Bertaruh di Sekolah Kuliner

Ide pendirian ChezLely, diakui Lely, muncul setelah dia belajar memasak di Le Cordon Bleu, sekolah masak tertua di Prancis. Di sana dia menimba ilmu kuliner selama 6 bulan. Juga, mempelajari pengetahuan tentang seni mengolah makanan, standar bahan baku, dan metode pengajaran kursus masak. Waktu itu dia melihat banyak orang tua di Prancis yang menyekolahkan anak remajanya di tempat kursus masak. Lalu, dia membandingkannya dengan Indonesia. Dia berpikir lembaga pendidikan masak itu pasti juga diminati di sini, apalagi ini peluang bisnis.

“Saya ingin suatu saat chef menjadi sebuah cita-cita, bukan pilihan profesi terakhir,” ucap Lely. Maka, pada 2005 dia mengibarkan bendera PT ChezLely Sejahtera untuk memproklamasikan berdirinya sekolah masak tersebut. Nama sekolah yang dipilih berasal dari bahasa Prancis, dengan penggalan kata “chez“ yang berarti tempat, sedangkan “Lely” adalah namanya sendiri sebagai founder.

Untuk membuktikan bonafiditas ChezLely, sejumlah dosen beberapa universitas di Jakarta yang memiliki program pariwisata direkrut sebagai staf pengajar. Namun, sekarang tugas itu digantikan oleh belasan chef profesional yang berpengalaman kerja di hotel berbintang lima. Tujuannya, pengetahuan kuliner yang ditularkan ke siswa tidak sekadar teoretis, tapi berdasarkan praktik di lapangan. Sebanyak 10 chef bekerja paruh waktu dan seorang lagi sebagai karyawan tetap.

Ada lima program kursus yang ditawarkan ChezLely. Yaitu, professional cuisine, le cuisine reguler, le cuisine short course, le petit chef reguler dan le petit chef short course. Dengan banderol biaya kursus Rp 2,5-15 juta/level, kursus ini membidik kalangan menengah-atas. Segmen pasarnya mulai dari anak-anak (7-12 tahun), remaja, koki profesional hingga ibu-ibu rumah tangga. Semua peserta harus memulai dari kelas basic. Dan tiap kelas maksimal diisi 10 murid. “Bahkan untuk pemilik katering pun mereka harus memulai dari dasar untuk menyamakan standar memasak,”ungkap sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi Bandung itu. Untuk kelas profesional, di akhir pelatihan ada ujian dengan juri dari Association of Culinary Professional. “Peserta ini diajarkan bagaimana mem-fillet-kan ikan dan membuang tulang ayam,” kata Lely yang pernah berkarier di perusahaan multinasional selama 15 tahun.

Rupanya tidak mudah memperkenalkan ChezLely. “Bagi remaja kita, memasak itu bukanlah sesuatu yang cool atau keren,” kata wanita kelahiran 11 Januari 1963 itu tentang kendala memopulerkan sekolah besutannya tersebut. Toh, dia tak lekas menyerah. Jalan promosi ditempuh untuk mempropagandakan bisnis sekolahnya agar terkenal. Mula-mula dia beriklan di koran nasional, selanjutnya memasarkan secara bergerilya dengan menyebar brosur ke berbagai sekolah menengah yang mempunyai program tata boga. Agar hasilnya maksimal, berikutnya dia juga memasang iklan di majalah kawasan (Pondok Indah dan Kelapa Gading).

Kini selain mengembangkan program yang sudah ada, Lely juga berusaha meningkatkan pamor masakan Indonesia. “Saya mati-matian mengembangkan kelas setiap Sabtu untuk belajar menu Indonesia. Nggak papa rugi hanya ada dua murid asalkan kelasnya jalan,” ujarnya. Sayang, rata-rata peserta menginginkan belajar masakan Eropa atau luar negeri.

Andri Yono, salah seorang siswa ChezLely, misalnya, mengakui tertarik belajar masakan India. Kebetulan, dia mengikuti kursus itu atas tugas dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan ritel multinasional. “Tidak sulit kok menangkap instruksi yang diberikan instrukturnya,” ujar mantan karyawan restoran cepat saji itu.

Sejak berdiri hingga sekarang, ChezLely telah meluluskan lebih dari 600 orang. “Malah kalau kunjungan karyawan dari berbagai perusahaan dihitung juga, sudah 1.000-an lebih peserta,” ucap Lely. Dia mengklaim banyak chef dari luar yang memuji keahlian alumni ChezLely setingkat hotel berbintang. Itu bisa saja terjadi, karena diakuinya, mata pelajaran kuliner dan keterampilan memasak yang diberikan sekolahnya lebih detail dan lengkap.

Ngomong-ngomong, bagaimana kinerja sekolah kuliner ini? Sejauh mana pertaruhan investasinya?

Lely yakin tahun 2010 modal investasinya di ChezLely akan balik. Mengapa? “Sejak pertengahan tahun lalu, ChezLely sudah bisa membiayai operasional sendiri. Saya tidak perlu menyuntikkan dana lagi,” katanya seraya menolak pertanyaan seputar modal awal investasi yang dibenamkan. Yang jelas, dia menambahkan, tanah untuk pendirian gedung ChezLely seluas 700 m2 di Jl. Kavling Lestari I/100 (belakang Stadion Lebak Bulus, Jakarta) itu miliknya pribadi. Dia hanya perlu merogoh kocek untuk biaya pembangunannya.

Findex Tengker, Executive Chef Hotel Four Seasons, Jakarta, berpendapat, sekolah masak ChezLely mempunyai peran strategis dalam mengembangkan minat masyarakat menjadi koki profesional. “Namun, kalau Lely ingin menjadikan sekolah masaknya lebih serius mencetak koki profesional, harus ada pembenahan kurikulum dengan tim pengajar yang lebih bagus,” kata Presiden Association of Culinary Profesional itu. Ini diperlukan karena nantinya yang akan mendaftar bukan sekadar iseng-iseng belajar masak, tapi orang-orang yang serius menjadi koki profesional.

Sejauh ini, Findex melihat ChezLely baru sebatas tahap memperkenalkan sekolah masak kepada masyarakat Indonesia. Dia pun mafhum. Sebab, untuk menjadi sekolah pencetak koki sekelas hotel berbintang lima dan internasional dibutuhkan waktu lama. Dia mencontohkan sekolah masak yang pernah dikunjunginya di Filipina. “Mereka mempunyai 14 laboratory kitchen dan sudah berdiri belasan tahun,” ujar alumni Akademi Pariwisata Jakarta tahun 1989 itu. Maka, dia menyarankan Lely untuk mengembangkan pemasaran dan merekrut lebih banyak tim pendidik yang mempunyai pengalaman internasional.

Di luar saran di atas, Lely sendiri merasa bangga melihat ada anak didiknya yang mulai berkecimpung dalam industri kuliner. “Ya, paling tidak lima tahun mendatang ketika saya masuk ke sebuah restoran milik alumni ChezLely, mereka mentraktir saya makan,” ujarnya berseloroh sambil tersenyum geli.

by admin on 30th Apr 09
Posted in Listed Articles

View or Post Comments.