Berebut Gurihnya Kredit Usaha Cilik
Bank BRI tampaknya harus waspada. Begitu pula Bank Danamon yang mencuri start dengan keberhasilan program Danamon Simpan Pinjam. Bukan soal ancaman debitor nakal atau kredit macet, tapi itu lho, lezatnya kue bisnis micro banking yang mereka nikmati selama ini harus siap dibagikan ke bank-bank lain yang juga tergiur. Maklumlah, kini sejumlah bank lebih agresif menggarap pasar kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Mereka siap bersaing memperebutkan potensi pasar bisnis ini. Sampai dengan akhir Juni 2007, total kredit yang disalurkan untuk UMKM telah mencapai Rp 442,79 triliun, atau 51,4% dari total kredit yang disalurkan lembaga perbankan, dan trennya terus menunjukkan peningkatan. Skha Consulting memperkirakan, pada 2010 kredit yang disalurkan untuk kelompok pengusaha ini mencapai Rp 136 triliun.
Kini jumlah UMKM sekitar 45 juta, tapi baru 15 juta saja yang bisa dilayani perbankan. Sementara 30 juta UMKM sisanya belum tersentuh kucuran kredit bank. Nah, untuk menggairahkan penyaluran kredit ke sektor riil itu, Bank Indonesia (BI) mendukung dengan kelonggaran kebijakan kreditnya, yakni meningkatkan plafon kredit skala UMKM yang tadinya maksimal Rp 5 miliar menjadi Rp 20 miliar. Namun, plafon itu dengan syarat: jangka waktunya 4-5 tahun tertentu dan manajemen risiko bank itu sangat bagus.
Seperti yang kita ketahui, penyaluran kredit perbankan ke UMKM dibedakan menjadi dua: fasilitas kredit modal kerja dan investasi. Sesuai dengan skala usahanya, plafon yang dipatok pun berlainan. Katakanlah untuk usaha skala kecil, plafon kredit maksimal Rp 500 juta. Sementara plafon kredit skala menengah di atas Rp 500 juta hingga Rp 20 miliar.
Kelonggaran kebijakan kredit mikro yang dikeluarkan BI dan antusiasme perbankan mendukung UMKM membuahkan hasil. Aviliani mengatakan, realisasi kredit perbankan ke UMKM kini cukup dominan, hingga 52%. Adapun rata-rata pertumbuhannya 20% per tahun. Itu artinya tren penyaluran kredit ke korporasi mengecil. “Sebetulnya yang menjadi masalah sekarang adalah kredit yang feasible, tapi belum bankable,†ujar pengamat perbankan dari lembaga kajian Indef itu. Adapun bank-bak yang belakangan lebih getol menggarap UMKM, antara lain, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Mandiri, Bank NISP, Bank Bukopin dan Bank BNI.
Meningkatnya kontribusi kredit UMKM terhadap total kredit yang disalurkan bank dibenarkan oleh Pramukti Surjaudaja. CEO dan Presdir Bank NISP itu mengungkapkan, dari total Rp 18,21 triliun kredit yang dikucurkan NISP per September 2007, sebesar 55% untuk UMKM, 20% konsumer dan 25% korporasi. Hebatnya, pertumbuhan kredit mikro NISP rata-rata mencapai 30% saban tahun.
BII tak mau kalah dengan meningkatkan portofolio kredit mikronya. “Per September 2007 ekspansi kredit komersial dan UMKM BII naik 34% dari Rp 7,3 triliun menjadi Rp 9,8 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu,†Ventje Rahardjo, Direktur Pengelola Usaha Kecil-Menengah (SME) & Komersial BII, menjelaskan. Ia mengaku, peningkatan porsi kredit UMKM bukan pertimbangan oportunis untuk mengejar tingginya pendapatan bunga kredit. Ia menandaskan, “Ini strategi. Tujuan kami, mengejar pertumbuhan agresif di pasar UMKM.â€Â
Sebastian Paredes sepakat dengan Pramukti dan Ventje. “Kredit UMKM dan konsumer memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan profitabilitas Bank Danamon,†kata Dirut Bank Danamon itu. Ia menguraikan, selama kuartal III/2007 total kredit UMKM Danamon mencapai Rp 17,90 triliun atau naik 34% dibandingkan tahun 2006 dalam periode yang sama. Kontribusi 34% itu menempati urutan kedua setelah sumbangan kredit konsumer yang mencapai 36%.
Sementara itu, kepedulian Bank Bukopin terhadap UMKM tidak perlu diragukan lagi. Sejak berdiri tahun 1970, Bukopin getol mengikuti program kredit dari pemerintah untuk pengentasan rakyat miskin. Tak mengherankan, bank ini sering dikategorikan sebagai banknya UKM. Dari aset sebesar Rp 24,6 triliun, Bukopin telah menyalurkan kredit UMKM sekitar Rp 10 triliun dan jumlah nasabahnya lebih dari 10 ribuan.
Bank yang sebelumnya fokus ke kredit korporasi juga mengalokasikan kredit UMKM dalam jumlah besar. Sebagai contoh, Mandiri dan BNI, hingga triwulan III/2007 Mandiri telah menggelontorkan kredit UMKM sebesar Rp 16 triliun. Adapun kredit baru sektor ini selama 9 bulan terakhir mencapai Rp 3 triliun. Direktur Ritel dan Perbankan Mikro Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, pertumbuhan kredit usaha kecil itu didominasi sektor perdagangan. Beberapa jenis usaha, terutama sektor kelautan, masih cukup rendah akibat besarnya risiko. Dari Rp 16 triliun kucuran kredit UMKM itu, sebesar Rp 800 miliar dikucurkan lewat linkage programe bersama BPR dan 290 koperasi. Sementara itu, BNI menargetkan hingga akhir 2007 bisa mengucurkan kredit UMKM sebesar Rp 2,7 triliun. Sampai semester I/2007, yang sudah tersalurkan Rp 1,7 triliun. BNI juga menambah guyuran kredit UMKM sekitar Rp 1,9 triliun. Kredit itu akan disalurkan secara bertahap. Tahap pertama sebesar Rp 200 miliar, diberikan hingga akhir 2007. Sisanya akan dikucurkan pada 2008 dan 2009 dengan nilai masing-masing Rp 700 miliar dan Rp 1 triliun. Rencananya, kredit itu dikucurkan untuk UMKM potensial, yaitu sektor kerajinan dan perdagangan.
Lantas, seperti apa strategi mereka untuk menggenjot kredit UMKM, bahkan menyalip BRI dan Danamon yang lebih senior dan unggul? Menurut Ventje, strategi BII terkait dengan lokasi dan SDM. Ada dua jenis channel penyaluran kredit ke UMKM: langsung dan tidak langsung. Channel langsung melayani kredit berplafon Rp 100 juta-5 miliar melalui 11 Small Medium Enterprise and Commercial Business Center (SCBC) di seluruh Indonesia yang berada di kantong-kantong UMKM. Dari 11 SCBC ini, empat kantor di Jakarta, dan 7 di Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar dan Balikpapan. Sementara itu, channel tidak langsung khusus untuk kredit yang plafonnya hingga Rp 100 juta. Ini melalui linkage program lewati BPR, koperasi dan pola inti plasma. Selain SCBC, BII juga punya hampir 30 cabang yang mampu melayani kredit UKM & komersial dengan total SDM 160 orang. Tahun 2008 Ventje menargetkan akan menambah 30 cabang lagi yang dilengkapi fasilitas kredit UKM & komersial, dan merekrut 100 tenaga kerja baru.
BII juga berusaha lebih proaktif bekerja sama dengan lembaga lain, misalnya perusahaan perkebunan, pembiayaan distributor, perusahaan telekomunikasi dalam pembiayaan subkontraktor (misalnya untuk mendirikan base transceiver station), asosiasi serta instansi pemerintah, seperti BPR BKK Pemda Jawa Tengah atau Kementerian Koperasi & UKM.
Dalam hal layanan, Ventje sedikit berpromosi bahwa BII memiliki keunggulan dibandingkan bank lain. “Kami tumbuh bersama dengan pedagang di kawasan-kawasan perdagangan, sehingga kami mengerti apa yang dibutuhkan pedagang,†ungkapnya. Untuk itu, BII melakukan approach pembiayaan pada cluster tertentu dan di daerah khusus. “Sebagai contoh, kami mengerti sekali mengenai bisnis perdagangan komputer. Kami tahu kebutuhan mereka. Kami tahu jalur distribusinya, kami tahu model bisnisnya seperti apa. Orang-orang kunci di bisnis ini kami tahu, mulai dari cara berdagang atau pembayaran, sehingga kami bisa menyesuaikan cara menawarkan kredit dan syarat-syaratnya,†Ventje memaparkan. Ke depan, BII bakal menambah fasilitas otomasi bagi calon debitor, sehingga mempercepat proses dan meningkatkan akurasi penyaluran kredit.
Dari sisi SDM, Ventje menerangkan, masing-masing SCBC didukung oleh para account officer yang telah mendapat pelatihan secara khusus, sehingga diharapkan mampu memberikan solusi yang terarah. Mereka juga dibekali kemampuan mengidentifikasi peluang pasar. Kemampuan ini disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing. “Ini yang jadi added value bagi calon debitor kami dan tidak akan diperoleh apabila hanya dilayani customer service,†ujar Ventje mengklaim.
Pramukti tak gentar menghadapi sengitnya persaingan kredit UMKM. “Karena NISP sudah memiliki pola kerja, infrastruktur dan sistem untuk UKM,†katanya tandas sembari menambahkan, layanan khusus UKM dan konsumer diberikan selama lima hari kerja. Strateginya tidak dengan cara menurunkan bunga di bawah harga pasar, tapi pelayanan optimal dan sikap kooperatif. Nah, guna memudahkan layanan, NISP menawarkan Cash Management Service, Same Day Payment to China, serta mengembangkan beberapa produk dan program bidang transportasi, komputer, serta farmasi. Juga, meningkatkan jaringan — kini NISP memiliki 337 kantor, 467 ATM, 20 ribu ATM bersama, dan 5.236 karyawan.
Lalu, Bukopin menggarap pasar UMKM dengan mengandalkan Swamitra. Ini merupakan koperasi simpan-pinjam yang dikelola secara modern dengan menggunakan teknologi Bukopin. Jadi, bisa dikatakan, Swamitra merupakan program kerja sama antara Bukopin dan koperasi simpan-pinjam di seluruh Indonesia. Konsep Swamitra adalah two step loan: pinjaman dari Bukopin kemudian diberikan ke Swamitra dan akhirnya sampai ke nasabah. Sebab, nilai kredit di bawah Rp 150 juta, cost-nya terlalu besar jika ditangani bank, sehingga memberdayakan jaringan koperasi simpan pinjam.
Upaya yang dilakukan Bank Mandiri untuk menggarap kredit UMKM tak kalah agresifnya. Baru-baru ini Mandiri mengakuisisi saham PT Bank Sinar Harapan Bali (Bank Sinar) yang fokus pada pembiayaan usaha kecil dan mikro di Denpasar, Bali. “Potensi kredit usaha kecil dan mikro di Bali masih sangat menjanjikan,†ungkap Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo. Menurut Agus, pihaknya akan memisahkan dan mempertahankan Bank Sinar untuk menjalankan peran sebagai bank penyalur kredit sektor UKM di Bali. Untuk itu, Mandiri bakal memberi dukungan penuh kepada Bank Sinar dalam pengembangan manajemen risiko, teknologi informasi, produk ataupun layanan perbankan ritel. Selain itu, akan memperkuat berbagai aspek manajemen perbankan lain dalam meningkatkan kemampuan bersaing. Agus menambahkan, Mandiri sudah mengembangkan lima strategic business unit, salah satunya SBU micro and retail banking yang fokus pada nasabah usaha kecil dan mikro maupun ritel. “Kebijakan ini diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan bisnis perseroan di masa depan dan memantapkan pertumbuhan bisnis di segmen usaha kecil dan mikro melalui akuisisi Bank Sinar,†ujar Agus menegaskan.
Selain mengakuisisi Bank Sinar yang memiliki 50 kantor cabang dan kas di Bali, belum lama ini Mandiri juga menyalurkan kredit senilai Rp 33,67 miliar kepada binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra. Kredit disalurkan dalam bentuk program kemitraan dan ditujukan bagi ratusan bengkel resmi Astra Honda Authorized Service Station (AHASS). Juga, ditujukan bagi ratusan pemasok suku cadang resmi Honda serta puluhan Bengkel Binaan Astra (BBA) yang tersebar di seluruh Indonesia. Plafon kredit yang telah disiapkan Mandiri kepada bengkel resmi AHASS dianggarkan sebesar Rp 18,52 miliar, untuk pemasok suku cadang resmi Honda sekitar Rp 13 miliar, dan Rp 2,15 miliar dialokasikan untuk BBA.
Danamon yang terus menguntit BRI dalam menggarap kredit UMKM pun tak tinggal diam. “Kami telah menginvestasikan jumlah dana yang signifikan. Lalu, buka kancab hampir 700 cabang dan mempekerjakan lebih dari 7 ribu SDM untuk menopang pertumbuhan UMKM yang lebih agresif dan terbuka sepanjang empat tahun terakhir,†ujar Paredes. Ke depan, strategi Danamon adalah lebih fokus pada akuisisi golongan masyarakat yang kurang memiliki akses ke bank. “Filosofi kami adalah memberikan akses kepada customer yang tidak memiliki akses ke bank, tapi tetap mengendepankan kemudahan dan kenyamanan beroperasi,†katanya. Kredo kenyamanan dan kemudahan bertransaksi diterjemahkan salah satunya lewat inovasi handprint technology dan mobile EDC untuk segmen UMKM ini. Tahun 2008, Danamon hendak merekrut 2000 SDM baru, menambah 200 point of sale baru, serta merancang model bisnis yang baru dan pendekatan bisnis yang lebih industrial segmented untuk mendukung agresivitas DSP.
Boleh dibilang, tingkat kredit macet sektor UMKM relatif kecil. Lihat saja di NISP, sebagaimana diakui Pramukti, hanya berkisar 2,09%. Angka itu jauh di atas non performing loan (NPL) yang ditetapkan BI: maksimal 5%. Ini berarti manajemen risiko bank asal Bandung itu cukup baik. Kehati-hatian pengucuran kredit UMKM ini pun dilakukan BII dan Mandiri. Buktinya, NPL kredit mikro BII dan Mandiri masih di bawah 4%. Kendati demikian, baik pemain lawas maupun pendatang baru yang berebut kue kredit UMKM sebaiknya menyimak pesan Aviliani: “Main kredit UMKM itu susah-susah gampang. Sebab, pada dasarnya mereka (nasabah) harus diawasi dan sistemnya kekeluargaan.â€Â
Reportase: Afiff Maulana Dewanda
TABEL
Komposisi Kredit UMKM menurut Jenis Kredit (Rp Miliar)
2003 2004 2005 2006 Juni-07 SME Investment 22,760 28,460 33,049 37,147 40,641 SME Working Capital 91,129 111,636 142,633 171,118 178,135 SME Consumer 93,199 130,997 179,225 202,177 224,012 Total SME Loan 207,088 271,093 354,907 410,442 442,788 Total Loan 440,505 559,469 695,649 792,298 861,498 SME Loan/Total Loan (%) 47,01 48,46 51,02 51,80 51,40