Home » Consultation » Bisnis Cetak Foto

Bisnis Cetak Foto

Pertanyaan:
Saya buka usaha warnet, cetak foto, dan keagenan pulsa. Saat ini omzet lumayan selalu mengalami kenaikan. Strategi yang saya pakai, memberikan harga paket untuk warnet dan penjemputan uang deposit untuk keagenan pulsa. Nah, saya ingin juga mengalami peningkatan pada bidang cetak foto yang rencananya mau diprospek menjadi studio foto juga. Hanya saja, saya mengalami sedikit kebingungan karena omzet dari cetak foto masih labil, sehingga agak takut untuk berpekulasi. Spekulasi yang ingin saya ambil adalah membeli alat laminating untuk pencetak yang ingin dilaminating, memakai 2 unit komputer pencetak untuk pelayanan lebih cepat, membeli kamera digital yang lebih canggih dan menggunakan alat potong yang lebih canggih agar pemotongan kertas lebih cepat.
Adakah strategi yang lebih mumpuni mengingat saya belum mendapatkan pasaran yang bagus dari orang-orang yang mencetak foto?
Terima kasih.
Ikhsan Gunawan
Jawaban:

Halo pak Ikhsan Gunawan…

Terima kasih atas pertanyaannya yang telah dikirim ke kami. Dengan senang hati saya akan coba berikan solusinya. Kalau diringkas masalah utama berkaitan dengan memperoleh pasar untuk layanan cetak foto yang ke depannya akan menjadi studio foto juga.Ada2 fokus pembahasan di sini. Pertama memperoleh pasar layanan cetak foto bagi yang memotret sendiri dan kedua bagi yang memakai studio foto.

Kita bahas yang pertama dulu. Memang, saat ini semakin banyak orang ‘jeprat jepret’ mengambil foto dengan kamera digital ataupun kamera di ponselnya. Sebagian ada yang tetap menyimpannya dalam format digital, namun ada juga yang mencetaknya. Nah, tantangan kita di sini adalah membuat semakin banyak orang mencetakkan fotonya di tempat kita. Untuk itu kita harus tawarkan nilai lebih kalau mereka mencetak fotonya. Ini untuk mendorong keinginan mereka mencetak foto yang telah mereka buat. Misalnya dengan memberi layanan editing foto. Orang yang telah memotret dengan kameranya sendiri atau ponsel –umumnya hasilnya “biasa saja”- dapat mencetak foto ke kita dengan mendapat layanan professional editing mulai dari pengontrasan gambar foto yang telah mereka ambil, penajaman gambar foto yang kabur, penghapusan bagian yang tidak diinginkan, pemotongan (cropping) ukuran foto sampai manipulasi gambar sesuai keinginan konsumen seperti me-make up foto sehingga wajah di foto semakin cantik, memberi bingkai unik di dalam foto, mengganti latar belakang foto, dll. Jadi nilai lebihnya adalah membuat foto hasil jepretan sendiri yang kualitasnya biasa saja menjadi lebih bagus dan indah. Layanan ini bisa diberikan gratis asalkan mencetak dalam jumlah banyak misalnya 5 foto. Kalau hanya satu foto, bisa sedikit dibebankan ongkos editing.

Adanya layanan seperti ini tentu menarik konsumen yang telah menyimpan hasil jepretannya yang ada di kamera digital atau ponselnya. Jangan lupa pasang spanduk, standing banner dan sebar brosur, misalnya berbunyi: “Ayo cetak foto yang Anda buat dengan gratis editing di kami. Foto yang Anda buat menjadi lebih indah!”. Adanya pesan iklan ini bisa membuat orang tertarik.

Sekarang kita bahas yang kedua, tentang studi foto. Orang yang memakai layanan studio foto mengharapkan hasil gambar yang indah, sangat jelas, dengan gaya yang menarik. Kalau kita merancang bisnis studio foto maka kita harus tetapkan dulu siapa target market utamanya. Lihatlah orang-orang yang berada di sekitar lokasi bisnis kita. Kalau banyak remaja putri (ABG) maka kita sasar ke ABG. Kalau banyak keluarga bisa kita bidik ke keluarga.

Sebagai contoh kalau studio foto kita untuk kalangan remaja putri maka kita buat layanan yang pas buat mereka seperti peminjaman kostum remaja yang ceria, latarbelakang foto sesuai dengan dunia remaja, make-up foto yang buat wajah tampak semakin cantik, dll. Sebaliknya kalau studio foto kita untuk bayi dan balita akan beda. Kita dekor studio kita penuh dengan nuansa bayi seperti kelembutan, keceriaan, kasih sayang, boneka, dll. Jadi kalau ada orang tua yang ingin memotretkan bayinya, hasil foto akan membuat bayinya tampak imut, lucu, cute, dan sejenisnya. Studio foto untuk bayi cukup marak di beberapa mal belakangan ini dan cukup laris. Selain itu studio kita tentu saja juga menawarkan layanan standar untuk foto keluarga dan pas foto. Yang terpenting tawarkan nilai tambah studio kita dibanding studio lain. Misalnya ada penata gaya profesional, keleluasaan konsumen memilih foto terbaik sesuai keinginannya, dll.

Kalau ada pelanggan yang telah menfoto, jangan lupa memperoleh database mereka. Tujuannya kita bisa menjalin komunikasi berlanjut, misalnya kalau ada keluarga yang menfotokan bayinya. Kita perlu database tanggal lahir bayi dan kontak orang tuanya. Mendekati hari ulang tahun berikutnya, kita hubungi supaya mereka menfotokan lagi ke kita. Jadi pada saat event-event tertentu kita tawarkan jasa kita ke para pelanggan seperti Valentine untuk ABG, ultah, anniversary, dll. Beberapa database ini bisa kita peroleh dari tempat lain. Misalnya untuk layanan foto bayi, kita bisa ‘meminta’ database ke rumah sakit bersalin. Dengan database ini kita bisa tawarkan layanan foto kita lebih tersegmen sehingga peluang kita mendapat pasar semakin besar.

Terakhir, kita bisa manfaatkan komunitas untuk bisnis kita. Tawarkan bisnis studio foto atau cetak foto ke para komunitas. Misalnya komunitas ibu yang mengandung dan akan melahirkan bayi, komunitas remaja putri, komunitas anak SMA, komunitas ibu yang memiliki balita, dll. Kita masuk ke jejaring sosial atau komunitas-komunitas yang sekarang ini marak. Yang penting rajin mencari komunitas-komunitas on line ini yang mudah dijumpai di internet. Kita masuk ke topik pembicaraan mereka sembari menawarkan layanan foto kita.

Cara-cara di atas dapat dilakukan dengan biaya yang sangat murah. Semoga solusi ini memberi pencerahan bagi pak Ikhsan dan pebisnis studio foto lainnya.

Salam bisnis dari Istijanto Oei, pengajar dan konsultan bisnis Prasetiya Mulya Business School, penulis buku: “Jurus-jurus Sakti Wirausaha”, www.istijanto.com

SHARE SOCIAL MEDIA

3 Comments

  1. Omah Jilbab says:

    Saya juga bergelut di dunia warnet dan cetak foto.Terimakasih tips pemasarannya, patut dicoba!

  2. andy says:

    Saya memulai usaha cetak foto sejak tahun 2004, hingga kini memiliki mesin cetak digital fuji frontier 340E…

    Pengamatan saya mengenai prospek cetak foto digital adalah makin hari makin menurun…. apalagi jika dibandingkan dengan masa Film dulu..
    Betul sekali yang dikatakan Pak Istijanto. Meskipun banyak orang jeprat jepret, namun hanya sedikit orang yg mau mencetak ke gerai cetak foto. Hal ini karena mereka banyak yg lebih suka menyimpan di media digital (HP, Ipad, laptop dll) dan juga semakin terjangkaunya mesin cetak foto portabel. Sehingga sangat memungkinkan untuk mencetak sendiri foto mereka dirumah..

    Jika saat ini kita akan invest mesin cetak foto professional yang harganya ratusan juta (seperti Frontier dan Noritsu), alangkah baiknya kita merintis dari usaha studio foto atau jasa foto panggilan. Karena seperti yang saya alami saat ini, mesin cetak yang ada di gerai kami 80% mencetak foto hasil bidikan amatir, tukang foto panggilan dan juga hasil potretan kami sendiri. Sedangkan pelayanan cetak untuk konsumen umum dari HP, camera digital biasa, hanya sebagian kecil saja …

    Pangsa pasar studio foto di gerai kami lebih didominasi untuk layanan Pas Foto. Jikalau kita Rating : Pas Foto 50%, Foto Wedding 40% dan selebihnya foto gaya (remaja & Keluarga). Namun semua tergantung pada lokasi dan spesialisasi.

    Pada tahun pertama buka retail memang omset kami luar biasa.. pada saat itu belum banyak perangkat kamera digital dan harga printer foto juga masih lumayan mahal. Tidak ada orang bisa cetak foto kecuali harus ke Gerai Cetak Foto (fuji, kodak) seperti di tempat kami.

    Namun setelah alih teknologi digital, selain omset menurun pekerjaan juga semakin berat. jikalau dulu orang datang kita langsung cetak, maka saat ini kita musti ribet edit terlebih dulu sebelum cetak…

    Jikalau dulu, terima order hanya cukup dengan sampul dan balpoin sekarang sudah harus pakai perangkat komputer.

    Karena saya punya pandangan buruk terhadap nasib gerai cetak foto digital dimasa yang akan datang, saat ini saya mulai melirik usaha yang lain. yaitu toko Baju, Sepatu dan Tas..

    Demikian tadi sekedar sharing pengalaman Pak Istijanto… mohon pencerahannya jika berkenan.

  3. syahdianto says:

    Iya saya juga sangat minat dengan usaha studio foto. Bagaimana cara dan berapa biayanya ya? http://www.galeriinfo.com

LEAVE A REPLY


− six = 3