Home » CEO Interview » Sudirman MR: ”Belajar… Belajar… Belajar”

Sudirman MR: ”Belajar… Belajar… Belajar”

Share :

    Sudirman MR

    Ia adalah satu-satunya dan pertama kali orang luar Jepang yang bisa menduduki posisi direkti Daihatsu Motor (DMC). Tentu, kesempatan tersebut diberikan bukan semata melihat perusahaan yang kini dikomandani Sudirman MR, PT Astra Daihatsu Motor (ADM), punya posisi penting bagi DMC, tapi dia telah membuktikan kemampuannya selama menjalani karier di Grup Astra hingga bisa mencapai posisi puncak seperti sekarang.

    Namun, asal tahu saja, ia masuk ke Grup Astra dengan berbekal ijazah STM. Lalu, di tengah-tengah kesibukan kerjanya, ia sempatkan mengikuti kuliah di Universitas Terbuka hingga meraih gelar sarjana jurusan administrasi niaga. Toh, di luar itu, Sudirman menempa dirinya dengan banyak belajar, belajar, dan terus belajar.

    Berikut ini, perbincangan antara wartawan SWA Yuyun Manopol dan Denoan Rinaldi dengan Sudirman, yang kini juga menjabat Direktur PT Astra International Tbk.

    Bagaimana awal berkarier di Astra?

    Awalnya saya bergabung dengan Grup Astra pada Nopember 1978 sebagai staf di bagian produksi. Saat itu saya masuk ke PT Daihatsu Indonesia yang merupakan bagian dari Astra. Daihatsu Indonesia merupakan perusahaan joint venture pertama antara Astra Internatioal (AI) dengan Daihatsu Motor Company (DMC) dan Nichimen Corporation. Saat itu, dibangun pabrik Daihatsu di Indonesia untuk membuat body mobil. Ketika saya masuk ke PT Daihatsu Indonesia, saya adalah karyawan kelima. Namun, yang buat saya kaget adalah, dari sekitar ratusan pelamar, yang diterima hanya 2 orang setelah melalui beberapa tahapan tes. Salah satunya adalah saya.

    Saat saya masuk ke Astra, banyak teman dan saudara yang mempertanyakan keputusan saya untuk bergabung dengan Astra karena posisi saya di tempat kerja sebelumnya sudah lumayan bagus, yaitu sebagai chief planning di Alumunium Work Indonesia, yaitu perusahaan joint venture antara perusahaan Indonesia dan Jepang yang bergerak di bidang pembuatan plat alumunium. Ketika bekerja di perusahan tersebut, saya ditempatkan di bagian perencanaan. Lumayanlah, saat itu saya mendapat beberapa fasilitas, seperti kendaraan dan lain sebagainya. Masuk ke Astra ini, saya mulai dari nol. Namun, bagi saya tidak apa-apa sama sekali. Jadi saya berangkat naik sepeda motor saat ke pabrik baru yang masih belum ada apa-apanya sama sekali, kecuali 5 orang tadi yang saya sebutkan. Malah lucu, setelah diwawancara beberapa kali, saya minta gaji minimal dengan gaji saya di perusahaan sebelumnya., tanpa kompensasi atau bonus tidak apa-apa karena waktu itu Daihatsu Indonesia masih baru.

    Apa pertimbangan Anda bergabung dengan Grup Astra?

    Saya lihat nama Astra dan bidang otomotif yang saya yakin ke depan akan tumbuh. Selain itu Astra, terkenal sebagai perusahaan nasional yang besar, sehingga saat itu Astra merupakan ladang yang subur. Saya ingin jadi bibit yang baik, sehingga bisa tumbuh bersama perusahaan. Saya memiliki keyakinan sejak awal bahwa kami kita bisa tumbuh sama-sama. Dengan bekal keyakinan itu saya pindah ke Astra, walaupun teman dan saudara saya mempertanyakan keputusan saya.

    Di tempat kerja sebelumnya saya pakai supir, maka di Astra saya pakai vespa ke kantor. Namun setelah tiga bulan pakai vespa ke kantor, saya jual vespa itu untuk menyewa rumah kontrakan dekat kantor. Karena saya bertanggung jawab terhadap pemasangan mesin dan lainnya, maka saya kerap kerja hingga pukul 1 atau 2 pagi dan harus ke kantor lagi pukul 05.30 pagi karena jadwal kerja yang padat. Itu saya lakukan dengan kesadaran saya sendiri, tidak ada yang memerintah. Saat itu saya bertanggung jawab terhadap perencanaan kerja dan implementasinya.Setelah vespa dijual, saya naik omprengan ke kantor, berangkat pukul 04.30 pagi.

    Setelah Daihatsu Indoneesia merekrut banyak karyawan, saya ditempatkan di bagian perencanaan dan produksi. Namun, saya juga pernah turun tangan untuk memperbaiki mesin yang rusak. Pada 1980, ketika pabrik baru mulai produksi banyak, ternyata mesin yang baru dipasang rusak. Sementara, teknisi dari Jepang sudah pulang. Saat itu di perusahaan ada 3 orang Jepang, tapi mereka tidak menguasai permesinan. Akhirnya saya bongkar mesin itu dengan hanya berdasar panduan buku manual. Saat itu saya bekerja 30 jam non-stop di atas mesin. Makan pun di atas mesin sambil memperbaikinya. Saya coba perbaiki mesin itu sejak pagi hingga keesokan harinya pukul 11.00. Setelah mesin bisa beroperasi lagi, saya beri penjelasan ke yang lain dan pukul 14.00 saya pamit pulang. Baru rebahan di rumah kontrakan, supir direksi saya, Pak Siswoyo, datang ke rumah. Saya diminta untuk datang ke pabrik lagi karena mesin rusak lagi. Akhirnya saya ikut lagi ke pabrik naik mobil direksi saya, Toyota Crown, bersama supir itu. Direktur saya orang Jepang, namanya Mr. Ichomoto. Setibanya di kantor, saya betulkan lagi hingga selesai semuanya pukul 20.00. Saya setel lagi dan tunggu hingga setengah jam, dan tidak ada masalah. Saya kemudian pulang. Berdasarkan pengalaman itu, akhirnya perusahaan mengirim orang ke Jepang untuk belajar maintenance mesin. Sebelum itu, kami tidak memilki orang maintenance. Itu salah satu hikmahnya. Saya tipe orang yang goal oriented. Saya mengerti tentang objective perusahaan. Kalau mesin itu tidak selesai, kami tidak bisa mengirim barang ke PT Gaya Motor. Tanggung jawabnya besar. Maka saya katakan pada saat itu bahwa mesin itu harus bisa beroperasi kembali.

    Pengalaman itu sangat berkesan ya,Pak?

    Sangat berkesan. Punya kepuasan tersendiri. Akhirnya dari sana kami tahu lagi bahwa ternyata buku manual mesin itu masih kurang. Akhirnya kami lengkapi manual itu.

    Lalu bagaimana perjalanan karier Anda berikutnya?

    Setelah itu saya berkiprah di bagian perencanaan. Bagian perencanaan selalu harus melihat ke depan yang sesuai dengan pola pikir saya dari dulu. Saya pernah training diJepang pada 1974-1975. Ceritanya begini. Setelah lulus STM 1 Tasikmalaya, saya berencana ke Jakarta untuk kuliah. Namun, karena kebetulan ada perusahaan joint venture, PT Balikpapan Forest Industry, memerlukan tenaga lulusan sekolah menengah atas untuk dilatih di Jepang guna belajar bagaimana membuat kayu lapis, saya melamar pekerjaan ke perusahaan ini. Kebetulan saya diterima di perusahaan itu dan akhirnya saya tidak jadi kuliah untuk ikut training ke Jepang selama 1,5 tahun. Di Jepang saya diberikantechnical training, termasuk belajar manajemen produksi, bagaimana manajemen gaya Jepang. Saat itu saya mendalami mengenai perencanaan. Maka, ketika saya telah bergabung dengan Daihatsu, saya ditempatkan di bagian production, planning, and control (PPC). Saya bekerja mulai dari perencanaan produksi, perencanaan pembelian bahan, hingga mengontrol pengiriman barang jadi. Jadi, dari hulu ke hilir. Keuntungannya berada di PPC, yaitu keterkaitan hubungan antara orang di bagian produksi, engineering, maintenance, keuangan, personalia, hingga top management.

    Dari pengalaman training di Jepang, apa yang Anda petik untuk dipraktikkan di Daihatsu?

    Ketika saya pulang ke Indonesia, saya kan bekerja di perusahaan alumunium, yakni PT Aluminium Work Indonesia itu. Di perusahaan ini, paling tidak saya berinteraksi dengan orang Jepang sehingga saya bisa mengerti bagaimana pola pikir dan cara kerja orang Jepang. Jadi begitu masuk ke Daihatsu, dasar pengetahuan mengenai cara kerja, pola pikir, dan manajemen orang Jepang sudah saya mengerti. Itu yang saya aplikasikan ketika saya bekerja di Daihatsu. Namun, mengenai teknis detil mengenai otomotif, saya belajar dari orang-orang Daihatsu Jepang.

    Dari cara kerja orang Jepang, apa yang membuat bapak paling terkesan?

    Disiplin dan teratur. Aturan mainnya jelas dan dijalankan dengan baik. Setelah itu, mereka membawa pola pikir Kaizen, continous improvement. Sejak kecil, prinsip berpikir ini dijalankan oleh orang Jepang. Hal ini didukung oleh kerja mereka yang disiplin. Hal pertama yang saya pelajari dari Jepang adalah budaya antre. Sejak kecil budaya ini sudah diajarkan. Juga, dalam hal disiplin kerja, saya dapatkan dari Jepang sehingga hal ini sudah menjadi kebiasaan saya. Kebetulan saya juga sejak kecil ikut kepanduan atau Pramuka. Di Pramuka dipelajari mengenai kedisiplinan, toleransi, tolong menolong. Itu yang menggembleng saya sejak SD. Saya suka itu. Hingga saat ini, walaupun saya sudah berada di posisi puncak ADM (PT Astra Daihatsu Motor), bagi saya disiplin nomor satu.

    Mengapa Anda hanya sekolah hingga STM saja?

    Seperti tadi yang saya jelaskan, sebenarnya saya mau kuliah di Jakarta setelah lulus STM.

    Bukan karena kendala keuangan?

    Bukan. Saya waktu itu juga mau dibantu omsaya untuk kuliah. Namun, soal pilihan mengapa saya masuk STM setelah lulus SMPN 1 di Tasikmalaya, paman saya waktu itu memberi tahu saya bahwa dengan masuk STM, jika suatu hari tidak mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, maka lebih mudah untuk bekerja. Saat itu saya disarankan untuk masuk STM oleh paman saya. Saat itu saya masuk STM Negeri 1 Tasikmalaya, ambil jurusan mesin.

    Sudah ada keinginan atau tujuan perguruan tinggi setelah lulus STM?

    Saya ingin kuliah di jurusan teknik karena sebelumnya juga sudah belajar teknik. Selain itu, sejak kecil ayah saya memiliki perusahaan angkutan. Ayah saya punya banyak truk. Saat itu, saya sudah rajin. Selepas pulang sekolah (SD) saya ikut supir dan kernet untuk bongkar-bongkar mobil. Jadi saya tahu komponen mobil dan lainnya. Ini juga yang membuat saya akhirnya memilih masuk STM daripada SMA.

    Perasaan Anda saat itu bagaimana?

    Senang saja. Saya nikmati. Saya juga ingin membuktikan, bahwa saya akhirnya bisa sukses. Sejak kelas 1 SD, saya adalah ketua murid (ketua kelas) hingga di STM.

    Apakah ada kendala ketika bapak masuk ke Astra yang hanya lulusan STM dibanding pegawai lainnya dengan title sarjana?

    Tidak. Karena saya punya keyakinan, Pak William Soeryadjaya yang melakukan transformasi Astra dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan profesional, merekrut orang-orang yang terbaik. Saat itu, ketika saya masuk, saya hanya staf produksi. Lalu 1982, saya menjadi kepala seksi. Atasan saya waktu itu, yang menjadi manajer, berasal dari universitas terkemuka, kalau tidak ITB (Institut Teknologi Bandung), ya UI (Universitas Indonesia). Itu memang standar Astra. Namun Astra. juga selalu membangun dan mengembangkan yang namanya Astra Manajemen System (AMS), yang awalnya bernama Astra Total Quality Control (ATQC). Perubahan itu dilakukan pada 2000-an. Waktu membangun sistem itu, saya mengikuti dan memperhatikan bahwa yang menjadi manajer lulusan dari universitas terkenal semua. Hal itu memotivasi saya untuk selalu belajar skill yang dimiliki atasan saya. Saya melihat dan mempelajari skill apa yang harus dimiliki untuk menjadi seorang manajer. Karena itu, saya belajar mempersiapkan diri. Saya belajar otodidak melalui toko buku. Gramedia dan Gunung Agung tempat saya baca buku pada waktu itu. Kalau belum punya uang, saya baca dulu saja buku tersebut. Kalau sudah punya uang, baru dibeli. Untuk buku manajemen, LPM UI sering mengeluarkan buku seri manajemen. Saya belajar dari buku-buku itu.

    Namun, waktu saya mempersiapkan diri tersebut, tidak dengan ambisi bahwa saya harus mencapai posisi tersebut karena saya meyakini bahwa posisi itu ditentukan oleh adanya kebutuhan perusahaan, adanya lowongan, sehingga yang menentukan adalah atasan. Hanya saja, saya selalu percaya bahwa jalan hidup seseorang ditentukan oleh Allah Yang Maha Kuasa, sehingga saya selalu terus berikhtiar dengan cara belajar di mana ada kesempatan. Mudah-mudahan saya adalah salah satu kandidat yang menjadi pertimbangan pimpinan.

    Lalu, apa yang memotivasi Anda melakukan hal itu?

    Saya ingin selalu menambah pengetahuan. Dengan latar belakang pendidikan hanya lulusan STM, saya juga ingin kuliah. Namun, karena kesibukan saya yang padat, pukul 16.30 sudah di pabrik dan pulang kantor paling cepat pukul 20.00, sehingga saya sulit untuk kuliah lagi. Selain itu, saya juga ingin pekerjaan yang saya lakukan selesai dengan sempurna. Kalau bisa pekerjaan bisa dilakukan dalam waktu satu hari, atau mengikuti deadline tiga hari. Itu yang membuat saya sulit untuk kuliah lagi. Maka, ketika 1984, Pemerintah membangun Universitas Terbuka, saya ikut kuliah di universitas ini. Banyak teman-teman dari Astra yang mengikuti UT. Rata-rata yang ikut UT adalah mereka yang lulusan akademi. Mereka berbondong-bondong mengikuti kuliah di universitas ini, termasuk beberapa sekretaris direksi Astra. Namun setelah tiga semester, tinggal sedikit teman Astra yang masih bertahan di UT karena dulu orang menganggap mudah masuk UT, ujiannya pun pilihan ganda. Jadi, tinggal pilih berdasarkan kancing baju saja, padahal tidak begitu. Kalau tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh, sulit. Kita mau contek siapa? Maka dari itu, harus berdasarkan kemampuan sendiri. Saya jalani terus. Kan yang mempersiapkan bahannya orang-orang dari UI, Unpad, UGM. Saya ambil Jurusan Adimistrasi Niaga karena terkait dengan bisnis. Saya lulusan angkatan pertama tahun 1989. Jadi S1 saya adalah jurusan admistrasi niaga UT. Saya selesaikan dalam waktu lima tahun. Sebenarnya saya ingin menyelesaikan dalam waktu empat tahun, namun ada kalanya modul mata kuliahnya belum siap. Jadi saya hanya mengambil sedikit SKS (satuan kredit semester) pada semester tertentu. Itu hanya masalah ketekunan. Jika tekun, kuliahpun bisa dilalui dengan waktu singkat.

    Dengan ketekunan juga pada 1984 saya diangkat menjadi asisten manajer. Grup Astra, dengan manajemen yang terbuka, sering diadakan sharing antar perusahaan untuk saling berbagi yang dikoordinir oleh Astra International. Misalnya, bagaimana kinerja perusahaan A di bidang manufacturing, apa yang sudah dilakukan, bagaimana hasilnya. Sehingga, dengan sharing itu,bisa saling mengisi. Saat itu, ada kesempatan bagi saya untuk mengikuti ajang sharing ini. Jabatan saya ketika itu masih kepala seksi. Saya bicara kepada atasan saya mengenai ajang ini, dan atasan saya mengatakan bahwa kami harus berpikir untuk ikut ajang itu atau tidak karena kinerja perusahaan yang bagus mensyaratkan presentasi yang bagus juga. Kalau presentasi tidak bagus akan jadi negatif. Saya menyarankan pada atasan saya untuk mengikuti ajang itu. Saya bicara ke direktur Daihatsu Indonesia. Dia setuju untuk mengukuti ajang itu. Namun, dia bingung mengenai siapa yang mempersiapkan materi presentasinya. Saya mengajukan diri untuk mempersiapkan materinya. Ia meminta saya menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Ia bicara itu ketika makan siang. Sebenarnya saya sudah tahu mengenai hal yang aka dipresentasikan. Saya punya data dan hasil di bagian PPC. Saya kerjakan malam itu hingga pukul 12.00 malam. Keesokan harinya, setelah keliling pabrik dan pekerjaan beres,saat makan siang saya bertemu dengan direktur itu lagi dan menanyakan waktu saya perlukan untuk membuat presentasi. Dan, saya katakan, saya bisa menyelesaikan materi presentasi tadi hanya semalam dari waktu yang diberikan seminggu. Akhirnya setelah rapat direksi, saya dipanggil untuk presentasi. Kaget semua. “Ini bagus kalau kayak begini,” kata para direktur. Para direktur menanyakan siapa yang akan memprsentasikan materi ini. Para direktur dan GM pun menyatakan tidak sanggup untuk mempresentasikan materi ini.

    Akhirnya saya yang maju presentasi dalam ajang itu. Namun, ternyata dari perusahaan lain di Grup Astra, rata-rata yang presentasi adalah direktur, bahkan ada presiden direktur. Ada 5 perusahaan yang ikut serta. Hanya saya yang jabatannya kepala seksi. Saya diberi kepercayaan oleh pimpinan saya untuk mengikuti ajang ini. Maka, presentasilah saya di depan VP Astra dan direktur perusahaan lain di Grup Astra. Setelah presentasi, Pak Teddy Rachmat mengatakan, “Yang saya mau sebenarnya seperti ini, yang seperti Sudirman presentasi. Ini bagus presentasinya.” Dari sana Pak Teddy mengetahui saya. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu saya diangkat menjadi Asisten ManajerManufacturing DepartmentDaihatsu Indonesia pada 1985. Setelah itu, pada 1989, saya diangkat menjadi manajer manufacturing. Di tahun 1989 itu, saya sudah mulai mengenal pimpinan Astra Motor 3 (roda 4 non-toyota), Pak Himawan Surya dan wakilnya, Pak Edi Santoso. Saat itu Astra mau bekerja sama dengan agen tunggal UD Truck Nissan Diesel. Ketika itu ada kunjungan ke Daihatsu Indonesia, karena salah salah satu joint venture Astra dengan Daihatsu. Saya disuruh menerima pihak dari UD Truck. Saya presentasi ke mereka dan mereka kaget bahwa saya bisa bicara bahasa Jepang. Setelah itu saya mulai disuruh merangkap memegang production planning dan kontrol di National Astra Motor sebagai agen tunggal Daihatsu, yang sama seperti ADM. Saya ditarik, namun merangkap di dua kaki setelah diangkat menjadi manajer di Daihatsu. Tahun 1990, saya juga merangkap menjadi GM PPC di Gaya Motor. Jadi saya mulai 3 kaki, di Daihatsu Indonesia sebagai manajer, National Astra Motor sebagai manajer PPC, dan di PT Gaya Motor sebagai manajer PPC. PT Gaya Motor merupakan assembler untuk mobil-mobil Daihatsu, Isuzu, BMW, Peugeot, UD Truck, Nissan Diesel, dan Ford. Lalu, pada 1991, saya diangkat menjadi GM Daihatsu Indonesia.

    Secara umum, butuh berapa lama untuk jadi GM dari manajer?

    Biasanya, kalau kita melihat sekarang di Astra ada yang namanya penilaian dan bimbingan karya. Setiap tahun dinilai. Kalau penilainnya istimewa terus, kira-kira bisa lima tahun untuk naik jabatan. Saya waktu itu diangkat dalam waktu dua tahun. Bisa juga orang-orang di atas melihat kebutuhan organisasi dan kompetensi, sehingga saya dipercaya untuk jadi GM. Itu yang saya syukuri.

    Kembali lagi, saya selalu belajar mengenai skill yang dibutuhkan untuk jadi atasan. Hingga pada suatu saat saya izin kepada atasan saya, ketika saya masih jadi asisten manajer, untuk pulang lebih awal karena saya sudah daftar lokakarya finance untuk non-finance manager yang diadakan oleh Prasetya Mulya. Ketika atasan saya mengetahui itu, biaya lokakarya itu justru dibiayai kantor dan diizinkan untuk pulang lebih awal. Itu sekitar 1987 atau 1988. Saya belajar keuangan karena saya pikir untuk jadi manajer harus mengerti keuangan.

    Sudirman MR, Astra, Daihasu, Motor, CEO, Daihatsu Motor Corporation, ADM DMC, Grup Astra, otomotif,

    Sudirman MR

    Sejak Daihatsu berdiri, Bapak di Daihatsu terus?

    Ya. Baru pada 1989, ketika saya jadi manajer, memegang jabatan lain selain di Daihatsu. Saya tahu perkembangan dan naik turunnya kinerja Daihatsu. Misalnya, saat Daihatsu ingin mengeluarkan produk, saya dimarahi karena saya memberi komentar tentang produk tersebut. Itu pelajaran buat saya bahwa mungkin cara penyampaian saya tidak tepat. Namun, apa yang saya katakan waktu itu terbukti di kemudian hari. Pendapat saya benar, tapi ya sudah. Yang penting saya dapat pelajaran. Dan, saya juga tidak pernah menyalahkan pendahulu-pendahulu saya karena kondisi yang memang berbeda. Saya berpikir bahwa keputusan yang terbaik memang telah diambil oleh atasan saya dengan segala pertimbangannya. Dari pengalaman seperti itu pula, jika sekarang terdapat pendapat dari anak buah, saya mendengarkan baik-baik.

    Kapan pertama kali mengeluarkan produk di Indonesia?

    Daihatsu Indonesia didirikan pada 1978 dan 1979 akhir baru mulai mengeluarkan produknya, Hijet 55, dengan body dibuat di Indonesia. Sebelumnya, sudah menjual yang namanya Hijet S38, Jeep, Taft yang impor CBU. Kemudian baru dilokalkan. Jadi untuk tahap pertama, pabrik itu dibuat untuk melokalkan pembuatan kendaraan bermotor niaga sederhana (KBNS). Setelah itu, pada 1984, Daihatsu Taft sudah mulai dilokalkan, yakni sebagian komponennya sudah dibuat di dalam negeri.

    Bagaimana posisi Daihatsu saat itu?

    Daihatsu pernah mencapai posisi nomor 1 pada 1983. Setelah itu turun menjadi nomor 3 dan 4. Sampai pernah juga turun ke nomor 5. Adalannya saat itu adalah Hijet 1000. Namun, hanya beberapa saat saja. Kemudian Toyota unggul lagi karena Toyota sejak awal memang nomor satu terus. Awal 2000-an berada di posisi 5. Baru setelah Daihatsu membangun Xenia-Avanza sekitar 2004, mulai naik peringkatnya.

    Apa posisi bapak waktu itu?

    Secara karier, pada 1991 saya menjadi GM di Astra Daihatsu Motor (ADM), gabungan antara Daihatsu Indonesia, National Astra Motor, Daihatsu Motor Company. Lalu pada Jli 1996, saya diangkat menjadi Direktur PT Gaya Motor. Setahun saya di Gaya Motor, saya lepas dulu dari ADM karena saya full di Gaya Motor. Namun, pada Juli 1997, saya ditarik kembali ke ADM, masih sebagai GM,yang mana saat yang sama saya juga masih menjabat sebagai direktur di Gaya Motor. Pada saat krisis moneter itu, posisi saya di ADM adalah GM yang aktif menangani operasional, terutama di manufacturing dan engineering. Masa itu merupakan masa-masa sulit dalam karier saya karena menghadapi krisis moneter. Saya harus mengurangi karyawan yang notabene orang-orang itu adalah kawan-kawan sendiri. Ada juga yang dulunya adalah atasan saya. Namun, sebagai profesional, saya harus menghadapi kenyataan itu. Perusahaan ini mengalami masa terberatnya saat itu karena beban utang yang besar, sehingga pernah suatu saat pada masa itu, biaya bunga per hari yang harus dibayar ke bank yaitu Rp 400 juta. Hal itu terjadi pasca-krisis, 1998 hingga 2001.

    Pada masa krisis, Astra yang tadinya memiliki saham 75% di ADM, direstrukturisasi menjadi 50%. Pada saat itu juga, 1998, saya diangkat menjadi Direktur Manufacturing and Engineering ADM. Jumlah direksi seluruhnay ada 8 orang, , yakni 4 orang dari pihak Astra dan 4 dari pihak Jepang. Saat itu saya juga masih menjabat direktur di Gaya Motor. Tanggung jawab saya saat itu di ADM, yaitu teknikal, engineering, dan manufacturing. Jadi produk apa yang harus dibuat, bagaimana cara membuatnya, bagaimana penyediaan alat-alatnya, itu semua merupakan tanggung jawab saya. Pada saat itu bersama dengan tim DMC memunculkan Xenia Avanza.

    Mengapa Xenia dan Avanza mirip?

    Saham Daihatsu di Jepang, 50%-nya dimiliki oleh Toyota sejak 1957-an. Pada saat itu sudah terjadi kolaborasi produk antara Toyota dan Daihatsu di Jepang. Ketika itu, kami di Daihatsu memikirkan bahwa pasca-krisis harga mobil melonjak tajam. Kijang semula harganya Rp 30 juta – Rp 40 juta, pasca krisis menjadi Rp 150 juta. Pada kondisi ini, yang dibutuhkan adalah kendaraan untuk keluarga yang minimal bisa menampung 7 orang. Kami sudah lakukan survei mengenai ini, dan model mobilnya disukai adalah yang ada moncong di bagian depannya. Trennya saat itu ke arah sana. Kami dan teman-teman di DMC sudah memikirkan ke arah sana, namun dengan kisaran harga yang dapat dijangkau khalayak luas. Saat itu kita patok di Rp 60 juta – Rp 70 jutaan. Kita tahu produk Kijang Toyota akan beralih menjadi Innova yang full model change dan harga yang tinggi. Nah, kami tawarkan ke Toyota untuk berkolaborasi memproduksi kendaraan yang spesifikasinya seperti yang dijelaskan tadi dan Toyota ikut menjual produk ini, sama dengan yang terjadi di Jepang. Toyota pun melihat hal yang sama. Akhirnya terjadilah proyek kolaborasi Xenia-Avanza. Setelah jadi, dipisah menjadi 2, yang Daihatsu bernama Xenia dan Toyota bernama Avanza.

    Tetapi, masalah selanjutnya adalah pabrik yang memproduksi kendaraan ini. Setelah krisis, kapasitas pabrik ADM sebesar 78.000 per tahun. Sementara, saat itu ADM hanya jualan Daihatsu Taruna dan Zebra yang volume produksi setahun hanya 18.000, atau paling banyak 20.000 unit. Jadi, hanya 25% dari kapasitas produksi. Padahal utang kan besar. Maka saat itu saya pergi ke Jepang dan mengusulkan untuk buat produk di Indonesia, yaitu MPV Xenia-Avanza ini. Gayung pun bersambut untuk membuat produk itu.

    Kami menginginkan produksi proyek kolaborasi ini dibuat di pabrik ADM agar kapasitas produksinya bisa terisi. Akan tetapi, Toyota melihat tingkat kualitas pabrik ADM jauh di bawah Toyota. Akhirnya saya membuat tim production strategy committee yang bertugas menaikkan QCD level ADM agar sama dengan pabrik Jepang. Kami waktu itu harus kerja keras. Ketika pengecekan kedua, akhirnya baru disetujui karena ADM sudah mampu, secara QCD level, untuk membuat produk Toyota. Akhirnya, produksi Toyota diserahkan ke ADM. Pada saat itu terjadi lonjakan produksi. Pada 2004 yang kapasitas produksinya hanya 78.000 unit, mengalami kekurangan kapasitas produksi karena permintaan pasar yang terus meningkat. Kami pun menaikkan kapasitas produksi yang hingga saat ini sudah mencapai 330.000 unit per tahun untuk pabrik di Sunter saja. Saat ini kami tengah membuat pabrik baru lagi di Karawang yang kapasitasnya produksinya 100.000 unit per tahun.

    Pada 2006 kita sudah tidak punya utang lagi. Setelah itu, investasi dibiayai dengan kocek sendiri.

    Kemudian bapak naik jabatan?

    Kebetulan pimpinan sebelumnya sudah memasuki masa pensiun. Lalu, Astra sebagai pemegang saham di sini, menunjuk saya sebagai VP direktur mewakili Astra. Saat itu, untuk membuat Xenia-Avanza butuh modal. Sedangkan Astra International sedang melakukan restrukturisasi, sehingga tidak bisa menambah modal. Akhirnya, saham Astra di ADM berkurang 50% menjadi 32% karena di jual ke DMC. Dan, saat itu sudah fix bahwa Presdir dan Preskom ADM adalah orang Jepang. VP Komisaris dan VP Direktur adalah orang Astra. Pertanyaan berikutnya, mengapa saya jadi presiden direktur? Awalnya juga saya kaget, karena tidak mungkin sebab dalam joint venture agreement, posisi presdir ADM adalah jatah mereka. Namun mereka mempercayakan kepada saya. Mereka memilih saya untuk menjadi Presdir ADM bukan melihat saya sebagai orang Astra, melainkan melihat bahwa Sudirman diangkat sebagai Presdir mewakili Daihatsu Jepang. Sementara, hak Astra untuk mengangkat VP Direktur, justru orangnya dari Jepang. Jadi tidak usah diubah. Legal-nya tetap. Perjanjian seperti itu bisa-bisa saja. Padahal awalnya saya berpikir bahwa paling tinggi saya hanya bisa menjabat vice president director saja. Saya syukuri. Saat Pak Prijono Sugiarto naik jabatan menjadi Presdir Astra International menggantikan Pak Mihael D. Ruslim yang meninggal dunia, saya dipercaya oleh pemegang saham Astra untuk menjadi Direktur Astra International pada Maret 2010. Lalu pada Pebruari 2011, saya diangkat menjadi Presdir di ADM dan pada Juni 2011, saya menjadi Direktur di DMC.

    Pada 2011 lalu, umur Daihatsu mencapai 104 tahun. Selama 104 tahun itu baru pertama kali ada orang asing yang menjabat direktur di DMC.

    Apa bapak bisa menangkap alasan pihak DMC mengangkat bapak?

    Barangkali karena mereka menganggap pasar Indonesia merupakan pasar terbesar dan ADM merupakan perusahaan besar milik mereka dan dianggap banyak berkontribusi terhadap DMC. Saya sudah jadi Presdir di ADM, ya mereka sekalian mengangkat saya jadi direktur di DMC. Itulah yang mengagetkan bagi saya. Mimpi pun tidak.

    Apa yang membuat bapak bertahan di Astra?

    Manajemen Astra selalu terbuka dan memberi kesempatan orang untuk terus berkarier dan berkarya. Jadi di Astra tidak ada diskriminasi apapun, termasuk dalam hal latar belakang pendidikan dan juga lainnya. Astra hanya melihat kapabilitas.

    Apa ada perbedaan jalur masuk antara calon karyawan dengan latar belakang sekolah menengah dan perguruan tinggi?

    Tentu beda. Saat ini, kalau masuk dari sekolah menengah, masuk golongan 2. Kalau masuknya dari D3, entry level-nya langsung golongan 3. Kalau dari perguruan tinggi, masuknya golongan 4. Pangkatnya sudah supervisor. Tapi kalau dari STM, pangkatnya worker, pegawai biasa. Kalau dia beprestasi di pabrik, dia bisa jadi grup leader. Kemudian jika berprestasi lagi bisa menjadi foreman yang setingkat dengan lulusan D3. Kalau dia bagus menjadi foreman, bisa jadi supervisor. Untuk bisa naik golongan, misalnya dari golongan 2 menjadi gologan 3, kira-kira butuh waktu 5 tahun.

    Berarti bapak diuntungkan dengan kondisi perusahaan yang baru awal membangun sehingga jabatannya cepat naik?

    Ya, saya juga tidak mengerti. Tapi, sebetulnya, waktu saya masuk juga ada penggolongan. Namun, pemimpin perusahaan memiliki hak prerogratif untuk melakukan akselerasi kenaikan pangkat karyawan yang dianggap punya prestasi khusus. Kalau memang orang itu prestasinya bagus terus, bisa saja diberikan akselerasi kenaikan jabatan. Dan, Astra melakukan itu. Astra memberikan kesempatan yang sama kepada karyawan.

    Pada saat saya sudah mencapai posisi direktur di ADM pada 1998, banyak karyawan di bawah saya yang dulu bekas atasan saya. Tapi saya respek terhadap mereka. Saya tidak semena-mena kepada mereka. Saya tetap panggil dia “Pak”. Namun keputusan ada di tangan saya karena saya bertanggung jawab sebagai direktur. Malah, pada saat saya masuk, saya masih sebagai staf, mereka ada yang sudah menjabat sebagai asisten manager. Lalu, pada saat saya menjadi asisten manajer, dia sudah menjadi asisten GM. Pada saat saya jadi manager, dia sudah jadi GM. Namun ketika mereka stuck di GM, saya kebetulan jadi GM dan kemudian direktur. Itu fakta hidup yang saya syukuri tapi bukan berarti kita jadi sombong.

    Kita berkarier harus clean. Harus tetap dibangun berdasarkan kebersamaan dan kerja tim yang baik. Dari dulu saya lakukan itu, saya ingin keberhasilan diraih tanpa melukai orang lain. Hal ini dipengaruhi oleh falsafah ibu saya yang selalu saya ingat, pertama, kalau kita ingin maju harus bisa menghargai. Ibaratnya kalau kita mancing ikan di kolam, ikannya dapat tapi airnya tetap tenang dan tidak menimbulkan riak-riak. Kedua, makin tinggi pohon makn besar anginnya. Namun kita harus selalu rendah hati.

    Itu prinsip Anda dalam berkarier?

    Ya, saya pakai itu. Saya selalu membicarakan sesuatu jika ada apa-apa. Kita jangan membuat gundah orang lain, menjaga kebersamaan, manajemen partisipasi. Kita selalu diskusikan, beri kesempatan semua, dan kita putuskan mana yang terbaik. Mengenai keputusan, jika ada beberapa pilihan, karena yang bertanggung jawab adalah direksinya atau pimpinan tertinggi, maka dia harus berani ambil keputusan dan tegas. Kalau memang hasil dari keputusan tersebut tidak sesuai harapan, maka pimpinan paling tinggi harus bertanggung jawab. Dalam bekerja saya tidak mengharapkan pamrih. Karena, kalau kita berbuat yang terbaik, atasan saya akan tahu, tapi yang lebih tahu adalah yang di atas. Bagi saya, kerja adalah bagian dari ibadah.

    Bapak anak ke berapa?

    Anak kedua dari tujuh bersaudara. Adik-adik saya, semuanya lulusan universitas. Jalan hidup kan macam-macam. Ada yang berkarier dan sukses. Ada yang wiraswasta. Itu keyakinan saya. Adik saya, jauh lebih pintar dari saya. Namun karena dia inginnya wirawasta, ya dia maju, tapi tidak terlalu pesat. Padahal kalau bicara kepintaran, adik saya lebih pintar dari saya. Tapi, kembali lagi, bahwa Tuhan yang menentukan segalanya.

    Pekerjaan orang tua?

    Ayah saya adalah pejuang, veteran. Lalu dia punya usaha jual material bahan bangunan dan punya usaha angkutan. Tetapi pada masa menjelang saya selesai SLA, ayah saya kurang beruntung, usahanya bangkrut. Haji Maman Kostaman dan Yayah Sumarliah. Ayah masih ada, usianya 83 tahun. Ibu saya meninggal 3 tahun lalu.

    Pembelajaran apa yang didapat di Astra?

    Ketika orang masuk Astra, terdapat masa orientasi. Diajarkan mengenai Astra dan sistem manajemen Astra. Kemudian karyawan diberikan pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan Astra. Terdapat standar pola pendidikan dan pelatihan di Astra selain juga diberikan di masing-masing perusahaan Astra, baik secara internal maupun di luar. Sehingga Astra melihat, selain bisnis yang memang bagus, pola pengembangan pun SDM dipikirkan. Saat ini Astra terkenal dengan manajemen sistem Astra, 3W, yaitu winning concept, winning system, winning team. Sejak awal tahun lalu, Pak Prijono mencanangkan 3P untuk direksi, yaitu portofolio roadmap, people roadmap, public contribution roadmap. Jadi people sejak dulu menempati posisi yang paling penting sebab Astra menyadari bahwa secanggih apapun perusahaan, yang utama adalah man behind the gun.

    Bagi saya, pendidikan adalah dasar untuk bekerja. Namun, ketika di dunia kerja, orang harus dilihat dari karakternya. Bukan hanya kapabilitas. Kalau saya punya dua orang yang sama-sama kualitas dan levelnya, saya akan lihat karakternya, karena kapabilitas bisa dibentuk. Astra merupakan ladang yang subur untuk berkembang. Bukan hanya bisnisnya. Bisnis dihasilkan karena punya sistem dan konsep yang baik juga tim yang baik.

    Ekspektasi apa yang diajukan oleh principal DMC?

    Principal mengharapkan ADM tetap harus menjadi perusahaan yang terbesar bagi Daihatsu di luar Jepang. Untuk bisa mempertahankan posisi seperti itu, ADM harus mencapai kinerja yang terbaik. Setidaknya sama dengan yang ada di Jepang. Memang tanggung jawab saya dipusatkan untuk Daihatsu di Indonesia karena kontribusi Daihatsu di Indonesia kurang lebih 30%-35% terhadap total bisnis Daihatsu. Bagi saya sendiri, bagaimana ke depan ADM? Saat ini ADM merupakan pabrik manufaktur terbesar di Indonesia sejak 2004, setelah produksi Xenia-Avanza. Produk yang dibuat ADM juga khusus untuk pasar Indonesia dan tidak dibuat di negara lain, seperti Xenia-Avanza, GranMax, dan Terios. Sehingga, produk-produk tersebut bisa di ekspor ke beberapa negara lain dan tidak berbenturan dengan principal. Hal ini membuat saya berpikir, ketika membuat produk, berapa pasar dalam negeri dan potensi ekspor. Dengan volume yang banyak, depresiasi/cost makin kecil. Saat ini, kualitas pabrik Daihatsu di Indonesia pun sudah setara dengan standar Jepang. Quality, cost, dan delivery (QCD) pabrik Daihatsu Indonesia se-level dengan pabrik di Jepang sehingga sekarang produk pabrik Daihatsu Indonesia bisa masuk Jepang, yaitu 1000 unit Toyota Town Ace dan Lite Ace.

    Sudirman MR, Astra, Daihasu, Motor, CEO, Daihatsu Motor Corporation, ADM DMC, Grup Astra, otomotif,

    Sudirman MR

    Apa mimpi Anda selanjutnya?

    Setelah pencapaian itu, mimpi saya adalah memiliki produk yang didesain dan dikembangkan oleh orang-orang ADM, oleh putra-putra terbaik bangsa Indonesia. Jadi ADM nantinya betul-betul bisa buat mobil, dalam arti merancang mobil dari awal. Terutama yang ingin saya kembangkan rancang bangun di bidang sasis dan bodi mobil. Kami sudah deal dengan Jepang, dan mereka memberi kesempatan untuk itu. Maka, pabrik yang baru di Karawang yang nilainya Rp 2,1 triliun, saat ini sedang dibangun fasilitas untuk R&D-nya. Saya inginkan nanti minor change, pada salah satu tahap life cycle mobil, dilakukan di ADM. Setelah itu, saya ingin full model change dilakukan oleh ADM. Mudah-mudahan sebelum tahun 2020 sudah bisa terlaksana. Saat ini saya tengah memperkuat dasar-dasar untuk mencapai ke arah sana, sehingga setelah saya tidak di sini lagi, cita-cita ini bisa tetap diwujudkan. Dan, salah satu legacy yang ingin saya tinggalkan di sini adalah ADM memiliki R&D yang bisa menghasilkan produk dan dikembangkan oleh orang-orang Indonesia.

    Apa yang membuat Anda bangga di ADM?

    Saya bisa mempekerjakan 9.000 karuawan lebih, dari yang sebelumnya saya sempat mengurangi karyawan pada masa krisis ekonomi dari sekitar hampir 5000 karyawan, tinggal sisa 1.800 karyawan. Selain itu, dengan kinerja ADM yang terus meningkat, kami melibatkan 155 pemasok di lapis pertama dan 850 di lapis kedua. Kalau ini ditotal, berpa ratus ribu karyawannya. Itu kebanggaan bagi saya. Tapi yang menjadi tanggung jawab besar bagi saya, bagaimana saya sebagai penarik gerbong (pemimpin) yang bisa membawa gerbong di belakangnya ke arah yang tepat.

    Rencana bapak ketika pensiun?

    Saya ingin menikmati hidup karena saat ini saya rata-rata bangun pukul 03.30. Pukul 05.40 saya sudah berangkat ke tempat kerja. Pulang ke rumah rata-rata pukul 20.00. Kadang hingga pukul 22.00. Nanti, ketika pensiun, saya ingin santai-santai, ritme hidup yang lebih santai. Mungkin nanti saya bisa jadi konsultan atau advisor, yang mana saya tetap dapat mengembangkan ilmu yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak. Namun saya tidak mau terikat waktu seperti saat ini. Sekarang ini pun saya tidak terikat waktu. Namun karena dalam rangka tanggung jawab, saya harus berikan contoh. Di Indonesia yang paling penting sebagai pimpinan adalah harus menjadi panutan. Jadi aturan perusahaan dibuat bukan untuk karyawan, tapi untuk seluruh anggota perusahaan, dari atas hingga bawah.

    Apa bapak ada bisnis lain?

    Tidak ada. Karena saya tidak mau ada conflict of interest. Kalau saya sudah berkarier di sini, saya sepenuhnya bekerja untuk perusahaan. Andai kata saya mau bisnis pun, saya sudah terlambat. Kalau mau bisnis, seharusnya pukul 40 tahun.

    Bagaimana Anda memanfaatkan waktu luang?

    Hobi saya golf. Namun awalnya saya tidak suka dan terpaksa melakukannya karena banyak mitra Jepang yang hobi main golf. Mulai suka golf pada 1991. Ternyata terdapat beberapa pelajaran dari golf tersebut, yaitu toleransi dan bagaimana mengendalikan emosi. Sebab, main golf adalah lawannya diri sendiri. Kalau tidak sempat golf, saya jogging saja. Kadang saya juga suka baca buku. Baca buku yang ringan-ringan saja, manajemen umum atau buku agama.

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      One Comment

      1. Ian Perrmana says:

        Kisah yang tulus dan sangat menginpirasi..saya juga tamatan selevel SMA pak, alhamdulillah dipercaya jadi manajer walau di perusahaan kecil..hehehe..

      LEAVE A REPLY


      two × 1 =