Home » CEO Interview » D’Cost: Aplikasi TI di Resto Seafood

D’Cost: Aplikasi TI di Resto Seafood

D’Cost bisa dikatakan merupakan resto seafood paling inovatif di kelasnya. Sesuai dengan motto-nya “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima”, inovasi yang utama dari resto ini adalah harga makanannya yang tergolong murah dengan kualitas yang bisa dijajarkan dengan resto seafood di hotel bintang lima. Untuk menjadikan harganya murah, D’Cost harus mengefektifkan dan mengefisienkan operasional kerja. Salah satu caranya dengan menggunakan perangkat dan sistem TI dalam hal pemesanan tempat dan pemesanan makanan. Dengan menggunakan Ipod yang terhubung dengan sistem pemesanan dan pendelegasian menu ke bagian dapur, maka proses memasak makanan fresh bisa lebih cepat dilakukan. Kecepatan menjadi hal utama di D’Cost. Selain sebagai bagian dari pelayanan ke pelanggan, sistem ini juga dibuat agar dapat mengundang pengunjung lebih banyak lagi sehingga skala ekonomi bisa tercapai.

Didirikan pada 9 September 2006, D’Cost berkembang hingga saat ini memiliki 57 gerai di 17 kota besar di Indonesia. Selain itu, pihak D’Cost juga mengklaim diri sebagai resto pertama dan satu-satunya yang menggunakan aplikasi TI ke dalam manajemen restoran. Dengan aplikasi TI ini manajemen dapat dengan mudah memantau kegiatan restoran dari mulai logistik, penjualan, pembukuan, hingga keamanan di semua gerai secara real time online. Penggunaan TI ini juga disediakan untuk kenyamanan pengunjung resto. Sejak 2010, pengunjung dapat melakukan self ordering melalui iPad tanpa perlu menunggu pelayanan datang mencatat pesanan.

Bertempat di kantor D’Cost di wilayah Sunter, David Vincent Marsudi, Presiden Direktur PT Pendekar Bodoh ditemani Eka Agus Rachman, General Manager Promoton & PR PT Pendekar Bodoh menerima reporter SWA, Darandono dan Denoan Rinaldi, di salah satu ruang di kantor D’Cost Jalan Danau Sunter Barat Blok A3 No. 2 pada Rabu (26/9). Berikut wawancaranya:

D'Cost, restoran, David Vincent Marsudi,

David Vincent Marsudi

Bisa Anda jelaskan  ide mendirikan resto seafood di mal. Padahal,  kebanyakan resto seafood berada di luar mal?

Seafood diasumsikan sebagai makanan mahal. Seafood yang agak murah dijual di pinggir jalan, warung tenda di trotoar. Sejak awal kami berpikir, mengapa seafood dijual mahal? Padahal Indonesia merupakan negara maritim yang kaya akan produk laut, termasuk seafood. Itu salah satu idenya, mengapa kami memilih seafood sebagai lahan bisnis. Kami ingin menyajikan seafood dengan kualitas baik masyarakat bahwa hanya kalangan berduit saja yang bisa makan seafood karena harganya yang memang mahal. Ini yang menggelitik kami, mengapa di Indonesia tidak ada yang menjalani bisnis seafood murah tapi dengan kualitas baik. Ini yang kami coba jalani. Memang terdapat berbagai kendala ketika menjalaninya. Namun kami terus coba perbaiki.

Mengapa lokasi D’Cost terdapat di mal? Sebenarnya gerai D’Cost juga ada yang stand alone. Kombinasi, ada yang di mal dan stand alone. Mengapa ada di mal? Karena kami lihat kecenderungan gaya hidup orang saat ini senang belanja di mal. Di samping belanja, masyarakat juga cari makan di mal. Dulu, resto yang banyak terdapat di mal adlah resto fast food. Jadi, kami pikir, mengapa kami tidak coba menyediakan sesuatu yang lebih sehat ke masyarakat dengan makanan yang baru dimasak setelah dipesan.

D'Cost, David Vincent Marsudi, restoranBagaimana mengenai kreativitas dalam hal menu?

Sejak awal memang kami menyajikan menu yang cukup beragam. Kami coba memahami konsumen dengan memosisikan diri sebagai konsumen. Hal sederhana itu yang kami lakukan. Setelah mengetahui kesukaan konsumen, apakah kami bisa menciptakan makanan itu? Selain itu, karakter konsumen yaitu menginginkan barang yang bagus dan murah. Rata-rata orang menginginkan best deal. Sebagai pengusaha kami mengikuti pola pikir konsumen. Hal ini tercermin dari motto kami “Mutu bintang lima, harga kaki lima”. Kami coba penuhi itu terus, walaupun memang kami belum bisa memenuhi semua. Namun kami berusaha untuk memperbaiki diri setiap saat agar janji kami ke masyarakat bisa terpenuhi.

Apakah ada penambahan menu tertentu pada periode tertentu?

Ya, kami memliki divisi R&D untuk menu. Secara berkala kami ciptakan menu-menu yang kira-kira memang disukai masyarakat. Saat ini ada sekamir 100 menu makanan dan minuman.

Dalam periode waktu berapa lama ada penambahan atau penggantian menu?

Agar konsumen tidak bosan, kami lihat dulu kinerja menu tersebut. Kami ada menu ranking. Jadi menu-menu yang sudah masuk ranking bawah, ya kami keluarkan. Kalau ada menu yang dianggap sudah jenuh, maka menu itu akan diganti. Substitusi atau penambahan menu dilakukan sekamir 3 sampai 6 bulan sekali. Idealnya, setiap tiga bulan, paling tidak terdapat 5-10 menu makanan dan minuman baru.

Selain itu, D’Cost juga memiliki menu spesial atau khas daerah. Karena D’Cost berada di 17 kota, kami sadari bahwa di Indonesia terdapat sedemikian banyak suku yang memiliki taste sendiri-sendiri. Jadi ada beberapa menu lokal dan menu nasional. Menu lokal di tiap daerah biasanya tidak dominan. Tidak boleh lebih dari 20%.

Mengapa diterapkan pola seperti ini?

Harus ada menu nasional agar masyarakat tahu D’Cost. Namun kami menampung aspirasi dari masyarakat setempat yang memiliki kebiasaan dan cita rasa yang berbeda dengan masyarakat di daerah lain. Jadi, kami berusaha mengakomodasi hal ini dengan pendekatan memberi porsi maksimal20% bagi masakan yang ber-taste lokal. Contohnya, di Surabaya ada menu-menu yang memang berbeda dengan daerah lain, seperti ikan Sukang di Surabaya. Untuk di Makassar, biasanya beda di saus.

Dari mana ide menu-menu baru tersebut?

Berasal dari masukan. Kami mencoba budaya di mana orang di bawah bisa memberi inspirasi ke atas. Bukan satu arah dari atas ke bawah. Kami mengharapkan orang-orang di bawah merasa bahwa D’Cost merupakan tempat mereka mencari sandang pangan sehingga mereka betul-betul berjuang di divisinya. Jadi dia akan selalu memonitor lokasi di daerahnya sehingga mereka akan memberi usulan ke atas.

Jadi ada kemungkinan menu lokal untuk jadi menu nasional?

Kalau memang digemari, bisa begitu. Contohnya Rica dari Makassar. Kemudian kami ciptakan makanan yang kira-kira disukai oleh orang Jawa dan Sunda karena dua suku ini yang paling banyak populasinya.

Bagaimana proses memberi masukannya? Misalnya dari konsumen?

Konsumen biasanya memberi masukan melalui saluran ‘SMS complaint”. Kalau banyak konsumen yang memberi masukan terhadap menu tertentu, itu jadi bahan pertimbangan kami untuk menciptakan menu. Biasanya kami coba menu tertentu di daerah-daerah tertentu. Kami lihat responsnya. Kalau menu tersebut kami anggap responsnya bagus, maka kami angkat menjadi menu nasional.

Berapa presentase antara menu yang dibuat R&D dan usulan konsumen?

R&D sendiri, ketika akan membuat menu baru, mereka juga mengamati pasar. Kami selalu mengembalikan apa yang diinginkan konsumen. Bukan apa yang diinginkan kami.

Berarti melihat menu unggulan di resto-resto yang lain juga?

Ya. Tapi beda di harga, ha..ha..ha.. Saya juga mencoba menu, misalnya ikan patin, yang ada di restoran China di Hotel Shangri La Surabaya, Crystal Jade. Mereka menjual harga masakan ikan patin tersebut sekamir Rp 150 ribu karena mereka menggunakan koki dari Hongkong yang biayanya mahal. Sementara harga ikan patin kami, dengan rasa yang sama harganya hanya Rp 25 ribu.

Bagaimana mengenai jam buka resto yang tidak harus buka setiap saat?

Itu bergantung pada daerahnya. Kalau gerai di mal, saat ini 100% buka full day, yaitu buka dari pukul 11.00 hingga 21.00. Namun memang terdapat beberapa gerai stand alone (bukan di mal) yang kami tutup antara pukul 15.00-17.00 saat week day. Hal ini kami lakukan berdasarkan evaluasi di mana pada jam itu, yang memang bukan jam makan. Hal ini dilakukan atas alasan efisiensi. Dengan menjual produk murah, kami sebagai perusahaan harus bisa efisien, karena jika kami tidak efisien maka dampaknya akan dialami masyarakat dengan harga yang tinggi. Saat ini lebih banyak gerai yang di mal dibanding stand alone. Sekamir 85% gerai kami berada di mal. Namun pada saat weekend, gerai yang stand alone buka full day.

Berapa jumlah cabang saat ini dan bagaimana target pertumbuhannya?

Saat ini 57 cabang dan akan buka sesuai dengan angka belakang tahun. Misalnya, tahun ini tahun 2012, maka kami targetkan akan buka cabang sebanganyak 12 cabang. Pada 2013, kami targetkan akan buka 13 cabang.

Mengapa dilakukan pola seperti ini?

Biar mudah untuk mengingat. Ha..ha..ha..

Bagaimana kreativitas di bidang TI?

Sejak awal berdiri, ketika belum ada Ipod, kami menggunakan PDA untuk memesan pesanan. Setelah Ipod keluar, kami beralih menggunakan Ipod karena Ipod lebih murah dari PDA. Namun saat itu, ketika kami menggunakan Ipod sebagai sarana untuk memesan makanan, hal itu belum umum dilakukan resto lain sehingga Manajer Pemasaran Apple dari Singapura, datang ke Jakarta. Dia menanyakan mengapa barangnya bisa digunakan oleh kami sebagai sarana order makanan. “Sudah saya protect, kok you  bisa pakai buat order?”, kata manajer itu. Saat itu kami jailbreak Ipod itu. Saat ini kami jadi teman. Kami juga menggunakan Ipad untuk order saat ini.

Mengapa menggunakan teknologi canggih untuk perusahaan yang bisnisnya hanya mengumpulkan “uang receh”?

Pertama, kam ingin efisien. Dengan kami mengumpulkan uang recehan ini, otomatis omzetnya harus besar sehingga jumlah tamu harus banyak. Dengan jumlah tamu yang harus banyak, sementara jam makan cukup terbatas, maka kami harus cepat dalam pelayanan. Agar dapat cepat, harus menggunakan teknologi. Kalau order menggunakan tulisan tangan, tidak bisa. Tidak mungkin kami menjual teh harga seratus  jika kami tidak cepat. Skala ekonominya tidak akan tercapai karena jam makan orang sangat terbatas.

Prosesnya, begitu tamu memesan dan pelayan kami menekan ‘enter’ di perangkatnya, printer-printer kami di bar, di checker, di bagian steam, di bagian gorengan, langsung mencetak  pesanan itu dan pekerja kami langsung membuat sesuai pesanan yang dicetak. Jadi pendelegasian menu pesanan langsung tertuju ke bagian yang bersangkutan. Kami bisa menyajikan masakan dengan cepat karena kami terbantu dengan sarana TI ini.

Saat ini, kami gunakan model terbaru layar sentuh. Bukan print lagi. Kami sudah mulai coba di gerai Sunter dan Semarang. Gerai di Semarang terdapat 23 komputer. Kami hanya jualan kangkung tapi komputernya ada 23.

Berapa persen efisiensi yang dapat dilakukan?

Untuk perubahan dari cetak ke paperless baru kami lakukan. Kami masih cari pola. Tapi yang penting efektif dulu. Saat ini kami anggap kami butuh 23 komputer. Namun nanti kami evaluasi. Kalau nanti bisa dikurangi pemakaiannya, maka nanti kami kurangi. Tapi kalau tidak bisa dikurangi, maka kami akan gunakan dalam jumlah tersebut. Komputer-komputer tersebut untuk reservasi, monitor antrean, untuk kasir di gerai Semarang yang terdapat 2 lantai, untuk reservasi menu dan lainnya. Dengan teknologi yang makin maju nantinya, mungkin komputernya dapat disusutkan.

Nantinya sistem touchscreen juga akan diterapkan di tiap cabang D’Cost. Dengan rencana kami Go International pada 2015, maka saat ini kami berusaha untuk mengubah manajemen dari kelas kampung menjadi kelas internasional.

Bagaimana kreatifitas dari sisi promosi?

Satu hal yang mendasar dan membedakan antara D’Cost dengan perusahaan lain adalah nilainya. Perusahaan lain menerapkan nilai ‘take and give’. Nilai ini sudah dianggap fair. Sementara yang kami jalankan di D’Cost adalah ‘give and receive’ yang seperti kasih ibu, memberi tak harap kembali. Contoh aplikasi dari ‘give and receive’ ini kami terapkan di semua promosi D’Cost. Contohnya, setiap kami buka outlet baru ada promosi ‘up to you price’, yaitu makan sesukanya dan bayar sesukanya. Setelah hari ini mereka datang dan keesokannya mereka tidak datang lagi, tidak masalah buat kami. Itu yang dimaksud give.

Demikian juga dengan diskon umur. Saat ini rekor umur tamu yang datang yaitu 104 tahun. Jadi selesai makan, saya kembalikan 4%. Ha..ha..ha. Promo ini diberlakukan untuk satu meja. Waktu itu bersepuluh. Pada saat promosi itu, banyak manajer kami yang dipanggil oleh opa-oma itu. Mungkin mereka tersentuh sehingga kami didoakan agar bisnis kami maju. Diskon umur ini sudah 3 tahun berjalan. Tiap bulan ada 3-4 outlet yang menwarkan promo ini. Doa dari orang tua ini yang membuat D’Cost maju. Jarang ada perusahaan yang didoakan orang.

Mengapa tidak dilakukan di tiap outlet?

Tidak mampu. Kemampuan kami belum sampai situ. Penentuan outlet mana yang akan menyelenggarakan promo, kami atur agar setiap outlet kebagian.

Kembali lagi ke promo ini. Terdapat nilai lebih di balik penerapan promo ini. Manajer kami menanyakan ke opa-oma itu apakah mereka senang dengan promo ini? Mereka mengatakan senang karena jika tidak ada promo ini, mereka tidak akan diajak keluar untuk makan oleh anak mereka. Ini pernyataan tulus dari orang tua. Terdapat nilai positifnya yaitu menyentuh anak untuk mencintai orang tua.

Mengenai promosi uang dan doa, separuh bayar menggunakan uang dan separuhnya menggunakan doa pada saat hari keagamaan? Doanya bisa untuk apa dan siapa saja. Doanya ditulis di kertas dan nanti akan diunggah di facebook dan website.

Mengenai promosi “Hamil Baru Bayar”, banyak pertanyaan yaitu bagaimana jika setelah pasangan itu menikah, mereka pindah kota atau KTP-nya ternyata palsu. Apa antisipasinya? Jawaban kami ialah kami tidak pernah mengantisipasi. Kami pasrah saja. Ini kesadaran saja. Dalam promosi ini juga terdapat nilai-nilai spiritualnya, yaitu agar masyarakat mulai tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu dari hati nurani. Pengalaman kami selama ini, belum ada pasangan yang mengaku hamil. Ha..ha..ha. Kami tidak pernah mengecek ke pasangan itu bahwa istrinya sudah hamil atau belum.

(Eka Agus Rachman) Promo HBB ini termasuk promo yang tinggi okupansinya. Banyak orang yang menanyakan apakah promo ini akan diperpanjang hingga tahun depan atau tidak, karena kami harus melihat efektifitas dan tanggapan masyarakat secara luas. Dalam sebulan tiap minggu pasti ada yang mengikuti promo ini. Sampai-sampai banyak orang yang memohon untuk memesan tanggal tertentu di mana banyak orang lain juga memesan.

Mengenai donor darah, sebenarnya merupakan bagian dari program D’Cost Peduli. Saat ini terdapat 57 cabang. Sementara dalam setahun hanya 52 minggu. Kalau kami melakukan donor darah pada saat outlet-outlet kami ulang tahun, maka setiap minggu, bahkan ada yang seminggu dua kali, akan ada donor darah. Program donor darah ini kami gabung dengan saat promo. Pada saat promo, ribuan orang datang. kami siapkan tempat untuk donor darah. Bagaimana caranya agar orang tergerak hatinya untuk mendonorkan darahnya? Kami kolaborasi dengan promo kami, yaitu tidak usah antre bagi yang mendonorkan darahnya. Setidaknya kami memberi satu nilai spiritual lagi.

Sebenarnya donor darah ini, bisa dilakukan lebih sering lagi jika digabung dengan promo-promo kami yang lainnya. Namun kendala kami adalah tidak semua PMI bisa membantu karena mereka mungkin terkendala sarana. Dalam pelaksanaan donor ini, kami sampai dibantu oleh PMI Serang karena PMI Jakarta juga kewalahan. Kalau semua perusahaan di Indonesia mau melakukan seperti apa yang D’Cost lakukan, tidak akan ada kekurangan darah.

Mengenai budget ordering, kami bisa memasukkan jumlah tamu dan bujet, maka dalam 2 detik akan keluar usulan menunya. Ini sangat membantu bagi pelanggan rombongan karena jika pelayan harus menanyakan menu satu per satu ke anggota rombongan, maka akan makan waktu lama. Selain itu, pelanggan bisa memesan menu tanpa harus kelebihan bujet. Keuntungan lainnya, pelanggan tidak perlu khawatir terhadap menu karena menu yang ditampilkan merupakan menu favorit dan pasti sesuai. Saat ini kami tengah memproses aplikasi ini di sistem operasi di Iphone. Namun masih belum turun dari sananya. Untuk sistem operasi Android dan Blackberry, sudah berjalan.

Jadi dengan aplikasi ini, pelanggan bisa memesan tempat dan menu melalui aplikasi budget ordering ini yang ada di smartphone mereka. Misalnya, setengah jam sebelum tiba di D’Cost tujuan, pelanggan bisa memesan via aplikasi ini. Setelah di-upload dan dibaca oleh manajer di gerai D’Cost, maka pesanan akan langsung diproses. Dalam pesanan dari pelanggan yang ada di aplikasi itu, terdapat nomor kontak pemesan dan nanti manajer gerai akan menghubungi pemesan tersebut untuk mengkonfirmasi mengenai pesanannya. Untuk lebih memudahkan, nanti akan dibuat pre-paid card D’Cost agar pesanan bisa langsung dapat diproses, tidak khawatir pesanan dibatalkan atau pemesan tidak datang. Pre-paid card ini rencananya akan diluncurkan tahun depan.

Mengenai Diskon Gerombolan, dulu kami pernah kedatangan gerombolan 99 orang dan kami diskon 99%.  Selain itu, rekor lainnya ialah gerombolan 130 anak SD dan gurunya, setelah makan mereka cuma bilang: “Matur nuwun,”  ha..ha..ha. Program ini waktu itu dilakukan dua bulan setiap Kamis di gerai-gerai tertentu.

Kami memberikan berbagai macam promo ini agar masyarakat tidak jenuh. Yang mendasari semua ini adalah nilai give and receive, makanya promonya bisa wow karena ada nilai ini.

Modifikasi promo-promo dilakukan dalam berapa lama sekali?

Untuk Up to you Price sudah berjalan 6 tahun. Diskon Umur sudah berjalan 3 tahun. Promo yang lainnya baru berjalan pada tahun ini. Nantinya kami akan ciptakan promo baru lagi tiap tahunnya.

Bagaimana menggali ide-ide kreatif tersebut?

Ide itu bisa muncul setiap saat. Juga bisa tidak muncul. Seperti seniman, kalau sedang tidak mood maka ide tidak muncul. Dalam melahirkan ide kreatif, syarat mutlak di kami adalah belum pernah dilakukan orang lain. Jadi kami selalu mencari yang belum ada.

Siapa motornya ide kreatifitas?

Bisa dari siapa saja. Di sini kan orang setengah gila semua, ha..ha..ha.

Jadi ide bisa muncul dari siapa saja di masing-masing divisi?

Ya. Kami sering lakukan brainstorming. Jika ada ide, langsung kami lakukan itu. Namun brainstorming tidak bisa dijadwalkan. Jika dijadwalkan, ide belum tentu muncul.

Bagaimana peran pemimpin dalam mendorong munculnya ide kreatif?

Nama PT kami yaitu PT Pendekar Bodoh. Jadi, yang paling bodoh ditaruh di atas, yang lebih pintar taruh di bawah. Nah, yang pintar-pintar adalah anak-anak ini. Saya bodoh sendiri ha…ha..ha.

(Eka) Mengenai ide-ide promosi memang diolah oleh tim. Misalnya, Pak David memiliki ide promo tentang uang dan doa. Ide itu dilempar ke kami dan kami memberi masukan. Syarat ide yang bisa diimplementasikan yaitu tidak pernah dilakukan orang lain, unik, dan memiliki efek wow.

Bagaimana passion pemilik dan pemimpin D’Cost dalam mengembangkan kreativitas?

Pemilik D’Cost terdapat beberapa orang. Passion mereka sangat tinggi dengan memberikan keleluasaan ke manajemen untuk memutuskan.

Bagaimana melibatkan karyawan untuk berkreasi?

Biasanya mereka memberi usulan secara tidak formal karena di perusahaan ini budaya yang berkembang yaitu tidak formal. Kami menganggap semua karyawan sebagai teman dan keluarga.

Bagaimana merangsang keluarnya ide-ide?

Memang ketika kami tengah banyak terbebani urusan operasional, maka ide tidak muncul. Ide-ide bisa muncul, biasanya, pada saat weekend, ketika beban di otak sudah mulai berkurang.

Bagaimana proses merespons ide yang muncul?

Misalnya pada ide promo. Misalnya ada ide, bisa dilontarkan melalui milis manajemen. Bisa juga dilontarkan melalui Blackberry Grup. Jadi proses brainstorming bisa kami lakukan di mana saja dan kapan saja melalui saluran teknologi. Kalau orang-orang harus dikumpulkan dulu untuk brainstorming akan sulit melakukannya karena masing-masing memiliki kesibukannya sendiri-sendiri. Dengan adanya teknologi, brainstorming bisa dilakukan kapan saja. Saat ini saya mengikuti ada 20 grup BBM untuk urusan D’Cost saja.

Bagaimana implementasi dan evaluasi ide-ide yang muncul tersebut?

Kami langsung tindaklanjuti dengan membicarakan strategi pelaksanaannya. Kami tidak membicarakannya hingga detil dan langsung menjalankannya. Bersamaan dengan dijalankannya ide itu, kami lakukan perbaikan-perbaikan melalui evaluasi. Misalnya ide muncul dari manajer, kemudian diteruskan ke area General Manager, kemudian diteruskan ke forum manajemen pusat. Namun pembicaraan di Grup BBM itu juga bisa dimonitor oleh kami. Setelah ide itu ditangkap oleh yang di atas, kemudian kami jabarkan apa yang harus dilakukan agar bisa dijalankan. Prosesnya berjalan simultan, sesuai dengan salah satu nilai di D’Cost yaitu speed. Terdapat prioritas untuk menjalankan ide. Yang penting dijalankan dulu. Kami juga lakukan evaluasi seiring dijalankannya ide tersebut.

Bagaimana hasil yang bisa dilihat dari kreativitas ini?

Output dilihat dari respons masyarakat yang bisa dilihat dari kunjungan masyarakat ke outlet. Ide ini ternyata diterima masyarakat dan kami akan menjalankan terus.

Bagaimana dampak kreativitas terhadap kinerja bisnis? Bisa digambarkan pertumbuhannya?

Dengan masyarakat yang makin respek kepada kami, maka outlet kami kebanjiran tamu. Kalau masyarakat sudah tersentuh hatinya, maka mereka akan menjadikan kami sebagai pilhan utama. Mengenai pertumbuhan kinerja bisnis, bisa dilihat dari pertumbuhan outlet kami yang tumbuh sesuai angka tahun, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Pada 2012, target buka 12 outlet. Pada 2013, target buka 13 outlet. Jika terdapat pertumbuhan outlet, otomatis terdapat overlapping antara satu outlet dengan outlet di area yang sama sehingga tidak terjadi pertumbuhan pengunjung yang signifikan di satu outlet, tapi terdistribusi ke outlet lainnya. Setiap tahun pertumbuhan pendapatannya rata-rata 15%.

Bagaimana pertumbuhan pengunjung?    

Kisaran pertumbuhan jumlah pengunjung untuk gerai di Jakarta sekamir 300-500 tamu, bergantung di mana gerai itu berada. Jika gerai berada di perumahan maka gerai akan ramai pada weekend. Sedangkan jika gerai berada di area perkantoran, maka gerai itu akan ramai pada weekdays siang hari.

Sejauh mana kreativitas D’Cost bisa menggoyang pasar?

Ada pengaruhnya. Hal ini bisa dilihat dari respons masyarakat yang luar biasa. Namun, apakah respons ini bisa dikategorikan bisa menggoyang pasar, itu kami tidak tahu. Bisa dilihat jika mengetikkan kata kunci Diskon Umur, misalnya, maka respons yang keluar berasal dari masyarakat.

(Eka) Kami hanya ingin memberikan pengalaman baru pada masyarakat mengenai bagaimana kami melakukan promosi. Orang mungkin sudah sering mendengar atau bahkan ikut midnight sale atau diskon 50%. Tapi jika dilakukan oleh D’Cost. Itu yang kami berikan pada masyarakat. Ada nilai baru yang kami berikan pada masyarakat dan tidak sekedar promo. Itu menjadi nilai kami, selalu memberikan sesuatu yang berbedda kepada masyarakat.  Misalnya Diskon Umur, terdapat nilai-nilai baru yang disematkan di sana, yaitu nilai kekeluargaan. (Didin Abidin Masud)

SHARE SOCIAL MEDIA

4 Comments

  1. john says:

    sangat inspiratif & ide2 yg brilian
    btw, sekamir itu apa ya? apa sekamir = sekitar?

  2. madian says:

    omong kosong..buktinya waktu saya bersama keluarga makan di d’cost cabang ps palembang tanggal 14 oktober yang lalu nunggu masakannnya minta ampun lamanya sktr 1jam..sampai saya harus marah2 ke kasir..setelah itu baru menunya disajikan.

  3. bisri says:

    keren …, waktu makan di dcost terheran heran juga cepat sekali pelayanannya dan pake pda tiba tiba keluar print outnya haha :D. Dan baru tahu namanya unik PT. Pendekar Bodoh :D

  4. Sablon Kaos says:

    Bai de way sekatang d’cost udah mulai naik kelas ya hehehe

LEAVE A REPLY


1 × six =