Home » Corporate » Business Profile » Bocorocco, Pertaruhan Baru Generasi Ketiga Wong

Bocorocco, Pertaruhan Baru Generasi Ketiga Wong

Share :

    Sepatu adalah dunia Harsono Wong. Sejak kecil ia sudah akrab dengan seluk-beluk pembuatan sepatu. Ketika masih tinggal di Medan, sang kakek merintis pembuatan sepatu di belakang tokonya. Usaha yang semula hanya industri rumahan kemudian dikembangkan ayahnya, Amir Saidbun, hingga memiliki pabrik sepatu di Cikupa, Tangerang.

    Sayap bisnis keluarga ini semakin mengepak ketika pada 1990-an mulai melirik pasar ekspor. Dengan bendera PT Pelita Tomang Mas, di tangan Harsono yang mengendalikan usaha sejak 1995, usaha keluarga ini semakin melesat. “Kami meneruskan dan mencari peluang-peluang baru,” ujar Harsono yang sempat merentas karier di BCA dan Coca-Cola. Fokus hanya menggarap pasar ekspor, lebih dari dua dasawarsa, Harsono dipercaya membuat puluhan merek sepatu di negara-negara Eropa.

    Harsono Wong

    Reputasinya di jagat industri sepatu dunia mempertemukannya dengan Roberto Nicolin, yang sudah 30 tahun malang melintang di bisnis persepatuan. Roberto yang asal Milan ini dikenal sebagai produsen dan distributor beberapa merek sepatu asal Italia. Pemilik merek Bocorocco ini menggamitnya bekerja sama dalam produksi Bocorocco. Harsono mendapat lisennsi untuk memproduksi assembling sepatu Bocorocco. Tak hanya itu, ia juga dipercaya mengembangkan merek ini di Asia Pasifik. Peluang ini segera ditubruk lulusan sebuah universitas di Perth, Australia ini. “Ini sebuah kesempatan dan kepercayaan yang luar biasa,” ungkapnya.

    Menurut Harsono, kepercayaan yang diberikan Bocorocco tentu tidak datang serta-merta. Jam terbang yang lama di industri sepatu ekspor dengan kualitas terbaik membuat ia dilirik prinsipal merek yang sudah establish di Italia sejak 2005 dan saat ini sudah menjangkau 16 negara, termasuk di negara-negara Eropa dan Amerika. “Pengalaman kami bergerak sebagai produsen sepatu untuk merek-merek terkenal dunia dengan kualitas baik membuat pihak prinsipal memilih bekerja sama dengan kami,” ujar Harsono yang memayungi 2 ribuan karyawan di pabrik.

    Baginya, kerja sama dengan Roberto adalah babak baru memasuki dunia ritel. Seluruh energi dan amunisi yang dimilikinya dicurahkan untuk penetrasi Bocorocco di Indonesia. Dibantu sang adik, Ridwan, ia menggeber pembukaan gerai sepatu ini. Hadir sejak Maret lalu, dengan payung PT Chosen Mitra Abadi, sampai saat ini Bocorocco memiliki 15 gerai – termasuk dua butik – di Sogo, Metro, Debenhams, Seibu, dan di pusat-pusat perbelanjaan papan atas Ibu Kota lainnya.

    Agustus lalu, ia merangsek pasar Surabaya, lalu Bandung. Padahal, untuk investasi satu gerai saja menyedot Rp 2-2,5 miliar. “Kami sudah berkomitmen dan fokus untuk mengembangkan Bocorocco,” tuturnya. Sampai akhir tahun ini, ia menargetkan bisa memiliki 20 gerai Bocorocco. Termasuk, gerai Bocorocco yang akan hadir di Ciputra Word, pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta yang akan dibuka tahun depan.

    Harsono WongPillow Concept Technology (PCT) yang ditawarkan Bocorocco menjadi magnet baginya untuk mengambil merek ini. “Pillow Concept ini sebuah inovasi dan terobosan baru di dunia sepatu. Sembilan lapisan solnya memberikan kenyamanan waktu berjalan,” ujar Harsono. Ragam produknya juga lengkap, dari sepatu bayi, anak-anak, hingga dewasa laki-laki dan perempuan, dengan variasi sepatu santai, kerja dan pesta, dengan model flats, wedges, high heels, stiletto, boots, ankle boots hingga boots selutut. “Produk kami unggul dalam kenyamanan, kualitas dan desain,” katanya bernada berpromosi.

    Puluhan tahun bergelut di industri sepatu, Harsono paham seluk-beluk sepatu. Banyak sepatu dengan desain mewah tetapi belum tentu nyaman dipakai. Sebaliknya, nyaman dipakai tapi desainnya tidak trendi. “Konsep Bocorocco adalah comfort dan fashion. Bororocco hadir menawarkan sepatu yang mewah tetapi tetap nyaman dipakai,” ujar CEO Asia Pacific Bocorocco ini. “Sepatu ini memiliki shock absorb yang sangat baik. Dengan meredam efek entakan saat kaki melangkah, akan membuat kita merasa nyaman mengenakannya meski menggunakan high heels sekalipun,” tambahnya. Pada 2004, Bocorocco berhasil melakukan pengujian PCT setelah mengadakan riset selama lima tahun untuk sampai pada penemuan konsep tersebut. Teknologi ini sebagai generasi kedua comfortable shoes.

    Diakuinya, semua desain dan model sepatu langsung dari Italia. Sementara bahan baku, ada yang sebagian impor dari Italia dan sebagian memakai bahan baku lokal. Namun, beberapa model sepatu ada yang langsung impor dari Italia. Karena itu, harga yang dibanderol pun lebih mahal, bisa Rp 3-6 juta untuk boots. Sementara untuk produksi Indonesia dipatok Rp 1,2- 2 jutaan. Produksi Bocorocco di Indonesia ini juga diekspor ke gerai-gerai Bocorocco di 16 negara. Menurutnya, Bocorocco harus menjadi ekspresi gaya dan kenyamanan.

    PCT membuatnya yakin pasar akan bisa menerima kehadiran Bocorocco. ‘Saya optimistis, apalagi melihat tren penjualan selama ini yang di luar ekspektasi,” ujarnya semringah. Meski tak mau menyebut omset, Harsono menuturkan, pasar sangat bagus dalam merespons merek ini. “Ada pelanggan yang dalam sehari bisa membeli 12 pasang Bocorocco,” imbuhnya. Saat melakukan pameran selama satu bulan di sebuah mal di Serpong, 1.000 pasang sepatu Bocorocco terjual. “Saya makin optimistis untuk mengembangkan merek ini,” ucapnya.

    Untuk menggeber merek ini, Harsono kini lebih memilih menggelar berbagai event. Misalnya, ajang Tribute to Customer Member. Selama dua hari di Gandaria City, Harsono menggelar talk show dengan menghadirkan dokter yang concern pada kesehatan kaki. “Untuk mengedukasi masyarakat bahwa memakai sepatu yang nyaman itu akan memberikan efek sehat bagi si pemakai,” katanya. Ajang ini juga sebagai apresiasi bagi sekitar 2.000 member Bocorocco untuk mendapat kesempatan meraih berbagai hadiah menarik. Menurutnya, promosi sepatu akan lebih tepat sasaran dengan menggelar pameran karena konsumen akan langsung mencoba dan merasakan kenyamanan bersepatu.

    Peluang baru masuk ritel ini, menuru Harsono, tetap sejalan dengan ekspor sepatu yang selama ini dijalankan. “Timnya berbeda sehingga keduanya bisa sama-sama berjalan dengan baik,” kata ayah dari tiga putra dan seorang putri yang menetap di Australia ini. Ke depan, ia akan tetap fokus mengembangkan kedua lini bisnis tersebut. “Terjun di bisnis sepatu harus fokus, pasarnya juga punya prospek bagus. Saya ingin ke depan semua orang pakai Bocorocco,” katanya sembari tersenyum.

    Untuk memperluas ekspansi, Harsono tengah menggodok model franchise. Investor selain menyediakan dana investasi gerai sebesar Rp 2-2,5 miliar juga akan dikenai franchise fee sebesar 10.000 Euro untuk lima tahun.(*)

     

    Henni T. Soelaeman

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      LEAVE A REPLY


      five + 2 =