Home » Listed Articles » Beginilah Hartomo Membisniskan Sekolah Montir

Beginilah Hartomo Membisniskan Sekolah Montir

Hartomo Mechanical Training Centre (HMTC) baru berusia 7 tahun. Namun namanya sudah terkenal ke mana-mana. Dalam rentang waktu itu, tempat kursus mekanik dan perbengkelan sepeda motor ini telah menetaskan lebih dari 9 ribu alumni. Dia mulai beroperasi tahun 1999 dan telah banyak melahirkan entrepreneur di bidang perbengkelan dan montir sepeda motor. Maklum, para siswa HMTC memang tidak hanya diajarkan atau dibekali ilmu bongkar-pasang dan teknologi mesin sepeda motor terkini, tetapi juga diajarkan bagaimana mengelola bengkel. Adapun dari sisi kelengkapan, Museum Rekor Indonesia menobatkannya sebagai tempat kursus montir dan perbengkelan terlengkap di Tanah Air. Kredibilitas HMTC bahkan sudah diakui oleh sejumlah pabrikan otomotif semacam NPR, SKF, HGP, ASKI, dan Wipro. Pabrikan-pabrikan itu telah menjajal kemampuan siswa HMTC dengan cara memberi kesempatan mereka mengikuti pelatihan di pabrik.

Berbicara tentang HMTC jelas tak bisa dipisahkan dari sosok pendirinya, Hartomo Koes Alam Syahrir. Ide mendirikan HMTC, menurut lajang kelahiran Jakarta 17 Februari 1973 ini, berangkat dari keinginannya untuk turut membantu menciptakan lapangan kerja di tengah impitan krisis moneter. Di samping itu, tentu saja karena instingnya mengendus peluang bisnis. Dia yakin, seiring bertambahnya populasi sepeda motor yang sedemikian cepat (tahun 2005 saja total penjualan sepeda motor di seluruh Indonesia melampaui 5 juta unit), kebutuhan akan montir sepeda motor pasti meningkat tajam. Bengkel dan montir yang telah ada tak akan sanggup memenuhi pertumbuhan kebutuhan tersebut.

Sebelum mendirikan sekolah montir dan perbengkelannya itu, Hartomo sebenarnya lebih dikenal sebagai pebisnis sepeda motor bekas yang cukup sukses. Dia mengaku masuk bisnis sepeda motor bekas secara kebetulan, ketika dia masih duduk di bangku kuliah. Bisnisnya bermula ketika ia membeli sepeda motor bekas merek Yamaha RX King seharga Rp 3,3 juta untuk keperluan transportasi kuliah. Namun tak beberapa lama kemudian, motornya itu ditawar pembeli seharga Rp 3,7 juta. Motor itu pun dilegonya. Lalu dia membeli Honda Grand, yang kemudian dijual lagi dan mendapatkan untung Rp 500 ribu. “Dari situ saya berpikir, wah enak juga bisnis jual-beli motor,” ujarnya mengenang.

Begitulah Hartomo kemudian menjejakkan kakinya di bisnis jual-beli sepeda motor bekas. Gayanya masih tetap sama, hanya saja jumlahnya terus meningkat. Bisnis itu mulai terstruktur pada 1992, ketika Hartomo membeli 200 unit sepeda motor bekas yang dilelang perusahaan pembiayaan Putra Surya Perkasa. Modalnya, tak sampai Rp 50 juta. Maklum kondisi sepeda motor tersebut rata-rata tinggal 60%. Meski investasinya kecil, tak semua bisa dipenuhi dari kocek Hartomo. Sebagian modalnya dia peroleh dari ayahnya yang pengusaha restoran. “Dulu prinsip saya, kalau beli motor jangan lihat barangnya, tapi lihat untungnya. Kalau melihat motornya, ya tidak akan pernah bisa dagang karena maunya motor bagus. Barang hancur tidak masalah yang penting masih bisa dijual. Saya pernah menjual motor sampai 300 unit per bulan,” tuturnya bersemangat. Namun kesibukannya di bisnis sepeda motor bukannya tak punya konsekuensi. Kuliahnya di Teknik Mesin Universitas Trisakti tersendat-sendat. Hartomo baru menyelesaikan kuliahnya setelah 7 tahun.

Bungsu dari empat bersaudara ini mengaku telah mulai cari duit sejak SMP. Mulanya dia menjual jasa rekaman kaset yang lagu-lagunya berdasarkan pesanan. “Lumayan, dalam sebulan saya bisa menjual 60-70 kaset,” ujarnya. Waktu SMA agak meningkat sedikit, Hartomo menjadi wiraniaga (salesman) alat tulis kantor di Sriwijaya Stationery. Mungkin itu sebabnya ketika nasib membawanya mengalir ke bisnis sepeda motor bekas saat kuliah, pria berbadan bongsor ini tak lagi kagok. Setelah kuliahnya selesai, dia tetap menjalankan bisnis itu. Dia bahkan berhasil membeli rumah — dari hasil jual-beli sepeda motor bekas — di Jl. Sawo, Manggarai, Jakarta. Rumah itu lalu difungsikannya sekaligus sebagai showroom.

Namun masa jaya di bisnis sepeda motor bekas itu tidaklah berlangsung lama. Pertengahan 1997 krisis moneter menerjang dunia usaha Indonesia. Bersama ribuan perusahaan lain, usaha jual-beli sepeda motor Hartomo ikut karam. Namun, dia justru berpikir keras untuk tetap berada di dunia bisnis. “Lalu saya berpikir, kira-kira usaha apa yang bisa dilakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka tempat kursus montir sepeda motor. Saya memiliki pengetahuan tentang mesin dan pengalaman bisnis,” ia menjelaskan.

Persis 1 Juli 1999 Hartomo, dibantu dua orang instruktur, membuka jasa kursus montir sepeda motor di bekas showroom-nya. Sekolah itu diberinya nama Hartomo Mechanical Training Centre (HMTC). Investasinya, cuma lima unit sepeda motor untuk praktik, plus Rp 4 juta buat membeli peralatan (kunci-kunci). Pada bulan pertama, jumlah peserta kursus hanya satu orang, bulan keempat meningkat menjadi 7 orang. Untuk menjaring peserta lebih banyak lagi, Hartomo kemudian mulai beriklan, sekalian meningkatan brand awareness HMTC. “Saya sudah kalkulasi risikonya. Ini usaha baru yang harus dijalani secara ulet,” katanya serius.

Keuletannya memang berbuah. HMTC mulai ramai. Jumlah pesertanya meningkat drastis, rata-rata 20-30 orang per bulan. Perkembangan positif itu memberanikannya membuka cabang HMTC di Depok setahun kemudian. Tak dinyana, cabang Depok pun mendapat sambutan bagus dari masyarakat. Nama HMTC semakin dikenal di mana-mana, baik lewat iklan maupun alumninya. Tahun 2001, melihat respons positif itu, Hartomo mulai menawarkan pengembangan HMTC lewat pola franchise. Untuk mendapatkan hak waralaba HMTC, investor cukup menyediakan tempat dan uang jaminan senilai Rp 150 juta. Uang jaminan ini tidak bisa diambil selama tempat kursus itu masih berjalan. Namun, bila si investor mau menutup atau membuka kursus serupa, uang jaminan itu akan dipotong 30%. “Selain mendapat hak waralaba atas HMTC, investor juga mendapatkan peralatan dan instruktur. Sedangkan pihak franchisor mendapatkan fee sebesar 30% dari setiap siswa yang masuk,” ungkap Hartomo.

Kini, selain dua cabang yang dimiliki dan dikelolanya sendiri, Hartomo sudah memiliki 8 cabang, tersebar di Pekanbaru, Medan, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Jumlah karyawannya mencapai 120 orang, sedangkan jumlah instrukturnya 98 orang. Mereka dipimpin seorang chief instruktur yang merupakan mekanik (gokar, drug race motor dan mobil) terbaik Indonesia, yakni Gandoz Andika Bintang. “Saya tidak akan buka cabang HMTC lagi. Saya sudah komit ke para pemegang hak franchise untuk tidak menambah cabang baru,” Hartomo menegaskan.

Hartomo mengklaim total peserta kursus di HMTC 150-200 orang per bulan, tersebar di 10 cabangnya. Dari 10 cabang yang ada, HMTC Jakarta dan Yogyakarta dinilai paling bagus. Jumlah siswanya rata-rata 40-50 orang per bulan. Sementara HMTC cabang Medan dan Pekanbaru dinilainya paling lesu. Jumlah siswanya cuma 6-10 orang per bulan. Cabang-cabang lainnya cukup bagus dengan jumlah peserta 10-30 orang tiap bulan. Menurut Hartomo, alumni HMTC yang jumlahnya sudah 9 ribu lebih, sebagian bekerja di perusahaan bengkel. Sebagian lagi telah mengembangkan usaha bengkel sendiri.

Apa yang membuat HMTC begitu diminati? Padahal, dibandingkan dengan kursus sejenis di tempat lain, biayanya lebih mahal sekitar 50%. Menurut Hartomo, selain unggul di peralatannya yang lengkap, metode pengajaran di HMTC 80% praktik dengan sistem satu peserta satu instruktur dan satu sepeda motor. “HMTC memiliki sepeda motor untuk praktik lebih dari 200 unit, terdiri dari 44 jenis sepeda motor. Selain itu ruang belajarnya ber-AC dan disediakan mess atau penginapan gratis bagi para siswa yang berasal dari daerah. Keunggulan lain HMTC, adalah paket kursusnya beragam dan biayanya disesuaikan dengan paket yang diambil peserta,” Hartomo menguraikan.

HMTC memang menyediakan 8 paket kursus montir dan perbengkelan yang bisa dipilih peserta berdasarkan minat dan kemampuannya. Pertama, paket 6 sepeda motor (Modenas Kriss 2, Shogun R, Tornado, Supra X, Tiger 2000 dan F1ZR). Paket ini biaya kursusnya Rp 4 juta. Kedua, paket semua sepeda motor (mencakup 32 jenis sepeda motor dari berbagai tipe: Modenas, Honda, Suzuki, Yamaha, Kawasaki, Sanex, Jialing dan Vespa), biayanya Rp 6 juta. Ketiga, paket modifikasi standar, dengan biaya kursus Rp 6 juta. Keempat, paket 6 sepeda motor dan modifikasi standar, biayanya Rp 9 juta.

Paket kelima, semua sepeda motor dan modifikasi standar, biayanya Rp 10 juta. Ke-6, paket modifikasi plus (dengan instruktur modifikasi Gandoz HMTC), biayanya Rp 12 juta. Ke-7, paket 6 sepeda motor dan modifikasi plus, biayanya Rp 13 juta. Dan ke-8: paket semua sepeda motor dan modifikasi plus, biayanya Rp 14 juta. “Biaya kursus ini tanpa batas waktu, kecuali untuk modifikasi. Artinya, dengan biaya tersebut, siswa bisa belajar terus sampai bisa atau dinyatakan lulus. Itu salah satu keunggulan HMTC,” Hartomo menerangkan. Walaupun sangat tergantung pada kemampuan siswa, menurut Hartomo, biasanya dalam 4-6 bulan siswa sudah bisa menyelesaikan kursus dan beroleh sertifikat.

Pernyataan Hartomo dibenarkan Jacobus Djokosetio, yang sempat mengambil kursus di HMTC Sawo untuk paket semua motor pada April 2004. Untuk itu dia membayar Rp 5 juta. Jacky, begitu dia disapa, menyelesaikan kursusnya dalam dua bulan. “Walaupun materi tentang manajemen masih sedikit, pihak HMTC sangat mendorong siswanya untuk menjadi entrepreneur, bukan hanya ahli mekanik,” ujar Jacky. Tak lama setelah mengantongi sertifikat kursus dari HMTC, Jacky membuka bengkel Sinar Depok Motor di Jl. Arif Rahman, Depok. Investasi yang dikeluarkannya Rp 30-40 juta. Setiap hari, bengkelnya melayani 10-20 motor untuk diservis atau perbaikan. “Pada dasarnya saya cukup puas kursus di HMTC, karena saya bisa memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang seluk-beluk motor. Tetapi kalau boleh kasih saran, ke depan pihak HMTC sebaiknya menambah materi tentang manajemen bengkel. Ini penting, terutama bagi siswa yang ingin membuka usaha bengkel. Selain itu, supaya lebih objektif, untuk tes ujian bisa melibatkan pihak luar bukan hanya dari HMTC sendiri,” papar Jacky.

Tak jauh beda dari Jacky, Tekna juga merasa beruntung bisa kursus mekanik di HMTC Yogyakarta. Dia sendiri sudah memiliki bengkel sebelum mengikuti kursus. Jadi, tujuannya cuma mendapatkan pengetahuan tentang mesin dan bongkar-pasang. “Saya merasa awam sekali soal mesin. Jadi saya ikut kursus agar tidak bisa ditipu oleh mekanik. Tapi yang saya dapatkan, selain pengetahuan soal mesin, saya juga diajari cara melayani pelanggan dan mengelola bengkel,” tutur pemilik bengkel Sumber Abadi, yang berlokasi di Sragen, Jawa Tengah itu. Dia mengaku cuma membayar Rp 1,8 juta untuk paket 6 sepeda motor yang diambilnya, karena mendapat diskon sebagai peserta pertama di kursus itu. Sementara sertifikatnya sendiri berhasil diraih setelah tiga bulan. Kini Tekna mengelola bengkelnya dengan standar pelayanan yang diperoleh dari HMTC.

Kendati tidak akan membuka cabang baru, bos HMTC Hartomo nampaknya masih memiliki energi berlebih. Ini terlihat dari langkahnya masuk ke bisnis bengkel sejak dua tahun lalu. Dia mengembangkan HMTC Workshop. Gerainya kini sudah berdiri di Cipinang dan Klender, Jakarta. “Untuk gerai yang di Cipinang omsetnya rata-rata Rp 35 juta/bulan, sedangkan yang di Klender sekitar Rp 50 juta sebulan,” kata Hartomo. “Jumlah mekaniknya di masing-masing bengkel itu tiga orang,” tambahnya.

Sebagaimana tempat kursusnya, HMTC Workshop ini pun rencananya mau dikembangkan Hartomo lewat pola waralaba. Untuk itu, peminatnya diwajibkan membayar franchise fee US$ 3-4 ribu untuk tahun pertama, sedangkan tahun kedua dan ketiga US$ 1.500. Selain itu, franchisee mesti memiliki lahan minimal 50-100 m2. Hartomo menargetkan sampai akhir 2006 akan ada 10 HMTC Workshop di Jakarta. Dia optimistis HMTC Workshop akan berkembang karena peminatnya banyak dan harga yang ditawarkan sangat murah. Untuk menjaring pelanggan, Hartomo akan menggunakan strategi jemput bola dengan menjual kartu keanggotaan ke perusahaan-perusahaan. Jadi HMTC Workshop akan dikembangkan dengan sistem membership. “Pihak perusahaan cukup membayar Rp 300 ribu/tahun/motor dengan imbalan servis sepeda motor selama setahun,” Hartomo menjelaskan. “Obsesi saya nantinya bengkel HMTC ini bisa menyamai AHASS yang memiliki jaringan luas,” tambahnya bersemangat.

Di luar jasa kursus dan bengkel HMTC-nya itu, Hartomo masih memiliki PT Performa Auto Teknologi dan PT Auto Cell. Performa Auto didirikan Hartomo pada Maret 2005 dan menjadi distributor resmi Magic Jet, produk alat pengirit bensin untuk mobil dan sepeda motor. Adapun Auto Cell yang didirikan 6 bulan lalu bersama mitranya dari Singapura, memasok produk-produk audio mobil, seperti Planet, MIQ dan M Guard. Hartomo berencana pula membuka toko audio mobil di Kelapa Gading, Februari tahun ini.

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

2 Comments

  1. sultan says:

    saya tertarik untuk mengikuti kursus tersebut, tapi saya hanya punya uang simpanan sebesar 1 juta, dapatkah saya mengikuti program kursus tersebut, makasih.

  2. Helmi says:

    saya tertarik untuk mengikuti kursus nya, dan saya juga ingin memiliki kemampuan managemen bengkel sendiri. karena dalam waktu dekat ini saya akan membuka bengkel motor. apakah saya akan mendapatkan ilmu tsb.

    terimakasih..

LEAVE A REPLY


− five = 0