Home » Entrepreneur » Duo Srikandi Kagum Group

Duo Srikandi Kagum Group

Fashion, hang out, musik, traveling. Seperti anak muda kebanyakan, Rena dan Resti menikmati keceriaan masa muda dengan tampil fashionable, menikmati musik, jalan-jalan ke berbagai destinasi menarik, dan kongkow bersama teman-teman di tempat yang sedang hip. Yang membedakan, di usia belia, mereka menjalankan bisnis dengan aset ratusan miliar rupiah. Rena mengelola puluhan hotel dan Resti memiliki tanggung jawab atas puluhan factory outlet (FO) dan butik fashion.

Rena Luciani Husada & Resti Stephanie Husada

Sejak dua tahun lalu, dua Srikandi ini mulai mengendalikan bisnis yang dibangun sang ayah, Henry Husada, raja hotel dan FO Bandung. Bukan sekadar membantu, mereka diserahi tanggung jawab penuh mengendalikan bisnis hotel dan fashion di bawah payung Kagum Group. Tanggung jawab mereka jelas tak kecil. Pasalnya, bisnis hotel dan fashion adalah bisnis inti Kagum Group. Dan, mereka diberi kewenangan penuh oleh Henry untuk menjalankan kedua bisnis tersebut. “Kami diberi target dan harus bisa mencapainya. Tidak mudah memang menjalankannya. Tapi, buat kami, ini tantangan,” ungkap Rena.

Rena dan Resti membuktikannya dengan kerja keras. Di tangan mereka, bisnis hotel dan fashion Kagum Group terus menggurita. Tak hanya berkibar di Kota Kembang, Rena saat ini tengah menggarap 15 proyek hotel di berbagai kota: Bali, Yogyakarta, Jakarta, yang diagendakan siap diluncurkan akhir 2013. Usai menyelesaikan program MBA di University of Wales, Singapura, dengan predikat terbaik, sejak 2010 Rena dipercaya mengendalikan bisnis hotel. Selain bertanggung jawab atas pemasaran dan operasional hotel, ekspansi ke kota-kota lain digulirkan atas inisiatif sulung dari 4 bersaudara ini. Mulai dari konsep arsitektur, desain ruang, keuangan, pembelian dan sistem manajemen menjadi tanggung jawab kelahiran Bandung, 23 Agustus 1988, ini.

Gino Ferucci yang berlokasi di Braga, Bandung, adalah besutan perdana Rena. Hotel bintang 4 ini baru beroperasi September lalu. Akhir tahun ini, ia bersiap meresmikan hotel Grand Serrela dan Gino Ferucci – keduanya di Bali. Total ada 7 hotel yang akan dikembangkan di Bali.

Rena juga mengembangkan merek Zodiak yang mengusung konsep hotel bujet yang peluncuran perdananya berlangsung pertengahan September lalu. Ia menargetkan sampai 2017 ada 68 jaringan hotel Zodiak di seantero Tanah Air. Sementara untuk manajemen hotel Kagum, ia menargetkan sampai akhir 2013 ada 35 hotel di bawah manajemen Kagum Hotel. “Bisnis hotel adalah passion saya, jadi saya sangat menikmatinya,” ungkap pemilik nama lengkap Rena Luciani Husada yang saban minggu wara-wiri ke berbagai kota untuk melihat progres pembangunan hotel dan melancong ke berbagai belahan bumi untuk berbelanja keperluan desain hotel.

Terbang ke Bangkok, Cina, Hongkong dan India menjadi agenda tetap Resti Stephanie Husada. Pasalnya, ada 23 toko yang menjadi tanggung jawab kelahiran Bandung, 26 Desember 1989, ini. Meski menawarkan merek-merek mancanegara, Resti tetap memprioritaskan merek lokal. Salah satu terobosan yang dilakukannya adalah menghadirkan galeri batik di salah satu FO Kagum Group. “Kami harus menjadi trendsetter fashion untuk bisa terus berkembang,” ujar putri kedua Henry ini.

Banyak hal telah dilakukan Bachelor of Fashion and Management, Raffles Design Institute Singapore, ini. Hasil sentuhan Resti bisa terlihat di gerai-gerai FO yang memiliki konsep dan keunikan yang berbeda. Tak hanya mengurusi pengelolaan toko, reposisi merek dan segmentasi pasar pun dilakukan pemilik moto I Live Like There’s No Tomorrow ini. Ia juga memperbarui strategi komunikasi. Untuk meningkatkan brand awereness FO dan butik fashion-nya, ia kerap menggelar seminar dan acara lainnya. Back office juga dibenahi sehingga proses pembayaran kepada pemasok, dari beberapa minggu menjadi kurang dari seminggu.

Rena & Resti

Rena & Resti

Untuk memperkuat bisnis fashion Kagum Group, Resti juga membesut butik fashion yang memiliki konsep unik dan baru di Kota Kembang. Salah satunya adalah Lily & Rose Lifestyle Store, toko gaya hidup yang menyediakan berbagai pakaian dan aksesori perempuan seperti tas, kalung, gelang dan aneka pernak-pernik perempuan. Lily & Rose juga menyediakan berbagai perawatan wanita seperti waxing, nail art, dan pijat refleksi. “Konsepnya menjual pakaian dan juga menyediakan perawatan untuk wanita seperti nail art dan waxing. Bisa dibilang ini satu-satunya toko yang mengkhususkan untuk wanita mulai dari barang sampai perawatan untuk wanita modern,” ujarnya. Ke depan, Resti telah mengagendakan sejumlah proyek toko fashion baru. “Fashion telah menjadi ikon kota Bandung, toko kami harus tetap menjadi trendsetter-nya,” ujar Resti yang piawai memainkan tuts piano dan berlatih yoga seminggu 3 kali ini.

Bagi Rena dan Resti, bergabung dengan perusahaan ayahnya bukan sekadar pilihan tapi keinginan. “Dari kecil, cita-cita saya memang ingin menjadi pengusaha fashion,” tutur Resti. Sementara Rena, yang sempat bermimpi menjadi dokter, melihat peluang untuk berkembang di Kagum Group amat besar. “Saya melihat Kagum Grup selama ini hanya fokus mengembangkan hotel di Bandung, saya pikir mengapa tidak mencoba ke luar dari Bandung, dan saya mendapat tantangan untuk mengembangkannya,” ujar Rena penuh semangat.

Diakui keduanya, secara teori mereka memahami lika-liku berbisnis. Bahkan, sejak kecil mereka sudah sering diajak ayahnya ke toko jins di Cihampelas yang menjadi cikal-bakal gurita bisnisnya. “Kami kerap jadi kasir,” ujar Rena dan Resti. Tak jarang, mereka juga ikut memberikan penilaian ihwal baju-baju yang ada di toko sang ayah. Beranjak remaja, mereka kerap diajak Henry ikut meeting dan bertemu berbagai mitra kerjanya. “Kami banyak belajar dari Papa,” kata mereka. Sang ayah, imbuh mereka, telah mengajarkan banyak hal ketimbang buku teori yang berjilid-jilid. “Papa mentor yang luar biasa,” ungkap Rena dan Resti. Sejak kecil mereka diberi kepercayaan. Sang ayah mendidik anak-anaknya untuk mandiri dalam banyak hal. Di mata Rena dan Resti, Henry orang tua yang sangat demokratis. “Saya bisa mendebatnya dalam banyak hal,” tutur Rena.

Dalam bisnis pun, Henry, menurut mereka, memberi kepercayaan penuh kepada mereka. “Saya jadi leluasa bergerak dan melakukan inovasi dan kreativitas,” ungkap Resti. Ekspansi toko diserahkan sepenuhnya kepada Resti. Begitu juga hotel. “Yang penting, kami siap dengan itung-itungan bisnisnya dan berapa kami bisa setor setiap bulannya,” ujar Rena sembari terbahak.

Bagi Henry sendiri, menyiapkan anak-anaknya adalah salah satu strategi untuk mengembangkan usahanya yang kian besar. “Di bisnis apa pun, regenerasi harus dilakukan agar usaha terus maju,” ungkap Henry.

Henni T. Soelaeman

SHARE SOCIAL MEDIA

RELATED POSTS

Sorry, no related post.

3 Comments

    • ida says:

      memang sangat menginspirasi. Bisa punya banyak hotel dalam waktu singkat, dan FO yang jumlahnya juga banyak tetap bisa eksis di bandung. Tapi sayang apartemen yang di cihampelas tidak kunjung jadi meskipun janji sudah diubah beberapa kali tetap tak ketahuan kapan bisa serah terima dilakukan. Seharusnya JUni 2013 seluruh unit apartemen sudah bisa serah terima. Apa yang harus dilakukan oleh para pembeli unit Jardin apartemen Cihampelas???

  1. ida says:

    sorry salah bukan juni 2013 melainkan juni 2012. yang lucunya penalty yang diperjanjikan maksimum 3 persen tanpa batas waktu keterlambatan, padahal bunga deposito aja lebih dari 3 persen pertahun.

LEAVE A REPLY


9 × three =