Michael Porter, dalam tulisannya yang berjudul </span></span></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><em><span style="font-weight: normal;">Strategy and Society: The Link Between Competitive Advantage and Corporate Social Responsibility</span></em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><em><span style="font-weight: normal;">Harvard Business Review</span></em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="it-IT"><span style="font-weight: normal;">, Desember 2006), telah melakukan riset dan mengemukakan bahwa konsep sosial harus  menjadi bagian dari strategi perusahaan. S</span></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><span style="font-weight: normal;">trategi perusahaan terkait erat dengan program tanggung jawab sosial. Perusahaan tidak akan menghilangkan program tanggung jawab sosial itu meski dilanda krisis, kecuali ingin mengubah strateginya secara mendasar. Sementara pada kasus program tanggung jawab sosial pada umumnya, begitu perusahaan dilanda krisis, program tanggung jawab sosial akan dipotong lebih dulu.</span></span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top: 0.19in; margin-bottom: 0.19in; line-height: 0.14in;" align="justify"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US">Jika di seluruh belahan dunia, para jawara global</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US"><em> </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span lang="en-US">telah mulai mengadopsi konsep TBL, apakah perusahaan Anda juga telah siap? </span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.14in;" lang="en-US" align="justify">Penulis adalah <span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Konsultan di sebuah<em>Global Business Advisory Firm</em>di Jakarta</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/triple-bottom-line-lebih-dari-sekadar-profit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemukan “Teman Hidup” di Negara Lain</title>
		<link>http://swa.co.id/my-article/menemukan-%e2%80%9cteman-hidup%e2%80%9d-di-negara-lain</link>
		<comments>http://swa.co.id/my-article/menemukan-%e2%80%9cteman-hidup%e2%80%9d-di-negara-lain#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 09:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gabriel Montadaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Article]]></category>
		<category><![CDATA[Eskpor]]></category>
		<category><![CDATA[Gabriel Montadaro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=15928</guid>
		<description><![CDATA[Proses pencarian distributor ataupun mitra dagang nyaris tidak ada bedanya dengan mencari pasangan hidup. Lika-likunya pun macam- macam. Bahkan, bisa  <a href="http://swa.co.id/my-article/menemukan-%e2%80%9cteman-hidup%e2%80%9d-di-negara-lain">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><strong><br />
</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Proses pencarian distributor ataupun mitra dagang nyaris tidak ada bedanya dengan mencari pasangan hidup. Lika-likunya pun macam- macam. Bahkan, bisa terjadi secara tidak disengaja (</span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>accidental</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">), yang mana saya pribadi pernah mengalami sendiri sewaktu </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>business trip</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> ke Hong Kong. Saat itu, sambil menikmati </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>on board meal</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">, saya mulai percakapan dengan penumpang di sebelah yang ternyata pemilik salah satu perusahaan distribusi besar di Laos. Kemudian perusahaan itu kami tunjuk menjadi salah satu distributor untuk Laos. Tentu saja, setelah melalui fase penilaian dan proses seleksi yang ketat.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Menemukan mitra dagang ataupun distributor memang pekerjaan gampang-gampang susah. Beberapa metode yang cukup umum dan aman, di antaranya, pertama, informasi dari institusi pemerintah (misalnya Badan Pengembangan Ekspor Nasional) ataupun asosiasi perdagangan, seperti Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Cara lain pemanfaatan informasi dari pemerintah adalah berkunjung ke Kedubes Indonesia di negara tujuan ekspor.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Kedua, melalui jalur pameran. Yang perlu diperhatikan adalah pameran seperti apa yang cocok diikuti. Saya pribadi lebih merekomendasikan ikut pameran yang bersifat industri spesifik, misalnya kalau mau promo produk kosmetik, bisa mengikuti </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>Asia Beauty Expo</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> yang biasanya diadakan di Hong Kong. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Ketiga,</span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em> </em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">rekomendasi pasar. Cara ini tidak terlalu susah, cukup datang ke negara yang menjadi target pasar, mengunjungi pasar untuk bertemu dengan para penjual dan berbincang-bincang dengan mereka. Cara ini saya rasakan efektif untuk mencari informasi latar belakang calon mitra, yang dimulai dari </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>service level, financial sound, trade relationship</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> dan lain-lain.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Cara yang sedikit liar pernah saya alami sewaktu saya bertugas di Vietnam. Pada waktu itu saya sedang mencari mitra distributor salah satu produk yang saya pegang. Saya cukup ke pasar, cari produk sejenis dan baca informasi pada kemasan produk. Di kemasan itu pasti tertulis nama distributor atau importir produknya, malah terkadang lengkap dengan alamat dan nomor telepon. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Keempat, pasang iklan juga layak dicoba untuk menjaring distributor dan mitra dagang/ekspor. Untuk metode ini, saran saya,  jangan irit-irit atau terlalu perhitungan dengan biaya. Pasang iklan di koran terkemuka di negara yang dituju (atau majalah tertentu untuk yang industrinya spesifik). Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, saya sarankan memasang minimum 4-6 kali. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Dan kelima, memanfaatkan media </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>online</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">. Dalam lima tahun terakhir kita menyaksikan perkembangan pesat media </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>online</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">, terutama dengan meledaknya popularitas </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>social networking media (socmed)</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">, seperti Twitter, Facebook, Hi5, LinkedIn dan lain-lain. Akan sangat menarik mencoba media </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>online</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> karena tidak terlalu mahal. Cukup membangun situs web yang menarik dan bisa mempromosikan </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>link website</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> kita lewat iklan di </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>search engine</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> ternama, seperti Google, Yahoo ataupun iklan di Facebook </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>page</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em><strong>Business Partner Review</strong></em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Setelah menemukan calon mitra dagang (yang saya yakin opsinya pasti lebih dari satu), langkah penting selanjutnya bagaimana menentukan mitra dagang yang tepat. Yang paling penting tentunya mencari informasi mengenai calon mitra dagang kita, baik informasi yang sifatnya umum (seperti umur perusahaan, izin usaha, IMB, jumlah karyawan, armada transportasi) maupun latar belakang finansial. Yang terakhir ini, jelas ada di urutan paling penting. Informasi tentang keuangan calon distributor atau mitra dagang bisa diminta langsung, mulai dari rekening koran, garansi bank, laporan pajak, dan sebagainya. Informasi kredibilitas finansial juga bisa dicari di pasar atau lembaga keuangan seperti bank.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Selain hal yang bersifat finansial atau </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>tangible asset</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">, hal yang bersifat </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>intangible</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> pun saya rasakan sangat penting, seperti visi dan misi perusahaan atau pemilik usaha, gaya manajemen, </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>rule of conduct</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> dan kredibilitas. Misalnya, apakah perusahaan bersedia membayar tepat waktu ke pemasok dan tingkat</span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em> turnover</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> karyawan, serta semangat kebersamaan atau </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>spirit for success</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> di perusahaan calon mitra dagang atau distributor. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em><strong>Trust is Earned</strong></em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Setelah menentukan calon mitra dagang, selanjutnya bagaimana memupuk hubungan dagang supaya langgeng dan berkelanjutan. Kuncinya adalah </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>trust is earned. </em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Mendapatkan kepercayaan itu mahal,  tidak bisa dibangun hanya lewat kata: </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>please trust me</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">. Melainkan, harus dibangun terus-menerus secara kesinambungan dan melalui perjalanan waktu yang tidak singkat.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Distributor harus kita perlakukan sebagai mitra kerja, bukan sapi perah. Saya banyak melihat gagalnya membangun kemitraan karena hanya melihat distributor sebagai partner transaksi. Setelah mereka beli produk kita, ya terserah distributor mau diapakan produk kita. Ada lagi yang hanya memperlakukan distributor sebagai </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>one night stand sleeping partner</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> alias hanya berniat memanfaatkan distributor sebagai </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>entry point</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> masuk ke negara tujuan. Setelah berhasil masuk ke negara tujuan ekspor, distributor itu langsung dibuang. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Di tahun awal, beri kesempatan distributor mendapatkan keuntungan yang wajar. Ini akan membuat mereka makin bersemangat berjuang membangun merek kita. Salah satu program favorit saya adalah dengan melakukan </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>join sales call</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> alias kunjungan lapangan dengan tim </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>sales </em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">mereka. Ini adalah cara paling efektif mengkaji performa produk kita di lapangan, mengecek </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>service level</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> dan memonitor kompetitor.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Untuk mengukur perkembangan bisnis antara prinsipal dan distributor, sangat saya sarankan untuk melakukan kajian join bisnis. Bisa dilakukan bulanan atau kuartalan. Teknologi komunikasi memungkinkan kita melakukan kajian bisnis secara </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>cost effective</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> via </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>video conferencing</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"> atau </span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>net meeting</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">. Kajian bisnis tatap muka langsung bisa dilakukan bersamaan dengan kunjungan kerja tiap kuartal atau tiap semester. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p><em><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Penulis adalah Praktisi dan pengamat pemasaran internasional,  berdomisili di Bangkok, Thailand. </span></span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/my-article/menemukan-%e2%80%9cteman-hidup%e2%80%9d-di-negara-lain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

