Home » Column » Amanah dan Ibadah

Amanah dan Ibadah

 

Paulus Bambang WS

Jabatan adalah amanah” sudah menjadi kata-kata bijak yang termasuk sangat populer dikalangan pejabat yang baru dilantik. Kalimat ini menyiratkan keyakinan spiritual yang sangat tinggi, yakni jabatan ini diberikan kepada pejabat tersebut dari Tuhan untuk dikerjakan agar memberi maslahat bagi banyak orang. Dalam agama mana pun, selalu tersurat dengan tegas bahwa siapa yang memegang amanat Tuhan akan bertanggung jawab kepada-Nya di hari penghakiman nanti.

Ketika berselancar ke bilik Muhamad Yusuf, saya menemukan tafsiran apik dari Prof. Dr. Quraish Shihab: “Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan dikembalikan bila tiba saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya”. Amanah adalah lawan khianat. Ia tidak diberikan kecuali kepada orang yang dinilai oleh pemberinya dapat memelihara dengan baik apa yang diberikannya itu.

Artinya, amanah adalah tugas dari Atas, berasal dari Tuhan, untuk Tuhan, dan bagi Tuhan guna kepentingan masyarakat yang dilayaninya. Kalau sudah begini, menjadi pemimpin di tingkat apa pun harus memandangnya sebagai kepercayaan Tuhan, bukan hanya kepercayaan konstituen.

Ketika secara sadar ada yang berani menggunakan uang dan ruang publik untuk kepentingan kampanyenya, atau ada yang berjibaku dengan menawarkan uang haram untuk memilihnya, atau lebih ngeri lagi menggunakan segala cara untuk menjatuhkan kandidat lain dengan kampanye kotor,artinya calon tersebut tidak punya konsep jabatan adalah amanah Tuhan. Kepercayaan Tuhan tidak mungkin diperebutkan dengan black moneyalias uang kampanye korupsi,black campaigndengan menfitnah pihak lain, black magicalias meminta bantuan dunia gelap, dan segala hal lain yang berbau black. Maka bagi saya, calon seperti itu sedang menantang amanah.

Kalaupun ia menang, artinya terpilih sebagai pejabat, ia sedang menghakimkan dirinya sendiri terhadap laknat. Apalagi, kalau tidak mau bertobat dan memperbaiki kesalahan yang diperbuatnya ketika memenangi pemilihan, ia akan terjungkal ketika di tengah jalan Tuhan memberi amanah kepada yang lain. Bukan hanya itu, ia akan mempertanggungjawabkannya nanti di akhirat.

Sebaliknya, kalau para kandidat meyakini bahwa yang terbaik akan dipilih Tuhan melalui proses yang jujur, adil dan bersih, bagi mereka tidak ada istilah pertarungan atau peperangan menuju ke kursi satu, tetapi lebih ke pertandingan.

Pertandingan berarti ada rule of the gameyang harus ditaati. Ada sportivitas dalam kompetisi. Tidak ada lawan atau musuh. Yang kalah tetap tegak kepala dan yang menang boleh bangga tanpa menghancurkan calon lain. Mengapa? Karena, yang menang sedang mendapat kepercayaan Tuhan. Itu adalah anugerah yang patut disyukuri dan dihormati, termasuk oleh yang kalah.

Yang menang adalah yang programnya rasional dan bisa dicapai untuk kemaslahatan rakyat banyak, mulai dari yang elite sampai ke rakyat yang tidak punya KTP di bantaran Kali Ciliwung. Tak boleh ada yang dinomorsatukan atau dinomorduakan. Mendukung buruh kecil bukan berarti menggerogoti pengusaha besar. Propoor bukan berarti mengorbankan yang the haves. Pro job bukan berarti menghancurkan lingkungan sekadar untuk menambah lapangan kerja.

Kalau sudah berpijak pada “jabatan adalah amanah”, dalam pelaksanaannya nanti kredo lain yang akan diusung adalah “kerja adalah ibadah”, dalam bahasa bijaknya adalahwork not just a responsibility but a ministry”. Ibadah kepada yang memberi amanah, yakni Tuhan, dimanifestasikan dalam bentuk melayani publik dengan sepenuh hati.

Artinya, seseorang yang mau jadi pemimpin atau pejabat publik dari tingkat nasional sampai ketua RT harus sadar ia sedang mencari “pelayanan”. Melayani sesama dengan waktu, upaya dan segala kepandaiannya agar sesama merasakan kehidupan yang lebih baik. Begitu mulianya, bukan? Kalau tidak siap, tidak ada orang yang mau jadi pelayan karena sejujurnya lebih nyaman dilayani daripada melayani. Itu sebabnya, seseorang yang melamar menjadi kandidat pemimpin adalah orang yang luar biasa baiknya karena memilih jadi abdi dan pelayan serta meninggalkan posisinya sebagai tuan.

Arti ibadah yang kedua selain pelayanan juga pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan kepada masyarakat yang dilayaninya yang berujung pada Tuhan. Kalau pemimpin sudah takut dicopot oleh partai dan kerja hanya untuk memenangkan partai dan berjuang untuk mengembalikan “budi” yang sudah diinvestasikan pengusaha pendukung selama kampanye, artinya ia tidak sedang beribadah, tetapi sedang berbisnis melalui jabatannya dengan pertimbangan keuangan yang disebut return on investment. Seberapa besar dan seberapa cepat investasi dana serta daya dapat dikembalikan. Kalau sudah begini, jangankan memikirkan rakyat, pikirannya tertuju pada pengembalian modal dan penumpukan modal untuk jabatan kedua.

Saya berdoa agar pemimpin yang terpilih berkredo “jabatan adalah amanah” dan “kerja adalah ibadah”. Kalau separuh saja yang mengusung kredo ini, soal masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila bukanlah utopia semata. Saya harap ini bisa kita lihat di pilkada DKI 1 beberapa minggu ke depan. Mari kita kawal bersama.

Paulus Bambang W. S adalah Penulis buku best seller Built to Bless, Lead to Bless Leader and Balancing Your Life.

SHARE SOCIAL MEDIA

One Comment

  1. Little Kiara says:

    Berkaca dari filosofi cara kerja tukang parkir yang tidak pernah meminta orang yang berkendara untuk parkir di tempatnya karena setiap orang bebas memilih ‘parkiran’ mana yang layak untuk mereka titipkan amanah…dan amanah bukan benda yang bisa diminta atau sedekah bagi orang yang mengemis. :)

LEAVE A REPLY


1 + eight =