Home » Listed Articles » Bisnis Sekolah Balap Para Pembalap

Bisnis Sekolah Balap Para Pembalap

Bermunculannya sekolah racing tak lain karena melihat animo masyarakat terhadap dunia balap terus meningkat. Setiap kali digelar kejuaraan – baik tingkat nasional maupun daerah – jumlah peserta selalu membludak. Belum lagi balapan liar yang banyak terjadi di jalan-jalan kota besar.

Melihat potensi tersebut, para mantan dan juga pembalap aktif mendirikan sekolah balap sesuai dengan keahlian gurunya. Ambil contoh Hendriansyah. Setelah sukses meluncurkan merek Hendriansyah Racing Product – pernak-pernik balap khususnya motor – kini pembalap nasional yang mendapat julukan Dewa Road Race itu membuka sekolah balap, namanya Hendriansyah Racing School (HRS). “Peminat balap semakin banyak, jadi apa salahnya membuka sekolah balap,” tutur kelahiran 20 Agustus 1981 ini. “Investasinya berkisar Rp 100-200 juta,” lanjut pria yang akrab disapa Hendri ini. Modal itu digunakan untuk membeli motor dan baju balap.

Hendri turun sendiri sebagai mentor di sekolah yang berlokasi di Jl. Parangtritis Km 4,5 Yogyakarta itu. Agar lebih meyakinkan, ia pun menggandeng Dedi Permadi, Juara Pertamina Enduro 4T. Duet ini pun bagaikan magnet bagi calon siswa. Setiap bulannya sekolah ini tidak pernah kekurangan siswa, padahal mereka tidak pernah beriklan di media massa. “Lebih enak kalau promosi sewaktu ada event road race, tinggal sebar brosur,” ujar Hendri seraya menyebutkan rata-rata setiap bulan ada 6 sampai 10 orang siswa belajar di HRS. Masing-masing siswa dikenai biaya Rp 5 juta.

Saat ini, beberapa murid Hendri mulai masuk dunia balap – terutama road race – secara profesional. Salah satunya, Fitriansyah Kete, yang berhasil merebut tiga emas pada PON XVII lalu. Selain itu, ada Bobby Anasis. Pria berusia 15 tahun yang sudah beberapa kali memenangi kejuaraan daerah (kejurda) road race kelas bebek tune up IV pemula A (MP4) ini juga alumni HRS. “Latihan di sana sangat disiplin,” ujar Bobby. Dalam satu bulan sedikitnya ada 20 kali pertemuan latihan fisik. Materinya, lari maraton dan sprint. Tak ketinggalan kebugaran juga menjadi sarapan wajib siswa balap. Sementara untuk teori dan praktik masing-masing dilakukan dalam lima kali pertemuan selama satu bulan kursus. “Baru pada akhir kursus, saya ngetrek di Mandala Krida. Di situ mulai diberikan catatan waktu,” katanya. Bobby mengaku cukup puas ikut kursus balap di HRS. Skill ngebutnya terasah setelah dipermak oleh sang dewa road race Indonesia.

Sama seperti Hendri, pembalap nasional Moreno Suprapto juga ikut meramaikan bisnis sekolah balap di Indonesia. Bersama kakaknya, Ananda Mikola, sejak awal tahun 2008 Reno mengibarkan bendera PT Ananda Mikola-Moreno yang bergerak di bidang sekolah racing dan kursus safety riding. “Saat ini kami memang lebih banyak bergerak di bidang safety riding,” ungkapnya.

Putra Tinton Suprapto ini menyebutkan, peserta kursus safety riding kebanyakan berasal dari kalangan korporat. Kliennya kebanyakan perusahaan pertambangan. Selain itu, lembaga pemerintah seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Dinas Perhubungan, Kepolisian, bahkan Pasukan Pengaman Presiden juga latihan di tempatnya.

Setiap peserta dikenai biaya Rp 2 juta. Biaya ini sebagai ongkos transfer ilmu selama dua hari di Sirkuit Sentul. “Materi 20% teori dan 80% praktik,” kata Reno.

Untuk mengenalkan sekolahnya, Reno dan timnya rajin menyambangi beberapa instansi baik pemerintah maupun swasta. “Karena tidak cukup jika hanya pameran ataupun beriklan lewat media massa,” katanya memberi beralasan.

Meski awalnya mengaku hanya prihatin pada cara berlalu lintas orang di Jakarta dan ingin regenerasi pembalap, dari sisi bisnis cukup lumayan juga. Buktinya, pihaknya mensyaratkan minimum harus 15 peserta dan maksimum 25 peserta untuk membuka kelas. Jadi, jika korporat punya driver di bawah angka itu, bisa susah mendapat ruang kelas. “Ini untuk efektivitas pengajaran,” katanya berkilah. Setiap bulan, Reno mengaku, rata-rata ada dua kelas yang berjalan.

Sementara untuk kursus balap, saat ini Reno lebih banyak aktif di IMI Racing Academy (IRA), di mana ia menjabat sebagai Direktur Pengelola. Setiap siswa IRA dikenai biaya berkisar Rp 3,5-16+ juta. Sekolah di IRA dibedakan berdasarkan kelas masing-masing. Semisal, untuk materi Racing Day (balapan sehari). Di kelas ini dikenai biaya Rp 3,5 juta per peserta. Materinya lebih ke pengenalan sirkuit dan mobil balap bagi pemula. “Jadi masyarakat atau calon pembalap bisa mendapatkan pengalaman balapan,” ujar Reno.

Kelas berikutnya ada Basic Course. Peserta akan memperoleh materi pelajaran basis balap yang meliputi regulasi balapan dan kelengkapan balap. Kelas ini diadakan selama tiga hari. Komposisi materinya: 50% di sirkuit; 30% paddock area; dan 20% teori – dengan biaya Rp 12,5 juta. Sementara kelas Advance Course dikenai biaya Rp 16 juta. Ini kelas yang lebih mengarahkan untuk menjadi pembalap profesional. Maka, 80% materinya praktik lapangan, dan sisanya teori.

“Target kami anak-anak SMP sampai kuliah, meski tak menutup juga untuk pembalap,” kata adik Ananda Mikola ini. Sebab itulah, pihaknya juga rajin melakukan road show ke sekolah-sekolah berkelas tinggi di Jakarta. Sejak IRA berdiri pada Januari 2008, kini telah memiliki dua angkatan – satu angkatan 4-8 orang.

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


1 + six =