« Back to SWA.co.id

Modal Rp 40-an Juta, Diana Rikasari Besut Sepatu Up

Hanya bermodal Rp 40-an juta, Diana Rikasari membangun usaha sepatu khusus perempuan, bernama Up. Usaha Up dimulai pada 2012 dengan niat awal iseng-iseng berwirausaha. Minat bisnis itu pun didasari oleh kegemarannya menggambar desain dan menjual bingkai foto pada teman-teman sekolah sejak SMP.

“Setelah melihat bahwa Up bisa berkembang, saya tahu itulah saatnya mulai serius. Saya pun membentuk badan hukumnya,” terang perempuan modis kelahiran 1984 yang mendirikan PT Bitdas Indonesia ini.

Produk Up meliputi sepatu hak tinggi berjenis wedges dan sandal kasual. Berbeda dengan produsen sepatu yang menghasilkan ready stock sampai ratusan pasang, Diana berproduksi berdasarkan pesanan lewat situs internet dan jejaring sosial. Yang bertanggung jawab merancang sepatu ialah Diana sendiri. “Saya menggambar desain dari nol agar betul-betul baru. Up sangat menghargai orisinalitas,” terangnya.

Proses mengerjakan rancangan merupakan kerja keras. Biasanya, lulusan program S-2 International Business Management, NottinghamUniversity ini membutuhkan waktu 2-4 minggu untuk tiap pasang sepatu. “Tak jarang, saya kesulitan mencari ide. Setelah desain menjadi sepatu, tak jarang pula hasilnya meleset dari harapan,” cerita Diana tentang proses kreatifnya.

Diana RIkasari

Walaupun demikian, ia mengatasi kebuntuan dengan minta masukan dari kawan- kawannya. Dengan solusi itu, penggemar Blake Mycoskie dan Oprah Winfrey ini bisa memproduksi 2-3 rancangan baru tiap bulan. Rancangan yang telah menjadi sepatu kemudian dihargai Rp185.000-Rp305.000.

Diana yang menjadi Young Creative  versi British Council Indonesia pada 2012 mengandalkan jejaring sosial untuk pemasaran. “Cara ‘tradisional’ tetap saya tempuh, misalnya promosi lewat majalah dan jadi sponsor. Tapi, bukan fokus,” tegasnya. Selain Instagram, ia memandang Twitter sangat kuat membentuk word of mouth.

Yakin bahwa perempuan merupakan pangsa pasar besar, ia bertumpu pada pemasaran online tanpa berencana membuka toko sendiri. Daripada membiayai operasional toko, ia lebih suka mengucurkan dana untuk inovasi produk dan layanan pelanggan. “Ini justru memberi positioning berbeda buat Up. Pelanggan pasti lebih senang,” ungkap Diana optimistis.

Paling tidak sampai 2013 berakhir, pembaca buku-buku biografi ini terus berproduksi berdasar pesanan. Sepatu adalah produk yang rawan kesalahan estimasi jumlah produksi ataupun ukuran. Jika produksi melebihi jumlah yang bisa terserap pelanggan, penjual terpaksa memotong harga. Itu sebabnya sepatu ready stock relatif lebih mahal.

Tanpa barang sisa, alur produksi jadi lebih efisien pula. “Saya lebih memilih sepatu murah walau harus menunggu 14 hari sampai pesanan jadi,” tandas Diana seraya tersenyum simpul. (EVA)

SHARE SOCIAL MEDIA

RELATED POSTS

Sorry, no related post.

LEAVE A REPLY


6 × eight =