Home » Listed Articles » Dulu Profesional, Kini Raja Buaya

Dulu Profesional, Kini Raja Buaya

Jalan Raya Serang Km 62,5. Senyap membalut kawasan Desa Parigi, Cikande, saat gelap mulai merayap. Satu dua mobil melintas. Selebihnya sunyi. Di salah satu ruas jalan, sebuah bangunan besar berpagar tembok tinggi memendarkan cahaya lampu yang menyorot dari menara. Terdengar pula bunyi kecipak air dari sana. Denyut kehidupan mewarnai bangunan besar itu.

Di dalam bangunan itu, wow, ratusan buaya terlihat tengah bermain di kolam-kolam dangkal. Sementara ribuan buaya memenuhi puluhan kandang sesuai dengan kelompok jenisnya. Mulai dari induk betina yang siap bertelur, calon induk, anak buaya, hingga buaya yang siap potong. Total, tidak kurang 3 ribu ekor buaya berada di lahan seluas 1,1 hektare itu. Di inkubator terdapat ratusan telur buaya yang siap ditetaskan.

Di penangkaran buaya inilah, lebih dari 10 tahun H. Rachmat Wiradinata melewatkan hari-harinya. Ribuan binatang ganas dan menakutkan itu tak hanya menemani hari-hari Rachmat. Mereka pun menelurkan pundi-pundi uang ke kocek Rachmat dan menjadi ladang penghidupan bagi 70 kepala keluarga. Lewat bendera PT Ekanindya Karsa (EK), Rachmat membangun bisnis buaya terintegrasi, mulai dari penangkaran sampai memproduksi aneka tas wanita, dompet, tempat ponsel, dompet koin serta ikat pinggang dengan merek Raflo — singkatan dari Rachmat dan Flora (nama istrinya).

“Pelaku di bisnis ini harus pintar-pintar mengelola kulit menjadi produk jadi, termasuk dagingnya. Kalau tidak seperti itu, tidak akan kompetitif,” ungkap Rachmat. Daging buaya bisa dilempar ke pasar dengan harga Rp 25-35 ribu/kg.

Rachmat mengaku paling tidak aset EK saat ini mencapai Rp 9 miliar. Tahun 2003, EK membukukan omset US$ 400-500 ribu. Terbesar (95%) disumbang dari tas wanita. Tahun ini, ia menargetkan meraih omset sekitar US$ 600 ribu. “Kami menargetkan omset US$ 1 juta pada 2007 dengan catatan bila tingkat bahan bakunya bisa terpenuhi,” katanya.

Target itu dipatok berdasarkan tren permintaan yang terus meningkat. Saban bulan, paling tidak sekitar 350 tas wanita dipesan seorang buyer. Padahal, ia harus melayani tiga buyer dari Jepang dengan permintaan masing-masing 400 unit tas. Keterbatasan bahan baku membuat Rachmat menolak order sebanyak itu. “Buyer terpaksa antre dan ada juga yang kami tolak karena bahan baku langka,” jelasnya.

Dengan harga tas Rp 3-6 juta, dompet Rp 600 ribu-1,5 juta, dan ikat pinggang Rp 700-950 ribu, dan tempat ponsel Rp 200-750 ribu, jelas pasar yang dibidik Rachmat adalah kalangan berduit. Bahkan, pasar terbesar produk Raflo dilempar ke Jepang. Hanya sebagian kecil memenuhi kebutuhan pasar lokal. Itu pun terbatas di Jakarta dan Bali saja. “Kami sedang melakukan penjajakan ke pasar Eropa, seperti Italia yang menjadi trend setter fashion dunia,” ungkap Erick Wiradinata, salah satu putra Rachmat, yang bertanggung jawab menangani pemasaran Raflo.

Diakui Erick, pasar lokal memang belum digarap dengan serius. Pasalnya, melayani order tiga buyer dari Jepang saja, Raflo sudah kewalahan mencari bahan baku. Meski begitu, dikatakan Erick, para buyer itu sabar menunggu untuk mendapat ?jatah? dari Raflo. “Kami terpaksa menolak order dari buyer lain karena bahan bakunya tidak ada,” tambah Rachmat.

Menurut Erick, sejak awal pihaknya memang lebih berorientasi ekspor. Pasar lokal ternyata terbangun karena promosi dari mulut ke mulut. Untuk pasar lokal, Raflo menerima pesanan customized. “Bila ada yang berminat, kami akan menghubungi calon konsumen,” kata Erick. Karena produk dibuat sesuai keinginan konsumen, harga yang dipatok pun agak tinggi. Misalnya, untuk tas Rp 5-6 juta/unit. Ini karena pengerjaannya lumayan lama, bisa mencapai 3-6 bulan. Sudah begitu, harus menunggu bahan dan warna yang sesuai dengan keinginan konsumen. “Ini memang sulit tapi tetap kami lakukan, meski hanya sedikit yang bisa kami penuhi karena keterbatasan bahan kulitnya,” katanya. Melihat animo pemesan, sebenarnya ada pemikiran membuat sistem stok. Hanya saja, masih dalam tahap pengkajian dengan mempertimbangkan selera pasar. Sistem stok dikhawatirkan tidak sesuai dengan keinginan pasar.

Dalam memenuhi pasar lokal pun Raflo terbatas menjualnya di Grand Hyatt dan Keris Galery Bali, serta saat ajang pameran kerajinan berskala nasional. Rachmat mengakui bahwa produk Raflo memang agak sulit ditemui di pasar karena ia tidak menjual massal di pusat perbelanjaan, semisal Plaza Senayan atau Mal Pondok Indah. Sejatinya, ia pernah memasukkan produknya di Sarinah dan Pasaraya. Hanya saja, respons pasar tidak seperti yang diharapkan sehingga ia menarik produknya. “Secara bisnis kurang menguntungkan,” kata Rachmat.

Kesulitan mendapatkan produk Raflo diakui Monica. “Tidak mudah dijumpai di pasar lokal kecuali kalau ada pameran kerajinan,” tuturnya. Wanita berusia menjelang 40 tahun ini mengaku menyukai Raflo karena kualitasnya bagus. “Keaslian kulit pasti terjamin dan jahitannya juga rapi,” pujinya. Selama ini, ia mendapatkan produk Raflo lewat pemesanan. Hanya saja, ia mengeluhkan waktu pengerjaan yang lama. “Harganya juga mahal,” tambahnya.

Menggeluti bisnis penangkaran buaya dari hulu sampai hilir, sejatinya berangkat dari coba-coba. Tahun 1990 menjadi titik balik perjalanan hidup Rachmat. Kelahiran Aceh, 3 Maret 1948 itu semula seorang profesional. Kariernya di PT United Tractor cukup mencorong, yakni sebagai Kepala Cabang. Naluri bisnisnya muncul saat ia melanglang ke berbagai negara Eropa. Di sana, terutama di Paris, ia melihat industri barang jadi, khususnya produk fashion dari kulit reptil. Rachmat melihat bahan baku tersebut tersedia melimpah di Indonesia. “Saya melihat ada peluang di Indonesia yang bisa dikembangkan untuk fashion,” katanya.

Di tengah kesibukannya bekerja di United Tractor, Rachmat mulai merintis usaha sebagai eksportir kulit reptil. Ketika itu modal awalnya sekitar Rp 360 juta yang ia dapat dari pinjaman bank. Dana tersebut dialokasikan untuk membeli tanah dan mesin penyamakan bekas dari Taiwan. Sementara bahan baku kulit reptil, seperti ular, biawak dan buaya, ia peroleh dari pengumpul di Irian Jaya (sekarang Papua). Para pengumpul inilah yang menampung kulit jenis reptil dari para petani di Papua.

Kepiawaian Rachmat berbahasa Jepang yang ia dapat sewaktu mendapat kesempatan belajar di Negeri Sakura itu ternyata suatu berkah bagi kelancaran bisnisnya. Tanpa kendala ia bisa mencari dan menjalin relasi di Negeri Matahari Terbit untuk membuka jaringan pemasarannya. “Awalnya, kami mengekspor kulit reptil 50-100 lembar/bulan,” ujarnya mengenang. Tak dinyana, seiring perjalanan waktu, bisnisnya membesar. Akhirnya, ia memutuskan meninggalkan kariernya di United Tractor. Ia memilih menjadi ?raja? di kerajaan yang dibangunnya sendiri. Dan, ia fokus hanya mengekspor kulit buaya.

Alasan Rachmat, kulit buaya memiliki citra tertinggi di antara kulit reptil lainnya dan pasarnya sudah jelas. Sementara kulit ular dan biawak, sangat tergantung pada tren mode dan fashion yang sedang in. Toh, menggeluti penyamakan kulit buaya tak membuatnya puas. Dua tahun berselang ia mulai mengepakkan sayapnya dengan memproduksi barang jadi seperti tas, tali pinggang dan dompet. Untuk menghasilkan barang jadi, ia mencoba berbagai desain yang mampu memenuhi tiga kriteria: art, function dan engineering. Demi kualitas produknya, ia tidak segan meminta masukan dari para buyer di Jepang. “Dari situ saya berusaha memperbaiki kekurangannya,” katanya.

Peningkatan kualitas yang terus-menerus membuat produknya makin berkibar di pasar. Bahkan, saat digelar pertemuan APEC pada 1994, lewat asosiasi Rachmat mendapat kepercayaan membuat tas (briefcase) dengan bahan kulit buaya untuk 18 kepala negara anggota APEC. Ketika itu harga yang dipatoknya sekitar Rp 4 juta/unit. Produk tas itu, dia menuturkan, mendapat pujian langsung dari Tunky Ariwibowo (almarhum) yang saat itu menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan. “Itu yang membuat keyakinan saya untuk masuk ke bisnis ini,” katanya.

Diakuinya, tidak mudah memasuki produk jadi dengan bahan baku kulit buaya. Selain harus mengikuti tren fashion, permintaan para buyer juga beragam. Ada yang meminta kulit yang kaku, kulit yang lemas, dan ada yang minta kulit yang bisa dicuci. Untuk mendapatkan bahan baku sesuai dengan permintaan para buyer, ia pun sering berkonsultasi dengan beberapa pemasok bahan kimia supaya mendapatkan formula yang pas untuk menghasilkan kulit yang kaku ataupun lemas. “Produksi kami disesuaikan dengan permintaan buyers,” katanya.

Dari sisi desain pun Rachmat tak henti terus memperbarui. Paling tidak dalam sebulan bagian riset dan pengembangan menghasilkan dua desain baru. Caranya bermacam-macam, bisa saja mengombinasikan dua produk branded dalam satu produk, asalkan tidak menggunakan mereknya. Untuk mengikuti perkembangan desain, ia dibantu sang istri dan anaknya, Martinus Wiradinata. Sementara dua anaknya yang lain, Erika dan Erick, diberi tanggung jawab menangani pemasaran.

Dari penyamakan kulit dan barang jadi, ia makin tergelitik untuk membangun bisnis terintegrasi. Ia menggelontorkan investasi sampai Rp 1,3 miliar untuk pengadaan induk dan bibit. Keterbatasan bahan baku kulit buaya yang ia dapat dari pengumpul di Papua sejatinya yang menjadi pemantik keinginannya merambah ke penangkaran. “Kalau hanya mengandalkan kulit dari mereka, repot,” katanya. Maklum, jumlahnya tergantung kuota dan harus berbagi dengan eksportir kulit buaya lainnya. Dalam setahun, kuota hanya sekitar 16 ribu ekor. “Bisa mendapat 2 ribu lembar kulit saja, alhamdulillah,” katanya.

Awalnya, Rachmat sekadar ingin mengetahui apakah buaya mau bertelur di Parigi, Cikande. Ternyata, rasa penasarannya terjawab karena buaya betina jenis Crocodylus Porossus (buaya muara) dan Crocodylus Novaeguineae (buaya air tawar) yang ia pelihara sejak 1999 mau bertelur di Parigi. “Satu buaya bisa bertelur 40-50 butir,” katanya bangga. Bahkan, ada kemungkinan jumlah telur nantinya bisa banyak lagi, apalagi itu merupakan telur pertama. “Dari literatur yang pernah saya baca, idealnya seekor buaya betina menghasilkan 93 butir sekali bertelur,” jelasnya. Tingkat keberhasilan penetasan sekitar 87% dan tingkat kematiannya tidak mencapai 1% sehingga bisa dipanen dengan tingkat keberhasilan mencapai 86%. “Tahun ini merupakan tahun pertama panen dari hasil penetasan,” katanya.

Umumnya buaya bertelur pada malam hari. Telur itu diambil dari kandang induknya, lalu dimasukkan ke inkubator. Untuk menetaskan buaya butuh waktu tiga bulan atau sekitar 100 hari. Anak buaya selama 6 bulan dikarantina. Setelah panjangnya mencapai 80-100 cm baru dilepas ke penangkaran dan dipanen bila buaya berumur 2-3 tahun. “Ini cara breeding,” katanya.

Cara lain, dengan membeli anak buaya yang panjangnya 80-100 cm dari alam untuk dibesarkan di penangkaran yang lebih dikenal dengan sistem rearing. Pola ini sejalan dengan peraturan dari pemerintah (c.q. Departemen Kehutanan) yang mewajibkan pelaku bisnis penangkaran melakukan rearing. Aturannya 1:1, artinya pengusaha yang mendapat satu lembar kulit buaya harus membeli satu anak buaya untuk dibesarkan. Tujuannya, agar di masa mendatang, pengadaan kulit tidak tergantung dari alam. Apalagi, survival anak buaya untuk hidup di alam kecil sekali, persentasenya di bawah 10% — yang 90% dimakan predator lain dan mati.

Saat ini, dari 3.000 ekor buaya miliknya, yang dibesarkan dengan pola rearing sekitar 1.300 ekor, dan dengan pola breeding sekitar 1.700 ekor. Kini ia memiliki sekitar 220 induk (170 ekor betina dan 50 ekor jantan). Selain itu, ia pun sedang mempersiapkan 80-90 ekor buaya untuk dijadikan calon induk. “Target saya, pada tahun 2007 memiliki sekitar 500 ekor induk betina,” paparnya.

Jumlah tersebut masuk akal. Pasalnya, untuk menghasilkan produk jadi, sampai saat ini ia selalu kekurangan kulit buaya yang dijadikan bahan baku. Paling tidak, ia membutuhkan 500-700 lembar kulit buaya. Perhitungan Rachmat, bila dari 500 ekor induk betina, masing-masing induk menghasilkan 30 ekor anak buaya, paling tidak akan menghasilkan sekitar 15.000 ekor. Dengan asumsi bila 60% (12.000 ekor) dari jumlah tersebut berhasil dibesarkan, berarti setiap bulan perusahaannya bisa menuai panen sekitar 1.000 ekor buaya. Dari hasil penangkaran saat ini, ia hanya bisa menguliti 100-120 ekor/bulan.

Diakui Rachmat, kesulitan terbesarnya justru pengadaan bahan baku buaya. Maklum, bisnisnya menyangkut satwa yang dilindungi. Tak pelak, mulai tahun ini ia akan fokus pada penangkaran sehingga tidak tergantung pada alam untuk pengadaan bahan baku. Toh, kesulitan lain pun masih menghadangnya. “Kadang bila dari pengumpul ada bahan baku kulit tapi saya tidak punya uang untuk membayarnya, padahal persaingan untuk mendapatkan bahan baku juga sangat ketat,” keluhnya.

Langkah yang dilakukan Rachmat untuk mengeliminasi kendala adalah berusaha menyakinkan Menperindag bahwa industri ini bisa mendapat prioritas untuk pengadaan bahan baku. “Kami berharap, produk jadi bisa mendapat kuota lebih ketimbang eksportir kulit,” tandasnya. Tak hanya itu, ia juga mengusulkan bila industri ini kekurangan bahan baku, bagaimana caranya supaya bisa impor. “Kalau pasar dan harganya memungkinkan, kenapa tidak,” katanya.

Namun, ia optimistis bisnisnya tetap menggelinding. Dalam pandangannya, menekuni bisnis terintegrasi membutuhkan waktu yang panjang sehingga secara bisnis tidak akan mudah terancam oleh pemain baru meskipun dengan modal besar. Bahkan, ia yakin investor yang punya modal besar tidak akan tertarik terjun ke bisnis ini karena ammount-nya kecil dan perlu waktu lama untuk bisa menikmati hasilnya. Untuk menunggu induknya bertelur membutuhkan waktu 3-4 tahun, sedangkan untuk menetaskan telur membutuhkan waktu 100 hari dan membesarkan untuk siap panen butuh waktu 2-3 tahun. Paling tidak, dibutuhkan waktu 6-7 tahun untuk bisa menikmati hasilnya. “Umumnya, yang berani bermain di sini adalah pemain yang sudah lama berkecimpung,” katanya. Dari segi pasar memang tak pernah sepi meski produknya sangat klasik.

Ke depan, ia menginginkan agar produk reptil bisa menjadi komoditas pelengkap dalam target wisata. Artinya, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia tidak hanya mencari batik atau perak. Produk dari reptil pun menjadi target belanja mereka. Termasuk penangkaran itu sendiri, bisa dijadikan objek wisata menarik. Jadi, tak perlu pergi ke Thailand untuk melihat buaya dan membeli produk tas dari kulit reptil ke Singapura atau AS.

Rachmat optimistis bisnis buaya terintegrasi tetap memiliki prospek jangka panjang. Untuk itu, ia tengah menjajaki lokasi penangkaran baru di Ciawi, Bogor. Selain untuk penangkaran, juga akan dikembangkan menjadi objek wisata. “Potensinya besar tapi juga perlu modal dan saya nggak pintar mencari mitra di sini,” katanya. Ada yang berminat?

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


+ nine = 14