Kiprah Demajors di Blantika Musik Indonesia

Kecintaan David Karto terhadap musik membuatnya nekat mendirikan sebuah toko piringan hitam di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan, pada 2001. Ia kemudian mendirikan Demajors bersama dua rekannya, Adhi Djimar, dan Sandy Maheswara pada  30 Maret 2001. Seiring berjalannya waktu mereka mulai melihat peluang dan memenuhi keinginan pelanggan, sehingga produknya bertambah dengan merchandise band-band lokal. Demajors mulai memasuki industri musik Tanah Air di tahun 2004, pada awalnya melalui jalur distribusi musik terlebih dahulu.

Katalog label yang saat ini meliputi lebih dari 100 artis lokal dengan beragam gaya musik. Artis-artis seperti Rieka Roeslan,(Alm) Bubi Chen, Pure Saturday, Endah n Rhesa, Anda Perdana, Efek Rumah Kaca,  Syahrani, Bonita, tumbuh bersama DIMI dalam menegakkan iklim musik non-mainstream di Indonesia. Dengan lebih dari 10 artis internasional yang diwakili di Indonesia ( seprti Monday Michiru, Thirdiq, Martin Denev, Joujouka, Root Soul, dan Domu), DIMI juga bertujuan untuk membina hubungan antara iklim musik non-mainstream Indonesia dengan saingan internasionalnya — di mana pun mereka di dunia. Rilisan DIMI saat ini dapat ditemui di ritel-ritel musik ternama (Musik Plus, Disc Tarra, Duta Suara) maupun concept store (Goods Dept, Omuniuum, Unkl) yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.

Dedikasi DIMI selama 10 tahun terhadap musik penuh perjuangan namun sangat menghasilkan. Bukan hanya dianugrahi dengan Rolling Stone Magazine Indonesia’s editor’s choice award untuk The New Alternative di tahun 2009, rencana pengembangan DIMI juga sudah dipetakan. Di bawah nama merek [at]demajors, DIMI membuat De Majors Butik yang menjual CD, merchandise band yang tidak ada di toko-toko lain dengan harga yang sama, studio recording,  terdapat pula hall yang tidak terlalu besar untuk coaching dan gelaran media meet & greet. Berikut wawancara reporter SWA Online, Rangga Wiraspati dengan David Karto:

David Karto

Bagaimana perjuangan merintis Demajors?

Record Label dan distribusi Demajors saya dirikan bersama dua rekan saya, yaitu Adhi Djimar dan Sandi Maheswara. Adhi Djimar bergabung kurang lebih pada tahun 2004-2005. Saat ini kami bertiga adalah penanggung jawab dari record label dan distribusi Demajors. Demajors berawal dari sebuah record store (toko musik, menjual piringan hitam) yang terletak di Jl. Gandaria I No. 57, sekarang tempat itu sudah berubah menjadi @demajors. Sandi Maheswara sudah ada ketika Demajors masih berbentuk record store, kemudian ada beberapa rekan seperti Krisna yang merupakan orang IT, Record store itu kami dirikan antara tahun 2000-2001. Setelah berjalan selama tiga tahun keadaan berubah, para DJ (disc jockey), yang notabene konsumen utama kami saat itu perlahan meninggalkan piringan hitam dan beralih ke perangkat lunak digital dan format data mp3 dalam berkarya. Seiring berjalannya waktu pun Krisna, Pingkan, dan Steven mengundurkan diri. Karena bisnis menurun, kami memutuskan untuk menonaktifkan record store dulu.

Lalu, kami mengambil konsep lain untuk masuk ke dalam industri musik Indonesia, yaitu mendirikan record label dan distribusi Demajors. Di masa inilah Adhi Djimar memutuskan bergabung dengan kami. Investasi awal kami sangat minim untuk membangun record label dan distribusi Demajors, karena kami berbasis record store dan dengan semangat DIY (Do-It-Yourself). Kalau tidak salah 12 tahun yang lalu patungannya Rp. 1.250.000 per orang (bersama Adhi dan Sandi). Kemudian kami bertiga pernah menaruh investasi lagi tetapi tidak banyak, jika ditotal sampai saat ini, mungkin nilai investasi yang dikucurkan kami bertiga sebesar Rp 5 juta per orang. Tetapi investasi sebesar itu juga terbantu oleh basis bisnis yang sudah berjalan, karena sebelumnya Demajors itu record store, sudah ada cashflow-nya. Di tahun 2003-2004, kami sebenarnya tidak terlalu memikirkan sisi bisnisnya, namun kami tetap menjaga tertib administrasi, maka kami punya divisi keuangan dan marketing.

Ketika menjadi record label, kami memakai nama perusahaan Demajors Independent Music Industry (DIMI). Logonya berbentuk angka delapan, filosofinya adalah infinity, dibuat oleh Agus Makki. Pada awalnya kami berpikir untuk membangun jaringan distribusi karena waktu itu (2003-2004) rilisan fisik seperti CD dan kaset masih memegang peranan penting. Kami membangun jalur distribusi tidak tergantung pada bantuan agen, jadi kami langsung mendatangi store musik ataupun perusahaan yang memiliki ritel musik sebagai unit usahanya. Kami berkenalan dan berdiskusi dengan teman-teman musisi atau band untuk mulai mendistribusikan karyanya dengan kami. Beberapa musisi yang bekerja sama dengan kami pada awal Demajors berdiri antara lain Parkdrive, Sova, dan Rieka Roeslan. Fondasi pada awal bisnis Demajors memang distribusi, jadi biasanya kami bekerja sama dengan pihak musisi dan manajemennya yang sudah mengerjakan aktivitas produksi secara independen. Pihak Demajors maupun musisi sama-sama mengusung semangat DIY.

Bagaimana menggandeng artis dalam maupun luar negeri?

Kami pernah bekerja sama dan sampai saat ini pun komunikasi masih terjalin dengan penyanyi Jepang Monday Michiru. Untuk kolaborasi itu kami berbicara dengan teman kami di Jepang yaitu salah satu founder band crossover jazz Kyoto Jazz Massive. Pastinya kami membangun kerja sama dengan artis dalam maupun luar negeri melalui pertemanan. Ketika kita sudah berada di dunia (musik) yang sama, pasti kita akan terkoneksi dengan jaringan yang ada di sekitarnya. Artinya ketika kita berkunjung ke Jepang atau tempat lainnya dan bertemu satu artis, secara tidak langsung kita akan terhubung dengan pelaku-pelaku industri musik yang ada di lingkungan si artis. Semuanya berjalan mengalir, melalui berkenalan, diskusi, kemudian membuat sesuatu. Vinyl store (toko piringan hitam) yang pada awal kami jalankan pun berpengaruh, kami bisa berinteraksi dengan para DJ, pengoleksi piringan hitam, ataupun pengunjung biasa dan dari interaksi itulah lahir jaringan pertemanan kami dengan pihak musisi. Lingkungan pergaulan (scene) DJ sendiri berdekatan dengan pergaulan musisi.

Sejak dulu, untuk mengimpor rilisan musik dari luar negeri kami selalu mengunjungi website record label-nya dulu. Pada awal 2000an, banyak record label di AS atau Inggris yang sudah memiliki website, jadi kita bisa streaming lagu-lagu yang dipampang, kemudian jika kami tertarik kami mengirim e-mail kepada record label untuk menyatakan ketertarikan membeli rilisan itu dan jumlah rilisan yang kami inginkan. Pihak record label akan membalas e-mail, mereka memberikan info berapa nilai yang harus kami bayarkan. Kami membayar dengan cara transfer ke rekening bank mereka. Setelah mereka selesai packing barang, kami mengatur shipping agent untuk menjemput barang dari sana hingga sampai ke Indonesia. Karena kami belanja sebagai pengimpor/trader, maka seringkali kami mendapatkan potongan harga untuk sebuah rilisan. Mereka membedakan pelayanan antara retailer dan trader. Intinya untuk meraih kepercayaan dari label luar kita harus menjalin komunikasi dengan baik dan tunjukkan niat serius. Mereka tidak akan mengirimkan barang yang kita pesan jika pembayaran belum beres.

Bagaimana bagi hasil dengan para artis?

Ada dua sistem kerja sama dengan Demajors, yaitu sistem titip edar dan sistem master license. Tentunya sebelumnya kami harus mendengarkan dulu materi si musisi/band supaya kita tahu ‘rasa’-nya. Dalam sistem master license, Demajors menyiapkan produksi dan duplikasi CD/DVD-nya, dengan kerja sama ini, musisi/band mendapatkan prioritas sebagai salah satu roster yang kami perhatikan. Maksudnya, kami membantu promosi melalui website dan radio online kami. Selain itu, kami juga sharing strategi pemasaran kepada mereka, memberikan database media, menyediakan tempat bagi mereka untuk melakukan media gathering dan showcase. Selain itu, dukungan nyata kami kepada musisi/band yang melakukan kerja sama master license dengan Demajors adalah promosi album mereka di salah satu baliho pada toko musik Aquarius.

Kerja sama titip edar bentuknya lebih sederhana, umumnya produksi dan duplikasi dilakukan oleh pihak musisi/band sendiri, kami tinggal mengedarkan saja melalui jaringan distribusi kami. Bisa juga kami mengerjakan produksinya, setelah itu kami mengirimkan invoice kepada manajemen musisi/band, tentunya juga setelah biaya produksi disetujui oleh produser album. Bantuan promosi adalah info lewat media sosial Twitter. Perbedaan antara sistem titip edar dan master license dapat dilihat pada sampul album. Untuk sistem titip edar akan tertera ‘Distributed by Demajors’, sementara untuk master license akan tertera ‘Manufactured, Marketed, and Distributed by Demajors’. Menurut kami perhitungan bagi hasil paling fair adalah melalui nett, jadi setelah tahu besaran biaya produksi, dikurangi harga jual, kita tahu besaran nett. Dari nett itu pembagiannya 70% untuk musisi/band dan 30% untuk Demajors. Namun persentase itu masih bisa dinegosiasikan, tergantung interest dan kebutuhan.

Untuk memproduksi, apakah mempunyai studio rekaman?

Pastinya semua orang dengan gairah pada bidang musik ingin mempunyai studio rekaman yang bagus dan tempat pertunjukan musik. Namun Demajors menyadari saat ini era studio rekaman sudah semakin simpel dengan adanya kemajuan teknologi digital.  Saat ini semua orang bisa melakukan rekaman musik dengan cara-cara yang simpel, seperti menggunakan iPad. Saya dan dua rekan menyadari bahwa kami tidak memiliki latar belakang dan pengetahuan yang mendetail dalam mengelola studio rekaman.

Mengelola studio rekaman artinya memiliki pengetahuan memadai seputar teknis operasionalnya. Pada masa awal Demajors sebagai record label dan distributor berdiri, saya dan dua rekan sepakat untuk berfokus pada pengembangan jalur distribusi dan aktivitas manajemen seperti marketing, promosi, dll. Saat ini kami sudah punya tempat sendiri dan ada ruang pertunjukannya, maka kami tetap berusaha mengeluarkan produk Demajors sendiri. Misalnya, ketika ada band yang perform di tempat kami maka kami lakukan live recording dan pengambilan gambar. Proyek yang sedang kami garap adalah DVD Bonita Live @Demajors. Kami ingin memiliki produksi sendiri sambil tetap mendukung teman-teman musisi yang sudah mempunyai materi musik yang harus segera dikeluarkan, agar industri musik Indonesia tetap bergeliat.

 

Bagaimana pendistribusian album?

Sebelum era online, kami bergerilya ke toko/retail musik yang terhitung besar di Indonesia seperti Disc Tarra, yang berada di hampir seluruh kota besar di Indonesia dalam jumlah yang cukup banyak. Kemudian kami juga menghampiri pemain-pemain lama seperti Aquarius, MusikPlus, dan Duta Suara. Ketika penjualan ritel musik mulai menurun pada pertengahan 2000, kami menggunakan kanal distro yang saat itu sedang menjamur. Meskipun potensi distro tidak sebesar ritel, yang umumnya terletak di pertokoan atau mal, namun kontribusi distro juga tidak bisa diremehkan.

Pada 30 Maret 2012, kami meluncurkan distribusi online melalui www.demajors.com, yang melayani konsumen lokal maupun internasional. Selain itu, kami mengimbau kepada musisi/band yang bekerja sama dengan kami untuk melakukan direct selling saat mereka showcase, dengan cara membuka booth kecil pada acara tersebut. Rilisan Demajors bisa mendapat tempat di ritel musik turut dipengaruhi oleh menurunnya bisnis record label arus mainstream dalam 2-3 tahun terakhir, di mana mereka seret rilisan. Dalam kurun waktu tersebut, Demajors tidak berhenti berproduksi, karena skena musik independen juga terus menggeliat. Demajors mampu mengakomodasi kepentingan skena independen dalam hal rilisan musik.

Karena tidak banyak rilisan dari arus mainstream yang masuk ke ritel, maka rilisan kami terpampang jelas. Hal itu juga menunjukkan adanya permintaan terhadap rilisan kami. Bahkan di MusikPlus rilisan Demajors dipajang di satu rak sendiri. Berbicara penjualan, sampai saat ini penjualan lewat store memang masih memimpin. Mungkin hal itu disebabkan karena konsumen masih terbiasa menggunakan cara tradisional itu. Namun saya perkiraan penjualan via online akan meningkat juga ke depannya, karena sangat memudahkan konsumen. Pengiriman wilayah Jawa memakan waktu 2-3 hari, luar Jawa 4-5 hari, dan luar negeri kurang lebih sama dengan luar Jawa. Standarnya tiga hari. Patokan biaya pengiriman kami menyesuaikan standar pengiriman barang di sini, mungkin Rp 9.000 per kilogram, satu kilogram itu kurang lebih lima CD. Secara ekonomis menguntungkan konsumen jika menghitung biaya transportasi, dll.

Apa saja yang dijual di outlet Demajors?

Saat ini outlet resmi Demajors ada dua, yaitu di Gandaria, Jakarta Selatan dan Jogja National Museum, Yogyakarta. Kami juga bekerja sama dengan Red and White Publishing untuk membuka outlet di Alun-alun Grand Indonesia. Konten buku yang mereka jual sangat Indonesia, dan mereka mengajak kami untuk mengisi ruang yang tersisa untuk diisi dengan produk musik. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan pengelola Pendopo di Living World untuk membuka outlet. Selain CD, di outlet resmi Demajors kami menjual merchandise musisi/band, seperti kaus, pin, mug, totebag, topi, dan ada juga rilisan buku.

Siapa pasar yang dibidik?

Tentunya musik merupakan konsumsi semua umur, namun jika melihat usia aktif dalam mencari atau mengeksplorasi musik, saya pikir ada pada rentang usia 14-45 tahun. Sebenarnya Demajors tidak ingin membatasi siapa yang potensial menjadi konsumen rilisan kami, tetapi pasar strategis kami memang konsumen yang masih berada pada usia produktif, yang memiliki uang untuk membeli produknya, memiliki minat untuk datang ke tokonya, dan memiliki tenaga untuk melihat konser musik.

Siapa artis paling berprestasi, berapa yang terjual?

Saya pikir dalam konteks karya, semua rilisan Demajors berprestasi, karena mereka memikirkan sekali konsep sampai ke artwork albumnya, juga semangat mereka dalam berkarier dalam musik. Memang jika dilihat dari sisi bisnis, karakter band/musisi DIY rilisan kami masih kecil skalanya. Dari segi penjualan, musisi paling berprestasi adalah Endah N’ Rhesa, yang sampai saat ini penjualan ‘Nowhere to Go’, album pertama mereka, sudah mencapai lebih dari 25.000 keping. Angka itu tergolong besar untuk industri musik non-mainstream dan juga menimbang kondisi industri musik fisik secara keseluruhan yang sedang lesu. Jika kita melihat delapan tahun lalu, record label mainstream bisa menjual satu juta keping untuk kategori platinum. Sekarang angka tersebut tidak ada. Lagipula, dukungan musik non-mainstream belum mendapat dukungan secara luas dari media mainstream, lagu-lagunya belum diputar dengan seragam dan serempak di radio maupun televisi nasional.

Punya komunitas Demajors?

Kami tidak mempunyai dan menamakan komunitas resmi Demajors, tetapi yang pasti kami berjejaring dengan musisi/band independen, pelaku record label independen, ritel independen, dan juga komunitas-komunitas penikmat musik yang spesifik, seperti komunitas jazz. Terkadang mereka menanyakan rilisan baru jazz dari kami dan kami memberikan update. Radio online Demajors pun terbentuk karena pertemanan kami dengan salah satu pelaku skena musik independen yang pernah membuat radio online dan gagal. Saya meminta bantuannya untuk membantu saya dalam mempublikasikan karya-karya band/musisi rilisan kami melalui radio online. Radio online berlaku sebagai corong Demajors, kontennya 80% lokal, sisanya internasional.

Apa rencana ke depan?

Kami baru saja selesai membangun sebuah merchandise store untuk rilisan Demajors, ada tempat untuk pertunjukannya juga dengan kapasitas 50-80 orang, kemudian dalam pengembangannya kami akan menambah tempat nongkrong 24 jam yang menyediakan makanan dan minuman, fasilitas video, dan wi-fi. Kami juga berniat meneruskan kerja sama dengan studio Lokananta yang sudah mulai sejak 4-5 tahun yang lalu.

Kami pernah merilis ulang album musikus jazz Bubi Chen, yang berjudul ‘Buaian Asmara’ di tahun 2007. Album itu sebelumnya dirilis Lokananta. Kami juga sedang mempelajari manual book MIDEM Festival, sebuah expo musik di Cannes, Prancis, yang merupakan tempat bertemunya para pelaku industri musik. Jika tidak ada halangan, pada 30 Maret tahun ini kami akan meluncurkan pelayanan digital download. Saat ini kami masih berfokus pada katalog kami, namun ke depannya kami ingin bekerja sama juga dengan label lain untuk merilis digital download melalui Demajors.

by Rangga Wiraspati on 21st Mar 13
Posted in Entrepreneur

Share

View or Post Comments.