Saturday, July 4, 2015

Pembinaan UKM Hasilkan Nilai Ekonomi

 Pembinaan yang baik untuk pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) bisa menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi dan juga berdampak pada penyerapaan tenaga kerja. Banyaknya perusahaan raksasa di Tanah Air tak lantas menyurutkan potensi bisnis UKM. Pembinaan yang baik malah bisa menyinergikan UKM dengan perusahaan besar. Salah satu yang berhasil menyinergikan keduanya adalah Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA).

YDBA merupakan sebuah yayasan yang dirintis oleh Astra sejak tahun 80-an. Saat ini YDBA masih tetap eksis dan fokus menggarap sektor UKM. Seperti yang diungkapkan oleh Hendara dari PT Trilogam Indojaya, salah satu UKM binaan YDBA, “Kami sudah memulai usaha sejak tahun 1992, tapi baru mulai mendapatkan pembinaan dari YDBA di tahun 2000-an. Kalau dilihat sekarang, dengan pembinaan ini kami bisa menaikkan value dan juga jumlah pekerja.”

Pembinaan yang dilakukan oleh YDBA bisa dikatakan menyeluruh, sehingga UKM bisa menampilkan performa terbaiknya, baik dari mutu produknya maupun dalam hal peningkatan SDM. UKM yang telah dibina oleh YDBA selama ini menggunakan filosofi CARE (compassionate, adaptive, responsible dan excellent), sehingga UKM tak kalah saing dengan perusahaan-perusahaan lain.

20130815_160740Basic awal yang kita ajarkan kepada UKM binaan lebih kepada mental, bagaimana UKM ini akan menghasilkan yang terbaik dan kami memperlakukan UKM binaan sebagai customer sehingga dari kami juga pasti memberikan yang terbaik,” F. X. Sri Martono, Ketua Pengurus YDBA, menerangkan.

Komitmen yang diberikan oleh YDBA selama 33 tahun terbukti dengan bertambahnya 374 UKM binaan tahun ini, sehingga total binaan 7.056 UKM, terdiri dari berbagai sektor industri. Diakui F.X. Sri Martono, kebanyakan yang dibina masih dari sektor manufaktur yang bisa menyuplay ke pabrik-pabrik Astra. Dia juga menjelaskan kalau sudah 95% komponen motor pabrikan Astra berasal dari produk lokal dan beberapa UKM binaan juga ikut menyuplainya.

“Untuk semester pertama ini, dari transaksi khusus suplai UKM ke pabrik AHM, Isuzu, dan beberapa pabrik Astra lainnya nilainya tercatat Rp 1,1 triliun. Saya mengharapkan sampai akhir tahun ini bisa menyamai transaksi tahun lalu yang tercatat di angka Rp 1,4 triliun,” ia menambahkan.

Sektor UKM di bidang manufaktur masih menarik untuk digali oleh para pelaku UKM baru. Walaupun, menurut Sri Martono, kondisi ekonomi kurang begitu baik, sektor UKM manufaktur tetap bisa optimis di tahun ini. Ditambah dengan akan dibuatnya mobil-mobil low cost, ini merupakan ceruk baru bagi pelaku UKM untuk menyuplai komponen-komponen yang dibutuhkan.








Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*


+ 2 = three

16 − five =