Home » Entrepreneur » Konglomerasi Sosial a la Perkumpulan Telapak

Konglomerasi Sosial a la Perkumpulan Telapak

Share :

    Sore itu sekitar pukul 16.00, Kota Hujan mengeluarkan hawa mendung. Awan pekat menjalari perjalanan kami menuju Perkumpulan Telapak, yang berlokasi di Perumahan Taman Yasmin Sektor V, Jl. Palem Putri III, No. 1, Bogor. Tiba di lokasi, kami disambut sebuah bangunan mungil, dengan logo kecil di dindingnya berupa “selembar daun hijau”. Di bawahnya ada 2 telapak kaki tersembunyi. Jejak-jejak kaki juga tercetak jelas di lantai semen yang sudah mengering. Hal ini meyakinkan kami bahwa benar bangunan yang ada di depan adalah tempat yang kami cari. Masuk ke dalam bangunan itu, pemandangan khas organisasi muncul di depan mata. Orang-orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tepat di depan pintu, ada meja dengan sekat tembus pandang, di mana seorang pria tengah berkonsentrasi dengan ketikannya. Di ruangan yang lain ada sekumpulan orang yang tengahmengadakan meeting kecil.

    Telapak, Khusnul Zaini, Silverius Oscar Unggul, Onte

    Khusnul Zaini dan Silverius Oscar Unggul (Onte)

    Salah seorang dari mereka yang tengah rapat itu tiba-tiba mengetahui keberadaan kami. Pria paruh baya berperawakan kurus, dengan rambut gondrong sebahu itu pun datang menyambut. Pribadinya terkesan sederhana namun santun. Senyum ramah terus menghiasi wajahnya yang friendly. Tak disangka, dialah Khusnul Zaini, Presiden Telapak periode tahun ini. Jabatan ini adalah jabatan tertinggi di Badan Perkumpulan Telapak (BPT). Adapun wakilnya ada 2 orang yaitu Muchlis Ladiku Usman (Pendoks) dan Muhammad Djufryhard. Sementara itu, Silverius Oscar Unggul adalah mantan Wakil Badan Pengurus Perkumpulan Telapak periode sebelumnya.

    Fokus Telapak yang pertama sebenarnya adalah mengkampanyekan anti illegal loging hutan-hutan Indonesia. Fokus utamanya ada di Papua dan Kalimantan. Tapi kemudian investigasi dilakukan secara merata, karena anggota Telapak tersebar dimana-mana. Ada yang di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua, dll.

    Seiring berjalannya waktu, kalangan anggota berpikir untuk menjadikan Telapak sebagai bentuk konglomerasi sosial, yakni yang semula hanya fokus di kampanye anti illegal loging, kini merambah di beberapa unit bisnis, misalnya, Kotahujan.com, Gekko Studio, T-port, Koperasi Telapak, Poros Nusantara, serta Poros Nusantara Media. Koperasi Telapak banyak tersebar di seluruh nusantara dengan fokus yang berbeda-beda. Misalnya Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) di Kulon Progo. KWML ini fokus di tanaman obat-obatan/jamu-jamuan. Ada lagi Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJLI) di Kendari yang fokus di kayu jati, dll. Total anggota sekarang sudah 174 di 27 propinsi, dengan 19 badan teritori.

    Tiba-tiba muncullah di antara kami seorang lelaki berpostur tinggi besar dengan guratan wajah khas Indonesia timur. Dia kemudian menyambangi kami, dan memperkenalkan diri sebagai Silverius Oscar Unggul, atau kerap disapa Onte. Onte adalah satu contoh dari tokoh sosial enterpreneur yang sukses membaktikan diri untuk kejayaan alam. Nama Onte ini berasal dari singkatan “orang Entete” (Nusa Tenggata Timur, tempat ia dibesarkan). Sejak kecil ia sudah dekat dengan alam. Hobinya naik turun gunung, keluar masuk hutan. Hal ini dilakukannya sampai selesai belajar di Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo, Kendari. Berangkat dari hobinya ini, Onte menemukan fakta bahwa penggundulan hutan semakin merajalela. Dengan pemikirannya yang idealis kala itu, ia pun memiliki gagasan untuk memerangi illegal logging. Melalui LSM Yascita, binaannya pada tahun 1998, serta keterlibatannya sebagai Vice Presiden Telapak masa itu, iapun menggalang community illegal logging. kampanye pun dilakukan melalui berbagai media, baik radio (Radio Swara Alam), Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia (KHJLI), sampai membangun Televisi Lokal sendiri di Kendari. Terbukti televisi lokalnya kini menjadi salah satu unit bisnis yang membanggakan di bawah binaan Telapak. Pria yang memiliki tato di lengan ini, kini banyak diganjar berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri tentang kiprahnya dalam memberantas illegal logging.

    Berikut wawancara lengkap Gustyanita Pratiwi dan Darandono dari SWA dengan Khusnul Zaini dan Silverius Oscar Unggul dari Telapak:

    Bagaimana awalnya misi Telapak ini? Apa latar belakang Bapak melakukan kegiatan yang memiliki misi sosial ini?

    Khusnul Zaini : Organisasi ini memang awalnya adalah yayasan (1995). Setelah lama berselang, terjadi perdebatan di antara anggota yayasan sendiri. Kalau namanya anggota yayasan kan terbatas hanya beberapa orang. Dalam undang-undang yayasan, jelas yang menentukan A,B,C-nya adalah Dewan Anggota. Perdebatan di internal ini intinya kami mau bagaimana? Apakah hanya sebatas ini saja (eksklusif), atau organisasi kami menjadi terbuka. Sampai voting, diputuskan untuk terbuka, meskipun kemudian ada beberapa anggota yayasan yang sebagai pendiri kemudian keluar. Oke, kalau keputusannya menjadi perkumpulan, dia tidak setuju, dia keluar. Setelah itu, prosesnya adalah melalui rekruitmen. Rekruitmen ini dilakukan sejak tahun 2002 (ketika sudah menjadi perkumpulan). Waktu itu memang masih transisi dari yayasan menjadi perkumpulan. Kami belum men-declare sebagai organisasi gerakan. Antara 2002-2006 itu memang menjadi masa-masa transisi. Kalau kami bisa mendeclare sebagai organisasi gerakan, artinya konsekuensinya menjadi sangat besar. Kami harus berani melawan arus mainstream yang umum. Tahun 2006, setelah kami mubes di Bali, kami men-declare sebagai organisasi gerakan dengan arahan Gerpak (Gerakan Telapak). Sama juga seperti Orde Baru dulu. Zamannya Soeharto dulu kan ada Repelita. Kami juga ada seperti itu. Setiap mubes maka diputuskan, ada kegiatan yang terkait bidang politik, ekonomi, budaya, maupun keorganisasian.

    Kalau bicara latar belakangnya, itu berangkat dari, dulunya kami melakukan investasi illegal logging (sebagai core-nya Telapak yang pertama). Target hasil temuan kami di lapangan sebetulnya adalah pemain-pemain menengah ke atas. Tetapi hasil investigasi kami kemudian dimanfaatkan oleh negara untuk mengambil masyarakat. Misalnya masyarakat kelas menengah ke bawah (yang menjadi suruhan-suruhan itu), yang kemudian dimanfaatkan oleh polisi/ polisi kehutanan, dsb. Dari situ kami yakin bahwa ini tidak bisa dibiarkan. Selama ini masyarakat selalu menjadi korban. Makanya kami yakin, untuk melawan itu semua, masyarakat harus kuat. Kuat dalam artian, dia bisa mengorganisir. Kuat dalam artian dia harus kaya. Kuat dalam artian dia harus bisa melakukan posisi tawar-menawar. Makanya kemudian kenapa koperasi? Karena koperasi itu dalam aturannya, ada unsur mobilisasi massa. Dia juga ada unsur mobilisasi modal. Dia juga bisa dijadikan massa, pada saat kita merebut kekuasaan. Misalnya Bupati, dia bisa menjadi pendukung. Koperasi itu bisa di nelayan, masyarakat desa, dan masyarakat adat. Tujuannya hanya satu, mereka mampu melakukan negosiasi politik. Mereka kaya dan mereka betul-betul bermartabat. Makanya sebetulnya kami punya tag line berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya.

    Pertanyaannya kemudian, siapa yang merealisasikannya? Yang mencapainya adalah semua anggota Telapak, baik program besarnya organisasi atau yang dilaksanakan oleh masing-masing individu. Misalnya, saya sebagai anggota Telapak harus membangun semacam community logging dan yang direkomendasikan harus membuat koperasi. Koperasi itu menjadi capaian dari Gerpak. Maka saya sebagai anggota Telapak, harus membangun koperasi di mana saya tinggal. Saya kemudian mengorganisir anggota masyarakat yang ada di tempat saya tinggal. Sama juga misalnya Pak Ghonjezz, karena orientasi kami sebagai organisasi gerakan, semua yang dilakukan oleh anggota Telapak itu harus kekuasaan. Mulai dari tingkat RT sampai presiden. Seperti Pak Ghonjezz ini, dia sekertaris urusan budaya, tinggal di Taman Yasmin ini, dia rebut posisi sekertaris RW. Karena, dengan dia menjadi sekertaris RW, dia bisa menerapkan semua visi-misi yang dikemas dalam konstitusi Telapak itu sendiri.

    Sekarang anggotanya sudah banyak. Dimana-mana ada, dari 27 provinsi. Kalau core bisnis Telapak saat ini ada banyak, salah satunya koperasi. Koperasi ini kalau dalam strukturnya, kami punya PTPNU (PT Poros Nusantara Utama) dan PTPNM (PT Poros Nusantara Media). PTPNU itu sebetulnya adalah entitas bisnisnya Telapak, yang wujudnya Kedai Telapak, Telapak Printing untuk percetakan, dan PNU Jogja. PNU Jogja itu salah satu misi dari Telapak untuk menuju konglomerasi sosial. Apa itu konglomerasi sosial? Jadi konglomerasi sosial itu sebetulnya sama dengan konglomerasi yang dibangun oleh orang-orang kaya. Tapi kami pastikan konglomerasi sosial itu kepemilikan saham terbesarnya adalah masyarakat. Masyarakat yang diwakili oleh koperasi. Sebagai contoh, yang ada di Jogja, kami bangun PNU Jogja. Kepemilikan saham dari PNU Jogja itu adalah koperasi masyarakat, Telapak, atau NGO yang ada di Jogja itu sendiri. Tetapi, investasi saham Telapak itu tidak boleh lebih dari 30%. Yang 70%-nya itu adalah milik beberapa komunitas. Yang menjadi target bagi organisai Telapak. Keuntungan itu tetap sebesar-besarnya untuk masyarakat melalui koperasi dan sebagainya. Strategi lain juga, dipastikan siapa yang menjadi pengurus PNU Jogja itu harus anggota Telapak. Karena yang kami rebut adalah sistemnya. Sehingga kontrolnya itu jelas.

    Pola kegiatan apa yang dipilih? Lalu bagaimana memberdayakan masyarakat yang menjadi obyek?

    Khusnul Zaini : Misalnya begini, di Jogja, tepatnya di daerah Kulon Progo, ada Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM), waktu saya ditugaskan untuk membangun di sana, orang menolak. Itu tahun 2007. Nah saya memberikan semacam pemahaman, koperasi bagaimana. Kalau bicara soal pemberdayaannya, misalnya dulu masyarakat mengenal koperasi hanya sebagai pelengkap saja. Anggota koperasi, terus mengikuti setiap tahun ada RAT, pembagian SHU, dll. Tapi ketika dulu kami masuk, kami membentuk yang namanya tim kelembagaan dari wakil-wakil anggota masyarakat. Waktu itu ada 9 desa di 2 kecamatan. Masing-masing desa itu saya minta 3 orang sebagai anggota tim kelembagaan. Tiga orang itu yang kemudian merumuskan apa itu Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga Koperasi, dll. Sampai dipastikan tim kelembagaan yang akan mensosialisasikan kepada anggota masyarakat supaya paham. Misalnya, Pasal 17 ayat 3 redaksionalnya seperti ini, itu sejarahnya bagaimana. Dia kemudian menerangkan. Hal ini penting supaya semua anggota bisa mengontrol ketua koperasinya. Saya juga katakan, kepengurusan koperasi ini adalah ”kursi panas”, siapa yang mau macam-macam dengan uang koperasi, hanya 2 pilihannya, dipenjarakan atau diusir dari kampung. Sebelum-sebelumnya kan tidak ada itu. Nah, dari situ kemudian anggota masyarakat, tahu koperasi yang benar seperti apa.

    Sampai dibentuk koperasi KWLM, koperasi ini bergerak di bidang pertanian kehutanan. Setiap orang yang mau menjadi anggota koperasi, dia harus lapor. Misalnya saya mau jadi anggota koperasi, saya harus melaporkan, saya punya lahan berapa luas. Misalnya 10 meter. 10 meter itu isinya apa saja? Ada kayu, kayunya macam-macam, misalnya lagi saya juga menanam tanaman obat-obatan, ada jahe, dll, itu yang kemudian didatabase. Kalau misalnya sekarang anggotanya sudah mencapai 800 orang, databasenya ada semua di koperasi. Koperasi itulah yang kemudian menjajakan kepada perusahaan lain, baik itu jamu-jamuan, kayu, dsb.

    Kami memposisikan diri sebagai tengkulak kalau di desa. Kemudian koperasi menjual langsung ke pabrik. Sebelum-sebelumnya, harus mencari bakul dan tengkulak. Bakul ini disetor lagi ke pengepul. Itu bisa 3-4 rantai. Sekarang dipotong melalui koperasi. Pertempurannya di situ. Sehingga di situ kemudian bisa memainkan harga, karena dia yang butuh. Koperasi ini harus memastikan harganya minimal sama dengan bakul. Tapi ingat, yang namanya koperasi, semakin anggota sering bertransaksi dengan koperasi, maka akan mempengaruhi SHU setiap tahunnya. Kan begitu teorinya?

    Contoh lain untuk koperasi adalah KHJLI (Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia), di Kendari, yang dibawah naungan Pak Onte. Pertamanya, pada tahun 2003, mereka yang tergabung dalam LSM Jauh (Jaringan untuk Hutan) membentuk KHJLI ini. Anggotanya sudah berkisar sekitar 500 orang dari 21 desa yang ada di Kecamatan Lainea, Kolono, Palangga, dan Andoolo. Anggota koperasi kemudian dibina dengan prinsip tebang pilih. Setelah menebang, harus diganti dengan tanaman baru. Tanaman jati yang ideal adalah berusia 15-20 tahun. Sejak 2008, sudah ada 2 juta pohon jati yang ditanam di atas lahan seluas 2.000 hektare. Setelah sistem ini jalan, lalu mereka meminta lembaga yang mengeluarkan sertifikat untuk melakukan penelitian yaitu Forest Stewart Council (FSC). Hasilnya lembaga yang sifatnya ketat ini akhirnya berkesimpulan bahwa sistem ini layak diberikan sertifikat. Lembaga ini juga melakukan pengawasan dan penelitian berkala untuk mengecek konsistensi masyarakat terhadap kegiatan ini.

    Efek positifnya, dengan dikeluarkannya sertifikat tersebut, maka dunia internasional sudah mengakui kayu dari Hutan Konawe Selatan, khususnya yang tergabung dari KHJLI ini bebas dari predikat illegal logging.

    Artinya, ketika koperasi itu jadi, sebagai Telapak yang mendampingi ini semua, kami juga tetap berhubungan dengan dunia luar, misalnya menghubungkan dengan pihak pemerintah kabupaten, donor yang punya konsen semua itu. Kalau misalnya dapat, pelatihan-pelatihan itu tetap dilakukan.

    Telapak tidak memberikan semacam dana atau uang kepada masyarakat yang ingin bergabung di koperasi. Karena ideologisasinya perjuangan itu tidak hanya berasal Telapak atau NGO saja, tapi harus secara bersama-sama. Kami meyakini kalau masyarakat mengeluarkan investasi untuk membangun bangunan itu, dia akan menjaganya. Itu filosofi dasar kami. Sebelumnya saya bekerja di WWF, atau LSM lainnya. Di situ, selalu kami yang mendatangi masyarakat, semuanya dikasih ke masyarakat, jadi mereka tidak ada rasa memiliki. Kalau rusak, rusak saja, toh dia ga keluar duit kok. Tapi waktu membangun koperasi di bawah Telapak ini, tidak seperti itu. Jadi dia datang saat membangunnya, dia naik ojek, 20 ribu pulang balik, itu uangnya sendiri, kami tidak kasih uang transpot dsb. Hal ini untuk menancapkan bahwa koperasi ini adalah miliknya. Siapa yang macam-macam dengan koperasi akan berhadapan dengannya, karena dia sudah keluar uang. Tahun 2008 mulai terbentuk nama koperasi KWLM itu, sekarang sudah punya pabrik.

    Hasilnya seperti apa? Kemajuan apa saja yang telah diperoleh?

    Khusnul Zaini : Dampaknya, sebetulnya masyarakat secara tidak langsung mengakui bahwa dia tidak kesulitan lagi untuk menjual. Itu satu. Kedua, ketika mereka tidak punya uang, butuh pinjaman, dia bisa pinjam ke koperasi. Koperasi ini sendiri kemudian bekerjasama dengan kantor CU (Credit Union). Misalnya, saya sebagai anggota koperasi mau pinjam uang ke koperasi, begitu dikasih, kayu saya harus menjadi agunan. Untuk memberikan uangnya itu dilimpahkan ke CU. CU yang kemudian meminjamkan uang kepada saya kemudian dijamin oleh koperasi tersebut. Nah, koperasi itu jaminannya apa, kayu saya yang ada di kebun. Nanti dipotong.

    Koperasi ini rata-rata di masing-masing badan teritori ada. Badan Teritori Sulawesi Tenggara misalnya, ada beberapa koperasi yang ditangani, dengan fokus yang berbeda-beda. Ada yang misalnya nelayan, masyarakat adat, ada fokus di komunitas pasar. Yang diberdayakan di Telapak ini sebetulnya ada 3 konstituen. Masyarakat adat, petani, dan nelayan. Di mana saja ada anggota Telapak, di situ dilakukan semacam pendampingan, dsb.

    Kalau di Bogor namanya Tapos. Ada juga di Cipete, Tangerang Selatan, Ciwaluh. Kalau di Ciwaluh itu tentang kumis kucing. Bahkan kami sudah ekspor ke Prancis, Italia, dan kami juga bekerja sama dengan masyarakat.

    Kalau anggota, harus melalui seleksi karena kami buat ada 5 tahapan. Tahapan pertama untuk kegiatan, kemudian penugasan selama 6 bulan. Kalau sudah mengerjakan tugasnya dengan baik, masuk ke tahap ketiga, pendalaman lagi. Terus kemudian ditugaskan lagi 6 bulan, selanjutnya adalah persyaratan administrasi. Kami buat seleksinya seperti itu. Di persyaratan administrasi kami sekali lagi tidak mengenakan biaya. Jadi sekreatifnya dia dalam menjalankan program. Kalau tidak bisa, berarti dia tidak dapat melanjutkan ke tahap selanjutnya.

    Bisa dikatakan ini adalah community development, karena salah satu targetnya adalah selama bekerja, konstituen/dampingan Telapak, diharapkan mampu berdaulat secara politik. Artinya, dalam tafsir sederhana, masyarakat menjadi PD (percaya diri). Dia PD, berani mengatakan tidak, berani melakukan negosiasi, bisa berdebat. Mandiri secara ekonomi setidak-tidaknya dia kaya. Jadi urusan-urusan ekonomi dsb, dia bisa memenuhinya dari potensi sumber daya alam yang ada di wilayahnya itu. Bermartabat secara budaya, sebetulnya kami berupaya untuk melakukan revitalisasi. Kalau misalnya Anda melihat ke kampung-kampung, yang namanya gotong-royong hanya cerita dulu, kami tingkatkan lagi. Kalau itu tidak dilakukan, ya menjadi egois. Timbullah kehancuran budaya masyarakat, karena itu sudah sampai dalam titik parah yang seperti itu.

    Makin ke sini, Telapak sudah memiliki banyak unit bisnis baru, sehingga menjadi konglomerasi sosial? Apa saja bisnis-bisnisnya?

    Silverius Oscar Unggul : Unit bisnis Telapak itu ada Kotahujan.com, Gekko Studio, T-port, Koperasi Telapak, Poros Nusantara, Poros Nusantara Media. Gekko, kalau pada waktu itu dia kasih hampir Rp 200 jutaan lebih. Malahan sekitar Rp 300 juta. Terus ada industri kayu di KHJLI dan PTPNU Jogja, kemudian ada Tiport, itu total omzenya sekitar Rp 750 juta. Ada Telapak Printing, ada Kedai Telapak, itu semua di bawah perkumpulan Telapak.

    Kalau tahun 2011 apa lagi unit bisnis yang baru?

    Silverius Oscar Unggul : Belum ada yang baru. Sekarang orang lagi bicara mengenai sosial enterpreneurship, tapi kalau kami lebih senangnya konglomerasi sosial. Karena kami meyakini bahwa kekuatan modal para investor tunggal itu bisa dilawan dengan konglomerasi sosial.

    Terkait permodalan, kalau saya lihat ada TV, Telapak Printing, ini pendanaan juga tetap dari perkumpulan?

    Silverius Oscar Unggul : Iya.

    Investor juga ada yang masuk?

    Silverius Oscar Unggul : Tidak ada.

    Duitnya darimana?

    Khusnul Zaini : Sebagai anggota Telapak, dia juga harus membayar iuran, 1% dalam pendapatan 1 tahun bersih. Seperti NPWP begitu. Kami membuat aturan semacam itu di internal kami.

    Jadi yang paling penting dari konglomerasi sosial ini adalah multilevel preneurship, multilevel benefit, dan multilevel marketing.

    Seperti disampaikan tadi Telapak juga membangun jaringan-jaringan seperti kantor berita? Di mana saja lokasinya?

    Silverius Oscar Unggul : Kalau kota Bogor namanya Kota Hujan. Di Riau, Gurindam 12. Sama seperti kantor berita Antara, ada informasi, terus ada progress apa, kami siarkan. Kami bangun juga TV. Ada TV Bengkulu, Kendari, Palu, Buton. Itu adalah jaringan-jaringan Telapak.

    Jadi semua bisnis yang kami bangun ini justru untuk memecahkan persoalan sosial. Dulu kan kami kampanye dengan radio, kami rasa tidak bisa hanya dengan kampanye. Harus ada doing something. Kami pikir, dengan berbisnis bersama masyarakat akan berhasil. Kalau dulu mereka hanya menjadi pesuruh cukong illegal logging. Curi kayu, habis itu kalau ada operasi, mereka yang masuk penjara, cukongnya tidak pernah masuk penjara. Sekarang kami diminta untuk mendampingi mereka, kami berdayakan mereka bagaimana menjadi pebisnis kayu, tapi dengan cara yang legal.

    Hal ini masih dilakukan sampai sekarang. Terdapat unit-unit bisnis kami yang justru lahir karena ingin memecahkan semua persoalan sosial. Telapak Printing, itu diciptakan, karena zaman dulu kami kampanye, cetakan-cetakan kami kadang-kadang dianggap sensitif. Orang tidak mau cetak, karena di situ menyebutkan, misalnya cukongnya adalah angkatan laut. Itu kami buat supaya memungkinkan orang untuk aspirasi, atau apapun secara independen bisa dicetak. Kedai Telapak lebih ke etalase, semacam ruang tamunya kami. Jadi kopi dari mana, hasil dampingan kami, itu ada di situ. Kedai Telapak, dibangun untuk pemasaran dari berbagai produk-produk rakyat. Bisnis kami lahir, karena ada masalah dulu.

    Salah satu contoh suksesnya Telapak adalah jaringan TV lokal Kendari. Bagaimana ceritanya sampai bisa jadi TV lokal ini?

    Silverius Oscar Unggul : TV kami muncul bukan misalnya kami punya modal lantas bikin TV. Kami bikin TV karena dari dulu kami ada investigasi. di Kendari, Telapak punya program untuk monitoring PROBELA. Semacam program untuk mendidik para investigator hutan, bagaimana mengambil ”data tak terbantahkan”. Salah satu bentuk ”data tak terbantahkan” adalah dengan video. Jadi bagaimana orang mengambil video, bagaimana mengedit, itu kami ajarkan supaya jadi semacam ”data tak terbantahkan” (audio visual). Tapi setelah kemampuan kampanye ini ada, bisa bikin video, segala macam, terus apa? What next? Ternyata video ini kadang-kadang susah diputar pada zaman itu, karena dianggap berbahaya. Dulu kan untuk putarnya, pertama susah, kedua, mahal. Jadi kami pikir sayang nih, kemampuan sudah ada. Barangnya sudah ada, kenapa tidak buat TV sekalian.

    Jadi kami bikin sendiri TV-nya. Kami buat media sendiri, supaya video-video dan orang-orang yang kami didik itu bisa masuk ke TV sendiri. Eh, ternyata setelah jalan, TV ini bisa mendatangkan keuntungan. Jadi dia punya arah membangun bisnis. Ini beda dengan bisnis lain. Maka bisa masuk di kategori social enterpreneur. Karena bisnis yang lahir di Telapak ini justru lahir untuk mengatasi persoalan-persoalan sosial awalnya. Bukan tiba-tiba Telapak ingin memecahkan persoalan sosial dengan cara bisnis. Jadi persoalan pemberdayaan tadi masih jalan terus. Justru persoalan sosial selesai dengan hal-hal seperti ini.

    Tepatnya TV ini jadi tahun berapa?

    Silverius Oscar Unggul : Itu tahun 2003. tapi didikannya itu sudah dari 1999. Waktu sudah banyak produksi, kami bikin TV-nya. Itu kan berbeda dengan program pemerintah. Kalau program pemerintah kan mereka tidak pikir kelembagaan. Pokoknya ada program, ini ada duit! Kalau kelembagaannya tidak jadi, ya kayak begitu. Berapapun uang digelontorkan, pasti hilang.

    Fokus Kendari TV ini sebenarnya apa Pak?

    Silverius Oscar Unggul : Kami fokusnya data/fakta lapangan yang menunjukkan penghancuran SDA. Siapa yang hancurkan hutan di sini, gambarnya, mukanya ini, ini, ini. Begitu saja awalnya. Lebih mirip ke SIGI. Jadi dari 1999 itu sudah dibikin titik ordinatnya sekian. Jelas ada perbedaan antara TV yang kami bangun dengan TV orang lain. Kalau TV orang lain itu, bangun TV-nya dengan motif, karena TV tersebut akan untung (komersial). Kalau TV kami adalah sebagai alat perjuangan.

    Sampai sekarangpun masih jadi alat perjuangan?

    Silverius Oscar Unggul : Sampai sekarangpun masih jadi alat perjuangan. Ternyata alat perjuangan itu bisa mendatangkan uang. Itu yang dibilang social enterpreneur. Ternyata, social enterpreneur menurut saya adalah menyelesaikan persoalan sosial dengan cara-cara bisnis. Nah, kalau cara-cara bisnisnya dipakai, tentu kami harapkan keberlanjutan dong?

    Kalau jam tayangnya sampai berapa jam?

    Silverius Oscar Unggul : Tayang 14 jam sehari.

    Isinya apa Pak?

    Silverius Oscar Unggul : Lebih banyak ke investigasi.

    Selain itu apalagi Pak, mungkin kan pemirsa akan bosan kalau programnya itu-itu saja?

    Silverius Oscar Unggul : Tentu saja ada. Sekarang, kami lebih merakyat lagi. Istilahnya kontennya, “semua buat semua”. Jadi semua orang bisa masuk. Misalnya, kompetisi antar kelompok tukang ojek, dibuat dialog tokoh. Acara masak-masak juga. Kalau Rudi Choirudin, studionya bagus, ada kitchen set segala macam, kalau ini ke dapurnya masyarakat langsung. Kami hanya tulis pengumuman di TV, siapa yang punya resep, daftarlah Ibu Ani, daftarlah Ibu Susi, dll. Oke, Ibu Ani hari Senin, Ibu Susi hari Selasa. Hari Senin, Ibu Ani, dengan modal kamera, yang beli daging Ibu Ani, yang beli ikan Ibu Ani, dapurnya Ibu Ani, dan sebagainya.

    Sekarang ada berapa karyawan?

    Silverius Oscar Unggul : 76 karyawan.

    Akhirnya sebagai alat perjuangan, ini bisa mendatangkan uang. Kemudian dari sisi iklan, buat gambarannya saja, setahun bisa dapat berapa?

    Silverius Oscar Unggul : Pendapatan Program TV itu, setahun dapat 2,5 M.

    Itu rata-rata iklan ya?

    Silverius Oscar Unggul : Uangnya ini macam-macam. Ada iklan, ada kerjasama program, ada hal-hal menarik yang dibikin misalnya, video box. Jadi, kalau di mal itu ada foto box, kami video box. Jadi orang bisa masuk di situ. “Hai selamat ultah buat teman saya.” Pas keluar, taruh uang Rp 20 ribu. Box curhat, lagi sebel sama siapa, curhat, keluar Rp 20 ribu lagi.

    Ada tarifnya?

    Silverius Oscar Unggul : Tidak dibatasi berapa detik, ya paling lama 1 menit.

    Jadi TV ini bisa sekaligus digunakan sebagai sarana jualan ?

    Silverius Oscar Unggul : Nah, sekarang akhirnya, kami bawa box ini ke acara kawinan/kondangan. Acara kawinan selesai, mampir ke box ini, kasih ucapan selamat berbahagia kepada pengantin, itu ditayangkan ke TV, jadi banyak ditiru sebetulnya yang sudah dilakukan kawan-kawan ini.

    Ada berapa stasiun TV semuanya di bawah Telapak ini?

    Silverius Oscar Unggul : Kendari, Bengkulu Raya, Palu, kurang lebih ada 5. Papua lagi proses. Kami juga ada jual beli barang bekas. Kalau di koran/majalah, kan hanya foto, kalau ini dengan video. Misalnya dijual mobil, ini speakernya seperti ini, mereknya bagus tidak, detailnya bagaimana, vellegnya, dll, putar di TV. Kalau laku dapat fee.

    Di antara itu, selain iklan proses kreatif apa lagi yang TV Bapak lakukan?

    Silverius Oscar Unggul : Yang lainnya adalah kerjasama dengan program, misalnya, dengan pemerintah kota, “Kegiatan Kendari Bersih”.

    Di dalam program investasi, ada yang menitipkan program di TV tersebut?

    Silverius Oscar Unggul : kadang-kadang, kalau Telapak dapat proyek, kami kerjakan. Dananya dari dana hibah. Disisipkan dari beberapa keuntungan.

    Misalnya titipan dalam artian kalau ada pengusaha, ketika dia tahu perusahaannya mungkin agak “miring”, kan mereka punya cara untuk meluruskannya seperti apa, akhirnya Kendari TV diminta membuat program agar yang “miring” ini bisa ditegaskan seolah-olah lurus?

    Khusnul Zaini : Tidak bisa. Ada etika/ nilai-nilai di organisasi yang sangat ketat . Itulah kenapa hal ini yang membedakan TV kami dengan TV lain. Karena memang ini lahirnya pertama-tama bukan untuk bisnis. Pertama-tama justru untuk memecahkan persoalan sosial.

    Tadi Bapak mengatakan, koperasi yang di Konawe ada banyak masalah itu seperti apa maksudnya Pak?

    Silverius Oscar Unggul : Tantangan antara dulu dan sekarang di Koperasi Konawe Selatan, beda dari sekarang. Sekarang mulai masuk isu-isu korupsi, isu-isu money politic untuk jadi ketua koperasi. Tapi kan menurut kami itu adalah dinamika.

    Telapak ini jadi baru bertransformasi pada 2010, dari sisi omzet di tiap unit usaha ?

    Silverius Oscar Unggul : Total omzet lebih dari US$ 1,8 juta, karena kami pernah buat laporan keuangan Rp 18-20 miliar.

    Ke 2011, pertumbuhannya bagaimana?

    Silverius Oscar Unggul : Tambah ya. Ada TV, atau gedung apa, mungkin sekarang sudah Rp 22 atau Rp 24 miliar. Makanya sekarang Telapak, satu-satunya LSM di Indonesia yang dapat Spool Award Social Enterpreneurship, jadi ada satu perlombaan sebagai sosial enterpreneurship di dunia yang paling prestisius, itu dibuat di Oxford tiap tahun. Di Indonesia, itu memang baru Telapak. Menang itu, kami dapat hadiah US$ 1 juta. Cash. Dari situ, bisa kami pakai untuk apa saja.

    Ada bantuan dari luar negeri tidak?

    Silverius Oscar Unggul : Dulu kan sebagian besar Telapak dari proyek-proyek, awalnya. Tapi sekarang ini sudah mulai mandiri. Bahwa semua anggota Telapak itu harus bayar iuran 1% dari pendapatannya, kemudian dari usaha-usahanya. Tapi proyek-proyek itu tentu masih kami kerjakan juga. Banyak orang yang percaya dengan Telapak, zaman dulu, sekarang masih baik.

    Kalau tantangan selama melakukan pemberdayaan apa, dan bagaimana mengatasinya?

    Silverius Oscar Unggul : Tantangan, karena kami masuk untuk mengatasi persoalan sosial, tentu ada banyak orang yang sudah nyaman dan tidak suka. Misalnya cukong-cukong kayu. Mereka tidak suka waktu kami ajak masyarakat untuk bikin koperasi. Mereka kadang-kadang melakukan upaya segala cara untuk mengusir kami. Cara mengatasinya, ya mari berlomba-lomba merebut hari rakyat. Kan kuncinya di rakyat. Kalau mereka mengusir kami, kami yang pindah. Tapi kalau cukong-cukong itu yang mengusir, kami akan tetap di tempat. Seperti Pak Khusnul (Presiden Telapak), dia harus tinggal 6 bulan bersama rakyat. Ideologinya, nginep sama-sama, tidur di rumahnya. Karena cukong-cukong kayu itu, kalau tahu di Kalimantan, di tengah hutan Kaimanan, itu ada orang Malaysia tinggal di situ. Dia bawa keluarganya, dan dia bikin industri kayu besar di situ. Nah, kalau kelakuan para cukong perusahaan itu seperti itu terus, kami ini mau menyelesaikan persoalan hanya datang seminggu, pulang lagi. Ya enggak bisa. Yang terberat, justru datang dari masyarakat itu sendiri, kan dia mendapat uang dari para cukong. Bisa saja sebelum kami datang mereka nyaman, setelah kami ada mereka tidak nyaman. Cukong itu kan dapat untung dari masyarakat. Mereka suruh masyarakat masuk hutan, tebang apa, jual ke dia lagi, kan murah. Kalau orang yang melihat sebentar, pasti akan timbul rasa tidak nyaman dengan adanya pemberdayaan Telapak. Kulon Progo itu nyaman setelah tahun ke-4.

    Terakhir, kenapa perkumpulan ini dinama Telapak? Apa filosofinya?

    Khusnul Zaini : Kami ingin meninggalkan jejak yang bagus setelah adanya program-program kami ini. Moga-moga jejak yang ditinggalkan Telapak selalu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

     

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      LEAVE A REPLY


      − 2 = seven