<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SWA.co.id &#187; Sajian Utama</title>
	<atom:link href="http://swa.co.id/category/swa-majalah/sajian-utama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://swa.co.id</link>
	<description>SWA Online</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 10:15:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pitra Satvika dan Fedi Fianto: Strategi Ganda Membangun Stratego</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/pitra-satvika-dan-fedi-fianto-strategi-ganda-membangun-stratego</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/pitra-satvika-dan-fedi-fianto-strategi-ganda-membangun-stratego#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy Dwinanto Iskandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Fedi Fianto]]></category>
		<category><![CDATA[Pitra Satvika]]></category>
		<category><![CDATA[PT Stratego Optima]]></category>
		<category><![CDATA[Stratego]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=18214</guid>
		<description><![CDATA[Pitra Satvika dan Fedi Fianto, pendiri PT Stratego Optima, adalah duo pelaku start-up yang sukses menembus belantara industri digital di  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/pitra-satvika-dan-fedi-fianto-strategi-ganda-membangun-stratego">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; } --></p>
<p><span style="font-size: small;">Pitra Satvika dan Fedi Fianto, pendiri PT Stratego Optima, adalah duo pelaku <em>start-up</em> yang sukses menembus belantara industri digital di Indonesia. Kedua lajang ini telah membuktikan, bermodal dua komputer plus semangat tempur yang tiada putus, produk kreatif mereka berupa desain situs web dan portal serta pembuatan <em>digital game</em> dilirik klien kakap seperti Kentucky Fried Chicken, Morris Indonesia, Garudafood, Unilever Indonesia, Sari Husada, Martina Berto, Bank Niaga, Indonesia Power, Global Fortuna, Nokia, Toyota, dan banyak lagi. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Kedua anak muda kreatif lulusan Teknik Aristektur Institut Teknologi Bandung ini sesungguhnya mengawali bisnis sejak di bangku kuliah. Kala itu mereka menggeluti bidang animasi, termasuk di antaranya pembuatan komik. Sayang, bisnisnya tidak berkembang seperti yang diharapkan. Setelah merilis 30 judul komik yang diterbitkan Mizan, mengisi konten komik di portal kitakita.com dan membuat animasi untuk sampo Clear di MTV, bisnis tersebut pun tiarap. Mereka lantas putar haluan ke bidang web yang sedang menggelembung pada akhir 1990-an. Proyek pertama mereka adalah menggarap portal Kentucky Fried Chicken yang dikreasikan dengan ikon KFC dan Colonel Sanders yang menarik, serta tampilan portal yang interaktif dengan teknologi <em>flash</em>. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Nah, berangkat dari proyek KFC itu tercetus ide mengklasifikasikan bisnis digital mereka ke dua lahan yakni <em>online</em> dan <em>offline</em>. Fedi menjelaskan, bisnis yang sifatnya <em>online</em>, sesuai dengan namanya, merupakan bisnis beraroma web. “Kami membuat web atau portal perusahaan atau merek,” ujar pria yang gemar menjelajah alam liar dan pernah mendaki Mount Everest itu. Sementara bisnis yang bersifat <em>offline</em> adalah pembuatan <em>digital game</em> yang dilakoni Stratego sejak 2002. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Mengandalkan inovasi dan kepekaan terhadap tren, akhirnya banyak perusahaan kepincut menyewa jasa mereka. Saking banyaknya klien, Pitra dan Fedi mengaku lupa berapa perusahaan dan merek yang sudah digarap baik secara <em>online</em> maupun <em>offline</em>. Di antara daftar klien plus produknya yang masih lengket di benak mereka adalah pengerjaan portal Marlboro.co.id dan Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover. Selain itu, ada pula kreasi pembuatan mesin <em>game</em> Marlboro yang diletakkan di beberapa kafe dan klub malam. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Selain kedua merek rokok tersebut, Stratego juga dipercaya membuat <em>game</em> Imuno Space untuk Nutrilon Royal 3 dari Nutricia. “Kami buat <em>game</em> yang menunjukkan kelebihan produk ini, apa itu bakteri baik dan bakteri jahat melalui <em>game</em>,” katanya. Proyek Imuno Space ini cukup besar karena seperti sebuah <em>land</em> atau lahan <em>game</em> yang cukup luas dengan beberapa <em>game</em> yang ditawarkan. “Kami juga buat <em>game</em> versi  iPad-nya,” sambung Pitra, yang juga hobi fotografi. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Salah satu kreasi segar mereka adalah <em>interactive floor</em> untuk Toyota di <em>Indonesia Motor Show 2009</em>. Karena saat itu Toyota bertema <em>go green</em>, maka <em>game</em> interaktifnya mendukung pesan tersebut dengan menjadikan pengunjung yang berjalan di atas lantai seakan menapaki tetumbuhan yang bermekaran bunganya. Padahal saat itu teknologi <em>multitouch</em> belum jadi tren di Indonesia.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Namun bisa dibilang, salah satu kreasi mereka yang paling fenomenal adalah web interaktif Nokia Eksismeter, yang dibesut untuk meluncurkan Nokia C3. Produk ini untuk mengukur seberapa eksis atau populer para pengunjung portal tersebut di ranah media sosial. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Kini, saat <em>branding</em> menggunakan media sosial terus meningkat, Stratego pun tanggap terhadap keinginan pasar. “Trennya sekarang aktivasi, pemilik merek ingin orang yang datang merasakan sendiri dan mempersepsikan merek itu seperti apa, maka digunakan permainan interaktif,” papar Pitra. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Di bisnis ini, kecepatan merespons tren sangat penting. Para pemilik merek mulai <em>ngeh </em>menggunakan teknologi digital untuk aktivasi pemasarannya. Buntutnya, permintaan di bisnis ini pun meningkat. “Dulu orang hanya pasang iklan di portal, lalu buat web sendiri, kemudian berkembang media sosial, orang me-<em>link</em> ke Friendster, hingga berkembang pesatnya Facebook,” ungkapnya. <em>Boom </em>Facebook menyadarkan bahwa banyak orang berkumpul di media sosial. “Sehingga membuat orang masuk ke sana mulai dari hanya membuat halaman Facebook hingga aplikasi yang berhubungan dengan Facebook. Jadi, pembuat merek makin terbantu, dan makin banyak kanal yang bisa digarap,” tutur Pitra.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Terdorong untuk terus berinovasi itulah, meski berdampak pada biaya investasi yang tinggi, Pitra dan Fedi selalu berupaya menggunakan teknologi terbaru di setiap proyeknya. Seperti halnya ketika <em>game</em> berbasis <em>touch screen</em> dan <em>motion sensor</em> belum banyak berkembang, mereka sudah banyak menerapkan untuk kebutuhan para kliennya. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Hasil strategi itu sangat nyata: meski tidak berpromosi, klien berdatangan. “Kami dapat dari rekomendasi orang lain, terutama orang-orang agensi periklanan,” tutur Pitra yang enggan memaparkan omset perusahaannya. Bahkan, ia sering mendapat rekomendasi dari manajer merek yang tidak mereka kenal sebelumnya. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Pitra dan Fedi tidak berniat berhenti di sini. Banyak pemikiran mereka yang belum terwujud. Meski demikian, untuk membiayai kelanjutan mimpi mereka, hingga keduanya tidak menggunakan pendanaan dari bank, lebih banyak dari arus kas sendiri. “Sudah banyak proyek, jadi sudah bisa membiayai sendiri,” imbuh Pitra yang mengaku ingin membesarkan bisnisnya meski sudah sempat dilirik pemodal asing dan dalam negeri.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><br />
</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><em><span style="font-size: small;"><strong>Eddy Dwinanto Iskandar</strong></span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><em><span style="font-size: small;">Reportase: Herning Banirestu</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><em><span style="font-size: small;">Riset: Evi Maulidyyah Amanayati</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/pitra-satvika-dan-fedi-fianto-strategi-ganda-membangun-stratego/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7Langit: Dipinang RIM Jadi Penyedia Layanan Aplikasi BlackBerry</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/7langit-dipinang-rim-jadi-penyedia-layanan-aplikasi-blackberry</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/7langit-dipinang-rim-jadi-penyedia-layanan-aplikasi-blackberry#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:50:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dede Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[7Langit]]></category>
		<category><![CDATA[Blackberry]]></category>
		<category><![CDATA[GempaLoka]]></category>
		<category><![CDATA[Oon Arfiandwi]]></category>
		<category><![CDATA[PT Bintang Cakrawala Sentosa]]></category>
		<category><![CDATA[Titi Rusdi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/2011/02/7langit-dipinang-rim-jadi-penyedia-layanan-aplikasi-blackberry/</guid>
		<description><![CDATA[Yang biasa mengutak-atik BlacBkerry pasti mengenal 7Langit. Pasalnya, bisnis inti 7langit adalah mobile application yang fokus untuk layanan BlackBerry. Sejak  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/7langit-dipinang-rim-jadi-penyedia-layanan-aplikasi-blackberry">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; }strong { color: rgb(0, 0, 0); }strong.western { font-family: "Nimbus Roman No9 L","Times New Roman",serif; font-size: 12pt; }strong.cjk { font-family: "Times New Roman",serif; font-weight: normal; }strong.ctl { font-family: "Nimbus Roman No9 L","Times New Roman",serif; font-size: 12pt; } --></p>
<p><span>Yang biasa mengutak-atik BlacBkerry pasti mengenal 7Langit. Pasalnya, bisnis inti 7langit adalah</span><span><em> mobile application </em></span><span>yang fokus untuk</span><span><em> </em></span><span>layanan BlackBerry. Sejak Agustus tahun lalu, 7Langit resmi menjadi anggota (</span><span><em>license member</em></span><span>) Reseach in Motion (RIM) sebagai penyedia layanan aplikasi BlackBerry. “Saat itu, pihak RIM yang menghubungi kami. Sempat kami tidak percaya, karena kami tahu perlu proses yang rumit dan cukup lama bisa menjadi bagian dari RIM,” kata Titi Rusdi, pendiri dan </span><span><em>Chief of Operation</em></span><span> PT Bintang Cakrawala Sentosa, perusahaan yang menaungi 7Langit.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Saat ini 7Langit sudah memiliki 20 </span><span><em>mobile applications</em></span><span>, antara lain Quran, Indonesia International Motor Show 2010 on BlackBerry, IM3 Idol (Indonesian Idol) on BlackBerry, Teman Ibadah, </span><strong><span>BlackBerry Website Launcher, Loka, DompetDhuafa on BlackBerry, Rene Career Coach on BlackBerry, DanceSignal BlackBerry Application, Java Rockin’land BlackBerry Application, Java Soulnation Festival BlackBerry Application, Jalin Merapi BlackBerry Application, dan LayarLoka. </span></strong><span>Yang paling anyar adalah aplikasi JavaJazz on BlackBerry, Garuda di BlackBerry-ku dan GempaLoka.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Nah, aplikasi GempaLoka inilah yang menarik minat RIM meminang 7Langit jadi mitra bisnisnya. GempaLoka merupakan aplikasi yang mampu mendeteksi bencana gempa bumi. Sistem kerjanya memberikan pemberitahuan atau </span><span><em>notification</em></span><span> ke pengguna kejadian gempa di berbagai wilayah di Indonesia secara </span><span><em>real-time</em></span><span>, hanya selang waktu 2-3 menit setelah kejadian. Proyek kerja sama dengan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika ini akhirnya menjadi salah satu aplikasi andalan 7Langit. Hingga saat ini, menurut Titi, ada lebih dari 200 ribu pengguna GempaLoka. “Diharapkan tahun ini jumlahnya melejit dua kali lipat,” ungkap lulusan Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia ini yakin. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>7Langit hadir sejak Agustus 2009. Walau sempat terseok-seok saat awal berdiri, nyatanya selama 1,5 tahun berjalan 7Langit mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan. Saat itu, Titi dan </span>Oon Arfiandwi, sesama pendirinya, <span>serius ingin merancang </span><span><em>mobile application</em></span><span> yang lebih dinamis dan berbeda. Karena, menurut Titi, selama ini </span><span><em>mobile application</em></span><span> bersifat kaku dan memiliki banyak kekurangan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Dengan modal awal Rp 500 juta, Titi dan rekannya yang lulusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung itu serius menggarap bisnis </span><span><em>mobile developer </em></span><span>dan mulai mengembangkan produk pertamanya. Memang, sesaat setelah berdiri, 7 Langit sulit mendapatkan klien. Aplikasi pertama dari kerja keras Titi-Oon ternyata kurang dilirik oleh banyak perusahaan, khususnya </span><span><em>provider </em></span><span>dan industri telekomunikasi. “Saat itu, kami meluncurkan aplikasi Quran. Bukan tidak bagus produk kami, hanya saja mereka masih meragukan kompetensi dan nama kami. Ujung-ujungnya, mereka enggan terhadap tawaran harga dari kami. </span><span><em>Pinginnya</em></span><span> gratis,” kata Titi mengenang. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Akhirnya, Titi melempar konten Quran itu ke masyarakat. Selain sebagai pembuktiaan kemampuan, cara itu untuk memperkenalkan nama 7Langit ke semua orang. Dalam waktu singkat, banyak pengguna yang mengunduh aplikasi ini dan saat itu ada 15 ribu pengunduh. Kini jumlahnya terkerek 22 kali lipat, yakni 337 ribu pengunduh. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Dengan berprinsip “Bagus dan Bermanfaat”, 7Langit kini terus berkembang. Dari hanya dua personel, kini 7Langit mampu memperkerjakan 15 </span><span><em>programmer</em></span><span> yang mumpuni di bidangnya. Saat ini pun setidaknya ada 10 klien yang bekerja sama dengan 7Langit, yaitu Dyandra Promosindo, Mercedes, Proton, Java Festival Production, PT Bank Negara Indonesia Tbk., Axis, Telkomsel, Gudang Garam, X, dan RIM &#8212; yang terbesar, termasuk dalam perolehan keuntungan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Titi berterus terang bahwa investasi awal untuk mendirikan bisnis tersebut sudah kembali. Bahkan, keuntungan yang digenggamnya di 2010 sebesar delapan kali lipat dari tahun awal berdiri, yaitu mencapai miliaran rupiah. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Uniknya, Titi menambahkan, 7 Langit tidak pernah berpromosi di media massa. Selama ini  promosi perusahaan hanya melalui media jejaring sosial seperti</span><span><em> </em></span><span>Twitter dan komunitas. Sederhana, tetapi menuai kesuksesan besar. Terbukti, saat ini tak sedikit perusahaan yang mengantre untuk bekerja sama dengan 7Langit. “Dulu kami sering menjemput bola, kini hampir separuhnya mereka datang ke kami,” ucap anak ketiga dari empat bersaudara ini bangga.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Tahun ini 7Langit berencana menciptakan produk yang lebih kompetitif dan menarik lagi, misalnya aplikasi untuk platfom Android dan ponsel lainnya. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><em><strong>Dede Suryadi dan Ario Fajar/Riset: Evi Maulidyyah Imanayati</strong></em></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/7langit-dipinang-rim-jadi-penyedia-layanan-aplikasi-blackberry/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PhaseDev: Diperkuat Programmer Berprestasi Internasional</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/phasedev-diperkuat-programmer-berprestasi-internasional</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/phasedev-diperkuat-programmer-berprestasi-internasional#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:42:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Mohammad BS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Dimas Surya.]]></category>
		<category><![CDATA[Jeffry Anthony]]></category>
		<category><![CDATA[PhaseDev]]></category>
		<category><![CDATA[PT Phase Solusindo]]></category>
		<category><![CDATA[WayangForce.com]]></category>
		<category><![CDATA[Wenas Agusetiawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=18205</guid>
		<description><![CDATA[Jangan matikan komputer ini, sampai kertas pengumuman ini dicabut.” Demikian bunyi peringatan yang menempel pada sebuah layar LCD Apple 21.  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/phasedev-diperkuat-programmer-berprestasi-internasional">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; }a:link {  } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;"> </span></span><span><span style="font-size: small;">Jangan matikan komputer ini, sampai kertas pengumuman ini dicabut.” Demikian bunyi peringatan yang menempel pada sebuah layar LCD Apple 21. Tentunya, tulisan di kertas karton putih itu bukan tanpa maksud. Ada sebuah proses pemrograman aplikasi yang sedang berjalan, sehingga PC harus dalam posisi <em>on. </em>Sementara itu, belasan <em>programmer</em> dan <em>web</em> <em>designer</em> tampak serius memelototi layar monitor PC masing-masing. Di meja mereka, tergeletak beberapa gadget<em> </em>seperti iPad, Galaxy Tab, ataupun BlackBerry, dengan kabel data terhubung ke PC. Kendati mereka serius mengerjakan tugas masing-masing, atmosfer kerja terlihat cukup <em>fun. </em>Tata<em> </em>ruangan yang terbuka (tanpa sekat kubikel), gaya pakaian kasual,<em> </em>dan kadang-kadang canda menyelingi keseriusan mereka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;">Begitulah gambaran yang tampak suatu hari di kantor  PT Phase Solusindo (PhaseDev) – perusahaan pembuat <em>mobile app – </em>yang berlokasi  di Jl. K.S. Tubun 83. Nama PhaseDev boleh jadi masih terdengar asing. Maklum, perusahaan ini baru berdiri Februari 2010. Meski baru lahir PhaseDev tak bisa dipandang sebelah mata.  Apalagi bila melihat latar belakang orang-orang yang menjadi motor di belakangnya. PhaseDev didirikan trio Wenas Agusetiawan, Jeffry Anthony dan Dimas Surya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;">Mungkin ada di antara Anda yang masih  ingat kasus pembobolan Data Storage Institute dan sistem keamanan SingTel (Singapura) oleh orang Indonesia. Nah, Wenas itulah orangnya. Ketika itu, Wenas baru berusia 16 tahun. Maklum, sejak usia 12 tahun, Wenas sudah fasih dengan aneka bahasa pemrograman seperti Pascal, Basic dan C. Karena ulahnya tersebut, ia  dijatuhi denda  Rp 75 juta oleh pengadilan Singapura. “Peristiwa itu membuat saya kapok <em>hacking</em>,” ujar Wenas yang lantas menempuh studi di British Columbia Institute of Technology, Vancouver Kanada. Wenas juga pernah bekerja di Google. Di kalangan pelaku TI <em>underground, </em>nama Wenas cukup disegani. Pemuda asal Malang ini dikenal dengan inisial HC (Hantu Crew). Lalu, kalau Anda penyuka sajian berita di Lintasberita.com, Wenas ini pula pencipta <em>website</em>-nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Ketika di Kanada, Wenas bertemu dengan Jeffry Anthony, yang kemudian menjadi kolega bisnis di PhaseDev. Toh, ketika pulang ke Indonesia, Wenas sendirian membidani lahirnya </span></span><a href="http://lintasberita.com/" target="_blank"><span style="color: #333333;"><span><span style="font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;">Lintasberita.com.</span></span></span></span></a><span style="color: #333333;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></span><span><span style="font-size: small;">“Saya bangun itu dari 0 hingga punya 8 ribu </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>user</em></span></span><span><span style="font-size: small;">,” katanya mengklaim dengan bangga. Namun, karena perbedaan visi dengan investor, ia pun hengkang. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Sementara itu, Jeffry sempat bekerja di Nexon, pemain besar bisnis <em>online game</em> dunia. Jeffry juga pernah mampir di perusahaan infrastruktur telekomunikasi Ericsson. Namun, alumni SMUK 1 BPK Penabur Jakarta ini memilih kembali ke Indonesia meski sempat ditawari pekerjaan di Electronic Arts Canada, salah satu<em> game publisher</em> terbesar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Di Jakarta keduanya bertemu kembali. Kongsi ini diperkuat   Dimas Surya, pendiri situs lelang </span></span><a href="http://swinde.com/" target="_blank"><span style="color: #0000ff;"><span><span style="font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;">swinde.com</span></span></span></span></a><span><span style="font-size: small;"> saat berusia 18 tahun (yang akhirnya tutup pada 30 Maret 2010). Mereka bertiga mendirikan PhaseDev pada Februari 2010. Pembagian jabatan dan wewenang pun ditetapkan: Wenas sebagai CEO, Jeffry sebagai CTO dan Dimas sebagai CFO. “Modalnya waktu itu </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>sih</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> kira-kira Rp 500 juta. Ketika itu, umur kami masih 20-an, tapi kami punya misi besar,” ungkap Dimas.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Menurut Dimas, awalnya PhaseDev hanya memiliki lima <em>programmer</em> dan seorang desainer. Toh, dalam waktu satu tahun telah berkembang dan memiliki total karyawan tetap sebanyak 20 <em>programmer</em> dan lima desainer<em>. </em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;">Dimas menyebutkan, keistimewaan PhaseDev terletak pada kemampuan dan pengetahuan teknologi serta reputasi para pendiri dan <em>programmer</em>-nya. “<em>Programmer</em> PhaseDev rata-rata memiliki prestasi di bidang <em>programming</em>,” ujar Dimas, yang memperoleh  titel Sarjana Ekonomi dari Universitas Pelita Harapan dengan <em>magna cum laude</em>.  Dicontohkannya, ada <em>programmer </em>PhaseDev yang berhasil memperoleh gelar juara di ajang <em>International Scientific Olympiade on Mathematics</em>. Ada pula yang memenangi <em>International Collegiate Programming Contest.</em> “Hampir 80% <em>programmer</em> kami kontestan acara-acara seperti itu,” ujarnya bangga. Untuk mengimbanginya, Wenas mengaku PhaseDev menggaji mereka rata-rata di atas perusahaan pengembang lokal lainnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;">Melihat kemampuan dan reputasi anggota krunya, tak mengherankan, di usia belianya PhaseDev bisa langsung mendapat klien kakap. Sebut saja Bank Mega. Bank milik konglomerat Chairul Tanjung ini meminta PhaseDev membuatkan <em>software</em> layanan manajemen, yakni berupa Virtual Account Management System, yang bisa dioperasikan dalam aneka platform (multiplatform). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;">Produk baru andalan PhaseDev adalah WayangForce.com,  yakni semacam sistem<em> </em> berbasis Web untuk membaca majalah atau buku secara digital. Jadi, mirip iTunes-nya Apple Inc. Menariknya, WayangForce memungkinkan pengunduh membaca konten di mana pun dan kapan pun dengan gadget apa pun. “WayangForce bisa diakses dari <em>website</em>,<em> </em>iPad, ataupun <em>handset</em> berbasis Android,” kata Dimas dengan bangga. Tak hanya itu, WayangForce juga mampu mengompresi data hingga 45% dari ukuran <em>file</em> sebenarnya. Misalnya, komik setebal 300 halaman, di situs WayangForce hanya berukuran sekitar 18 <em>megabyte</em>. “Kompresi itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan pasar Indonesia,” katanya. Alasannya, kecepatan akses Internet di Indonesia belum secepat negara maju. “Dengan ukuran rata-rata 20 MB, akan mempermudah <em>download</em>-nya,” tambah Wenas.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;">Model bisnis WayangForce adalah <em>revenue sharing</em> dengan para <em>publisher</em> (penerbit majalah atau buku dan komik). Jadi, keuntungan didapat dari harga tiap <em>download</em>. Sayangnya, Wenas enggan berbicara  persentase pembagiannya. Beberapa media yang telah menggunakan jasa WayangForce seperti Majalah <em>Gadget</em>, <em>Game Station</em>, <em>MacWorld</em>, <em>Kiddo</em>, <em>Animonster</em> dan <em>Cinemags</em>. Kabarnya pula, salah satu grup penerbit terbesar di Indonesia akan memasukkan konten 25 majalahnya ke WayangForce. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;">Ke depan, WayangForce juga hendak menampilkan iklan dan berita secara interaktif. Misalnya, tayangan iklan di majalah bisa dimainkan dalam bentuk video. “Kami ingin menjadikan WayangForce sebagai rujukan <em>publisher </em>dan pembacanya di Asia,” ujar Wenas. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;">Tak hanya itu. Kini, selain menjadi <em>outsourced developer</em> perusahaan <em>game</em> kelas dunia – ia tidak menyebut namanya –  PhaseDev juga tengah mengembangkan aplikasi untuk BlackBerry dan iPhone/iPad.  “Kami masih punya mimpi besar. <em>Start</em> kami sangat terlambat, tapi kami yakin mampu <em>finish</em> lebih dulu,” kata Wenas optimistis. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;"><em><strong>A. Mohammad B.S. &amp; Sigit A. Nugroho</strong></em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;"><em>Riset: Evi Maulidyyah Amanayati</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/phasedev-diperkuat-programmer-berprestasi-internasional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SWAStartup 30: Calon-calon Digitalpreneur Bermasa Depan Cerah</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/swastartup-30-calon-calon-digitalpreneur-bermasa-depan-cerah</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/swastartup-30-calon-calon-digitalpreneur-bermasa-depan-cerah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:35:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Joko Sugiarsono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[#StartupLokal]]></category>
		<category><![CDATA[Bancakan]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Gantibaju.com]]></category>
		<category><![CDATA[Groupon]]></category>
		<category><![CDATA[HaloSolo]]></category>
		<category><![CDATA[KayaKarya]]></category>
		<category><![CDATA[Movreak]]></category>
		<category><![CDATA[Suwek]]></category>
		<category><![CDATA[SWAStartup]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[Yahoo]]></category>
		<category><![CDATA[Zappos]]></category>
		<category><![CDATA[Zynga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/2011/02/swastartup-30-calon-calon-digitalpreneur-bermasa-depan-cerah/</guid>
		<description><![CDATA[SWA bekerja sama dengan beberapa lembaga mitra untuk pertama kalinya menggelar ajang pemilihan dan pematangan startups berbasis Internet dan teknologi  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/swastartup-30-calon-calon-digitalpreneur-bermasa-depan-cerah">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; }a:link { color: rgb(0, 0, 255); } --></p>
<p><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>SWA</em></span><span lang="id-ID"> bekerja sama dengan beberapa lembaga mitra untuk pertama kalinya menggelar ajang pemilihan dan pematangan </span><span lang="id-ID"><em>startups</em></span><span lang="id-ID"> berbasis Internet dan teknologi </span><span lang="id-ID"><em>mobile</em></span><span lang="id-ID"> terbaik dari Tanah Air. Siapa saja yang terpilih tahun ini? Apa temuan dan amatan Dewan Juri yang patut dicamkan?</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Sukses besar Facebook dan Twitter menggaet banyak pengguna di seluruh dunia, disusul kemunculan bintang-bintang </span><span lang="id-ID"><em>dotcom</em></span><span lang="id-ID"> baru semacam Zappos, Groupon dan Zynga, seperti menyebarkan energi </span><span lang="id-ID"><em>entrepreneurship</em></span><span lang="id-ID"> baru ke seantero jagat. Maka, di berbagai belahan dunia pun bermunculan para </span><span lang="id-ID"><em>digitalpreneur</em></span><span lang="id-ID"> baru. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Tak terkecuali di Indonesia, yang gemanya cukup kuat, lantaran tingkat adopsi masyarakatnya terhadap </span><span lang="id-ID"><em>consumer technology</em></span><span lang="id-ID"> &#8212; seperti Facebook, Twitter dan BlackBerry &#8212; tergolong tinggi untuk ukuran negara berkembang. Seperti terinspirasi gelombang </span><span lang="id-ID"><em>dotcom</em></span><span lang="id-ID"> kedua di negara-negara maju, di Indonesia pun bermunculan kalangan </span><span lang="id-ID"><em>digital startup</em></span><span lang="id-ID"> generasi baru melengkapi segelintir </span><span lang="id-ID"><em>dotcompreneur</em></span><span lang="id-ID"> generasi awal yang masih bertahan hingga sekarang (di antaranya Detik.com dan Kaskus). </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">D</span><span lang="id-ID">i antara </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> baru ini bahkan ada yang mampu mencuri perhatian beberapa pemain </span><span lang="id-ID"><em>dotcom</em></span><span lang="id-ID"> raksasa ataupun investor global. Misalnya, Tokopedia.com dan Urbanesia dikucuri modal oleh East Ventures, </span><span lang="id-ID"><em>venture capital</em></span><span lang="id-ID"> asal Jepang. Koprol dipinang Yahoo. Dengan memanfaatkan unsur lokalitas yang tinggi, beberapa </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> ini juga cukup dominan di bidangnya. SITTI, misalnya, menghadirkan sistem iklan tekstual Indonesia yang diyakini mampu bersaing dengan Google di negeri ini. Atau, Gantibaju.com yang memanfaatkan pola </span><span lang="id-ID"><em>social commerce</em></span><span lang="id-ID"> untuk membangun keterkaitan antara situs </span><span lang="id-ID"><em>e-commerce</em></span><span lang="id-ID"> ini dan para desainer kaus lokal maupun kalangan konsumennya (termasuk dari mancanegara). </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Di beberapa kota besar juga bermunculan komunitas </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> di bidang teknologi Internet dan </span><span lang="id-ID"><em>mobile</em></span><span lang="id-ID">. Di Jakarta ada #StartupLokal, yang hingga kini rajin menggelar pertemuan rutin untuk berbagi ilmu dan informasi. Di Bandung acara-acara pertemuan </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> dikoordinasi Fowab. Di Yogyakarta, forumnya punya nama khas Jawa, yakni Bancakan; begitu pula dengan Surabaya yang menamakan komunitas </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID">-nya Suwek. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Tak banyak negara-belum-maju yang punya kegairahan </span><span lang="id-ID"><em>entrepreneurship</em></span><span lang="id-ID"> baru seperti ini. Bahkan, negara-negara dengan pendapatan per kapita di atas US$ 10 ribu pun belum tentu punya talenta-talenta </span><span lang="id-ID"><em>digitalpreneur</em></span><span lang="id-ID"> seperti negeri ini. Tak mengherankan, blog bisnis </span><span lang="id-ID"><em>IT startup</em></span><span lang="id-ID"> terkemuka di dunia, TechCrunch, tergolong rajin melaporkan perkembangan terkini bisnis kalangan </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> di Indonesia &#8212; negara berkembang yang sejauh ini memperoleh perhatian paling besar. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Melihat fenomena seperti itulah, </span><span lang="id-ID"><em>SWA</em></span><span lang="id-ID"> bersama pengurus komunitas #StartupLokal berinisiatif menggelar ajang </span><span lang="id-ID"><em>SWAStartup</em></span><span lang="id-ID">. Tujuannya adalah merangsang lahirnya para </span><span lang="id-ID"><em>entrepreneur</em></span><span lang="id-ID"> berbasis Internet dan teknologi </span><span lang="id-ID"><em>mobile</em></span><span lang="id-ID"> yang punya ide-ide brilian yang bisa diimplementasikan, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan menarik minat para investor. Ajang ini juga memberikan ekspos kepada kalangan </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> di Tanah Air untuk lebih dikenal publik ataupun kalangan investor, dan memberikan kesempatan untuk ditingkatkan lagi kapabilitasnya, terutama dari aspek bisnis dan manajemen. Lebih jauh diharapkan ajang ini bisa ikut berkontribusi memacu tumbuhnya para </span><span lang="id-ID"><em>digitalpreneur</em></span><span lang="id-ID"> berkelas dunia dari Indonesia, seperti halnya Facebook, Twitter, Yahoo, Zappos, Zynga, Groupon, dan semacamnya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Pendekatan kontes dilakukan untuk memilih </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> yang potensial dan prospektif. Dalam hal ini, peserta diundang untuk mengirimkan makalah atau proposal bisnisnya, yang menjelaskan terutama mengenai ide bisnis, latar belakang, manfaat, peluang bisnis, cara kerja, dan model bisnisnya termasuk kemungkinan profitabilitasnya. Karena tujuannya juga untuk merangsang lahirnya talenta-talenta </span><span lang="id-ID"><em>digitalpreneur</em></span><span lang="id-ID"> baru, penyelenggara bukan hanya mengundang </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> yang sudah beroperasi (berbisnis), tetapi juga mereka yang baru sebatas mengembangkan prototipe, atau bahkan masih berupa ide segar. Karena itu, penyelenggara membagi tiga kategori kepesertaan, yakni Kategori Ide, Kategori Prototipe dan Kategori Bisnis. Namun, mereka punya keharusan yang sama, yakni menuangkan konsep dan praktik bisnis mereka dalam makalah/proposal. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Makalah-makalah</span><span lang="id-ID"><em> </em></span><span lang="id-ID">tersebut kemudian dinilai dan diseleksi oleh Dewan Juri </span><span lang="id-ID"><em>SWAStartup 2011</em></span><span lang="id-ID">, yang kali ini beranggotakan: Agus W. Soehadi (Guru Besar Prasetiya Mulya Business School), Dwi Larso (Dosen dan Wakil Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung), Hanny Santoso (pengamat dan kini praktisi TI yang menangani proyek-proyek TI Pemerintah Federal Australia), dan Rikrik Febianto (konsultan senior di Ernst &amp; Young).</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Pendaftaran makalah dibuka pada Agustus 2010 dan ditutup penyelenggara pada 30 Oktober 2010, setelah sekitar tiga bulan memberi kesempatan kepada calon peserta mendaftarkan “bisnisnya”. Total ada 98 peserta/</span><span lang="id-ID"><em>paper</em></span><span lang="id-ID"> &#8212; terdiri dari 43 peserta Kategori Ide, 35 peserta Kategori Prototipe, dan 20 peserta Kategori Bisnis &#8212; yang memenuhi kelayakan untuk dinilai oleh Dewan Juri. Tiap kategori dinilai dengan kriteria yang agak berbeda. Pada Kategori Ide, kriteria yang dinilai adalah ide bisnis, </span><span lang="id-ID"><em>benefit</em></span><span lang="id-ID"> yang ditawarkan, dan model bisnis. Pada Kategori Prototipe, kriterianya adalah kriteria pada Kategori Ide plus kriteria kualitas prototipe. Adapun pada Kategori Bisnis, kriterianya, selain mencakup kriteria pada Kategori Ide, ditambah kriteria kualitas produk/layanan, plus hasil bisnisnya (finansial maupun nonfinansial). </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Dari tiap kategori, dipilih 10 terba</span><span lang="id-ID">ik hasil penilaian Dewan Juri, sehingga menghasilkan daftar </span><span lang="id-ID"><em>SWAStartup 30</em></span><span lang="id-ID"> (lihat </span><span lang="id-ID"><em>Tabel</em></span><span lang="id-ID">,  juga profil peringkat I dari tiap kategori). Mereka inilah yang berhak mengikuti pelatihan manajemen dan bisnis yang akan diselenggarakan </span><span lang="id-ID"><em>SWA</em></span><span lang="id-ID"> bersama mitranya seperti IPMI, LSPR, dan Mien Uno Foundation. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Dwi Larso, anggota Dewan Juri,</span><span lang="id-ID"> menilai secara umum, peserta memiliki ide-ide bisnis cukup orisinal dan kreatif. Juga, menawarkan solusi riil terhadap permasalahan yang tengah berkembang di masyarakat. Memang, kalau kita lihat pada daftar </span><span lang="id-ID"><em>SWAStartup 30</em></span><span lang="id-ID">, cukup beragam layanan yang mereka tawarkan. Ada yang menyediakan platform layanan bagi para pengusaha atau profesional, ada yang menjual potensi wisata dan kuliner daerahnya, ada pula yang menjalankan bisnis </span><span lang="id-ID"><em>e-commerce</em></span><span lang="id-ID"> dengan dagangan yang khas, dan sebagainya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Positifnya lagi, seperti diakui Hanny Santoso, anggota Dewan Juri lainnya, peserta yang menawarkan ide-ide bisnis yang rasional untuk diimplementasikan jauh lebih banyak dibandingkan yang tidak rasional.</span><span lang="id-ID"> Ia menyebut peserta seperti Gapala, ProfessionalAroundYou, Sedapur, MBandung dan ProdView, termasuk di antara mereka yang menawarkan ide bisnis yang rasional. Hanny juga mengapresiasi peserta yang sudah punya </span><span lang="id-ID"><em>customer base</em></span><span lang="id-ID"> cukup kuat dan mendapat pengakuan internasional/regional seperti Gantibaju.com dan Movreak. “Gantibaju.com tampaknya malah sudah mampu mencetak </span><span lang="id-ID"><em>revenue</em></span><span lang="id-ID">, sehingga tinggal ditingkatkan lagi,” katanya. Adapun menurut Dwi Larso, nama yang cukup menonjol, baik karena pembahasannya yang lengkap maupun aspek model bisnisnya adalah HaloSolo dan KayaKarya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Ya, di antara juri mungkin punya sedikit perbedaan pandangan dalam menilai. Namun, para juri tampaknya sepakat secara umum masih banyak hal yang harus dibenahi oleh para </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID">. “Cukup banyak yang terlalu fokus menjelaskan ‘</span><span lang="id-ID"><em>how it works’</em></span><span lang="id-ID">, tapi hanya sedikit yang bisa menjelaskan apa nilai-nilai keunikan yang hendak ditonjolkan,” kata Rikrik Febianto, juri lainnya, memberi komentar. “Ya, umumnya terlalu banyak membahas aspek teknis, tapi kurang membahas aspek bisnisnya,” Dwi Larso membenarkan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;">“<span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Jadi, kalau menurut saya, kelemahan utama para peserta adalah pada model bisnisnya,” ujar Dwi lagi. Menurut doktor bidang </span><span lang="id-ID"><em>entrepreneurship</em></span><span lang="id-ID"> ini, meskipun beberapa peserta cukup </span><span lang="id-ID"><em>excellent</em></span><span lang="id-ID">, secara umum mereka lemah sekali dalam membuat model bagaimana ide-ide kreatif itu bisa mendatangkan </span><span lang="id-ID"><em>revenue</em></span><span lang="id-ID"> dan profit. Ia menengarai kelemahan ini karena beberapa hal, antara lain kurangnya pemahaman terhadap seluk-beluk bisnis dan pasar (potensi, tren dan ukuran pasar), terlalu asyik dengan ide-ide kreatif tanpa memperhitungkan aspek ekonomis, dan kurang jeli dalam mencari peluang atau model perolehan pendapatan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span><span style="font-size: small;">Khusus untuk peserta yang sudah menjalankan bisnis, Dwi melihat umumnya mereka kurang mampu menampilkan besaran-besaran atau rasio keuangan yang diperlukan guna memantau apakah bisnis mereka maju atau tidak. Bahkan, beberapa peserta ada yang tidak mencantumkan status bisnisnya secara finansial, sehingga hanya ada data yang terbatas untuk mengukur kemajuan bisnis. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Menurut Hanny, prospek </span><span lang="id-ID"><em>startup- startup</em></span><span lang="id-ID"> itu tetap bagus. “</span><span lang="id-ID"><em>There’s no limit for creativity</em></span><span lang="id-ID">,” katanya. Namun, ini tergantung pada kemampuan mereka menciptakan </span><span lang="id-ID"><em>business value</em></span><span lang="id-ID">. “Tak semua bisa meraihnya,” katanya. Apalagi kalau pesaingnya banyak, akan terjadi seleksi alam. Yang akan unggul, menurutnya, adalah mereka yang punya produk unik dan menarik, yang jago memasarkan produknya, yang servisnya memuaskan, dan yang mampu menciptakan </span><span lang="id-ID"><em>customer base</em></span><span lang="id-ID"> yang kuat. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Hanny sepakat bahwa para </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> ini harus membenahi cara mereka menulis proposal agar lebih lengkap dan penuh informasi, termasuk dalam hal mengupas potensi pasar, target yang ingin diraih, dan perhitungan finansialnya. “Ini agar investor dan </span><span lang="id-ID"><em>ventura capital</em></span><span lang="id-ID"> juga tertarik,” ujarnya. Ia juga menganjurkan mereka melakukan riset pasar yang serius dan analisis SWOT secara baik, serta menampilkan data dan fakta yang </span><span lang="id-ID"><em>up-to-date</em></span><span lang="id-ID">. “Akan sangat membantu pula bila mereka bisa membuat semacam daftar </span><span lang="id-ID"><em>key success factors</em></span><span lang="id-ID"> untuk </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> mereka,” Rikrik menambahkan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Ajang seperti </span><span lang="id-ID"><em>SWAStartup</em></span><span lang="id-ID"> ini, di mata Dwi Larso, sangat diperlukan untuk mengasah ketajaman perencanaan bisnis mereka, karena inilah hal yang terpenting. “Kalau kelemahan ini bisa diatasi, saya yakin makin banyak </span><span lang="id-ID"><em>entrepreneur</em></span><span lang="id-ID"> muda yang bisa sukses menciptakan nilai tambah bagi bangsa ini,” katanya. (*)</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em><strong>Reportase</strong></em></span><span lang="id-ID"><em><strong>: Tutut Handayani, Siti Ruslina dan Rias Andriati</strong></em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong>#StartupLokal, </strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong>Komunitas untuk Saling Berbagi dan Membantu</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Bertempat di Ballroom Gedung Kompas Gramedia Jalan Panjang, Jakarta Barat, </span><span lang="id-ID">pada 10 Februari 2011 malam, ratusan personel bisnis </span><span lang="id-ID"><em>startup </em></span><span lang="id-ID">berbasis Internet dan teknologi </span><span lang="id-ID"><em>mobile</em></span><span lang="id-ID"> berkumpul di ajang </span><span lang="id-ID"><em>Meetup</em></span><span lang="id-ID"> untuk yang ke-10 kalinya. Mereka tergabung dalam komunitas yang bernama #StartupLokal. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Pendiri komunitas #StartupLokal ini a</span><span lang="id-ID">dalah Sanny Ghaddafi, Natali Ardianto dan Nuniek Tirta; yang kemudian dalam perjalanan juga mengajak Salsabeela (Ollie). Empat anak muda ini memiliki tujuan besar dengan dibangunnya komunitas ini, yakni suatu saat nanti Indonesia bisa menjadi Sillicon Valley-nya Asia Tenggara, dengan kehadiran para </span><span lang="id-ID"><em>digitalpreneur</em></span><span lang="id-ID">-nya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Diceritakan Nuniek, dari sebuah pertemuan tak disengaja di Starbuck</span><span lang="id-ID">s, Natali kemudian menyampaikan pesan lewat Twitter ke rekan-rekan sesama </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> untuk pertemuan lanjutan. Berkat aksi </span><span lang="id-ID"><em>retweet, </em></span><span lang="id-ID">yang hadir pada pertemuan itu sampai 30-an orang. Di situlah mereka sepakat membentuk komunitas. Karena sejak awal pesan </span><span lang="id-ID"><em>tweet</em></span><span lang="id-ID"> di antara mereka memakai </span><span lang="id-ID"><em>hashtag </em></span><span lang="id-ID">(#) StartupLokal, nama inilah yang kemudian dipakai sebagai nama komunitas mereka. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Pertemuan kedua diadakan di Oh La La Café, di Thamrin, Jakarta, berbarengan dengan acara TechCrunch Meet Talk &#8212; disponsori blog </span></span></span><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>startup</em></span></span></span><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> TI beken itu &#8212; pada April 2010. Acaranya sampai </span></span></span><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>crowded</em></span></span></span><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, karena tak dinyana, didatangi ratusan orang, termasuk sejawat </span></span></span><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>startup</em></span></span></span><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> dari kota lain seperti Bandung. Di sini mereka juga membuat milis </span></span></span><span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="mailto:startuplokal@yahoogroups.com"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">startuplokal@yahoogroups.com</span></span></span></a></span></span><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> sebagai wadah komunikasi serta tukar ilmu dan informasi. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;">Sebagai pendiri komunitas ini, keempat orang ini punya “mainan” masing-masing. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span><span style="font-size: small;">Sanny Ghaddafi tergolong yang punya portofolio web banyak, seperti portal Fupei, Autosally, Bundagaul.com (tadinya bersama Nuniek), Portoku.com, InfoIklan.com dan sixwrap.com. Natali adalah salah satu pendiri Urbanesia (kini tidak di sana lagi) dan belum lama ini membesut Golfnesia dan Twobecome.us. Nuniek sendiri mengelola Hamilcantik.com. Adapun Ollie, selain telah menulis lebih dari 15 novel, juga membuat Kutukutubuku.com, Nulisbuku.com dan Desainweb.com. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Menurut Ollie, dengan komunitas #StartupLokal ini, ia dan kawan-kawannya ingin membangun ekosistem </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID">, seperti halnya yang sudah terbentuk sebelumnya di luar Jakarta, seperti Bancakan di Yogyakarta dan Fowab di Bandung. Bagaimana pembagian tugas di antara pengurus komunitas ini? “Semua dijalankan sesuai kapasitas yang kami pahami masing-masing, tidak ada pembagian tugas yang kaku,” kata Ollie, yang ditunjuk sebagai bendahara komunitas. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Sekarang, #StartupLokal punya tiga jenis kegiatan, yakni </span><span lang="id-ID"><em>#StartupLokal Meetup</em></span><span lang="id-ID"> (diadakan sebulan sekali), </span><span lang="id-ID"><em>#StartupLokal Storm</em></span><span lang="id-ID"> (kegiatan yang mengakomodasi kalangan sponsor yang ingin membuat acara dengan mengajak komunitas ini), dan </span><span lang="id-ID"><em>#StartupLokal Impact</em></span><span lang="id-ID"> (kegiatan yang mengakomodasi keinginan para investor untuk mencari </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> yang layak investasi ). Selama ini, menurut Ollie, hubungan #StartupLokal dengan para investor cukup baik. Misalnya, jika ada investor yang ingin bertemu dengan para </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> di bidang teknologi </span><span lang="id-ID"><em>mobile</em></span><span lang="id-ID">, mereka bisa membantu mempertemukannya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Menurut Nuniek, saat ini sudah banyak perusahaan/merek yang mengantre untuk mendukung kegiatan #Startuplokal. Nokia sebagai sponsor Meetup mereka terakhir itu telah mendukung sejak Oktober 2010 dan punya komitmen hingga setahun ke depan. Padahal, Samsung juga punya minat yang sama. Begitu juga dengan perusahaan telekomunikasi, yang juga ikut antre. Disebutkan istri Natali ini, mitra mereka yang sudah mendukung kegiatan antara lain Kompas Gramedia, Telkom, Aha, Microsoft, Indosat, CBN dan Telkomsel. Saat ini sudah ada 550 </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> yang bergabung dengan milis mereka. Adapun yang hadir di acara Meetup sejauh ini yang sudah terdata ada 350 </span><span lang="id-ID"><em>member</em></span><span lang="id-ID">. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Pada Maret 2011,</span><span lang="id-ID"> para inisiator #StartupLokal akan berangkat ke Irlandia, memenuhi undangan Pemerintah Irlandia, lewat perwakilan mereka di Singapura. “Irlandia adalah Silicon Valley-nya Eropa. Di sana memang banyak </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> yang tumbuh dan didukung pemerintahnya,” kata Ollie. Menurutnya, banyak </span><span lang="id-ID"><em>startup</em></span><span lang="id-ID"> di sana yang sudah sangat matang, karena ada </span><span lang="id-ID"><em>mentoring</em></span><span lang="id-ID"> dan hubungan dengan investor. “Mereka mengajak kami karena </span><span lang="id-ID"><em>startup </em></span><span lang="id-ID">di sini mulai tumbuh. Mereka juga ingin memperlihatkan bagaimana kondisi di sana,” tambahnya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Saat</span><span lang="id-ID"> ini, Ollie menuturkan, dalam kondisi kurangnya dukungan pemerintah, mereka bisa saling bantu lewat komunitas. “Dengan adanya undangan Pemerintah Irlandia, mestinya pemerintah (kita) malu </span><span lang="id-ID"><em>dong</em></span><span lang="id-ID">,” ujarnya. (*) </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><em><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong>Herning Banirestu</strong></span></span></span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">.</span><span lang="id-ID"> </span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/swastartup-30-calon-calon-digitalpreneur-bermasa-depan-cerah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membesarkan Bisnis Digital</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/membesarkan-bisnis-digital</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/membesarkan-bisnis-digital#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sri Pambudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Detik.com]]></category>
		<category><![CDATA[digitapreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Fimela.com]]></category>
		<category><![CDATA[Kapanlagi.com]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas.com]]></category>
		<category><![CDATA[Okezone]]></category>
		<category><![CDATA[Tempointeraktif]]></category>
		<category><![CDATA[Tokobagus.com]]></category>
		<category><![CDATA[Viva News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=18195</guid>
		<description><![CDATA[Untuk melangkah lebih jauh, para digitalpreneur harus menjalani sejumlah tahap. Uang bukanlah segalanya. Digital business. Terdengar keren, bukan? Begitu juga  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/membesarkan-bisnis-digital">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; } --></p>
<p><span><span style="font-size: small;">Untuk melangkah lebih jauh, para </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> harus menjalani sejumlah tahap. Uang bukanlah segalanya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;"><em>Digital business</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Terdengar keren, bukan? Begitu juga </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digital entrepreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Sebuah label yang enak didengar. Namun, sebagaimana lazimnya wirausaha, para </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> tak selalu menemui jalan mulus untuk berkembang. Terlebih bagi mereka yang masih berada di level </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>startup</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, yang baru melangkah, tahap demi tahap harus dilewati sebelum sukses direguk. Lalu, bagaimana strategi untuk membesarkan bisnis digital yang tengah dibesut?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;"><em>SWA</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> mewawancarai sejumlah pelaku dan pemerhati dunia bisnis digital untuk mengupas hal di atas. Berikut adalah jurus-jurus praktisnya, yang memfokuskan pada beberapa aspek, yaitu ide, produk, model bisnis, </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>teamwork</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> dan mentalitas.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Mari kita lihat yang pertama. Berbisnis di ranah digital sejatinya sama saja dengan bisnis lainnya. Apa pun jenis usaha yang akan dijalani </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitapreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> seyogianya tidaklah sekadar mengekor kompetitor yang malah menambah sesak. Pikirkan ceruk yang mungkin belum dilakukan pihak lain. Atau, kalaupun mau mengambil jalur </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>me-too</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> atau </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>follower</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, jangan lupa mengimbuhi dengan nilai tambah pada fitur-fiturnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Ambil contoh bila ingin masuk ke jalur portal berita. Detik.com telah berdiri kokoh. Menyainginya, perlu infrastruktur yang kuat, setidaknya dari sisi finansial dan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>human capital</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Tempointeraktif, Viva News dan Kompas.com bisa berdiri bersaingan dengan dukungan ini, tetapi mereka tetap harus bisa menyuguhkan diferensiasi, entah itu tampilan atau fiturnya, termasuk komunitas yang digarapnya. Yang kemudian mengambil ceruk lebih ke sisi </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>entertainment</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> adalah Kapanlagi.com atau Okezone. Atau, Fimela.com yang menampilkan tampilan yang </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>clean</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, sebagai pembeda dari Perempuan.com yang sama-sama mengambil segmen kaum wanita. Sementara itu, pemain lain memilih menjadi </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>news agregator</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> seperti Gresnews.com atau Bataviase. Langkah ini penting karena bertarung terbuka dengan ide yang sama di dunia digital bisa berujung pada kemandekan jika tak menyuguhkan diferensiasi. Intinya, keluarlah dari </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>red ocean</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Contoh ide yang menarik adalah Gantibaju.com. Tak seperti pelaku </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>e-commerce</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> lain, ia membuat dan menjual baju dengan cara memanfaatkan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>crowdsourcing</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Setiap ide akan mewujud pada produk. Akan tetapi, sebrilian apa pun ide, akan kembali pada sejauh mana produk atau jasa Anda. Pada akhirnya kualitas produk yang akan menentukan diserap-tidaknya oleh pasar. Siapa itu pasar? Pelanggan, sudah pasti. Karena itu, suara pelanggan laik didengar. Seperti laci, aspirasi mereka harus dibuka. Produsen tak bisa memosisikan dengan asumsi pribadi bahwa produk yang mereka tawarkan adalah yang dibutuhkan pelanggan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Misalnya, Bhinneka.com. Awalnya, situs </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>e-commerce</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> ini dikerjakan dengan sangat sederhana, begitu juga varian produknya, lebih pada katalog displai semata. Setelah menampung aspirasi pengunjung, Hendrik Tio, pendiri sekaligus Direktur Pengelola PT Bhinneka Mentari Dimensi, mendapati bahwa kebutuhan pelanggan semakin kompleks. Tidak sebatas harga, tetapi juga detail spesifikasi produk, informasi stok yang tersedia, keinginan berinteraksi dengan menyampaikan komentar, dan membandingkan produk satu dengan lainnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Hendrik mengakomodasi ini semua, termasuk karakter orang Indonesia yang suka tawar- menawar harga. Disediakan kolom </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>bargaining</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. “Dengan cara seperti itu, kami juga tumbuh karena mengetahui keinginan mereka,” ujarnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Ide hebat, produk pun oke, lantas apakah itu selalu menjanjikan uang datang. Ikhwal </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>“show me the money”</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> adalah persoalan klasik di dunia bisnis digital. Bahkan, Twitter yang hebat pun belum menghasilkan uang, sementara Amazon bertahun-tahun merugi sebelum mencetak laba. Apa kuncinya?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Model bisnis. Ini jawabnya. Seorang calon </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> akan merilis situsnya yang berisi video wawancara dengan orang-orang top. Hebat idenya. Dia pun semangat bercerita tentang gagasannya. Namun, mulutnya langsung bungkam ketika ditanya: dari mana sumber pendapatannya? Apakah orang yang melihat wawancara itu harus membayar? Kalau iklan, siapa yang mau beriklan? Orang-orang itu?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Tantangan terbesar pada </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, terutama para </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>startup</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, dalam pengamatan Natali Ardianto, adalah memusatkan perhatian pada sisi </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>online</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> saja. Artinya, berpikir bahwa dengan situs atau </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>online tools</em></span></span><span><span style="font-size: small;">-nya, dia bisa mendatangkan uang. Padahal, “</span></span><span><span style="font-size: small;"><em>Marketing offline</em></span></span><span><span style="font-size: small;">-nya (juga) harus berjalan baik,” tutur </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>Chief Technology Officer</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> PT Warato Indonesia yang juga salah seorang pendiri Urbanesia itu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Akan tetapi, yang paling mendasar, lanjut Natali, adalah kebanyakan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> memusatkan sumber pendapatan pada iklan! Seolah-olah, hanya iklanlah yang menjadi sumber uang bisnisnya, terutama lewat situsnya. “Mungkin 70%-80% jawabannya </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>advertising</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Padahal, itu tidak bisa diandalkan,” kata Andi S. Budiman, konsultan yang sebelumnya menjadi eksekutif PT Mitranet (Mojopia.com), menimpali sambil tersenyum. Di sini, orang bisa belajar dari kecerdasan Groupon dalam membuat model bisnis: mengutip margin dari berjualan voucer restoran. Bisnis tak mesti seperti Google, si raja iklan. “Kita harus mencari apa yang menjadi masalah dalam masyarakat, kebutuhan mereka sesungguhnya yang belum terpenuhi,” ujar Natali. Contohnya, dia melanjutkan, direktori sopir atau direktori pembantu rumah tangga. Kepandaian melihat apa yang dibutuhkan masyarakat akan menentukan bangunan model bisnis yang bisa dibuat.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Andi mengamini. Kepada para </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>startup</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> yang datang untuk berkonsultasi, dia selalu menyarankan agar menyiapkan model bisnisnya terlebih dulu sebelum meluncurkan bisnis digitalnya. Hingga hari ini, ia melihat, jangankan bicara model bisnis, bahkan banyak yang tidak tahu produk dan jasanya itu untuk siapa. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Meski demikian, model bisnis yang bagus akan kurang “</span></span><span><span style="font-size: small;"><em>greng</em></span></span><span><span style="font-size: small;">” jika tak punya kemampuan memasarkan. Di sinilah diperlukan kerja sama yang baik dalam perusahaan bisnis digital. Ini aspek </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>teamwork</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Maka: buatlah </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>killer team</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Bikinlah tim yang bisa menggerakkan bisnis. Dan, ini lazimnya akan kembali kepada para pendiri. Upayakan, para pendiri adalah gabungan antara </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>the thinker, the seller.</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> Misalnya, seperti kata Natali, </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>co-founder</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> pertama orang TI, </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>co-founder</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> kedua harus orang bisnis (banyak yang pemasaran atau penjualan). Karena, jika semua orang teknik, tidak ada yang memikirkan aspek penjualan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Untuk urusan pemasaran itu sendiri, </span></span><span><span style="font-size: small;">Daniel Haryanto dari Prasetiya Mulya Business School</span></span><span><span style="font-size: small;"> melihat bahwa keberhasilan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> akan ditentukan sejauh mana kemampuan mereka mengolah strategi dengan fokus dan banyak berinovasi. Salah satunya dengan menggunakan jejaring media sosial untuk menyebar info, </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>viral marketing</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> dan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>word of mouth. </em></span></span><span><span style="font-size: small;">Sarannya: pandai-pandailah menggunakan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>tools</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> yang ada dalam hal membangun relasi dengan pelanggan</span></span><span><span style="font-size: small;"><em> </em></span></span><span><span style="font-size: small;">sesuai dengan segmen yang disasar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Anggaplah produk, model bisnis, dan kemampuan memasarkan sudah oke punya, laba pun sudah diraih. Lalu, bagaimana dengan membesarkan bisnis? Haruskah mendatangkan investor?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Disadari atau tidak, ada semacam kecenderungan di kalangan para </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> untuk segera meluncurkan bisnisnya, untuk kemudian 2-3 tahun kemudian mencari </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>angel investor</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Bahkan, ada yang dari awal sudah ingin menjual bisnisnya. Kebanyakan mereka memang bercermin pada nasib pemain sejenis di mancanegara yang diguyur uang oleh investor. Terlebih di dalam negeri pun sudah ada presedennya, seperti Koprol diakuisisi Yahoo atau Urbanesia yang diinjeksi East Venture.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">“<span><span style="font-size: small;">Investor itu sebenarnya kan cari keuntungan, kalau bisnisnya dinilai bisa menghasilkan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>revenue</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, pastinya akan diakuisisi,” kata Natali. Ia menyarankan para </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, terlebih mereka yang </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>startup</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, tidak perlu tergesa-gesa mencari investor. Jika terburu-buru mencari investor, menurutnya, itu justru menunjukkan perusahaannya tengah bermasalah, atau kekurangan dana. Dia yakin, bila bisnisnya bagus, investor akan datang dengan sendirinya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Fakta memang menyatakan demikian. Investor masa kini tak seperti zaman </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>dotcom bubble</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> satu dekade lampau. Sekarang mereka lebih kritis melihat potensi sebuah bisnis digital, terutama model bisnisnya. Namun, kalaupun ada investor yang datang, sang </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> juga mesti bertanya: apa memang saya butuh investor? Adakah sumber pendanaan lain? Bank, misalnya. Investor pastinya memiliki kehendak tertentu – minimal menempatkan orang – sehingga situasi akan lebih kompleks bagi </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> karena ada aspek kontrol pihak luar. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Beberapa waktu lalu, investor dari Afrika Selatan, Naspers, berencana membeli sebuah bisnis digital buatan anak Indonesia. Harga yang ditawar cukup bagus, ditambah agio saham. Akan tetapi, sang </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> justru yang kebingungan. Dia tak tahu mau diapakan uang miliaran rupiah itu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Dana memang penting. Untuk berkembang, investor bisa diperlukan, bisa juga tidak dibutuhkan, tergantung situasinya. Namun, kasus ini, merujuk pendapat </span></span><span><span style="font-size: small;">Daniel Haryanto, menunjukkan betapa pentingnya visi seorang </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. Dia harus tahu mau diapakan dan dikemanakan bisnisnya sehingga bisa menakar sejauh mana kebutuhannya akan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>financial capital</em></span></span><span><span style="font-size: small;">. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Ambil misal Tokobagus.com. </span></span><span><span style="font-size: small;">Arnold Sebastian dan Remco Hendrik Lupker membesut Tokobagus.com pada 2003. Namun, situs ini tidak langsung dikibarkan karena menunggu pasar </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>e-commerce</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> menggeliat. Baru pada 2005, setelah </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>e-commerce</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> mulai hidup, situs di mana perusahaan dan perorangan dapat menjual dan membeli produk atau jasa ini diluncurkan. Kini, seiring dengan</span></span><span><span style="font-size: small;"><em> </em></span></span><span><span style="font-size: small;">membesarnya bisnis, para pendiri melihat pentingnya Jakarta sebagai pusat operasi. Kantornya yang semula di Denpasar, Bali, pada Januari 2011 dipindahkan ke Jakarta. “Kami mempertimbangkan akses yang lebih mudah jika di Jakarta,” kata Arnold. Di Ibu Kota, Tokobagus.com akan lebih mudah mengadakan koordinasi dengan mitra bisnis yang kian membesar. Inilah visi.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Visi seorang </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> sangat menentukan. Uang bukanlah segalanya. Uang justru bisa jadi sumber masalah bila diasumsikan bahwa dengan uang, kejayaan bisa diraih. Untuk berkembang, selain diperlukan uang, juga kemampuan pengelolaan manusia, serta pengetahuan dan tekonologi yang berkembang pesat. Di sinilah sudah selayaknya para </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> memiliki mentor yang bisa membimbingnya. Tentunya, mentor yang benar. Dengan bimbingan yang tepat, bisnis akan bisa berkembang lebih pesat lagi. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Pokoknya, seperti disarankan Hendrik Tio, bisnis digital sejatinya seperti bisnis lain: perlu proses. Jangan pernah berpikir segera sukses. Bintang-bintang top kelas dunia, semacam Google, Facebook dan Twitter pun perlu proses yang harus dijalani. Proses yang di dalamnya berisikan: ketekunan dan kejelian membaca arah pasar. Mentalitas laiknya seorang </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>entrepreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;">.(*)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;"><em><strong>Reportase: Ario Fajar, Herning Banirestu dan Rias Andriati</strong></em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;"><em><strong>Riset: Dian Solihati</strong></em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;"><br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: large;"><strong>Langkah sebagai </strong></span></span><span><span style="font-size: large;"><em><strong>Digitalpreneur</strong></em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Berangkatlah 	dari ide brillian, temukan ceruk dan diferensiasi.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Buatlah 	produk yang dibutuhkan pelanggan, bukan asumsi pribadi. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Mau 	uang? Miliki bisnis model yang hebat!</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Bangun </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>killer 	team.</em></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Bangun 	keseimbangan: pendiri adalah gabungan </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>the 	thinker, the seller.</em></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Jangan 	lupa: mentor! Mentor bisa membantu mengarahkan jalan.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Perlu 	investor? Lihat lagi visi awal.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Mental, 	mental, mental. </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>Digitalpreneur</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> tetaplah seseorang dengan mentalitas </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>entrepreneur.</em></span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;"><br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: large;"><strong>Lima “I” bagi Investor</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Apa yang dipertimbangkan investor ketika akan masuk digital bisnis?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;">Kevin Sanjoto, investor yang mengucurkan uang untuk Golfnesia.com, menjelaskan bahwa yang menjadi pertimbangan investor untuk mau menyuntik modal adalah prinsip 5 “I”, yakni: </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>Idea, Innovation, Integration, Implementation </em></span></span><span><span style="font-size: small;">dan</span></span><span><span style="font-size: small;"><em> Improvement. </em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span><span style="font-size: small;"><em>Idea</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> berarti memiliki konsep yang menarik dan memiliki peluang yang kuat. </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>Innovation</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> adalah kemampuan melakukan terobosan ide menjadi sebuah kesempatan bisnis. </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>Integration</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> adalah kemampuan melakukan integrasi ide tersebut dalam bentuk web, platform atau aplikasi. Singkatnya, ada transformasi ide ke wujud nyata. </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>Implementation</em></span></span><span><span style="font-size: small;"> menyangkut kesanggupan pebisnis melakukan implementasi dalam arti luas, di mana tidak terbatas dalam sistem dan platform, tetapi juga pemasaran. Terakhir, </span></span><span><span style="font-size: small;"><em>improvement</em></span></span><span><span style="font-size: small;">, kemampuan dan kegigihan untuk melakukan perbaikan dari beberapa prinsip di atas. “Dengan memegang prinsip tersebut, saya yakin investor akan mudah semringah,” kata Kevin.(*)</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/membesarkan-bisnis-digital/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pelopor Industri Permainan Jejaring Sosial</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/sang-pelopor-industri-permainan-jejaring-sosial</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/sang-pelopor-industri-permainan-jejaring-sosial#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Prih Sarnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[FarmVille]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Pincus]]></category>
		<category><![CDATA[Zynga]]></category>
		<category><![CDATA[Zynga Inc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=18189</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tempo hanya tiga tahun Zynga berhasil mengibarkan diri jadi perusahaan games dengan nilai buku tertinggi. Bagaimana model bisnis mereka  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/sang-pelopor-industri-permainan-jejaring-sosial">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Dalam tempo hanya tiga tahun Zynga berhasil mengibarkan diri jadi perusahaan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>games</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> dengan nilai buku tertinggi. Bagaimana model bisnis mereka sehingga dapat meraih laba bersih sejak tahun pertama dan menarik banyak investor?</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Bisnis permainan—</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>games</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">—di dunia maya ternyata tidaklah maya. Bahkan sebaliknya, bisnis tersebut sangat riil. Fulus yang bisa ditangguk pun tak main-main, walau yang dijajakan hanyalah produk virtual. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Ambil contoh </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FarmVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> di jejaring sosial Facebook. Permainan mengelola lahan pertanian virtual dengan menanam, merawat, memanen tanaman pangan (gandum, padi) dan pohon bebuahan, serta memelihara ternak virtual ini, pada 2009 saja, telah memikat 83 juta pengguna terdaftar. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Pengguna aktif </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FarmVille </em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">yang lebih dari 100 juta/bulan membuat </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>apps</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> ini bisa mendatangkan jutaan dolar per tahun hanya dari iklan yang </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>mejeng</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Belum lagi pendapatan dari penjualan “peralatan pertanian” yang mempermudah jutaan petani virtual desa maya itu menggarap ladang dan merawat ternak mereka. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Sepanjang 2009 saja, konon, Zynga Inc.—pemilik “lahan” </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FarmVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> itu—rata-rata mampu menjual 500 ribu traktor/hari. Bukan traktor </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>betulan</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, harga alat pertanian yang satu itu adalah 5.000 Farm Coins/unit. Namun, harap diingat, walau yang dilego cuma barang virtual, alias bukan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>beneran</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, duit yang masuk ke rekening perusahaan adalah dolar </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>beneran</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Maklum, buat mendapatkan Farm Coin, mata uang yang berlaku di </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FarmVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, pemain harus beli </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>token</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> ke Zynga. Uang maya 5.000 Farm Coins tersebut setara dengan US$ 3,30. Transaksi dilakukan melalui pihak ketiga, seperti PayPal, yang mengambil </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>fee</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> sekitar 10%. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Hebatnya lagi, Zynga bukan cuma punya </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FarmVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Perusahaan asal San Francisco, California, ini adalah pemilik 6 dari Top 10 Facebook Games. Selain </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FarmVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> yang berkibar di puncak Top 10, perusahaan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>social network gaming</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> (permainan jejaring sosial) ini adalah juragan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Café World</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> (31 juta pengguna terdaftar, peringkat ke-3), </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Texas HoldEm Poker </em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">(27 juta, ke-4), </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Mafia Wars</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> (25 juta, ke-5), </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FishVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> (24 juta, ke-6) dan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>PetVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> (19 juta, ke-9). Ini posisi pada 2009, karena memasuki Mei 2010, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Treasure Isle</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> mampu merebut 26 juta pengguna terdaftar, menyalip </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Mafia Wars</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Maka, tak mengherankan, pada 2009 itu saja Zynga—yang memiliki lebih dari 246 pengguna aktif bulanan (MAUs, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>monthly active users</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">), atau 4,5 kali lipat pesaing terdekatnya, Electronic Arts (EA)—diperkirakan meraup pendapatan US$ 300 juta lebih. Tahun lalu, dengan MAUs yang telah menembus angka 360 juta, para analis yakin, pendapatan mereka lebih dari US$ 525 juta atau sekitar US$ 1,5 juta/hari. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Pendapatan yang diraup Zynga menurut analis yang satu dan analis lain boleh jadi berbeda, tergantung pada cara penghitungannya karena sebagai perusahaan privat mereka tak wajib menerbitkan laporan keuangan. Yang jelas, seperti kata seorang petinggi PayPal yang dikutip </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Business Week</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, April 2010, “Zynga adalah </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>merchant</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> terbesar kedua kami, setelah eBay.”</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Awalnya, Zynga Inc. yang didirikan oleh Mark Pincus dkk. pada Juli 2007 membuat versi jejaring sosial dari beberapa </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> yang telah terbukti diterima luas: </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Risk</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Battleship</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Boggle</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Blackjack</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Tak perlu diperkenalkan dari nol, modifikasi permainan yang tak serumit </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>games</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> untuk konsol itu tak memerlukan biaya kelewat besar. Selain itu, Zynga juga melakukan akuisisi, dimulai dari </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Friends for Sale</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> yang diluncurkan pada November 2007.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Di sisi lain, Pincus yang memiliki rekam jejak luar biasa—kelahiran Chicago, 13 Februari 1966, ini menyabet gelar B.Sc. dari Wharton School dan MBA dari Harvard School of Business, telah enam tahun bekerja di bidang jasa keuangan dan modal ventura, termasuk di Hong Kong, dan mendirikan tiga bisnis dotcom (Freeloader Inc., SupportSoft Inc. dan Tribe.net yang semuanya dilepas dengan nilai selangit)—mengadopsi model bisnis yang terbukti sukses di Asia: mengharuskan pengguna membeli </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>token</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> untuk mendapatkan kemudahan atau keasyikan lebih dalam permainan Zynga. Alhasil, para analis pun yakin bahwa pelopor permainan jejaring sosial ini telah membukukan laba sejak tahun pertama bisnisnya.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Rapor keuangan yang biru tersebut, plus hubungan Pincus yang luas, membuat Zynga mampu menarik investor sebelum ulang tahun pertamanya. Pada April 2008, lima investor perorangan dan lima modal ventura memercayakan US$ 5,6 juta dananya, dan Juni 2008 mereka menambah investasi dengan US$ 5 juta. Dukungan kapital ini memungkinkan perusahaan yang mengambil nama </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>bulldog</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> kesayangan Pincus ini, Zinga, dengan cepat mengembangkan berbagai </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> sendiri (</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Scramble</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Vampire Wars</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Mafia Wars</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">) atau mengakuisisi </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>games</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> orisinal perusahaan lain (</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>YoVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">).</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Yang menarik, walau telah memiliki otot finansial kuat, Pincus memanfaatkan sumber daya secara bijak. Sementara EA menghabiskan waktu tahunan dan dana US$ 100 juta guna mengembangkan dan memasarkan sebuah </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> baru, Zynga hanya membutuhkan US$ 10 juta buat pengembangan plus US$ 20-30 juta untuk pemasaran. Buat meluncurkan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Café World</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, misalnya, mereka hanya mempekerjakan 25 orang selama lima bulan.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Salah satu faktor yang membuat biaya pengembangan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> baru Zynga jadi murah adalah “keberanian” Pincus mencuri ide para pesaingnya. Seperti Bill Gates yang mengopi inovasi Netscape, Lotus dan WordPerfect dan menghancurkan produk pelopor itu dengan Explorer, Excel dan Word, Pincus juga memanfaatkan posisi dominan Zynga di industri </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>social network gaming</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> untuk terus menjadi yang terbesar. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Prakti</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">k tak terpuji ini membuat Zynga harus membayar ganti rugi setelah dimejahijaukan oleh Psycho Monkey, pembuat </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Mob Wars</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> yang merasa semua aspek dari permainan ciptaannya itu dijiplak mentah. Akan tetapi, ganti rugi sebesar US$ 7-9 juta itu tak seberapa dibanding laba yang diraup melalui </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Mafia Wars</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Sebab itu, Pincus tak peduli walau dikatakan “tak banyak menyumbang pada inovasi industri </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>games</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Dia maju terus dengan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Café World</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> (yang mengopi </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Restaurant City</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> yang diluncurkan Playfish 6 bulan sebelumnya, lalu </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FarmVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> (yang terlalu mirip dengan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Farm Town</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> untuk dibilang kebetulan).</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Pada tahap awal, buat memasarkan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>games</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> Pincus mengandalkan popularitas Facebook yang dikunjungi puluhan juta pengguna setiap hari sehingga hemat biaya promosi. Untuk </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Café World</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FarmVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, dan permainan lain yang dikembangkan belakangan, Zynga sang pelopor memanfaatkan posisi dominan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>games</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> sebelumnya. Promosi-silang inilah yang memungkinkan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>Treasure Isle</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">, misalnya, memikat 26 juta pengguna terdaftar hanya satu bulan sejak diluncurkan pada April 2010. CityVille bahkan hanya membutuhkan waktu 12 hari buat memikat 26 juta pengguna terdaftar, sebuah rekor baru, ketika diluncurkan pada Desember 2010.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Setelah 2008, pertumbuhan pengguna terdaftar Zynga memang lebih pesat ketimbang Facebook. Dengan demikian, setelah</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em> </em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">sebelumnya memanfaatkan </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>traffic</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> Facebook yang memang luar biasa, sekarang boleh dibilang Zynga-lah yang memberikan nilai lebih pada jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg itu. Saat ini, porsi aplikasi aktif Zynga di Facebook mencapai 31%—dua kali lipat lebih </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>apps</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> milik Facebook sendiri yang cuma 14%.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Harus diakui, Zynga telah berhasil membuat permainan di dunia maya jadi lebih menarik. Tak seperti pada jenis permainan sebelumnya yang mengharuskan pemain untuk “menang”, </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> Zynga menyajikan “pengalaman” yang tak ada akhirnya. Pemain berinteraksi satu sama lain, misalnya mengajak pemain lain untuk membersihkan akuariumnya (dalam </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>FishVille</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">). Pemain yang tak terlibat tersebut dapat mengikuti interaksi tersebut, termasuk melihat gurita cantik milik tetangganya sehingga tertarik membeli piaraan virtual tersebut.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Berbagai </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> tersebut bukan cuma membuat para pengguna kecanduan dan jumlahnya menggelembung cepat, tetapi juga bikin barisan investor besar, termasuk Klein Perkins Caufield &amp; Byers, berlomba mengetuk pintu kantor Zynga. Bahkan, Juni 2010, Softbank asal Jepang menempatkan US$ 150 juta sehingga, dalam tiga tahun setelah didirikan pada 2007, dana total yang berhasil mereka pikat mencapai US$ 519 juta.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;">Zynga, menurut Steven Carpenter, adalah salah satu perusahaan bisnisnya yang paling cepat menembus US$ 1 miliar—mereka cuma butuh waktu 19 bulan. Carpenter, pendiri dan CEO Cake Financial (yang pada awal 2010 diakuisisi E*Trade), memperkirakan dengan margin laba bersih 30%, pelopor industri permainan jejaring sosial yang pada 2010 dia perkirakan meraup pendapatan US$ 600 juta ini mengantongi laba bersih US$ 15 juta/bulan.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Di masa depan? Ada tantangan yang mesti diatasi jika Pincus ingin mempertahankan pertumbuhan bisnis Zynga yang luar biasa—yang terbesar adalah ketergantungannya terhadap Facebook (pengguna </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>apps</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> Zynga di MySpace, HI5, MSN dan Yahoo digabung jadi satu masih jauh lebih kecil ketimbang yang di jejaring sosial satu ini). </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Sejauh ini, Pincus masih bisa menangkal rencana Facebook yang akan mewajibkan semua perusahaan yang menggunakan jejaring sosial miliknya sebagai platform untuk hanya menggunakan Facebook Credit sebagai mata uang virtual. Mungkin Zuckerberg masih segan terhadap Pincus yang pemegang saham minoritas dan Zynga yang setiap bulan membayar biaya promosi US$ 10 juta ke Facebook. Namun, dalam jangka panjang keadaan ini sulit dipertahankan, sehingga bukan tak mungkin margin Zynga akan tergerogoti. Buat menyiasati keadaan, pada awal April 2010 Pincus meluncurkan Zlive (yang menjajakan semua </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> Zynga) dan situs individual untuk setiap </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Tantangan besar lainnya, rencana Steve Jobs mengontrol promosi </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>mobile apps</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> untuk iPhone, iTouch dan iPad lebih sulit ditangkal. Yang bisa dilakukan Pincus hanyalah menyediakan semakin banyak </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>apps</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> premium yang menarik. Untuk itu, dia tak segan merogoh kocek guna mengakuisisi perusahaan pemula, termasuk di mancanegara: Bangalore (India), Beijing (Cina), Tokyo (Jepang), dan Frankfurt (Jerman).</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Sejauh ini, para investor masih </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>happy</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> dengan strategi yang diayun Pincus. Mereka terus mengetuk pintu kantor Zynga untuk menawarkan dana segar. Demikian pula pasar, sejauh ini sangat yakin dengan masa depan Zynga. Buktinya, SharePost, pasar sekunder yang jadi ajang jual-beli saham Zynga milik karyawan, menghargai nilai buku perusahaan yang belum masuk bursa ini US$ 5,27 miliar—lebih tinggi ketimbang EA, pelopor industri </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><em>game</em></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> komputer yang didirikan pada 1982, yang hanya dihargai US$ 5,24 miliar oleh para investor Nasdaq.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><em><strong>Riset: Rachmanto</strong></em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" lang="id-ID">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/sang-pelopor-industri-permainan-jejaring-sosial/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resep Meroketkan Merek</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/resep-meroketkan-merek</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/resep-meroketkan-merek#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 12:01:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harmanto Edi Djatmiko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[dan D'Cost]]></category>
		<category><![CDATA[Kentucky Fried Chicken (KFC)]]></category>
		<category><![CDATA[Merek]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=17540</guid>
		<description><![CDATA[Tak peduli cuaca perekonomian dan bisnis, dalam lima tahun terakhir, merek-merek ini tumbuh spektakuler. Tak ada faktor kebetulan, segalanya terencana.  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/resep-meroketkan-merek">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; } --></p>
<p><span><span style="font-size: small;">Tak peduli cuaca perekonomian dan bisnis, dalam lima tahun terakhir, merek-merek ini tumbuh spektakuler. Tak ada faktor kebetulan, segalanya terencana. Mari kita tengok dapur mereka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Anda pasti tercengang melihat angka-angka berikut. Di tengah impitan krisis global, Nexian mampu meroketkan penjualannya hingga 500%! Jika pada 2007 penjualan <em>handset </em>yang menyasar kelas menengah-bawah ini masih sekitar 1 juta unit, pada 2010  (baru sampai Mei) telah menembus 5 juta unit.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Kinerja spektakuler – juga di tengah cuaca bisnis yang kurang bersahabat – dicetak pula sejumlah merek lain seperti XL, Kentucky Fried Chicken (KFC), dan D&#8217;Cost. Pada 2005 jumlah pelanggan operator seluler XL (keluaran PT XL Axiata Tbk.) baru 7 juta, pada 2010 melesat hingga 40,1 juta. Demikian pula KFC yang mampu berekspansi dari 250 gerai (2006) menjadi 379 gerai (2010). Adapun sang pendatang baru, restoran keluarga D&#8217;Cost, ketika berdiri (2006) masih tiga gerai, akhir tahun lalu tumbuh menjadi 36 gerai.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Prestasi mengagumkan yang dicetak merek-merek tersebut menunjukkan, dalam situasi apa pun selalu ada celah yang bisa dimasuki. Bahkan, walau di pasar sudah bercokol pemain besar sekalipun,  celah itu pasti ada. Malah, celah tersebut bisa dipakai sebagai alat pemicu kreativitas mereka. Contohnya ya Nexian. Ketika masyarakat dilanda demam BlackBerry (yang harganya relatif mahal), Nexian – pelopor <em>handset </em>QWERTY murah – meluncurkan Nexian Berry (2009) dengan menggandeng operator XL. Artinya, hanya dengan merogoh kocek ratusan ribu rupiah, konsumen bisa menikmati fasilitas yang nyaris sama dengan BlackBerry. Apalagi, sejak Januari 2010, bersamaan dengan peluncuran NX-G801, dihadirkan aplikasi <em>chatting </em>khusus pengguna ponsel Nexian yakni Nexian Messenger – mirip BBM-nya BlackBerry. Jurus ini langsung melejitkan penjualan Nexian.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Langkah serupa ditempuh D&#8217;Cost. Di tengah ketatnya persaingan di industri makanan cepat saji, restoran ini berani masuk menggunakan strategi harga bersaing tetapi dengan layanan prima dan tempat yang bersih. Slogannya pun simpel dan langsung ke sasaran: <em>Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima</em>.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;">Yang pasti, untuk menemukan celah pasar tersebut (kemudian memanfaatkannya secara maksimal), dibutuhkan strategi yang jitu. Jadi, tak ada faktor kebetulan di sini. Semuanya perlu persiapan bisnis yang matang. Mulai dari identifikasi, perencanaan, penetapan strategi, hingga eksekusinya di lapangan – tahap demi tahap ini perlu dipikirkan dan dikerjakan secara serius dan benar.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Agar sampai pada tahap itu, produsen atau pemilik merek dituntut peka sekaligus mampu menunggangi tren preferensi konsumen mutakhir. Dalam kasus Nexian dan D&#8217;Cost, misalnya, benar yang dikatakan pakar manajemen dan pemasaran Rhenald Kasali bahwa di era sekarang, di mana pun dan di strata sosial apa pun, konsumen cenderung fokus pada seberapa besar nilai<em> </em>yang mampu diberikan para produsen dan penyedia jasa. Singkatnya, dengan pengeluaran semurah mungkin tetapi mendapatkan produk atau layanan yang semaksimal mungkin. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Tentu saja tak berhenti sampai di situ. Setelah berhasil menggebrak dan menguasai pasar, tahap yang tak kalah berat adalah mengelola keberhasilan yang telah diraih. Pasalnya, yang sering kita saksikan justru sindrom meteor, yakni merek-merek yang cepat sekali melesat dan digandrungi konsumen, tetapi dalam sekejap pula amblas tak tentu rimbanya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;">Melalui <em>Sajian Utama</em> kali ini, <em>SWA</em> berusaha melacak merek-merek yang selama lima tahun terakhir mampu membukukan pertumbuhan yang luar biasa, dan (sejauh ini) masih menunjukkan tren yang konsisten, bahkan lebih agresif lagi, dan tampaknya tetap prospektif. Tentu banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari sepak terjang mereka. Siapa <em>sih</em> yang tak ingin perusahaan atau merek yang dikelolanya tumbuh pesat tanpa takut terjerembab?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;">Selain keempat merek yang disebutkan di atas – Nexian, XL, KFC dan D&#8217;Cost – sederet merek lain juga mencatat pertumbuhan penjualan yang boleh dibilang spektakuler. Nah, siapa saja mereka, dan jurus khas apa saja yang mereka terapkan, silakan Anda membaca halaman-halaman </span><span style="color: #000000;"><em>Sajian Utama</em></span><span style="color: #000000;"> setelah ini. </span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/resep-meroketkan-merek/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merek-merek Melesat: Manuver yang Berani dan Melawan Arus</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/merek-merek-melesat-manuver-yang-berani-dan-melawan-arus</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/merek-merek-melesat-manuver-yang-berani-dan-melawan-arus#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 03:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dyah Hasto Palupi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Alfamart]]></category>
		<category><![CDATA[D’Cost]]></category>
		<category><![CDATA[Honda Scoopy]]></category>
		<category><![CDATA[Kuku Bima Ener-G]]></category>
		<category><![CDATA[Lion Air]]></category>
		<category><![CDATA[Nexian]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/2011/02/merek-merek-melesat-manuver-yang-berani-dan-melawan-arus/</guid>
		<description><![CDATA[Nexian, XL, Lion Air, D’Cost, Alfamart, Honda Scoopy, Kuku Bima Ener-G dan beberapa merek lain tumbuh pesat hanya dalam waktu  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/merek-merek-melesat-manuver-yang-berani-dan-melawan-arus">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- h1 { margin-top: 0.33in; margin-bottom: 0in; color: rgb(54, 95, 145); page-break-inside: avoid; }h1.western { font-family: "Cambria","Palatino Linotype",serif; font-size: 14pt; }h1.cjk { font-family: "DejaVu Sans"; font-size: 14pt; }h1.ctl { font-family: "DejaVu Sans"; font-size: 14pt; }p { margin-bottom: 0.08in; }p.western { font-family: "Times","Times New Roman",serif; }p.ctl { font-family: "DejaVu Sans","MS Mincho",sans-serif; } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p><span>Nexian, XL, Lion Air, D’Cost, Alfamart, Honda Scoopy, Kuku Bima Ener-G dan beberapa merek lain tumbuh pesat hanya dalam waktu singkat. Bagaimana mereka menjalankan strategi bersaing? Apa rahasia sukses mereka?</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Ketika memasuki pasar melalui ponsel CDMA tahun 2006, tak banyak orang yang peduli Nexian. Ia baru mulai dikenal tahun 2007 saat meluncurkan ponsel CDMA NX 350, bekerja sama dengan Bakrie Telecom, yang dijual dengan harga cuma Rp 200 ribu. Sejak itu nama Nexian meroket, karena secara kualitas dan teknologi dianggap baik, tetapi harganya murah. Puncaknya terjadi tahun 2009, tatkala meluncurkan “Nexian Berry’, ponsel pintar hasil kerja sama dengan XL yang dijual tak sampai Rp 1 juta. Waktu itu Nexian telah membuat gempar masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang rela mengantre di lobi Plaza EX, Jakarta, guna mendapatkan NX-G900 yang fenomenal. Karena kejadian itu pula, Nexian mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) karena berhasil mencapai penjualan tertinggi hingga 2.000 unit hanya dalam waktu sehari.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Fenomena Nexian berbuntut pada larisnya penjualan. Sepanjang tiga tahun terakhir ini ia mencatat pertumbuhan fantastis. Tahun 2008, Nexian berhasil menjual tak kurang dari 8 juta unit ponsel, meningkat 100% dari tahun sebelumnya. Di 2009, penjualannya tumbuh lagi 75% menjadi sekitar 10,6 juta ponsel. Dan di 2010, Nexian membukukan penjualan sekitar 27 juta ponsel, atau naik 185% dari tahun sebelumnya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Kinclongnya kinerja penjualan Nexian dinilai karena beberapa langkah strategisnya. Terutama, terkait dengan gerak cepatnya menangkap peluang pasar baru. Ketika melihat kebutuhan ponsel pintar buat kalangan menengah, ia buru-buru masuk dengan NX-G900 yang dijual seperlima dari harga BlackBerry yang saat itu harganya sekitar Rp 5 juta. Dan ketika pasar tergila-gila dengan BlackBerry Messenger, Nexian tak mau kalah dengan menghadirkan aplikasi <em>chatting</em> khusus ponsel besutannya, Nexian Messenger, pada ponsel seri NX-G801 pada Maret 2010.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Nexian juga punya nyali menggandeng operator-operator besar, seperti Telkomsel, Star One, Mobile dan XL, demi mendapatkan reputasi sekaligus memperluas jaringan pasar. Cara ini oleh Yuswohady, konsultan pemasaran dan media sosial, disebut sebagai kegesitan “gila”. Dari penciuman bisnisnya yang tajam menangkap peluang pasar menengah, Nexian mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Di satu sisi, secara teknologi ia diakui baik karena melahirkan fitur-fitur inovatif sesuai dengan keinginan pasar sehingga dinilai setara dan diterima oleh operator-operator besar. Di sisi lain Nexian tetap mempertahankan harga murah, sesuai dengan isi kantong masyarakat menengah-bawah, sehingga tidak berhadapan dengan ponsel-ponsel ternama seperti Nokia dan bahkan BlackBerry. “Perpaduan dua pendekatan itu telah melahirkan <em>new value preposition</em> buat Nexian,” ujar Yuswohady yang punya panggilan dekat Siwo. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Bagi Martono Jaya Kusuma, Presdir Metrotech Jaya Komunika, distributor Nexian, cara yang dilakukannya adalah upaya untuk bisa tumbuh di tengah pasar yang sangat ketat. Arena kompetisi di bidang teknologi, khususnya ponsel, telah bergeser, bukan lagi hanya dari sisi <em>hardware</em>, melainkan lebih kepada <em>consumer experience</em> dan <em>content applications</em>. “Jadi, kami pun tidak akan berhenti untuk terus berinovasi mengembangkan produk untuk dapat memenuhi aspirasi masyarakat, yang apabila dijalankan secara terintegrasi dan konsisten, dapat memperkaya <em>core value</em> dari industri ini,” ujarnya menandaskan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><a name="DDE_LINK"></a><span>Merek-merek yang menonjol umumnya memang memiliki langkah dan strategi istimewa. Saking istimewanya, sering memengaruhi konstelasi keseluruhan industri. Seperti kehadiran Nexian, dikatakan Andy Jobs, Kepala Pemasaran PT Metrotech Jaya Komunika, turut memengaruhi pertumbuhan ponsel murah di Indonesia. Andy menuturkan, pertumbuhan penjualan ponsel dengan segmentasi harga Rp 1,5 juta ke bawah selama Januari-September 2009 dibandingkan dengan periode yang sama 2010 mengalami peningkatan hingga 76,5%. Hal itu, antara lain, karena maraknya Facebook (FB) akhir-akhir ini. Menurut data, pengguna FB di Indonesia kini sudah mencapai 34 juta. “Penetrasi ponsel murah adalah salah satu pemicunya,” lanjut Andy. Nexian, tambahnya, mengakomodasi fitur-fitur ponsel pintar.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Lion Air hingga kini juga berjaya karena cerdik menangkap peluang pasar dan membangunnya sebagai jaringan pasar baru. Sejak awal berdiri tahun 2000, maskapai penerbangan ini selalu memanfaatkan momentum untuk menggarap peluang pasar dan memperluas jaringannya. “Bukankah setiap waktu adalah momentum,” kata Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air, ringan. Baginya, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar dengan pertumbuhan ekonomi yang rata-rata 6% per tahun adalah pasar yang tidak akan pernah habis digali. “Transportasi udara akan terus naik hingga tiga kali lipat dari pertumbuhan ekonomi,” lanjutnya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Bagaimana caranya? Edward menjawab secara berkelakar bahwa rahasianya terletak pada dirinya dan empat direksi lainnya. “Biarlah orang bilang kami gila. Memang hanya kami (berlima) di direksi yang tahu caranya,” ungkapnya. Yang jelas, menurut Edward, Lion Air menggunakan cara kombinasi harga (12 kelas harga), menambah pesawat &#8212; kini ada 60 pesawat &#8212; dan membuka sejumlah rute baru.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Lion Air melihat pasar ke depan masih menjanjikan. Apabila 40% dari total penduduk Indonesia terbang dengan pesawat, akan ada sekitar 75 juta penumpang. “Itu harus dilayani dengan berapa pesawat? Perkiraan 2010 untuk tahun 2011 penumpang akan mencapai sekitar 48 juta penumpang,” katanya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Itu baru pasar lokal, belum masuk ke pasar Asia. Penduduk Asia, dikatakan Edward, pasti butuh liburan. Berdasarkan survei, identitas konsumen sekarang, antara lain, sudah berapa negara yang dikunjungi?,  bagaimana mereka menikmati hidup dengan penghasilannya? “Zaman sudah berubah, tidak seperti dulu. Ini sudah <em>shifting</em>,” ujar Edward. Ia menunjuk kemajuan dunia informasi punya andil dalam perubahan. “Mereka memberikan imajinasi kepada orang hingga ingin datang ke tempat-tempat baru,” tambahnya. Perubahan gaya hidup dan imajinasi orang inilah yang menjadikan penumpang bertambah.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Karena menangkap momentum perubahan itu, dan menjadikannya sebagai strategi pemasaran, ia pun terus melejit dalam menyedot penumpang. Data Departemen Perhubungan, jumlah penumpang pada 2009 menembus angka 13 juta. Adapun tahun 2010, diperkirakan mencapai 16 juta orang. Peningkatan itu antara lain terjadi karena kapasitas pesawat naik 25%-27%. Selain itu, penumpang nasional juga bertambah. “<em>Load factor</em> (tingkat keterisian pesawat) kami meningkat menjadi 87% di tahun 2010, ” kata Edward yang enggan menjelaskan pertambahan omsetnya secara detail.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Pertumbuhan mencengangkan juga dialami Kuku Bima Ener-G. Sejak dilempar ke pasar tahun 2004, baru di tahun 2006 penjualannya meledak hingga 225%, persisnya saat terjadi gempa di Yogyakarta. Ketika itu Kuku Bima Ener-G berhasil menguntit &#8212; hingga akhirnya menggulingkan &#8212; pemimpin pasar, Extra Joss. “Saya pun sampai sekarang masih heran, <em>kok</em> bisa,” ujar Irwan Hidayat, pemimpin PT Sido Muncul, yang merasakan hal itu sebagai kemujuran.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Walaupun Irwan tidak mau menggambarkan strateginya, Yuswohady meyakini di balik kesederhanaan yang ditawarkan, sesungguhnya Kuku Bima Ener-G menemukan strategi pengelolaan dan sumber daya bisnis yang diperolehnya dari sejumlah pengalamannya. Seperti diketahui, Kuku Bima Ener-G adalah merek kesekian dari Sido Muncul. Irwan sangat kaya pengalaman bisnis, sehingga tahu apa kelemahan lawan. Irwan tahu bagaimana “mengisi bata-bata kosong” yang dalam strategi Cina merupakan upaya melihat ceruk pasar baru yang tidak dimiliki lawan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Yang luar biasa, pertumbuhan fantastis Kuku Bima Ener-G terjadi sampai sekarang. Dugaan bahwa wafatnya Mbah Maridjan, ikon sekaligus bintang iklan Kuku Bima, akan memengaruhi penjualan, terbukti tidak benar. Irwan memastikan, penjualan Kuku Bima Ener-G masih prima. <em>Kok</em> bisa? “Saya enggak tahu. Barangkali kami masih <em>lucky</em>,” Irwan menjawab ringan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Kalau dilihat sepintas, memang tidak ada ide baru yang brilian dari Kuku Bima Ener-G. Bahkan, Dr. drh. Pepey Riawati Kurnia, M.M., pengajar Sekolah Tinggi Manajemen PPM, pun mengakui tidak ada yang sangat luar biasa dalam strategi pemasaran Kuku Bima Ener-G. Kalaupun ada, Pepey menilai, itu adalah kemampuan Irwan mengevaluasi “kegagalan” dalam peluncuran pertamanya dan “kegagalan” pesaing utamanya. “Ini adalah masalah insting bisnis yang hanya dimiliki pengusaha-pengusaha kawakan,” ujar Yuswohady.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Selain itu, Pepey menambahkan, Kuku Bima Ener-G berhasil karena menggunakan strategi <em>price follower</em> (harga lebih rendah daripada Extra Joss), mengeluarkan minuman berenergi yang berbeda varian, serta mempunyai ramuan promosi (slogan citra) dan bintang iklan yang cocok. “Jadi, ini bukan karena strategi <em>blue ocean</em> atau sukses berkat keunggulan produk, “ ungkapnya. Pepey lebih melihat penyebab keberhasilan Kuku Bima Ener-G adalah faktor Irwan yang memiliki pengalaman, keahlian, dan kreativitas pemasaran. “Titik sukses merek terletak di situ, selain dukungan strategi pemasaran dan manajemen.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<h1 style="margin-top: 0in;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-weight: normal;">Sukses D’Cost tidak jauh berbeda, ia melejit melampaui merek-merek lain. Dijelaskan</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-weight: normal;">D</span></span></span></span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong>avid Vincent Marsudi, Presdir restoran </strong></span></span></span></span></span><span style="color: #808080;"><em><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong>seafood</strong></span></span></span></em></span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong> D’Cost, dan timnya &#8212; Harry Setiadi Tjiptono, Direktur; Ferry Kurniawan, GM Teknologi Informasi (TI); serta Eka Agus Rachman, GM Promosi dan Humas – mereka</strong></span></span></span></span></span><span style="color: #808080;"><em><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong> </strong></span></span></span></em></span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong>awalnya melihat peluang resto </strong></span></span></span></span></span><span style="color: #808080;"><em><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong>seafood</strong></span></span></span></em></span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong> di level menengah dengan harga terjangkau. Yang ada,</strong></span></span></span></span></span><span style="color: #808080;"><em><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong> </strong></span></span></span></em></span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong>resto </strong></span></span></span></span></span><span style="color: #808080;"><em><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong>seafood</strong></span></span></span></em></span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong> yang harganya selalu wah. Jikapun ada yang murah, biasanya terdapat di pinggir jalan. Maka, didirikan D’Cost dengan slogan citra</strong></span></span></span></span></span><span style="color: #808080;"><em><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><strong> </strong></span></span></span></em></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><em><span style="font-weight: normal;">Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima</span></em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-weight: normal;"> pada September 2006 </span></span></span></span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong>di Kemang, Jakarta.</strong></span></span></span></span></span></h1>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<h1 style="margin-top: 0in;"><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><strong>Respons pasar ternyata langsung menggembirakan, setidaknya berhasil membuat jalan di depannya macet total. Tahun pertama dibuka tiga cabang, kini sudah ada 36 cabang di seluruh Indonesia. Perkembangan yang luar biasa ini, bagi David, selain tidak lepas dari andil Tuhan, juga karena keberaniannya melakukan hal-hal baru yang belum dilakukan pemain lain. Misalnya, pemanfaatan TI secara maksimal dalam proses produksi.</strong></span></span></span></span></span></h1>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span>Selain inovasi TI, D’Cost terus membuat terobosan baru. Tim David </span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-style: normal;">selalu memikirkan apa yang bisa dilakukan dan terus lebih baik ketimbang sebelumnya. Tahun lalu, misalnya, mereka melakukan banyak terobosan, seperti mendirikan D&#8217;Cost Academy dan D&#8217;Cost Logistic, serta mulai uji coba penggunaan iPad di salah satu cabang D&#8217;Cost (cabang Mal Ambasador, Jakarta). “Mengingat makin banyak cabang, makin banyak pula orang yang dikelola,“ ujar David yang kini memiliki sekitar 800 karyawan. D&#8217;Cost Academy bertujuan mendidik SDM untuk bisa memberikan pelayanan terbaik, termasuk menciptakan kreasi masakan terbaru serta inovasi promo yang unik dan menarik. </span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-style: normal;">Ya, promo juga menjadi bagian keberanian D’Cost melawan arus. Misalnya, makan sepuasnya, bayar sesuka hati; atau harga Rp 1.000 untuk harga nasi, dengan porsi sepuasnya, makan sekenyangnya, serta diskon sesuai dengan umur di cabang-cabang D&#8217;Cost yang sudah ditunjuk. “Semua itu kami lakukan sebagai strategi promosi yang tidak terlupakan bagi pengunjung D’Cost,” ujarnya. David menceritakan kejadian di Surabaya, karena diskon sesuai dengan umur, ada pengunjung yang membawa neneknya yang berusia 103 tahun. “Jadilah keluarga itu datang tidak bayar,” ceritanya sambil tertawa.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;">Tanadi Santosa, konsultan kreatif yang melahap banyak buku manajemen, melihat keberhasilan D’Cost atau merek-merek lain yang <em>outstanding</em> umumnya karena <em>timing</em>-nya pas (sesuai dengan tren), dan mengena pada para pemakainya. Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun ceritanya begitu, seperti sukses BlackBerry, Crocs, ataupun Starbucks. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-size: small;">Tanadi melihat, dibutuhkan <em>tipping point</em> untuk sesuatu agar sukses. “Inovasi, kunci utamanya. Selain itu, harus sulit, langka dan berguna,” ujarnya. Sulit berarti memang sukar dilakukan, tidak mudah ditiru, dan butuh banyak kompetensi untuk bisa mengerjakannya. Langka artinya jarang yang melakukan itu, sehingga kompetisi tidak terlalu berdarah-darah. Berguna adalah penciptaan <em>value</em> yang diinginkan orang banyak. D’Cost, umpamanya, sulit ditiru karena harus memakai modal besar, serta memakai sistem dan teknologi yang<em> </em>bagus. “Jarang kompetitor yang bisa melakukan dan memberi nilai yang besar buat pelanggannya,” katanya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><span style="color: #808080;"><span style="color: #000000;"><span><span style="font-style: normal;">Yang pasti, sukses merek ataupun perusahaan tidak datang dengan sendirinya. </span></span></span></span><span>Amalia E. Maulana, Direktur Etnomark Consulting, menganggap mereka unggul karena berhasil mengisi </span><span><em>gap</em></span><span> di subsegmen pasar pada saat yang tepat. Ketika merek yang sudah ada sibuk dengan dirinya sendiri dan mempunyai masalah yang tidak disadarinya </span><span><em>(hidden issues</em></span><span>), merek pendatang baru berhasil memberikan solusi yang pas sebagai penyelesaian masalah konsumen. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Lion Air lahir pada saat munculnya banyak <em>budget airline</em>, tetapi belum mampu memberikan perasaan nyaman karena <em>safety-</em> nya dianggap masih belum memadai. Air Asia menjadi jawaban bagi penumpang yang ingin tarif murah tetapi tetap mendapatkan jaminan bahwa pesawat yang dinaikinya <em>reliable</em> dan aman.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>D’Cost menjawab kebutuhan akan makan enak dengan harga terjangkau, dan mengomunikasikan <em>positioning</em> tersebut secara sangat jelas dan dimengerti. Umumnya makanan mewah/enak itu identik dengan mahal. Pengemasan bahasa sederhana yang menjelaskan “mutu bintang lima harga kaki lima” ini merupakan jawaban atau solusi terhadap<em> </em>segmen pasar yang sudah bosan dengan makanan kelas bawah dan ingin naik kelas, tetapi belum ada yang memberikan solusi. D’Cost masuk secara pasti di dalam <em>gap </em>pasar tersebut.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Di luar itu, dikatakan Amalia, ada dua tipe perusahaan: pertama, mengandalkan intuisi; kedua, percaya pada riset yang seksama. Jadi, kedua tipe perusahaan ini bisa saja “menemukan” <em>gap</em> dengan cara yang berbeda. Yang pertama tidak terstruktur, sporadis dan langsung sambar peluang. Yang kedua, sangat terstruktur dan melalui tahapan riset yang baik.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Tentu, yang bagus adalah yang bisa mengombinasikannya. Nexian, misalnya, merupakan kombinasi antara pemiliknya yang cenderung pragmatis-intuitif dan profesional pemasaran senior yang secara konsep lebih matang. “Kombinasi <em>visionary </em>dari <em>owner </em>dan konsep dari eksekutifnya merupakan <em>competitive advantage</em> yang sulit ditembus pesaing,” Amalia menandaskan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;"><span>Jacky Mussry, <em>Vice President</em> &amp; <em>Chief Knowledge Officer</em> MarkPlus Inc., menambahkan, peran penting <em>leader</em> menjadi kunci dan syarat mutlak bagi merek dan perusahaan yang tumbuh melejit. Boleh saja mengatakan elemen-elemen keberhasilan merek atau perusahaan terdapat pada kemampuan melakukan inovasi, menciptakan pasar baru, mengelola sumber daya dan bisnis, mengembangkan <em>new value prepositions</em>, dan sebagainya, tetapi pertanyaannya: Mengapa mereka hebat dalam inovasi? Mengapa mereka hebat dalam mengelola sumber daya dan bisnis? Mengapa mereka menemukan ceruk pasar baru?; dst.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;">
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;"><span>Inilah yang diyakini Jacky, bahwa selalu ada faktor yang tidak mudah dilihat (<em>intangible)</em> oleh pihak luar, tetapi justru inilah sumber daya perusahaan yang sebenarnya yang merupakan landasan suatu kapabilitas yang pada gilirannya akan menjadi kompetensi. Kapabilitas berinovasi, misalnya, tidak saja membutuhkan orang-orang berbakat yang bekerja dalam suatu perusahaan, tetapi juga perlu budaya pantang menyerah, tidak pernah puas, serta berbagai infrastruktur untuk menunjang semua itu. “Belum lagi faktor-faktor lain seperti <em>leadership</em>; sensitivitas yang kuat terhadap pasar, pesaing dan pelanggan; <em>dynamic capabilities</em>; dan lain sebagainya,” ujarnya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;">
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;"><span>Jacky melihat merek atau perusahaan yang dapat melejit secara umum adalah merek/perusahaan yang jelas strateginya. Artinya, mereka semua jelas dalam menentukan apa yang akan dilakukan dan apa yang tidak akan dilakukan. Tidak pernah ada yang setengah-setengah. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan esensi strategi itu sendiri, sebagaimana ditulis oleh Michael E. Porter, pakar manajemen dunia. Strategi selalu berkaitan dengan <em>trade-off</em> karena semua perusahaan pasti terbatas sumber dayanya. Perusahaan yang melejit adalah perusahaan yang sadar betul keterbatasan sumber dayanya dan tahu harus dialokasikan ke mana sumber daya tersebut agar dapat mencapai kinerja yang optimal. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;"><span>Air Asia, umpamanya, dengan sangat sadar menerapkan prinsip <em>low-cost</em> supaya bisa menjual tiket secara <em>low-fare</em>. Budaya perusahaannya juga budaya <em>low-cost</em>. 7-Eleven sangat sadar bahwa kalau mau menjual di Indonesia, harus memperhatikan budaya “nongkrong” sehingga akhirnya juga menyediakan fasilitas tersebut di gerai-gerainya. XL sangat sadar bahwa bertempur dengan banyak merek akan sangat mahal, sehingga XL akhirnya menerapkan pendekatan <em>monolithic brand</em> yang lebih efisien. Adira menjadi berbeda dengan membentuk budaya “<em>one-firm mentality”</em> yang kuat yang ditunjang dengan kepemimpinan yang juga kuat serta <em>service blueprint</em> yang dikembangkan berdasarkan DNA korporat-nya. Nexian sangat tajam membaca pasar dan akhirnya menemukan segmen pasar yang substansial, dapat diakses, dan memang mengapresiasi produk-produknya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;">
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;"><span>Fenomena <em>riding the wave</em> memang sering dikemukakan, tetapi menurut Jacky, sebetulnya hal itu adalah faktor makro di mana semua pemain juga tahu dan bahkan turut merasakannya. Yang penting adalah bagaimana memanfaatkan dan memaksimalkan gelombang baru itu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan merek/perusahaan. Di mana pun dan sampai kapan pun, selalu ada merek yang megap-megap dan tidak berumur panjang, tetapi sebaliknya pada saat yang sama ada yang sukses luar biasa. Apa artinya? “Setiap fenomena pasti bisa dimanfaatkan, tergantung masing-masing pihak bisa memanfaatkan atau tidak,” ungkap Jacky lugas.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;">
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;"><span>Pada akhirnya, Jacky menyimpulkan, ada beberapa benang merah yang dapat ditarik. Pertama, perusahaan/merek tersebut mempunyai kemampuan membaca pasar secara cepat dan cermat, kemudian merespons perkembangan pasar dengan cepat juga. Kedua, perusahaan/merek tersebut menyusun dan menjalankan strategi yang jelas dan konsisten. Ketiga, perusahaan/merek tersebut, khususnya yang sudah eksis cukup lama dalam suatu industri, tidak pernah mau terjebak dalam situasi cepat berpuas diri. Mereka akan tetap “tancap gas pol” meskipun dari tahun ke tahun kinerjanya bagus-bagus saja.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;">
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;"><span>Dalam lingkungan bisnis yang sangat dinamis, setiap perusahaan memang dituntut terus bertransformasi sehingga kapabilitas dinamis perusahaan menjadi penting. Semua tahu, pasar terus berubah. Untuk itu, diperlukan kepemimpinan transformasional yang tidak bisa menerima status quo.(*)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span><em><strong>Reportase</strong></em><em><strong>: </strong></em><em><strong>Sigit A. Nugroho, Herning Banirestu, S. Ruslina, Kristiana Anissa, Yurivito Kris Nugroho dan Rias Adriati</strong></em></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; widows: 2; orphans: 2;"><span><em><strong>Riset: Sarah Ratna Herni, Rachmanto</strong></em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/merek-merek-melesat-manuver-yang-berani-dan-melawan-arus/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>D&#039;Cost: Melesat Berkat Harga Murah dan Layanan Cepat</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/dcost-melesat-berkat-harga-murah-dan-layanan-cepat</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/dcost-melesat-berkat-harga-murah-dan-layanan-cepat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 03:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuyun Manopol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[D'Cost]]></category>
		<category><![CDATA[David Vincent Marsudi]]></category>
		<category><![CDATA[Harry Setiadi Tjiptono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=17754</guid>
		<description><![CDATA[Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima. Itulah slogan restoran seafood D&#8217;Cost yang nampang dalam ukuran besar di kaca depan gerai  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/dcost-melesat-berkat-harga-murah-dan-layanan-cepat">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; } --><span style="font-size: small;"><em>Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima</em>. Itulah slogan<em> </em>restoran <em>seafood</em> D&#8217;Cost yang <em>nampang</em> dalam ukuran besar di kaca depan gerai yang didominasi warna oranye. Sejak hadir pada 9 September 2006, D’Cost telah mampu menarik perhatian banyak konsumen karena layanannya yang cepat, harganya relatif murah, ruang restonya luas, bersih dan tertata apik. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Keberhasilan D’Cost tak bisa dilepaskan dari peran David Vincent Marsudi dan Harry Setiadi Tjiptono. Menurut David, kehadiran resto ini didorong oleh masih minimnya resto <em>seafood </em>yang lebih merakyat. Kalau pun ada, harganya wah. “Padahal Indonesia memiliki kekayaan bahari yang luar biasa,” kata David. Memang cukup banyak pedagang makanan <em>seafood </em>di pinggir jalan. Namun, tak terjamin aspek higienitasnya. Di sinilah David melihat ada peluang membuka resto <em>seafood </em>yang terjangkau harganya (seperti harga kaki lima), tetapi menyediakan layanan, menu makanan dan suasana yang tak kalah dari resto berkelas. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Gerai resto pertama pun dibuka David dkk. di Kemang, Jakarta. “Saat itu,  jalanan di sekitar resto menjadi macet karena banyaknya pengunjung yang datang,” kata David. Melihat respons yang bagus, maka sepanjang tahun pertama mereka membuka tiga cabang. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Kecepatan layanan menjadi keistimewaan D&#8217;Cost. Rahasia kecepatan D’Cost terletak pada pengelolaan pesanan makanan sejak pertama pengunjung mengorder hingga pemrosesan di dapur, yang informasinya didukung sistem berbasis teknologi informasi (TI).  Menurut David, sejak awal para pendiri D&#8217;Cost memang sudah melihat  pentingnya dukungan TI  untuk dapat memberikan layanan terbaik. Maka, awak D&#8217;Cost menggunakan iPod (produk Apple Inc.) untuk menulis pesanan menu dari pelanggan. Info pesanan yang dicatat di iPod itu langsung ditransfer ke dapur kemudian diolah. Dalam waktu rata-rata  kurang dari 15 menit,  pesanan sudah siap di meja makan. “Jika ada pesanan yang kelamaan dilayani, kami di kantor pusat segera tahu dan bisa langsung menegur,” ujar  Ferry Kurniawan, GM TI  D&#8217;Cost. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Hal lain yang menjadi keunggulan D’Cost adalah terobosan dalam hal harga dan paket promo, misalnya: paket makan sepuasnya; bayar sesuka hati; Rp 1.000 untuk harga nasi dengan porsi sepuasnya; dan diskon sesuai umur di cabang-cabang D&#8217;Cost yang sudah ditunjuk. Pernah ada rombongan yang membawa seorang ayah berusia 70 tahun ke gerai D&#8217;Cost dan kebetulan ada promo “diskon sesuai umur”, maka seluruh menu yang dipesan, total mendapat diskon 70%. ”Pernah di Surabaya kami kasih diskon 103% atau <em>free</em> karena ada tamu yang membawa neneknya yang berusia 103 tahun,” ujar Eka Agus Rachman, Manajer Umum Promosi dan Humas D’Cost. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Menurut David, D’Cost berupaya melakukan promo yang bisa langsung dirasakan oleh konsumen. “Kami mengurangi promo di media, karena hanya akan membebani pelanggan. Kami buat promo yang efisien agar harga yang kami tawarkan seharga &#8216;hidangan yang dimasak ibu sendiri di rumah&#8217;,”  ujar David seraya menjelaskan arti D’Cost yaitu tak lain harga pokok. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Dengan promo tersebut, pihak D&#8217;Cost berharap pelanggan akan puas, dan bisa merekomendasikan resto ini ke rekan atau saudaranya. Promosi ini tidak pernah berubah dari awal dibukanya resto D&#8217;Cost hingga sekarang. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Bagaimana dengan masalah margin mengingat D&#8217;Cost menawarkan hidangan dengan harga murah? Menurut David, kekuatan D’Cost memang pada volume. Jadi makin banyak volumenya maka efisiensi makin terjaga. Contohnya D&#8217;Cost membeli bahan baku dalam jumlah besar langsung dari petani ataupun nelayan.  “Kami beli dari nelayan beberapa ribu ton ikan,” ujar David seraya menjelaskan, resto ini  dijalankan dengan filosofi <em>Give and Receive</em>,<em> </em>yang berarti lebih mengutamakan memberi sebesar-besarnya pada konsumen dan karyawan, bukan sekadar berpikir untung rugi. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Segala pendekatan itu memang memberikan hasil luar biasa. Resto yang kini memiliki sekitar 800 karyawan ini berkembang amat pesat. Sekarang D’Cost memiliki 36 cabang di 7 kota di luar Jakarta, yakni Solo, Makassar, Pekanbaru, Bandung, Banjarmasin, Denpasar dan Surabaya. Dalam waktu dekat akan genap menjadi 38 cabang karena ada dua cabang lagi yang hendak dibuka. Menurut Hari Setiadi Tjiptono, Direktur D&#8217;Cost, pada 2011 pihaknya menargetkan akan membuka 11 cabang baru. Sebagai perbandingan, pada 2010  D’Cost membuka 10 cabang. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Toh, keberhasilan ini tampaknya tak membuat David dan timnya terbuai. David mengungkapkan, tiap tahun pihaknya selalu memikirkan apa yang bisa dilakukan dan terus lebih baik dari tahun sebelumnya. Tahun 2010, misalnya, mereka melakukan banyak terobosan, seperti mendirikan D&#8217;Cost Academy, D&#8217;Cost Logistic dan mulai uji coba penggunaan iPad di salah satu cabang D&#8217;Cost (Mall Ambassador, Jakarta). Ambil contoh, dengan D&#8217;Cost Academy,  D&#8217;Cost bisa mendidik  SDM-nya untuk bisa memberikan pelayanan terbaik, termasuk menciptakan kreasi menu terbaru serta inovasi promo yang unik dan menarik. “Kami punya moto, <em>Stupid guys keep learning</em>,” ujar David.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Saat ini manajemen D&#8217;Cost juga sedang mengembangkan inovasi <em>Delivery Services </em>dengan  nomor 292 77777, yang menawarkan menu khusus dan kemasan yang eksklusif. Layanan yang dikembangkan sejak 10 Oktober 2010 ini baru dijalankan di tiga kota yaitu Jakarta, Surabaya dan Bandung. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Di mata Yoris Sebastian Nisiho, pengamat pemasaran dan kreativitas, D&#8217;Cost memiliki konsep yang sangat unik. Seperti halnya <em>low cost carrier</em> atau maskapai penerbangan murah.  Yoris menilai, keunggulan D’Cost adalah mampu menawarkan harga murah, dengan menu tidak asal-asalan. “Mereka tetap menjaga kualitas dengan banyak <em>gimmick</em> lain yang mengundang pengunjung datang kembali,” ujarnya. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">Yoris menyarankan agar D&#8217;Cost terus berinovasi dan berkreasi. “Harus selalu diingat saat awal buka resto yang selalu melakukan inovasi,” katanya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p><span style="font-size: small;"><strong>Yuyun Manopol &amp; Herning Banirestu</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/dcost-melesat-berkat-harga-murah-dan-layanan-cepat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KFC: Melejit Lewat Life Style</title>
		<link>http://swa.co.id/sajian-utama/kfc-melejit-lewat-life-style</link>
		<comments>http://swa.co.id/sajian-utama/kfc-melejit-lewat-life-style#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 03:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Fabian Gelael]]></category>
		<category><![CDATA[Kentucky Fried Chicken (KFC)]]></category>
		<category><![CDATA[PT Fastfood Indonesia Tbk. (FI)]]></category>
		<category><![CDATA[Yum! Brands Inc.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/2011/02/kfc-melejit-lewat-life-style/</guid>
		<description><![CDATA[Menjual ayam goreng adalah cerita lama bagi Kentucky Fried Chicken (KFC). Musik dan gaya hidup adalah cerita masa kini dan  <a href="http://swa.co.id/sajian-utama/kfc-melejit-lewat-life-style">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; } --></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span>Menjual ayam goreng adalah cerita lama bagi </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Kentucky Fried Chicken (KFC)</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span>. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">M</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">usik dan gaya hidup</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> adalah cerita masa kini dan masa mendatang</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">.</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> Terbukti,</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">dengan menawarkan dua hal itu, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">KFC </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">masuk di jalur </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>hypergrowth</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> dalam lima tahun terakhir. Kini, waralaba restoran siap saji di bawah payung PT Fastfood Indonesia Tbk.</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">(FI) itu menguasai </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">pangsa pasar </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">51% serta memiliki 250 gerai dan14 ribu karyawan di seluruh Indonesia.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Tak ada yang datang begitu saja.</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Men</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">engok ke belakang, perjalanan KFC tidak segurih rasa ayam gorengnya. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">B</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">isnis resto</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">ini pasang-surut. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">T</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">ahun 1978</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">,</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> Grup Gelael </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">memboyong</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> KFC atas kepercayaan yang diberikan Yum! Brands Inc. sebagai pemilik merek. Setahun kemudian, gerai perdana dibuka di Melawai, Jakarta Selatan</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">. Masyarakat antusias menyambut.</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> “Euforia masuknya KFC luar biasa. Sebab, saat itu belum ada yang namanya </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>fastfood,</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> waralaba, atau resto </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>western</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">, kecuali jika makan di hotel bintang lima,” ungkap Fabian Gelael, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>Chief Operation Officer</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">FI</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Fabian mengibaratkan bak lalat bertemu durian untuk menggambarkan daya tarik KFC di mata konsumen. Kala itu, nama </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">resto ini</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> sudah populer di Tanah Air, sehingga tidak perlu melakukan promosi macam-macam</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> pun,</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> dagangan laris</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> manis</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">. “Pendeknya, saat itu apa yang kami jual pasti dibeli orang, karena masyarakatnya sedang demam yang berbau </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>western,”</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> katanya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun bisnis KFC terus tumbuh. Sampai akhirnya muncul sejumlah pesaing anyar, seperti Texas Fried Chicken, California Fried Chicken dan McDonald&#8217;s. Mungkin karena terlena dengan pencapaian selama 1980-an, KFC perlahan mulai kehilangan pelanggannya. “Tahun 1990-91 itu kami kehilangan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>market share</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> hampir 50%. Itu kondisi parah-parahnya,” ujar Fabian mengenang. Penurunan performa itu selain akibat persaingan ketat, juga dipicu ketiadaan inovasi. Saat itu </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">gerai-gerai</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> KFC banyak yang sudah berusia di atas 8 tahun dan terlihat kusam. Ironisnya, pelanggannya – ketika itu mereka menyasar keluarga dan orang dewasa &#8212; mulai mengurangi makan goreng-gorengan. Apalagi, dari sisi </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>value</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">, KFC jarang berpromosi, sehingga tidak terlalu menonjol. “Saat itu kami hanya mengandalkan makanan, tidak ada </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>life style</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> sama sekali,” ujar Fabian</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> mem</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">buka kartu. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Sebaliknya, pada saat yang bersamaan McDonald&#8217;s datang dengan membawa paradigma baru: perpaduan resto siap saji dan gaya hidup. Unsur gaya hidup menjadi magnet yang menyedot banyak pengunjung dari kalangan remaja (ABG). Menghadapi tantangan itu, posisi KFC seperti telur di ujung tanduk. Pihak </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>franchisor </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">di Amerika Serikat pun cuma memberikan panduan standar soal pelayanan</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> dan</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> produk.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Kegagalan itu memberi hikmah. Dari situlah Fabian belajar bahwa </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>fastfood</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> bukan hanya menjual makanan, tetapi juga</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em> life style</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">. Dia juga menjadi paham bahwa </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">merek </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">yang ingin menjadi nomor satu harus menjadi </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>hip</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">. Contoh</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">:</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> Apple dengan iPad dan iPod-nya, karena merek itu selalu sukses memperkenalkan sesuatu yang baru. Sebab, setiap produk dan program yang kuat selalu menjadi bahan pembicaraan dan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>hip</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Fabian pun berbenah.</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> Tahun 2001, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">FI </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">mulai membangun gerai KFC Kemang dengan konsep dan desain baru yang dijadikan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>flagship.</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> Kala itu KFC sudah memiliki 150 gerai, tetapi semua gerainya sudah tua dan biasa-biasa saja. Untuk merenovasi semua gerai pasti butuh dana besar dan waktu yang lama. Fabian mengambil keputusan: merombak satu gerai saja, tetapi hebat dan fenomenal agar menjadi buah bibir. Dengan demikian, diharapkan pandangan miring atas 150 gerai bisa tertutup oleh pamor satu gerai yang fantastis.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Ternyata, ide merombak gerai yang dilontarkan Fabian ditolak manajemen KFC Indonesia dan Yum! International. “Solusinya, saya bilang kalau dalam tiga bulan konsep </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>outlet </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">baru tidak sukses, gerainya ditutup saja,” katanya meyakinkan. Untunglah, setelah wajah baru KFC Kemang ditampilkan, kalangan anak muda mulai membicarakannya. Hebatnya lagi, Fabian mengaku, gagasan merombak desain gerai KFC Kemang menjadi inspirasi KFC di seluruh dunia. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Setelah lima tahun KFC Kemang beroperasi, secara bertahap KFC di seluruh Indonesia direnovasi desainnya. Dengan konsep toko baru, KFC berhasil membuat pengunjung </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">merasa</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> lebih muda usianya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Tahun 2005, Fabian berharap </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">merek </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">KFC harus lebih mengena lagi ke anak muda, karena </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>driving force</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> di Indonesia adalah kawula muda. Kondisi ini berbeda dengan pasar AS yang digerakkan kalangan orang tua. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">D</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">ia </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">pun </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">menemukan satu kata: musik. Ya, musik identik dengan anak muda. Betul, produk rokok telah lebih dulu menggarap pasar anak muda lewat musik, tetapi jurus itu hanya menyentuh kulit luarnya, karena hanya mensponsori </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>event </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">musik dan rokok tidak memiliki gerai khusus. Beda dengan konsep musik yang diusung KFC, yaitu bersifat totalitas yang melibatkan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>intellectual property</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> dari musik itu sendiri dan mempunyai 250 gerai yang bisa dimanfaatkan sebagai saluran distribusi produk musik. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Setelah melalui pertentangan dengan manajemen, dibutuhkan waktu dua tahun untuk menggodok dan meluncurkan label musik atas nama KFC Music Factory, dengan album pertama: </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">K</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">ompilasi </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">V</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">olume 1. “Tugasnya adalah ingin mengajarkan bahwa KFC itu jual ayam goreng dan musik,” ujar Fabian tandas. Mula-mula banyak pihak menertawakan ide Fabian dagang ayam sambil jualan musik. Namun, tekadnya sudah bulat: jalan terus. Dia merangkul karyawan untuk mengedukasi pasar bahwa </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">resto mereka</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> bukan hanya menjual makanan, tetapi juga </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>life style </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">dan menjadi </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>trendsetter.</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Dengan adanya musik dari KFC, maka setiap lagu diputar akan lebih mengingatkan pada </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">merek </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">ayam goreng itu. Tak dinyana, banyak pelanggan yang tertarik. Mula-mula hanya menjual 3-4 ribu CD per bulan, tetapi kini</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> sudah merilis lebih dari 15 </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>single</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> dan rata-rata menjual 400 ribu CD saban bulan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Tantangannya, setelah </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">pasar</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> didapat, KFC harus mempertahankan dan meluaskan pasar melalui </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>brand loyalty.</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> Bagaimana caranya? </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Kami memperkenalkan produk yang namanya Goceng,” ucap Fabian. Alasan pemberian nama itu dikarenakan di kota-kota besar, semua orang sibuk. Untuk itu, cara paling mudah mengingatkan konsumen bukan pada produknya, melainkan harga Rp 5.000-an atau </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>goceng</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">. “Maka, kami </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>grouping </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">semua produk KFC dan lahirlah </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>item </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Goceng,” katanya. Produk ini digandrungi anak muda, karena dibundel dengan musik. Alhasil, saban minggu para ABG bisa makan enak di KFC sambil mendengarkan musik. Orang tua pun merasa aman kalau anak-anaknya </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>hang out </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">di KFC ketimbang keluyuran di tempat berbau narkoba.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Tidak puas dengan pencapaian itu, Fabian kini mengembangkan konsep </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">mal </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">mini dan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>mini entertainment</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">. Contoh, sebuah gerai KFC yang baru dibuka di Bali bekerja sama dengan arena permainan Time</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"> Z</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">one. Satu gerai lagi yang segera dibuka di Alam Sutera, Tangerang, akan digabungkan dengan ruang-ruang kecil untuk karaoke keluarga. Pendeknya, Fabian bakal terus mendorong inovasi konsep </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>mini entertainment </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">KFC yang membidik dua segmen pasar utama: keluarga dan ABG. Strategi itu membuahkan hasil. Pelanggan ABG pada 3-4 tahun terakhir menjadi mayoritas,  setelah 5-6 tahun lalu hanya mengambil porsi 10%. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Nah, setelah berhasil mengambil hati </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">keluarga </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">dan ABG, KFC kini ekspansi menyasar pasar anak-anak. Cara yang ditempuh lewat musik juga. “Ada </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>market</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> yang kosong, yaitu lagu anak-anak,” ujar Fabian. Lalu, dirilislah album artis cilik Umay dengan penjualan 700 ribu keping CD. Setelah Umay, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">juga dirilis</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> album Tri Si, berisi lagu tiga anak perempuan yang didandani cantik seperti putri. Peluncuran album ini juga diikuti peluncuran </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>game online </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Tri Si (3C = Cantik, Cerdas, Ceria). Ini adalah permainan mendandani anak perempuan menjadi putri. Tak lupa, diluncurkan program Chaki Kids Club (CKC), paket ulang tahun dan komik Chaki. CKC juga punya program yang mengajak anak-anak berkegiatan dengan gembira, misalnya jalan-jalan ke kebun binatang bersama. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Tidak bisa di</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">m</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">ungkiri, dengan adanya musik, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>game</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">, perombakan desain menjadi modern, inovasi produk-produk baru dengan harga </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>goceng</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">dan pemasaran yang gencar, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">orang terdorong untuk makan di KFC. Sekarang, kalau dipukul rata, jumlah pengunjung </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">resto ini</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> mencapai 16 juta orang per bulan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Namun, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">itu bukan berarti KFC sudah bebas kendala. “Masalah </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>human resources </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">menjadi tantangan kami,” kata Fabian. Dalam setahun KFC menambah 1.500-1.800 karyawan baru yang harus dididik. Budaya kerja perusahaan yang diubah adalah nilai-nilai dari penjual makanan menjadi penjual gaya hidup. Untuk itu, didukung tim khusus yang melayani telepon jika ada komplain. Budaya baru ini dalam dua tahun terakhir mulai tercipta. Sebelumnya rata-rata sebuan ada 120 keluhan, kini tinggal 35. “Kini kami sudah berhasil mengubah 80% kultur perusahaan,” ujarnya seraya menjelaskan, yang harus diubah adalah rasa bangga karyawan bekerja di perusahaan no</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">mor</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> 1 di dunia, sehingga mereka harus bekerja layaknya no</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">mor</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">1. Juga, ada insentif jalan-jalan ke luar negeri untuk karyawan yang berprestasi.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Namun, kesuksesan ini tak mau membuat mereka terlena. </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Dalam lima tahun ke depan, manajemen FI menargetkan memiliki 1.000 gerai KFC di Tanah Air. Untuk tahun 2011 setidaknya bakal dibangun 30 gerai. “</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>Store</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> KFC saat ini yang belum direnovasi 5%-8%, mayoritas sudah wajah baru,” Fabian menguraikan. Dari 250 gerai, hanya 15 gerai yang dilengkapi dengan panggung</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em> </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">dan menggelar </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>event </em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">musik (</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>jamming</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">) tiap minggu.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx">Sumardy memuji terobosan yang dilakukan KFC untuk bangkit kembali. Menurutnya, </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">resto ini</span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> telah berhasil melakukan peremajaan merek lebih cepat, sehingga penampilannya lebih modern dan muda, yang diikuti perubahan desain dan pengembangan produk sebagai wujud visual. Selain itu, merek ini mampu menciptakan </span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"><em>word of mouth</em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="zxx"> di kalangan anak muda dengan komunitas KFC Music Hitter yang menjadi kendaraan KFC. Pasar anak-anak juga berhasil direbut melalui komunitas Chaki Club. “Kecepatan untuk mengikuti perkembangan merupakan salah satu faktor yang membuat KFC bisa mengikuti perubahan dan meninggalkan para pesaingnya,” kata pengamat pemasaran dari OctoBrand itu. (*)</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><em><strong>Eva Martha Rahayu/Wini Angraeni</strong></em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span><em><strong>Riset: Evi </strong></em></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em><strong>Maulidyyah Amanayati</strong></em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="zxx" align="LEFT">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/sajian-utama/kfc-melejit-lewat-life-style/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

