Home » Listed Articles » Bau Kecanggihan di Bisnis Ternak Ayam

Bau Kecanggihan di Bisnis Ternak Ayam

Share :

    Proses bisnis di industri peternakan ayam ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Pasalnya, prosesnya berlangsung sangat panjang dan rumit. Mulai dari pemilihan grand parent stock, penanganan ayam umur sehari (day old chick/DOC), telur, pakan, vaksin hingga pemeliharaan ayam (pedaging) sampai masa panen. Belum lagi urusan memasarkan dan mendistribusikan, serta memprediksi kebutuhan pasar.

    Tak mengherankan, pelaku bisnis ternak terpadu – yang mencakup usaha pembibitan ayam, pakan ternak, rumah potong ayam, dan pemrosesan – di Indonesia tidak banyak. Setidaknya ada empat perusahaan ternak terpadu yang dikelola secara modern, yakni: Charoen Pokphand Indonesia (CPI), Japfa Comfeed, serta dua perusahaan lokal, Sierad Produce dan Wonokoyo.

    Bisa dimaklumi, sedikitnya pelaku usaha ternak terpadu itu, karena selain bersifat capital intensive, pengelolaannya pun tak bisa lagi dilakukan secara manual, melainkan harus dengan bantuan teknologi informasi (TI) modern. Contohnya dilakukan CPI. Perusahaan asal Thailand ini merupakan market leader dengan menguasai 35% lebih pangsa pasar pakan ternak dan DOC di Indonesia. “Di bisnis ternak terpadu, seperti CPI, TI berperan penting. Pemanfaatan TI akan sangat membantu dalam pengambilan keputusan, mempercepat informasi dan memprediksi,” ujar David Djoko Prajitno, Deputi CIO CPI.

    Menurut David, proses bisnis di peternakan ayam terpadu cukup complicated, sehingga perlu didukung TI untuk mempercepat eksekusi, sekaligus membuat proyeksi ke depan. Misalnya, sebelum memulai penetasan, hingga membesarkan ayam, harus dihitung berapa jumlahnya dan kapan waktunya, sehingga pada saat panen bisa sesuai dengan proyeksi. Ayam yang sudah dipanen akan dipasok untuk kebutuhan sendiri, seperti ke pabrik chicken processing (nugget), dan dijual ke pasar. Tentu saja tercakup pula perhitungan kebutuhan pasar akan daging ayam. Di sisi lain, asupan (pakan) untuk ayam harus sesuai dengan yang diinginkan. Untuk tujuan itu, CPI mengembangkan unit bisnis feedmill. “Nah, bisnis seperti itu perlu didukung informasi secara akurat, karena implikasinya besar. Logikanya, ayam yang sudah dibesarkan dan diberi makan selama 35 hari, kalau tidak bisa dijual, tentu saja kerugiannya akan sangat besar. Untuk itu, TI berperan penting,” David menjelaskan.

    Singkatnya, lanjut David, TI di CPI terutama dimanfaatkan untuk menyediakan sentralisasi informasi sehingga mempermudah akses dan analisis oleh manajemen operasional unit bisnis. Juga, untuk menyusun rencana kerja dan strategi pemasaran yang dapat mengimbangi volatilitas cost of goods sold (COGS) akibat tekanan eksternal yang berasal dari bahan baku (raw material) seperti BBM, harga komoditas seperti jagung, CPO, ataupun komponen penunjang operasional usaha seperti kayu, besi dan sebagainya. Apalagi, variasi permintaan pasar menuntut adanya informasi yang akurat dan tepat waktu.

    Sistem TI di CPI didesain dalam wujud Animal Husbandry Information Systems (AHSI), yang dibangun di atas empat aplikasi. Pertama, aplikasi Farm Management System (FMS). Boleh dibilang, FMS ini merupakan aplikasi inti, karena mencakup semua proses pengelolaan produksi DOC ataupun telurnya (hatching egg). FMS adalah custom-made software yang dikembangkan sendiri (in-house development) oleh tim TI CPI dibantu Jatis Solution pada akhir 2001. “Fungsi utama FMS adalah mengontrol produksi di farm,” David menegaskan.

    Dijelaskan David, aplikasi ini platformnya berbasis Java yang dikembangkan seperti web-based application. Jadi, user hanya perlu browser. Selain itu, FMS ini sifatnya centralized pada satu server Oracle database yang ditempatkan di kantor CPI di Ancol. Aplikasi ini bisa diakses secara real time dari sekitar 100 lokasi di berbagai pelosok farm CPI di seluruh Indonesia. Untuk koneksinya dilakukan via Wide Area Network. Dengan begitu, melalui FMS, tim di bagian operasional bisa melakukan tracking dan reporting mengenai performa farm-nya. “FMS ini merupakan aplikasi khas dan unik, karena dikembangkan berdasarkan kebutuhan bisnis yang ada di CPI,” ucap David.

    Alasan dikembangkannya FMS, lanjut David, karena dulu CPI tidak mempunyai visibilitas secara nasional. Misalnya, tim farm di Medan ingin konsultasi dengan rekannya di Surabaya, tapi terkendala dalam membandingkan datanya, karena semuanya masih serba offline, dan data secara nasional tidak bisa diakses dengan mudah. Selain itu, manajemen CPI juga kesulitan mengontrol farm di suatu daerah.

    Kejadian tersebut pernah dikeluhkan Budiman Iskandar, COO sebuah unit bisnis di CPI. “Saya sudah di CPI lama sekali, tapi saya tidak punya visibilitas untuk melihat stok vaksin yang mau expired dengan mudah,” Budiman komplain ketika itu.

    Lalu, Budiman minta kepada tim TI supaya ia bisa melihat stok vaksin yang akan kedaluwarsa di berbagai daerah. Ia minta supaya dibuatkan sebuah sistem yang praktis dan tinggal klik saja, lalu data yang dibutuhkan bisa keluar di layar komputer. “Saya ingin bisa lihat, misalnya, stok yang expired 60-90 hari kemudian. Tujuannya agar stok ini tidak mubazir. Dengan begitu, saya bisa membuat marketing scheme. Jadi, saya bisa susun strategi pemasaran untuk 90 hari ke depan supaya stok tidak nyangkut di gudang menjadi barang expired,” paparnya.

    Sekarang, dengan adanya sistem database terpusat di Ancol, maka data bisa diakses oleh seluruh karyawan CPI di seluruh Indonesia. Mereka bisa melihat dengan mudah data secara nasional. Begitu pula, manajemen bisa memantau perkembangan farm di suatu daerah cukup dengan menggunakan sistem ini. Misalnya, jika ada suatu wabah unggas di suatu farm CPI, manajemen menyampaikan informasi mengenai hal itu ke unit bisnis yang bergerak di bidang kesehatan hewan, yang memiliki banyak dokter hewan dan ahli obat-obatan.

    Aplikasi kedua dalam platform AHSI adalah Animal Health Information System (AHIS). Aplikasi AHIS ini lebih sebagai bank data atau knowledge centre. Di situ ditampilkan berbagai data mengenai penyakit unggas beserta solusinya. Ada juga kasus penyakit unggas yang ditangani berupa foto spesimen, gejala klinis, hasil pemeriksaan laboratorium dan remedial action yang diperlukan. Termasuk pula mengenai cara pemberian pakan, penanganan telur, kesehatan ayam, dan pengetahuan lainnya yang berkaitan dengan ayam dan pakan. Historical data juga ada di situ semua, dari siklus-siklus peternakan sebelumnya, sehingga bisa dijadikan media pembelajaran. “Aplikasi itu menjadi semacam knowledge centre,” ujar David.

    Yang ketiga adalah Poultry Integration Mapping System (PIMS). Aplikasi ini berfungsi sebagai pusat informasi harga, kuantitas, dan area distribusi permintaan ayam pedaging. Data PIMS ini dijadikan acuan oleh tim produksi dan pemasaran. Misalnya, setelah mengacu ke PIMS, tim pemasaran memproyeksikan pasar membutuhkan 10 ribu ekor. Maka, tim produksi akan menetaskan telur sebanyak itu pula. Dengan begitu, diharapkan pada akhir hari ke-21 akan ada 10 ribu DOC (dengan asumsi proses berjalan sesuai dengan rencana, alias tidak ada ayam yang mati – Red.).

    Bila, misalnya, pada hari keempat tim pemasaran mengatakan bahwa pasar tidak bisa menampung ayam sebanyak itu – katakanlah, maksimum 9 ribu ekor – lantas yang 1.000 ekor mesti dikemanakan? Nah, untuk itu perlu mencari plasma (mitra) yang bisa membesarkan ayam hingga usia panen (usia 35 hari sebagai ayam pedaging). “Di sinilah unik dan rumitnya bisnis peternakan ayam. Jadi perlu ada sinergi antara tim produksi dan pemasaran dengan mengacu pada data yang tersedia di sistem,” David menerangkan.

    Mengenai mitra, lanjut David, CPI memiliki 100 lebih mitra. Pola kerja samanya: mereka dipasok bibit ayam dari CPI, pakan, dan obat-obatan. Mereka juga dibantu mengelola kandang (manajemen unggas), dengan mendatangkan tenaga technical service dari CPI secara rutin. Selain itu ada pula jaminan pembelian ayam dengan nilai kontrak yang sudah disepakati.

    Adapun pilar keempatnya adalah aplikasi SAP, sebagai paket ERP yang customized. SAP diimplementasi di pabrik pakan (feedmill) yang ada di 8 lokasi di seluruh Indonesia. Aplikasi ini berfungsi menangani proses administrasi secara terintegrasi, mulai dari penjualan, pembelian bahan baku, inventori, akunting, keuangan dan produksi. SAP juga diimplementasi di unit trading company milik CPI, seperti chicken processing (Primafood) dan unit bisnis animal health.

    Menurut David, aplikasi SAP tersebut (mySAP Business Suite) mulai diterapkan di CPI pada 2002 untuk mengganti sistem TI lama, dengan tujuan awal mendapatkan proses bisnis yang terintegrasi. Selain itu, untuk pengelolaan informasi yang lebih akurat, sehingga manajemen dapat mengambil keputusan lebih cepat. Solusi itu didukung perangkat keras dari Hewlett-Packard dan mitra implementasi IMC.

    Ketika itu, ruang lingkup proyek mencakup empat fase implementasi. Fase pertama yang berlangsung 12 bulan untuk kantor pusat dan 8 pabrik. Fase kedua selama 6 bulan untuk pembenahan manajemen personalia seluruh internal perusahaan di bawah CPI. Fase ketiga dan keempat selama 6 bulan meliputi penerapan modul-modul di unit bisnis.

    Setelah selesai, kemudian dilakukan pembaruan di bidang inventori. Untuk inventori ini, prinsip kerja yang dianut CPI just in time dengan tujuan menghindari penumpukan. Dengan begitu, ketika jagung (sebagai komponen utama pakan ternak) masuk gudang akan langsung dipakai di bagian produksi, sehingga kosong dan siap diisi kembali. “Pakan yang sudah terlalu lama disimpan di gudang kualitasnya akan turun. Kami ingin bisa menjual pakannya fresh from the oven. Buffer stock tidak usah terlalu banyak, tapi seminimal mungkin supaya perputarannya selalu baru,” David menjelaskan.

    Kendati pemanfaatan TI di CPI termasuk lebih maju dibanding kompetitornya, perusahaan itu mengklaim termasuk irit dalam hal belanja TI-nya. Menurut David, jika umumnya investasi untuk TI berkisar 2%-3% dari revenue, investasi yang dilakukan CPI tidak sampai 0,5% revenue. “Kami sangat efisien dalam investasi TI. Justru, TI ini harus berperan supaya bisa membantu operasional sehingga lebih efisien dan efektif,” kata David.

    Ke depan, menurut David, berkaitan dengan adanya krisis global, pengembangan TI di CPI akan lebih fokus ke manajemen cash flow. Pasalnya, sekarang fasilitas pinjaman dari perbankan sangat sulit. Kalau pun dapat pinjaman, suku bunganya tinggi. Sementara CPI memerlukan pinjaman untuk investasi atau ekspansi. Maka, perhatian CPI ke depan lebih pada bagaimana agar bisa mengelola cash flow dan meminimalkan working capital di bagian inventori.

    Selain itu, untuk pembelian (purchasing) rencananya juga akan dibantu dengan sistem, sehingga proyeksi account payable (utang) bisa dikelola lebih bagus. “Tahun ini fokus kami ke sana. Jadi membantu tim finance membuat sistem untuk procurement tracking. Nanti datanya dimanfaatkan untuk proyeksi account payable,” ungkap David.

    Keandalan sistem TI di CPI diacungi jempol oleh konsultan TI Kristianus Yulianto. Menurutnya, CPI sudah cukup advanced dalam implementasi TI dengan fokus pada online transactional processing (OLTP) untuk memastikan proses supply chain berjalan lancar. “Supply Chain Management adalah kunci penting dalam consumer product seperti pakan ternak, telur, dan daging ayam,” Kris menandaskan.

    Nilai lebih CPI, lanjut Kris, adalah sudah melangkah ke tahap online analytical processing (OLAP), yaitu dengan tersedianya knowledge management, khususnya mengenai penyakit ayam. “Ini berguna untuk memonitor dan mengambil keputusan secara cepat jika terjadi sesuatu pada masa pemeliharaan,” katanya menganalisis.

    Disarankan Kris, yang diperlukan CPI ke depan adalah mengembangkan OLAP ke level lebih tinggi, yakni business intelligence (BI). Pasalnya, dengan BI memungkinkan CPI bisa menganalisis histori data untuk proyeksi ke depan, menghindari kesalahan yang sama, dan melakukan optimalisasi. “Saat ini BI penting karena semua kompetitor sudah mempunyai ERP, sehingga persaingan berubah ke arah kecerdasan analisis atau competing analytics,” Kris menggarisbawahi.

    Sekilas PT Charoen Pokphand Indonesia

    PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) didirikan mulanya dengan nama PT Charoen Pokphand Indonesia Animal Feedmill Co. Ltd. pada 1972. Ruang lingkup usahanya mencakup produksi dan perdagangan pakan ternak, daging ayam olahan, peralatan peternakan dan pakan ikan.

    Saat ini CPI memiliki 8 pabrik pakan ternak yang tersebar di Medan, Bandar Lampung, Ancol (Jakarta), Balaraja, Semarang, Krian (Sidoarjo), Sepanjang (Sidoarjo), dan Makassar. CPI juga memiliki empat pabrik pengolahan daging (Rumah Potong Ayam), yakni di Cikande, Salatiga, Medan dan Surabaya. Rencananya akan bangun lagi satu unit di Bandung.

    Hingga September 2007, total kapasitas produksi pakan ternak CPI sekitar 4 juta ton/tahun, yang diproduksi dari 7 pabrik. Total kapasitas produksi DOC sekitar 607 juta ekor per tahun. Adapun total kapasitas produksi ayam potong 105 ribu ton/tahun. Pangsa pasar CPI di pasar modern diklaim 72% dan di pasar tradisional 91%.

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

      2 Comments

      1. yusup says:

        boleh jadi marketing u jabar,hub 081 313 701 939

      LEAVE A REPLY


      6 − four =