Home » Entrepreneur » Mimi Khudrathi, Dari Penjahit Menjadi Pemilik Kedai Mama

Mimi Khudrathi, Dari Penjahit Menjadi Pemilik Kedai Mama

Pelanggan langsung disambut oleh pemandangan kolam koi dan gemericik suara air tatkala tiba di sebuah toko kue dan es krim Kedai Mama di Jl. Serui No. 15, Makassar. Berjalan sedikit menuju pintu masuk, ada lemari pendingin berlogo tomat khas Kedai Mama yang berisi aneka macam rasa es krim asli buatan tangan.

Di sisi lain, lemari kaca berisi berbagai macam kue-kue cantik khas Makassar mengisi setiap pojokan ruangan. Suasana bertambah segar manakala tercium bau harum kue-kue yang baru saja keluar dari dapur. Ini dia ciri khas Kedai Mama milik Mimi Khudrathi, perempuan paruh baya yang sudah 10 tahun berada di balik mengebulnya asap dapur Kedai Mama. Iapun kemudian menceritakan kisah manis awal berdirinya toko.

Dulu, Mimi hanyalah seorang penjahit dengan 3  putri. Layaknya seorang ibu yang baik, Mimi tidak ingin anak-anaknya jajan sembarangan setiap berangkat sekolah. Dari situ ia sering membuatkan bekal berupa jajanan kepada putri-putrinya. “Supaya anak-anak tahu makanan asli Makassar, maka saya bikinkan jajan. Anak-anak juga sering bawa teman-temannya ke rumah, untuk menjamu mereka, saya buatin banyak makanan kecil, ubi gorenglah, apa saja. Dan mereka pun ketagihan,” ungkap Mimi bangga.

Ketika menjahit, usaha kue kecil-kecilan menjadi sampingan saja, dan ia hanya mengandalkan pelanggan jahitannya yang kebetulan memesan. Lewat promosi yang dilakukan secara mouth to mouth akhirnya keahlian Mimi membuat kue langsung diakui. Mimi kemudian membuka Kedai Mama di rumahnya, salah satu kawasan rumah tua yang terkenal memiliki banyak properti di sepanjang Jl. Serui.

Konsep yang ia adopsi adalah toko kue yang menyajikan makanan keluarga sehat dan alamiah, terutama makanan khas Makassar yang sekarang ini sudah hampir punah dan jarang ditemui di manapun. Ada sekitar 50 jenis kue yang diproduksi. Ada barongko, kue seruni, cucur bayou, serta bayouni balu yang berisi durian pilihan. Khusus untuk bayouni balu, kue yang berwarna kuning ini selalu memiliki vla durian asli tanpa campuran. Durian yang dipilih tidak bisa sembarangan. Makanya Mimi selalu memastikan bahwa stok durian yang berkualitas tersebut ada setiap hari.

Sementara untuk ice cream ada 28 rasa.”Ice Cream di sini sama sekali tidak menggunakan pengawet dan pewarna buatan. Makanya kebanyakan warnanya putih. Dulu, pernah kami menggunakan orange dari wortel, tapi karena pelanggan tidak terbiasa, makanya heran sama warnanya, akhirnya daripada salah persepsi, kita berhenti,” ujar Mimi yang mempunyai 30 orang karyawan ini di kedainya.

Menu khas lain seperti pisang ijo ia beri inovasi yang lain dari biasanya. Pisang ijo buatan Mimi terkesan memiliki banyak garnis. Kalau di tempat lain, pisang ijo hanya terdiri dari pisang, bubur, kemudian disiram sirop warna pink, selesai. Punya Mimi tidak. Pisang ijonya ditata cantik dengan aneka kudapan pelengkap seperti ketan hitam, bola-bola candil yang tenggelam di dalam vla, serta siraman sirop pisang ambon khas Makassar yang terasa manis menggigit.

Selain penganan kecil, Mimi juga menyediakan makanan berat seperti Lontong Cap Go Meh dan Songkolo. Lontong ini terdiri dari sayur kari, ayam, dan daging, ditambah dengan sambal goreng ubi dan taburan kelapa sangrai. Sedangkan songkolo adalah makanan khas Bugis yang terbuat dari beras ketan yang dikukus. Untuk penganan kecil ini ia mematok harga dari Rp 3.500 – 15.000. Mimi mengaku kewalahan karena pesanan harian sangat banyak, apalagi menjelang puasa, omsetnya bisa naik hingga 25-30%.

Selama ini ia hanya mengandalkan konsumen yang datang ke tokonya, makan, langsung pulang. Padahal banyak sekali yang pesan dari luar kota, sayangnya Mimi belum mendapatkan ide bagaimana packaging yang bisa membuat kue-kuenya tidak rusak atau basi sampai tempat tujuan. “Tokoh kuliner seperti Pak Bondan Winarno dan Pak William Wongso juga sering kemari, beliau-beliau menyarankan agar suatu saat kue kami bisa keluar, tidak hanya di Makasar saja, sehingga urusan packaging juga harus diperhatikan,” ungkap Mimi yang kini juga membuka tokonya di  Jalan Bougenville 1, Panakkukang Mas, Makassar. (EVA)

 

 

 

SHARE SOCIAL MEDIA

RELATED POSTS

Sorry, no related post.

LEAVE A REPLY


− nine = 0