Home » Listed Articles » Bisnis Resto Bu Sumarsih

Bisnis Resto Bu Sumarsih

Menjadi pengusaha sukses tak selamanya harus dimulai dengan modal besar dan berada di lokasi bisnis strategis. Pasangan Sumarsih-Thomas Khodiyat adalah contoh paling nyata. Keduanya bahkan tak berusaha mencari lokasi strategis untuk memulai usaha warung nasinya. Warung yang kemudian populer dengan nama Morolejar ini malah berada di pelosok desa yang sepi. Desainnya model gubuk atau saung dengan atap ilalang. Tak ada perangkat mebel (mebelair) mewah di situ. Tempat duduknya bergaya lesehan dengan alas tikar mendong.


Mulanya, niat pasangan ini membuka warung memang sekadar dapur bisa berasap dan keluarga tidak kelaparan, setelah usaha penggilingan padi mereka bangkrut dengan meninggalkan utang lumayan gede. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Beban kami waktu itu sangat berat, karena menanggung utang puluhan juta rupiah. Meskipun mesin giling sudah dijual, utang tetap tidak tertutup seluruhnya,ââ”Å¡¬? tutur Thomas mengenang. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Lalu untuk menyambung hidup, ibu buka warung makan kecil dengan memanfaatkan bangunan bekas penggilingan padi,ââ”Å¡¬? sambung ayah tiga anak itu datar.


Usaha warung makan itu berdiri awal 1990-an. Menu yang disediakan sederhana: nasi, sayur dan lauk-pauk utama berupa ikan air tawar goreng. Modalnya, menurut Thomas, hanya puluhan ribu rupiah. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Maklum, ini usaha darurat untuk menyambung nyawa,ââ”Å¡¬? kata pensiunan pegawai negeri Pemda Kabupaten Sleman itu sambil tertawa kecil.

Sumarsih dan Thomas, dengan warung nasi mereka yang sebelumnya tanpa nama ini, mungkin tak pernah menyangka usahanya akan berkembang seperti sekarang: terdiri dari 35 saung bergaya lesehan, berukuran besar dan kecil, di atas kolam-kolam ikan air tawar, dengan dibantu ratusan karyawan, dan kedatangan pelanggan dari berbagai penjuru. Omsetnya kini puluhan juta rupiah per hari. Dalam perjalanan waktu, desain yang tak disengaja itu malah seperti mengacu pada konsep resto modern yang berciri back to nature.

Tak mengherankan, Morolejar semakin populer di Sleman, Yogya dan sekitarnya. Padahal, awalnya warung nasi ini cuma membidik para sopir truk pengangkut pasir dan pekerja tambang yang tiap hari berlalu lalang di depan rumah mereka di Balangan, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Bidikan awal ini memang tak salah sasaran. Dalam waktu singkat warungnya laris manis dan selalu dipenuhi pengunjung. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Setiap hari tempat kami kayak jadi pangkalan truk, karena banyaknya sopir yang mampir makan,ââ”Å¡¬? ujar Thomas.

Melihat sambutan konsumen begitu antusias, Sumarsih lalu menambah menu makanan dengan ikan yang lebih bervariasi seperti gurame, mas dan lele, untuk menarik lebih banyak pelanggan. Upaya ini tak sia-sia. Pengunjung dari hari ke hari makin membludak, sehingga warung hasil modifikasi dari bekas penggilingan padi itu pun tak mampu lagi menampung pelanggan.

Sumarsih dan Thomas lantas memutuskan memanfaatkan kolam di dekat rumah. Di atas kolam itu, mereka membangun saung sederhana. Sekali lagi di luar dugaan, saung di atas kolam ini justru menjadi tempat favorit pelanggan. Mereka lebih senang duduk lesehan di saung tersebut ketimbang duduk di kursi warung. Boleh jadi, daya tariknya adalah suasana alami, seperti suara kecipak air kolam yang penuh ikan dan semilir angin di antara pepohonan.

Melihat itu, Sumarsih dan Thomas kemudian membangun beberapa gubuk lagi, yang kemudian juga penuh sesak. Tak aneh, dalam kurun dua tahun sudah berdiri 8 saung, yang kemudian terus berbiak hingga kini menjadi 35 saung. Semua saung itu merupakan bangunan sederhana yang hanya menggunakan bambu dan penutup atap daun tebu. Namun, pelanggannya tidak lagi hanya sopir truk dan pekerja tambang pasir, tapi meluas sampai ke mahasiswa dan orang-orang berduit yang berdatangan dengan mobil mewah.

Dengan perkembangan itu, Sumarsih dan Thomas mulai memperbaiki manajemen warung. Mereka merekrut lebih banyak karyawan, hingga kini jumlahnya ratusan. Soal permodalan, mereka mengaku tak lagi mengalami kesulitan. Maklum, setelah melihat perkembangan usaha warung mereka, banyak bank yang bersedia meminjamkannya. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Padahal ketika awal mendirikan warung, kami tak berani datang ke bank. Toh, mereka tak akan memberikan juga biar kami memohon. Apalagi, setelah melihat usaha penggilingan padi kami bangkrut,ââ”Å¡¬? jelas Thomas.

Saung mereka diperbanyak dengan berbagai variasi ukuran, termasuk saung besar buat menampung puluhan orang yang sengaja membuat hajatan di Morolejar. Tak mengherankan, truk-truk yang dulu banyak berjejer di halaman warung, kini digeser oleh mobil-mobil pribadi dan mobil kantoran. Banyak hajatan keluarga, meeting kantor dan berbagai pesta -ââ”Å¡¬ÃƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…“ termasuk pesta wisuda orang kota — diselenggarakan di resto ini.

Bagi orang Yogya, Sleman khususnya, Morolejar seolah menjelma menjadi ikon resto dan tempat kongko baru, untuk menghilangkan penat sambil menikmati makanan lezat masakan Bu Sumarsih. Setiap bulan bisa berton-ton ikan air tawar dihabiskan di rumah makan ini — rata-rata sekitar 1,5 ton/bulan. Apalagi, bila musim libur tiba. Saking ramainya pengunjung, Sumarsih dan Thomas sampai terpaksa menutup pintu masuk rumah makannya, agar tamu bisa mencari alternatif lain untuk mengisi perut mereka. Setelah ada tempat kosong, baru pintu itu dibuka kembali.


Sebagaimana bisnis lain yang begitu populer di mata konsumen, Warung Morolejar — nama yang diberikan seorang pendeta yang kebetulan makan di situ — juga merangsang orang lain membangun bisnis serupa. Kini, di sekitar Morolejar telah berdiri tak kurang dari 20 resto serupa yang menjadi pesaingnya. Salah satunya, Boyong Kalegan, yang terletak di pinggir Kali Boyong di Kecamatan Pakem, Sleman. Rumah makan ini konon menghabiskan investasi Rp 2 miliar dan berhasil balik modal hanya dalam dua tahun. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Kami memang ingin mengikuti jejak kesuksesan Morolejar,ââ”Å¡¬? kata Manajer Operasional RM Boyong Kalegan.

Toh, kehadiran banyak pesaing, diakui Sumarsih dan Thomas, tak terlampau mengkhawatirkan mereka. Alasannya, bahan baku buat Morolejar telah tersedia lengkap dari lahan sendiri yang luasnya mencapai 3,5 hektare. Juga, ikan yang menjadi menu utama tinggal ditangkap dari kolam-kolam sendiri. Lagi pula, menurut mereka, adanya pesaing juga memberikan alternatif kepada konsumen yang tak kebagian tempat di Morolejar, apalagi jika mereka datang dari jauh. Menurut Thomas, pelanggannya datang tidak hanya untuk menikmati masakan sang istri, tapi sekaligus refreshing di kawasan lembah Gunung Merapi yang sejuk.


Namun, bukan berarti Sumarsih dan Thomas tak melakukan upaya apa pun guna memelihara pelanggan. Sebaliknya, mereka juga menata warung lebih apik lagi, antara lain dengan menambahkan konsep taman. Menurut Thomas, kebetulan ada temannya yang sukarela membantu mendesain restonya dengan konsep taman. Hal lain yang membuat pasangan pengusaha ini tak khawatir, Morolejar, menurut mereka, sudah punya pelanggan fanatik. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Meski banyak pilihan, mereka merasa nggak sreg, kalau nggak mampir ke Morolejar,ââ”Å¡¬? kata Thomas bangga.


Yang pasti, Thomas layak bangga, karena usaha warungan yang dibangunnya bersama sang istri demi memenuhi kebutuhan hidup yang mendesak, kini telah berkembang menjadi bisnis resto serius yang digemari banyak pelanggan. Bahkan, beberapa kali mereka mengaku mendapat tawaran membuka cabang di kota lain. Salah satunya, di kawasan pertambangan PT Freeport, Timika. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Surat permohonan dari PT Freeport masih kami simpan, dua kali mereka kirim surat karena yang pertama kami belum sempat membalas, baru yang kedua kami membalasnya,ââ”Å¡¬? tutur Thomas kalem.

Tampaknya, Thomas belum punya keinginan sejauh itu. Dia merasa, meskipun sukses di tempat sekarang, belum tentu Morolejar bisa sukses di tempat lain. Menurutnya, salah satu penyebab keberhasilan restonya saat ini adalah menu makanannya. Padahal, selama ini urusan dapur masih dikontrol langsung istrinya. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Istri saya yang menentukan bumbu untuk semua masakan, baik sayur, sambel maupun untuk ikan bakar, ikan goreng dan sebagainya. Kalau di tempat lain, nanti bagaimana?ââ”Å¡¬? ujarnya polos, penuh kebimbangan.

Di mata pengamat bisnis Budi Suprapto dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, keraguan Thomas wajar saja, karena selama ini Morolejar memang sangat tergantung pada Sumarsih. Adapun kesuksesan warung ini tidaklah lepas dari perubahan selera masyarakat. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Sekarang ini sedang menjadi tren bahwa acara makan bukan sekadar mengisi perut, tapi bagian dari lifestyle dan pleasure. Morolejar memenuhi itu,ââ”Å¡¬? katanya menganalisis. ââ”Å¡¬Ãƒâ€¦”Apalagi, mulai ada kejenuhan kaum the have menyantap fastfood yang rasanya memang tak enak dan kodian,ââ”Å¡¬? tambahnya. Menurut Direktur MM Atma Jaya Yogya ini, sebenarnya Thomas tak perlu takut mengembangkan restonya. Jalan yang bisa ditempuh, dengan mewaralabakan Morolejar yang sudah punya merek kuat setidaknya di Yogya.



Reportase: Gigin W. Utomo

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


9 + = sixteen