Home » Headline » Harry Sutanto, Kunci Kepemimpinannya Komunikasi dan Komunikasi

Harry Sutanto, Kunci Kepemimpinannya Komunikasi dan Komunikasi

Share

Harry Sutanto

Kesan pertama yang hadir dari pertemuan dengan Harry Sutanto, Direktur Utama Pelindo IV, adalah sifatnya yang ramah. Dengan senyum dan sapaan ringan, beliau mempersilakan kami dari SWA untuk masuk ke ruangan yang sudah disediakan di sebuah kedai kopi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ya, cukup bersyukur kami, karena pada saat yang bersamaan Sang Dirut ternyata sedang ada agenda di Jakarta, sehingga kami bisa bertemu langsung dengan dirut yang baru menjabat selama 1,5 tahun di Pelindo IV ini.

Setelah mempersilakan kami untuk bergabung di meja yang sama, tanpa perlu diminta, beliau pun langsung memperkenalkan diri kepada kami yang memang baru bertemu muka saat itu. Dengan logat Jawa yang masih cukup kental, sambil diselingi candaan-candaan, beliau tanpa basa-basi langsung membuka topik pembicaraan dengan menceritakan perihal kondisi yang sedang terjadi di wilayah timur Indonesia, wilayah jangkauan dari Pelindo IV.

Ternyata, di balik parasnya yang cenderung keras, tak disangka, Harry sangat gemar bercanda. Di setiap obrolan, selalu diselingi oleh candaan-candaannya. Di samping itu,  Harry selalu mengibaratkan sesuatu untuk menggambarkan apa yang ingin dibicarakan.

Harry yang sempat bertugas hampir di seluruh wilayah Indonesia ini, memang cukup piawai dalam berkomunikasi dengan seseorang. Wajar saja, sudah banyak orang dengan latar belakang budaya yang berbeda telah ia temui. Hal tersebut pun diakui dirinya sebagai hal yang mengajarkannya untuk bisa berkomunikasi dengan banyak orang. Perihal sifatnya yang humoris, diakui Harry memang sudah menjadi sifat bawaan sejak dahulu kala.

Berikut adalah hasil wawancara Radito Wicaksono dengan Harry Sutanto, Direktur Utama Pelindo IV, pengelola pelabuhan milik negara yang memiliki wilayah terluas di Indonesia.

Bagaimana Anda menjalankan empat peran kepemimpinan yang meliputi sebagai perintis (pathfinding); penyelaras (aligning); pemberdaya (empowering), panutan (modelling), melakukan apa saja, contohnya?

Harry Sutanto

Sebelumnya, saya melakukan mapping terlebih dahulu mengenai kondisi di perusahaan. Itu yang saya lakukan pertama kali datang di sini. Saya kan belum terlalu lama bergabung di Pelindo IV. Saya baru bergabung di akhir 2011 kemarin. Jadi saya perlu melakukan mapping terlebi dahulu mengenai situasi sistem, SDM, dan teemasuk ekternalitas yang ada di lingkungan perusahaan. Dari situ, baru saya bisa mengetahui apa-apa saja langkah atau strategi yang pas untuk lingkungan di sini.

Pendekatan-pendekatan teoritis atau pengalaman yang sebelumnya saya miliki, tidak bisa dijadikan generic strategy. Karena semua harus disesuaikan dengan lokalitas yang ada. Yang saya lakukan adalah, tentunya multi-fase. Yang pertama adalah, business is people. Jadi yang pertama kali saya sentuh di sini adalah orang. Simpel saja, kalau kami meningkatkan pelayanan misalkan produktivitas di suatu terminal bisa meningkat dua kali, itu seperti memiliki dua terminal yang berbeda. Hal-hal seperti itulah yang coba saya lakukan pertama kali. Ini pun dimensinya cukup luas, bagaimana menyadarkan semua rekan-rekan di sini bahwa kami ini berada di “perahu” yang sama, dengan tujuan yang sama, yaitu untuk melayani, kemudian bertumbuh dan berkembang.

Setelah melakukan penyadaran itu, saya juga berusaha untuk memberikan suasana yang lebih terbuka. Saya tidak ingin memperhatikan atau membandingkan dengan kondisi terdahulu di Pelindo IV, tapi saya memberanikan semua staf untuk berbicara. Saya menginginkan keterbukaan tersebut tidak lagi terhambat oleh adanya hirarki-hirarki jabatan di perusahaan. Selama apa yang ingin disampaikan berguna untuk perusahaan, memiliki konsep-konsep yang baik bagi perusahaan. Saya ingin semua berani untuk bersuara, outspoken! Seandainya apa yang disampaikan pun keliru, saya garansi tidak akan marah, selama tujuannya demi kebaikan.

Saya tidak ingin di lingkungan perusahaan menjadi apatis orang-orangnya. Tidak mudah memang, tapi kami selalu berusaha untuk melahirkan agent of change di setiap direktorat, sehingga suasana saat ini sudah menjadi lebih baik dan terbuka.

Kemudian, untuk urusan-urusan substansial seperti pelatihan-pelatihan, kami galakan. Human investment sangatlah perlu bagi kami. Jika dahulu, untuk urusan-urusan seperti ini sering terbentur dengan permasalahan-permasalahan inefisensi, kali ini kami harus lebih berani. Tidak apa jika harus mengeluarkan lebih banyak anggaran untuk urusan seperti ini. Untuk mendapatkan hasil jangka panjang yang positif bagi persuahaan, maka kami harus “tanam” orang. Dengan begitu, hasil yang akan kami rasakan bisa lebih panjang, meskipun biaya yang dikorbankan tidaklah kecil.

Salah satu yang kami lakukan saat ini adalah bekerja sama dengan Sampoerna Foundation untuk menghasilkan calon-calon pemimpin ke depannya yang tidak lagi berpikir primordial, kewilayahan, dan lain-lain. Kami ingin semua sama, Indonesia. Kami ingin nantinya ada orang-orang Papua yang memimpin cabang di Makassar atau Kalimantan, dan juga sebaliknya. Hal tersebut berkaitan dengan kontribusi kami dalam membangun bangsa.

Kemudian, kami juga sudah banyak membangun sitem-sistem baru dan mendesain organisas-organisasi yang sesuai dengan best practice  di perusahaan-perusahaan besar yang sudah mendunia, ya seperti reformasi organisasi. Memang seampai sejauh ini masih banyak dilakukan di bidang SDM, nanti ke depannya akan banyak yang akan kami lakukan. Intinya, kami berusaha untuk meng-empowerement orang-orang di sini, apapun fungsinya, apapun statusnya, mereka harus bisa menyatakan pendapat, harus bisa memberikan masukan kepada kami, tanpa tekanan dan hirarki-hirarki.

Kemudian perihal sistem di lingkungan perusahaan. Sebelumnya, saya melihat adanya sekat-sekat komunikasi antar bagian. Hal ini yang kami coba pecahkan. Dan hal seperti ini memang tidak mudah, karena berhubungan dengan mindset. Jadi, memang butuh waktu untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk mendukung IT System di tempat kami.

Dengan hal-hal tersebut, saya percaya akan mendukung peningkatan business process kami. Seperti adanya tranparansi yang lebih baik, ada spped up business process, dan segala akuntabilitas bisa tercapai, yang selama ini kami masih mengalami kendala di hal-hal tersebut.

Jadi, kami berusaha untuk memperbaiki semua infrastruktur dan suprastruktur yang kami miliki. Di infrastruktur, kami berusaha selalu membenahi pelabuhan-pelabuhan yang kami miliki. Kami memang memiliki program untuk hal tersebut. Tapi, di satu sisi program tersebut jika dilihat dari sisi komersialnya masih tidak terlalu mendukung. Sementara kami dituntut untuk terus bertumbuh dan berkembang. Untuk itu, kami saat ini sedang membuat sebuah modeling, di mana kami libatkan baik dari BUMN melalui anggaran, swasta, dan lain-lain. Tapi, hal ini masih berupa konsep. Insya Allah, dalam waktu yang tidak terlalu lama akan kami realisasikan. Sehingga wilayah Indonesia Timur akan memiliki pelabuhan-pelabuhan dengan fasilitas-fasilitas yang memadai.

Terlepas dari semua hal itu, saya pun berperan dalam menyatukan visi dan misi seluruh aspek di Pelindo IV. Hal tersebut tidak mudah. Mengingat kondisi di Pelindo IV yang memiliki wilayah terluas dengan kondisi sosial-kultural yang berbeda-beda. Tapi, bagi saya kuncinya hanya satu, yaitu komunikasi. Itu kendaraan saya di manapun saya berada. Seperti yang saya bilang tadi, business is people. Bisnis jasa seperti kami ini akan tumbuh apabila ditunjang oleh empat pilar, yaitu: komunikasi, komunikasi, komunikasi, dan komunikasi. Masalah teknis, ada teknologinya, bisa dipelajari dan bisa dibeli. Tapi bagaimana kita meyakinkan pasar, kreditor, stakeholder lainnya, semua memerlukan komunikasi

Saya sangat percaya, jika saya menggunakan cara yang kelewat keras, maka yang saya dapatkan adalah kebencian. Mungkin karena saya berasal dari Jawa, maka yang saya jadikan kriteria sebagai pemimpin mengikuti prinsip Hastobroto di Jawa. Yaitu delapan laku atau perbuatan sebagai pemimpin. Yang pertama yaitu Bagaskoro, yang artinya adalah surya. Di sini, sebagai pemimpin saya bersusaha untuk menghidupi perusahaan yang saya pimpin.

Lalu, kedua adalah Condro, yang artinya bulan. Sebagai pemimpin saya berusaha mengayomi bawahan-bawahan saya di perusahaan ini. Lalu yang ketiga adalah Kartiko, atau bintang. Sebagai pemimpin saya harus bisa menjadi panutan, tidak boleh memiliki hidden agenda, semua yang dilakukan harus menjadi patron. Keempat adalah Maruto, atau angin, seorang pemimpin harus menjadi pendengar yang baik, tidak hanya satu arah, tidak hanya menginstruksikan. Tapi juga harus bisa mendengarkan keluhan-keluhan pegawainya.

Kelima, Dahono, atau api. Seorang pemimpin harus mampu menjadi penyemangat bagi lingkungannya. Yang keenam, adalah Bumi, di mana digambarkan, sebagai pemimpin harus memiliki integritas, istiqomah, dan konsistensi. Ketujuh adalah Samudero, seorang pemimpin harus memiliki wawasan yang luas, yang dalam, visioner, tapi juga memiliki pemahaman teknis. Dan yang terakhir adalah Angkoso, yaitu sebagai pemimpin harus bisa menaungi, tidak pilih kasih, harus adil.

Jadi, dalam berperilaku, minimal ke-8 hal tersebut menjadi acuan saya. Kalau Gadjah Mada bahkan sampai 32 perbuatan. Kebanyakan kalau saya ikutin yang itu he-he-he. Sebagai pemimpin, saya selalu mengingkatkan diri bahwa good leader is good listener. Sebagai pemimpin, kita harus bisa menjadi motivator, harus bisa membangkitkan semangat, melindungi, menghidupi, dan yang paling penting adalah konsistensi sikap. Sekali kita tidak dipercaya, mau ngomong apa saja, bisa berantakan. Perihal berhasil atau tidak, itu saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Apa saja tantangan yang dihadapi dalam menjalankan empat peran leadership di atas? Bagaimana mengatasi kendala-kendala tersebut?

Tentu jika di Pelindo IV, dengan wilayah yang cukup luas dan dihuni oleh banyak kebudayaan yang berbeda-beda, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Untuk mampu menjawab tantangan seperti itu, maka saya harus lebih mempelajari pola yang ada di wilayah-wilayah tersebut. Saya harus lebih banyak buka referensi dan banyak terjun ke masyarakat. Dan tentu, senjata paling ampuh nya adalah seperti yang saya sampaikan sebelumnya, yaitu komunikasi. Dengan keterbukaan dan kelancaran komunikasi, hal-hal seperti itu bisa sedikit demi sedikit terselesaikan.

Semua tetap perlu waktu untuk menyakinkan. Tidak semua hal bisa langsung berhasil. Persoalan waktu ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Untuk itu, hal pertama yang saya lakukan adalah memberikan kesadaran. Saya selalu berusaha memberikan kesadaran bahwa kami semua di sini berada di perahu yang sama , semua cita-cita dan tujuan kami sama. Hal tersebut selalu saya tekankan kepada semua jajaran di Pelindo IV. Namun, jika ternyata dalam memberikan kesadaran tersebut akan susah karena sudah terbiasa dengan kondisi atau mindset terdahulu, maka ada perangkat-perangkat yang akan menegakan segala peraturan di sini. Walau bagaimanapun, penegakan peraturan di sini sangatlah penting. Maka dari itu, kami juga memiliki punishment bagi mereka yang memang sudah tidak bisa dipersatukan dalam visi dan misi yang sama.

Apa saja hasil konkret yang telah diraih dari kepemimpinannya (misal kenaikan penjualan, kenaikan laba, terwujudnya organisasi yang efektif, dll)? Apa yang belum bisa diraih?

Secara umum parameter nya adalah capaian rencana kerja perusahaan tercapai. Tidak ada satu pun pelabuhan di Pelimdo IV yang mengalami kerugian. Walaupun, katakan lah ada yang tidak sesuai dengan anggarannya. Tetapi secara korporat, targetnya tercapai, bahkan melebihi. Karena kami membuat dua target. Misalkan, jika pemegang saham menngingkan kami mencapai untuk Rp 400 miliar, maka ke cabang akan kami targetkan Rp 500 miliar, supaya mereka lebih semangat. Jadi jika yang tercapai hanya 90% nya saja, itu pun tetap di atas yang diminta oleh pemegang saham. Pendapatan yang kami peroleh di tahun 2012 kemarin mencapai Rp 1,3 triliun, di mana target awalnya adalah Rp 1,1 triliun. Keuntungan yang kami dapatkan, dari Rp 318 miliar meningkat menjadi Rp 361 miliar.

Mengenai apa yang belum tercapai, dalam 1,5 tahun saya bertugas di sini, saya hanya ingin apa yang dicapai ini bisa lebih cepat. Masih banyak hal, contohnya mengubah kultur perusahaan yang masih perlu proses panjang. Tidak mudah meraih hal tersebut. Untuk itu, kami sudah mempersiapkan di setiap direktorat, agent of change. Untuk nantinya mampu membantu kami untuk mengubah kultur perusahaan menjadi lebih baik.

Selain itu, kami juga melakukan rebranding logo baru. Dengan maksud untuk memberikan spirit baru dan semangat yang baru. Kami juga membuat nama baru, yaitu Inaport 4 dengan tagline “Great”. Di mana Great itu sendiri di samping secara harfiah berarti besar, juga merupakan singkatan dari Growth, Revive Economic and Trade. S selain dimaksudkan sebagai semangat baru, hal tersebut juga menunjukan bahwa kami siap untuk menjadi lebih agresif dan siap bersaing menjadi pelabuhan kelas internasional. Hal tersebut datang dari inisiatif saya yang tidak sengaja muncul dalam benak saya setelah melihat kata great di sebuah baligo.

Di luar empat peran tadi, apa lagi yang dijalankan sebagai CEO di perusahaan ini?

Sebenarnya, dari peran-peran yang sudah saya sebutkan di awal, sudah meliputi semua peran saya sebagai pemimipin di Pelindo IV. Hanya mungkin, saya selalu memanfaatkan setiap momen yang ada untuk dekat dengan karyawan. Kebetulan saya suka olahraga. Saya sering menjadikan olahraga tersebut sebagai sarana komunikasi. Dan banyak momen-momen lain yang saya manfaatkan sebagai sarana komunikasi dan ajang mendekatkan diri dengan karyawan. (***)

 

 

 

SHARE SOCIAL MEDIA

LEAVE A REPLY


9 × = eighty one